🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 4 Chapter 6 - Natal Hanya Berdua

Desember.

Hari ini, di mana tahun ini hanya menyisakan sedikit waktu lagi, upacara penutupan semester (shuugyoushiki) berakhir dengan lancar.

Artinya mulai besok kami resmi memasuki liburan musim dingin, tetapi alasan kenapa anak-anak sekelas kelihatan gelisah bukannya karena hal itu saja.

Sebab, hari ini adalah hari yang jauh lebih penting daripada liburan musim dingin itu sendiri.

Benar, hari ini adalah tanggal dua puluh empat Desember. Dengan kata lain...

Malam Natal (Christmas Eve)──.

Begitu waktu pulang sekolah tiba, rasanya jumlah pasangan kekasih yang terlihat jauh lebih banyak daripada biasanya, dan itu pasti bukan sekadar perasaanku saja.

Soalnya hari ini adalah hari yang sangat penting bagi sejoli yang sedang dimabuk cinta.

Pasti semua orang bakal pergi berkencan ke suatu tempat setelah ini.

Tanpa terkecuali, aku pun sedang berjalan menuju stasiun bersama dengan Shi-chan.

"Entah kenapa hari ini banyak pasangan kekasih, ya."

Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, Shi-chan berbisik pelan ke telingaku.

Tampaknya Shi-chan juga menyadarinya, dan dia kelihatan sangat penasaran ke mana orang-orang itu bakal pergi setelah ini.

Di hari Malam Natal ini, sambil berjalan bersama Shi-chan menyusuri jalan pulang yang sudah sepenuhnya diselimuti nuansa musim dingin, aku teringat kembali akan hal-hal yang telah berlalu.

Awal masuk sekolah dulu, kami hanyalah seorang idola nasional dan anak SMA biasa.

Bisa dibilang, bagaikan langit dan bumi, aku berpikir kami adalah dua sosok yang takkan pernah bersinggungan.

Namun sekarang, sosok se-spesial itu telah menjadi pacarku, dan hari ini kami akan menghabiskan Malam Natal bersama.

Sampai sekarang pun rasanya masih sulit dipercaya, tetapi keberadaan Shi- chan yang berjalan dengan raut bahagia di sampingku membuktikan bahwa ini semua adalah kenyataan.

Justru karena itulah, hari ini demi Shi-chan juga, aku bertekad untuk menjadikan hari ini sebagai momen yang tak terlupakan bagi kami berdua.

Sambil memantapkan tekad itu, demi memastikan aku mengonfirmasi rencana kami setelah ini dengan Shi-chan.

"Etto, hari ini jam tujuh malam di rumah Shi-chan, kan?"

"Emm! Aku bakal bersiap-siap dan menunggu ya!"

Sebenarnya kami bisa saja langsung pergi jalan-jalan sekarang, tetapi hari ini kami berjanji untuk bersiap-siap secara terpisah dulu sebelum berkumpul kembali.

Atas permintaan kuat dari Shi-chan, dia bilang ingin menyiapkan masakan khusus untuk hari ini.

Dengan begitu, setelah mengantar Shi-chan sampai ke apartemennya, aku bergegas pulang ke rumah untuk bersiap-siap.

Jam tujuh malam.

Setelah selesai bersiap-siap di rumah, aku tiba di rumah Shi-chan sesuai janji.

Karena pintunya tidak dikunci seperti yang diberitahukannya, aku mengucapkan "Permisi" saat membuka pintu genkan, dan aroma harum masakan yang lezat langsung menyambutku.

Dengan harapan yang membumbung tinggi berkat aroma lezat itu, aku membuka pintu ruang tamu.

" Ah, maaf ya! Tanganku lagi sibuk nih!"

Sambil memegang sendok sayur di satu tangan, Shi-chan menoleh ke arahku.

Melihatnya masih mengenakan seragam sekolah yang dilapisi celemek (apron), pasti dia langsung mulai memasak begitu sampai di rumah tadi.

Sambil mengagumi betapa imutnya perpaduan seragam dan celemek, aku menuruti perkataannya untuk menunggu di sofa ruang tamu.

Sebenarnya ada keinginan untuk membantu, tetapi karena sebelumnya dia sudah menegaskan bahwa hari ini dia ingin menyajikan makanan buatku, aku memilih untuk tidak ikut campur dan menurutinya dengan patuh.

Dengan begitu, setelah menunggu sejenak sambil menonton TV, hidangan yang sudah matang diantar ke atas meja.

Sup white stew yang kaya isi, ditemani roti baguette dengan permukaan yang terpanggang kecokelatan lezat.

Caprese bernuansa warna Natal dengan irisan tomat yang menjepit kemangi (basil) dan keju mozzarella.

Dan di tengah meja, bahkan tersaji seekor roast chicken (ayam panggang utuh) yang dipanggang sempurna.

Aroma harum gurih yang tercium saat pertama kali masuk pintu tadi rupanya berasal dari ini, toh...!

"Eh... ini semua kamu buat sendiri...?"

"Emm! Hari ini aku mengeluarkan seluruh kemampuanku!"

Seakan puas melihatku terkejut, Shi-chan membusungkan dadanya dengan embusan napas bangga—hfuns.

Jika ini disebut kejutan maka ini sukses besar, kualitasnya bahkan tak kalah dari koki profesional.

Begitu strawberry shortcake yang kubeli di perjalanan ke sini ditata berdampingan, suasana meja makan sudah sepenuhnya menjadi pesta Natal.

Di hadapan deretan hidangan mewah yang berwarna-warni ini, perutku yang memang sengaja dikosongkan refleks berbunyi—kruuk.

"Kalau begitu, ayo kita makan sebelum dingin!"

"Iya, itadakimasu."

Jujur saja karena rasa laparku sudah mencapai batas, pertama-tama aku menyuapkan sup stew ke dalam mulut.

Saat masuk ke mulut, rasa manis yang lembut dan kelezatan yang mendalam menyebar di dalam rongga mulut, cita rasa lembutnya menghangatkan jiwa dan raga.

Bahan-bahannya yang dipotong agak besar sangat pas dinikmati bersama roti baguette yang renyah, dan variasi rasa yang berubah sesuai paduan bahan terasa sangat menyenangkan saat disantap.

Berikutnya adalah caprese.

Meskipun bumbunya simpel, sentuhan kreasinya terasa begitu kuat. Takaran keju dan kucuran minyak zaitunnya pas banget, cita rasa lembutnya sangat cocok sebagai pencerah selera makan (hashiyasume).

Dan yang terakhir adalah roast chicken yang merupakan menu utama hari ini.

Permukaannya terpanggang kecokelatan dengan kulit yang renyah (crispy).

Sebaliknya, daging di dalamnya terpanggang dengan sangat juicy, membangkitkan selera makan hanya dengan dipandang saja.

Saat disantap bersama garam yang dicampur bubuk kari, kelezatannya yang luar biasa membuatku tak mampu menyembunyikan rasa kagum.

Hal itu dirasakan juga oleh Shi-chan sang pembuatnya, kelihatannya sang koki sendiri sangat puas dengan rasanya.

Makan malam Natal seperti ini, apa pun yang disantap rasanya benar-benar lezat, hingga perut dan hati terasa hangat serta terpuaskan.

"Terima kasih atas makanannya (gochisousama). Semuanya beneran enak banget. Berkat masakanmu, rasanya aku sampai agak kekenyangan."

"Ehehe, syukurlah kalau begitu! Hari ini aku benar-benar ingin membuat Tak- kun bahagia, jadi mendengar perkataanmu itu aku sudah sangat puas!"

Saat aku menyampaikan rasa terima kasih, Shi-chan memberi hormat (salute) dengan raut puas.

Tingkahnya itu pun terasa sangat menggemaskan, hingga aku bersyukur karena sudah bisa menghabiskan Malam Natal yang luar biasa berkat dirinya.

"Sip, kalau begitu kali ini setidaknya cuci piring biarkan aku yang mengerjakannya, ya."

Setelah menikmati shortcake pencuci mulut dengan nikmat, kali ini pun aku memutuskan untuk mencuci piring sebagai ucapan terima kasih.

Aku melangkah ke wastafel dan mulai mencuci peralatan makan yang jumlahnya sedikit lebih banyak dari biasanya.

Lalu kali ini pun, Shi-chan menempel erat di belakang punggungku yang sedang mencuci piring. Meskipun aku sudah memintanya untuk bersantai saja, menurut Shi-chan menempel padaku adalah hal yang paling membuatnya merasa tenang.

Akan tetapi, Shi-chan saat ini mengenakan seragam sekolah tanpa dilapisi celemek. Dua sensasi lembut yang menempel hanya terhalang selembar kemeja membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkannya selagi mencuci piring...

" Ah, Tak-kun sekarang jantungnya lagi berdebar-debar, ya."

"Iya, berdebar-debar kok. Dipeluk sama Shi-chan begini, rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak bakal senang."

"Benarkah? Tapi tenang saja! Yang kupeluk seperti ini di seluruh dunia cuma Tak-kun seorang, kok!"

Mendengar impresi jujurku, Shi-chan yang tersipu malu menegaskan bahwa hanya akulah satu-satunya.

Mendengar kata-katanya yang membahagiakan itu, aku menghentikan tanganku yang sedang mencuci piring lalu berbalik ke belakang.

Di sana, terlihat Shi-chan yang membusungkan dadanya dengan raut pamer.

Dia sendiri pasti tidak sadar, tapi dadanya yang tadi sempat membuatku salah fokus kini dibusungkan tepat di depan mataku, hingga membuatku sangat bingung harus mengarahkan pandanganku ke mana.

Alhasil karena merasa malu, aku hanya bisa berbalik kembali menghadap wastafel dan melanjutkan cuci piring. Sebenarnya aku ingin langsung memeluknya saat itu juga, tetapi kalau kulakukan, aku takut akal sehatku takkan sanggup bertahan.

Namun reaksi salah tingkahku itu mungkin terasa lucu baginya. Pada akhirnya sampai aku selesai mencuci piring, Shi-chan terus memelukku dari belakang dengan raut gembira.

Setelah selesai mencuci piring, Shi-chan pamit untuk berganti pakaian dan keluar dari ruang tamu.

Yah, karena sejak tadi dia masih mengenakan seragam, wajar saja kalau dia ingin berganti pakaian. Sambil melamun memikirkan apakah bakal lucu kalau

dia memakai kaos Ramen waktu itu lagi, tak berapa lama kemudian pintu ruang tamu terbuka perlahan.

Ooh, dia sudah kembali, pikirku seraya menoleh, namun seketika itu juga aku membeku terperangah.

Sebab di sana, berdiri sosok Shi-chan yang berganti kostum menjadi seorang Sinterklas (Santa Claus)!

Jika itu hanya kostum Sinterklas biasa, mungkin tanggapanku cukup dengan "imut banget, ya".

Namun kostum yang dikenakannya saat ini, singkat kata adalah Sinterklas yang teramat sangat seksi.

Model tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas itu berada di garis batas yang bahkan takkan pernah dipakai dalam kostum idola sekalipun.

Bukan berarti ada bagian yang tak boleh terlihat sampai kelihatan, melainkan justru keseksian yang pas di batas kritis itulah yang membuatnya terasa luar biasa...

"...Bagaimana?"

"Sangat... imut sekali."

Sambil merasakan detak jantungku yang berpacu kencang, aku hanya bisa mengangguk-angguk berulang kali.

Mungkin merasa gembira melihat reaksiku itu, Shi-chan yang melangkah mendekat lalu duduk di sampingku di atas sofa, kini mendekatkan wajahnya perlahan──.

Illustration Lalu, sambil menempelkan tangannya dengan lembut di dekat telingaku, dia berbisik hingga helaan napasnya terasa menyapu kulitku.

"Nee, aku imut tidak?"

"...Iya, kamu imut banget."

"Kalau cuma bilang imut doang, aku tidak paham, lho?"

"A-apa yang harus kulakukan...?"

"Bagaimana kalau coba kamu peluk saja?"

Mengikuti perkataannya, aku memeluk Santa kecil nan jahil yang ada di sampingku.

Seketika itu juga, Shi-chan membalas memelukku erat-erat seakan menyambut dekapanku.

"Sudah berhasil membuatmu terpesona setengah mati?"

" Aku benar-benar terpesona setengah mati."

"Fufu, syukurlah kalau begitu."

Mendengar jawabanku, Shi-chan tersenum puas.

Jika ini adalah sebuah pertarungan, maka kali ini aku telah kalah telak.

Meskipun aku mengakui kekalahanku dengan lapang dada, aku tetap harus mempertahankan akal sehatku. Dan dari sinilah pertarungan melawan diriku sendiri dimulai.

"Nee Tak-kun! Mau coba jalan-jalan ke pusat kota sebentar?"

Setelah kami berdua bersantai sejenak, Shi-chan melontarkan usulan itu seolah baru saja mendapat ide.

Area sekitar stasiun memang dihiasi lampu-lampu iluminasi yang megah, dan di perjalanan menuju ke sini tadi aku melihat banyak pasangan kekasih. Jadi, kalau Shi-chan bilang ingin keluar, aku sama sekali tidak keberatan.

Masalahnya adalah pakaian yang dikenakannya saat ini.

Namun hal itu tentu sudah dipahami oleh Shi-chan tanpa perlu kuucapkan.

Seakan ingin menyampaikan 'aku mengerti apa yang mau kamu katakan', dia melangkah pata-pata keluar dari ruang tamu, lalu kembali dengan mengenakan mantel duffle coat berpotongan panjang.

"Kalau pakai ini tidak apa-apa! Bagian depannya juga bakal kukancingkan rapat-rapat!"

Sambil memberi hormat (salute), Shi-chan memamerkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sisi dirinya yang bersemangat seperti anak kecil itu terasa sangat menggemaskan hingga aku tak sanggup menahan tawa.

"Iya deh, pastikan tertutup rapat, ya."

"Siap, laksanakan!"

Sebab jika Sinterklas yang teramat sangat seksi ini sampai terlihat oleh orang lain, pusat kota pasti bakal panik kekacauan.

Bisa dibilang aku ini pacar yang terlalu bucin, tetapi mengingat lawan bicaraku adalah Shi-chan, kekhawatiran itu terasa sangat nyata hingga membuatku bergidik...

Dengan begitu, kali ini bersama Shi-chan yang sudah dipersenjatai lengkap dengan mantel duffle coat, kami pun berangkat untuk menikmati lampu-lampu iluminasi malam hari.

Saat tiba di depan stasiun, terlihat banyak pasangan kekasih di sekitar tempat itu.

Semua orang kelihatan bahagia, tetapi apakah di mata orang lain kami berdua juga terlihat seperti itu? Memikirkan hal itu membuatku merasa agak sedikit tersipu dan geli.

Shi-chan yang ada di sampingku mengenakan mantel duffle coat berbulu-bulu halus yang imut. Namun membayangkan bahwa di balik mantel itu dia mengenakan kostum Sinterklas seksi yang teramat sangat menggoda, membuatku agak cemas apakah ini beneran aman...

" Ah, Tak-kun coba lihat! Pohon natal besar banget!"

Di tempat yang ditunjuk oleh jari Shi-chan, berdiri sebuah pohon Natal raksasa yang dihiasi lampu-lampu indah.

Di sekitarnya, banyak pasangan kekasih berfoto bersama dengan latar belakang pohon Natal tersebut. Mumpung berada di sini, kami berdua pun memutuskan untuk berfoto juga.

"Kalau begitu, aku ambil foto ya! Satu, dua, cheese hamburg!"

Cekrek.

...Hmm? Cheese hamburg?

Meskipun aba-aba foto yang terlalu unik itu tetap menjadi misteri, kami memasang foto berdua dengan wajah saling menempel berlatar pohon Natal itu sebagai walpaper baru di ponsel masing-masing.

Setelah selesai berfoto, kami memutuskan untuk mengelilingi pusat kota yang dihiasi lampu-lampu iluminasi malam hari sedikit lebih lama lagi.

Pusat kota yang sudah kutinggali sejak kecil ini, khusus untuk hari Malam Natal hari ini saja terasa sangat berbeda. Hal itu bukan cuma dikarenakan pemandangan kotanya, melainkan karena ada Shi-chan yang berada di sampingku saat ini.

Kebahagiaan bisa menghabiskan hari spesial ini bersama sosok yang paling berharga telah memberikan rona keindahan pada segalanya.

"Tahu tidak, aku punya impian untuk bisa menghabiskan hari Natal bersama orang yang kukai... eh bukan, bersama Tak-kun seperti ini. Makanya hari ini, satu impianku berhasil terwujud lagi."

Sambil berkata begitu, Shi-chan tersenyum bahagia.

Aku merasa senang karena Shi-chan juga merasakan hal yang sama, lalu kami berdua saling melempar senyum.

"Saat masih jadi idola dulu, hari Natal selalu diisi dengan pekerjaan, dan sejak awal aku berpikir tidak mungkin bisa berjalan-jalan di luar seperti ini. Karena itulah, bisa bersama Tak-kun seperti sekarang membuatku merasa teramat sangat bahagia."

" Aku juga sama. Karena Shi-chan menemukanku, aku juga merasa sangat terpuaskan oleh kebahagiaan seperti ini sekarang."

"Kalau begitu, kita sama-sama ya."

"Iya, benar."

Merasa tersipu malu, kami berdua tertawa bersamaan.

Setelah mengelilingi area sekitar stasiun dan kembali lagi ke stasiun, rasanya agak sayang jika langsung pulang begitu saja, hingga akhirnya kami duduk di bangku tempat berkumpul yang biasa.

Di sekitar kami sepi tak ada orang, hanya ada kami berduaan saja. Cahaya lampu jalanan tampak menyinari kami berdua dengan lembut.

Hembusan napas terlihat memutih, dan karena malam di bulan Desember memang terasa sangat dingin, aku merengkuh Shi-chan mendekat dengan lembut.

"Kamu tidak apa-apa? Tidak kedinginan?"

"Emm, karena Tak-kun ada di sampingku, rasanya hangat kok."

"Syukurlah kalau begitu. ──Etto, iya juga. Sekali lagi, Selamat Natal ya."

"Kenapa mendadak begitu?"

Mendengar kata-kataku yang sengaja meluncur untuk mengisi kekosongan, Shi-chan tertawa geli.

Saat ditertawakan, aku sendiri jadi merasa agak malu. Di saat-saat seperti ini, andai saja aku bisa membawa jalan pembicaraan dengan lebih elegan dan menyenangkan...

"Emm, Selamat Natal. Untuk anak baik seperti Tak-kun, aku akan memberikan hadiah!"

"Hadiah?"

"Iya, hadiah."

Sambil berkata begitu, disertai senyuman jahil, Shi-chan mendaratkan kecupan di pipiku.

"Sudah kuterima."

"Bagaimana kesannya?"

"Hadiah yang sangat membahagiakan."

"Ho-ho-ho! Kalau begitu baguslah!"

Melihat Shi-chan yang mendadak bertingkah ala Sinterklas rasanya sungguh kocak, hingga aku terbahak dan Shi-chan pun ikut-ikutan tertawa bersama.

"Kalau begitu sebelum pulang, ayo main shiritori tiga huruf! Kalau bisa menang dariku, kamu bisa dapat satu hadiah lagi, lho!"

" Aha, kalau begitu aku tidak boleh kalah."

Lalu permainan shiritori tiga huruf yang misterius pun dimulai.

Lawan bicaraku adalah Shi-chan yang berprestasi akademis tinggi. Menyadari bahwa dalam hal kosakata aku pasti takkan menang, aku melancarkan strategi

untuk mengunci huruf terakhir pada huruf "ru" (ru-gon), dan berhasil menang dengan gemilang.

Alhasil, sebagai hadiah dari Shi-chan, aku berhasil mendapatkan satu kecupan di pipi lagi.

Setibanya kembali di rumah, Shi-chan segera bersiap-siap menyiapkan kamar mandi.

Omong-omong, karena esok hari sudah masuk liburan musim dingin, hari ini aku diputuskan untuk menginap di sini.

Fakta bahwa aku sudah pernah menginap sekali di sini tidak membuatku santai begitu saja... tentu saja tidak.

Tentu saja aku harus tetap menjaga batasan dan bersikap pria yang sehat agar bisa terus mendampingi Shi-chan dengan layak ke depannya.

...Namun, bukan berarti aku tidak bakalan merasa gugup dan berdebar-debar.

Begitu mantelnya dilepas, kostum Sinterklas seksi Shi-chan kembali terekspos jelas. Menyaksikan sosok seperti itu di depan mata lalu diminta untuk tidak memikirkannya, itu sih mustahil...

" Air mandi hangatnya sebentar lagi penuh, bagaimana?"

Saat sedang menunggu di sofa ruang tamu sambil termenung kalut sendirian, sebuah suara menyapaku.

"Eh? A-ah, Shi-chan saja yang mandi duluan."

"Boleh? Baiklah. Kalau begitu aku mandi duluan ya, Tak-kun bersantailah di ruang tamu!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan kembali ke kamar mandi dengan suasana hati yang sangat ceria.

Meskipun hanya aku yang terlalu salah fokus, rasanya Shi-chan tidak terlalu mempermasalahkannya. Alih-alih cemas, Shi-chan tampaknya murni merasa gembira karena aku menginap hari ini.

Langkah melompat-lompat kecilnya yang ringan seolah memperlihatkan seluruh isi hatinya.

Sambil merasakan perbedaan suhu emosional yang amat sangat jelas itu, aku memutuskan untuk menonton TV demi mengalihkan pusing di kepala.

Di TV kebetulan sedang menayangkan acara musik spesial Natal.

Di seberang layar, grup idola populer belakangan ini sedang bernyanyi dan menari. Melihat sosok idola seperti itu, bayangan Shi-chan di masa-masa idola dulu tak bisa ditahan untuk kembali terbayang.

──Berduaan saja dengan idola impian, ya.

Entah sudah berapa kali kenyataan yang teramat sangat tak nyata ini kembali meresap di dalam benakku.

Menyadari bahwa menonton TV takkan sanggup mengalihkan perhatianku, aku mematikan TV dan memilih bermain gim ponsel untuk menyibukkan diri.

"Fuu, rasanya segar banget~"

Kira-kira satu jam lebih sedikit telah berlalu.

Shi-chan keluar dari kamar mandi. Dia tidak lagi mengenakan kostum Sinterklas yang seksi, melainkan berganti ke setelan baju rumah berbahan bulu-bulu (fluffy) yang pernah kulihat sebelumnya.

Meskipun merasa agak sedikit kecewa karena dia tidak memakainya lagi, yah setidaknya dengan begini akal sehatku bisa terjaga──harus-nya sih begitu, tapi ternyata tidak.

Setelan baju rumah itu sendiri tetap saja memiliki tingkat pamer kulit yang lumayan tinggi, hingga aku tetap bingung harus mengarahkan pandanganku ke mana. Kalau dulu kan ada alasan bahwa aku sedang merawatnya sakit,

sementara hari ini dia sama sekali tidak demam dan dalam kondisi sangat sehat.

Kakinya yang mulus jenjang indah itu sudah berada di tingkat Pusaka Nasional, dan jika aku punya wewenang khusus, rasanya aku ingin menganugerahkan penghargaan atas keindahannya yang luar biasa itu.

"Tak-kun?"

" Ah, maaf. Aku tadi melamun."

"Pakaian ganti milik Tak-kun juga sudah kusiapkan di sana, ya."

"Emm, terima kasih."

Mana mungkin aku bilang kalau aku sedang terpesona melihat kakinya, jadi aku terburu-buru mengelak sambil melangkah menuju kamar mandi.

Saat membuka pintu, di dalam keranjang ruangan ganti pakaian, setelan sweatshirt yang kupakai waktu itu sudah terlipat rapi.

Karena sejak awal tahu bakal menginap hari ini, aku sudah membawa pakaian dalam sendiri dari rumah, tetapi Shi-chan sempat menegaskan, "Baju ganti sweatshirt-nya sudah ada kok!", jadi aku tidak membawa baju tidur sendiri.

Lalu saat melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tentu saja di sana terhampar kamar mandi yang sama seperti sebelumnya.

Akan tetapi, aku menyadari satu hal yang berbeda dari sebelumnya.

Yaitu kenyataan bahwa bak mandi sudah diisi air hangat yang penuh.

Sekarang sudah bulan Desember dan udara dingin, jadi bisa berendam di air hangat sungguh membuatku bersyukur dari dalam hati.

──Tapi air hangat ini kan bekas dipakai oleh Shi-chan sebelumnya...

Hanya dengan menyadari hal itu saja, jantungku seketika berdegup kencang kembali.

Kalau di rumah sendiri, berendam di air bekas mandi Aya-nee sudah sering kualami dan tentu saja aku tidak pernah memikirkan hal-hal aneh. Namun jika lawannya adalah Shi-chan, ceritanya jadi sangat berbeda.

Akan tetapi, karena dia sudah susah payah menyiapkan air hangat ini, sayang sekali kalau tidak kupakai berendam. Oleh karena itu, sambil mengingatkan diriku sendiri bahwa tidak ada niat aneh-aneh, aku mengguyur badan lalu masuk berendam ke dalam bak mandi.

"Umm... ini beneran luar biasa..."

Sambil berendam di air hangat, aku bergumam menikmati momen layaknya seorang raja.

Kamar mandi yang bersih, serta bak mandi luas yang memungkinkan kakiku diluruskan dengan bebas. Rasa lelah sepanjang hari ini seolah meluruh larut ke dalam air hangat...

Seakan-akan salah fokus yang kurasakan tadi hanyalah kebohongan belaka, aku menikmati momen mandi yang sangat nyaman ini dengan puas.

"Terima kasih ya, air hangatnya enak banget."

Selesai mandi, tubuh dan hatiku terasa sangat segar. Sambil diselimuti aroma wangi sampo yang sama dengan milik Shi-chan, aku kembali ke ruang tamu.

Shi-chan tampaknya sedang menonton TV, tertawa sambil menikmati acara komedi.

" Ah, Tak-kun selamat datang kembali! Sudah segar?"

"Emm, berkat air hangatnya."

"Syukurlah kalau begitu!"

Kepada Shi-chan yang tersenyum puas, aku duduk di sampingnya. Di TV, pelawak terkenal sedang memperagakan manzai (komedi berpasangan) dan disambut gelak tawa penonton.

"Anata, selamat datang kembali."

"Eh, anata?"

"Ehehe, cuma ingin coba mengucapkan kalimat itu sekali-kali. Tidak boleh, ya?"

" Aha. Kalau begitu... tidak apa-apa kok, Honey?"

"Bentar, Honey itu apaan!? Ahahaha!"

Aku berniat mengimbangi candaannya, tapi sepertinya gayaku agak melenceng.

Candaanku rupanya pas banget menembus titik humor Shi-chan hingga dia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Memang aku sendiri merasa rada janggal, tapi ditertawakan sampai seperti ini membuat diriku merasa konyol dan ikut-ikutan tertawa.

" Ah, kalau begitu daripada Honey, bagaimana kalau Istriku/Nyai?"

" Ahaha, itu juga aneh tahu!"

"Hmm, kalau begitu Baby?"

" Aduh sudah dong! Perutku sampai sakit nih!"

Melihat Shi-chan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, aku jadi makin menjadi-jadi. Berpadu dengan gelak tawa penonton yang terdengar dari layar TV, aku merasa seolah-olah diriku sendiri sudah menjadi seorang pelawak.

"Haah~ puasnya tertawa~! Kalau begitu aku juga mau panggil Darling mulai hari ini! Boleh kan, Darling?"

"Tentu saja, Honey."

Tanpa memedulikan gayaku yang tak biasa ini, aku membalasnya secara berlebihan meniru gaya drama Barat yang klise, dan Shi-chan pun sekali lagi tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

Setelah acara komedi usai, tayangan berikutnya kebetulan adalah acara yang dibintangi oleh seluruh anggota Angel Girls.

Hanya dengan menonton TV secara kasual seperti ini saja sosok mereka langsung terlihat, benar-benar membuktikan kelas mereka sebagai idola nasional.

Membayangkan bahwa Shi-chan yang ada di sampingku ini baru sekitar satu tahun lalu masih tampil di TV bersama mereka, rasanya seolah-olah cuma dia seorang yang mendadak muncul keluar dari layar TV.

Jika dia tidak berhenti jadi idola, sampai sekarang pun Shi-chan pasti masih menari bersama mereka di seberang layar TV. Dan pada akhirnya, mungkin dia bakal jatuh cinta pada seseorang yang berada di seberang layar sana...

"...Shi-chan, apa kamu pernah menyesal berhenti jadi idola?"

"Hmm, bagaimana ya. Masa-masa jadi idola dulu sangat menyenangkan, dan aku beneran sayang banget sama semua anggota. Aku juga bisa mendapat banyak pengalaman berharga, jadi kalau kubilang tidak punya keinginan untuk kembali sama sekali, itu sih bohong namanya."

Mendengar pertanyaan mendadak dariku, Shi-chan menyampaikan perasaannya dengan jujur dan tegas.

──Tapi begitu ya, keinginan untuk kembali ternyata tidak nol persen...

Jika begitu, kemungkinan dia kembali ke dunia idola di masa depan juga bukan tidak mungkin.

Apa pun hasilnya nanti, aku ingin menghormati pilihan Shi-chan, dan jika dia memilih kembali, aku ingin mendukungnya dengan sekuat tenaga. Tidak ada kebohongan dalam perasaan itu, namun momen-momen yang kami lewati bersama saat ini terasa begitu berharga hingga keinginan untuk tak ingin berpisah dengannya kian menguat dari hari ke hari.

"...Tapi ya, kebahagiaan yang kurasakan saat ini jauh melampaui itu semua, jadi aku tetap ingin menghabiskan hariku sebagai gadis biasa."

"Bukan sebagai idola?"

"Emm. Soalnya aku kan punya Tak-kun yang selalu ada di sampingku seperti ini. Kalau aku kembali jadi idola, aku takkan bisa berada di samping Tak-kun lagi, kan? Hal seperti itu jelas-jelas takkan sanggup kutanggung!"

Bersamaan dengan kata-kata itu, Shi-chan meluapkan emosinya dan memelukku erat-erat. Seakan menegaskan bahwa dia takkan pernah melepaskan hubungan ini──.

"...Makanya, teruslah berada di sampingku selamanya, ya?"

"Iya, aku akan terus ada di sampingmu. Aku sendiri juga sudah tidak bisa membayangkan hidup tanpa ada Shi-chan lagi."

Karena Shi-chan menunjukkannya dengan tulus lewat perbuatannya, aku pun membalasnya dengan perasaan yang sama jujurnya. Sama seperti apa yang dipikirkan oleh Shi-chan, diriku sendiri sudah tak sanggup lagi membayangkan hidup tanpa hadirnya Shi-chan──.

Oleh karena itu, sambil memancarkan perasaan tak ingin melepaskannya selamanya, aku pun membalas memeluknya erat-erat.

"...Kalau begitu, kita sama."

"...Iya, benar."

Sambil menatap jujur satu sama lain, kami bertukar ciuman yang kesekian kalinya hari ini seakan untuk saling memastikan perasaan satu sama lain.

Sembari meresapi kebahagiaan karena sosok yang paling dicintai berada tepat di sampingku saat ini──.

Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul dua belas malam.

Karena bergerak seharian, rasa kantuk yang berat mulai menyerangku. Hari ini aku sudah mendapat izin dari orang tua untuk menginap di rumah Shi-chan dari jauh-jauh hari.

Ibu yang sekarang sudah sepenuhnya menjadi fans Angel Girls sempat memberikan semangat misterius: "Berjuanglah, ya!", dan saat kutanya balik berjuang untuk apa, beliau cuma menyahut dengan acungan jempol secara bisu.

Waktu itu aku sempat menolaknya untuk menutupi rasa malu sambil bilang ini bukan hal semacam itu, tetapi begitu berada di rumah Shi-chan seperti ini, diriku sendiri ternyata sangat terdistraksi dan memikirkannya...

Akan tetapi kami kan masih anak SMA, ada batasan dan kehormatan yang harus tetap dijaga.

"Tak-kun, mau tidur sekarang?"

"Emm, sepertinya aku sudah agak mengantuk."

Jawaban dariku menjadi isyarat, Shi-chan mematikan TV lalu bangkit berdiri sambil mengulurkan tangannya.

"Kalau begitu, ayo."

Mengikuti tindakannya, aku menggenggam tangan Shi-chan dan bangkit berdiri, lalu kami berjalan menuju kamar tidur bersama-sama.

Saat pintu kamar tidur dibuka, di sana sudah tergelar kasur lantai (futon).

Pasti saat aku mandi tadi dia sudah menyiapkannya lagi untukku.

──Tapi kan waktu itu kami tidur barengan di tempat tidur itu, ya.

Mengingat hari itu, aku tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkannya.

Shi-chan yang masuk ke dalam selimut tempat tidur lebih dulu memalingkan wajahnya menghadap ke arahku. Lalu dia mengulurkan tangannya perlahan ke arahku, dan menyadari apa arti dari uluran tangan itu, aku pun menggenggam tangannya.

"...Tidur barengan, yuk?"

"...Boleh?"

"Emm, aku mau tidur barengan."

Padahal dia sudah susah payah menyiapkan futon, tapi dia melontarkan permintaan manja seperti itu.

Mana mungkin aku bisa menolak kata-kata dan binar matanya itu, hingga aku berbaring bersama dengannya di tempat tidur seperti waktu itu. Sambil mengingatkan diriku sendiri bahwa selama tidak melangkahi garis batas semuanya bakal aman-aman saja, tapi sebenarnya garis batas itu apa sih...?

Berbeda dari dulu, sekarang adalah bulan Desember. Karena malam hari rasanya sangat dingin, kehangatan Shi-chan yang merambat dari dalam selimut terasa makin kian mengusik pikiranku.

"Ehehe, Takkuu-n~♪"

" Ada apa?"

"Cuma ingin panggil saja~♪"

Ooh, cuma ingin panggil saja, toh...

Tampaknya yang pusing salah fokus cuma aku seorang, sementara Shi-chan murni menikmati momen ini. Dia mengalungkan tangannya ke tubuhku, memelukku dengan sangat erat.

"Tak-kun, Takkuu-n~♪"

Saat ini diriku persis seperti guling khusus milik Shi-chan. Sambil ditarik-tarik makin dekat, namaku dipanggil berulang kali.

"Tak-kun khusus milikku seorang~♪"

Bagaikan sedang menyanyikan sebuah lagu, namaku dipanggil secara ritmis terus-menerus, hingga rasanya batas kemampuanku makin mendekat dari berbagai arti.

Wangi harum dan manis dari rambutnya yang terurai, desah napas halus yang menyapu pipiku. Dan sensasi lembut yang merambat melalui selembar pakaian tipis...

Berlawanan dengan Shi-chan yang menikmati momen ini dengan polos, aku malah dipaksa bertarung melawan musuh utama yang mendadak muncul di detik-detik terakhir hari ini.

Akan tetapi, antusiasme Shi-chan yang tadi sibuk bermanja-manja perlahan- lahan mulai melambat. Dan setelah itu, persis seperti kehabisan baterai, tubuhnya mendadak berhenti total.

──Lho? Berhenti?

Sambil berpikiran begitu, saat kualihkan wajahku perlahan ke arah Shi-chan── "Srek-srek"

Tak disangka, Shi-chan ternyata ketiduran begitu saja dalam posisi menempel padaku!

Padahal baru saja tadi dia sibuk bermanja-manja, tetapi dalam sekejap sudah tertidur pulas. Perubahan tombol ON dan OFF yang persis seperti roller coaster itu membuatku tak mampu menahan tawa.

Tapi kalau dipikir-pikir, sejak pagi hari ini dia memang terus-menerus dalam kondisi high-tension. Di sekolah hari ini dia sangat ceria, dan di rumah dia memasakkanku hidangan rumahan yang sangat mewah. Dia juga memamerkan kostum cosplay spesial, serta menikmati kencan Malam Natal bersama.

Berkat Shi-chan yang seperti itulah, hari ini aku bisa melewati hari yang teramat sangat padat dan penuh kebahagiaan.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mewujudkan rasa terima kasihku atas hari ini kepada Shi-chan. Aku mengulurkan tangan pelan-pelan ke arah tas yang kutaruh di dekatku, mengambil suatu barang dari dalam tas lalu meletakkannya di dekat bantal Shi-chan.

Terakhir, agar tidak membangunkan Shi-chan, aku mengecup pipinya dengan lembut.

"...Selamat tidur, Shi-chan."

Sambil membayangkan reaksi Shi-chan saat terbangun esok hari, aku pun menyusul tertidur dengannya.

"Tak-kun! Ini!"

Tubuhku digoyang-goyang keras hingga aku terbangun.

"...Emm? Selamat pagi, Shi-chan."

"Emm, selamat pagi! Nee, lihat ini!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan memperlihatkan kantong kain berbentuk kaus kaki dan sebuah kotak berbungkus kado.

Shi-chan sendiri sepertinya baru saja bangun tidur, rambut bangunnya terlihat berdiri melawan gravitasi secara sempurna.

"...Aah, mungkin Sinterklas yang meninggalkannya di sana? Coba kamu buka."

"S-Sinterklas... aku kan sudah bukan anak-anak lagi... tapi baiklah, kubuka ya?"

Melihatku yang berpura-pura tidak tahu, Shi-chan memasang raut wajah seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tetap membuka kotaknya sesuai perkataanku.

"Ini... syal?"

"Emm, kado Natal dari Sinterklas."

"Begitu ya! Terima kasih, Santa-kkun!"

Yang ada di dalam kotak adalah sebuah syal berwarna cokelat. Tentu saja ini adalah kado Natal dariku.

Mumpung ada kesempatan, aku berniat meletakkannya di dekat bantal selagi dia tidur, dan syukurlah semalam Shi-chan tertidur lebih dulu.

──Tapi tunggu, "Santa-kkun" itu apaan?

Mungkin gabungan dari "Santa" dan "Taku-kun" menjadi "Santa-kkun".

Kombinasi dadakan yang tak terduga itu membuatku tertawa meskipun baru bangun tidur.

"Syalnya kamu suka?"

"Emm, aku suka banget!"

Meluapkan emosinya, Shi-chan memelukku erat-erat. Berkat Shi-chan yang bahkan rambut bangunnya pun terlihat menggemaskan, hatiku dipenuhi oleh kebahagiaan melimpah sejak pagi hari.

"Sip, kalau begitu aku mau siapkan sarapan sekarang!"

Mendorong antusiasme kegembiraannya, Shi-chan bangkit berdiri. Saat aku menawarkan diri untuk membantu setidaknya untuk hari ini, Shi-chan mengangguk gembira.

Kemudian selagi kami bersama-sama menyiapkan sarapan, Shi-chan terus melingkarkan syal kado dariku di lehernya dengan raut gembira. Saat kutanya apakah tidak mengganggu, dia menyahut, "Tidak apa-apa, aku senang kok!"

dan tak berniat melepasnya sama sekali.

Dengan begitu, sarapan pun selesai disiapkan dalam sekejap karena dikerjakan berdua. Setelah menikmati sarapan dengan mesra, selanjutnya tanpa melakukan hal khusus, kami menikmati waktu bersama di ruang tamu.

Selama waktu itu pun Shi-chan terus mengenakan syal kado dariku, dan melihat betapa dia menyukainya, aku merasa lega telah memberikannya dan dapat melewati hari Natal dengan penuh kebahagiaan di dalam dada.

Meskipun hari Natal telah usai, liburan musim dingin masih belum berakhir.

Dibandingkan liburan musim panas durasinya memang lebih singkat, namun liburan musim dingin dipenuhi oleh berbagai acara. Antara kerja paruh waktu, belajar, serta menghabiskan waktu bersama Shi-chan, hampir tidak ada hari senggang sehingga aku bisa melewati liburan musim dingin yang sangat padat dan berkesan.

Omong-omong untuk hari ini, aku menghabiskan waktu dengan bersantai secara langka sambil membaca komik di kamarku. Meskipun tidak melakukan hal muluk-muluk, bisa menikmati hari santai seperti ini juga merupakan salah satu kenikmatan utama dari liburan panjang.

"Jilid berikutnya, jilid berikutnya~♪"

Yang terdengar dari sampingku adalah gumaman lagu yang ceria.

Pemilik gumaman lagu itu tidak lain adalah Shi-chan, yang sedang menatap rak buku untuk mengambil jilid berikutnya dari komik yang dibacanya. Hari ini Shi-chan datang bermain ke rumahku, dan kami sedang menghabiskan waktu sambil membaca komik bersama seperti ini.

Sejak kunjungan ke kafe internet waktu itu, tampaknya Shi-chan jadi ketagihan membaca komik romcom, dan saat ini pun dia sedang membaca komik romcom yang ada di kamarku dengan ceria.

Omong-omong yang dibacanya saat ini adalah karya romcom sekolah, tipe karya harem di mana beberapa karakter heroine berusaha menarik perhatian sang tokoh utama. Pada dasarnya aku berpikir karya seperti ini ditujukan untuk pria, tetapi tampaknya Shi-chan juga bisa menikmatinya.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengusik pikiranku dari karya tersebut.

Yaitu kenyataan bahwa salah satu heroine yang muncul dalam cerita adalah seorang idola. Ini hanyalah sudut pandang pribadiku, namun karakter idola di antara jajaran heroine biasanya merupakan heroine yang kalah.

Padahal idola adalah sosok yang diidamkan semua orang. Namun di dunia romcom, entah kenapa mereka jarang sekali bisa menjadi heroine yang menang.

Karya yang dibaca Shi-chan saat ini tak terkecuali dari pola itu, dan pada jilid yang baru saja diambilnya ini sang idola bakal ditolak oleh sang tokoh utama.

Bagaimana perasaan Shi-chan yang pernah menjadi seorang idola saat membacanya? Sambil merasa agak cemas apakah dia bakal tetap bisa menikmati karyanya, di saat yang sama aku juga penasaran tanggapan seperti apa yang bakal dilontarkannya.

Duduk berdampingan dengan Shi-chan yang melanjutkan bacaannya, aku juga kembali masuk ke dunia komik. Meskipun tak ada percakapan di antara kami, hanya dengan duduk berdampingan saja sudah membuat merasa tenang.

"...Muuu, karakter tokoh utama ini bukannya terlalu tidak peka, ya?"

Beberapa saat kemudian, terdengar keluhan tidak puas dari Shi-chan.

Halaman yang sempat kulihat sekilas menampilkan adegan di mana terjadi keributan antara tokoh utama dan si gadis idola. Memang adegan itu terkenal sebagai adegan yang paling memicu kekesalan pembaca terhadap sang tokoh utama di dalam karya tersebut.

"Yah begitulah, tokoh utama romcom tipe seperti ini kan biasanya tidak peka atau plin-plan."

Yah hal seperti itu memang sudah jadi pola wajib di karya-karya romcom, sih.

Meskipun menjelaskan hal itu, aku teringat pada diriku sendiri di semester pertama lalu dan dadaku terasa sedikit tersengat nyeri. Sebab diriku di masa- masa itu rasanya tak jauh berbeda dari tokoh utama karya tersebut...

Selagi melihatnya secara objektif sebagai karya fiksi, aku memang pernah merasa kesal pada ketidakpekaan sang tokoh utama. Namun saat hal itu menimpa diri sendiri, kita memang tidak gampang memiliki rasa percaya diri...

Karena itulah untuk saat ini, diriku sendiri bisa sedikit memahami perasaan sang tokoh utama tersebut.

"Tapi ya, gadis ini juga salah. Kenapa sih harus jadi begini?"

Akan tetapi tampaknya Shi-chan tidak cuma kesal pada ketidakpekaan sang tokoh utama, melainkan juga merasa geregetan pada si gadis idola.

Karakter idola tersebut memiliki sifat tsundere. Kepada sang tokoh utama, sehari-hari dia membanggakan status idolanya, selalu bersikap tinggi hati dan tidak bisa jujur pada perasaannya sendiri.

Yah kalau dalam standar romcom, itu sih hal yang klasik. Justru karena tidak jujur sehari-hari, saat momen dere keimutannya jadi makin menonjol.

Tapi bagi Shi-chan, sifat tsundere itu sendiri sepertinya tak bisa diterimanya.

"Tidak ada hubungannya dengan status idola. Kalau sudah suka dari diri sendiri, harusnya berjuang lebih keras lagi, dong!"

Sambil menjelaskan alasan kejengkelannya seolah membicarakan dirinya sendiri, Shi-chan mengutarakannya.

Mendengar ucapan dari Shi-chan yang benar-benar pernah meniti karier hingga menjadi idola nasional, kata-katanya memiliki daya persuasi yang luar biasa.

Shi-chan pasti mengutarakan hal itu setelah memahami seluruh keraguan dan konflik batin yang dialami oleh karakter idola tersebut.

Bukan sebagai seorang idola, melainkan pentingnya kehadiran sosok yang mau menerima dirinya apa adanya──.

Itulah jawaban akhir yang dicapai oleh sang heroine di dalam karya ini. Jika saja dia bisa menyadari betapa pentingnya hal itu lebih awal, mungkin hasil akhirnya di dalam cerita bisa saja berbeda.

Shi-chan pasti merasakan hal yang sama. Karena itulah aku bisa memahami mengapa kata-kata tadi dilontarkannya.

Sebab sejak awal, Shi-chan tidak pernah menghadapi diriku sebagai sosok idola, melainkan terus menghadapiku sebagai seorang gadis bernama Saegusa Shion apa adanya──.

"Fuu, agak lelah juga ya."

"Soalnya kamu kan membaca terus."

"Buku yang dibaca Tak-kun itu seru juga?"

"Yang ini? Emm, seru kok."

Shi-chan juga menunjukkan minat pada buku yang kubaca.

Omong-omong yang kubaca saat ini adalah komik basket yang sangat terkenal.

Aku tidak tahu apakah cewek bisa menikmatinya juga, tapi karya ini sangat ingin kurekomendasikan.

" Aku juga agak lelah, mau main gim saja deh."

"Gim?"

"Iya, belakangan ini aku lagi ketagihan."

Sambil berkata begitu, aku menghentikan tanganku membaca komik lalu memegang ponsel. Dan gim yang kujalankan adalah sebuah gim ponsel populer.

"Begini nih, kita tarik karakternya pakai jari, terus pas dilepas karakternya meluncur."

"Oho, oho."

"Terus kita tabrakkan ke musuh buat mengalahkannya, begitulah."

"Ooh~!"

Sambil memperagakan permainannya langsung aku menjelaskan secara singkat, dan tak disangka Shi-chan menunjukkan minat yang cukup tinggi.

"Kalau begitu, Shi-chan mau coba main sebentar?"

"Boleh!?"

"Emm, silakan."

Shi-chan sangat antusias melebihi dugaanku. Sambil berpikir bahwa dia beneran ingin memainkannya, aku menyerahkan ponselku padanya.

"Nah benar, begitu cara menjentikkannya buat menyerang."

"Begini?"

"Iya! Kamu jago banget!"

Shi-chan memperlihatkan cara bermain yang sangat luar biasa dan tidak kelihatan seperti pemula sama sekali.

Bukan cuma belajar, olahraga, dan penampilan luar biasa saja, bahkan bakat bermain gimnya pun ada di tingkat teratas... sungguh gadis yang luar biasa!

"Ini kalau tidak salah, apa bisa dimainkan bareng-bareng juga?"

"Emm, ada mode co-op juga kok."

"Sip! Kalau begitu aku mau langsung download sekarang!"

Begitu tahu bahwa kami bisa bermain bersama, Shi-chan segera mengeluarkan ponselnya sendiri dan mulai mengunduh gim tersebut.

Sisi dirinya yang bersemangat seperti anak kecil itu sangat menggemaskan, hingga melihat sosoknya saja sudah membuat senyumku merekah dengan sendirinya.

Dengan begitu setelah sesi membaca selesai, kami menikmati permainan gim ponsel bersama secara kooperatif, hingga pada akhirnya kami berhasil menyelesaikan stage tersulit yang selama ini tak sanggup kutaklukkan.

──Memang benar, Shi-chan adalah gadis yang luar biasa!

"Kalau begitu, sepertinya aku harus pulang sekarang."

"Iya benar, aku antar ya."

Tanpa terasa, matahari di luar jendela sudah terbenam dalam sekejap.

Saat turun tangga untuk mengantar Shi-chan, kami kebetulan berpapasan dengan Ibu di koridor.

"Lho? Sudah mau pulang?"

"Iya, terima kasih sudah mengizinkan saya berkunjung."

"Mumpung sudah di sini, bagaimana kalau makan malam sekalian di sini?

Maksudnya, Ibu sudah terlanjur memasak dengan porsi untukmu juga, sih."

"Eh? S-seperti itu, ya...? Kalau begitu, dengan senang hati saya menerima kebaikannya."

Jika begitu, Shi-chan pun mengangguk.

Dengan begitu, hari ini Shi-chan diputuskan untuk menyantap makan malam bersama di rumah kami.

Raut wajah yang ditampilkannya adalah idol smile seperti biasanya.

Namun di balik senyuman itu, warna rasa gugup kelihatan mengintip secara samar. Menginap dan makan bersama orang tua pacar di rumah pacar sendiri...

Jika posisinya dibalik, aku pun pasti bakalan tegang... atau lebih tepatnya panik luar biasa.

Hanya memikirkannya sebentar saja sudah membuatku dipenuhi rasa cemas...

Meskipun begitu, Shi-chan tidak menolak kesempatan ini dan mengangguk setuju. Justru karena itulah aku bertekad untuk memperhatikan keadaan agar Shi-chan tidak merasa cemas, dan hari ini kami menyantap makan malam bersama dengan kehadiran Shi-chan.

"Waaah! Ini enak banget!"

Meja makan yang biasa, menu makan malam yang biasa. Tetapi di sampingku, ada sosok Shi-chan.

Awalnya Shi-chan kelihatan tegang, tetapi begitu menyantap satu gigitan lauk, matanya langsung berbinar-binar cerah. Bahwa kata-katanya itu bukan sekadar basa-basi melainkan ucapan jujur dari dalam hati, dapat diketahui dengan sekali lihat dari raut wajahnya.

Dengan mata berbinar-binar, dia menikmati karaage buatan Ibu dengan lahap.

Melihat Shi-chan yang seperti itu, Ayah dan Ibu saling bertatap muka dan tersenum gembira, hingga dalam sekejap Shi-chan sudah membaur akrab dengan keluargaku.

Omong-omong sejak tahu kalau pacarku adalah mantan anggota Angel Girls, Ibu telah sepenuhnya berubah menjadi fans Angel Girls.

Acara utama milik mereka yang berjudul 『Angel Sugite Sumimasen!』 (Maaf Kalau Terlalu Malaikat!) selalu direkam oleh Ibu setiap minggu, dan belum lama ini beliau bahkan membeli BD konser live mereka.

Oleh karena itu bagi Ibu sendiri, bisa duduk mengelilingi meja makan yang sama dengan mantan anggota seperti Shi-chan adalah momen yang bagaikan mimpi. Tanpa perlu ditanyakan, hal itu terpatri jelas di wajah beliau.

"Ibu senang sekali, makanlah yang banyak ya!"

"Iya! Terima kasih banyak!"

Sambil merasa gembira, Ibu dan Shi-chan saling melempar senyum. Karena keduanya memang sama-sama ingin akrab, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa mencair.

"Saya senang sekali, sudah lama rasanya tidak makan bersama mengelilingi meja makan seperti ini."

" Aduh, begitu ya... Tidak apa-apa kok, Shion-chan kan sudah seperti anak sendiri, jadi kapan saja datanglah untuk makan ke sini ya."

"Eh, boleh!?"

"Tentu saja boleh, kan Ayah?"

"Iya, datanglah kapan saja."

Menanggapi ajakan Ibu, Ayah juga mengangguk sambil tersenyum.

Mendengar kata-kata Ayah dan Ibu, Shi-chan tersenyum sangat bahagia dari dalam hatinya.

──Tapi begitu ya, di rumahnya dia jarang makan bersama keluarga secara lengkap...

Aku masih belum tahu apa-apa tentang keluarga Shi-chan. Aku penasaran, tetapi ragu melontarkan topik seperti ini dari diriku sendiri, jadi sampai sekarang aku tidak pernah menanyakannya. Kapan-kapan saat Shi-chan sendiri yang ingin menceritakannya, aku berharap bisa mendengarnya dari mulutnya sendiri.

Dengan begitu, makan malam yang dihadiri oleh Shi-chan berlangsung ramai dan menyenangkan sampai akhir.

Tanpa terasa, bulan Desember kini menyisakan tiga hari terakhir termasuk hari ini. Artinya lusa adalah Malam Tahun Baru.

Mengingat kembali, tahun ini sungguh merupakan tahun yang dipenuhi oleh begitu banyak hal.

Sebagai penutup tahun seperti itu, tentu saja aku ingin menghabiskan waktu bersama Shi-chan, jadi aku mencoba mengirimi pesan LIME padanya.

『Shi-chan, apa kamu ada acara di Malam Tahun Baru nanti?』 Dari jauh-jauh hari kami memang sempat membicarakan soal Malam Tahun Baru. Namun kami cuma saling bertukar kalimat ingin menghabiskannya

bersama, tanpa memutuskan rencana spesifiknya, jadi aku berpikir ada baiknya kami mendiskusikannya dengan jelas sekarang.

Lalu hari ini pun, balasan dari Shi-chan langsung tiba dalam sekejap.

Akan tetapi, balasan yang datang sungguh di luar dugaan...

『Maaf ya Tak-kun, hari itu aku sudah ada acara lain.』 Balasannya di luar dugaan menyatakan bahwa dia sudah punya acara lain.

──Acara apa, ya?

Karena selama ini dia hampir tak pernah menolak ajakanku, aku jadi makin penasaran acara apa yang dimaksud.

Jangan-jangan bersama orang lain selain diriku... pemikiran seperti itu sempat terlintas sejenak di kepalaku, namun segera kutepis jauh-jauh. Aku percaya pada Shi-chan, dan Shi-chan juga mempercayaiku. Justru karena itulah aku tidak boleh berpikiran aneh-aneh dan melukai perasaannya.

『Begitu ya, sayang sekali tapi aku paham kok. Kalau begitu, kita baru bisa ketemu lagi pas Tahun Baru, ya?』

Sambil membalas pesan LIME tersebut, agar tidak membuatnya merasa canggung aku melampirkan stiker Shiorin dengan pose mengacungkan jempol.

Saat itu juga alih-alih pesan LIME, ponselku berdering menerima panggilan telepon. Tentu saja itu adalah panggilan dari Shi-chan.

"H-halo?"

"Tak-kun? E-etto, maafkan aku!"

Begitu menyambungkan panggilan, kalimat pertama yang meluncur dari Shi- chan adalah permohonan maaf. Mendadak dimintai maaf seperti itu membuatku bingung tak memahami situasinya.

"E-etto, tenanglah dulu. Kamu tidak apa-apa? Ada masalah apa?"

"Eh? Ah! Maaf ya! Itu, soal Malam Tahun Baru!"

Aha, soal Malam Tahun Baru tadi, toh.

Kalau dipikir-pikir memang tidak ada hal lain, tapi dimintai maaf secara mendadak membuatku sempat cemas yang aneh-aneh.

"Yah, kalau sudah ada acara lain mau bagaimana lagi. Dari pihakku kamu tak perlu merasa bersalah, kok."

"Emm, terima kasih ya... B-bicara soal itu! Tak-kun sendiri bakal menghabiskan Malam Tahun Baru bagaimana?"

" Aku? Hmm, bagaimana ya. Biasanya sih aku lewatkan bersama keluarga di rumah... ah."

Sampai di sana, aku teringat sesuatu. Meskipun tidak setiap tahun, di Malam Tahun Baru terkadang Aya-nee datang berkunjung ke rumah kami secara mendadak.

Jadi tidak menutup kemungkinan kalau tahun ini Aya-nee juga datang.

Mumpung dia pada dasarnya sudah seperti keluarga sendiri, tetapi seorang sepupu perempuan tetaplah seorang wanita.

Teringat akan hal itu, kata-kata tadi terlepas dari mulutku begitu saja.

"Eh, 'ah' apa maksudnya?"

"Tidak, itu... aku baru ingat kalau terkadang Aya-nee datang berkunjung ke rumah..."

"B-begitu ya... Berarti ada kemungkinan Tak-kun bakal menghabiskan waktu bersama Ayane-san lagi tahun ini, ya..."

"Yah, cuma menonton acara TV spesial akhir tahun bareng keluarga, sih."

Kepada Shi-chan yang kelihatan sangat cemas, aku terburu-buru memberikan penjelasan bahwa tidak ada niat aneh-aneh dari pihakku.

Namun aku menyadari bahwa penjelasan itu justru terkesan seperti cari-cari alasan...

"...Tidak mau."

"Y-yah, lagipula kedatangannya kan selalu mendadak, belum tentu juga dia datang tahun ini."

"...Tak-kun kan pacarku. Kalau begini, aku jadi tak bisa pulangnya dengan tenang, dong."

...Hmm? Pulang?

Di situ aku baru ingat kalau aku belum tahu acara apa yang dimaksud oleh Shi- chan.

"M-maaf, pulang ke mana maksudmu?"

" Ah! M-maaf ya, aku belum memberitahumu! Tadi malam mendadak ada kabar, dan aku diputuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku!"

Aah, begitu ya...

Mendengar alasan yang teramat sangat wajar dan sehat itu, aku menghela napas lega.

"Jadi begitu, toh."

"Emm, katanya tahun ini Papa dan Mama bisa santai di rumah!"

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu!"

Jika keadaannya seperti itu, tentu saja aku ingin dia menghabiskan waktu bersama keluarganya tanpa gangguan. Meskipun tahun ini belum bisa, kami kan bisa melewati malam pergantian tahun bersama di tahun depan.

"Kalau begitu, aku coba tanya ke Takayuki apa dia bisa lewatkan waktu bareng tidak, ya."

Setelah tahu alasannya, sisanya tinggal bagaimana aku menghabiskan waktu.

Agar Shi-chan bisa pulang ke rumah orang tuanya dengan tenang, aku harus membuat rencana untuk menghabiskan waktu bersama teman cowokku tahun ini. Jika dia tahu aku bersama cowok, Shi-chan takkan cemas yang aneh-aneh lagi.

"Kalau begitu pasti Saku-chan juga ikut, kan. Wah enaknya, aku juga mau gabung..."

" Ah, benar juga... Yah hal itu kan bisa dilakukan tahun depan lagi. Tahun ini nikmatilah waktu bersama keluargamu dulu."

"Uuuh... Nee Tak-kun, bisakah kamu menahan dulu untuk tidak mengontak Yamamoto-kun sebentar?"

"Eh? Emm, boleh saja sih?"

"Terima kasih! Kalau begitu aku bakal hubungi lagi hari ini, ya!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan terburu-buru menutup telepon.

Ada apa ya, apakah ada alasan kenapa aku tidak boleh mengontaknya sekarang?

Meskipun menyisakan pertanyaan, untuk saat ini aku menuruti perkataannya dan menahan rencana mengontak Takayuki sambil menunggu kabar dari Shi- chan.

Kira-kira satu jam berlalu setelah itu, sebuah pesan LIME dikirimkan oleh Shi- chan.

『Aku sudah mengontak Papa dan Mama. Kalau Tak-kun tidak keberatan, bagaimana kalau Malam Tahun Baru nanti kamu ikut ke rumahku saja?』 Membaca pesan tersebut, diriku seketika membeku terperangah──.

"...Jangan-jangan, ini artinya aku diajak ke rumah orang tua Shi-chan, kan...?"

Rumah yang dimaksud tentu saja bukan tempat tinggalnya yang sekarang, melainkan rumah orang tua Shi-chan.

Situasi keluarga Shi-chan yang selama ini selalu membikin penasaran. Tak pernah kubayangkan bahwa di momen seperti ini aku bakal dihadapkan pada perkembangan di mana aku bertatap muka langsung dengan kedua orang tuanya secara mendadak.

Sejak berpacaran dengan Shi-chan, aku selalu berniat untuk terus berusaha menjadi pria yang pantas mendampinginya.

Akan tetapi walau begitu, aku sangat sadar kalau akademis dan berbagai hal lainnya dari diriku masih sangat kurang. Justru karena itulah aku harus terus berjuang, dan menetapkan target untuk menjadi pria yang layak bagi Shi-chan sebelum lulus SMA nanti.

Oleh karena itu, apakah tidak apa-apa jika aku bertemu orang tuanya dalam kondisiku yang sekarang...?

Aku tak mampu menyembunyikan guncangan batin atas masa depan yang kupikir masih sangat jauh, tetapi mendadak datang menghampiri.

Meskipun begitu, Shi-chan sengaja mengonfirmasinya lebih dulu kepada orang tuanya sebelum mengajakku. Dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu denganku ketimbang melewatkannya khusus bersama keluarganya saja.

Jika sudah sampai di sana, sisanya tinggal masalah tekad dari diriku sendiri.

Saat pemikiranku sudah mencapai titik itu, jawabanku hanya mengerucut pada satu hal──.

『Kalau memang tidak apa-apa aku ikut, aku mau datang.』 Aku ingin bertemu langsung dengan kedua orang tuanya dengan pantas, dan mendapat pengakuan atas hubungan kami berdua.

Meskipun diriku masih penuh dengan kekurangan, aku memantapkan tekadku.

Saat aku langsung mengutarakannya kepada orang tuaku sendiri bahwa di Malam Tahun Baru nanti aku ingin pergi ke rumah orang tua Shi-chan, mereka memberikan dorongan semangat padaku: "Berjuangkanlah!".

『Terima kasih, kalau begitu aku bakal menantikannya di Malam Tahun Baru, ya!』

Sebuah balasan konfirmasi kepastian tiba dari Shi-chan.

Dengan begitu, keputusanku untuk pergi ke rumah orang tua Shi-chan pada Malam Tahun Baru pun resmi ditetapkan.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar