đŸ›Ąïž

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 4 Chapter 4 - Belajar Bersama

Hari Senin. Meskipun akhir pekan kemarin terjadi banyak hal seperti kondisi Shi-chan yang memburuk, kalau diingat-ingat kembali terasa berlalu dalam sekejap. Itu artinya akhir pekan kemarin memang sangat padat.

Seminggu yang baru kini dimulai lagi dari hari ini, tetapi sejujurnya aku agak kurang tidur sejak hari Senin. Alasannya karena semalam aku memikirkan sesuatu sampai-sampai sulit tidur.

Sebenarnya, akhir pekan kemarin kami berencana pergi membeli pair ring bersama. Akan tetapi, karena banyak hal yang terjadi di akhir pekan, pada akhirnya kami belum sempat pergi membilinya.

Mengingat hari ulang tahun Shi-chan sudah makin dekat, kalau kami tidak segera pergi membelinya, mungkin tidak akan keburu pada hari-H. Tapi, kalau soal belanja sendiri, kami bisa pergi sepulang sekolah, dan sepertinya bakal keburu.

Lantas, apa yang membuatku banyak berpikir? Itu karena aku ingin memberikan hadiah lain di luar pair ring tersebut.

Awalnya, setelah kami berdua sama-sama bingung mau membeli apa, kami memutuskan untuk membeli pair ring. Walau begitu, ini adalah hari ulang tahun Shi-chan yang pertama yang kami lewati sejak berpacaran. Berpikir betapa indahnya jika bisa memberikan kejutan lain, aku pun kembali memutar otak.

" Ah! Tak-kun, selamat pagi!"

Sambil berjalan memikirkan harus bagaimana, tanpa sadar aku sudah tiba di tempat berkumpul biasanya. Hari ini pun Shi-chan tiba lebih awal dariku. Aku membalas lambaian tangan Shi-chan yang menyambutku dengan senyuman mekar sambil melambaikan tangannya lebar-lebar.

"Selamat pagi, Shi-chan. Bagaimana keadaanmu?"

"Berkat Tak-kun, aku sudah segar bugar lagi, lho!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan mengacungkan jempolnya untuk memamerkan kesegarannya.

Hanya dengan melihat sosoknya yang penuh semangat itu saja, hatiku sudah dipenuhi rasa bahagia sejak pagi hari. Rasanya, daripada memikirkannya sendirian, saat berada bersama Shi-chan seperti inilah ide bagus akan lebih mudah bermunculan.

"Kalau begitu, ayo berangkat."

"Emm! Berangkat sekarang~!"

Bersama Shi-chan yang sudah pulih total, hari ini pun kami berjalan menuju sekolah sambil bergandengan tangan dengan mesra.

"Selamat pagi kalian berdua! Sepertinya demamnya sudah sembuh total, ya!"

"Shion-chan, bagaimana kondisi kesehatanmu?"

"Emm, aku sudah tidak apa-apa kok, terima kasih ya."

Takayuki dan Shimizu-san yang baru selesai latihan pagi masuk ke dalam kelas.

Fakta bahwa Shi-chan sempat sakit di akhir pekan kemarin hanya kami beritahukan kepada Takayuki dan Shimizu-san di sekolah. Karena keduanya sempat cemas, mereka tampak lega melihat sosok Shi-chan yang sudah berenergi kembali.

Katanya pergantian musim memang membuat tubuh gampang sakit, jadi aku juga harus menjaga kesehatan baik-baik. Sambil melamun memikirkan bahwa sebentar lagi sudah saatnya berganti ke seragam musim dingin, punggungku dicolek-colek dari belakang oleh Shi-chan yang duduk di kursi belakang.

"Hmm? Ada apa?"

"Nfufuâ™Ș Tidak ada apa-apa kok~â™Ș"

Saat aku menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada keperluan, di sana Shi-chan sudah menunggu dengan raut wajah yang merengut menggemaskan.

"Begitu, ya."

"Memang begitu kokâ™Ș"

Meskipun tidak ada keperluan khusus, Shi-chan memang dasarnya suka cari perhatian. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu, tapi bibirku sendiri tanpa sadar ikut tersenyum.

" Ah, iya. Akhir pekan kemarin kan kita belum sempat pergi belanja, kapan kita mau pergi?"

"Iya benar! Hmm, apa Tak-kun ada kerja paruh waktu hari ini?"

"Hari ini libur, kok."

"Syukurlah! Kalau begitu, ayo pergi hari ini! Ada pepatah bilang 'hal baik harus disegerakan', kan!"

Begitu tahu aku libur kerja, Shi-chan mengepalkan tangannya dengan raut penuh semangat.

Aha, hal baik harus disegerakan, ya. Memang benar, kalau ditunda-tunda terus, bisa saja salah satu dari kami sakit lagi atau terjadi hal-hal tak terduga lainnya.

Karena itu, kalau bisa pergi selagi sempat, aku juga setuju.

Dengan begitu, kami berjanji untuk langsung pergi belanja berdua sepulang sekolah hari ini.

Sepulang sekolah.

Aku membawa Shi-chan yang sedang dalam suasana hati sangat gembira ke pusat perbelanjaan (shopping mall) di depan stasiun. Sambil melihat-lihat isi toko bersama, kami berjalan menuju toko aksesoris yang menjadi tujuan utama.

Namun tempat ini adalah shopping mall yang ramai pengunjung. Tentu saja, sosok Shi-chan yang mendadak muncul langsung menyedot perhatian orang- orang di sekitarnya.

Sejak festival budaya berlalu, Shi-chan sudah tidak lagi menyamar memakai kacamata, dan sosok yang ada di sini sekarang adalah Shiorin si mantan idola nasional yang asli. Karena itu, sangat wajar jika orang-orang yang berpapasan sampai menoleh dua kali karena terkejut.

Meskipun begitu, Shi-chan sama sekali tidak menunjukkan sikap terganggu.

Seolah ingin menegaskan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa dirinya bukan lagi seorang idola melainkan gadis biasa, dia bertingkah dengan sangat alami.

Justru karena itulah, aku juga memutuskan untuk bersikap alami menyesuaikan dengan Shi-chan. Bukan sebagai penggemar idola Shiorin, melainkan sebagai pacar dari seorang gadis bernama Saegusa Shion, aku memantapkan tekad untuk menikmati kencan ini dengan percaya diri.

Sebab, inilah wujud yang diinginkan oleh Shi-chan. Tekadku itu mungkin tersampaikan padanya, karena Shi-chan yang berjalan di sampingku tersenyum menatapku dengan raut puas.

Kami tiba di toko aksesoris yang dituju.

Dari aksesoris perak bergaya keren hingga aksesoris imut untuk wanita tersedia dengan lengkap di sini, dan aku sudah membidik toko ini karena berpikir pasti bisa menemukan barang yang bagus.

Di etalase kaca depan toko berjejer berbagai desain cincin, dan kami berdua pun segera melihat-lihat.

" Ah, yang ini..."

"Hmm? Ada yang bagus?"

"Emm, yang ini imut banget."

Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke sebuah pair ring bahan perak. Tipe cincin yang jika disatukan berdua akan membentuk desain hati, dan sepertinya sangat cocok dengan selera Shi-chan.

"Kalau begitu, mau coba pakai dulu?"

"Emm, ayo!"

Begitu menemukan cincin yang menarik perhatian, kami pun masuk ke dalam toko, dan seorang pelayan toko wanita langsung menghampiri kami.

"Selamat da—eh, eeh!? Sh-Shiorin!?"

Meskipun berniat melayani pelanggan, begitu melihat sosok Shi-chan, pegawai toko itu menunjukkan keterkejutan yang sangat jelas.

Sama seperti di toko pakaian waktu itu, bagi wanita pun Shi-chan rupanya merupakan sosok idaman, sampai-sampai pegawai toko itu jadi salah tingkah.

" Anu, saya ingin melihat pair ring bentuk hati yang dipajang di etalase depan."

"I-iya! Yang di sebelah sana, ya! Mohon tunggu sebentar!"

Pegawai toko itu terburu-buru mengambilkannya, namun dari raut wajahnya tidak hanya terlihat rasa gugup, tetapi juga ada rona kegembiraan yang bercampur di sana.

Itu pasti bukan cuma kegembiraan karena bisa bertemu mantan idola nasional, melainkan juga karena dia menyadari hubungan antara aku dan Shi-chan.

Sebagai pendukung percintaan kami berdua, pegawai toko itu kelihatan sangat bersemangat. Lagipula kami memang meminta mencoba pair ring, jadi tak perlu penjelasan lebih lanjut lagi.

Begitulah, saat pair ring yang dibawakan pegawai toko itu ada di depan mata, aku mendadak merasa agak gugup. Kalau cuma melihatnya saja sih tidak terasa apa-apa, tapi saat hendak mengenakannya langsung, aku jadi kepikiran.

"Tak-kun, keluarkan tangan kirimu."

"Eh? Tangan kiri?"

Mengikuti perkataannya, aku mengulurkan tangan kiri. Lalu Shi-chan memasangkan cincin yang diterimanya dari pegawai toko ke jari manisku.

"Syukurlah, pas banget."

Sambil menatap tangan kiriku, Shi-chan tersenyum puas. Demi membalas reaksinya yang menggemaskan itu, aku pun memegang satu cincin sisanya.

"...Kalau begitu, Shi-chan juga keluarkan tangan kirinya."

"...Emm."

Ke jari manis tangan kiri Shi-chan yang diulurkan, aku memakaikan cincin di tanganku secara perlahan.

Lalu, ukurannya secara ajaib juga sangat pas untuknya, dan kami berdua saling memperlihatkan tangan kiri kami yang sudah terpasang cincin.

"Ehehe, rasanya seperti acara pernikahan, ya."

"Iya, benar."

"Kalian berdua terlihat sangat serasi sekali..."

Pegawai toko yang memperhatikan seluruh interaksi kami menangkupkan kedua tangannya seperti sedang berdoa, matanya bahkan berbinar-binar terharu.

Meskipun ada banyak pilihan cincin lainnya, tapi karena ukuran dan desain cincin ini sudah tidak ada tandingannya, kami pun memutuskan untuk membeli pair ring ini.

Illustration Karena ini kado ulang tahun satu sama lain, kami membagi pembayarannya pas setengah-setengah. Dan karena sayang kalau tidak langsung dipakai, kami membiarkan cincin itu tetap terpasang di jari saat melangkah keluar dari toko.

"Tak-kun, walaupun masih agak kepagian, selamat ulang tahun, ya!"

"Terima kasih, Shi-chan juga selamat ulang tahun."

Sambil berjalan berdampingan, kami saling mengucapkan selamat ulang tahun satu sama lain.

"Berkat cincin ini, rasanya aku bisa terus bersama Tak-kun setiap saat."

Cuma sekadar pair ring, tapi dampaknya tidak main-main.

Di LIME kami memang saling terhubung setiap hari, tetapi memiliki keterikatan yang berwujud seperti ini ternyata rasanya membahagiakan dan membuat ketagihan luar biasa.

"Mumpung sudah di luar, mau makan sesuatu dulu sebelum pulang?"

"Eh, kalau begitu aku mau hamburg!"

"Yang daging cincang kasar, kan?"

"Betul! Seperti yang diharapkan dari Tak-kun, paham banget!"

Dengan begitu, kami pun pergi makan hamburg bersama sesuai keinginan Shi- chan.

Di perjalanan menuju restoran pun, Shi-chan berkali-kali menatap cincin di jari manis tangan kirinya dengan raut wajah penuh kebahagiaan.

◇

"Soal belajar bersama, apa beneran tidak apa-apa di rumahnya Saegusa-san?"

Siang hari berikutnya. Sambil menyantap bekal makan siang bersama, Takayuki mengonfirmasi hal itu pada Shi-chan.

Sebenarnya kemarin saat makan hamburg, kami membicarakan ide mengundang Takayuki dan Shimizu-san untuk belajar bersama di rumah Shi- chan, lalu mengabari mereka lewat LIME.

Meskipun keduanya mengiyakan, bagi Takayuki yang merupakan lawan jenis dan bukan pacarnya, dia sepertinya agak sungkan apakah beneran boleh ikut berkunjung.

Kalau posisinya dibalik dan rumah yang dituju adalah rumah Shimizu-san, aku pasti bakal memikirkan hal yang sama, jadi aku sangat paham perasaan Takayuki.

"Tentu saja, tidak apa-apa kok~!"

Shi-chan membuat lingkaran besar dengan kedua tangannya, dan Takayuki pun mengangguk paham.

Dengan begitu, akhir pekan ini kami berempat seperti biasa bakal mengadakan belajar bersama.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua. Kemarin pergi beli pair ring, kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Seperti apa bentuknya?"

"Cincin biasa, kok."

Setelah urusan belajar bersama selesai, topik beralih ke pair ring yang kami beli kemarin.

Takayuki bertanya dengan rasa penasaran yang meluap, tapi ditanyai hal seperti ini oleh teman sendiri rasanya canggung banget.

Untuk menggoda diriku yang berusaha mengalihkan jawaban, Takayuki tersenyum jahil tanpa berniat menghentikan pertanyaannya.

"Tidak ada fotonya, kah?"

" Ah, kalau foto ada kok! E-etto, yang ini nih! Imut, kan?"

Bukan aku, melainkan Shi-chan yang memperlihatkan foto di ponselnya kepada Takayuki yang merengek ingin melihat foto.

Shi-chan sendiri sepertinya memang ingin memamerkan kebahagiaan itu pada seseorang. Alhasil, rasa penasaran itu menular juga ke Shimizu-san.

"Wah, bagusnya. Imut banget, ya."

"Kan? Aku pilihnya barengan sama Tak-kun, lho~"

Dua gadis itu langsung heboh membicarakan topik pair ring. Tampaknya Shimizu-san juga punya impian memiliki barang pasangan yang bisa dipakai seperti itu.

"Beneran deh, bagus banget..."

Lalu Shimizu-san melirik ke arah Takayuki sambil terus mengobrol dengan Shi- chan.

Tanpa perlu diucapkan lewat kata-kata, Takayuki yang menangkap maksud itu langsung memasang raut wajah tegang yang amat sangat jelas.

"Shion-chan, omong-omong harganya sekitar berapa?"

"Eh, yang ini? Satunya sekitar sepuluh ribu yen lebih sedikit, jadi kurasa tidak terlalu mahal, kok?"

"S-sepuluh ribu..."

Shi-chan menjawab apa adanya secara jujur.

Tapi nilai itu kan berasal dari sudut pandangku yang kerja paruh waktu dan Shi-chan yang mantan idola. Bagi anak SMA yang tidak kerja paruh waktu, sepuluh ribu yen itu tak meragukan lagi adalah uang yang sangat besar.

Buktinya, ekspresi Takayuki yang mendengar harganya makin lama makin kaku.

Kasihan Takayuki yang berniat menggodaku malah kena serangan balik yang mematikan, jadi mau tak mau aku membantunya meluruskan.

" Aku sempat melihat-lihat yang lain juga, kok. Kalau yang murah, ada yang sepasangnya di bawah sepuluh ribu yen."

" Ah, begitu ya! Syukurlah, tadi kupikir harganya lebih mahal dari dugaanku jadi bakal sulit. Terima kasih sudah memberitahu, ya."

Mendengar penjelasanku, Shimizu-san tersenyum lega. Tampaknya bagi Shimizu-san sendiri, harga di atas sepuluh ribu yen per orang sudah di luar anggaran.

Sedangkan Takayuki, dia mengatupkan kedua tangannya ke arahku dengan raut penuh rasa syukur.

Kalau sudah kapok begini, harusnya dia tidak bakal menjahiliku dengan aneh- aneh lagi, pikirku seraya tertawa melihat pasangan Takayuki dan Shimizu-san yang terasa menggemaskan ini.

Omong-omong soal Shi-chan, begitu tahu kalau bobot nilai sepuluh ribu yen bagi anak seumuran kami sungguh sangat berbeda, dia gemetaran sendirian sambil diam-diam mengeluarkan tingkah salah tingkahnya.

◇

Akhir pekan telah tiba.

Setelah berkumpul dengan Takayuki dan Shimizu-san di depan stasiun, kami membeli jajanan di minimarket lalu menuntun mereka berdua ke rumah Shi- chan.

Meski dibilang menuntun, apartemen terbaru dan terbesar di sekitar sini berada sangat dekat dari stasiun. Tanpa perlu memandu jalan secara rumit, hanya dengan menunjuk ke arah apartemen itu saja sudah cukup menjelaskan segalanya. Di hadapan gedung apartemen mewah itu, Takayuki bergumam lirih, "Seriusan...?"

Dulu aku sendiri juga sempat membayangkan orang kaya semacam apa yang tinggal di tempat ini, jadi aku sangat memahami reaksi Takayuki.

Sambil mengajak Shimizu-san yang tak kalah terkejutnya, kami melangkah masuk ke dalam apartemen.

"Kalian semua, selamat datang! Ayo, masuk, masuk!"

Bahkan sebelum kami menekan bel di depan pintu, Shi-chan sudah membukakan pintu dan menyambut kami.

Mengenakan kaos putih dan setelan hoodie warna biru dongker, penampilannya yang santai hari ini—yang jelas-jelas tidak ada niat untuk keluar rumah—terlihat cukup langka dan sangat imut.

Hanya saja, tulisan 『Ramen』 yang terpampang besar di kaosnya sungguh membuatku sangat penasaran. Soal di mana dia membeli kaos itu dan kenapa dia membelinya, bakal kutanyakan nanti saja.

Begitulah, dipandu oleh Shi-chan yang menyambut kami, kami melangkah masuk ke ruang tamu.

Meskipun aku sudah pernah ke sini seminggu yang lalu, ruang tamunya yang kelewatan luas ini tetap saja terasa luar biasa saat dilihat kembali. Takayuki dan yang lainnya juga mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu sambil menganga terperangah.

" Aku ambilkan teh dulu, kalian duduk saja, ya."

" Ah, kalau begitu aku ikut bantu juga."

Meskipun Shi-chan sendiri sebenarnya bisa, tapi tidak enak kalau membiarkannya melakukan semuanya sendiri, jadi aku menawarkan bantuan.

Melihat kami berdua, Takayuki menjahili, "Rasanya kok kalian sudah seperti suami istri saja, ya."

Tapi kalau ditanggapi satu per satu, aku yang rugi. Saat aku mengabaikannya, Shi-chan malah melemparkan senyum jahil yang menggemaskan ke arahku.

"Katanya kita seperti suami istri, lho. Harus bagaimana, ya?"

Shi-chan berbisik di telingaku dengan suara yang hanya bisa didengar olehku.

Shi-chan pasti berniat melihatku salah tingkah dan malu.

Tapi sayangnya, aku tidak akan memenuhi harapannya itu.

"Mau bagaimana lagi? Kalau Shi-chan tidak keberatan, kapan saja aku siap daftarkan pernikahan kita, kok."

Hati dan mentalku sudah siap jadi suami kapan saja. Asalkan Shi-chan menginginkannya, mau jadi suami istri atau apa pun, aku akan menyambutnya dengan lapang dada.

"Feh!? M-mushh! Jangan menggoda gitu, dong!"

Mendengar kata-kataku yang terlalu polos dan blak-blakan, wajah Shi-chan merona merah padam dalam sekejap seolah mengeluarkan efek suara pon!

Kehilangan kendali secara total dan panik kelabakan, Shi-chan yang ada di rumahnya sendiri ini tetap menunjukkan tingkah salah tingkahnya.

Reaksi Shi-chan yang malah kena serangan balik itu sungguh kocak hingga aku tak mampu menahan tawa.

Melihat Shi-chan yang memukul-mukul lenganku secara manja dengan wajah cemberut saat aku tertawa kecil, Takayuki dan Shimizu-san mengangguk paham, "Iya nih, fix suami istri."

Setelah mengobrol santai sejenak, kami segera memulai acara belajar bersama.

Masing-masing mulai mengerjakan mata pelajaran yang kurang dikuasai, dan saling mengajari bagian yang tidak dimengerti.

Bukan cuma Shi-chan, ketiga orang lainnya saat ini juga termasuk peringkat atas di sekolah, jadi begitu kami berempat berkumpul, kekurangan satu sama lain bisa langsung saling melengkapi.

Daripada belajar sendirian, saling mengajari seperti ini jauh lebih efektif.

Sebab dengan berusaha menjelaskan kepada orang lain, kita bisa menyadari bagian mana yang sebenarnya belum kita pahami.

Sesi belajar bersama berjalan sangat produktif, hingga tanpa terasa matahari sudah hampir tenggelam. Karena belajar terus-menerus sejak selepas tengah hari, kami semua meregangkan badan lebar-lebar layaknya orang yang baru menyelesaikan pekerjaan besar.

"Mungkin tidak ya... tapi di sini itu, umm, apa anggota Angel Girls lainnya juga pernah datang bermain?"

Sambil merentangkan badannya dengan nyaman, Takayuki menanyakan hal yang terlintas di pikirannya kepada Shi-chan.

Bagi kami rakyat jelata biasa, bagaimanapun juga Angel Girls adalah sosok di atas awan. Jika gadis-gadis seperti mereka pernah menghabiskan waktu di sini, tempat ini bisa dibilang sudah menjadi Tempat Suci.

Yah, kalau mau bicara soal itu, tempat ini kan pada dasarnya adalah rumah Shi- chan yang merupakan mantan anggotanya, jadi sejak awal tempat ini memang sudah menjadi Tempat Suci, sih.

Illustration "Emm, seingatku pas awal-awal baru pindah ke sini? Sekali doang sih, mereka pernah datang main ke sini bareng-bareng."

"Ooh, seriusan...? J-jadi, Chiichii juga pernah ke sini, dong...?"

Lho? Kenapa spesifik Chiichii saja...?

Saat menoleh ke arah Takayuki sambil berpikiran begitu, terlihat sosok Takayuki dengan raut wajah yang tampak agak gembira.

Dari kata-kata dan ekspresinya itu, terungkaplah fakta bahwa Takayuki sebenarnya nge-fans berat sama Chiichii.

Tapi, cuma Takayuki sendiri yang merasa penyamarannya belum terbongkar, sehingga dia mengangguk-angguk puas.

" Aduh!? A-apa-apaan sih!?"

"Tidak ada apa-apa."

Alhasil, paha Takayuki dicubit keras oleh Shimizu-san.

Kepada Takayuki yang masih bingung tak paham situasi, Shimizu-san menghela napas panjang—haah~—dengan raut wajah heran.

Interaksi mereka berdua sungguh kocak hingga aku dan Shi-chan tak mampu menahan tawa bersama. Sambil membatin bahwa mereka berdua justru yang terlihat persis seperti suami istri.

"Hari ini kita memang ada janji makan malam bareng, kan?"

Setelah bersantai sejenak, Shi-chan bangkit berdiri dan menyapa kami semua.

Kumpul-kumpul hari ini dari awal memang sudah ada janji untuk makan malam bersama, jadi kami semua berkumpul dengan niat itu.

Melihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul enam sore, pas jam makan malam. Aku sempat berpikir alurnya bakal pergi makan ke restoran

keluarga terdekat, tapi Shi-chan saling bertukar pandang dengan Shimizu-san yang ikut berdiri.

"Kalau begitu, kalian berdua duduk saja menunggunya, ya."

"Menunggu? Bukannya kita mau pergi keluar buat makan?"

"Tidak kok, hari ini aku dan Shion-chan sudah berjanji mau menyajikan masakan buat Taka-kun dan Ichijou-kun."

Shimizu-san tersenyum jahil seolah membongkar trik rahasia.

Aku dan Takayuki saling bertatap muka dengan terkejut.

Melihat Shi-chan dan Shimizu-san bertepuk tangan kegirangan seolah sukses besar, dari sana bisa ditebak kalau ini memang sudah mereka rencanakan bersama sejak awal.

Dengan begitu, hari ini alih-alih makan di luar, kami berdua bakal menyantap masakan rumahan buatan mereka berdua di rumah Shi-chan.

"Entah kenapa aku tidak terlalu paham, tapi ini mantap banget kan, Takuya?"

"Iya, beneran."

Bagi kami, ini adalah kejutan yang teramat sangat membahagiakan. Karena mereka berdua sudah bersemangat memasak, kami menerima kebaikan ini dengan penuh rasa terima kasih.

" Aku agak haus nih, mau ambil teh dulu."

" Ah, tidak apa-apa Tak-kun. Biar aku saja yang ambilkan!"

"Tidak apa-apa kok, biarkan aku ambil sendiri, ya?"

Shi-chan menunjukkan perhatiannya, tapi setelah menyampaikan alasan itu, aku pergi ke kulkas sendiri dan mengambil teh. Walau ini rumah Shi-chan, aku sendiri sudah sangat terbiasa di sini.

──Kalau dipikir-pikir, minggu lalu Shi-chan juga memasakkan makanan buatku di sini, ya...

Masakan waktu itu enak banget, dan yang paling utama adalah kostum maid- nya.

Mengingat kejadian minggu lalu, aku berbisik pelan ke arah Shi-chan yang ikut berjalan ke dapur.

" Ah, iya Shi-chan. Hari ini tidak pakai baju maid──"

"!?"

Bahkan sebelum aku selesai bicara, Shi-chan sudah mundur panik dengan gerakan gelisah.

Reaksinya itu sepenuhnya salah tingkah. Saat aku merasa puas karena mendapat reaksi persis seperti dugaanku, Shi-chan yang seolah tak puas malah melangkah mendekat.

Lalu dia berbisik pelan di telingaku dengan suara yang hanya bisa kudengar.

"...Nanti kalau kita lagi berduaan saja, aku bakal pakai baju yang jauh lebih luar biasa buat kamu."

Hanya mengucapkan itu, Shi-chan kembali melangkah menghampiri Shimizu- san.

Di hadapan kata-kata dan gesturnya itu, wajahku perlahan-lahan terasa kian mendidih panas.

──Niatnya mau menjahili, malah aku yang kena serangan balik.

Serangan cross-counter yang sangat indah dari Shi-chan. Aku dipaksa menyadari betapa tak berdayanya diriku di hadapan keimutan Shi-chan.

Berbagai hidangan masakan rumahan tertata di atas meja. Nasi putih, sup miso, telur gulung (tamagoyaki), serta pork ginger (butanokoga-yaki) dan

tumisan sayur chikuzen-ni. Semuanya kaya akan sayuran, berwarna-warni cantik, dan terlihat diperhatikan keseimbangan gizinya.

"Woaah! Semuanya kelihatan enak banget!"

Sambil menatap deretan masakan rumahan itu, Takayuki yang semangatnya berada di tingkat maksimal menari-nari kecil.

Itu bukan hal yang berlebihan, hidangan rumahan yang tidak kalah dari masakan restoran itu sungguh membangkitkan selera makanku dengan kuat.

"Kalau begitu, ayo makan sebelum dingin."

Menanggapi ajakan Shi-chan, kami duduk di posisi yang sama seperti saat belajar tadi.

Lalu setelah kami semua mengucapkan Itadakimasu bersama-sama, pertama- tama aku menyeruput sup misonya sedikit.

Kali ini menggunakan aka-dashi (miso merah), dengan isi rumput laut (wakame), lobak, tahu, dan daun bawang yang berlimpah. Kelezatan miso merah meresap sampai ke dalam bahan-bahannya, rasa hangatnya menenangkan hati dan tubuh.

Berikutnya adalah pork ginger. Yang satu ini bumbunya pas di lidah dan tidak terlalu pekat, takaran rasa asin dan gurihnya sengaja disesuaikan agar pas disantap bersama nasi. Dagingnya pasti memakai kualitas bagus. Tebal dan mantap saat dikunyah, dibalut saus manis-gurih yang kental, makin dikunyah makin menyebar kelezatan daging babi di dalam mulut. Aroma jahenya yang terasa kuat juga luar biasa enak.

Selain itu, tamagoyaki-nya tidak gosong dan empuk lembut. Jika dimakan bersama sedikit lobak parut yang diberi kucuran kecap asin di atasnya, ini benar-benar sebuah santapan mewah. Tumisan chikuzen-ni-nya pun tidak hancur saat dimasak, bumbu kuah kaldu meresap sempurna hingga membuat sumpit tak bisa berhenti bergerak.

Sembari mengagumi deretan masakan rumahan yang teramat sangat enak ini, Shi-chan yang ada di sampingku tersenyum bahagia.

"Tak-kun, enak?"

"Emm, beneran semuanya enak banget."

"Syukurlah kalau begitu. Omong-omong pork ginger-nya buatan aku, sedangkan tamagoyaki sama chikuzen-ni-nya buatan Saku-chan, lho."

Aha, pembagian tugasnya seperti itu, toh. Tapi kalau dipikir-pikir memang pas.

Itu mungkin karena aku sudah terbiasa memakan bekal masakan Shi-chan.

"Omong-omong ya, pork ginger-nya itu bumbu resep rahasia yang diajari langsung sama nenekku. Aku benar-benar membuatnya dari memarut jahe segar sendiri, lho!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan memeragakan gestur memarut jahe.

Pantas saja aroma jahenya terasa begitu kuat dan segar. Yang paling membuatku senang adalah kenyataan bahwa aku bisa menikmati cita rasa keluarga Shi-chan.

"Nee Takuya."

" Ada apa, Takayuki?"

"Kita ini pria-pria paling beruntung dan bahagia, ya..."

"Iya, beneran..."

Sambil menikmati masakan dengan lahap, aku dan Takayuki benar-benar meresapi arti kebahagiaan.

Menatap kami berdua yang seperti itu, Shi-chan dan Shimizu-san saling melempar senyum puas.

"Saku-chan, strategi kita sukses besar, ya!"

"Emm, benar sekali!"

"Strategi apa?"

"Judulnya: Strategi Menaklukkan Perut Pacar Masing-Masing!"

Menjawab pertanyaan Takayuki, Shi-chan mengacungkan jari telunjuknya sambil memberitahukan nama strategi tersebut.

"Begitu ya. Kalau begitu, kami berdua sudah berhasil ditaklukkan tanpa sisa."

"Fix, tak berkutik."

Melihat kami yang mengangguk pasrah, kedua gadis itu tertawa geli. Meja makan saat itu dipenuhi kebahagiaan, dan waktu berlalu dengan gelak tawa yang tak henti-hentinya sampai akhir.

Sebagai balasan atas makan malam yang lezat, aku dan Takayuki berbagi tugas untuk mencuci piring dan peralatan makan.

Awalnya kami berniat melanjutkan belajar bersama lagi, tapi jujur karena perut sudah kenyang dan malas belajar, alur percakapan malah membawa kami untuk menonton BD Angel Girls bersama-sama.

Menggantikan Shi-chan yang sedang menyiapkan teh untuk semuanya, aku pergi ke kamar tidur untuk mengambil BD tersebut.

Saat menyalakan lampu kamar tidur, di sana terhampar pemandangan kamar yang sama persis seperti minggu lalu.

──Minggu lalu di sini aku tidur bareng dengannya, ya...

Ingatan minggu lalu mendadak membayang kembali. Di tempat tidur itu aku dan Shi-chan...

Sambil berpikir begitu saat mengarahkan pandangan ke tempat tidur, aku menyadari ada sesuatu yang ditaruh di dekat bantal.

──Hmm? Itu kan setelan sweatshirt yang kupakai kemarin...?

Meskipun terlipat rapi, kenapa barang seperti itu ada di dekat bantal...?

Brak! Sret-sret-sret! Kring!

"T-Tak-kun!?"

Tiba-tiba Shi-chan berlari panik masuk ke kamar tidur. Sosoknya sepenuhnya salah tingkah, seakan-akan panik karena ada sesuatu yang tidak ingin kulihat.

"A-ada apa!?"

"Bukan begitu maksudnya!"

'Bukan begitu' apanya!?

Meskipun aku tidak paham, dari caranya mencuri-curi pandang ke arah setelan sweatshirt itu, bisa ditebak kalau ada hubungannya dengan pakaian itu.

"Etto, apanya yang bukan begitu?"

"Itu, umm... iya! Aku kan orangnya agak ceroboh, tadinya mau kucuci tapi akhirnya lupa sampai hari ini!"

Dengan wajah pucat, Shi-chan mengutarakan alasan misterius secara panik.

Dari perkataannya, sudah pasti ada apa-apa dengan sweatshirt itu.

──Eh, tunggu, berarti pakaian itu belum dicuci sama sekali sejak kemarin...?

Mendengar fakta mengejutkan itu, wajahku ikut-ikutan pucat. Baju itu kan dipakai tidur dan kena keringat, kalau ditaruh di dekat bantal bukannya bahaya banget dari berbagai sisi...!

"K-kenapa barang seperti itu ada di dekat bantal!?"

"I-itu karena bagaimanapun... iya, itu dia!"

"Itu dia?"

"S-supaya pas bangun tidur bisa langsung kucuci, makanya kutaruh di tempat yang gampang kelihatan!"

Sambil mengeluarkan mode salah tingkah maksimalnya setelah sekian lama, Shi-chan menjelaskan alasan mengapa sweatshirt itu ditaruh di dekat bantal.

Aha, jadi karena itu sweatshirt-nya ditaruh di dekat bantal... tentu saja aku tidak bakal percaya alasan seperti itu. Kalau alasannya begitu, alih-alih ditaruh di dekat bantal, harusnya ditaruh di dalam mesin cuci sejak awal. Lagipula itu tidak menjelaskan kenapa sampai lewat seminggu belum dicuci juga.

Yah, anggap saja soal sweatshirt ditaruh di dekat bantal itu bukan masalah besar. Tapi yang membuatku penasaran adalah alasan kenapa dia sampai salah tingkah separah ini.

"Makanya tidak apa-apa kok! Tenang saja!"

"T-tenang?"

"Iya! Aku sama sekali tidak menjadikannya guling lalu mencium aromanya setiap malam, sungguh demi apa pun tidak melakukan hal itu!"

Sambil mengacungkan tangan kanannya dengan sigap, Shi-chan bersumpah padaku.

Shi-chan yang berkepribadian jujur dan lurus memang pada dasarnya tidak pandai berbohong. Momen ini jelas-jelas dia melakukan bunuh diri, tapi melihat usahanya yang gigih mencari alasan, untuk saat ini aku memutuskan untuk tidak menginterogasinya lebih dalam.

" Aku paham kok. Soal itu tidak masalah."

"Feh? B-boleh!?"

"Yah, umm. Kalau Shi-chan memang ingin memelukku sampai segitunya, kapan saja aku siap memelukmu seperti ini kok."

Sambil berkata begitu, aku memeluk Shi-chan yang sedang salah tingkah dengan lembut untuk menenangkannya. Sambil memancarkan perasaan bahwa alih-alih sweatshirt dingin itu, aku akan selalu ada di sisinya kapan saja──.

"...B-begitu ya. Ehehe, Tak-kun hangat banget."

Perasaanku tersampaikan, dan Shi-chan membalas memelukku erat-erat dengan raut lega.

"Kalau begitu, barang yang itu sudah tidak dibutuhkan lagi, kan?"

"Berarti beneran kamu jadikan guling, ya?"

" Ah... i-iya, benar. Aku jadikan guling, maaf ya..."

Begitu melonggarkan kewaspadaannya, Shi-chan dengan gampangnya keleposan bicara.

Pada akhirnya tetap tidak bisa berbohong, Shi-chan yang agak ceroboh seperti ini sungguh menggemaskan.

Kami kembali ke ruang tamu dan menonton BD Angel Girls bersama-sama.

Di seberang layar, seluruh anggota Angel Girls bernyanyi dan menari. Di antara mereka ada Shi-chan di masa-masa masih menjadi idola, dan sosoknya sungguh merupakan wujud idola papan atas yang sempurna.

Idola di seberang layar itu kini sedang memeluk lenganku di sampingku...

situasi ini rasanya sampai kapan pun aku tidak akan pernah terbiasa.

Sambil menonton BD, kali ini pun Shi-chan menceritakan rahasia-rahasia di balik layar konser. Megumin yang dengan percaya diri salah gerakan tari, Chiichii yang hampir jatuh, serta Miyamiya yang lagi-lagi malas menyanyi dan malah mengarahkan mikrofon ke penonton.

Kisah-kisah di balik layar yang hanya diketahui oleh orang dalam itu sangat seru, hingga gadis-gadis yang tadinya terasa bagai sosok di atas awan kini terasa makin dekat.

Omong-omong soal Takayuki, setiap kali sosok Chiichii muncul di layar, matanya mendelik mengikuti dengan sangat jelas, dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Shimizu-san menatapnya dengan pandangan dingin.

Kalau dilihat-lihat, Chiichii dan Shimizu-san sama-sama gadis mungil yang cantik, aku jadi mengerti kalau tipe idaman Takayuki adalah gadis-gadis tipe seperti ini.

Begitulah, setelah menikmati konser live Angel Girls, karena hari sudah malam akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

"Tak-kun, terima kasih untuk hari ini ya! Omong-omong, besok kamu ada acara tidak...?"

"Besok? Etto, besok aku ada shift kerja paruh waktu, sih."

"B-begitu ya! Kalau begitu mau bagaimana lagi, aku paham kok!"

Saat kuberitahu ada kerja paruh waktu, Shi-chan mengalah dengan mudah.

Tapi raut wajahnya kelihatan agak kecewa, dan berpikir pasti ada sesuatu yang ingin disampaikannya, aku menambahkan perkataanku.

"Tapi besok aku bisa pulang lebih awal, jadi setelah selesai kerja aku ada waktu kok."

"Eh? B-beneran!?"

"Iya, jadi kalau mulai dari sore atau malam tidak apa-apa..."

"Tidak apa-apa! Kalau begitu Tak-kun, setelah kerja bisakah kamu datang ke rumahku lagi?"

"Boleh kok."

Awalnya aku sempat ragu karena takut waktunya kemalaman, tapi Shi-chan sepertinya tidak keberatan dengan hal itu sehingga aku merasa lega.

Melihatnya tersenyum bahagia, pasti ada sesuatu yang disiapkannya.

Dengan begitu, setelah mendapat hal yang dinantikan untuk esok hari, kumpul-kumpul hari ini pun dibubarkan.

◇

Keesokan harinya.

Setelah menyelesaikan suatu urusan di pagi hari, aku bekerja paruh waktu seperti biasanya. Seperti biasa bekerja memang tidak mudah, tapi hanya dengan membayangkan bakal bertemu Shi-chan setelah ini, energiku langsung meluap-luap.

Berkat hal itu aku bekerja jauh lebih bersemangat dari biasanya, hingga saat hendak pulang aku mendapat pujian dari Manajer Toko.

Ini pasti berkat kekuatan cinta, batinku setuju sendirian, lalu mengabari Shi- chan lewat LIME bahwa kerja paruh waktuku sudah selesai.

Balasan 『Aku tunggu ya』 langsung tiba saat itu juga, jadi setelah keluar minimarket aku langsung melangkah menuju rumah Shi-chan. Padahal baru saja kemarin kami bertemu, tapi langkah kakiku secara alami terasa begitu ringan dan ceria.

Selain rasa bahagia karena bisa bertemu dengannya, sebenarnya ada satu alasan lain.

" Ah, Tak-kun selamat datang!"

"Permisi."

Shi-chan membukakan pintu dan menyambutku.

Kemarin dia mengenakan pakaian santai, tapi hari ini sepertinya dia habis pergi ke suatu tempat sehingga tampil rapi berbusana modis bahkan di dalam rumah.

Lalu hari ini, alih-alih diajak ke ruang tamu tempat kami belajar kemarin, aku dituntun menuju ke kamar tidur.

Ini adalah ketiga kalinya aku masuk ke kamar tidur Shi-chan.

Aku menyadari ada sebuah kotak warna putih yang ditaruh di atas meja lesehan.

" Aku mau merayakan ulang tahun kita berdua, jadi aku membelikan kue!

Karena itu, hari ini ada kejutan dariku!"

Sambil berkata begitu, Shi-chan membuka tutup kotak yang ada di atas meja.

Di dalamnya terdapat sebuah whole cake berukuran agak kecil.

" Ayo, Tak-kun duduk di sini!"

Duduk di samping Shi-chan yang melambaikan tangan mengisyaratkan aku duduk, aku menatap kue itu sekali lagi.

Di atas papan cokelat tertera tulisan 『HAPPY BIRTHDAY Takuya & Shion』.

Fakta bahwa dia menyiapkan kejutan seperti ini, dan yang paling utama adalah kami bisa saling merayakan ulang tahun berdua seperti ini membuatku sangat bahagia.

Menancapkan lilin sebanyak usia kami... tentu saja bakal terlalu banyak, jadi kami menancapkan empat buah lilin lalu menyalakannya.

"Kalau begitu, hitungan ketiga ya?"

"Kapan saja siap."

"Satu, dua, tiga!"

Mengikuti aba-aba kami berdua meniup lilin bersama-sama, lalu saling mengucapkan selamat ulang tahun sekali lagi.

Dengan begitu kejutan dari Shi-chan sukses besar, dan sisanya kami tinggal menikmati kue bersama sambil bersantai.

──Memang benar, pikiran kita berdua selalu sama.

Sambil tersenyum paham akan hal itu, aku membuka tas yang kubawa. Lalu dari dalam tas, aku mengeluarkan sebuah kotak bungkusan hadiah dan menghadap ke arah Shi-chan.

"Kalau begitu, dariku juga ada kejutan. Shi-chan, sekali lagi selamat ulang tahun ya."

Bersamaan dengan kata-kata itu, aku menyerahkan kotak hadiah di tanganku kepada Shi-chan.

"Eh, buat aku...?"

"Iya, coba buka."

Meskipun terkejut, Shi-chan membuka bungkusan kotak itu sesuai perkataanku.

"Ini, lip gloss... sama tiket ke akuarium?"

"Iya, kalau cuma memberi kado secara sepihak aku takut bikin kamu tak enak hati, jadi kalau tiket akuarium kan kita bisa pergi jalan-jalan bareng. Yah, pada akhirnya aku beli lip gloss-nya juga sih, soalnya rasanya bakal cocok banget buat Shi-chan."

Selama ini aku terus pusing memikirkan kado apa yang bagus, tapi saat tak sengaja melihat tayangan akuarium di TV aku merasa 'ini dia!', lalu menyiapkannya tadi pagi. Kalau ini kan kami bisa menikmatinya bersama, dan aku bisa membayangkan betapa bahagianya Shi-chan nanti.

"Terima kasih! Tak-kun, aku sayang banget sama kamu!"

"Sama-sama."

Dengan senyuman penuh di wajahnya, Shi-chan menunjukkan rasa bahagianya.

Dengan begitu kejutan dariku juga sukses besar, dan kami kembali menikmati kue sambil menghabiskan waktu dengan santai.

Namun selama itu pun, Shi-chan berkali-kali menatap lip gloss dan tiket kado dariku dengan raut gembira, dan reaksinya yang polos mudah ditebak itu terasa menggemaskan hingga hatiku dipenuhi kebahagiaan.

"Tak-kun, nih! Buka mulutnya, 'aahn'!"

" Aahn."

Membuka mulut sesuai perintahnya, Shi-chan menyuapiku potongan kue menggunakan garpunya.

Rasa kue yang disuapkan itu, padahal kue yang sama, rasanya jauh lebih manis, segar, dan dipenuhi kebahagiaan dibandingkan yang kumakan sendiri tadi.

Selesai menyantap kue, perut dan hatiku merasa sangat kenyang dan puas.

Setelah itu tanpa melakukan hal yang muluk-muluk, aku menghabiskan waktu bersama Shi-chan sambil menonton TV.

Harusnya ini sudah lewat dari jam pulangku, tapi aku masih bertahan di rumah Shi-chan.

Sebab, hari ini adalah tanggal sebelas──artinya begitu berganti hari esok, adalah hari ulang tahun Shi-chan yang sesungguhnya.

Tanpa perlu diucapkan lewat kata-kata, Shi-chan pasti sudah memahaminya.

Dengan raut lega, dia menempel rapat di sampingku dan tidak mau lepas.

Dan akhirnya, jarum jam menunjuk tepat ke angka dua belas malam──.

"Shi-chan, selamat ulang tahun, ya."

"Emm, terima kasih."

Bersandar rapat di sampingku, Shi-chan memasang senyum penuh kebahagiaan.

Seakan saling tertarik satu sama lain, kami menempelkan bibir kami perlahan──.

"...Ehehe, berikutnya giliran Tak-kun, ya."

" Ahaha, iya benar juga."

Membayangkan berikutnya adalah giliranku, aku yang tidak terbiasa dirayakan begini jadi merasa malu.

Tapi menerima perasaan Shi-chan secara jujur juga merupakan tugas seorang pacar. Sama seperti aku yang ingin merayakannya hari ini, jika Shi-chan merasakan hal yang sama, tentu tidak adil jika aku tidak menerimanya secara jujur.

"Eitt!"

Seakan meluapkan emosinya, Shi-chan memelukku erat-erat.

"Boleh aku begini tiga puluh menit lagi?"

"Boleh kok, jangankan tiga puluh menit, sesukamu saja."

"Beneran? Nanti bisa-bisa sampai pagi, lho?"

"Emm, kalau begitu aku sih senang, tapi mungkin bakal agak kerepotan juga, ya."

"Ehehe, aku tahu kok! Cuma bercanda~â™Ș"

Terseret oleh Shi-chan yang tertawa geli, aku ikut-ikutan tertawa bersama.

Begitulah selagi waktu mengizinkan, percakapan kami berdua mekar membicarakan hal-hal yang ingin kami lakukan bersama ke depannya.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar