🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 4 EPILOG

Aku menginap di rumah orang tua Shi-chan dan terus menumpang sampai Hari Tahun Baru. Dan hari ini, adalah pagi tanggal dua Januari. Karena Shi-chan masih akan menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah orang tuanya, diputuskan bahwa hanya aku yang pulang duluan ke rumah.

Meskipun kedua orang tuanya sudah menerimaku, aku berpikir bahwa waktu yang dihabiskan khusus bersama keluarga sendiri tetaplah hal yang sangat penting.

"Tak-kun, kamu mau pulang sekarang, ya...?"

"Iya, Shi-chan nikmatilah waktu santaimu di sini, ya."

"──Paham, hati-hati di jalan, ya!"

Meskipun terlihat berat hati untuk berpisah, perasaanku tampaknya tersampaikan padanya. Di akhir, dia mengantar kepergianku sambil mengulas senyum mekar yang manis.

Tahun sudah berganti, dan dalam beberapa hari lagi kami bakalan bertemu di sekolah. Karena itulah untuk saat ini, aku ingin dia menikmati waktu khusus bersama keluarganya.

"Kalau begitu, terima kasih banyak atas tumpangannya."

"Datanglah berkunjung lagi kapan-kapan, ya."

" Aah, kami akan menyiapkannya hidangan lezat dan menunggu kedatanganmu lagi."

"Terima kasih banyak. Saya akan menantikannya! Kalau begitu, saya pamit dulu."

Setelah membungkukkan badan sekali lagi kepada Shi-chan dan kedua orang tuanya, aku mulai melangkah menuju stasiun.

"Tunggu, Tak-kun!"

"Shi-chan?"

"Sampai stasiun! Aku bakal mengantarmu sampai stasiun!"

Sambil terburu-buru memasukkan tangannya ke lengan mantel, Shi-chan berlari mengejarku.

"Kamu tidak kedinginan? Kalau jalannya aku masih ingat kok, jadi tidak apa- apa?"

"Tidak! Aku mau mengantar!"

Mendengar kekhawatiranku, Shi-chan memeluk lenganku erat-erat seakan menegaskan bahwa dia mutlak harus mengantarku. Dikarenakan dia bertindak sampai sejauh itu, aku tak punya alasan lagi untuk menolaknya. Lagipula diriku sendiri jujur merasa bahagia karena masih bisa bersamanya sedikit lebih lama lagi──.

Akan tetapi jarak menuju stasiun mungkin tinggal seratus meter lebih sedikit lagi. Begitu tiba di stasiun, dengan ini artinya aku dan Shi-chan akan benar- benar berpisah untuk sementara.

Padahal tadi aku sudah merelakannya di dalam hati, tetapi begitu berada berduaan saja seperti ini, keinginan untuk tak ingin berpisah justru kian menguat.

"Nee Tak-kun, bagaimana kesanmu tentang Papa dan Mama?"

"Merek berdua sangat ramah, dan entah kenapa terasa banget kalau mereka itu orang tuanya Shi-chan."

" Apa-apaan itu? Memangnya di bagian mana?"

"Hmm, sulit diungkapkan dengan kata-kata sih, tapi mungkin di raut wajah pas mereka lagi tertawa?"

" Aha, raut wajah ya."

Sambil berkata begitu, Shi-chan mencubit-cubit pipinya sendiri dengan kedua tangan. Walaupun kurasa hal itu takkan memberinya kejelasan apa-apa, karena penampilannya menggemaskan, aku membiarkannya begitu saja.

"Mulai minggu depan, sekolah sudah masuk semester tiga, ya..."

"Iya benar, rasanya cepat sekali, ya."

"Emm, kira-kira di semester tiga nanti bakal ada acara apa saja, ya?"

"Kalau bulan Januari tidak terlalu paham sih, tapi kalau bulan Februari bukannya ada Hari Valentine?"

" Ah! Iya benar! Kamu boleh berharap banyak, lho?"

" Ahaha, kalau begitu sesuai perkataanmu, aku bakal berharap banyak deh."

"Serahkan saja padaku!"

Melihat Shi-chan yang membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri, aku pun ikut tertawa. Ini artinya di Hari White Day nanti aku juga harus berjuang keras.

Sambil melintasi obrolan seperti itu, tanpa terasa kami sudah tiba di depan stasiun.

"Sudah sampai, ya."

"Iya, benar."

Begitu liburan musim dingin usai, aku bisa langsung bertemu dengan Shi-chan lagi. Meski begitu di detik saat ini, berpisah di tempat ini terasa sangat sepi...

Hal yang sama dirasakan juga oleh Shi-chan, dia menjepit ujung bajuku dengan jari-jarinya lalu terdiam membisu.

"Kalau begitu, sampai bertemu lagi di sana, ya."

"...Emm."

Meskipun mengucapkan kata-kata itu lewat mulut, kami berdua tetap berdiri bergeming di tempat. Kehilangan pemicu untuk melangkah pulang secara total, aku berbalik menghadap ke arah Shi-chan.

" Ah iya, Shi-chan."

Saat menyapanya begitu, aku mengeluarkan sebutir permen dari saku tas lalu menyerahkannya padanya. Tidak ada arti khusus, aku cuma ingin mencairkan suasana.

"Eh, terima kasih."

Menerima permen tersebut, Shi-chan menyimpannya ke dalam saku mantelnya dengan raut menghargai. Lalu dia menepuk-nepuk sakunya sendiri, dan begitu menyadari bahwa dia tidak membawa apa-apa untuk dibalas, Shi-chan memasang raut kecewa yang sangat jelas.

" Aku tidak perlu diberi apa-apa kok."

"Tidak! Tunggu sebentar di sini, ya!"

Seakan mendapat kilatan ide, Shi-chan berkata begitu lalu berlari kencang menuju ke toko pernak-pernik terdekat.

Setelah menunggu sekitar lima menit lebih sedikit, Shi-chan berlari kembali dengan terburu-buru.

"Tak-kun, ini!"

Lalu dengan raut panik, dia menyerahkan barang yang baru saja dibelinya.

"I-iya, terima kasih ya."

Tanpa paham maksudnya aku menerima barang itu, yang ternyata adalah sebuah gantungan kunci boneka beruang yang sangat imut.

Di tangan Shi-chan juga tergenggam barang yang sama, milikku berwarna putih sedangkan milik Shi-chan berwarna cokelat—pasangan beda warna.

"Dengan begini kita punya barang pasangan!"

" Aha, kalau begitu... bagaimana kalau begini?"

Mumpung dia sudah susah payah memberikannya sebagai kado, aku langsung memasangkan gantungan kunci itu di tas yang kupegang untuk diperlihatkan padanya.

"I-itu ya, anggap saja itu adalah aku, ya? Soalnya aku juga bakal menganggap barang ini sebagai Tak-kun..."

Dengan raut tersipu malu dan sedikit salah tingkah, Shi-chan menyampaikan hal itu padaku.

Aha, jadi karena itulah milikku warna putih dan miliknya warna cokelat.

Awalnya secara bayangan aku berpikir warnanya kebalik, tetapi mendengar penjelasannya bahwa ini demi merasa dekat satu sama lain, aku bisa memahaminya.

"Iya benar, dengan begini kita tidak bakal merasa kesepian lagi, ya."

"Emm!"

"Omong-omong Shi-chan, kamu tadi bawa dompet?"

"Tidak kok, aku pakai dompet elektronik di ponsel!"

Menjawab pertanyaan kasualku, Shi-chan memperlihatkan ponsel di tangannya. Tampaknya Shi-chan sekarang sudah sangat mahir menggunakan dompet elektronik.

Mengingat masa-masa di mana dia selalu cuma mengeluarkan lembaran uang seribu yen di minimarket dulu, pertumbuhannya terasa sangat nyata.

"Kalau begitu, aku berangkat sekarang ya."

"Emm, nanti kukabari lewat pesan ya."

" Aku juga bakal mengabari."

"Emm, aku tunggu ya!"

Illustration TL BY: AgungX Novel

Classmate no Moto Idol ga, Tonikaku

Kyodou Fushin nan desu.

Volume 1 – 4 END

Tambahan Short Story 3 Chapter

PDF BY: AgungX Novel

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar