Volume 4 Chapter 3 – Menginap
Di luar jendela, matahari sudah sepenuhnya tenggelam.
Kalau dipikir-pikir aku belum makan apa pun, jadi saat baru menyadari bahwa aku kelaparan, perutku tanpa sadar berbunyi nyaring—kruuk.
" Ah, maaf ya. Sudah larut malam begini. Aku harus segera menyiapkan makan malam..."
"Tidak boleh, Shi-chan harus tetap berbaring. Biar aku urus sendiri."
Aku mencegah Shi-chan yang hendak bangun dari tempat tidur dengan lembut.
Sebelum memikirkan diriku sendiri, keadaan Shi-chan adalah yang paling utama. Sebelum makan malamku sendiri, ada makan malam Shi-chan yang harus dipikirkan.
Makan siang tadi aku sudah membuatkan bubur telur, tapi kalau makan malamnya sama lagi rasanya agak hambar. Saat aku sedang memikirkan hal itu, Shi-chan membuka suara seakan bisa membaca pikiranku.
"Bubur yang kumakan tadi siang enak banget, jadi aku mau makan itu lagi, deh."
"Eh? Makanan yang sama tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kok. Apa kamu mau menuruti kemanjaanku ini?"
"...Baiklah. Kalau Shi-chan memang mau begitu."
"Yash!"
Ini pasti bentuk perhatian dari Shi-chan agar tidak merepotkanku. Meskipun begitu, karena dia kelihatan sangat gembira, aku pun memilih untuk menerima perhatiannya dengan senang hati.
Karena dia mengizinkanku memakai bahan-bahan di kulkas sesuka hati, aku pun segera memulai persiapan makan malam. Setelah dengan cekatan membuat bubur telur sekali lagi, kutaruh obat dan gelas berisi air ke atas nampan, lalu kembali ke kamar tidur.
Shi-chan bilang tidak apa-apa, tapi kalau dibuat sama persis pasti terasa membosankan. Berpikir demikian, aku menambahkan bawang bombai, wortel, bayam, dan daging cincang ke bubur telur seperti tadi siang. Lalu kutaburi daun bawang di atasnya sebagai pemanis warna, meningkatkan nilai gizinya ke tingkat berikutnya.
Sayurannya kupotong kecil-kecil dan kumatangkan dengan pas agar mudah dicerna, dan karena kali ini aku bisa memasak dengan lebih tenang, aku juga cukup serius memperhatikan bumbunya.
Di hadapan bubur telur versi modifikasi yang jelas-jelas sudah naik kelas ini, mata Shi-chan berbinar-binar penuh rasa kagum.
"Luar biasa! Belum juga sehari tapi masakannya sudah berevolusi!"
" Ahaha, soalnya kali ini aku bisa memasak dengan lebih tenang daripada tadi siang."
"Terima kasih ya, Tak-kun!"
Dengan senyuman penuh di wajahnya, Shi-chan menyampaikan rasa terima kasihnya. Mendengar ucapan dan reaksinya yang menggemaskan itu membuatku senang, dan aku pun membalasnya dengan senyum malu-malu, "Sama-sama."
Dengan begitu, dia menikmati makan malamnya dengan lahap, lalu memintanya minum obat lagi sebelum kembali berbaring.
"Kalau begitu, aku juga mau makan dulu ya, kamu istirahatlah yang tenang."
"Emm, baiklah. Terima kasih untuk semuanya, ya."
Shi-chan menuruti perkataanku dengan patuh.
Setelah memastikan keadaannya, aku mematikan lampu kamar tidur lalu kembali ke dapur untuk menyantap makan malamku.
Omong-omong, makan malamku juga bubur telur yang sama.
Meskipun terkesan memuji diri sendiri, aku merasa masakan buatanku kali ini beneran enak. Sambil merasakan pencapaian karena berhasil menyiapkan makanan dengan baik, aku pun menikmati bubur telur itu seraya membatin setuju bahwa ini pasti berkat kekuatan cinta.
Setelah selesai makan dan mencuci piring, aku memutuskan untuk mengintip keadaan di kamar tidur sebentar.
Saat kubuka pintunya perlahan, suara napas halus Shi-chan yang tertidur lelap terdengar. Merasa lega karena dia bisa beristirahat dengan baik, aku menutup pintu pelan-pelan agar tidak membangkannya, lalu kembali ke ruang tamu.
Di ruang tamu berkonsep LDK yang luas itu, terdapat sebuah TV berukuran besar dan meja kaca. Di bawah sofa tiga dudukan (three-seater couch) warna putih, terhampar karpet bulu-bulu (fluffy) warna hitam. Setiap perabotannya bisa diketahui dengan sekali lihat kalau bukan barang murah, ruang tamu yang rapi persis seperti rumah model.
Sambil sekali lagi mengagumi betapa bagusnya rumah ini, aku duduk di sofa untuk menghabiskan waktu sejenak.
Saat kucoba menyalakan TV, kebetulan sedang menayangkan acara musik.
Apalagi bintang tamu hari ini tidak main-main, yaitu DDG.
Gaya YUI-chan dan anggota lainnya yang mengobrol santai dengan pelawak yang menjadi MC benar-benar memancarkan aura artis sejati. Namun membayangkan bahwa gadis seperti dirinya dulu pernah menginap di sini, tetap saja rasanya terasa sangat tidak nyata.
Setelah obrolan dengan para pelawak usai, akhirnya penampilan musik DDG dimulai. Suara vokal mereka yang begitu bertenaga dan penuh dengan daya tarik sukses membuatku terpesona meskipun hanya menyaksikannya lewat layar TV.
Berkat keasyikan menonton TV, tanpa terasa satu jam sudah berlalu, dan aku baru menyadari kalau aku sampai lupa waktu saat menonton.
Tapi kalau membangunkannya kasihan juga, jadi saat aku berpikir untuk bersantai di sini sebentar lagi, suara pintu ruang tamu yang terbuka terdengar.
"Maaf ya Tak-kun, aku ketiduran lumayan lama, ya."
Sambil mengucek matanya, Shi-chan yang baru bangun tidur berjalan ke ruang tamu. Keadaannya kelihatan sudah jauh membaik. Dia mengambil termometer sendiri dari lemari, lalu duduk di sampingku di atas sofa.
"Bagaimana keadaannmu?"
"Berkat bantuanmu, rasanya sudah jauh lebih ringan kok."
Sambil membalas begitu, Shi-chan melonggarkan ritsleting atasan baju santainya. Lalu dia menyisipkan termometer di bawah ketiaknya dan mulai mengukur suhu tubuhnya.
Sambil menyesali diri karena tadi sempat lupa mengukur suhu tubuhnya, aku merasa mengenaskan karena jantungku malah berdebar-debar hanya karena sempat sekilas melihat pakaian dalam warna putihnya...
Pip-pip-pip.
"Coba kulihat... 37,4 derajat, ya. Emm, pantas saja rasanya sudah jauh lebih enak."
Mengeluarkan termometer, Shi-chan mengangguk puas melihat angka suhu tubuhnya. Meskipun belum bisa dikatakan suhu normal, tapi mengetahui suhunya tidak setinggi tadi membuatku merasa lega.
"Mungkin karena kelelahan yang menumpuk, ya. ──Sip, kalau begini sepertinya mandi juga tidak masalah. Aku mandi duluan, ya."
Lalu, setelah memastikan suhu tubuhnya sendiri, Shi-chan bangkit berdiri.
Katanya kalau sedang demam tinggi sebaiknya menghindari mandi, tapi dengan suhu tubuhnya yang sekarang sepertinya tidak ada masalah.
"Ingat kamu masih demam, jadi hati-hati ya."
"Iyaa~! Maaf ya setelah aku, tapi Tak-kun juga harus mandi nanti!"
Shi-chan yang hendak menuju kamar mandi mendadak menghentikan langkahnya. Lalu, dia berbalik menghadap ke arahku.
"...Sepertinya, lebih baik Tak-kun duluan yang mandi..."
"Tidak boleh, Shi-chan saja yang mandi duluan."
"...Iyaaa~"
Mendengar perkataanku yang tidak berniat mandi duluan mendahului orang yang sedang sakit, Shi-chan membalas dengan raut wajah yang tampak agak kecewa.
Daripada bentuk perhatian, rasanya dia lebih kelihatan seperti sedang merencanakan sesuatu, tapi yah... untuk kali ini anggap saja aku tidak tahu...
Setelah melepas kepergian Shi-chan, aku menghela napas lega. Tampaknya demamnya sudah turun, dan kalau begini sepertinya bakal baik-baik saja.
Lalu sisanya tinggal aku mandi setelah Shi-chan... tepat saat pemikiran itu terlintas, aku akhirnya menyadari situasi di mana aku berada saat ini.
Yaitu kenyataan bahwa setelah ini, aku akan menggunakan kamar mandi bekas dipakai oleh Shi-chan──.
Begitu menyadari fakta tersebut, aku tak bisa lagi berhenti memikirkannya.
Di TV sedang menayangkan acara ragam (variety show), namun dengan pikiranku yang sedang kalut berkecamuk ini, tak ada satu pun lelucon yang sanggup mampir ke dalam benakku──.
Kira-kira hampir satu jam telah berlalu sejak Shi-chan pergi ke kamar mandi.
Dari kejauhan terdengar suara pintu yang ditutup.
Aku tahu kalau cewek kalau mandi memang lama, tapi karena sempat cemas membayangkan bagaimana kalau dia pingsan di dalam, aku merasa lega.
Soalnya mana mungkin juga aku mengintip keadaan di dalam...
Mungkin sekarang dia sedang mengeringkan rambut, suara hair dryer terdengar sayup-sayup. Suara yang memancarkan nuansa keseharian itu ditambah waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, makin memperkuat rasa nyata bahwa saat ini kami sedang menghabiskan waktu berdua saja.
Sekitar tiga puluh menit berlalu setelah itu, Shi-chan yang selesai mengeringkan rambut kembali ke ruang tamu. Piyama ganti yang dikenakannya sama persis dengan yang dipakainya saat Akarin dan yang lainnya menginap dulu.
Shi-chan yang dulu kulihat di foto saat itu, kini berdiri tepat di depan mataku.
Hanya dengan menyadari hal itu saja, jantungku sudah dengan mudahnya dibuat berdebar-debar kembali.
"Maaf ya membuatmu menunggu, Tak-kun. Setelah mandi rasanya jadi segar banget."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi karena kamu masih sakit, jaga tubuhmu agar tidak kedinginan, dan pastikan minum air yang cukup ya."
"Iyaa~! Siap laksanakan~!"
Duduk di sampingku di atas sofa, Shi-chan mengangkat tangannya dengan penuh semangat. Wangi harum dan manis dari sampo yang tercium dari Shi- chan membuat jantungku sekali lagi berdebar kencang.
"Eitt!"
Namun Shi-chan sama sekali tidak menyadari rasa gugupku itu. Dia langsung memelukku erat-erat, menempelkan tubuhnya padaku dengan raut gembira.
Bahan piyama yang lebih tipis dari pakaian biasanya membuat sentuhan kulitnya yang lembut terasa kian nyata, membuat detak jantungku berpacu makin kencang tanpa kendali──.
"K-kalau begitu, aku juga mau mandi dulu deh."
" Ah, iya benar! Handuk dan yang lainnya sudah kusiapkan di sana, ya."
"Terima kasih ya, kalau begitu aku mandi dulu."
Tak sanggup lagi menahan kecanggungan ini, aku bergegas hendak berdiri.
Akan tetapi Shi-chan menarik tanganku erat-erat, tidak membiarkanku berdiri begitu saja.
"...Tak-kun, jantungmu berdebar kencang banget, ya."
Lalu, dia membisikkan kata-kata itu dengan lembut di dekat telingaku──.
Kata-kata dan jarak yang terlalu dekat itu membuatku tak mampu lagi menahan diri. Aku membalas memeluk Shi-chan erat-erat, lalu ikut berbisik di telinganya.
"...Shi-chan sendiri juga berdebar-debar, kan?"
Mendapat serangan balik seperti itu dariku, tubuh Shi-chan seketika kaku seperti patung. Saat aku meregangkan pelukan untuk memastikannya, wajah Shi-chan sudah merah padam dan membeku total.
"K-kalau begitu, aku mandi dulu ya."
"I-iyaa..."
Shi-chan kelihatan kaku dan kaku persis seperti sebuah robot. Melihat reaksinya yang teramat sangat salah tingkah itu, aku merasa puas karena yakin telah menang telak.
Akan tetapi, dalam perjalanan menuju kamar mandi pun jantungku sendiri masih berdegup kencang, sehingga sebenarnya hasil akhirnya adalah seri mutlak──.
Setelah melepas pakaian, aku membuka pintu kamar mandi perlahan. Uap air hangat berpadu dengan wangi harum sampo Shi-chan yang tadi langsung menyelimutiku.
Tidak mungkin aku tidak salah tingkah oleh wangi itu serta lokasi kamar mandi ini, hingga detak jantungku sekali lagi terpacu kencang.
Omong-omong, ukuran kamar mandinya mungkin sekitar 1,5 kali lipat dari kamar mandi di rumahku. Kamar mandi yang luas dan bersih ini bahkan membuatku merasa kagum.
Botol sampo dan kondisioner yang ditaruh di sana belum pernah kulihat sebelumnya, kemungkinan besar bukan barang yang dijual bebas di pasaran.
Kecantikan Shi-chan rupanya juga ditunjang oleh perawatan luar biasa seperti ini.
Saat mengambil sampo sambil mengguyur badan di bawah shower, tentu saja wangi samponya sama persis dengan wangi Shi-chan, dan hanya dengan membasuh kepala saja aku sudah merasa diselimuti kebahagiaan luar biasa.
Kondisionernya juga beraroma harum, dan setelah menyabuni seluruh tubuh dengan body wash, aku sampai pada satu kesimpulan pasti.
Yaitu──sampo mahal itu memang beda kelas!
Apakah ini yang dinamakan bebas silikon (non-silicone)? Busa, aroma, hingga tekstur rambut setelah dibilas, segalanya sangat berbeda jauh dari sampo murah yang biasa kupakai sehari-hari.
Merasakan perbedaan yang mencolok itu, aku pun bertekad untuk mencoba membeli sampo yang bagus untuk diriku sendiri kapan-kapan.
Setelah selesai mandi dan sedang menggosok gigi di wastafel, dari balik pintu Shi-chan memanggilku, " Aku tunggu di kamar tidur, ya."
Meskipun sempat tersengat oleh daya hancur dahsyat dari kalimat "aku tunggu di kamar tidur", setelah selesai menggosok gigi aku berjalan menuju kamar tidur sesuai perkataannya.
Saat masuk ke kamar tidur, di samping tempat tidur sudah digelar satu set kasur lantai (futon). Pasti Shi-chan yang menyiapkannya selagi aku sedang mandi tadi.
"Eh, tidak berat?"
"Tidak kok, segini mah biasa saja."
Shi-chan yang menjawab begitu sudah berbaring di atas tempat tidur. Dia pasti sudah tahu kalau aku bakal memintanya istirahat, jadi aksinya yang pamer kalau dia sedang berbaring dan beristirahat dengan benar terlihat sangat menggemaskan.
Saat kulihat jam, tak terasa waktu sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam. Karena sejak pagi sudah kerepotan ke sana kemari, aku juga mulai merasa mengantuk dan menguap.
"Tak-kun juga pasti lelah, ya. Hari ini terima kasih banyak untuk semuanya.
Kalau kamu sudah masuk ke selimut, aku matikan lampunya, ya."
"Iya, kalau ada apa-apa kamu boleh membangunkanku kapan saja, bilang saja ya."
Memenuhi kebaikannya aku menyelusup ke dalam selimut futon, lalu Shi-chan mematikan lampu kamar menggunakan remote.
"Terima kasih, selamat tidur ya."
"Emm, selamat tidur."
Kami berdua saling mengucapkan selamat tidur, lalu mencoba memejamkan mata.
Namun, meskipun merasa mengantuk, aku tidak bisa tidur dengan tenang.
Alasannya tidak lain adalah karena diriku yang tak bisa berhenti memikirkan situasi di mana Shi-chan juga sedang tidur tepat di sampingku saat ini.
Namun Shi-chan yang sekarang adalah pasien yang sedang sakit. Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa keberadaanku di sini semata-mata adalah untuk merawat Shi-chan.
Namun, pada saat itulah──.
"...Soal perkataanmu tadi, apa aku beneran boleh minta tolong apa saja?"
Seolah sedang penjajakan, Shi-chan yang ada di atas tempat tidur mengajakku bicara.
"Iya, tidak apa-apa kok."
"...Kalau begitu, aku mau minta satu hal sekarang..."
Napas dan nada bicaranya yang formal itu membuat rasa tegangku meningkat.
Jangan-jangan dia sedang menahan mual, atau kondisi fisiknya memburuk lagi, atau ada sesuatu yang disembunyikannya.
Kalau ada apa-apa aku ingin dia menceritakan semuanya, lagipula kan untuk itulah aku berada di sini.
"...Bolehkah kita mengobrol sebentar lagi...?"
Akan tetapi, permintaan yang dilontarkan Shi-chan sungguh sangat berbeda dari dugaan sebelumnya. Mendengar permintaan yang menggemaskan itu, keteganganku mendadak sirna dan tubuhku langsung lemas lega.
"Boleh kok, kalau begitu ayo kita ngobrol sampai Shi-chan tertidur, ya."
Sambil berkata begitu, aku membalikkan badan menghadap ke arah Shi-chan di atas tempat tidur. Penglihatanku sudah terbiasa dengan kegelapan, dan wajah Shi-chan yang tersinari oleh cahaya bulan dari jendela di belakangnya terlihat samar-samar.
" Ah, akhirnya kamu menghadap ke arahku."
Tampaknya cahaya bulan itu juga menyinari wajahku.
"Dari posisiku wajahmu tidak kelihatan jelas, rasanya agak tidak adil, ya."
Karena posisinya membelakangi cahaya, wajah Shi-chan tidak bisa kulihat dengan jelas sehingga rasanya agak gemas. Padahal kalau bisa lebih dekat, aku bisa melihat wajah Shi-chan dengan jelas...
"...Kalau begitu, Tak-kun mau naik ke sini juga?"
Seolah-olah bisa membaca pikiranku, sebuah tangan diulurkan dari atas tempat tidur ke arahku. Bahkan sebelum sempat berpikir, aku sudah menyambut uluran tangan itu.
"...Boleh?"
"...Emm, soalnya kalau dekat aku jadi lebih merasa tenang."
Bersamaan dengan kata-kata itu, tangan kami yang saling menggenggam ditariknya. Ditarik begitu saja, aku pun ikut berbaring di atas tempat tidur yang sama.
Kehangatan Shi-chan terasa merambat dari dalam selimut. Shi-chan yang menghadap ke arahku merengkuh tanganku yang saling bertautan dengan kedua tangannya.
"Fufu, Tak-kun ada tepat di sampingku."
Wajah Shi-chan yang tersenum gembira bisa kulihat dengan sangat jelas dari jarak sedekat ini. Dari sosok Shi-chan yang berada tepat di depan mataku, aku tak sanggup mengalihkan pandangan. Hal yang sama pasti dirasakan juga oleh Shi-chan.
Untuk beberapa saat, kami berdua saling menatap lekat-lekat dalam hening──.
"Nee Tak-kun... mau ciuman selamat tidur?"
Sambil berkata begitu, Shi-chan memejamkan matanya. Menuruti perkataannya, aku mengecup bibir lembut Shi-chan dengan penuh kasih sayang sebagai ciuman selamat tidur.
"...Sekarang kamu sudah bisa tidur?"
"...Masih belum bisa tidur, sekali lagi ya."
"Shi-chan hari ini manja banget, ya."
"Yang bilang 'bilang saja kalau ada apa-apa' itu kan Tak-kun sendiri?"
"Iya juga, ya."
Di atas bibir Shi-chan yang tersenyum jahil, aku kembali mendaratkan ciuman.
Menghabiskan waktu lebih lama dari sebelumnya, seakan untuk saling memastikan keberadaan satu sama lain──.
"...Ehehe, aku bahagia banget."
"...Iya, aku juga."
Sambil menempelkan dahi kami satu sama lain, kami berdua saling melempar senyum.
" Ah, iya. Boleh aku minta satu hal lagi?"
"Silakan, apa pun boleh."
Berpikir kalau sudah sejauh ini apa pun akan kuturuti, Shi-chan mengangkat tangan kami yang sedang bertautan.
Lalu dia meletakkan lenganku di atas bantal, dan menyandarkan kepalanya di atasnya.
"Fufu, ini pertama kalinya berbantal lengan."
"Begitu ya... ini benar-benar..."
Gawat juga, nih...
Sensasi dan kehangatan Shi-chan terasa merambat dari lenganku. Yang terpenting, keberadaan Shi-chan yang pas dalam dekapanku menciptakan sensasi keintiman dan kerapatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sembari merengkuh lembut Shi-chan yang bersandar di dadaku, malam itu pun kami tertidur pulas diselimuti kebahagiaan──.
◇
Keesokan harinya.
Saat terbangun, sosok Shi-chan yang seharusnya tidur di sampingku sudah tidak ada. Sambil berpikir mungkin dia sedang ke kamar mandi atau semacamnya, aku yang merasa agak cemas pun bangkit berdiri.
Melihat jam, waktu menunjukkan sedikit lewat pukul delapan pagi. Terlelap pulas banget, pikirku seraya mengingat kembali kejadian semalam.
Kami beneran tidur bareng di tempat tidur ini, ya... Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkannya lagi.
Tangan yang saling bertautan, sensasi berbantal lengan, serta ciuman yang kami bertukar──segalanya terasa begitu manis, asam, dan membuat ketagihan.
Meskipun diselimuti perasaan manis itu, aku memutuskan untuk keluar dari kamar tidur dan melangkah ke ruang tamu.
Saat kubuka pintu ruang tamu, aroma harum dan gurih yang lezat berembus menyapa.
Begitu mengarahkan pandangan ke dapur, di sana terlihat sosok Shi-chan yang sedang memasak.
Sakit dan lemasnya kemarin terasa bagaikan kebohongan belaka, sosok Shi- chan yang sedang memasak di sana kelihatan sudah pulih dan berenergi seperti biasanya.
Tentu saja hal itu sangat menggembirakan, tetapi di luar itu ada hal lain yang membuatku tak sanggup menahan rasa penasaran.
"Shi-chan, kamu lagi..."
"Lagi apa? Seperti yang kamu lihat, aku lagi bikin sarapan, lho♪"
Kalau itu sih kulihat juga langsung paham, bukan hal itu yang ingin kutanyakan. Tentu saja dia sendiri tahu apa maksud pertanyaanku, tapi dia sengaja mengabaikan kebingunganku.
"Pokoknya sarapan biar aku yang siapkan, Tak-kun cuci muka dulu sana!"
"I-iya, terima kasih ya..."
Meskipun masih belum paham, aku memutuskan untuk menuruti perkataannya dan pergi mencuci muka.
Mencuci muka sejenak demi merapikan pikiranku atas situasi saat ini... Akan tetapi, mana mungkin cuma dengan cuci muka masalahnya selesai. Sambil memikirkan kemungkinan tipis apakah aku sedang bermimpi, aku kembali ke ruang tamu.
" Ah, selamat datang kembali, Goshujin-sama♪"
Sambil menata sarapan di meja dapur, Shi-chan menyambutku dengan senyuman mekar.
Tingkahnya itu... bahkan jauh lebih antusias dibandingkan saat jadi pelayan maid di festival budaya kemarin.
Mengapa topik maid ini diangkat? Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan...
Sebab pakaian yang dikenakan Shi-chan saat ini adalah kostum maid yang dulu pernah dia kirimi fotonya padaku.
Dengan kata lain, Shiorin yang pernah kulihat dalam PV 『Anata dake no Mesukai』 (Pelayan Khusus Untukmu) kini sedang menjadi maid secara langsung di depan mataku sendiri──.
"Etto... aku tanya sekali lagi, ya... pakaian apa itu?"
"Eh, maid dong?"
Shi-chan membalas pertanyaanku seolah-olah itu adalah hal yang wajar.
Satu kali lihat juga tahu kalau itu maid, tapi yang ingin kutanyakan adalah alasan mengapa dia memakai pakaian seperti itu. Tentu saja hal ini pun sudah disadari oleh Shi-chan. Sembari merasa geli, dia menyunggingkan senyum nakal.
"Ini itu ungkapan terima kasih, lho."
"Ungkapan terima kasih?"
"Iya. Terima kasih karena kemarin kamu sudah bergegas datang demi aku, lalu merawatku seharian penuh."
Aha, ungkapan terima kasih, ya...
Meskipun secara garis besar aku paham alasan di balik kostum maid ini, tapi kenapa harus pakaian maid?
"Waktu di festival budaya kemarin, kan aku cuma melayani pengunjung umum, tapi belum sempat melayani Tak-kun secara khusus, kan?"
"Makanya jadi maid?"
"Iya! Hari ini sebagai ungkapan terima kasih, aku berubah menjadi maid khusus milik Tak-kun~♪"
Sambil berkata begitu dia berputar satu kali di tempat, lalu bertanya dengan menggemaskan, "Cocok tidak?"
Mantan idola nasional yang pernah membuat seluruh Jepang bergelora, kini mengenakan kostum maid khusus hanya demi diriku seorang. Jika kalian adalah cowok yang normal, pasti mengerti betapa spesialnya situasi ini...
Bahkan tanpa perlu ditanya lagi oleh Shi-chan, jawabanku cuma satu.
"Meskipun kaget karena mendadak, tapi itu sangat cocok dan kamu kelihatan imut banget."
Menanggapi opiniku yang terlalu jujur, wajah Shi-chan merona merah padam dalam sekejap.
"B-b-b-begitu ya! K-kalau begitu Tak-kun silakan di sini... eh bukan, silakan duduk di sebelah sini, Goshujin-sama♪"
Meskipun sempat salah tingkah sejenak, Shi-chan menguasai diri dan kembali melayaniku sebagai maid. Jika begitu, untuk saat ini aku akan menikmati momen menjadi seorang Goshujin-sama secara jujur.
Meskipun belum sembuh total, Shi-chan yang sudah ceria ini berusaha menjamuku dengan sebaik-baiknya.
Mengalihkan pandangan ke meja, di sana sudah tersaji sarapan bergizi seimbang: nasi hangat, sup miso, bacon and egg, serta salad.
Nasi yang baru matang kelihatan pulen mengilap, dan sup misonya kaya akan sayur-sayuran. Bacon and egg-nya terpanggang dengan tingkat kematangan yang pas, mengunggah selera makan hanya dengan sekali lihat.
Pandai memasak, berbakat dalam banyak hal. Ditambah lagi paras cantik luar biasa sampai-sampai pernah menjadi mantan idola nasional. Sosok sempurna bagaikan lukisan itu kini sedang menyiapkan sarapan khusus hanya untukku seorang.
Sembari bersyukur kepada Tuhan atas pagi hari yang terlalu membahagiakan ini, aku memutuskan untuk menyantap makanan yang disiapkan sebelum dingin.
Pertama-tama dari sup miso. Berkat isinya yang berlimpah, kelezatan dari berbagai bahan masakan larut ke dalam kuahnya, memberikan rasa yang begitu kaya. Tingkat kematangannya pun pas, benar-benar definisi sup miso ideal.
Selanjutnya bacon and egg. Kalau dibilang cuma memanggang telur dan bacon bersamaan, memang benar begitu. Tapi justru karena itulah tingkat kematangannya menjadi sangat krusial. Bacon-nya terpanggang dengan warna kecokelatan yang pas, dan kuning telurnya setengah matang dengan sempurna.
Taburan garam dan lada di atasnya berpadu dengan pas, membuat nasiku makin cepat habis sejak pagi hari.
"Bagaimana rasanya, Goshujin-sama?"
"Emm, semuanya beneran enak banget. Terima kasih, ya."
"Sama-sama♪ Masih ada porsi tambahan kok♪"
Mendengar kata-kataku, Shi-chan tersenyum dengan sangat gembira. Memiliki Shi-chan yang tersenyum bahagia berada di sampingku seperti ini mungkin adalah bumbu penyedap yang paling utama dari segalanya.
◇
Setelah selesai sarapan, aku menawarkan diri untuk mencuci piring sebagai balasan. Shi-chan sempat bilang bahwa sebagai maid dialah yang harus melakukannya, tapi setelah kujelaskan kalau ini adalah bentuk ucapan terima kasih dariku, akhirnya dia mau mengalah.
Dengan begitu, saat ini aku sedang sibuk mencuci piring dan peralatan makan, namun kecepatan kerjaku tidak kunjung meningkat.
"Shi-chan?"
" Ada apa, Tak-kun?"
"Kalau begini rasanya agak susah buat cuci piring, deh."
" Aman, aman♪ Tidak apa-apa kok~♪"
Sambil berkata begitu, Shi-chan mengabaikan perkataanku dan malah makin mempererat pelukannya dari belakang.
Ya, saat ini di belakang punggungku yang sedang mencuci piring, ada seorang maid yang menempel dan memelukku erat. Andaikan Shi-chan adalah seekor anjing, mungkin saat ini ekornya sudah mengipas-ngipas kegirangan karena begitu gembira memelukku dari belakang.
Dengan kondisi menggendong seorang maid di punggung, aku berhasil menuntaskan cuci piring, lalu mencoba mengukur suhu tubuh Shi-chan.
"36,9 derajat... sudah di bawah 37 derajat, ya."
"Ehehe, ini berkat tekad!"
Shi-chan pamer dengan wajah bangga. Apa demam beneran bisa turun cuma berkat tekad, ya...?
Tapi karena suhunya beneran turun, bukti lebih kuat daripada teori. Meskipun begitu, bagaimanapun dia kan baru saja pulih dari sakit. Hari ini pun sebaiknya dia beristirahat dengan tenang.
"Meskipun sudah membaik, tapi jangan memaksakan diri dulu, ya."
"Eh? Tak-kun masih mau menemani di sini, kan...?"
Mendengar kata-kataku, Shi-chan menatapku dengan raut cemas.
Karena aku tidak bermaksud untuk langsung pulang saat ini juga, aku menepuk-nepuk kepalanya untuk menenangkan Shi-chan yang cemas.
"Hari ini aku baru mulai kerja paruh waktu sore nanti, jadi sampai saat itu aku masih bisa di sini, kok."
"Beneran? Syukurlah..."
Dengan raut lega, Shi-chan kembali memelukku.
Aku merasa senang karena dia menyampaikan perasaannya secara jujur dan terbuka melebihi biasanya. Karena itulah aku juga memutuskan untuk mengikuti perasaanku secara jujur.
"...Lagipula aku juga masih ingin bersamamu lebih lama lagi."
Mendengar kata-kataku yang jujur itu, mata Shi-chan membulat lebar.
" Ayo kita bersama terus!"
Lalu dengan mengekspresikan kegembiraan di sekujur tubuhnya, Shi-chan melompat memelukku dari depan dan mendaratkan kecupan manis di pipiku.
Meskipun demamnya sudah hampir turun, memaksakan diri tetap dilarang keras. Oleh karena itu, keluar rumah tentu saja belum boleh, sehingga kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di kamar tidur sambil menonton video konser live Angel Girls.
Karena dia bilang malu dan tidak mau menonton konser kelulusan (graduation live) yang membuatnya menangis, aku mengambil satu BD secara acak dari sekian banyak koleksi.
Yang terpilih adalah video saat tur dome peringatan rilis album kedua. Dalam rentang karier idola Shi-chan, itu adalah masa-masa di pertengahan.
Saat BD diputar, penampilan live yang bertenaga dari kelima anggotanya langsung dimulai. Sosok mereka yang bernyanyi dan menari penuh semangat tanpa sadar membuatku terpesona.
Kostum panggungnya juga sangat imut, dan aku menyadari mataku refleks terus mengikuti sosok Shi-chan yang berkali-kali tersorot kamera. Idola seperti itu kini sedang duduk bersandar tepat di sampingku, apalagi dengan mengenakan kostum maid... sungguh situasi yang aneh.
" Ah, di bagian ini sebenarnya aku hampir jatuh, lho."
"Terus setelah lagu ini, Akarin melepas mikrofonnya lalu berbisik yang cuma bisa didengar sama kami, 'Gawat... aku kebanyakan makan pistachio di ruang tunggu sampai rasanya mau muntah,' dengan wajah datar, sampai-sampai kami sekuat tenaga menahan tawa, lho."
" Aah, bagian ini! Miyamiya malas menyanyi lagi dan malah mengarahkan mikrofon ke arah penonton!"
Kisah-kisah di balik layar yang diceritakannya sambil menonton video konser masa itu terasa sangat seru, hingga tanpa terasa kami sudah menyelesaikan seluruh video konser tersebut.
Kukira sudah selesai, tapi tampaknya ada video bonus (bonus feature) khusus edisi teratas BD. Isinya adalah sesi tanya jawab mendalam kepada seluruh anggota, dan bagiku yang belum pernah menontonnya tentu saja sangat penasaran.
" Ah, ini..."
Akan tetapi Shi-chan yang ada di sampingku mendadak panik mencari sesuatu.
Menyadari bahwa yang dicarinya adalah remote control, aku mendahuluinya dan mengambil remote control itu lebih dulu.
" Ah! Remote-nya!"
"Kenapa? Momen di depan gawat kalau sampai kulihat?"
"B-bukan begitu, tapi ditonton juga tidak seru kok!"
Melihatku yang sedikit menjahilinya, Shi-chan mulai mencari alasan dengan wajah merona. Dari reaksinya, sepertinya di video setelah ini ada hal yang sangat memalukan baginya.
Jika itu benar-benar hal yang tidak boleh dilihat, ya memang kasihan juga sih kalau kupaksa, dan aku berniat mengembalikan remote control-nya, namun pada saat itulah...
『Pertanyaan langsung untuk para anggota! Apa tipe pria idaman kalian!?』
Dari TV terdengar pertanyaan untuk para anggota yang teramat sangat membuat penasaran. Tanganku yang tadinya mau mengembalikan remote control mendadak berhenti total.
Dan Shi-chan, seolah sadar sudah tak bisa kabur lagi, melarikan diri ke atas tempat tidur dan menggulung dirinya rapat-rapat di dalam selimut.
『Aku sih suka cowok yang lucu dan humoris~!』
『A-aku kalau bisa... tipe yang lembut dan penyayang...』 『Benar juga, yang serbaguna... maksudku, tipe yang bisa diandalkan.』 Megumin, Chiichii, dan Miyamiya masing-masing menjawab tipe idaman mereka. Menanggapi jawaban mereka, pelawak yang menjadi MC memberikan reaksi dan mengembangkan obrolan menjadi kocak.
Selanjutnya adalah giliran sang leader, Akarin.
『Pria yang punya pendirian teguh selalu berhasil menarik perhatianku.
Seseorang yang saat genting bisa mengambil keputusan sendiri dan mampu memimpinku, rasanya tipe seperti itu sangat idaman.』 Berbeda dari anggota lainnya, Akarin memberikan opini yang spesifik dan dewasa. Membayangkan apakah diriku memenuhi kriteria itu, sayangnya aku sadar kalau diriku masih jauh dari tipe idaman Akarin. Lagipula kejadian kemarin pun, kalau Akarin tidak ada aku takkan bisa sampai ke tempat Shi- chan.
Berkat Akarin, aku mendapatkan kesadaran bahwa sebagai manusia maupun sebagai laki-laki aku harus tumbuh lebih baik lagi, jadi aku benar-benar berterima kasih padanya.
Dan setelah giliran Akarin selesai, akhirnya giliran Shiorin yang tiba.
"Beneran mau ditonton...?"
Dari dalam selimut, Shi-chan cuma memunculkan wajahnya sedikit dan memohon padaku.
"Sudah menonton sejauh ini, kalau cuma Shi-chan yang terlewat itu sih namanya siksaan."
Akan tetapi aku pun tak mau mundur setelah menonton sejauh ini. Reaksi Shi- chan justru makin membuat rasa penasaranku membuncah tak tertahankan.
『Nah, yang terakhir Shiorin! Langsung saja, apa tipe pria idamanmu!?』 『E-etto, bagaimana ya... Seseorang yang benar-benar bisa menyadari keberadaanku dan mengajakku merasakan berbagai pengalaman bersama.
Lalu, senyumannya menggemaskan, di saat-saat genting bisa diandalkan, dan mampu membimbingku, rasanya tipe seperti itu idaman banget.』 Di layar TV, Shiorin menjawab dengan cepat meskipun kelihatan malu-malu.
『Lho, lho? Kok cuma Shiorin yang jawabannya spesifik banget? Eh, jangan- jangan kamu lagi jatuh cinta beneran, ya?』
『Eh!? T-tidak kok! Bukan begitu, ini cuma pernah kulihat di drama!
Maksudnya, ahh pengin deh rasanya mengalami cinta seperti ini~ begitu!』 Shiorin yang terburu-buru menjelaskan itu kelihatan agak salah tingkah di layar TV. Saat zaman idola dulu dia terkesan cukup sempurna, jadi melihat Shiorin yang seperti ini terasa agak segar, dan untuk ukuran video bonus ini sudah lebih dari cukup.
Yah, meskipun Shi-chan yang versi biasa (bukan mode idola) salah tingkahnya memang sudah bawaan, sih...
Dengan begitu, topik tentang tipe idaman Shiorin pun berakhir dengan lancar dan berlanjut ke pertanyaan berikutnya.
" Aha, tipe idamanmu rasanya kok spesifik banget ya, jangan-jangan ini...?"
"...Iya kok. Semuanya itu tentang Tak-kun. Makanya kan aku sudah bilang tidak mau ditonton..."
Hanya memunculkan wajahnya dari dalam selimut, Shi-chan cemberut kecil dengan penuh rasa malu.
Tak kusangka di tempat seperti itu dia membicarakan tentang diriku...
Reaksinya yang malu-malu itu sungguh menggemaskan, hingga aku memeluk Shi-chan dari luar selimut.
Makan siang pun dibuatkan oleh Shi-chan, dan aku menyantapnya dengan nikmat.
Setelah menghabiskan waktu dengan santai sebentar lagi, tak terasa waktu kerja paruh waktu sudah makin dekat.
Aku tidak bisa membolos begitu saja, dan kondisi fisik Shi-chan pun sudah hampir pulih seperti biasa. Meskipun berpikir sepertinya sudah aman, rasa berat hati untuk berpisah tak bisa dipungkiri...
Namun aku tak bisa terus-terusan berada di sini, jadi aku berjalan menuju pintu untuk berangkat kerja.
"Kalau begitu, aku berangkat ya. Jaga kesehatanmu baik-baik."
"Emm, terima kasih untuk semuanya ya."
Sama-sama kelihatan berat hati, Shi-chan mengantar kepergianku. Sambil merasa enggan meninggalkan raut wajahnya yang tampak kecewa itu, tanganku memegang gagang pintu.
" Ah, Tak-kun tunggu! Ada yang ketinggalan!"
Akan tetapi Shi-chan terburu-buru memanggilku seolah mengingat sesuatu.
Berpikir apakah ada barangku yang ketinggalan, saat aku menoleh ke belakang, Shi-chan yang berlari menghampiri langsung mendaratkan kecupan manis di pipiku.
"...Yang ketinggalan itu ciuman selamat jalan, lho. Bercanda deh~"
Padahal kami sudah berkali-kali bertukar ciuman, tapi wajahku seketika terasa mendidih panas seperti pemanas air serba cepat.
"Kalau begitu, ini balasan dariku."
Mengikuti emosi yang membuncah, aku membalas mendaratkan kecupan di pipi Shi-chan.
"...Aku berangkat ya."
"...Emm, selamat jalan."
Dengan pipi yang merona merah, Shi-chan melambaikan tangan kecilnya mengantar kepergianku.
Interaksi yang persis seperti pasangan pengantin baru itu sungguh terasa begitu menggelitik dan membuat tersipu, dan bahwa selama kerja paruh waktu setelah itu pikiranku terus-terusan melayang memikirkannya, rasanya sudah tak perlu dijelaskan lagi──.
Diskusi & Komentar (0)