Volume 4 Chapter 7 - Malam Tahun Baru dan Hatsumode
Malam Tahun Baru.
Aku menunggu kedatangan Shi-chan di depan stasiun.
Langit terlihat cerah berawan, hari ini benar-benar cuaca yang sempurna untuk pergi keluar.
Meski begitu, karena sudah Malam Tahun Baru, udara terasa membeku khas puncak musim dingin, dan napas yang kuhembuskan tampak memutih.
Sambil menghangatkan diri dengan kopi kaleng yang kubeli dari vending machine, aku merapikan kembali rencana ke depan di dalam benakku.
Pertama-tama dan yang paling utama, hari ini aku akan bertemu dengan orang tua Shi-chan.
Mereka adalah orang tua dari pacarku yang sangat berharga, jadi sebisa mungkin tidak boleh ada kesalahan atau kecerobohan yang membuatku dibenci.
Sangat menyadari hal itu, aku sudah mempersiapkan diri sejauh yang kubisa hingga hari ini, seperti mengonfirmasi tata cara salam dan bersikap.
Akan tetapi, bukan berarti rasa cemas bisa hilang begitu saja. Malah, semakin aku bersiap-siap, aku semakin sadar akan kekuranganku sendiri, hingga rasa cemas itu makin membesar.
Rasa gugup setingkat ini, mungkin baru pertama kali kurasakan lagi sejak ujian masuk sekolah dulu... Tidak, mungkin bahkan lebih dari itu.
"Maaf membuatmu menunggu, Tak-kun!"
Saat aku sedang menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran, Shi- chan datang sambil membawa koper berukuran agak kecil.
Berkat Shi-chan yang memasang senyuman lepas tanpa beban seolah gembira bisa bertemu hari ini lagi, rasa cemas yang kuhimpun sedikit meluruh.
Hari ini bukan waktunya untuk cemas. Sebagai seorang pacar, aku harus mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya secara mantap.
Itu tak lain adalah misi terpenting yang wajib kucapai mulai sekarang.
Demi Shi-chan yang terus tersenyum seperti biasanya di sampingku, aku sekali lagi memantapkan tekad.
Agar aku bisa terus berada di samping Shi-chan seperti ini untuk selamanya──.
Sambil memendam perasaan itu, aku naik ke dalam kereta bersama Shi-chan.
"Tak-kun, kamu gugup ya?"
Di dalam kereta, Shi-chan yang khawatir menyapa.
Padahal aku berniat menyembunyikannya agar tidak ketahuan, tapi tampaknya Shi-chan bisa membaca semuanya dengan sangat jelas.
"Iya, jujur saja begitu."
"Tidak apa-apa kok. Papa dan Mama juga bilang ingin bertemu dengan Tak- kun, kok."
Dari cara bicaranya, rasanya itu bukan sekadar penghibur untuk menenangankanku, melainkan kenyataan yang sebenarnya.
Meski begitu, bagi orang tua, dia adalah putri tunggal mereka yang sangat berharga.
Biarpun mereka berkata begitu lewat mulut, sebelum bertemu langsung, aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka.
Rasa gugupku berada di tingkat di mana kalimat "Takkan kuserahkan putriku padamu!" yang sering kudengar di drama-drama mendadak terlintas di kepala.
Setelah beberapa kali berganti kereta, kami turun di stasiun terdekat dari rumah orang tua Shi-chan dan melewati gerbang tiket.
Di luar stasiun, sepintas terlihat seperti kawasan pemukiman biasa, namun tempat ini bagaimanapun tetaplah sebuah kota besar.
Di depan stasiun, toko-toko modis berjejer berselang-seling dengan bangunan rumah, dan lalu lalang orang-orang jauh lebih ramai dibandingkan daerah rumahku.
──Di sinilah tempat asal Shi-chan, ya.
Jika aku tidak berpacaran dengan Shi-chan, tempat ini mungkin takkan pernah kukunjungi seumur hidup.
Justru karena itulah, bisa datang ke sini saja sudah membuatku senang. Namun rasa nyata bahwa sebentar lagi aku akan berkunjung ke rumah orang tuanya jauh lebih mendominasi, membuat detak jantung dan rasa gugupku kian memuncak.
Setelah berjalan beberapa saat, di depan kami terlihat sebuah rumah tinggal berdiri sendiri yang ukurannya satu tingkat lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya.
Masa sih... pikirku, dan Shi-chan mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah besar tersebut.
"Tak-kun, di sini rumahnya."
Sambil berkata begitu, Shi-chan membuka gerbang seolah memperkenalkannya.
Aku memang tahu kalau keluarga Shi-chan itu berkecukupan, tapi tak kusangka bakal sejauh ini...
Kalau di daerah tempat tinggal biasa mungkin wajar, tapi di kota besar ada rumah sekeren dan seluas ini.
Bahkan bagiku yang cuma anak SMA biasa, sekali lihat saja sudah tahu kalau ini bukan hal yang umum.
Tanpa memedulikan diriku yang kebingungan, Shi-chan menekan bel interkom.
『Iya?』
"Ini Shion. Aku pulang."
『Aduh! Iya, iya, Mama bukakan sekarang ya.』
Dari balik interkom, terdengar suara wanita yang sangat anggun.
Tak lama setelah itu, pintu terbuka dari dalam──.
"Selamat datang kembali. Araa? Kamu pastilah Takuya-kun, ya? Salam kenal, saya ibunya Shion. Terima kasih banyak ya sudah jauh-jauh datang ke sini hari ini. Ayo, di luar dingin, masuklah ke dalam."
Yang membuka pintu dan menyambut kami adalah ibunya Shi-chan.
Bagaimana ya mengatakannya, sekali lihat aku langsung tahu kalau beliau adalah ibunya Shi-chan.
Sebab, beliau benar-benar sangat mirip dengan Shi-chan.
Mata, hidung, dan detail lainnya memang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi siapapun yang diberitahu bahwa beliau adalah ibunya Shi-chan pasti akan langsung setuju—sosok wanita dewasa yang sangat cantik.
──Tapi, kecantikan setingkat ini adalah sosok seorang ibu, ya...
Meskipun sudah menduga sebelumnya, berhadapan langsung dengan sosok ibu yang melampaui ekspektasiku membuatku kebingungan, namun aku terburu-buru membalas salamnya.
"S-salam kenal! Nama saya Ichijou Takuya! H-hari ini, m-mohon bimbingannya!"
"Iya, sama-sama. Ayo, masuk, masuk."
Melihatku yang kaku karena gugup, ibunya Shi-chan tersenum lembut sambil membimbing kami masuk.
Sikap ramah dari ibunya yang baik hati itu membuatku menghela napas lega seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Sebab, tadi di dalam kereta Shi-chan sempat bilang bahwa Papa dan Mama sudah ada di rumah──.
Artinya di dalam rumah ini, ayahnya Shi-chan juga ada──.
Untuk saat ini, impresi dari ibunya Shi-chan tidaklah buruk... aku berharap begitu.
Akan tetapi jika lawannya adalah sang ayah, beliau pasti akan memandangku dengan penilaian yang jauh lebih ketat.
Sambil menahan rasa tegang yang seolah hendak memecahkan dada, aku mengekor ketakutan di belakang mereka berdua.
Ruangan yang ditunjukkan adalah ruang tamu (living room) rumah ini.
Luasnya tak sebanding dengan rumahku, bahkan terasa sedikit lebih luas dibandingkan apartemen tempat tinggal Shi-chan.
Di ruang tamu yang teramat luas itu, duduk seorang pria di atas sofa kulit yang kelihatan sangat mahal──.
Tidak salah lagi, pria itu pasti ayahnya Shi-chan.
"Selamat datang kembali, Shion. ──Lalu, kamu pasti Ichijou-kun, kan. Salam kenal, saya ayahnya Shion. Terima kasih sudah jauh-jauh datang hari ini. Nah, tak perlu sungkan, duduklah."
Begitu beliau menoleh dan menyapaku, itulah kalimat pertama dari ayahnya Shi-chan.
Gaya rambut belah samping (7:3) yang tertata rapi sangat cocok dengannya, memancarkan kesan pria dewasa yang gagah dan keren—itulah kesan pertamaku padanya.
"A-ah! A-anu, jika tidak keberatan, silakan dinikmati bersama!"
Meskipun tubuhku kaku karena gugup, aku menyerahkan bingkisan kue (kashiori) yang kubawa.
Aku sama sekali tidak terbiasa dengan hal-hal semacam ini, namun demi menghindari kecerobohan, aku sempat berkonsultasi dengan Ibu, dan bingkisan kue ini adalah salah satu saran dari Ibu.
" Aduh, terima kasih banyak atas kebaikannya."
"Terima kasih, nanti akan kami nikmati bersama."
Meskipun caraku menyerahkannya agak terbata-bata, kedua orang tuanya tetap tersenyum dan menerima bingkisan tersebut.
Dengan begitu, dikelilingi rasa gugup, aku duduk di sofa berhadapan dengan kedua orang tuanya, berdampingan dengan Shi-chan.
"Jadi Shion, kamu saat ini sedang berpacaran dengan Ichijou-kun di sebelahmu ini?"
"Emm, iya benar."
Sebagai pembuka, pertanyaan lurus yang dilontarkan Ayah kepada Shi-chan dibalas oleh Shi-chan secara tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Awalnya aku hampir tenggelam dalam atmosfer yang berat, tetapi berkat penjelasan Shi-chan yang begitu tegas, aku kembali menemukan rasa percaya diri.
Saat ini aku tidak sendirian, Shi-chan berada di sampingku.
Bukan cuma demi diriku sendiri, tetapi demi Shi-chan juga, aku harus mendapatkan pengakuan dari kedua orang tuanya di sini.
"...Begitu ya, saya mengerti. Tentu saja, Ichijou-kun juga merasakan hal yang sama, kan?"
"Iya, saya sedang berpacaran dengan Shion-san."
Setelah mengonfirmasinya pada Shi-chan, Ayahnya berpindah mengonfirmasinya padaku.
Sama seperti Shi-chan sebelumnya, di sini aku juga membalasnya dengan tegas. Mendengar hal itu, Ayah saling bertukar pandang dengan Ibu.
Melihat hal itu, Ibu yang menangkap maksud tertentu segera berdiri dari sofa.
"Shion, bisa bantu Mama sebentar di sebelah sana?"
"Eh? Tapi sekarang kan lagi bicara hal penting..."
"Sudah, ayo ikut Mama."
Tanpa memberi kesempatan membantah, Ibu mengajak Shi-chan pergi.
Melihat hal itu, aku pun paham.
Ayah pasti berniat berbicara denganku empat mata saja setelah ini──.
" Aku tidak apa-apa, kok."
"...Emm, baiklah."
Melihat Shi-chan yang tampak cemas, aku menyapanya untuk menenangankannya.
Mengingat aku belum tahu pembicaraan apa yang akan dihadapi, sejujurnya aku tidak tahu apakah aku benar-benar akan baik-baik saja.
Meski begitu, aku tahu bahwa percakapan penting sedang menanti, jadi aku memantapkan tekad untuk menyambutnya.
Tekadku itu mungkin tersampaikan, Shi-chan mengangguk lalu keluar dari ruangan bersama Ibunya.
Dengan begitu, aku ditinggalkan berduaan saja dengan Ayah di ruang tamu yang luas ini.
"Maaf ya mendadak membuat kita tinggal berdua saja. Jangan terlalu tegang begitu. Saya cuma ingin Ichijou-kun mendengarkan sedikit cerita masa lalu."
"Cerita masa lalu, ya..."
"Iya, saya sangat ingin Ichijou-kun mengetahuinya. Cerita masa lalu keluarga kami──"
Cerita masa lalu keluarga Shi-chan──.
Itu pasti ada hubungannya denganku, makanya beliau mau menceritakannya.
Sambil mengenang masa lalu, Ayah mulai bercerita dengan perlahan.
"Dulu, saya adalah pria yang cuma memikirkan pekerjaan. Secara harfiah, tipe orang yang rela memotong waktu tidur demi terus bekerja. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu hal yang tak masuk akal dan sangat konyol. Soalnya kalau dilakukan sendiri, cepat atau lambat pasti akan hancur di suatu titik."
Sambil merasa malu atas masa lalunya, Ayah menyunggingkan senyum canggung.
"Orang yang terus mendukung saya yang selalu memaksakan diri seperti itu tidak lain adalah istri saya yang sekarang. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa berkat istri sayalah usaha saya bisa berjalan pada jalurnya. Dan di antara saya dan sosok yang tak tergantikan bagi saya itulah, Shion terlahir."
Itu adalah cerita tentang kelahiran Shi-chan.
Selesai mengulas senyum lembut sejenak, raut wajah Ayah sedikit memudar seolah mengingat sesuatu yang lain.
"...Tapi, saya telah melakukan satu kesalahan besar. Shion adalah putri tunggal berharga yang lahir di antara kami. Waktu dia masih bayi, saya dan istri bisa bekerja sama membesarkannya dengan baik. Akan tetapi seiring berkembangnya usaha yang kian membesar, saya mulai memprioritaskan pekerjaan dibandingkan menghabiskan waktu bersama Shion... Para karyawan yang saya naungi memiliki kehidupan dan keluarga masing-masing. Sebagai orang yang memangku kehidupan mereka, saya tidak boleh gagal. Demi menstabilkan perusahaan yang membesar di luar dugaan, saya terus bekerja tanpa kenal istirahat."
Bahkan bagi anak SMA sepertiku, aku bisa memahami betapa berat dan penuh tanggung jawab posisi tersebut.
Akan tetapi saat mendengar bahwa hal itu menjadi alasan beliau tak punya waktu untuk Shi-chan, kalau aku berada di posisinya, aku tak tahu harus menjawab apa...
"Meski begitu, Shion tetap tumbuh besar dan menjadi anak yang sangat baik.
Berpikir bahwa ini demi kebaikan Shion, saya terus bekerja makin keras. Suatu saat usaha ini pasti akan menjadi aset berharga bagi Shion yang telah dewasa.
Dengan pemikiran itu, saya dan istri terus bekerja secara membabi buta. ...Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, itu cuma gumpalan ego saya sendiri... Secara dingin, membiarkan putri tunggal kami tidak pernah diajak jalan-jalan saat liburan musim panas dan malah menitipkannya di rumah neneknya... hal semacam itu jelas membuat saya gagal sebagai seorang ayah... Meski begitu, Shion selalu gembira setiap kali diajak ke rumah neneknya di liburan musim panas. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu pasti bentuk perhatian Shion meskipun dia masih kecil. Namun saya waktu itu tidak menyadarinya, dan malah tenggelam dalam pekerjaan karena menganggap hal itu tidak masalah..."
Bagaikan sedang melakukan pengakuan dosa, Ayah menceritakan masa-masa itu.
Demi keluarga, apa yang harus dilakukan──.
Bekerja keras atau meluangkan waktu bersama keluarga.
Keduanya adalah demi keluarga, dan mana pun yang dipilih bukanlah hal yang salah.
Namun di saat yang sama, mungkin mana pun yang dipilih juga bukanlah jawaban yang sempurna.
Kemampuan satu orang manusia pasti ada batasnya. Jika mencoba memilih semuanya, kali ini tubuh Ayah sendiri yang takkan sanggup bertahan.
Tanggung jawab dan keluarga—bagi Ayah saat itu, keduanya adalah hal berharga yang harus dilindungi dan tidak bisa dibandingkan satu sama lain.
" Alhasil, begitu saya tersadar semuanya sudah terlambat... Berkat ketidakbecusan saya, Shion tumbuh menjadi anak dengan kepribadian yang mengurung diri di dalam cangkangnya sendiri... Mungin bisa dibilang dia jadi anak yang penurut, tapi dibandingkan masa-masa kecilnya yang aktif, perubahannya sangat jelas. Di situlah saya dan istri baru tersadar bahwa kami telah melakukan hal yang tak bisa diperbaiki..."
Masa lalu Shi-chan yang diceritakan dari sudut pandang ayahnya──.
Cerita itu terasa sangat beririsan dengan sosok Shi-chan saat pertama kali bertemu denganku.
"...Tapi, pada suatu tahun. Setelah liburan musim panas usai dan Shion kembali dari rumah neneknya, dia menceritakan begitu banyak kenangan indah selama di sana kepada kami. Seheboh itulah liburan musim panas tahun itu bagi Shion hingga menjadi masa-masa yang luar biasa. Saat kami bertanya ada kejadian apa, dia menjawab dengan sangat gembira, 『Aku kenalan dan berteman sama anak laki-laki yang hebat di sana!』. Saya dan istri awalnya terkejut melihat perubahan Shion, tetapi di saat yang sama kami merasa sangat gembira...
Karena kami hampir tak pernah melakukan hal-hal layaknya orang tua, melihat pertumbuhan Shion membuat kami sangat bersyukur..."
Di raut wajah Ayah yang bercerita, terukir senyuman lembut seakan mengenang masa-masa itu.
"Dan Shion juga berkata begini kepada kami: 『Tahun depan aku mau ketemu sama Tak-kun lagi!』. Shion yang tadinya kami kirim ke rumah neneknya karena urusan kami sendiri, kini menemukan alasannya sendiri untuk pergi ke sana. Mana mungkin kami punya pilihan untuk menolaknya. ...Akan tetapi pada tahun berikutnya, Shion katanya tidak bisa bertemu dengan 『Tak-kun』 tersebut. Melihat Shion yang murung, saya tak tahu harus menghiburnya dengan kata-kata apa... Saya cemas kalau dia bakal kembali mengurung diri di dalam cangkangnya seperti dulu."
Mendengar cerita itu, aku sangat menyesali perbuatanku di masa lalu.
Jika saja saat itu aku punya sedikit saja keberanian, aku takkan membuat Shi- chan bersedih.
Mengingat masa lalu di mana kelemahanku telah melukai Shi-chan, sampai sekarang pun rasanya masih sangat menyesakkan...
"Namun, Shion sudah tidak sama lagi seperti dulu. Alih-alih murung, dia malah bersemangat dan berkata, 『Kalau begitu, aku yang bakal bikin Tak-kun menemukanku!』. Katanya waktu dia pergi belanja bersama ibunya, dia mendapat tawaran scout menjadi idola. Dia bertekad menjadi idola agar Tak- kun bisa menemukannya. Tentu saja, mendengar anak kami mendadak mau jadi idola cuma membuat kami cemas. Meski begitu, karena ingin menghormati keputusan kuat yang diambil oleh Shion sendiri, saya tidak menghentikannya.
──Dan lihatlah hasilnya, seperti yang Ichijou-kun ketahui, dalam sekejap dia meroket hingga menjadi idola nasional."
Sambil tertawa geli Ayah mengutarakannya, sepenuhnya memancarkan sosok seorang ayah yang bangga akan pertumbuhan anaknya.
Fakta bahwa Shi-chan meroket hingga menjadi idola nasional tentu saja merupakan hal yang mengejutkan bagi Ayah, namun di saat yang sama juga merupakan hal yang teramat membahagiakan.
"Shion yang pendiam itu, berkat pertemuannya dengan seorang anak laki-laki bernama Tak-kun, berubah menjadi idola dan meroket hingga ke puncak dunia idola. ──Dan tahu tidak apa yang terjadi setelah itu?"
Mendadak diberi pertanyaan seperti itu, aku tak sanggup membayangkan apa jawabannya.
Lalu Ayah memberitahukan jawabannya sambil tertawa mengenang momen itu.
"...Jawabannya adalah, tanpa disadari penghasilan Shion sudah melampaui penghasilan saya sendiri. Selama ini saya terus bekerja karena berpikir ini demi keluarga. Saya secara sepihak menganggap bahwa menyisakan rumah dan perusahaan ini untuk Shion adalah tugas utama saya. Namun Shion, yang waktu itu masih anak SMP , menampar pemikiran saya itu secara telak dari depan. Berkat hal itu, saya mendapatkan kesempatan bagus untuk menata ulang pola pikir saya dari dasarnya."
"Kesempatan bagus, ya."
"Iya, kesempatan untuk memikirkan kembali apa yang benar-benar penting.
Sejak saat itu, saya berusaha keras untuk meluangkan waktu bersama keluarga. Untungnya usaha saya sudah berjalan stabil, jadi saya bisa membagikan tugas sebanyak mungkin kepada para bawahan. Waktu yang tercipta dari sana disesuaikan agar saat Shion bisa bersantai di rumah, kami sekeluarga selalu bisa menghabiskan waktu bersama. Dan ajaibnya, dibandingkan saat saya bekerja secara membabi buta dulu, bisnis perusahaan justru berjalan jauh lebih lancar. Kalau dipikir-pikir sekarang, dulu saya berpikir pengerjaan sendiri bakal lebih cepat, sehingga kelonggaran dalam hati saya sendiri sangat kurang. Hal semacam itu pun seolah diajarkan oleh Shion kepada saya."
Melihat Ayah yang tertawa geli, tanpa sadar rasa tegang di dalam diriku telah sirna entah ke mana.
Itu pasti dikarenakan perasaan sayang Ayah kepada Shi-chan tersampaikan dengan sangat jelas padaku.
"Maaf ya, pembicaranya jadi panjang lebar. Karena itulah, Ichijou-kun... tidak, di sini izinkan saya memanggilmu Tak-kun. ──Tak-kun, terima kasih banyak sudah bertemu dengan Shion. Dan ke depannya juga, tolong jaga Shion baik- baik, ya."
Bersamaan dengan kata-kata itu, Ayah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"T-tidak! Mana boleh begitu! Justru sayalah yang harus berterima kasih!"
"Hahaha, tak perlu kaku begitu. Ini mungkin terkesan seperti gumpalan rasa bucin orang tua, tapi melihat Shion bahagia seperti sekarang membuat kami sangat bersyukur. Dan kami tahu, kebahagiaan itu ada justru karena kamu berada di sampingnya."
"Saya tidak melakukan apa-apa, kok. Justru dirikulah yang menerima begitu banyak hal dari Shion-san. Karena itu, umm, saya tidak bisa menyampaikannya dengan kata-kata yang bagus... tapi agar Shion-san bisa terus tersenyum ke depannya, aku ingin terus berada di sampingnya dan mendukungnya!"
"Begitu ya, saya mengerti. Sekali lagi, tolong jaga Shion ya. ──Sip, pembicaraan kita selesai sampai di sini. Hari ini adalah Malam Tahun Baru, anggap saja ini rumahmu sendiri, santai saja dan jangan merasa canggung, ya."
"I-iya! Terima kasih banyak!"
Dengan begitu, sambil meresapi perasaan Ayah dengan mantap, hari ini aku diizinkan untuk bersantai di rumah mereka.
Pasti ada masa-masa sulit, dan mungkin pernah ada kesalahpahaman.
Meski begitu, fakta bahwa beliau selalu menganggap Shi-chan sebagai hal yang paling berharga tersampaikan dengan sangat jelas.
Justru karena itulah, kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkan sosok sesempurna Shi-chan ke dunia ini, hatiku kini dipenuhi oleh rasa terima kasih yang tak terhingga.
Lewat pukul enam sore, berbagai hidangan mewah ditata di atas meja ruang tamu.
Shi-chan dan ibunya bekerja sama menyiapkan masakan dengan antusias karena hari ini adalah Malam Tahun Baru.
Makan malam bersama keluarga Shi-chan terasa sangat lezat dan menyenangkan, hingga aku sempat lupa bahwa ini adalah rumah orang tua Shi- chan karena sudah begitu menyatu dengan mereka.
Tetapi hal itu tidak lain dikarenakan kedua orang tua Shi-chan menyambutku dengan tangan terbuka, membuat dadaku berdesir hangat oleh rasa bahagia.
Setelah makan, aku dipersilakan mandi, lalu menikmati waktu bersantai bersama hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu jam lagi tahun ini akan berakhir──.
Tahun ini diawali dengan masuk SMA, dan kehidupanku berubah total seratus delapan puluh derajat.
Awalnya aku tidak tahu apa-apa, tapi entah kenapa di kelas yang sama ada mantan idola nasional, dan entah kenapa dia adalah gadis unik yang selalu salah tingkah hanya di depanku saja.
Meski begitu, berawal dari duduk berdampingan, kami makin akrab, dan di liburan musim panas aku berhasil mengungkapkan perasaan lalu berpacaran dengannya.
Lalu di festival budaya, secara tak terduga Shi-chan menembakku balik di depan umum, hingga hubungan kami diketahui oleh seluruh sekolah.
Berkat hal itu, kami tidak perlu lagi mencemaskan pandangan orang sekitar dan bisa berpacaran secara terbuka──.
Mengingat kembali secara garis besar pun, tahun ini sungguh merupakan tahun yang teramat sangat padat.
Dan ke depannya pun, pasti berbagai kejadian baru sudah menanti.
Masa-masa menjadi anak SMA hanya berlangsung selama tiga tahun.
Justru karena itulah, aku ingin terus mengukir banyak kenangan indah bersama Shi-chan.
Bahkan momen saat ini pun, jika kelak berlalu pasti akan menjadi salah satu kenangan indah yang menyenangkan.
Sambil memendam perasaan itu saat aku menoleh ke samping, Shi-chan yang menyadari pandanganku melempar senyum bahagia ke arahku.
"Sebentar lagi pergantian tahun, ya!"
"Iya, benar."
Melihat Shi-chan yang antusias, senyumku ikut berkembang secara alami.
Dan akhirnya, hitung mundur pergantian tahun pun dimulai──.
" Ah, Tak-kun! Mulai nih! 10, 9, 8, 7..."
Mengikuti hitung mundur di TV, Shi-chan bangkit berdiri dan mulai ikut berhitung.
"3, 2, 1... Happy New Year!"
Hitung mundur berakhir, dan mulai detik ini tahun yang baru telah dimulai.
Saat tahun berganti, Shi-chan melompat-lompat gembira sambil mengangkat kedua tangannya.
Melihat sosoknya yang polos seperti anak kecil itu, aku dan kedua orang tuanya saling melempar senyum lalu bertukar salam tahun baru, "Selamat Tahun Baru."
Dengan dimulainya tahun yang baru, fakta bahwa aku bisa melewatinya bersama Shi-chan sejak hari pertama membuatku merasa teramat sangat bahagia.
Meski begitu, berpikiran bahwa mereka juga butuh waktu khusus keluarga, aku pamit untuk beristirahat lebih awal.
Setelah bertukar salam selamat tidur dengan Shi-chan, aku dituntun oleh Ibu ke sebuah kamar kosong yang sedang tidak dipakai.
Meskipun dibilang kamar kosong, ukurannya cukup luas, dilengkapi pendingin ruangan (AC), dan fasilitasnya lengkap tanpa masalah.
Setelan kasur lantai (futon) berbahan mewah sudah tergelar di sana, dan aku mengucapkan terima kasih pada Ibu sebelum masuk ke kamar.
Saat melihat sekeliling kamar sekali lagi, di sudut ruangan tersimpan mainan anak-anak.
Di masa kecilnya, Shi-chan pasti pernah bermain dengan mainan-mainan ini.
Di dalam benakku, bayangan sosok Shi-chan kecil yang sedang bermain mainan saat pertama kali kami bertemu dulu terlintas kembali.
Hal itu membuat mainan-mainan ini terasa sangat berharga, dan aku bisa memahami perasaan kedua orang tuanya yang sampai sekarang belum tega membuangnya.
Keesokan harinya.
Yaitu hari ini, Hari Tahun Baru.
Berkat kasur futon yang empuk, aku bisa beristirahat dengan sangat nyenyak lalu bangun dan melangkah menuju ruang tamu.
" Ah, Tak-kun selamat pagi! Aku dan Mama bikin sup ozouni, ayo makan bareng!"
Shi-chan yang sudah bangun lebih dulu menyapa gembira begitu melihat wajahku.
Tampaknya dia sengaja menungguku bangun sebelum makan, jadi aku memenuhi kebaikannya dan menyantapnya bersama.
Ditemani hidangan osechi yang mewah di samping sup ozouni, makan pertama di tahun baru ini terasa sangat istimewa.
"Shion, kemari sebentar."
Selesai menyantap sarapan dengan nikmat, Shi-chan dipanggil oleh ibunya ke ruangan lain.
Shi-chan sendiri sepertinya tidak tahu ada urusan apa, tetapi Ayah tampaknya tahu alasannya.
"Di dekat sini ada kuil, setiap tahun selalu ramai oleh peziarah awal tahun."
"Ooh, begitu ya."
"Bagaimana? Apakah Ichijou-kun mau pergi berdua saja dengan Shion ke sana?"
"Eh? Iya, saya sangat ingin pergi ke sana."
Mendengar usulan dari Ayah, aku langsung mengangguk mengiyakan.
Ini kan daerah asal Shi-chan, jadi aku ingin mengunjungi berbagai tempat sebanyak mungkin.
Lalu aku menyadari bahwa setelah mendengar jawabanku, Ayah menyunggingkan senyum yang menyimpang arti tertentu.
Namun topik pembicaraan beralih ke hal lain, sehingga pada akhirnya aku tidak tahu apa alasannya.
"Maaf ya, membuatmu menunggu."
Tak lama setelah itu, hanya Ibu yang kembali ke ruang tamu.
Saat aku bertanya-tanya apakah Shi-chan belum selesai, Ibu memberi isyarat tangan ke belakang.
" Ayo, Shion keluar juga."
"...E-emm."
Dipanggil oleh ibunya, Shi-chan yang kembali ke ruang tamu dengan malu- malu membuatku tak sanggup menyembunyikan rasa terperangah.
Sebab Shi-chan mengenakan gaun kimono furisode berwarna merah muda tipis!
Rambutnya disanggul dengan hiasan tusuk konde (kanzashi), dan bibirnya tampak anggun beroleskan lipstik merah.
Di hadapan penampilannya yang teramat sangat anggun dan jauh berbeda dari biasanya itu, tanpa sadar aku terpaku terpesona padanya.
"...B-bagaimana?"
"...Sangat... cocok banget. Sampai-sampai aku refleks terpesona..."
Saat menyampaikan impresi jujurku, pipi Shi-chan merona merah dan dia tersenum malu-malu.
Sedangkan kedua orang tua Shi-chan, melihat interaksi kami berdua, mereka tersenum geli.
"Ichijou-kun ternyata jago juga, ya."
"Iya, pantas saja Shion bisa jatuh cinta padanya."
Mendengar ucapan itu, aku baru menyadari betapa memalukannya pernyataanku tadi, hingga wajahku terasa kian mendidih panas...
Yah bagaimanapun juga, setelah ini aku diputuskan untuk pergi hatsumode ke kuil terdekat bersama Shi-chan yang mengenakan kimono furisode.
TLN: Hatsumode (初詣): Tradisi masyarakat Jepang berkunjung ke kuil Shinto/Buddha pada awal tahun baru.
◇
Dipandu oleh Shi-chan, kami melangkah menuju kuil Shinto.
Masyarakat di daerah ini sebagian besar melakukan hatsumode di kuil tersebut, jadi hari ini pun pasti ramai oleh pengunjung.
Shi-chan sendiri sejak mulai beraktivitas sebagai idola tidak pernah pergi hatsumode, jadi dia terlihat sangat antusias menghadapi hatsumode pertamanya setelah sekian lama.
Omong-omong saat ini, mumpung mengenakan kimono furisode, dia sama sekali tidak memakai penyamaran.
Lagipula dia kan sudah pensiun jadi idola, dan yang paling penting Shi-chan bilang ingin menikmati hatsumode bersamaku apa adanya.
Tentu saja rasa cemas dan khawatir tetap ada, tetapi agar tidak terpisah kami bergandengan tangan dengan erat, dan aku menyesuaikan langkah kaki dengan Shi-chan yang mengenakan pakaian tebal berlapis.
Kuilnya berada sangat dekat dan kami segera tiba.
Meskipun bukan kuil yang sangat besar, tempat itu memang ramai oleh banyak pengunjung.
Melihat pemandangan itu, rasa nyata bahwa hari ini adalah Hari Tahun Baru makin menguat.
Di sisi jalan setapak berjejer beberapa kedai jajanan, yang menurut Shi-chan dulu tidak ada.
Tempat yang dulunya cuma dipakai untuk berdoa kini berubah menjadi seperti festival, membuat Shi-chan merasa kagum.
"Tak-kun! Ayo!"
"Hati-hati jangan sampai jatuh, ya."
"Kalau begitu aku harus menempel erat-erat dong, ya!"
Sambil berkata begitu, Shi-chan memeluk lenganku.
Alhasil, perhatian dari orang-orang sekitar langsung terarah pada kami, dan fakta bahwa gadis di sini adalah mantan idola nasional langsung ketahuan dalam sekejap.
Meski begitu tidak terjadi kepanikan, cukup sebatas pusat perhatian saja, mungkin karena orang-orang di sini tidak kenal secara pribadi padanya.
Lagipula Shi-chan kan sudah pensiun jadi idola. Artinya sekarang dia berada dalam ranah pribadi, dan ada aku yang mendampinginya.
Awalnya kupikir takkan ada orang yang tidak sopan mengganggu di awal tahun baru begini──.
"Lho? Bukannya itu Saegusa-san?"
"Waaah! Benar!"
Dari tengah kerumunan, sekelompok gadis enam orang memanggil.
Semuanya adalah anak-anak cewek seumuran, dan begitu melihat Shi-chan mereka langsung berlari menghampiri dengan gembira.
" Ah, kalian! Lagi pada di sini, ya!"
Menyadari keberadaan mereka, Shi-chan melambaikan tangan dan membalas dengan ceria.
"Sudah sejak SMP ya! Apa kabar?"
"Wah, baju kimononya imut banget!"
"Sekarang kamu sekolah di SMA yang jauh, kan?"
Seakan menyambut kebahagiaan reuni, mereka semua memberondong pertanyaan ke Shi-chan bersamaan.
Menanggapi setiap pertanyaan tersebut, Shi-chan membalas dengan gembira karena bisa bertemu kembali setelah sekian lama.
Tampaknya mereka semua adalah teman sekelas Shi-chan sewaktu SMP .
Setelah beberapa bulan lulus, bisa saling bertemu kembali seperti ini tentu membuat mereka bahagia.
Jika begitu, mumpung sesama teman sekelas sedang reuni, aku memilih untuk mundur satu langkah agar tidak mengganggu kebahagiaan mereka.
"Lalu, Saegusa-san. Cowok di sebelahmu itu, jangan-jangan...?"
Akan tetapi, rasa penasaran teman-teman sekelasnya beralih dari Shi-chan kepadaku──.
Mendapat pandangan penasaran dari gadis-gadis yang tidak kukenal, mau tak mau aku memperkenalkan diri atas inisiatif sendiri.
"...E-etto, salam kenal. Nama saya Ichijou. Saat ini saya sedang berpacaran dengan Saegusa-san."
Seperti biasa, aku masih belum terbiasa dengan hal-hal begini...
Andai saja aku bisa menjawab dengan lebih elegan, mungkin bakal kelihatan lebih keren...
Mengingat kembali dulu saat bertemu Aino-san (seorang gyaru) teman SMP-ku di pusat kota, aku juga tidak bisa menjawab dengan baik...
Waktu itu kami memang belum berpacaran dan aku tidak punya hak menyebut diriku pacarnya, tetapi kali ini aku bersyukur bisa mengutarakannya dari mulutku sendiri dengan tegas.
Berkat hal itu, Shi-chan yang ada di sampingku menutupi mulutnya dengan tangan sambil gemetaran.
Dari luar penampilannya sepenuhnya adalah tingkah salah tingkah.
Namun dari dekat, aku bisa melihat kalau dia sedang berusaha menyembunyikan senyum sumringahnya karena merasa gembira.
"Begitu toh, pacarnya ganteng banget."
"Serasi banget kalian berdua!"
"Rasanya seperti pasangan idaman, ya?"
"Enaknya~ aku juga harusnya datang sama pacarku..."
"Lho, bukannya kamu tidak punya pacar...?"
"Hah! Iya juga ya, baru ingat!"
Setelah tahu hubungan kami, teman-teman sekelasnya ternyata menerima dengan sangat baik.
Bagi diriku yang sedang menggembleng diri demi mendapatkan rasa percaya diri, mendapat pengakuan dari orang lain seperti ini secara jujur memberi dorongan percaya diri padaku.
" Ah, maaf ya mengganggu kencan kalian! Nanti kita ngobrol lagi, ya!"
"Main-main lagi ke sini, ya!"
"Nanti kalau kamu datang, aku juga bakal kenalkan pacarku!"
"Makanya kubilang kamu kan tidak punya pacar..."
"Hah! Iya juga ya!"
" Ahaha! Kalau begitu, sampai jumpa lagi kalian semua!"
Sambil menunjukkan perhatian, teman-teman sekelasnya pamit pergi.
Mengantar kepergian mereka, Shi-chan masih gemetaran.
"Tak-kun, maaf ya."
"Tidak kok, tidak apa-apa sama sekali. Malah aku senang bisa bertemu teman- teman Shi-chan di sini."
"Kalau begitu syukurlah! Ayo!"
Shi-chan menggandeng tanganku dan melangkah pergi.
Entah kenapa dia kelihatan jauh lebih gembira dibandingkan sebelum bertemu teman-temannya tadi.
"Nee Tak-kun."
"Hmm? Ada apa?"
"Katanya kita serasi banget, lho!"
"Iya, benar."
"Katanya kita pasangan idaman, lho!"
"Sepertinya begitu."
"Katanya kamu ganteng, lho!"
" Ahaha."
Perkataan mereka rupanya sangat membuat Shi-chan gembira.
Tanpa ditujukan pada siapapun, Shi-chan yang memamerkannya dengan pamer itu sungguh teramat sangat menggemaskan.
"S-siap, mulai!"
Dengan raut wajah tegang, Shi-chan menyemangati diri.
Lalu dengan mata membelalak, tangan yang disingsingkan bajunya langsung dimasukkan ke dalam kotak.
"Ini dia!"
Bersamaan dengan seruan penuh semangat itu, Shi-chan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara.
Melihat sosok Shi-chan yang terlalu bersemangat itu, orang-orang di sekitar bahkan sampai menyoraki "Ooooh~" secara misterius.
Apa yang sedang dilakukan Shi-chan sebenarnya hanyalah mengambil ramalan keberuntungan (omikuji).
Namun bagi Shi-chan, mengambil omikuji adalah pengalaman yang bisa dihitung dengan jari sepanjang hidupnya.
Hasil dari omikuji itu mungkin jauh lebih penting baginya dari dugaanku.
"K-kubuka ya..."
"I-iya, silakan..."
Terseret oleh Shi-chan, aku pun ikut-ikutan tegang...
Di bawah tatapan penonton di sekitar, Shi-chan yang tegang membuka kertas omikuji yang ditariknya lalu memeriksanya.
" Agahh!"
Akan tetapi begitu memeriksa isi kertas omikuji-nya, Shi-chan mengeluarkan suara aneh lalu memasang raut keputusasaan.
Jangan-jangan dia menarik 'Sangat Buruk' (Daikyo) ...?
Merasa penasaran, aku mengambil kertas omikuji dari Shi-chan yang membeku.
"Lho? 'Keberuntungan Sedang', kok."
Akan tetapi hasil omikuji-nya sama sekali tidak buruk.
Yah kalau dia mengincar 'Sangat Beruntung' (Daikichi) wajar saja kalau kecewa, tapi reaksi shock-nya ini rasanya terlalu berlebihan...
Di situ aku menyadari satu kemungkinan.
Yaitu masalah urutan hirarki antara 'Beruntung' (Kichi) dan 'Keberuntungan Sedang' (Chuukichi).
Artinya jika Shi-chan berpikir 'Kichi' lebih tinggi dari 'Chuukichi', bagi Shi-chan ini adalah hasil mengecewakan di bawah 'Kichi'.
Omong-omong menurut pemahamanku, 'Chuukichi' adalah peringkat kedua terbaik setelah 'Daikichi', jadi ini bisa dibilang semacam perbedaan budaya (culture shock).
Berpikiran begitu, aku menghibur Shi-chan yang sedang shock.
"Tidak apa-apa kok, ini hasil yang bagus."
Ramalan atau omikuji itu pada dasarnya cukup diambil sisi positifnya yang menguntungkan diri sendiri saja.
Jadi setidaknya setelah mendapat 'Chuukichi', anggap saja 'Chuukichi' adalah nomor dua terbaik setelah 'Daikichi'.
Aku berniat menghiburnya sambil tersenum, namun entah kenapa Shi-chan malah makin shock seakan tersambar petir.
──Kenapa!?
Gagal paham, aku memeriksa kertas omikuji sekali lagi takut-takut ada salah lihat.
Namun di sana jelas-jelas tertera tulisan 'Chuukichi', jadi tidak ada kesalahan baca.
──Kalau begitu, apakah ada tulisan buruk di dalam isinya?
Menyadari kemungkinan baru, aku membaca detail isi omikuji-nya.
Kesehatan ── Bangun pagi dan tidur awal membawa keberuntungan.
Pekerjaan ── Kunci utama adalah bertindak mendahului dalam segala hal.
Hmm, hmm.
Kategori lainnya juga terasa wajar sesuai tingkat 'Chuukichi'.
Akan tetapi di antara kategori itu, aku menemukan satu poin yang berbeda.
Percintaan ── Tidak berjalan sesuai keinginan.
Sementara yang lainnya berisi hal-hal positif, khusus untuk keberuntungan cinta ini secara simpel dan tegas dinyatakan buruk.
──Padahal 'Chuukichi', tapi bagian ini kok pedas banget.
Yah, mungkin gara-gara menjatuhkan poin ini makanya jadinya 'Chuukichi'.
Shi-chan pasti shock setelah membaca poin yang satu ini.
Dibandingkan penilaian keseluruhan 'Chuukichi' atau poin lainnya, dia pasti langsung memeriksa poin keberuntungan cinta terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa kok. Kalau hasil omikuji-ku bagus, nanti nilainya jadi impas."
Benar, percintaan kan tidak dilakukan sendirian.
Jika Shi-chan mendapat hasil yang buruk, aku tinggal menarik hasil yang bagus untuk menetralkannya (sousei).
Mendengar kata-kataku itu, Shi-chan seolah bangkit kembali dan mendadak mulai berdoa lebih khusyuk daripada diriku yang akan menarik omikuji.
Sisi dirinya yang seperti itu pun terasa menggemaskan hingga aku hampir tertawa, lalu aku menarik kertas omikuji-ku sendiri.
"Coba kulihat... ah, aku juga mendapat 'Chuukichi'."
"L-lalu isinya!?"
"Etto... Percintaan ── Pasangan saat ini adalah yang terbaik, jangan ragu."
Sama seperti Shi-chan, dewa omikuji menyatakan keputusannya secara tegas.
Akan tetapi isinya berbanding terbalik dalam arti yang sangat positif dibandingkan hasil milik Shi-chan.
Bahkan tanpa perlu diberitahu oleh dewa pun, bagi diriku Shi-chan adalah sosok yang terbaik.
Hal itu bukan cuma karena dia mantan idola terkenal atau punya penampilan yang diirikan semua orang.
Sebab takkan ada lagi orang yang bisa memahami diriku melebihi Shi-chan dan mencintaiku sampai sejauh ini──.
Dan diriku sendiri ingin membahagiakan Shi-chan melebihi siapapun.
Meskipun tak punya pengalaman asmara sebelumnya, tekadku sudah bulat.
Lalu pacarku yang terbaik itu, terlepas dari hasil omikuji-ku, malah kegirangan di sampingku.
"Tak-kun! Kertas omikuji ini harus kamu simpan baik-baik selama satu tahun, lho!"
"Kalau begitu, akan kusimpan ya."
"Harus ya! Mutlak!"
"Iya, iya."
Melihat Shi-chan yang memohon secara bersungguh-sungguh, aku tertawa kecil lalu melipat kertas omikuji dan memasukkannya ke dalam saku.
Setelah memastikannya, Shi-chan mengangguk puas lalu bergegas pergi mengikat kertas omikuji miliknya sendiri.
Soal mengikat omikuji ini juga ada berbagai versi, seperti agar permohonan terkabul atau mengubah nasib buruk menjadi baik, tetapi dalam kasus Shi- chan dia murni cuma tidak ingin menyimpan kertas omikuji tersebut.
Buktinya setelah selesai mengikatnya, Shi-chan menghembuskan napas puas— hfuns—seakan baru menyelesaikan tugas besar.
Lalu Shi-chan mengambil koin lagi dari dompetnya.
"S-siap... kali ini pasti..."
Melihatnya berniat membeli omikuji sekali lagi, aku terburu-buru menghentikan Shi-chan.
Bahkan biarpun menarik sampai mendapat hasil bagus, hal semacam ini kan tidak bisa ditimpa begitu saja.
Shi-chan cemberut tidak puas, tetapi di dalam kepala dia pasti tahu kalau menguji keberuntungan memang seperti itu prosedurnya.
Dengan enggan dia membatalkan niatnya, lalu menggandeng tanganku dan melangkah pergi dari tempat itu.
Terakhir, kami memutuskan untuk melakukan tujuan utama kami yaitu bersembahyang (sanpai).
Berdiri di depan altar dewa lalu melemparkan koin persembahan (osaisen), kami berdua berdiri berdampingan menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan kepada dewa.
──Semoga tahun ini pun aku bisa melewati hari-hari bahagia bersama Shi- chan.
Mungkin terkesan klise, tetapi permohonanku murni hanya terpusat pada satu kalimat ini.
Tanpa meminta hal yang muluk-muluk, selesai berdoa aku menoleh ke samping.
Di sana Shi-chan ternyata masih sibuk menyampaikan permohonannya.
Entah apa yang dikatakannya secara bersungguh-sungguh, tetapi doanya yang berbisik-bisik sampai bocor keluar dari mulutnya.
"Sip... maaf ya membuatmu menunggu."
Setelah menuntaskan rentetan permohonannya, Shi-chan mengulas senyum segar dengan raut lega.
Meskipun ada banyak hal yang ingin kutanyakan, karena ada orang lain di belakang, untuk saat ini aku menahannya dulu.
Dengan begitu selesai bersembahyang, kami melihat-lihat kedai jajanan sebelum kembali ke rumah orang tua Shi-chan.
"Tadi kamu minta apa saja sampai selama itu?"
"Tidak boleh diberi tahu! Katanya kalau diucapkan lewat kata-kata nanti permohonannya tidak terkabul, lho!"
"Makanya hati-hati ya," ujar Shi-chan sambil sok tahu memberitahuku.
Tapi kalau soal itu, bukannya tadi bisikan doanya sempat bocor keluar dari mulutnya, ya...
Yah ini juga ada berbagai versi, ada yang bilang kalau diucapkan takkan terkabul, ada juga yang bilang kalau diucapkan justru bakal terkabul.
Omong-omong kalau aku sendiri tidak pernah memusingkan hal semacam itu.
Sebab aku tidak berpikir dewa bakal memilah-milah manusia hanya karena hal sepele seperti itu.
Oleh karena itu, aku sengaja menyampaikan permohonanku kepada Shi-chan.
"Omong-omong kalau aku tadi minta, 『Semoga tahun ini pun aku bisa melewati hari-hari bahagia bersama Shi-chan』."
"Eh!? Aku juga! Aku juga minta hal yang sama seperti Tak-kun!"
Dengan gembira, Shi-chan bersorak karena kami meminta hal yang sama.
"Lho? Bukannya kalau diucapkan permohonannya takkan terkabul...?"
" Ah..."
Mendapat sentilan dariku, Shi-chan terburu-buru menutupi mulutnya dengan tangan seolah baru melakukan kesalahan fatal.
" Aha. Memang benar-benar 'Tidak berjalan sesuai keinginan', ya."
"I-ih! Tak-kun jahil banget!"
Melihatku tertawa, Shi-chan cemberut merajuk.
Sisi dirinya yang seperti itu pun terasa sangat menggemaskan, tetapi demi memperbaiki suasana hatinya, aku menambahkan perkataanku.
"Tidak apa-apa kok."
" Apanya yang tidak apa-apa...?"
"Yang benar-benar penting itu bukan soal diucapkan atau tidak, melainkan bagaimana tindakan kita berdua ke depannya. ──Aku akan terus berada di samping Shi-chan tanpa berubah. Jadi semuanya bakal baik-baik saja."
Lagipula dewa pasti kerepotan kalau harus mengabulkan seluruh permohonan dari begitu banyak orang.
Pada akhirnya dalam hal percintaan, bagaimana kita berdua saling menghadapi satu sama lain adalah segalanya.
Sebab hal itu bukan ditentukan oleh dewa atau orang lain, melainkan ditentukan oleh diri kita sendiri.
Oleh karena itu, bagi kami cukup jika dewa mau mengawasi kami dari kejauhan saja.
"...Beneran tidak berjalan sesuai keinginan, ya."
"...Tapi bukannya begitu justru lebih seru dan tidak bikin bosan?"
"Emm... Tak-kun, aku sayang banget sama kamu!"
Shi-chan tersenyum bahagia.
Seakan untuk saling memastikan perasaan masing-masing, kami meremas genggaman tangan kami erat-erat.
Sambil meresapi kebahagiaan dari keterikatan yang nyata itu, tahun yang baru bersama Shi-chan pun dimulai.
Diskusi & Komentar (0)