Volume 4 Chapter 1 – Sepupu
Tiga puluh September.
Tak terasa, hari ini bulan September sudah hampir berakhir. Artinya, mulai besok kami akan memasuki bulan Oktober. Dan itu berarti... bulan ulang tahunnya Shi-chan.
Seperti yang tertera pada ID LIME miliknya, ulang tahun Shi-chan jatuh pada tanggal dua belas Oktober. Mengingat ulang tahunnya tinggal setengah bulan lagi, aku berpikir harus segera menyiapkan hadiah. Tapi sampai sekarang, aku masih kebingungan harus memberinya hadiah apa.
Kalau dipikir-pikir, aku baru menyadari kalau aku belum terlalu tahu tentang hobi atau hal-hal yang diinginkan oleh Shi-chan. Dengan kata lain, ini adalah bukti kalau aku masih belum cukup memahami dirinya. Baru menyadari hal semacam ini saat harus memikirkan kado ulang tahun... aku benar-benar pacar yang payah.
Namun, hanya merenung dan menyesali diri saat ini tidak akan mengubah apa pun. Hal-hal seperti ini hanya bisa diperbaiki mulai dari saat kita menyadarinya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk memulainya dengan mencoba lebih mengenal Shi-chan terlebih dahulu.
Pikon──.
Tepat saat itu, sebuah pesan LIME dari Shi-chan masuk.
『Aku pulang! Aku sudah selesai belanja dan baru sampai rumah! 』 Beberapa puluh menit yang lalu, Shi-chan memang sempat bilang kalau dia mau pergi belanja bahan makanan. Sejak berpacaran, saling memberi kabar tentang apa yang sedang kami lakukan melalui LIME seperti ini sudah menjadi rutinitas harian kami.
Dengan begini, kami bisa tetap merasa dekat satu sama lain meskipun sedang tidak bertemu. Mengetahui apa yang sedang dilakukan Shi-chan saat ini juga memberikan rasa tenang tersendiri bagiku.
Mungkin aku terkesan berlebihan, tapi bagaimanapun juga, Shi-chan adalah seorang mantan idola nasional. Dia adalah sosok idaman bagi cowok-cowok seumuran kami, seorang publik figur yang mana hal apa pun tidak akan mengherankan jika terjadi padanya kapan saja.
Karena itulah aku tidak bisa santai begitu saja, dan kalau terus dipikirkan, pikiran-pikiran negatif akan terus bermunculan tanpa henti.
Namun, memikirkan hal itu terus-menerus adalah hal yang sia-sia dan tidak berguna. Lagipula, alasanku berpikiran negatif adalah karena aku sendiri kurang percaya diri. Justru karena itulah, aku makin yakin bahwa aku harus menjadi sosok laki-laki yang pantas untuk Shi-chan.
Bukan berarti karena kami sudah berpacaran lalu semuanya selesai dan aman.
Justru karena sudah berpacaran, aku harus menjadi sosok laki-laki yang pantas untuknya.
Namun, itu saja ternyata belum cukup. Aku terlalu terpaku pada ketidaksempurnaanku sendiri, sampai-sampai lupa mengarahkan perhatianku pada Shi-chan sendiri.
Sambil merenungi diriku yang malah bertindak tumpang tindih seperti itu, aku pun mencoba bertanya pada Shi-chan.
" Aku pulang! Ngomong-ngomong, Shi-chan biasanya melakukan apa kalau lagi di rumah?"
Pertama-tama, aku mencoba bertanya secara santai tentang kegiatannya di rumah. Tak butuh waktu lama, balasan dari Shi-chan pun tiba.
"Hmm, chatan LIME sama Tak-kun, membaca buku, lalu chatan LIME lagi sama Tak-kun?"
Entah kenapa dia menyebutkan hal yang sama dua kali, tapi yang jelas aku sudah mendapatkan satu petunjuk penting: "buku". Bagus, ini awal yang baik.
" Aku juga senang kok chatan LIME sama Shi-chan! Ngomong-ngomong soal buku, biasanya buku seperti apa yang kamu baca?"
Kali ini aku mencoba menanyakan genrenya secara halus. Jika terus mendalami topik ini, aku pasti bisa menemukan petunjuk tentang apa yang dia inginkan.
"Buku biasa kok!"
Akan tetapi, balasan yang datang sungguh di luar dugaan.
Buku biasa... itu maksudnya apa?
Buku kan ada banyak jenisnya, dan fakta bahwa ada sedikit jeda sebelum balasannya sampai juga agak mengusik pikiranku. Ya, mungkin saja dia tadi sedang ke kamar mandi atau melakukan hal lain.
"Daripada itu, Tak-kun! Hari ini mulai jam delapan malam Akarin itu, lho──"
Lalu pesan LIME berikutnya terkirim seolah-olah dia sengaja mengalihkan pembicaraan. Pada akhirnya, hari itu pun berakhir tanpa aku bisa mendapatkan petunjuk mengenai hadiah yang diinginkan Shi-chan.
◇
Hari berikutnya.
Saat aku menuju ke tempat berkumpul biasanya di depan stasiun, hari ini pun Shi-chan sudah tiba lebih dulu dan menungguku.
"Selamat pagi, Tak-kun!"
Begitu menyadari keberadaanku, dia melambaikan tangannya dengan gembira disertai senyuman yang merekah penuh. Di hadapan senyuman polos itu, perasaanku pun langsung dipenuhi kebahagiaan sejak pagi hari.
"Selamat pagi, Shi-chan. Hari ini kamu cantik juga, ya."
Karena ingin menyampaikan rasa bahagia ini, aku mencoba mengutarakan apa yang ada di pikiranku secara jujur. Shi-chan pun mengulas senyum malu-malu.
"Feh!? M-masa sih!? Terima kasih! Ehehe..."
Kalau boleh jujur, Shi-chan ini jangan-jangan beneran malaikat, ya? Tidak, bukan 'jangan-jangan', tapi memang sudah pasti begitu. Dengan keyakinan itu di dalam dada, hari ini pun aku menggandeng sang malaikat dan berjalan bersama menuju sekolah.
" Ah, hari ini ada pelajaran olahraga, ya!"
"Iya. Cowok main sepak bola, tapi kalau cewek apa, ya?"
"Basket! Aku tidak terlalu jago, jadi kalau bisa mahir seperti Yamamoto-kun pasti bagus banget, ya!"
Sambil berkata begitu, Shi-chan memperagakan gerakan menembak bola basket (shoot) dengan tangannya yang bebas. Dengan kemampuan atletis Shi- chan yang luar biasa, dia pasti bisa bermain basket dengan mahir juga.
Wujudnya saat melewati lawan secara anggun dengan dribble bisa kubayangkan dengan sangat mudah.
Seperti yang diharapkan dari Shi-chan. Singkat kata: Sasushi—Sangat Luar Biasa Shi-chan.
Akan tetapi, meskipun obrolan kami menyenangkan, aku tetap kesulitan untuk membawa percakapan ke topik hadiah ulang tahun. Semakin dipikirkan, makin sulit rasanya untuk mengangkat topik tersebut, berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatiku...
"A-anu, ngomong-ngomong... Tak-kun sendiri... ada barang yang lagi kamu pengin, tidak?"
"Eh, kenapa tiba-tiba!?"
Aku terperanjat sampai tanpa sadar meninggikan suara. Sungguh tak disangka, kata-kata yang baru saja ingin kutanyakan malah dilontarkan lebih dulu oleh Shi-chan.
Melihat reaksiku yang terkejut oleh perkembangan tak terduga ini, entah kenapa Shi-chan juga mendadak bertingkah mencurigakan dan gelisah.
Namun, ini mungkin justru kesempatan bagus. Shi-chan sendiri yang mengangkat topik yang paling ingin kuketahui. Sambil merencanakan cara agar percakapan ini berjalan lancar, aku memutuskan untuk menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
──Barang yang kupengin, ya... Sebenarnya tidak ada, sih.
Selama ini aku cuma memikirkan barang yang diinginkan Shi-chan, jadi saat ditanya balik, tidak ada satu pun yang terlintas di benakku. Kalau dipikir-pikir, seumur hidup aku memang tidak punya hobi yang spesifik. Karena itulah kamarku hampir tidak punya banyak barang, dan barang yang bertambah belakangan ini paling cuma pakaian yang kubeli dan merchandise Angel Girls.
──Berarti, hobiku sekarang adalah Angel Girls?
Hal itu memang tidak bisa dibantah, dan orang yang ada di depanku adalah Shiorin sendiri. Jika aku menjawab ingin merchandise Shiorin di sini, mungkin aku bisa mendapatkan merchandise yang bahkan lebih langka daripada yang ada di toko goods idola waktu itu. Tapi, aku tidak berpacaran dengannya demi mengincar hal seperti itu, dan rasanya kurang pas kalau memberikan jawaban seperti itu, jadi kugugurkan saja ide tersebut.
"Maaf ya, sepertinya tidak ada yang langsung terlintas di pikiranku."
"K-kalau begitu! Coba pikirkan barang yang kamu pengin, ya?"
Melihatku yang kebingungan, Shi-chan memberikanku tenggat waktu.
"Soalnya, sebentar lagi kan hari ulang tahunnya Tak-kun!"
Lalu Shi-chan memberitahuku alasan di balik pertanyaannya tadi.
Ulang tahunku jatuh pada tanggal lima belas Oktober, tiga hari setelah ulang tahun Shi-chan. Bukannya aku lupa, tapi karena terlalu fokus ingin merayakannya, pikiran bahwa aku juga orang yang akan dirayakan sama sekali menguap dari kepalaku.
Pada akhirnya, ini juga merupakan bukti bahwa meskipun aku berniat memikirkannya, aku masih belum memahami perasaan dan pikiran kekasihku sendiri.
Sambil menyadari kekuranganku itu, aku pun membalas, "Kalau dipikir-pikir, iya juga ya... E-anu, kalau Shi-chan sendiri, ada barang yang kamu pengin?"
"Feh?"
Mendengar pertanyaan balik dariku, mata Shi-chan membulat polos karena terkejut. Dari reaksinya, aku bisa menebak kalau dia mungkin merasakan hal yang sama denganku.
Shi-chan meletakkan jarinya di dagu, wajahnya berganti-ganti ekspresi saat dia berusaha keras memikirkan barang yang diinginkannya. Namun, sepertinya tidak ada yang muncul di pikirannya, hingga akhirnya dia menatapku dengan wajah kebingungan.
Sosoknya saat itu persis seperti melihat cermin dari diriku sendiri beberapa saat yang lalu.
Kami berdua sama-sama hanya memikirkan pasangan dan mengesampingkan diri sendiri. Menyadari bahwa kami berdua adalah orang yang mirip dan meredam kebingungan pada hal yang sama, membuatku ingin tertawa.
"Kalau begitu, Shi-chan juga pikirkan barang yang dipengin, ya? Soalnya sebentar lagi kan ulang tahunnya Shi-chan."
Oleh karena itu, aku mengembalikan kata-kata yang sama yang diucapkan Shi- chan tadi.
Mendengar itu, Shi-chan tersenyum geli dan mengangguk, "Baiklah."
Interaksi seperti itu terasa lucu bagiku, dan pada akhirnya kami berdua tertawa terbahak-bahak sejak pagi hari sambil berjalan menuju sekolah bersama-sama.
"Yo! Selamat pagi kalian berdua!"
"Shion-chan, Ichijou-kun, selamat pagi!"
Saat kami sedang duduk di kursi, Takayuki dan Shimizu-san yang datang terlambat ke kelas menyapa kami di pagi hari. Seperti biasa, Takayuki tampaknya baru selesai latihan pagi, sedangkan Shimizu-san pada dasarnya adalah manajer klub basket. Aku pun saling bertukar sapaan pagi dengan dua orang yang selalu akrab tersebut.
"Hari ini sudah masuk bulan Oktober, ya. Ah, ulang tahunnya Shion-chan juga sebentar lagi, kan?"
" Ah, iya! Sebenarnya begitu!"
Rupanya Shimizu-san juga mengingat hari ulang tahun Shi-chan. Sedangkan Shi-chan, ketika topik beralih ke dirinya, dia tampak agak malu-malu dan memasang senyum canggung.
"Eh, benarkah? Kalau begitu, kita harus merayakannya, dong."
"Tidak usah, tidak usah! Perhatian kalian saja sudah lebih dari cukup!"
"Kalau begitu, kami yang tidak enak hati. Paling tidak mari kita makan-makan bersama."
"Hmm... Baiklah kalau begitu, terima kasih ya."
Atas ajakan Shimizu-san, Shi-chan akhirnya mengalah dan mengangguk. Aku mengerti perasaannya yang tidak ingin menyusahkan orang lain, tapi di saat seperti ini, dibiarkan dirayakan juga merupakan sebuah tugas. Aku mengangguk paham sambil memperhatikan keakraban kedua gadis tersebut.
"Omong-omong soal ulang tahun, Takuya juga sebentar lagi ulang tahun, kan?"
"Eh? Aku tidak usah dipikirkan, kok."
"Jangan begitu, dong. Di saat seperti ini, dirayakan itu juga bagian dari tugasmu, tahu!"
"Ghh...!"
Mendengar ucapan Takayuki, aku benar-benar bungkam tak bisa membantah.
Tak kusangka topik ulang tahunku juga akan diangkat di sini.
"Benar itu, Ichijou-kun juga harus kita rayakan, ya?"
" Aku juga mau merayakan!"
Shimizu-san dan Shi-chan ikut-ikutan masuk ke dalam topik ulang tahunku.
Kalau sudah begini, tugasku adalah menerima perayaan tersebut dengan lapang dada.
Meskipun merasa malu dan agak tidak enak hati, aku menyampaikan rasa terima kasihku, " Aku akan menantikannya."
◇
Pelajaran hari ini pun usai, dan tiba waktunya untuk pulang sekolah.
Selama jam pelajaran, aku terus-menerus memikirkan kado untuk Shi-chan.
Aku sempat berpikir memberikan sesuatu yang bisa dikenakan, tapi aku sudah pernah memberinya jam tangan. Ada jenis perhiasan lain, sih, tapi kalau setiap saat memberi aksesoris rasanya agak... membuatku ragu.
Apalagi kali ini adalah ulang tahun Shi-chan yang sangat berharga. Perayaan ulang tahun pertama kami, kalau bisa aku ingin memberikan sesuatu yang benar-benar bisa menjadi kenangan.
Namun, karena terlalu banyak syarat yang kupasang sendiri, pilihan kadonya justru menjadi semakin sempit.
"Tak-kun, sudah memutuskan mau barang apa?"
Dalam perjalanan pulang, Shi-chan yang berjalan di sampingku bertanya dengan antusias.
Aku yang tadi terlalu sibuk memikirkan kado untuk Shi-chan sampai-sampai belum sempat memikirkan diriku sendiri, menggelengkan kepala dengan perasaan bersalah.
"Maaf, aku masih belum bisa memutuskan. Kalau Shi-chan bagaimana?"
"Tidak apa-apa, kok. Sebenarnya aku juga belum memutuskan."
Sambil berkata begitu, Shi-chan juga menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang tak kalah merasa bersalah.
" Aku cuma memikirkan barang yang sekiranya disukai Tak-kun, sampai-sampai belum memikirkan barang yang kuinginkan sendiri."
Lalu Shi-chan memberitahukan alasannya dengan canggung.
Alasannya benar-benar sama persis, kami berdua memang sangat mirip.
Meskipun tahu di dalam kepala, kami tetap saja mendahulukan pasangan daripada diri sendiri. Kalau keadaannya dibalik, mungkin sekarang kado kami berdua sudah terpilih. Memikirkan betapa tidak efisiennya hal ini membuatku agak ingin tertawa.
" Aku juga sama. Aku terus memikirkan tentang Shi-chan sampai-sampai mengesampingkan diriku sendiri."
"Begitu, ya. Berarti kita sama dong, ya."
Mendengar itu, Shi-chan pun ikut tertawa geli.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli barang yang sama saja?"
"Barang yang sama?"
"Iya, misalnya... cincin pasangan (pair ring), begitu?"
Dengan malu-malu, Shi-chan meremas-remas jarinya sendiri sambil menatapku dari bawah dengan pandangan memohon.
Aha, cincin pasangan, ya...
Tadi aku sempat ragu tentang aksesoris, tapi kalau bisa memakai barang yang sama dengan Shi-chan, itu sih bisa dibilang kebahagiaan yang kelewatan batas.
Bukan cuma boleh, tapi sangat-sangat boleh!
"Bagus tuh, cincin pasangan. Jadi, kita putuskan itu saja, ya?"
"Boleh! Boleh banget! Aku mau punya barang yang samaan dengan Tak-kun!"
Saat kukonfirmasi, matanya berbinar-binar cerah saat dia menjawab dengan antusias. Tampaknya bagi Shi-chan sendiri, ide ini juga sangat boleh.
"Kalau begitu, akhir pekan ini kita pergi beli bareng, ya."
"Iya! Ayo pergi! Tak-kun, aku sayang banget sama kamu!"
Padahal baru memutuskan untuk pergi membeli, Shi-chan sudah memeluk lenganku dengan gembira.
Dengan begitu, kami pun berjanji untuk pergi keluar bersama pada akhir pekan nanti untuk membeli kado ulang tahun satu sama lain.
◇
Hal itu terjadi pada suatu hari kerja yang biasa.
Setelah pulang sekolah dan sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja paruh waktu di kamar, hal itu terjadi.
Pintu kamar mendadak dibuka tanpa mengetuk terlebih dahulu, lalu seorang sosok masuk ke dalam kamarku seolah-olah itu adalah hal yang wajar──.
"Sudah agak lama juga ya tidak main ke kamar ini~"
Bukan anggota keluarga, tapi sosok yang sudah seperti keluarga sendiri yang masuk ke kamarku tanpa canggung──kakak sepupuku yang kupanggil Aya- nee, alias Ayane-san, tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Dia adalah putri tunggal dari kakak perempuan ibuku. Usianya empat tahun lebih tua dariku dan sekarang duduk di tingkat dua perguruan tinggi. Rambut cokelat bergelombang panjangnya sangat cocok dengannya. Alih-alih imut, penampilannya lebih cenderung ke arah cantik dan rupawan.
Meskipun orang Jepang asli, lekuk wajahnya sangat tegas dan rapi hingga sering dikira berdarah campuran. Kakinya jenjang dengan postur layaknya model, bahkan di festival kampus tahun lalu saat masih tingkat satu, dia berhasil menjuarai kontes miss campus dan sangat terkenal sebagai seorang wanita cantik.
Bisa dibilang, tidak ada orang seumuran di daerah ini yang tidak mengenalnya, sampai-sampai dulu ada banyak orang yang mencoba menghubungi Aya-nee lewat diriku sebagai sepupunya.
Aya-nee yang seperti itu sejak dulu memang terkadang datang bermain ke rumah kami dan bersantai di ruang tamu seolah rumah sendiri.
"Ngomong-ngomong, ada apa nih? Taku-chan yang biasanya anak rumahan (indoor), katanya belakangan ini sering pergi keluar? Jangan-jangan, kamu lagi jalan sama cewek, ya?"
Mulutnya berkata begitu, tapi ekspresi wajahnya jelas memperlihatkan kalau dia sama sekali tidak berpikir demikian.
Sejak dulu memang selalu begini. Aya-nee tahu kalau aku tidak punya pengalaman dengan cewek, jadi dia menikmati momen menjahiliku yang tidak punya cerita percintaan sama sekali.
Dan karena sangat sadar kalau dirinya cantik, Aya-nee akan mengelus kepalaku seperti mengelus anak kecil seolah ingin menghibur. Dengan melakukan kontak fisik berlebih seperti ini, dia senang melihatku yang menjadi malu.
Sejak dulu, Aya-nee memang punya sisi agak jahil dan sedikit nakal seperti ini.
Namun sayangnya, aku juga sudah bertumbuh.
Berbeda dengan diriku yang lugu di masa lalu, sekarang aku sudah anak SMA dan bahkan punya pacar. Terlebih lagi, pacarku adalah mantan idola nasional yang dikenal semua orang.
Meskipun keindahan Aya-nee dan pacarku berada di garis yang berbeda, memiliki pacar yang diidamkan semua orang membuatku sadar bahwa daya tahan tubuhku terhadap wanita sudah meningkat di luar dugaanku sendiri.
Oleh karena itu, menghadapi Aya-nee yang berniat menggodaku seperti biasanya, kali ini aku memutuskan untuk membalasnya dengan tegas.
"Iya, benar kok. Hari ini aku juga baru saja pulang bareng pacarku."
Aku ingin dia berhenti memperlakukanku seperti anak kecil lagi.
Saat membalas dengan perasaan seperti itu, tangan Aya-nee yang sedang mengelus kepalaku mendadak berhenti total.
"...Ha? Eh, kamu bercanda, kan...?"
" Aku tidak bakal bohong soal beginian. Ini beneran."
Aya-nee membeku dengan mata terbelalak lebar, seolah-olah sedang melihat sesuatu yang mustahil. Dari raut wajahnya, tidak ada lagi kelonggaran untuk menggodaku seperti tadi.
"S-seperti apa ceweknya!? Perlihatkan padaku! Lagipula dia pasti tidak ada apa-apanya dibanding aku... Maksudku, haah... kamar apa-apaan ini..."
Meskipun tadi mendesak ingin melihat seperti apa pacarku, begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku, Aya-nee malah mendesah heran. Lalu, kerapuhan ekspresinya tadi mendadak hilang entah ke mana, digantikan oleh tatapan penuh rasa kasihan.
"Memajang poster idola di kamar... Dengar ya, cowok yang sudah punya pacar itu harusnya sudah lulus dari hal-hal seperti ini."
"Bukan, kalau yang itu sebenarnya..."
"Sudah, mengejar idola seperti ini tidak ada gunanya, tahu? Mereka itu ada di seberang layar TV, sosok di atas awan. Yah, meskipun aku juga sama-sama sosok di atas awan, sih."
Sambil berkata begitu, Aya-nee menepuk-nepuk bahuku seolah-olah sedang menenangkan.
"Tidak apa-apa kok, kamu tidak usah berpura-pura tegar..."
"Tidak, tidak, makanya aku bilang beneran──"
Saat aku mencoba membantah, Aya-nee menempelkan telunjuknya di bibirku.
"...Tidak apa-apa, aku mengerti semuanya. Yah, Taku-chan kan masih anak SMA, jadi sebelum kamu benar-benar dapat pacar, kakakmu yang cantik dan sempurna ini yang akan menemanimu."
Tanpa memberiku kesempatan menyela, Aya-nee langsung memelukku dengan dada besarnya yang sia-sia itu.
Di tengah rasa sesak akibat ukuran dadanya yang besar, aku berpikir bahwa sedekat apa pun kami sebagai sepupu, melakukan hal seperti ini dengan wanita lain adalah hal yang tidak benar. Aku pun terburu-buru melepaskan diri dari dekapan tersebut.
"Puhaa! Jangan mendadak begitu, dong!"
"Ha? Apa-apaan, kamu malah kabur!? Dari seorang aku!?"
Mungkin karena sangat kesal melihatku kabur, alis Aya-nee tampak kedutan.
Kalau sedang dalam suasana hati yang buruk, alisnya selalu kedutan jadi sangat mudah ditebak.
" Aku beneran sudah punya pacar. Jadi tolong berhenti melakukan hal seperti tadi."
"...Begitu, ya. Baiklah. Kalau kamu sampai bicara sejauh itu, sekarang bawa pacarmu itu ke sini! Biar aku yang menilainya!"
Sambil menunjukku dengan tegas, Aya-nee menuntut untuk bertemu dengan pacarku.
"Eh, kalau itu sih..."
"Kenapa? Tidak bisa memperlihatkannya? Paling-paling karena kamu menganggap cewek di poster itu pacarmu, kan!"
"Bukan begitu, maksudku bukan tapi..."
"Tuh kan, benar!"
"Bukan begitu... Lagipula sebentar lagi aku harus kerja paruh waktu."
"Kalau begitu, setelah kerja paruh waktu juga tidak apa-apa!"
"Tidak, tidak, shift kerjaku selesai lewat jam delapan malam, tidak enak kan kalau mengajak orang berkunjung se-larut itu."
"Halah, alasan mulu~! Bilang saja sebenarnya memang tidak punya~!"
Padahal aku cuma membicarakan hal yang sangat masuk akal, tapi begitu melewati filter Aya-nee, semua alasan yang valid langsung diubah menjadi dalih semata.
Entah kenapa dia begitu keras kepala ingin menganggap aku tidak punya pacar, tapi kalau sudah dikatakan sampai sejauh ini, sebagai laki-laki aku tidak bisa tinggal diam lagi.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang akan kutelepon dia."
"Lewat telepon mah gampang~~ Nanti kalian bisa sekongkol. Lagipula kalau tidak melihat langsung seperti apa ceweknya, aku tidak bisa memberikan kelulusan~"
Entah darimana Aya-nee mendapatkan wewenang seperti itu, tapi kalau dia bicara sampai sejauh itu, aku pun tidak bisa mundur lagi.
Agak terpancing emosi, aku segera menelepon Shi-chan, dan dia langsung mengangkatnya dalam satu kali nada panggil.
"Halo, Tak-kun? Ada apa?"
" Ah, maaf ya Shi-chan, apa kamu ada waktu sekarang?"
"Iya, aku senggang kok!"
Mendengar suara ceria Shi-chan di balik telepon, hatiku yang tadinya kesal mendadak terasa sejuk kembali.
"Begitu ya, syukurlah. Maaf banget nih, apa nanti malam kamu bisa ketemu sebentar──"
"Bisa banget!"
"Eh? A-ah begitu, terima kasih! Kalau begitu, kerja paruh waktuku selesai lewat jam delapan, setelah selesai nanti aku jemput──"
" Aku akan pergi ke minimarket!"
"Tapi kan jalanan malam hari──"
" Aku bakal pilih jalan yang terang! Aku juga bawa alarm pelindung diri dan semprotan merica!"
"B-begitu ya. Kalau begitu, um, jangan sampai memaksakan diri──"
"Mengerti!"
"I-iya, kalau begitu hati-hati──"
"Siap! Laksanakan!"
Tanpa kuberitahu alasan atau penjelasan apa pun, Shi-chan langsung menjawab antusias dan penuh semangat untuk bertemu.
Padahal baru saja tadi kami pulang sekolah bersama, tapi dikangeni sampai seperti ini membuatku jujur merasa sangat bahagia.
Berkat percakapan dengan Shi-chan yang terlalu menggemaskan ini, kekesalanku tadi langsung terbang entah ke mana. Malah sebaliknya, dengan sikap yang penuh percaya diri, aku menyapa Aya-nee yang terang-terangan memasang wajah tidak puas.
"Katanya dia bisa ketemu. Aku pasti akan membawanya ke sini, jadi yang tadi menantang jangan kabur dan tunggu di sini, ya?"
"H-heeh, boleh saja. Aku bakal menantikannya! Soalnya aku pasti jauh lebih seksi dan menarik!"
Aya-nee yang entah kenapa malah mengajak bersaing meninggalkan kata-kata itu lalu keluar dari kamarku.
Dengan begitu, meskipun merasa sangat bersalah karena melibatkan Shi-chan dalam hal konyol seperti ini, di sisi lain aku merasa gembira karena punya alasan untuk bertemu dengan Shi-chan lagi.
"Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu ya."
Setelah selesai bersiap-siap, aku berpamitan pada keluargaku sambil memakai sepatu di area pintu masuk.
"Iya~ Hati-hati di jalan~"
"Hati-hati, ya~"
"Nanti pas pulang belikan puding, ya~"
Ibu, Ayah, serta Aya-nee yang sedang berbaring di sofa ruang tamu sambil mengunyah keripik senbei berderak-derak, masing-masing memberikan balasan.
Aya-nee yang terkenal sebagai wanita cantik di luar sana... kalau orang-orang melihat penampilannya yang sedang santai total seperti sekarang, apa yang akan mereka pikirkan, ya...?
Tapi bagiku, sosok Aya-nee yang sekarang ini justru yang biasa, sedangkan sosok wanita cantik sempurna yang ditampilkannya di luar malah terasa penuh kejanggalan.
Sejak dulu kami berdua yang sama-sama anak tunggal sering menghabiskan waktu bersama, sehingga bagiku dia sudah seperti kakak kandung sendiri.
Justru karena itulah kami bisa saling berinteraksi dengan wujud apa adanya, hanya saja dalam kasus Aya-nee, perbedaan antara kedua sisinya terlalu ekstrim.
Baik dalam pelajaran maupun percintaan, Aya-nee tidak pernah merasakan kegagalan atau kekalahan sekali pun. Bisa dibilang dia adalah versi wanita dari Gian—jika dikatakan secara halus, dia adalah orang yang bebas dan berpendirian sangat kuat.
Tapi itu semua cuma sampai hari ini.
Aya-nee yang tidak pernah mengecap kekalahan selama ini, kemungkinan besar setelah ini akan merasakan kekalahan pertama dalam hidupnya.
Sambil merencanakan hal itu dalam hati, sebelum melangkah keluar pintu rumah, aku kembali berteriak kepada keluargaku.
" Ah, iya. Nanti sepertinya aku bakal membawa pacarku ke sini, jadi mohon bantuannya, ya."
Mendengar pengumuman mendadak dariku, Ayah dan Ibu terlihat terkejut dengan sangat jelas. Sedangkan Aya-nee, dia memalingkan wajahnya sambil mengunyah keripik senbei dengan wajah cemberut.
Tujuan awalku memang mempertemukan Shi-chan dengan Aya-nee. Tapi ini juga merupakan kesempatan emas untuk memperkenalkan Shi-chan kepada Ayah dan Ibu.
Mengingat aku berpacaran dengan serius dengannya, aku berpikir suatu saat nanti kami memang harus saling bertatap muka dengan orang tua masing- masing. Sambil memantapkan hati untuk memperkenalkannya dengan baik di kesempatan ini, hari ini pun aku berangkat ke tempat kerja paruh waktu.
◇
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit malam.
Hari ini karena memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, waktu kerja paruh waktu terasa lebih lama dari biasanya, tapi waktunya tinggal sedikit lagi.
Bagaimanapun juga pekerjaan adalah pekerjaan, jadi aku harus melakukannya dengan benar. Tepat saat aku menyemangati diri kembali, seorang pelanggan masuk ke dalam toko.
Ting-tong-ting-tong~
Saat aku menoleh ke arah pintu mengikuti nada melodi yang sudah familiar, sosok Shi-chan berdiri di sana.
Mengenakan atasan knit turtleneck warna putih dan rok ketat hitam. Karena malam di musim gugur mulai dingin, di luarnya dia melapisi dengan jaket leather warna hitam.
Shi-chan yang seperti itu, berbeda dari kesan menggemaskan saat di sekolah, entah kenapa memancarkan aura wanita cantik yang jauh lebih kuat dari biasanya.
Bahwa pakaian dan gaya rambut bisa mengubah kesan seseorang adalah hal yang berhasil kuketahui berkat Ken-chan si pemilik toko baju. Tapi dalam kasus Shi-chan, dasarnya saja dia sudah gadis yang sangat cantik, sehingga perbedaan kesan dari biasanya terasa sangat besar.
Bukan cuma pakaian, tapi juga riasan tipis di wajahnya. Aksesoris seperti anting dan kalung, serta tatanan rambut yang disesuaikan dengan pakaiannya memberikan pengaruh yang besar.
Padahal seumuran, tapi Shi-chan yang memancarkan aura dewasa yang bahkan tidak kalah dari Aya-nee itu langsung berlari menghampiriku dengan gembira begitu menemukan keberadaanku.
Tingkahnya itu tetaplah Shi-chan yang kukenal, tapi bagaimana ya...
kesenjangan (gap) dengan penampilannya saat ini benar-benar luar biasa.
Bibirnya diolesi lipstik merah muda yang sangat cocok dengan paduan busana hari ini, menambah pesona kewanitaannya.
Gadis sangat cantik di tingkat yang bakal membuat siapa saja menoleh itu datang ke sini hanya demi menemui diriku. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini, dan meskipun masih dalam jam kerja, hatiku dalam sekejap dipenuhi rasa bahagia.
"Tak-kun, aku datang~♪"
Sambil melambaikan tangan kecilnya, Shi-chan memasang senyuman penuh.
"Terima kasih ya. Kerja paruh waktuku sebentar lagi selesai, bisa tolong tunggu sebentar?"
"Iyaaa~♪"
Setelah membalas dengan ceria, Shi-chan pun memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar di dalam toko.
Sambil bekerja paruh waktu, aku mencuri-curi pandang ke arah Shi-chan. Dia tampak asyik dan gembira membaca majalah ramen.
Pasti saat ini dia sedang berdebar-debar gembira memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, tapi kalau dilihat dari luar, dia cuma kelihatan seperti gadis penyuka ramen biasa. Penampilannya yang polos tanpa disadari itu terasa lucu hingga membuatku tersenyum.
Setelah selesai bekerja paruh waktu tanpa kendala, aku membeli puding di minimarket seperti yang diminta Aya-nee, lalu keluar minimarket bersama Shi- chan.
"Tak-kun, kamu mau makan puding?"
Shi-chan yang berjalan di sampingku menatap kantong plastik belanjaan yang kupegang dengan heran.
Melihat reaksi Shi-chan, aku baru menyadari kesalahan fatal yang telah kubuat.
──Kalau dipikir-pikir, aku kan belum menjelaskan apa-apa soal rencana setelah ini kepada Shi-chan sendiri!?
Karena mendapat jawaban "ya" secara instan di telepon tadi, aku sampai lupa menyampaikan tujuan utamanya.
Meskipun merasa gawat, aku terburu-buru menjelaskan alasan kenapa aku memanggilnya hari ini kepada Shi-chan.
"Maaf ya Shi-chan, aku lupa memberitahumu. Setelah ini, kalau tidak keberatan, aku mau mengajakmu datang ke rumahku..."
"Eh!? Rumah Tak-kun!?"
Mendadak diberi tahu hal seperti itu, Shi-chan tentu saja terkejut. Kalau Shi- chan bilang keberatan di sini, aku terpaksa harus merelakan urusan dengan Aya-nee. Rasanya aku sudah gagal, dan perlahan-lahan aku mulai berkecil hati...
"...Aku boleh datang?"
Akan tetapi, balasan dari Shi-chan justru sangat positif di luar dugaan.
Meskipun sempat menunjukkan gestur ragu-ragu, dia justru terlihat sangat ingin berkunjung.
"Iya, tapi ada keluarga dan kakak sepupuku juga di rumah, tidak apa-apa?"
"T-tentu saja! ...Ah, tapi kalau begitu, harusnya aku pakai baju yang lebih rapi lagi ya..."
Shi-chan merasa cemas dengan pakaiannya yang sekarang, padahal mengenai hal itu sama sekali tidak ada masalah. Bahkan saat ini pun orang-orang yang lalu-lalang di jalanan terpikat oleh penampilannya yang teramat sangat mempesona.
"Tidak apa-apa kok. Kalau begitu, maaf ya mendadak, ayo berangkat."
"Iya!"
Aku menggandeng tangan Shi-chan dan mulai berjalan menuju rumah bersama-sama.
Sambil berjalan dan mengobrolkan hal-hal ringan, perjalanan yang biasanya terasa agak panjang kini tidak terasa membosankan sama sekali, hingga tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumah.
" Aku pulang~"
Saat aku membuka pintu, Shi-chan mengekor di belakangku dan masuk dengan ragu-ragu.
"P-permisi... selamat malam..."
Suaranya sangat pelan sampai hampir tenggelam, dia jelas-jelas sedang merasa sangat gugup. Ini pertama kalinya aku melihat Shi-chan segugup ini, tapi di saat yang sama, aku sendiri juga mendadak jadi ikut gugup memperkenalkannya kepada orang tuaku.
"S-selamat datang kembali."
"O-oh, kamu sudah pulang, Takuya?"
Saat aku memunculkan wajahku di ruang tamu duluan, Aya-nee ternyata masih bertahan di sana. Ayah dan Ibu juga, mungkin karena deklarasiku tadi bahwa aku akan membawa pacar, sikap mereka terlihat jelas sangat kaku.
Sedangkan Aya-nee, begitu melihat wajahku, dia langsung berdiri tegak dari sofa tempatnya berbaring tadi.
"...Lalu? Pacarmu itu beneran kamu bawa ke sini?"
Rupanya dia sangat percaya diri dengan penampilannya. Di wajahnya yang penuh percaya diri itu, aku menyadari riasan wajahnya terlihat jauh lebih niat dibandingkan saat bertemu sebelum aku berangkat kerja tadi.
Artinya, selama aku pergi kerja paruh waktu, Aya-nee telah beralih ke mode tempur.
Melihat Aya-nee yang seperti itu akan dipertemukan dengan Shi-chan, rasa cemas mendadak melanda diriku. Namun karena sudah melangkah sejauh ini, aku tidak bisa mundur lagi. Aku pun memanggil Shi-chan yang sedang menunggu lalu memperkenalkannya kepada semua orang.
"Kalau begitu, um... ini pacarku, Saegusa-san."
"S-selamat malam, salam kenal. Nama saya Saegusa Shion. Saya teman sekelas Takuya-san, dan, um, saat ini kami sedang berpacaran!"
Meskipun gugup, Shi-chan membungkukkan badan dan memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan.
Di hadapan Shi-chan yang seperti itu, kedua orang tuaku dan Aya-nee membelalakkan mata dan membeku seperti patung──.
◇
"...E-etto... Jangan-jangan... kamu ini Shiorin dari Angel Girls?"
"Iya, dulu saya pernah bekerja sebagai idola."
Wajah percaya diri Aya-nee yang tadi mendadak hilang entah ke mana. Dengan raut yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, Aya-nee bertanya kepada Shi-chan dengan hati-hati.
Menanggapi Aya-nee yang seperti itu, Shi-chan membalas dengan sikap yang sangat anggun dan formal. Mungkin karena sudah sedikit tenang, Shi-chan kini sepenuhnya masuk ke mode idola.
"G-gadis yang di TV itu, kan...?"
"A-ah, iya..."
Ibu dan Ayah sepertinya juga mengenali Shi-chan dari TV. Mereka tampak bingung setengah mati, kenapa sosok terkenal seperti itu bisa ada di rumah ini.
Seorang idola nasional tulen yang bahkan dikenal oleh generasi orang tua kami.
Aya-nee, seperti yang dia katakan sendiri, memang sangat cantik. Namun, saat disandingkan dengan Shi-chan seperti ini, tetap saja ada sesuatu yang berbeda.
Aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata secara tepat, tapi ini bukan soal kekurangan Aya-nee, melainkan karena pesona Shi-chan sendiri yang begitu luar biasa.
Bahkan tanpa sudut pandang subjektifku sebagai pacarnya, fakta bahwa Shi- chan adalah gadis paling cantik di antara gadis-gadis cantik makin tersampaikan dengan jelas justru saat disandingkan dengan wanita cantik seperti Aya-nee.
"K-kenapa seorang idola bisa ada di sini?"
"Iya, seperti yang saya sampaikan tadi, saat ini saya sedang berpacaran dengan Takuya-san di sini, jadi hari ini saya berkunjung untuk memberikan salam."
"Tidak, tidak, itu sungguh tidak masuk akal, kan!? Apa-apaan ini, acara prank!?
Taku-chan! Kamu tidak sedang ditipu, kan!?"
"Mana mungkin hal seperti ini terjadi!" Aya-nee meluapkan kemarahannya yang sejak tadi ditahan.
Tentu saja aku tahu dia berkata begitu karena mengkhawatirkanku, tapi aku tidak ingin dia berbicara seperti itu kepada Shi-chan. Aku berniat menyela, namun Shi-chan lebih dulu membuka suara.
"Tak-kun, apa beliau ini kakak perempuanmu?"
"Bukan, ini Ayane-san, kakak sepupuku."
"Begitu, ya. Kalau begitu Tak-kun, bisakah serahkan pembicaraan ini padaku?"
Saat berbicara pun, Shi-chan tidak melepaskan idol smile-nya. Akan tetapi, meskipun di permukaan dia tersenyum manis, dari diri Shi-chan terpancar sesuatu seperti tekad yang kuat... atau lebih tepatnya aura tekanan yang tak kasat mata...
Lalu Shi-chan berhadapan kembali dengan Aya-nee. Di hadapan aura tekanan yang dipancarkan Shi-chan, Aya-nee tampak sedikit gentar.
"Jika Anda berbicara hal yang tidak benar seperti itu di depan orang tua Takuya-san, saya jadi agak kesulitan, lho."
"L-lalu apa? Kamu mau bilang kalau kamu beneran pacarnya!?"
"Iya, sejak awal saya sudah menyampaikan hal tersebut."
"H-hmm. Kalau begitu baiklah, pertama-tama beritahu aku apa alasanmu bisa menyukai Taku-chan kami!"
Di hadapan keanggunan dan tekanan Shi-chan, Aya-nee tetap terlihat agak gentar. Bagi seseorang yang biasanya merupakan gumpalan rasa percaya diri, melihat Aya-nee seperti ini benar-benar kejadian yang sangat langka.
Akan tetapi, Aya-nee adalah seorang mahasiswi yang lebih tua. Sambil menahan diri dari tekanan tersebut, dia tetap melontarkan pertanyaan kepada Shi-chan.
Pemenang kontes miss campus perguruan tinggi dan mantan idola nasional.
Situasi kacau di mana dua wanita cantik saling berhadapan sambil memercikkan bunga api persaingan tak kasat mata.
Shi-chan sendiri bergumam lirih, "...Taku-chan kami?", dan di balik idol smile- nya, sesuatu yang gelap tampak mengintai secara samar.
"Sebenarnya, sebelum menjadi idola pun saya sudah kenal dengan Takuya-san.
Pertemuan saat itulah yang menjadi momen paling menyenangkan dalam hidup saya sampai saat itu. Demi bisa berpacaran dengan Takuya-san, saya memilih berhenti jadi idola dan berada di sini sekarang. Saya juga sudah beberapa kali bertemu dengan orang tua Takuya-san, lho?"
Shi-chan menjelaskan alasannya secara jelas dan tegas kepada Aya-nee. Lalu Shi-chan membungkukkan badan ke arah orang tuaku sambil berkata, "Sudah lama tidak berjumpa." Ayah dan Ibu pun terburu-buru membalas lambaian hormat tersebut.
"B-bicara soal itu, sepertinya dulu memang pernah, ya!"
"Y-yah, kalau sudah kenal dari dulu, bukan hal yang aneh lagi, kan! Nah, makanya Ayane-chan juga tenang dulu, ya?"
Hanya dengan satu sapaan, Shi-chan berhasil menarik orang tuaku ke pihak pendukungnya. Aya-nee yang posisinya makin terdesak memasang raut wajah kesal.
"B-baiklah. Kalau begitu terakhir, izinkan aku mengonfirmasi hal yang paling penting. ──Bagian mana dari Taku-chan yang membuatmu jatuh cinta padanya?"
Sebagai penutup, Aya-nee melontarkan pertanyaan tajam yang menohok ke inti masalah.
Menanggapi hal tersebut, Shi-chan menarik napas dalam-dalam seolah memantapkan tekadnya.
"...Baiklah. Kalau begitu, saya mulai, ya?"
"Ya, coba perlihatkan padaku!"
"Senyumannya yang sangat menggemaskan!"
" Aku faham!"
"Dia itu orangnya lembut dan suka merawat orang lain!"
" Aku faham!"
"Seberapa pun hal kecilnya, dia selalu menghadapinya dengan bersungguh- sungguh!"
" Aku faham!"
"Bahkan tanpa aku perlu mengatakan apa-apa, dia selalu bisa menyadari perubahan sekecil apa pun padaku!"
" Aku faham!"
"Meskipun nilai dirinya sendiri tidak seberapa tinggi, saat-saat genting dia selalu membantuku dengan sigap, dan dia itu cowok banget karena selalu menyampaikan hal-hal penting lewat kata-kata!"
" Aku fahaaam baangeeettt!"
Mendengar kata-kata yang mengalir bagaikan mata air dari Shi-chan, entah kenapa Aya-nee langsung menyetujui semuanya. Dan di akhir, sambil terus berseru bahwa dia sangat mengerti, Aya-nee entah bagaimana malah jatuh berlutut tak berdaya.
──E-etto, ini sebenarnya situasi apa, ya?
Menyaksikan pemandangan di depanku, hanya pemahamanku—yang padahal merupakan salah satu pihak terkait—yang sama sekali tidak bisa mengejar apa yang sedang terjadi.
Tapi hanya ada satu hal yang bisa kupahami dengan sangat jelas: dipuji setinggi langit begini di depan orangnya langsung rasanya malu banget...
"...Begitu ya, aku paham. Meskipun menyesakkan, sepertinya aku tidak punya pilihan selain mengakuinya..."
Aya-nee bangkit berdiri tanpa tenaga, mengutarakan hal itu seraya mengakui kekalahannya.
"Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasakan kekalahan sebagai seorang wanita... Kenapa gadis yang seimut, seterkenal, dan sehebat ini bisa sangat menyukai Taku-chan, sih...? Ini sih cheat namanya... Mana mungkin aku bisa menang..."
Sesuai dengan ucapannya, Aya-nee memasang raut wajah kesal.
Mengecap kekalahan suatu saat nanti akan menjadi aset yang sangat berharga──.
Melihat sosok Aya-nee saat ini, dialog terkenal dari komik olahraga yang pernah kubaca dulu mendadak terlintas di benakku.
"Ugh... aku mau pulang saja..."
Lalu Aya-nee merancaukan kata-kata itu dan melangkah pergi keluar kamar tanpa tenaga.
Kalau dipikir-pikir, melihat Aya-nee seloyo dan semerana ini mungkin baru pertama kalinya sepanjang ingatanku.
Meskipun begitu, saat akan pergi dia sempat meninggalkan kalimat, " Aku pasti bakal balas dendam," jadi walau mengakui kekalahannya, sepertinya dia belum sepenuhnya menyerah.
Sosok Aya-nee yang seperti itu jujur saja terlihat keren bagiku. Mampu mengakui kekalahan namun tetap teguh pada dirinya sendiri. Justru karena Aya-nee selalu jujur dan lurus seperti itulah, dari dulu sampai sekarang aku sangat menyayanginya.
Dengan perginya Aya-nee, Shi-chan pun akhirnya bisa menghela napas lega.
Shi-chan sendiri tampaknya tadi juga sangat menahan ketegangan.
Perasaan Aya-nee yang memikirkanku dan berusaha menguji Shi-chan. Dan yang terpenting dari semuanya, perasaan Shi-chan yang tidak gentar sedikit
pun menghadapi Aya-nee, lalu menyampaikan perasaannya dengan tegas lewat kata-kata.
Menanggapi perasaan mereka berdua, satu-satunya hal yang bisa kudisiplinkan pada diriku sendiri adalah: terus berusaha menjadi sosok pria yang pantas untuk perasaan tersebut.
Saat aku sedang memantapkan tekad sendirian, ujung bajuku ditarik-tarik perlahan.
Begitu aku menoleh, di sana terlihat sosok Shi-chan yang memasang senyuman cerah seolah-olah baru saja menuntaskan tugas besar.
" Aku juga tidak boleh kalah, aku akan terus menjadi yang nomor satu buat Tak- kun!"
Menanggapi kata-kata Aya-nee, senyuman Shi-chan kini kobarkan semangat bertarung.
Melihat sosok Shi-chan yang terus mencintaiku secara tulus dan lurus seperti itu, aku pun kembali membuat satu keputusan di dalam hati.
Aku juga akan terus berjuang agar bisa selalu menjadi yang nomor satu bagi Shi-chan──.
◇
Setelah Aya-nee pergi, acara tatap muka antara kedua orang tuaku dan Shi- chan pun dilaksanakan kembali.
Ayah dan Ibu sepertinya masih terbawa oleh pertarungan antara Aya-nee dan Shi-chan tadi, sehingga mereka tampak gelisah dan bingung harus berbuat apa.
Meskipun begitu, sepertinya kepolosan dan ketulusan perasaan Shi-chan telah tersampaikan dengan baik, karena aku bisa melihat mereka berdua berusaha menyambut Shi-chan dengan hangat.
Sedangkan Shi-chan, seolah-olah perdebatan tadi hanyalah kebohongan belaka, dia kembali ke mode idola dan memperkenalkan dirinya sekali lagi.
Berkat hal itu, orang tuaku sampai bilang, "Gadis sebaik ini terlalu bagus untuk putra kami," tapi yah... untuk sekarang biarkan saja mereka bicara sesuka hati...
Bagaimanapun juga, dengan ini aku berhasil memperkenalkan Shi-chan kepada orang tuaku dengan selamat.
Saat aku merasa lega karena tujuan hari ini sudah tercapai tanpa kendala, Shi- chan mencolek-colek lenganku.
"...Nee, Tak-kun, aku mau konsultasi satu hal."
"...Apa itu?"
Menyesuaikan dengan Shi-chan yang berbisik pelan ke telingaku, aku membalasnya sambil memelankan suara juga.
"...Anu, aku mau coba main ke kamar Tak-kun."
"...Aah, begitu. Iya, boleh kok."
Kukira ada masalah apa, ternyata Shi-chan cuma ingin masuk ke kamarku.
Mendadak memperlihatkan kamar sendiri rasanya memang agak malu juga, sih. Harusnya memang tidak ada barang-barang aneh, tapi kalau dibilang tidak cemas sama sekali saat kamarku dilihat, itu bohong namanya.
Tapi, meskipun aku memanggilnya secara mendadak hari ini, Shi-chan tetap bersedia datang sampai ke rumahku. Jika begitu, mana mungkin aku tega menolak permintaan Shi-chan.
Dengan begitu, selanjutnya aku pun menuntun Shi-chan menuju ke kamarku.
"Waaah! Jadi ini kamarnya Tak-kun, ya!"
Begitu membuka pintu kamar, Shi-chan langsung mengangkat kedua tangannya mengekspresikan kegembiraan secara terang-terangan.
Melihatnya begitu bahagia hanya karena hal seperti ini membuat senyumku ikut terkembang, berpikir bahwa mengajaknya ke sini adalah keputusan yang tepat.
Sebuah tempat tidur, meja belajar, lalu meja lesehan kecil (low table) dan satu unit TV. Ditambah rak pakaian, serta rak buku yang diisi beberapa komik— kamar anak laki-laki SMA pada umumnya... kurasa begitu.
Karena itu aku tidak tahu bagian mana yang membuatnya begitu gembira, tapi kalau dia senang, ya tidak masalah.
" Ah, ada poster!"
Saat melihat-lihat sekeliling kamar, Shi-chan menyadari keberadaan poster Angel Girls yang tertempel di dinding.
Kalau dipikir-pikir, poster inilah yang menjadi pemicu kejadian hari ini...
"Terus kalau yang di sebelah sini, ada wristband sama bromide milikku!"
"Eh? A-ah, iya benar."
"Satu lagi yang ini! CD kami juga ada banyak!"
"A-ah, iya, betul..."
Bagaikan sedang berburu harta karun, Shi-chan dengan gembira menggeledah dan menemukan barang-barang merchandise Angel Girls di kamarku.
Aku baru ingat kalau di kamar ini memang banyak barang-barang yang berhubungan dengan Shi-chan. Ditemukan langsung oleh pemiliknya begini, jujur saja rasanya agak malu juga...
"Tak-kun! Kamu mengumpulkan sebanyak ini buat aku!?"
" Aah, iya. Kalau melihatnya tidak sengaja, tanganku refleks membelinya..."
"Jadi begitu, ya!"
"Kamu tidak merasa ilfeel, kan?"
"Eh? Mana mungkin ilfeel! Aku senang banget, tahu!"
Saat kucoba mengonfirmasinya, Shi-chan menjawab dengan cepat bahwa dia sangat senang. Mendengar kata-kata yang tegas tanpa keraguan itu, aku pun merasa lega untuk sementara.
"...Berarti Tak-kun ini juga merupakan penggemarku, kan?"
"Yah, umm... bisa dibilang begitu."
"Begitu ya, begitu ya. Tapi tahu tidak, aku kan sudah pensiun?"
"Itu tidak ada hubungannya. Bagiku, dari dulu sampai kapan pun, Shi-chan akan selalu jadi idola nomor satu."
"Muhuhu, aku senang banget. Kalau begitu, untuk penggemar nomor satu yang menjadikanku oshi utamanya, aku juga harus memberikan fan service yang spesial, dong."
Sambil berkata begitu, Shi-chan yang menyunggingkan senyum seringai seolah sedang merencanakan sesuatu, perlahan-lahan melangkah mendekat ke arahku.
Lalu mengincar diriku yang sedang bersiap-siap, Shi-chan melompat menerjangku dengan penuh semangat.
"Eiitt!"
"B-bahaya!?"
Terburu-buru menangkap tubuhnya hingga kami berdua jatuh berbarengan ke atas tempat tidur, Shi-chan kini berada dalam posisi menunggangi di atas tubuhku.
"...S-Shi-chan?"
"Nfufu, Tak-kun imut banget."
Bersamaan dengan kata-kata itu, bibirku dan bibir Shi-chan pun bertautan.
Di tengah kebingunganku yang mendadak dikis sambil ditunggangi, Shi-chan yang menarik wajahnya memasang senyum seringai kecil nan jahil dengan raut penuh kepuasan.
Di hadapan situasi saat ini dan senyuman manis itu, detak jantungku berdegup makin kencang tak beraturan.
Diincar dan didesak oleh idola oshi-ku sendiri dalam posisi menunggangi begini──.
Meskipun kami sudah berpacaran cukup lama, berhadapan dengan situasi yang teramat sangat merangsang ini membuat akal sehatku tak sanggup lagi mengendalikan diri.
Terdorong oleh emosi yang meluap, dari bawah aku merengkuh dan menarik tubuh Shi-chan ke dalam pelukan erat.
Lalu dalam posisi saling memeluk seperti itu, kami berdua rebahan bersama di atas tempat tidur.
Ekspresi wajah Shi-chan yang berada tepat di depan mataku sudah tidak lagi menyimpan sisi kejahilan seperti tadi.
Sebagai gantinya, dengan pipi yang merona merah, matanya terbelalak menatapku lekat-lekat.
"...Alasanku menyukai Shi-chan itu bukan karena kamu seorang idola, tahu.
Karena itu Shi-chan, makanya aku sangat mencintaimu."
"...Emm, aku tahu kok. Makanya aku juga bisa jatuh cinta lagi pada Tak-kun."
Termasuk fakta bahwa dia pernah menjadi seorang idola, seluruh hal tentang Shi-chan terasa begitu berharga dan kucintai.
Seakan meluapkan perasaan yang membuncah ini, kali ini akulah yang menciumnya.
Melakukan hal itu dengan menghabiskan banyak waktu, seolah untuk saling memastikan perasaan satu sama lain──.
"Maaf ya, kami tidak bisa memberikan penyambutan yang layak."
"Kalau tidak keberatan, datanglah berkunjung lagi kapan saja, ya."
"Terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggu sampai larut malam begini."
Sambil membungkukkan badan dengan sopan, Shi-chan diantar pergi oleh kedua orang tuaku.
Karena hari sudah malam, aku menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke rumah, namun Shi-chan menolaknya dengan sekuat tenaga sambil berkata tidak apa-apa. Sebagai jalan tengah, aku setidaknya mengantarnya sampai ke stasiun terdekat.
Dengan begitu, kami berdua berjalan perlahan berdampingan menyusuri jalanan malam di kawasan pemukiman yang sepi.
"Orang tuamu baik banget, ya."
"Mereka cuma agak berisik saja, sih, tapi kalau kamu berpikiran begitu, aku ikut senang."
"Emm, rasanya semua anggota keluargamu sangat rukun, aku jadi sedikit iri deh."
Sambil berkata begitu, Shi-chan menunjukkan profil samping wajahnya yang tersenyum lembut.
──Iya juga ya, orang tua Shi-chan kan sibuk, jadi liburan musim panas kemarin pun dia menghabiskan waktunya di rumah neneknya...
Kalau dipikir-pikir, aku memang belum pernah mendengar cerita tentang orang tua Shi-chan secara jelas.
Bukan berarti aku tidak penasaran, tapi karena Shi-chan tidak mencoba menceritakannya, aku merasa tidak berhak untuk mengungkitnya duluan.
Karena itulah, hanya ada satu hal yang bisa kuisyaratkan padanya.
"Kalau begitu, datanglah berkunjung lagi kapan saja. Ayah dan Ibu pasti bakal senang juga, kok."
"Emm, aku bakal datang lagi! Wah, jadi makin tidak sabar~"
Sesuai dengan kata-katanya, Shi-chan mengayun-ayunkan tangan kami yang saling tergenggam dengan gembira.
Berbagai gestur dan ekspresi Shi-chan yang tidak bisa dilihat di sekolah dan hanya diperlihatkan padaku seorang—seluruh hal itu terasa begitu kucintai.
"Sudah bulan Oktober, ya~"
"Iya. Sekitar dua bulan lebih sedikit lagi tahun ini bakal berakhir, ya."
"Benar juga, kalau dipikir-pikir rasanya cepat sekali, ya."
Seolah mengenang masa-masa yang telah berlalu, Shi-chan mendongak menatap langit malam.
"──Tapi, perjalanan kita masih baru dimulai, kok."
Dan bisikan kalimat itu bukanlah ditujukan untuk masa lalu, melainkan kata- kata yang ditujukan untuk masa depan.
Cahaya bulan yang lembut dan samar tercurah dari langit malam musim gugur yang kian dalam.
Profil samping wajah Shi-chan yang tersinari samar dipenuhi oleh senyuman lembut, seakan memancarkan harapan yang melimpah menuju masa depan tersebut.
Diskusi & Komentar (0)