🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 4 Chapter 2 – Kejanggalan

Hari Sabtu yang dijanjikan akhirnya tiba.

Hari ini aku sudah tiba di tempat berkumpul biasanya untuk pergi membeli pair ring bersama Shi-chan.

Namun, tidak seperti biasanya, sosok Shi-chan hari ini tidak terlihat di lokasi janji temu.

Saat kulihat jam, waktu masih menunjukkan lima belas menit sebelum jam yang dijanjikan.

Karena biasanya aku yang selalu dibikin menunggu olehnya, aku keluar sedikit lebih awal hari ini agar bisa menunggu duluan, jadi wajar saja sih kalau dia belum datang.

Sambil duduk di bangku, aku memutuskan untuk menunggu kedatangan Shi- chan dengan santai.

Karena Shi-chan biasanya selalu datang lebih awal, kupikir sebentar lagi dia juga bakal muncul.

...Namun, bahkan setelah waktu yang dijanjikan lewat, Shi-chan tak kunjung muncul.

Padahal baru saja lewat satu menit dari waktu janji temu.

Akan tetapi, mengingat Shi-chan selalu datang lebih awal dan menungguku, kejadian seperti ini adalah yang pertama kalinya.

Kalau dipikir-pikir, aku teringat kalau tadi malam kami juga tidak saling berkirim pesan LIME seperti biasanya.

Kemarin dia kelihatan agak lelah, jadi kukira dia tidur lebih awal untuk mempersiapkan hari ini, tapi...

Untuk sementara, walau berpikir tidak baik kalau terlalu mendesaknya, aku memutuskan untuk mengirim pesan LIME memberi tahu Shi-chan.

『Selamat pagi! Aku sudah menunggu di tempat biasa, ya』 Sip, terkirim.

...Namun, bahkan setelah lebih dari sepuluh menit berlalu, Shi-chan tetap tidak muncul, dan pesan LIME-ku pun tidak kunjung dibaca.

──Jangan-jangan, dia kesiangan?

Shi-chan kan selalu bekerja keras, jadi ada hari seperti itu pun bukan hal yang aneh.

Hari ini hari Sabtu, dan kerja paruh waktu juga libur.

Mengingat waktu masih sangat banyak dan tidak ada alasan untuk panik, kali ini aku mencoba meneleponnya.

...Akan tetapi, teleponnya tetap tidak terhubung.

Apakah ponselnya rusak, ataukah kehabisan baterai?

Mendadak firasat buruk melintas di benakku, dan tanpa sadar aku sudah berdiri lalu melangkah pergi.

Jangan-jangan, telah terjadi sesuatu padanya di perjalanan menuju ke sini──.

Rasa cemas itu membengkak secara drastis di dalam dadaku, dan di saat yang sama, satu penyesalan besar lahir dalam pikiranku.

Yaitu kenyataan bahwa aku masih belum tahu secara spesifik di mana tempat tinggal Shi-chan.

Aku yang belum pernah berpengalaman berpacaran dengan siapa pun selama ini malah merasa sungkan secara berlebihan.

Meskipun dia pacarku, kami berdua kan masih anak SMA. Menanyakan alamat kepada seorang gadis yang tinggal sendirian rasanya secara etika masih terlalu cepat...

Justru karena aku sangat menyayangi Shi-chan, kupikir itulah jarak yang tepat di antara kami.

Tapi, hal itu ternyata salah besar.

Sebab jika sampai terjadi sesuatu pada Shi-chan, aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya seperti sekarang ini...

Menyadari kesalahan sesederhana ini baru setelah dihadapkan pada situasi seperti sekarang benar-benar sudah sangat terlambat.

──Harusnya kalau dipikir sebentar saja sudah paham, kan!

Aku merasa muak pada diriku sendiri.

Akan tetapi, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri.

Mengingat kemungkinan terburuk jika sampai terjadi sesuatu pada Shi-chan, aku harus melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini.

Lawan bicaraku adalah seorang mantan idola nasional, seorang publik figur yang teramat sangat terkenal.

Jika dia sampai terlibat dalam suatu insiden atau kejahatan, setiap detik dan menitnya bisa jadi adalah situasi yang sangat genting──.

Begitu pemikiran itu terlintas, aku terburu-buru merogoh ponsel untuk menelepon seseorang.

『Halo, ada apa?』

"Maaf, Akarin! Apa kamu ada waktu sekarang!?"

Orang yang kutelepon tidak lain adalah pemimpin dari Angel Girls, Akarin.

Aku teringat bahwa sebelumnya Akarin pernah menginap di rumah Shi-chan, jadi tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengontaknya──.

『...Begitu, ya. Aku paham situasinya. Untuk saat ini tenangkan dirimu dulu.

Aku akan mengirimi alamatnya lewat LIME sekarang, jadi Tak-kun segera pergi mengecek keadaannya, ya』

"B-baiklah! Terima kasih banyak!"

『Emm, aku titip Shion, ya』

Illustration Di hadapan diriku yang terburu-buru menjelaskan situasinya, Akarin tetap bersikap sangat tenang. Begitu sambungan telepon terputus, Akarin segera mengirimi alamatnya lewat LIME.

Saat aku langsung memeriksa alamat itu di aplikasi peta, pin menunjuk ke sebuah apartemen bertingkat tinggi (high-rise apartment) yang letaknya sangat dekat dari stasiun. Aku pun bergegas berlari menuju apartemen tersebut.

Karena pintu masuk utamanya dikunci dengan sistem keamanan, aku menekan bel nomor kamar 803 yang dikirimkan tadi.

──Shi-chan, tolong jawab!

Sambil menahan rasa cemas yang seolah-olah hendak memecahkan dadaku saat ini juga, aku menunggu responsnya seolah sedang berdoa.

"...I-iya."

Setelah aku menekan bel sekitar tiga kali, suara halus seorang wanita terdengar dari balik speaker. Tak mungkin aku salah dengar, suara itu tak salah lagi adalah suara Shi-chan.

"Shi-chan!?"

Aku terburu-buru memanggilnya agar wajahku tertangkap di kamera monitor.

"...Eh? Tak-kun?"

"Iya, ini aku! Aku akan naik ke atas sekarang, bisa tolong bukakan pintunya?"

"...Emm, tolong ya."

Meskipun keadaan Shi-chan jelas-jelas kelihatan aneh, dia tetap membukakan kunci seperti yang kuminta. Aku bergegas masuk ke dalam dan menuju ke kamar 803 tempat Shi-chan berada.

Saat menekan bel pintu kamar, dari dalam terdengar suara samar, "Pintunya tidak dikunci..."

Memantapkan hati, aku membuka pintu, dan di sana terlihat sosok Shi-chan yang sedang berjongkok tergeletak lemas di dekat area pintu masuk. Napasnya tersengal-sengal, dan hanya dengan sekali lihat saja aku tahu dia sedang dalam kondisi yang sangat buruk.

"Shi-chan!? Kamu tidak apa-apa!?"

Aku panik dan langsung menghampirinya, lalu menyangga tubuhnya secara perlahan. Saat kusentuh, tubuh Shi-chan terasa sangat panas, jelas sekali dia sedang terserang demam atau penyakit semacamnya.

" Aku masuk dulu, ya. Um, kamar tidurmu di mana?"

Sambil memegang tubuhnya dengan erat agar dia merasa tenang, aku membimbingnya masuk ke dalam rumah.

"...Di sana, kamar yang sebelah kiri."

Sambil menunjuk dengan jarinya, Shi-chan memberitahuku letak kamar tidurnya dengan suara yang tertahan.

Mengikuti petunjuknya, aku melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, dan itu memang benar-benar kamar tidurnya. Meja belajar, meja lesehan. Selain lemari pakaian, ada juga rak buku berisi beberapa buku—kamar yang rapi tetapi tetap memiliki nuansa hangat tempat tinggal. Dan di bagian paling dalam kamar, terdapat sebuah tempat tidur ukuran semi-double.

Aku membaringkan tubuh Shi-chan di atas tempat tidur tersebut secara perlahan. Saat kubentangkan selimut padanya, meskipun kelihatan sangat kesakitan, Shi-chan tetap mengulas senyum lega.

"Tak-kun, terima kasih ya..."

"Tidak apa-apa, sekarang kamu istirahat yang tenang, ya."

Sambil membalas ucapan itu, aku menyentuh dahi Shi-chan dengan lembut.

Panas tubuhnya terasa begitu tinggi hingga tak perlu lagi menggunakan termometer untuk mengetahuinya.

"Kamu demam, ya... Sudah minum obat?"

"Belum... hari ini belum..."

"Begitu, ya. Apa ada obat di rumah?"

"E-etto... keluar dari kamar ini... lalu di sebelah kiri ada ruang tamu... di dalam lemari... laci yang paling atas..."

"Paham, tunggu sebentar ya."

Alasan mengapa semalam kami tidak berkirim pesan LIME pasti karena dia sudah demam sejak kemarin. Di dekat bantalnya, tergeletak ponsel yang tidak terisi daya.

Aku menggenggam tangannya untuk memberi rasa aman pada Shi-chan, lalu melangkah menuju ruang tamu sesuai petunjuknya.

Saat kubuka pintunya, di sana terhampar ruang tamu bernuansa LDK yang jauh lebih luas dari yang kubayangkan. Meskipun sempat cemas apakah bisa menemukan obatnya, karena barang yang ditaruh di sana tidak terlalu banyak, aku bisa segera menemukan lemari yang dimaksud.

TLN: LDK (Living, Dining, Kitchen): Tata ruang khas tempat tinggal Jepang di mana ruang tamu, ruang makan, dan dapur menyatu tanpa sekat tebal.

Saat kubuka laci paling atas dari lemari itu seperti yang dikatakan Shi-chan, obat-obatan memang tersimpan rapi di sana.

──Sisanya tinggal air minum, ya. Eh tapi, sebelum minum obat harusnya dia makan sesuatu dulu.

Untuk sementara, aku membasahi saputangan berbahan handuk yang kubawa di wastafel kamar mandi, lalu kembali ke kamar tidur.

Lalu, kutaruh saputangan basah itu di dahi Shi-chan yang masih tampak merintih kesakitan.

"...Wah, segarnya."

" Aku sudah menemukan obatnya. Tapi sebelum minum obat, rasanya lebih baik kamu mengisi perutmu dulu. Bolehkah aku membuatkan sesuatu dari bahan yang ada di sini?"

"Emm... boleh kok..."

Mungkin karena pengaruh demam, Shi-chan membalas dengan lemah dan tanpa tenaga. Melihat Shi-chan yang seperti itu, tanpa sadar perasaan gemas mendadak membuncah di dalam dadaku, tapi sekarang bukan saatnya untuk itu.

Sambil memfokuskan kembali pikiranku, aku beranjak berdiri hendak menuju ke dapur.

Namun, Shi-chan menggenggam tanganku seolah tak ingin melepaskanku.

"Nee, Tak-kun..."

"Hmm? Ada apa?"

" Anu... padahal hari ini... kita sudah ada janji... maafkan aku, ya...?"

Sambil menggenggam tanganku erat-erat dengan kedua tangannya, Shi-chan meminta maaf dengan raut merasa bersalah.

Padahal kencan belanja hari ini pasti sangat ditunggu-tunggu oleh Shi-chan juga. Justru karena aku tahu hal itulah, aku menggelengkan kepala perlahan untuk menenangankannya.

"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu minta maaf. Soal belanja, kalau kamu sudah sembuh kan kita bisa pergi kapan saja. Jadi sekarang, kamu istirahat yang tenang ya."

"Emm... terima kasih ya... Tak-kun, aku sayang banget sama kamu..."

Mendengar kata-kataku, Shi-chan mengulas senyum lembut seolah merasa lega.

Meskipun aku ingin terus menatap senyuman itu, aku pamit padanya sebentar lalu melangkah menuju dapur.

Ruang tamunya berkonsep LDK, jadi aku langsung melangkah menuju dapur yang luas lalu membuka kulkas.

Di dalamnya, seperti yang diharapkan dari seseorang yang selalu membuatkanku bekal makan siang, bahan-bahan makanan tertata dengan sangat rapi dan cermat.

Di dalam freezer sudah ada nasi beku yang disiapkan, jadi aku mengambil satu porsi nasi beku itu, serta sebutir telur mentah dan daun bawang dari dalam kulkas.

Meskipun aku tidak pandai memasak, kalau cuma bubur telur, aku pun sanggup membuatnya. Sambil memeriksa resep di ponsel agar tidak gagal, aku berhasil memasak bubur telur tanpa kendala.

Aku juga sempat mencicipinya sedikit untuk memastikan rasanya, dan bumbunya kubuat agak hambar agar ramah di lambung... harusnya sudah pas, sih.

Kutaruh mangkuk bubur telur di atas nampan, bersama dengan obat dan segelas air putih, lalu aku berjalan perlahan kembali ke kamar tidur agar tidak tumpah.

" Aku sudah mencicipinya jadi harusnya tidak masalah, tapi apa kamu bisa makan?"

"Emm, terima kasih ya..."

Shi-chan yang menoleh ke arahku memasang senyum lega saat melihat wajahku.

Setelah itu, aku membantu menegakkan separuh tubuh atas Shi-chan secara perlahan, lalu menyendok sedikit bubur telur yang kubawa dengan sendok bebek dan mengarahkannya padanya.

"Nah, sepertinya sudah tidak terlalu panas, silakan."

" Aahn... emm, enaknya... Ehehe, ini pertama kalinya aku makan masakan buatan Tak-kun."

Sambil mengunyah dan menikmati rasanya, Shi-chan tersenyum gembira.

Melihat senyuman dan mendengar kata-katanya itu, akhirnya aku pun bisa merasa sedikit lega.

"Syukurlah kalau cocok dengan selera kamu. Makanlah pelan-pelan, setelah selesai nanti baru minum obatnya, ya."

"...Kalau begitu Tak-kun, mau sekali lagi 'aahn' buat aku?"

Illustration Dengan gaya bermanja-manja, dia meminta padaku sambil mendongak menatapku dari bawah.

Mungkin karena tubuhnya melemah akibat demam, ataukah karena saat ini kami sedang berduaan saja di rumahnya, Shi-chan kelihatan jauh lebih manja dari biasanya.

Setelah itu, dengan menghabiskan waktu secara perlahan, dia menghabiskan seluruh bubur telurnya tanpa sisa. Lanjut memintanya minum obat, lalu kubaringkan kembali di atas tempat tidur agar dia bisa beristirahat.

"Tak-kun, tangannya..."

Shi-chan yang sudah berbaring mengulurkan tangannya dari balik selimut sambil berkata begitu. Sebenarnya aku berniat mencuci peralatan makan dulu, tapi melihat Shi-chan yang begitu manja, aku pun menggenggam tangannya dengan lembut.

"Tidak apa-apa kok, aku ada di sini, jadi istirahatlah yang tenang, ya."

"Emm... terima kasih..."

Shi-chan tersenyum lega. Setelah saling ngobrol ringan sebentar, tanpa sadar Shi-chan sudah tertidur lelap.

Memperhatikan Shi-chan yang tertidur lelap dengan napas yang teratur, aku menghela napas lega. Walaupun sudah agak terlambat, aku harus memberi kabar ke Akarin juga, sih. Tapi, aku memutuskan untuk berada di sampingnya sedikit lebih lama lagi untuk menjaga Shi-chan yang sedang tertidur.

Sebab, aku masih belum ingin melepaskan genggaman tangan kami ini──.

『Begitu ya, aku paham. Karena setelah itu tidak ada kabar, aku sempat khawatir, tapi yang penting Shion tidak apa-apa. Terima kasih ya, Tak-kun.』 "Maaf ya, harusnya aku bisa memberi kabar lebih cepat."

『Tidak apa-apa kok. Soalnya selama itu kamu sibuk merawat Shion, kan?』 Akarin tertawa dan memaafkanku yang terlambat mengabarinya. Padahal sebagai idola papan atas yang masih aktif dia pasti sangat sibuk hari ini, tetapi dia tetap menanggapi telepon dariku dengan baik.

Jika waktu itu Akarin tidak mengangkat teleponku, membayangkan kalau sampai sekarang aku tidak bisa bergegas ke tempat Shi-chan seperti ini rasanya sungguh mengerikan... Karena itulah, kejadian kali ini sepenuhnya berkat bantuan Akarin.

『Sebenarnya aku juga ingin bergegas ke sana, tapi sayangnya setelah ini aku masih ada jadwal syuting. Jadi Tak-kun, aku titip Shion padamu, ya?』 "Iya, aku mengerti. Terima kasih banyak untuk semuanya."

『Sama-sama. Ah, tapi belum boleh melakukan hal-hal ecchi, ya?』 "T-tidak bakal lah!"

『Ahaha, cuma bercanda, kok. Kalau begitu, dah!』

Meskipun terkejut dengan gurauannya di akhir percakapan, aku mengakhiri telepon dengan Akarin. Sesuai perkataanku tadi, tentu saja aku tidak berniat melakukan apa-apa pada Shi-chan yang sedang sakit. Apalagi aku sudah dititipi oleh Akarin.

Dengan semangat yang membara, aku memutuskan untuk membereskan peralatan makan terlebih dahulu.

Sambil mencuci piring, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk melihat apakah ada pekerjaan rumah tangga lain yang bisa kulakukan.

Lalu, aku menyadari ada jemuran berdiri yang ditaruh di dekat jendela ruang tamu.

Kemungkinan barang-barang yang harusnya diangkat kemarin itu masih tergantung di sana. Kemeja seragam dan pakaian dalam. Di sana tergantung pakaian yang biasa dikenakan oleh Shi-chan.

Itu saja daya hancurnya sudah luar biasa, tetapi di antara pakaian-pakaian itu, aku menyadari keberadaan suatu barang lain.

Itu adalah celah kecil yang bahkan sebagai pacarnya pun tidak boleh kuterobos. Sesuatu yang bisa disebut sebagai Wilayah Suci, area terlarang yang mutlak tak boleh dilanggar──.

Setelah menyadari keberadaan Wilayah Suci itu, aku sampai pada kesimpulan bahwa lebih baik aku tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu, dan berfokus pada cucian piring. Bagaimanapun juga, ini adalah kamar seorang gadis yang tinggal sendirian. Memang lebih baik tidak melakukan hal-hal lancang tanpa izin.

Namun, meskipun sedang mencuci piring, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan Wilayah Suci itu dan berkali-kali mencuri pandang ke arah sana... mohon maafkan aku untuk yang satu ini...

Dengan begitu, sekali lagi aku menyadari arti sesungguhnya dari berkunjung ke kamar seorang wanita yang tinggal sendirian.

Setelah selesai mencuci piring, aku kembali ke kamar tidur dan mengganti posisi saputangan basah di dahi Shi-chan.

Mungkin karena obatnya sudah bekerja, aku merasa lega melihat Shi-chan tertidur lelap dengan raut wajah santai. Karena hal-hal yang bisa kulakukan sudah tuntas, untuk sementara aku memutuskan untuk terus menjaganya seperti ini. Karena hari ini kami memang berencana pergi belanja bersama, sejak awal aku tidak punya acara lain.

Sambil memperhatikan Shi-chan yang tertidur, waktu berlalu begitu perlahan.

Meskipun tidak melakukan apa-apa, hanya dengan berada di samping Shi-chan seperti ini saja sudah membuat hatiku dipenuhi kebahagiaan.

"Emm... lho, Tak-kun? Apa aku lagi mimpi, ya..."

Sekitar satu jam berlalu setelah itu, Shi-chan terbangun.

"Selamat pagi, Shi-chan. Ini bukan mimpi kok, bagaimana keadaanmu?"

Mungkin berkat obat dan tidur yang cukup, keadaannya kelihatan jauh lebih membaik dibandingkan saat aku baru datang tadi.

"Begitu ya... aku kan tadi dirawat sama Tak-kun..."

Pikirannya mungkin sudah mulai jernih kembali. Shi-chan yang baru mengingat situasi saat ini menutupi mulutnya dengan selimut, tampak malu- malu. Reaksinya yang menggemaskan ditambah situasi di mana kami berduaan saja di sini... Di dalam kepala aku tahu kalau harus berfokus merawatnya, namun dorongan untuk memeluknya erat-erat mendadak membuncah di dalam dadaku.

"A-apa pun itu, syukurlah obatnya kelihatan bekerja dengan baik."

"I-iya! Badanku sudah mendingan banget, terima kasih untuk semuanya ya."

Kami berdua saling bertukar senyum canggung. Di saat seperti ini, kami berdua baru mulai sadar dan salah tingkah dengan situasi yang ada.

"B-badanku juga sudah mendingan, aku mau ke kamar mandi sebentar, ya!"

Lalu Shi-chan yang fisiknya benar-benar sudah membaik mendadak bangkit berdiri dari tempat tidur.

Shi-chan yang mengenakan setelan rumah berbahan bulu-bulu halus warna merah muda. Bagian atasnya jaket hoodie, tapi bagian bawahnya berbentuk celana pendek, sehingga kakinya yang jenjang, mulus, dan indah terlihat begitu menonjol.

Saat baru tiba di sini tadi aku terlalu panik sampai tidak memperhatikan, tapi saat kulihat kembali penampilannya yang lebih terbuka dan jarang terlihat biasanya, aku jadi bingung harus mengarahkan pandanganku ke mana.

Shi-chan yang menyadari reaksiku itu juga baru sadar akan pakaian yang dikenakannya, lalu menjadi malu-malu dan gelisah.

"K-kalau begitu, tunggu sebentar ya!"

"I-iya! Selamat ber-kamar mandi~!"

Aku mengantar kepergian punggung Shi-chan. Lawakan bapak-bapak yang kulontarkan secara refleks untuk mencairkan suasana itu diabaikan secara elegan begitu saja olehnya.

" Agyaaa!"

Shi-chan yang harusnya menuju ke kamar mandi mendadak menjerit misterius di kejauhan.

Meskipun obatnya sudah bekerja dan keadaannya membaik, bagaimanapun dia tetaplah seorang pasien yang sedang sakit. Berpikir apa yang sebenarnya terjadi, aku bergegas bangkit berdiri untuk menyusulnya.

Brak, brak, brak, brak! Bamm!

Akan tetapi, sebelum aku sempat menyusul, Shi-chan sudah berlari kembali ke kamar tidur lebih dulu. Wajahnya merah padam, dan entah kenapa dia kelihatan sangat panik.

"T-Tak-kun! K-k-k-kamu lihat!?"

...Lihat? 'Lihat' yang dimaksud ini sebenarnya bicara soal apa, sih...?

Tapi melihat Shi-chan yang sedang sakit panik sampai seperti ini, rasanya sangat jelas kalau ini bukan masalah sepele. Lalu dari reaksi Shi-chan dan pertanyaan "kamu lihat!?" tadi, aku sampai pada satu kemungkinan.

Karena itulah, tanpa ragu aku langsung menundukkan kepalaku dengan sigap.

"Iya, aku lihat. Maafkan aku."

Hal seperti ini kalau dicoba ditutup-tutupi dengan cara yang buruk malah akan menimbulkan kesalahpahaman atau rasa cemas yang tak perlu. Bahkan meskipun tidak sengaja, kalau sudah telanjur melihat, meminta maaf adalah tindakan yang paling tepat.

Ya, pemandangan dari Wilayah Suci itu──.

"...Uh-uh, t-tidak kok, aku sendiri yang salah karena meninggalkannya tergantung begitu saja... Auuu..."

Shi-chan menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu. Melihat Shi- chan yang merona malu seperti itu, aku mengajak ngobrol dengan lembut.

"Ngomong-ngomong, urusan ke kamar mandinya tidak apa-apa?"

" Ah! Iya juga!"

Mendengar perkataanku, Shi-chan yang baru tersadar langsung berbalik dan berlari kencang menuju ke kamar mandi lagi.

Padahal dia kan pasien yang lagi sakit, tapi entah kenapa malah kelihatan lebih lincah dan berenergi dari biasanya... Tapi kan dia belum sembuh total, ini cuma karena pengaruh obat saja. Jadi aku berpikir untuk memintanya istirahat tenang kalau dia sudah kembali nanti, seraya teringat kembali pemandangan Wilayah Suci tadi.

Omong-omong, image color Shi-chan saat zaman idola dulu adalah warna putih.

Memang benar, warna putih adalah yang paling cocok untuk Shi-chan, gumamku setuju sendirian.

Di dalam kamar tempat Shi-chan pergi tadi, aku sendirian mengedarkan pandangan ke sekeliling karena bingung mau melakukan apa.

Ini adalah kamar tidur Shi-chan. Kalau dipikir-pikir, selain Aya-nee, bisa masuk ke kamar wanita sendiri adalah pengalaman pertama seumur hidupku.

Ruangan yang beraroma harum manis pengharum ruangan (room fragrance), barang-barang yang tidak terlalu banyak namun terasa sangat kekanak- gadisan, membuatku merasa antara penasaran dan canggung secara bersamaan.

Saat ini aku duduk di samping tempat tidur. Tempat ini tak meragukan lagi adalah lokasi yang pernah terpotret dalam foto saat Akarin dan yang lainnya menginap di sini sewaktu liburan musim panas.

Membayangkan dua orang terkenal yang sangat hits saat ini dari grup Angel Girls dan DDG pernah berada di sini, rasanya agak ajaib. Tapi kalau mau bicara soal itu, Shi-chan yang merupakan pacarku sendiri kan juga sosok yang sama- sama terkenal.

Dari situ aku menyadari betapa sosok Shi-chan kini terasa begitu dekat di dalam diriku. Dari sosok yang diidamkan, kini menjadi pacar sendiri──.

Perubahan yang nyata itu terasa agak sedikit membuatku tersipu dan geli.

"A-aku sudah kembali..."

Shi-chan yang selesai dari kamar mandi kembali ke kamar tidur dengan canggung. Setelah menarik napas dan menenangkan diri, dia tidak lagi terlihat panik berlebihan seperti tadi.

"Iya, selamat datang kembali."

Kepada Shi-chan yang canggung itu, aku membalas sambil berusaha bersikap setenang mungkin. Untuk saat ini, karena dia belum sembuh total, aku ingin dia beristirahat dengan santai.

Saat aku berdiri hendak memintanya berbaring kembali di tempat tidur, Shi- chan bergegas mendekat ke arahku.

Lalu alih-alih berbaring di tempat tidur, dia duduk di tepi tempat tidur lalu menjepit ujung kaosku dengan jarinya.

"Tak-kun, mau duduk di sampingku?"

Dengan gaya bermanja-manja, Shi-chan meminta sambil mendongak menatapku dari bawah.

Di hadapan permintaan menggemaskan itu, aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya.

Mengikuti perkataannya aku duduk di sampingnya, lalu Shi-chan menyandarkan kepalanya di bahuku.

"Kamu tidak apa-apa? Masih terasa sakit?"

"Emm, berkat Tak-kun keadaanku sudah mendingan banget."

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

Kepada Shi-chan yang tersenyum gembira, aku ikut membalas senyumannya.

Lalu meskipun tanpa kata-kata, wajah kami berdua saling mendekat secara alami──.

"...Tak-kun, aku sayang banget sama kamu."

"...Aku juga sayang banget sama kamu."

Sembari berbisik satu sama lain, kami bertukar ciuman yang lembut.

"...A-ah, gawat. Bagaimana kalau demamku menular ke Tak-kun...?"

"Tidak apa-apa, kalau demamnya dari Shi-chan, dengan senang hati aku mau menerimanya."

"Kalau begitu aku yang bakal kerepotan, jadi biar kuambil balik ya?"

Sambil berkata begitu, Shi-chan menciumku sekali lagi dari dirinya sendiri.

Mengalungkan kedua tangannya di atas bahuku, Shi-chan memelukku erat-erat seolah mencari kehangatan, dan aku pun menyambut dan memeluknya secara lembut dengan kedua tangan.

"...Ehehe, pengambilan berhasil."

"Punya-ku diambil balik deh."

Dengan ujung hidung kami yang saling bersentuhan, kami berdua saling melempar senyum.

"Kalau begitu, ayo berbaring dan istirahat lagi, ya."

"Emm, terima kasih ya Tak-kun."

Setelah menenangkan Shi-chan yang tampak puas untuk beristirahat, tak terasa jam sudah menunjukkan lewat pukul dua siang.

Harusnya, jam-jam segini kami berdua sedang asyik memilih kado ulang tahun bersama. Tapi bisa berduaan saja dengannya seperti ini, justru membuatku merasa makin bahagia.

Berkat obat keadaannya juga kelihatan sudah membaik, jadi untuk sementara aku bisa bernapas lega.

Meskipun begitu, bagaimanapun juga Shi-chan adalah pasien yang sakit. Kalau bisa, hari ini aku ingin berada di sini seharian untuk merawatnya.

Tapi itu artinya aku bakal menghabiskan waktu seharian berduaan saja di bawah satu atap yang sama. Bahkan dengan status kami sebagai sepasang kekasih, apakah hal seperti itu benar-benar diizinkan...?

Keinginan untuk merawatnya dan rasa cemas apakah aku melangkah terlalu jauh, kedua perasaan itu saling bergejolak di dalam dadaku.

"...Nee, Tak-kun."

"Hmm? Ada apa?"

Saat aku sedang bingung harus bagaimana, Shi-chan berbisik pelan padaku.

Ekspresi wajahnya yang kelihatan seperti baru saja memantapkan tekad itu pasti bukan cuma sekadar perasaanku saja.

" Anu, ya...? Hari ini, bolehkah aku bermanja-manja sedikit lebih lama lagi...?"

"Iya, apa pun boleh kok."

Bahkan jika dia tidak sedang sakit pun, aku senang kalau Shi-chan mau bermanja-manja padaku. Karena itu kalau ada apa-apa, aku ingin dia bermanja-manja tanpa ragu kapan saja.

"...Kalau begitu. Kalau Tak-kun tidak keberatan, aku mau Tak-kun menginap di rumahku hari ini..."

Menutupi mulutnya dengan selimut, Shi-chan mengutarakan permintaannya dengan penuh rasa malu.

Hal itu berkaitan langsung dengan pertentangan batin yang bergejolak di dalam diriku tadi, dan menjadi pemicu utama yang menentukan tindakan yang harus kuambil hari ini.

"...Iya, aku mengerti. Hari ini aku akan menemanimu dan merawatmu seharian, jadi tenang saja ya."

Tidak apa-apa, aku cuma perlu menjaga batas dan batasan diri dengan benar.

Menginap hari ini semata-mata adalah demi merawat Shi-chan.

Setelah meneguhkan tekad dengan kuat, aku berjanji di dalam hati untuk memberikan yang terbaik demi Shi-chan seharian ini.

Kalau sudah diputuskan begitu, ada hal yang harus kulakukan terlebih dahulu.

Barang yang dibutuhkan untuk menginap, pakaian ganti, sikat gigi, lalu apa lagi ya?

Setelah menyusun barang yang dibutuhkan, untuk sementara lebih baik aku pulang sebentar ke rumah untuk mengelompokkannya, lalu sekalian mandi di sana. Meninggalkan Shi-chan yang sedang sakit sendirian memang mengkhawatirkan, tapi untungnya kondisinya sudah membaik, jadi aku bakal bergegas kembali secepatnya.

"...A-ah, Tak-kun. Anu..."

Melihatku yang sedang menyusun rencana setelah ini, Shi-chan memanggilku dengan nada yang agak canggung.

" Anu... bisakah kamu coba membuka laci paling bawah dari lemari pakaian di sebelah sana?"

"Lemari pakaian yang itu? Iya, paham."

Apakah ada barang yang dibutuhkan di dalam sana?

Mengikuti petunjuknya, aku mengulurkan tangan menuju laci paling bawah dari lemari pakaian itu, namun tanganku mendadak berhenti total.

──Tidak, tunggu dulu... ini beneran tidak apa-apa kalau kubuka?

Lemari pakaian, ditambah reaksi Shi-chan tadi. Hal yang bisa disimpulkan dari sana adalah... jangan-jangan di dalam sini tersimpan barang yang sama dengan yang ada di Wilayah Suci tadi...?

Namun, bahkan jika memang begitu, aku tidak bisa mundur lagi. Sebab, ini adalah permintaan langsung dari Shi-chan. Pasti ada alasan yang wajar dan sehat seperti dia ingin berganti pakaian.

Sambil memantapkan tekad, aku membuka laci itu perlahan-lahan dengan hati-hati──.

Lalu di dalam sana, sama sekali tidak ada barang-barang seperti yang ada di Wilayah Suci.

Entah ini sebuah keberuntungan atau bukan, aku menghela napas lega lalu mencoba mengambil barang yang ada di dalamnya.

──Ini... baju setelan sweatshirt, kan?

Yang ada di dalam sana adalah satu setelan sweatshirt warna abu-abu yang simpel. Kalau diperhatikan lebih cermat lagi, di sana juga ada sikat gigi dan pakaian dalam laki-laki yang masih baru belum terpakai.

"Eh... ini..."

Sambil terkejut aku membentangkan setelan sweatshirt itu, ukurannya jelas terlalu besar jika untuk dipakai oleh Shi-chan.

"Sebenarnya, aku membelinya lebih awal karena berharap suatu saat nanti Tak-kun bakal datang menginap..."

Dengan malu-malu, Shi-chan menjelaskan alasan mengapa barang-barang itu berada di sana.

──Begitu ya, dia sudah menyiapkan pakaian ganti buat aku.

Melihat Shi-chan yang persiapannya terlalu matang ini, tanpa sadar aku tertawa kecil.

Aku adalah pacar Shi-chan, dan bahkan tanpa kejadian hari ini pun, suatu saat nanti pasti ada kesempatan bagiku untuk berkunjung. Tapi memikirkan fakta bahwa meskipun belum pernah sekalipun membicarakan soal menginap, dia sudah menyiapkan pakaian ganti karena berharap aku datang menginap, membuat senyumku tak bisa ditahan lagi.

"Kalau begitu, aku pakai ya. Terima kasih."

"Uuuh... jangan tertawa, dong..."

Shi-chan menyembunyikan seluruh kepalanya sampai ke dalam selimut.

Reaksiku yang malu-malu itu sungguh menggemaskan, hingga senyumku lagi- lagi mengembang tanpa bisa dicegah.

Setelah disiapkan set peralatan menginap, aku terus menemani dan merawat Shi-chan di kamar tidur agar dia bisa beristirahat.

Saat melapor lewat telepon kepada Ibu bahwa hari ini aku akan menginap, beliau berpesan agar aku merawatnya dengan baik. Sejak kejadian waktu itu, Ibu tampaknya jadi sangat menyukai Shi-chan, bahkan beliau sampai bilang tidak usah pulang sebelum Shi-chan sembuh karena takut terjadi apa-apa padanya.

Meskipun begitu, karena kami masih anak SMA, Ibu mengingatkan agar tidak bertindak melampaui batas, dan aku pun menegaskan bahwa hal seperti itu mutlak aman. Dikatakan hal seperti itu oleh orang tua sendiri rasanya benar- benar canggung...

Meskipun sempat ada percakapan canggung dengan orang tua, saat ini kami sedang menghabiskan waktu dengan santai sambil menonton TV bersama.

"Hmm? Di bawah ada sesuatu, ya?"

Saat menurunkan pandangan, aku menyadari di bawah rak TV berjejer beberapa keping disc yang tampak seperti BD (Blu-ray Disc).

"A-ah, iya. Begitulah..."

"Maaf, kamu tidak terlalu ingin ini dilihat, ya?"

Melihat Shi-chan yang membalas dengan canggung, aku langsung meminta maaf karena merasa tak enak. Lagipula sebagai manusia, wajar kalau punya satu dua hal atau rahasia yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain.

"Tidak kok, tidak apa-apa sebenarnya. Cuma agak malu saja."

"Malu?"

"Iya, itu video zaman idola dulu, kalau yang versi lama agak gimana gitu..."

Aah, begitu ya...

Kalau dilihat lebih cermat, di bagian sampul samping semuanya tertulis ' Angel Girls'. Memang aku bisa mengerti kalau melihat diri sendiri di masa lalu itu bikin malu, tapi dalam kasus Shi-chan dia tak perlu cemas.

Sebab asal tahu saja, sosok Shi-chan yang kulihat di layar TV saat baru awal debut dulu pernah membuatku terpesona. Karena itulah, di sini aku harus menyampaikannya secara tegas.

"Tidak apa-apa kok. Mau dulu atau sekarang, kamu selalu cantik."

"Feh!? ... K-kalau kamu bicara begitu... B-boleh saja sih kalau kamu mau nonton!"

Sambil bercampur rasa malu, Shi-chan menunjukkan reaksi tsundere yang cukup langka. Sambil berpikir ini adalah momen langka, aku menerima kebaikannya dan mengulurkan tangan mengambil BD tersebut.

Dari awal debut sampai pensiun, di sini sepertinya berjejer seluruh video konser live mereka. Saat kuambil satu secara acak, di sampul kemasannya terpampang foto Shi-chan zaman idola dengan sangat besar.

Idola yang ada di sampul itu kini sedang berbaring tepat di sampingku.

Padahal aku sudah sangat memahaminya, tapi tetap saja rasanya terasa sangat surreal dan tak nyata.

Karena penasaran dengan kemasan lainnya, selanjutnya aku mengambil BD yang berada di paling ujung kanan. Itu adalah video konser kelulusan (graduation live) Shiorin, dengan sampul yang memperlihatkan seluruh anggota saling berpelukan sambil meneteskan air mata.

Konser kelulusan anggota dari idola nasional. Aku teringat saat itu konsernya terus-menerus menjadi trending topic di sosmed dan berkali-kali diliput oleh TV hingga menjadi pembicaraan hangat di seluruh Jepang.

Seheboh itulah konser terakhir lima anggota Angel Girls yang menarik perhatian publik. Sosok Shiorin yang meneteskan air mata di atas panggung kembali terbayang dengan jelas di benakku──.

"Heeet-tsiiim! Hmmm, ada yang lagi membicarakanku nih? Awas ya!"

Akan tetapi, orang yang bersangkutan yang sudah pensiun dari dunia idola itu... malah sedang bersin sambil menyedot ingusnya dengan bunyi srek-srek, lalu bergumam sendiri persis seperti seorang bapak-bapak.

Karena ini di rumahnya sendiri, dia pasti tanpa sadar telah melepas kewaspadaannya secara total.

Dengan wajah yang merona merah padam seolah baru saja ketahuan melihat hal gawat, Shi-chan menoleh ke arahku dengan takut-takut.

Kesenjangan (gap) yang terlalu ekstrim itu membuatku tak sanggup menahan tawa hingga menyembur tertawa.

"...Kamu dengar?"

"Iya, aku dengar."

"Iyaaa! Jangan didengar, dooonngg!"

Bagaikan berputus asa, Shi-chan kembali menyelusup masuk ke bawah selimut.

Reaksinya yang seperti itu sungguh terasa sangat kocak, menggemaskan, dan seperti biasa selalu bertingkah mencurigakan, hingga membuatku kembali tertawa terbahak-bahak.

Meskipun sudah pensiun jadi idola, kalau Shi-chan yang sekarang bahagia, ya tidak masalah! pikirku seraya tersenyum──.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar