Volume 4 PROLOG
Namaku Ichijou Takuya. Hanya seorang anak SMA biasa yang bisa ditemukan di mana saja! ...Saking biasanya, penilaian diriku sendiri bisa dibilang sangat standar. Namun, musim panas ini, cowok sepertiku berhasil mendapatkan seorang pacar. Dan saat festival budaya kemarin, hubungan kami akhirnya diketahui secara publik.
Mengapa hubungan kami perlu dipublikasikan? Alasannya bukan ada padaku, melainkan pada dirinya. Namanya adalah Saegusa Shion, yang akrab dipanggil Shi-chan. Sekarang dia adalah teman sekelas di SMA-ku, tetapi dulunya dia adalah anggota grup idola nasional, Angel Girls—seorang mantan idola nasional tulen.
Oleh karena itu, mempertimbangkan dampak besar yang mungkin timbul pada sekeliling kami, kami berjanji untuk merahasiakan hubungan ini. Meski begitu, pada festival budaya yang baru saja berlalu, hubungan kami akhirnya diketahui oleh seluruh murid di sekolah.
Pengakuan cinta dari Shi-chan di hadapan semua orang. Itu tak diragukan lagi adalah wujud dari tekadnya.
Sebagai seorang figur yang teramat sangat terkenal, mau tak mau Shi-chan selalu menjadi pusat perhatian. Karena itu, risiko jika hubungan kami terbongkar pasti Shi-chan sendiri yang paling memahaminya. Walau demikian, Shi-chan tetap berani berterus terang di festival budaya.
Justru karena dia lebih mementingkan hubungan kami saat ini daripada pandangan orang-orang di sekitar, Shi-chan memberanikan diri untuk mendeklarasikannya di depan umum. Justru itulah sebabnya aku ingin menghormati keputusannya. Mulai sekarang, aku ingin terus berusaha sebisa mungkin agar impian Shi-chan terwujud.
Lagipula, ini bukan hanya tentang kami berdua. Ada sahabatku, Yamamoto Takayuki, dan pacarnya, Shimizu Sakurako-san. Ditambah lagi teman-teman
sekelas yang hubungannya menjadi makin akrab denganku lewat festival budaya tersebut.
Karena keberadaan orang-orang sekitar yang mendukung itulah, aku bisa melangkah tanpa ragu melakukan apa yang harus kulakukan.
Dengan begitu, setelah melewati festival budaya yang penuh lekuk liku dengan selamat, sekarang aku dan Shi-chan tak perlu menyembunyikan apa pun lagi.
Kami kini resmi berpacaran di depan umum.
◇
Festival budaya telah usai dengan lancar, dan hari ini adalah hari Senin.
Keriuhan festival kemarin terasa bagaikan kebohongan saat kami kembali ke rutinitas harian seperti biasa. Meski begitu, rasa lelah dari akhir pekan belum sepenuhnya hilang dariku. Saat ini, aku sedang mengikuti pelajaran sambil berjuang melawan rasa kantuk yang terus menyerang sejak pagi.
Omong-omong, saat ini adalah pelajaran Bahasa Jepang. Guru bahasa kami ini bisa dibilang cukup unik. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, tapi cara bicaranya yang datar tanpa intonasi benar-benar menyedot kesadaran semakin lama didengarkan. Ditambah dengan volume suaranya yang halus dan sulit didengar, di belakang layar dia sampai dijuluki "Penyihir Tidur" karena sukses mengundang rasa kantuk semua orang di kelas.
Saat kuedarkan pandanganku ke sekeliling, terlihat beberapa murid lain juga mendengarkan pelajaran dengan mata sayu. Benar kan, suara Pak Guru pasti sudah diberi mantra sihir pemanggil kantuk... Begitu aku memikirkan hal konyol itu, tiba-tiba punggungku dicolek-colek dari belakang.
Orang yang duduk di belakangku adalah pacarku, Shi-chan. Apakah dia ada keperluan, atau sekadar berusaha membangunkanku yang sedang bertarung melawan rasa kantuk? Akan tetapi, karena sekarang masih dalam jam pelajaran, aku ragu untuk menoleh ke belakang.
"Tak-kun, tak boleh tidur, loh," bisik sebuah suara lembut dari belakang.
Ternyata dia memang menyadari diriku yang sedang menahan kantuk dan berusaha membangunkanku. Lagipula ujian semester sudah semakin dekat, memang bukan waktunya untuk menyerah pada kantuk.
Aku kembali memfokuskan diri, lalu mulai merangkum tulisan di papan tulis ke dalam catatan. Di ujian berikutnya, melampaui peringkat Shi-chan yang berprestasi... memang terasa sulit, tapi setidaknya sebagai pacarnya, aku ingin berdiri sejajar dengannya dalam hal akademik. Jika tidak, aku takkan bisa masuk ke universitas yang sama dengan Shi-chan di masa depan nanti──.
Colek, colek, colek, colek.
Namun, berbanding terbalik dengan semangatku yang baru membara, Shi-chan malah terus-menerus mencolek punggungku.
Di situlah aku menyadarinya. Shi-chan sebenarnya cuma keisengan dan ingin aku memperhatikannya. Setiap kali posisi colekannya berpindah, tubuhku refleks berjengit kaget, dan dia pasti menikmati reaksimu itu.
Aku yang kewalahan akhirnya memajukan kursi untuk mengambil jarak dari Shi-chan. Dengan menjauhkan diri secara fisik, aku berharap bisa kabur dari jangkauan serangan 'colekan' Shi-chan.
Bagaimana? Sekarang jarimu takkan sampai lagi, kan! Menyerahlah dan mulailah fokus pada pelajaran, Shi-chan.
Sreeek.
...Namun, yang terdengar dari belakang adalah suara gesekan antara meja dan lantai. Lalu, sesuatu membentur bagian belakang kursiku—tuk.
Ya, sungguh tak disangka, Shi-chan malah memajukan mejanya untuk mengisi celah berharga yang baru saja kubuat! Alhasil, punggungku kembali masuk ke dalam jangkauan serangan colekan, dan aku bahkan harus kehilangan ruang pribadiku yang berharga.
Benar-benar di luar dugaan. Lagipula, karena terlalu maju, perutku jadi agak kesempitan...
Dalam perselisihan yang sepenuhnya menguntungkan orang di kursi belakang ini, aku sudah tak punya cara untuk melawan...
Saat aku pasrah dan menerima nasib, Shi-chan tidak lagi... melancarkan serangan colekan.
Sebagai gantinya, jari yang menempel di punggungku mulai bergerak perlahan.
Garis horizontal, lalu garis vertikal? Kemudian pindah posisi, kali ini garis horizontal... ada dua?
Mungkin ini semacam huruf? Maksudnya, Shi-chan kali ini sedang mengajak main tebak tulisan di punggung.
──Ini... hiragana "ta" bukan, ya?
Permainan tebak tulisan di punggung yang mendadak ini dimulai. Setelah jeda satu tarikan napas, huruf kedua dituliskan di punggungku. Kali ini lebih mudah dari sebelumnya, tak salah lagi ini adalah hiragana "ku".
Kalau setelah hiragana "ta" adalah "ku", sisanya tinggal permainan tebak kata.
Dan urutan itu adalah urutan yang paling akrab bagiku.
Benar, kalau setelah "ta" ada "ku", kemungkinan besar selanjutnya adalah "ya".
Dengan kata lain, Shi-chan sedang menuliskan namaku, "Takuya", di punggungku.
Padahal sedang jam pelajaran, kenapa tiba-tiba menulis namaku...? Aku ingin menegurnya agar fokus pada pelajaran, tapi dalam hati aku malah merasa senang disentuh oleh Shi-chan. Jangan-jangan aku ini termasuk pasangan kekasih yang bucin juga...?
Yah, meskipun begitu, nilai Shi-chan kan peringkat teratas di angkatan.
Sebaliknya, nilaiku masih harus berjuang keras. Ini bukan waktunya mencemaskan orang lain, aku harus lebih fokus belajar. Sambil mengibaskan pikiran-pikiran nakal, aku mengalihkan pandangan ke papan tulis.
Di papan tulis tertera nama-nama penyair klasik beserta karya perwakilannya yang ditulis Pak Guru. Karena beliau secara tersirat memberitahu, "Bagian ini
bakal keluar di ujian nanti, lhooo," aku pun terburu-buru menyalin tulisan di papan ke catatanku.
Akan tetapi, di tengah-tengah itu, permainan tebak tulisan Shi-chan masih berlanjut. Jarinya kembali menempel di punggungku, menelusuri huruf berikutnya secara perlahan.
──Iya, iya, selanjutnya "ya", kan?
Aku yang sudah bisa menebaknya tetap tak menghentikan tanganku yang sedang mencatat, walau perhatianku agak terdistraksi oleh sentuhannya.
Namun saat itulah terjadi hal di luar dugaan.
Bagaimana pun kubayangkan, goresan jari di punggungku sama sekali bukan huruf "ya". Apalagi gerakannya lumayan rumit, sampai-sampai aku tak bisa meraba apa yang sedang dia tulis.
Shi-chan pasti menyadari kepanikan batinku. Meski tidak menoleh ke belakang, bayangan wajah Shi-chan yang sedang tersenyum jahil langsung terlintas di benakku.
Lalu, Shi-chan menuliskan satu huruf lagi dan menepuk punggungku dua kali—puk, puk. Mungkin itu tanda bahwa permainannya sudah selesai.
Total ada empat huruf, dan huruf terakhir sepertinya sama dengan huruf kedua, yaitu "ku". Berarti jika tebakanku benar, jadinya "taku-〇-ku".
Kelihatannya gampang, tapi mau dicoba dimasukkan huruf apa pun, aku sama sekali tak menemukan jawabannya. Selagi kebingungan memikirkan teka-teki itu, aku baru sadar kalau catatanku dari papan tulis makin ketinggalan.
Ketika aku bergegas kembali fokus menyalin tulisan di papan, di situlah aku menyadari sesuatu.
Yang tertulis di papan tulis adalah nama-nama penyair terkenal yang katanya bakal keluar di ujian mendatang. Yosano Akiko, Wakayama Bokusui, Masaoka Shiki, Ishikawa Takuboku──Takuboku!
Saat itu juga, seolah-olah memang menungguku menyadarinya, bisikan halus terdengar dari belakang.
"Yup. Jawabannya adalah, Takuboku."
Jawaban dari Shi-chan pun dibisikkan secara sembunyi-sembunyi.
──Iya juga, Takuboku, ya... Aku paham, tapi kenapa juga dia malah menuliskan nama itu di punggungku?
"Sebagai hadiah karena Takku-n berhasil menjawabnya dengan benar, aku beri satu petunjuk. ──Bagian ini, sepertinya bakal keluar di ujian nanti, lho."
Seakan bisa membaca pikiranku, penjelasan yang terdengar bangga itu kembali berbisik dari belakang.
Jadi maksudnya, Shi-chan memberitahuku poin penting pelajaran sambil melakukan skinship.
TLN: Skinship (スキンシップ): Istilah serapan khas Jepang/Asia Timur yang merujuk pada kontak fisik ringan untuk menunjukkan rasa kasih sayang atau keakraban (seperti bergandengan tangan, menepuk, merangkul, atau mencolek).
Padahal itu kan hal yang baru saja dikatakan oleh Pak Guru. Shi-chan yang tadi asyik jahil sepertinya tidak mendengarkan penjelasan beliau. Meski tidak mendengarkan guru, dia tetap bisa menangkap poin penting pelajaran secara tepat, sungguh hebat.
Karena itulah, sambil merasa kagum padanya, aku pun membalas dengan berbisik ke belakang.
"Bisa tolong undurkan mejanya sekarang?" begitu kataku──.
Mungkin berkat bertahan dari rasa sesak, ataukah berkat kuis misterius dari Shi-chan? Tanpa kusadari, rasa kantukku telah terbang melayang tanpa sisa.
Diskusi & Komentar (0)