🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 5 Chapter 4 - Pertarungan Para Gadis Cantik Dug! Dug! Dug!

Saat sedang menonton rekaman pertandingan SMA Kito lewat komputer di kamarku, pintu kamarku mendadak digedor dengan sangat kencang.

Ada apa sebenarnya—pikirku heran. Namun saat membuka pintu, aku mendapati Sophia sedang berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca sambil mengerucutkan pipinya lebar-lebar.

Melihat reaksinya yang memberikan sensasi dejavu ini, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah tiga orang gadis yang berdiri di belakangnya.

Seketika itu juga, Arisu-chan dan Miharu-chan kompak menggelengkan kepala mereka dengan panik, sedangkan Kujouin-san hanya mengulas senyuman manis bersalah seolah berkata, "Ehehe, maaf ya~"

Umm, ternyata pelakunya Senpai lagi ya...

"……!"

Begitu aku melangkah keluar ke koridor dan menutup pintu kamar di belakangku, Sophia langsung menghambur dan memeluk dadaku dengan erat.

Melihat tingkahnya yang tak terduga itu, Miharu-chan dan Arisu-chan langsung mematung di tempat. Namun, Arisu-chan dengan cepat langsung menatap Sophia dengan tatapan yang sangat iri.

"Yah, mengingat kalian mandi bersama, aku sebenarnya sudah menduga situasi seperti ini akan terjadi... Tapi, apakah Senpai menjahilinya lagi...?" tanyaku dengan helaan napas pasrah ke arah Kujouin-san sambil terus mengusap kepala Sophia.

Mengingat dia adalah orang yang sangat cerdas, aku sebenarnya sempat percaya kalau dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya... tapi sepertinya dia beneran melakukan hal yang serupa lagi.

Sesuai ucapanku tadi, aku memang sudah mengantisipasi kemungkinan ini, tapi sejujurnya aku berharap dia tidak melakukannya. Alasan utamanya adalah karena Miharu-chan dan Arisu-chan yang tidak tahu sifat manja asli Sophia pasti akan sangat terkejut, belum lagi menenangkan Sophia yang sudah masuk ke mode merajuk seperti ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Habisnya, Sophia-chan imut sekali sih, jadi aku tidak tahan untuk tidak menjahilinya..." bela Kujouin-san.

"Yah, aku tidak akan mengomelinya sih..."

Aku tahu betul seberapa besar rasa sayang Kujouin-san kepada Sophia, jadi aku memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini. Lagipula, jika situasinya sudah jadi begini, satu-satunya cara hanyalah aku yang harus memanjakan Sophia sampai dia kembali tenang...

"...Curang sekali..." gumam Arisu-chan pelan dengan ekspresi wajah yang sangat penuh arti saat menatap kami. Tapi bagiku, sebisa mungkin aku ingin menghindari masalah tambahan saat ini...

" Apakah kamu sedang menonton pertandingan SMA Kito?" tanya Kujouin-san, tampak sangat siap melimpahkan tugas menenangkan Sophia kepadaku sepenuhnya saat dia mengalihkan topik ke aktivitas yang sedang kulakukan.

"Senpai cepat sekali menyadarinya ya..."

"Tentu saja, karena kita akan langsung berhadapan dengan mereka di pertandingan pertama Turnamen Meiji Jingu nanti. Aku sudah menduga kalau Kento-kun pasti akan menghabiskan seluruh waktu luangmu untuk menganalisis mereka."

Benar, sesuai ucapan Kujouin-san, lawan kami di pertandingan pertama nanti secara tidak terduga adalah SMA Kito, sekolah yang berhasil menjuarai Turnamen Koshien musim panas kemarin. Bahkan, mereka memiliki kekuatan yang sangat mendominasi hingga berhasil menjuarai Koshien dua kali berturut-turut.

Ini bagaikan bos terakhir (

last boss) yang mendadak muncul di babak

pertama, namun hal-hal seperti inilah yang membuat dunia bisbol menarik sekaligus kejam.

Apalagi bagan pertandingan Turnamen Meiji Jingu memang sudah diundi terlebih dahulu oleh pihak penyelenggara sejak awal... Kami hanya kebetulan masuk ke dalam slot yang dialokasikan untuk sekolah perwakilan wilayah Chugoku saja. Dengan kata lain, keberuntungan kapten kami dalam mengocok undian sama sekali tidak ada hubungannya dengan hasil ini.

"Mau menontonnya bersama? Aku juga ingin menganalisis permainan mereka lebih banyak lagi," ajak Kujouin-san dengan senyuman manisnya yang menawan.

Meskipun dia pasti sudah menonton rekaman pertandingan mereka berkali- kali—bahkan kami juga sudah membahasnya di rapat evaluasi hari Senin kemarin—dia memang tipe orang yang sangat disiplin dan rajin...

"Tapi, ini kan acara menginap kalian..."

"Padahal niat awalku sebenarnya ingin membuat pesta perayaan kemenangan lho," sahut Kujouin-san sambil mengedikkan bahunya pasrah.

Ah, benar juga. Setelah Sophia diajak oleh Kujouin-san, dia memutuskan untuk mengajak Arisu-chan dan Miharu-chan ikut serta... Dari sanalah rencana menginap bersama ini akhirnya tercipta.

" Aku juga ingin ikut menontonnya kok, Senpai...!" seru Miharu-chan riang sambil mengacungkan tangannya ke atas, seolah menyadari kalau aku sedang merasa tidak enak pada mereka.

"A-Aku juga tidak keberatan jika kita menonton rekaman pertandingan SMA Kito..." sambung Arisu-chan ikut menyetujui.

Mengingat mereka adalah teman-teman yang sangat disayangi oleh Sophia, mereka semua memang anak-anak yang sangat baik dan peka.

"Kalau begitu, mari kita pindah ke kamar Sophia saja."

Berpikir bahwa menganalisis bersama mungkin akan membantu kami menemukan celah baru, aku menuntun mereka semua menuju kamar Sophia.

Untungnya Sophia juga menyimpan data pertandingan di kamarnya, jadi aku tidak perlu repot-repot kembali ke kamarku untuk mengambil file data.

Namun—karena Sophia terus menempel erat di lengan kananku, satu sisi tempat tidur di kamar Sophia langsung terisi olehnya begitu kami duduk di atas kasur. Sementara di sisi sebelah kiriku yang kosong, Arisu-chan secara tiba-tiba langsung mendudukkan dirinya di sana.

Sebenarnya hal itu bukan masalah besar, tapi jarak duduknya yang terlalu dekat hingga membuat lengan kami saling bersentuhan membuatku merasa agak kurang tenang.

"Kalau begitu, aku duduk di sini ya?" ujar Kujouin-san menyusul naik ke atas tempat tidur, lalu dia mengambil posisi berdiri bertumpu pada kedua lututnya tepat di belakang punggungku sambil menyandarkan kedua tangannya di pundakku.

Apa-apaan situasi di mana aku dikelilingi oleh para gadis seperti ini...?

"Wah... ini yang namanya harem ya..." gumam Miharu-chan pelan yang sempat tertinggal di belakang saat memperhatikan situasi kami.

Meskipun aku tidak bisa mendengar jelas apa yang digumamkannya tadi, aku bisa menebak apa arti dari gumamannya itu. Jika sampai ada orang lain yang melihat pemandangan ini sekarang, aku pasti berada dalam masalah besar...

—Ah, tapi bukankah Miharu-chan sendiri saat ini sedang melihatnya...?

"…………"

Miharu-chan tampak gelisah sambil mengedarkan pandangannya ke mana- mana, seolah-olah sedang mencari posisi duduk terbaik untuk dirinya sendiri.

Sesaat kemudian, wajahnya langsung berseri-seri gembira saat dia tampaknya berhasil menemukan tempat yang cocok.

Aku mendadak merasakan firasat yang kurang baik, namun aku hanya bisa diam memperhatikan gerak-geriknya. Dan benar saja—gadis mungil itu secara mengejutkan langsung mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuanku yang kosong.

"Permisi ya, Senpai."

"""""——?!"""""

Tindakan tak terduga dari Miharu-chan itu langsung membuat kami semua membeku seketika.

Terutama Sophia dan Arisu-chan yang posisinya berada tepat di depanku, ekspresi keterkejutan mereka benar-benar luar biasa. Sophia membelalakkan matanya lebar-lebar seolah ingin berteriak, "Eh, apa-apaan yang dilakukan anak ini...?!" sementara Arisu-chan menunjukkan ekspresi kesal seolah ingin berkata, "Sial, dia mendahuluiku...! Anak ini beneran tidak boleh diberi celah sedikit pun...!"

Saat aku melirik ke arah belakang, Kujouin-san juga tampak menatap Miharu- chan dengan tatapan tidak percaya. Tampaknya orang secerdas dia pun sama sekali tidak menduga Miharu-chan akan bertindak seberani ini.

"Ehehe... karena Kento-senpai tinggi sedangkan aku pendek, ternyata posisinya terasa sangat pas ya saat aku duduk di sini," ujar Miharu-chan dengan riang sambil mendongak menatap wajahku, tampak sangat menikmati posisinya seolah dia sedang bermanja-manja dengan kakak laki-lakinya sendiri.

Dia sepertinya sama sekali tidak menyadari kepanikan dari gadis-gadis di sekitarnya, tapi harus kuakui keberanian anak ini memang luar biasa.

"...Rindou-san, bisa ikut aku sebentar?" panggil Sophia yang mendadak pulih dari mode manjanya karena terkejut melihat tingkah Miharu-chan. Dia bangkit berdiri dari kasur dan memberikan isyarat tangan memanggil Arisu-chan.

Arisu-chan pun segera bangkit berdiri dengan patuh dan mereka berdua melangkah menuju sudut ruangan yang sepi untuk berbisik-bisik.

"Eh, sebenarnya apa maksudnya ini...? Apakah Miharu-chan... menyukai Kakak...?"

"Umm, kurasa tidak begitu kok... Dia sepertinya hanya menganggap Kento-kun sebagai sosok kakak laki-laki yang sangat baik dan bisa diandalkan... Apalagi Kento-kun memang orang yang kelewat baik dan selalu bisa diandalkan, kan?

Meskipun mereka seumuran, Miharu-chan selama ini selalu berjuang sendirian untuk mengurus Riku-kun, jadi wajar jika jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat merindukan sosok kakak laki-laki yang bisa memanjakannya..."

"Ugh... kalau soal perasaan itu, sebagai adiknya sendiri aku adalah orang yang paling memahaminya... Tapi tetap saja, tindakan spontannya tadi benar-benar di luar dugaan... ini adalah serangan mendadak yang sangat berbahaya..."

"Iya, sebaiknya kita harus selalu memasang mode waspada tinggi di dekatnya...

Kita tidak pernah tahu kapan rasa kagumnya itu akan berubah menjadi benih cinta, belum lagi Kento-kun sendiri tampaknya memiliki kecenderungan suka memanjakan orang lain, dia terlihat sangat lunak dan memanjakan Miharu- chan secara berlebihan... Terkadang dia bahkan memanjakannya tanpa sadar..."

"A p a-apaan itu, bahaya sekali tahu...!"

Sophia dan Arisu-chan terus berbisik-bisik secara terang-terangan di sudut kamar tanpa memedulikan kehadiran kami.

Melihat tindakan mencolok mereka, Miharu-chan yang tadinya bersikap santai akhirnya mulai menyadari keanehan situasi kami dan menatap ke arah mereka berdua dengan cemas. Mengingat dia sangat menyayangi Sophia dan Arisu- chan juga sering membantunya belajar selama ini, dia pasti merasa takut jika sampai mereka berdua membencinya akibat tindakannya tadi.

"Tenang saja, kamu tidak perlu menunjukkan wajah cemas seperti itu kok,"

ujarku mencoba menenangkannya sambil mengusap kepala Miharu-chan dengan lembut karena dia terlihat sangat ketakutan.

"...Ehehe..." sahut Miharu-chan dengan tawa riang yang menggemaskan, wajahnya kembali berseri-seri setelah rasa cemasnya hilang berkat usapan kepalaku.

Melihat senyumnya, aku merasa keputusanku untuk mengusap kepalanya adalah hal yang tepat, namun—

"…………"

Dari arah belakang punggungku, aku mendadak merasakan adanya hawa tekanan tak kasatmata yang sangat pekat dalam keheningan.

"Umm..."

"Kento-kun, apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu lakukan?

Tindakanmu barusan itu benar-benar sudah masuk ke dalam kategori genit

dan mempermainkan perasaan anak perempuan tahu," sindir Kujouin-san yang biasanya sangat ramah dengan nada ketus tanpa ampun.

Melihat dia melayangkan sindiran setajam itu secara langsung, dia sepertinya memang beneran sedang marah besar padaku.

"M-Maaf..." jawabku pasrah.

"…………"

Setelah mendengar permintaan maafku, Kujouin-san melirik ke arah Sophia dan Arisu-chan yang masih sibuk berdiskusi serius di sudut kamar, lalu secara tiba-tiba dia mendudukkan dirinya tepat di sisi sebelah kiriku yang kosong bekas tempat duduk Arisu-chan tadi.

Setelah duduk di sebelahku, dia menyodorkan kepalanya ke arahku sambil bergumam,

"Nnh..."

Eh, jangan-jangan... dia memintaku untuk mengusap kepalanya juga di sini...?

Aku langsung mematung menghadapi perkembangannya yang tidak terduga ini. Padahal tadi siang aku baru saja mengusap kepalanya di sekolah lho. Tapi ya, mengingat dia sudah menyodorkan kepalanya secara langsung seperti ini, kurasa aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaannya.

Karena tangan kananku saat ini sedang mengusap kepala Miharu-chan, aku menggunakan tangan kiriku untuk mengusap kepala Kujouin-san yang duduk di sebelah kiriku dengan lembut.

"……♪"

Mungkin karena keinginannya dituruti, atau dia memang sejenis dengan Sophia yang sangat menyukai usapan kepala, Kujouin-san tampak memejamkan matanya dengan nyaman sambil mengeluarkan suara gumaman kecil yang manis layaknya seekor kucing manja.

Melihat sisi manisnya itu, aku secara jujur membatin, "Imut sekali..." di dalam

hati.

"——Pokoknya, meskipun dia adalah Kakakku sendiri, aku tidak mau Miharu- chan direbut dariku, dan aku juga akan sangat kesulitan jika sampai Kakak

malah jatuh hati pada keimutan Miharu-chan nanti. Jadi, kita harus segera memikirkan rencana darurat untuk mengatasinya—eh?!"

Saat aku sedang asyik mengusap kepala mereka berdua, Sophia yang tampaknya sudah selesai berdiskusi dengan Arisu-chan membalikkan badannya ke arah kami. Namun begitu melihat situasi kami saat ini, dia langsung mematung di tempat sebelum akhirnya berteriak histeris.

"A p a-apaan ini?!"

Sebenarnya kejadian apa saja yang sudah terjadi selama aku mengalihkan pandanganku sebentar tadi?! —kurasa begitulah arti dari teriakan histerisnya saat melihat posisiku yang sedang mengusap kepala Miharu-chan dan Kujouin- san sekaligus saat ini.

Yah, wajar saja sih jika dia menunjukkan reaksi seheboh itu...

"Bohong... Senpai sekarang sudah beneran tidak mau menyembunyikan perasaannya lagi ya. Padahal dulu dia selalu berusaha keras agar tidak ketahuan, tapi sejak kapan perubahan sikapnya ini terjadi tanpa sepengetahuanku...?" gumam Arisu-chan gemetar menatap Kujouin-senpai dengan ekspresi yang sangat terkejut.

Melihat sosok madonna sekolah yang dikagumi oleh semua orang bersikap manja di depan seorang murid laki-laki seperti ini, wajar saja jika dia merasa sangat syok. Terlebih lagi, Kujouin-senpai selama ini terkenal tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada pria mana pun... Dia selalu bersikap ramah namun tetap menjaga jarak tertentu dengan lawan jenisnya di sekolah selama ini.

"Tidak mungkin... ini tidak mungkin... kepalaku rasanya mau pecah melihat pemandangan ini...!" keluh Sophia sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan layaknya orang yang sedang migrain hebat.

Sebagai orang yang menciptakan situasi rumit ini, aku beneran merasa sangat bersalah kepadanya.

"——Fufu..."

Sebenarnya tindakan apa yang harus kuambil saat ini—bagiku yang hampir tidak pernah memiliki pengalaman menghadapi perempuan selain Sophia, aku

beneran kebingungan mencari jalan keluar terbaik. Namun di tengah kebingunganku, Kujouin-san yang kepalanya sedang kuusap tiba-tiba tersenyum tipis.

Senyumannya sama sekali bukan senyuman kemenangan yang ditujukan untuk mengejek kekalahan mereka, melainkan sebuah senyuman hangat penuh kasih sayang layaknya seorang kakak perempuan yang sedang memaklumi tingkah adik-adiknya yang menggemaskan. Sifat keibuannya yang hangat seperti inilah yang kurasa menjadi alasan kenapa dia sangat dihormati dan bahkan dijuluki sebagai "Dewi" oleh murid-murid di sekolah.

"Nah, kalian berdua, mari kita segera mulai menonton rekaman pertandingannya ya? Haimiya-san juga," ajak Kujouin-san dengan senyum lembutnya sambil bangkit berdiri dan kembali mengambil posisinya di belakang punggungku seperti semula.

Sebelum pergi, dia sempat menepuk-nepuk kepala Miharu-chan dengan lembut, seolah ingin memberikan isyarat bahwa sesi usapan kepalaku untuknya sudah berakhir saat ini.

""I-Iya... "" jawab Sophia dan Arisu-chan kompak sambil melangkah mendekat dan duduk di kedua sisiku dengan canggung.

Meskipun ini adalah posisi duduk mereka yang semula, aku tidak menyangka Kujouin-san akan mengalah dan merelakan posisinya dengan sangat mudah seperti ini... Pembawaannya memang menunjukkan kalau dia memiliki kedewasaan emosional yang paling matang di antara kami semua.

Atau jangan-jangan—tindakannya meminta usap kepala tadi sengaja dilakukan hanya untuk menjahili mereka berdua saja sejak awal...? Menatap sosok Kujouin-san yang terlihat sangat santai di belakangku, aku tidak bisa menahan rasa heranku terhadap kepribadian aslinya.

Karena Kujouin-san sudah berhasil mencairkan suasana kamar kami kembali kondusif untuk menonton, aku mengambil remote TV dan mulai memutar video rekaman pertandingan SMA Kito di layar televisi milik Sophia.

Yah... meskipun aku mencoba fokus menonton, berada di posisi diapit oleh empat orang gadis cantik dari segala arah seperti ini tetap saja membuatku merasa sangat gugup dan tegang. Aroma harum yang manis tercium semerbak

dari sekitar tubuh mereka, belum lagi sensasi lembut dari kulit khas perempuan sesekali menyentuh tubuhku secara tidak sengaja, membuatku merasa menjadi satu-satunya orang yang tidak berada di tempat yang tepat di kamar ini.

Namun, jika aku tidak fokus menonton pertandingan saat ini, suasana kamar kami pasti akan kembali menjadi canggung dan aneh, jadi aku memutuskan untuk mengikuti arahan Kujouin-san dengan patuh.

"...Miharu-chan... kenapa kamu masih terus duduk di atas pangkuannya begitu sih..." gumam Arisu-chan pelan di sebelahku dengan nada tidak puas. Namun karena suaranya sangat lirih, aku tidak bisa mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkannya tadi. Dia juga tidak menatap ke arahku saat berbicara, jadi kurasa itu hanya gumaman hatinya saja.

"SMA Kito... mereka adalah sekolah terkuat saat ini, kan? Apakah Kento-senpai dan tim beneran akan menghadapi pertandingan yang sangat sulit melawan mereka nanti?" tanya Miharu-chan yang polos sambil mendongak menatap wajahku, mengalihkan perhatiannya dari layar televisi. Mengingat adiknya berencana masuk ke sekolah kami tahun depan, dia pasti merasa penasaran dengan peta kekuatan tim kami saat ini.

"Kamu ingin aku menjawabnya secara jujur atau sekadar basa-basi saja?"

"Secara jujur saja, Senpai."

Mendengar jawabannya yang mantap tanpa ragu, aku pun memutuskan untuk mengutarakan analisis asliku. Sifatnya yang jujur dan apa adanya seperti ini memang merupakan salah satu kelebihan terbaik yang dimilikinya.

"Menurutku pribadi, pertandingan yang menanti kami nanti akan menjadi sebuah pertempuran yang sangat sulit dan kejam."

Alasanku berkata demikian bukan hanya karena fakta bahwa mereka adalah tim nomor satu di Jepang saat ini. Melainkan karena kualitas individu pemain mereka beneran berada di tingkat yang tidak masuk akal.

Seluruh pemain pemukul (

batter) mereka adalah sekumpulan talenta berbakat

yang jika bermain di sekolah unggulan olahraga lain, mereka pasti akan langsung ditunjuk menjadi pemukul utama nomor empat. Pertahanan mereka juga sangat solid, terutama kombinasi penjaga lini tengah ( second baseman

dan shortstop) mereka yang sering kali mendaratkan aksi penyelamatan luar biasa yang membuatku ingin berteriak, "Bagaimana mungkin bola itu bisa ditangkap?!" atau melayangkan protes, "Ini dunia nyata, bukan dunia komik olahraga tahu!"

Dalam Turnamen Koshien musim panas kemarin, ada momen luar biasa di mana bola hasil pukulan keras yang mengarah tepat ke tengah lapangan berhasil ditangkap dengan gemilang oleh penjaga basis kedua (second baseman). Alih-alih menggenggam bola dengan tangannya sendiri terlebih dahulu, dia langsung mengibaskan sarung tangannya (glove) untuk melempar bola ke arah shortstop secara instan untuk mematikan pelari lawan, sebelum akhirnya sang shortstop melemparkannya kembali ke basis pertama untuk mematikan sang pemukul (double play). Aksi pertahanan luar biasa itu benar- benar sukses membuat seluruh pencinta bisbol di Jepang terperangah kagum saat menontonnya.

Dan yang mengerikan adalah, kedua pemain itu saat ini masih berada di kelas dua, yang berarti mereka masih tetap menghuni skuad tim utama yang baru saat ini.

Bukan hanya mereka saja, pemukul utama nomor empat, pitcher andalan (

ace), hingga catcher utama mereka pun semuanya masih bertahan di dalam skuad. Sebagian besar anggota inti tim SMA Kito yang berhasil menumbangkan kekuatan tim legendaris SMA Koyo di final musim panas kemarin beneran masih tersisa di dalam tim utama saat ini.

Di saat sebagian besar sekolah bisbol di Jepang biasanya akan mengalami penurunan performa akibat pergantian generasi pemain senior kelas tiga di awal semester baru seperti saat ini, tim juara nasional Koshien kemarin justru hampir tidak mengalami penurunan kekuatan sama sekali di dalam skuad mereka. Ini benar-benar terasa sangat curang bagi sekolah-sekolah pesaing lainnya.

Namun, di luar semua kehebatan materi skuad mereka, sosok pasangan baterai (battery) tim mereka adalah alasan utama kenapa pertandingan ini akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagiku pribadi...

"——Hasil pertandingan tidak akan pernah bisa ditebak sampai kita benar- benar bertanding di lapangan tahu. Meskipun ini akan menjadi pertempuran yang berat, aku tidak berpikir kalau mereka adalah lawan yang mustahil untuk

dikalahkan. Lagipula, Kakak dan tim kan sudah berhasil menumbangkan kekuatan tim SMA Koyo yang dipimpin oleh Yajima-san malam itu," sela Sophia tiba-tiba dengan nada ketus, tampak kesal dengan analisisku yang terdengar pesimis.

Sesuai ucapannya, di dalam dunia olahraga memang tidak pernah ada kata mutlak. Seberapa besar pun perbedaan kekuatan di antara kedua tim, di lapangan selalu ada kemungkinan terciptanya kejutan yang bisa membalikkan keadaan dalam sekejap. Di dunia olahraga, kejadian seperti itu biasa dijuluki sebagai Giant Killing (penaklukan sang raksasa).

Apalagi bagi pertandingan tingkat SMA yang kondisi mental dan teknik para pemainnya masih belum stabil, kejutan seperti itu sangatlah lumrah terjadi.

Namun—masalah terbesarnya adalah, catcher utama yang memimpin pertahanan tim SMA Kito saat ini adalah Kase Ryoma-san...

Dia adalah catcher nomor satu di tingkat bisbol SMA Jepang saat ini yang bahkan sudah dipercaya untuk memegang posisi catcher utama di tim nasional junior Jepang. Karakter kepemimpinannya di lapangan sedikit berbeda denganku. Jika aku adalah tipe catcher yang memimpin permainan dengan mengandalkan analisis data yang dipadukan dengan pengamatan langsung terhadap kondisi fisik pitcher dan teknik pemukul lawan di lapangan, maka Kase Ryoma-san adalah tipe catcher yang memimpin pertahanan dengan berfokus penuh untuk melumpuhkan pilihan bola yang sedang diincar oleh pemukul lawan secara mutlak, meski dia juga tetap memperhatikan analisis data timnya.

Dan sepanjang sejarah penampilannya di lapangan, aku sama sekali belum pernah melihat tim yang dipimpin olehnya menderita kekalahan dari sekolah yang kastanya berada di bawah mereka—tidak hanya di pertandingan resmi saja, bahkan di pertandingan persahabatan sekalipun, rekor tidak terkalahkannya tetap terjaga dengan sempurna.

" Aku juga yakin Kento-senpai dan tim pasti akan menang!" seru Miharu-chan riang dengan senyuman manisnya yang menggemaskan, ikut menyemangatiku setelah mendengar ucapan Sophia.

Meskipun usia kami seangkatan, pembawaannya yang menggemaskan layaknya seorang adik perempuan mungil membuatku secara tidak sadar mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya dengan lembut lagi.

Seketika itu juga, aku bisa merasakan Sophia dan Arisu-chan yang duduk di kedua sisiku langsung menahan napas mereka secara bersamaan. Dan benar saja, dari sisi kiri dan kanan, aku langsung dihujani oleh tatapan tajam penuh kecemburuan dari mereka berdua.

Untungnya aku tidak merasakan adanya hawa tekanan tambahan dari arah belakang... namun jika aku tidak segera berhati-hati dalam bertindak, keselamatan nyawaku di rumah ini beneran akan terancam...

Di tengah ketegangan yang berkecamuk di dalam kamar, video rekaman pertandingan di layar televisi terus berjalan.

"Pitcher yang satu ini... tubuhnya tinggi sekali ya, Senpai? Bola lemparannya juga terlihat sangat kencang dan cepat sekali..." tanya Miharu-chan sambil menunjuk ke arah pitcher andalan SMA Kito di layar TV, lalu mendongak menatap wajahku sekali lagi.

Arisu-chan sempat menunjukkan gelagat ingin menghentikan tingkah Miharu- chan yang dinilainya mengganggu konsentrasiku, namun aku menghentikannya dengan senyuman lembut.

Bagi Arisu-chan yang peduli dengan analisis jalannya pertandingan, tindakan Miharu-chan mungkin terlihat mengganggu konsentrasiku, namun bagiku pribadi hal ini sama sekali bukan masalah besar yang perlu diperdebatkan.

Justru jika Miharu-chan bisa menikmati tontonan pertandingan bisbol ini dengan nyaman, kurasa itu adalah hal yang sangat bagus. Lagipula, aku masih tetap bisa menganalisis jalannya pertandingan dengan fokus meski dia bertingkah seperti ini di pangkuanku.

"Dia adalah pitcher andalan SMA Kito, namanya Sumeragi Koya-san.

Berdasarkan data analisis yang dikumpulkan oleh Kujouin-san, tinggi badannya saat ini mencapai 195 cm lho."

"195 cm?! Pantas saja dia terlihat sangat besar di layar... Selisih tinggi badannya denganku saja mencapai lebih dari 50 cm..." gumam Miharu-chan dengan mata membelalak heran menatap layar televisi.

Wajar saja jika dia merasa heran, mengingat sangat jarang ada orang Jepang yang memiliki tinggi badan mencapai 195 cm di usia muda seperti itu.

"Kecepatan maksimal lemparan bola lurusnya (straight) mencapai 155 km/jam lho. Dan menurut prediksi dari pelatih kami, kecepatannya kemungkinan besar akan menembus angka 160 km/jam pada musim panas tahun depan nanti," sahut Kujouin-san dari belakangku, ikut memberikan penjelasan tambahan dengan nada lembut karena merasa gemas melihat reaksi polos Miharu-chan.

Mendengar penjelasan itu, Miharu-chan langsung terperangah heran.

Sedangkan Arisu-chan sama sekali tidak menunjukkan reaksi terkejut karena dia memang seorang pencinta bisbol yang sering menonton pertandingan secara langsung di stadion, jadi semua informasi tersebut pasti sudah diketahuinya sejak awal.

"Lemparan dengan kecepatan 160 km/jam itu... rasanya seperti kekuatan yang hanya ada di dalam dunia komik saja ya..."

"Yah, meskipun di tingkat profesional saat ini memang sudah ada beberapa pitcher yang sanggup melempar dengan kecepatan seperti itu kok. Bahkan beberapa di antaranya sudah bisa melakukannya sejak mereka masih duduk di bangku SMA dulu," jawabku menimpali.

Namun para pemain profesional tersebut saat ini sudah bermain di liga utama (

major league) Amerika Serikat dan menjadi bintang besar di sana... Jadi harus kuakui, Sumeragi Koya-san beneran memiliki potensi luar biasa yang setara dengan Yajima-san dari SMA Koyo.

"Lemparannya... jauh lebih cepat dibanding Kurogane-senpai, kan?"

"Iya, jauh lebih cepat. Tapi lemparan lurus milik Shuto memiliki tingkat putaran bola (spin) yang sangat luar biasa di ujungnya, sedangkan untuk kasus Sumeragi-san, bola lurusnya tidak terlalu memiliki putaran tajam di ujung lemparan. Jadi secara teknis, kita tidak bisa langsung menyimpulkan siapa di antara mereka berdua yang jauh lebih unggul."

Kualitas sebuah lemparan lurus memang tidak hanya ditentukan oleh faktor kecepatan angka di papan skor saja. Hal-hal rumit seperti inilah yang membuat

dunia bisbol terasa sangat menarik sekaligus merepotkan bagi seorang catcher sepertiku.

"——Eh? Tunggu sebentar... Bola lemparannya barusan... bukankah terasa agak aneh ya, Senpai? Putaran bolanya terlihat seperti berbentuk spiral... mirip seperti jurus bola ajaib yang biasa muncul di dalam game atau komik..." tanya Miharu-chan menyadari sesuatu.

Tampaknya penglihatan Miharu-chan memang sangat tajam. Dia berhasil menyadari jenis lemparan andalan yang menjadi kunci utama kenapa Sumeragi-san bisa menyandang gelar sebagai pitcher nomor satu di Jepang saat ini.

"Itu adalah jenis lemparan

Gyroball. Kecepatan maksimal lemparannya bahkan

dilaporkan sempat menyentuh angka 158 km/jam lho," jawabku menjelaskan.

"Eeehhh?! Bukankah jenis lemparan itu cuma karangan fiksi di dalam komik saja ya...?!" seru Miharu-chan terkejut setengah mati. Reaksinya yang ekspresif seperti anak kecil ini beneran terlihat sangat imut.

Tapi tunggu dulu, kenapa dia malah mengabaikan fakta angka kecepatannya yang tidak masuk akal itu sih?

"Umm, jenis lemparan itu beneran ada kok di dunia nyata. Beberapa pitcher di liga profesional juga ada yang sanggup melakukannya. Dan alasan utama kenapa Ayah dari Sumeragi-san bisa menyandang gelar sebagai pitcher andalan nasional Jepang dulu juga adalah berkat lemparan Gyroball miliknya ini. Berdasarkan cerita dari Pelatih kami, saat Ayah Sumeragi-san masih bermain di liga profesional dulu, dia awalnya hanya berniat melatih lemparan Cutter biasa, namun bola lemparannya secara tidak sengaja justru menghasilkan putaran khas Gyroball. Dari sanalah dia mulai menganalisis dan mengasah tekniknya hingga berhasil menguasainya dengan sempurna," jelas Kujouin-san dari belakangku, membantu melengkapi penjelasanku.

Meskipun Pelatih kami juga mengaku kalau dia hanya mendengar cerita itu dari orang lain sih.

Namun kenyataannya, inspirasi atau kejadian tak terduga seperti itulah yang sering kali mengubah nasib dan meningkatkan kemampuan seorang atlet bisbol secara drastis dalam sekejap. Mengingat Sumeragi Koya-san berhasil

menguasai teknik sulit tersebut dengan sempurna saat ini, dia kemungkinan besar telah dilatih secara khusus oleh Ayahnya sejak kecil atau berhasil meniru tekniknya secara langsung.

"Kelebihan utama dari lemparan Gyroball adalah selisih antara kecepatan awal saat bola terlepas dari tangan pitcher (initial velocity) dengan kecepatan akhir saat bola tiba di sarung tangan catcher (terminal velocity) sangatlah tipis, sehingga bolanya terasa seolah-olah bertambah cepat saat mendekati area pemukul. Karena itulah, saat dipadukan dengan bola lurus milik Sumeragi-san yang kecepatannya luar biasa namun minim putaran di ujungnya, kombinasi kedua lemparan ini akan menjadi senjata pertahanan yang sangat merepotkan bagi tim lawan," jelasku menambahkan.

Secara teori pertahanan, pemukul lawan harus bersiap menghadapi dua jenis lemparan dengan tingkat kecepatan yang hampir sama namun dengan putaran bola yang berbeda. Di atas kertas, pemukul harusnya bisa membedakan jenis lemparan tersebut dari putaran bolanya, namun menghadapi bola dengan kecepatan hampir 160 km/jam, berdebat memikirkan putaran bola sebelum mengayunkan tongkat pemukul (

bat) sudah pasti tidak akan sempat.

Ditambah lagi, dia masih memiliki lemparan Changeup yang sanggup merusak momentum ayunan tongkat pemukul lawan dengan sempurna, serta lemparan Splitter dengan kecepatan yang hampir menyamai bola lurusnya. Berbeda dengan lemparan splitter milik Shuto atau Riku-kun, splitter miliknya hampir tidak menunjukkan perubahan arah lemparan yang mencolok, melainkan hanya sedikit menukik turun tepat di depan pemukul lawan, yang justru membuatnya menjadi senjata yang sangat efektif untuk menghindari pukulan telak dari lawan.

Meskipun akurasi lemparannya sering dinilai kurang stabil, fakta bahwa dia memiliki variasi lemparan yang beragam dengan masing-masing dua tingkat perubahan arah lemparan yang berbeda membuatnya layak disandingkan dengan Yajima-san dari SMA Koyo yang terkenal dengan akurasi lemparannya yang sepresisi mesin.

Dia beneran monster di lapangan bisbol.

Aku bahkan sempat heran kenapa bisa ada dua orang pitcher monster yang tidak manusiawi seperti mereka lahir di generasi yang sama saat ini. Jika kita memasukkan Shuto yang usianya setahun di bawah mereka, kurasa generasi

saat ini adalah masa keemasan terbaik bagi perkembangan pitcher di Jepang sepanjang sejarah.

"——Wah, bolanya hampir mengenai tubuh pemukul lagi...! Lemparannya terlihat sangat menakutkan dan bertenaga sekali, apa pemukul lawan tidak merasa takut jika sampai terkena bola sekeras itu, Senpai...?!" tanya Miharu- chan dengan wajah pucat saat melihat pemukul lawan di layar TV buru-buru menghindar hingga jatuh terduduk di tanah akibat lemparan bola liar Sumeragi-san.

Aku tahu betul apa yang dia rasakan saat ini.

Sangat tahu.

Menghadapi pitcher dengan kecepatan lemparan luar biasa namun memiliki akurasi lemparan yang kurang stabil seperti itu beneran memberikan sensasi ketakutan tersendiri bagi pemukul lawan di lapangan, di luar masalah teknik memukul bola itu sendiri. Karena itulah, sebagian besar pemukul dari sekolah lain biasanya akan refleks menarik tubuh mereka mundur ke belakang karena takut terkena bola saat berhadapan dengan Sumeragi-san di lapangan.

"Meskipun dia terkenal dengan lemparan liarnya, kenyataannya lemparan liar miliknya sebagian besar masih berada di dalam area batas pukulan ( strike

zone), jadi dia sebenarnya jarang sekali memberikan lemparan bebas (walk) akibat kesalahan lempar lho. Hanya saja... di pertandingan kali ini, konsentrasi Sumeragi-san tampak agak kurang fokus karena perbedaan kualitas kekuatan tim lawan yang terlalu jauh..." jelas Kujouin-san.

Meskipun Sumeragi-san terkenal sebagai orang yang pendiam dan jarang menunjukkan ekspresi wajah di lapangan, di dalam hatinya dia sebenarnya adalah tipe pemain yang sangat menikmati pertempuran sengit melawan pemukul tangguh. Karena itulah, saat berhadapan dengan pemukul lawan yang kualitasnya berada di bawah standarnya, dia sering kali kehilangan konsentrasi dan melemparkan bola ke area yang mudah dipukul oleh lawan.

Alasan kenapa dia jarang sekali memberikan angka cuma-cuma akibat kesalahan lempar saat kehilangan konsentrasi kemungkinan besar adalah berkat kelihaian Kase-san dalam mengendalikan emosinya di lapangan.

Mengingat lemparan sekeras itu jika sampai mengenai tubuh pemukul lawan

beneran akan berakibat sangat fatal, Kase-san pasti selalu berusaha keras menjaga agar konsentrasi Sumeragi-san tetap stabil sepanjang pertandingan.

Dan yang paling menakutkan dari Sumeragi-san adalah dia akan menunjukkan tingkat konsentrasi yang luar biasa tinggi saat berhadapan dengan pemukul tangguh dari tim lawan. Meskipun lemparannya tetap akan terlihat liar di dalam strike zone, dia hampir tidak pernah lagi melemparkan bola liar di luar batas pukulan, dan dia juga tidak akan memberikan bola mudah ke area pemukul. Bola lemparannya akan terus bergerak liar di batas tipis strike zone, sebuah situasi pertahanan yang sangat menyulitkan bagi pemukul mana pun di lapangan.

Sejujurnya, bagiku pribadi yang mengandalkan analisis data, menghadapi pitcher yang lemparannya tidak bisa diprediksi secara matematis seperti dia adalah hal yang paling ingin kuhindari di lapangan.

"——Melihat semua kehebatannya itu... kekuatan tim mereka beneran terasa sangat curang ya, Kento-kun...?" tanya Arisu-chan yang sejak tadi diam menonton di sebelahku, menatap wajahku dengan cemas.

"Pitcher andalan mereka memang luar biasa, belum lagi barisan pemukul mereka yang dihuni oleh sekumpulan monster. Jika Shuto tidak ada di tim kami, aku rasa kami beneran sudah tidak punya peluang sama sekali untuk menang melawan mereka," jawabku jujur.

Sejujurnya, di dalam tim SMA Seijo saat ini, tidak ada pitcher selain Shuto yang sanggup meredam gempuran barisan pemukul monster dari SMA Kito.

Berbeda dengan barisan pemukul SMA Koyo yang sering bermain dengan beban mental berlebih, barisan pemukul SMA Kito selalu bermain dengan sangat tenang dan terorganisir, jadi mustahil bagi para pitcher senior kami untuk bisa bertahan menghadapi mereka sepanjang pertandingan.

Seandainya saja pitcher andalan mereka bukan monster seperti Sumeragi-san, kami mungkin masih bisa mencari celah kemenangan dengan memaksakan taktik permainan menyerang saling balas angka (slugfest)... namun menghadapi pitcher nomor satu di Jepang, mencuri satu angka saja dari mereka sudah pasti akan menjadi perjuangan yang sangat sulit bagi tim kami.

Apalagi statusnya bukan hanya pitcher nomor satu di Jepang saja, melainkan pitcher nomor satu di turnamen junior tingkat dunia...

"""""…………"""""

Seketika setelah video rekaman pertandingan selesai diputar, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti kamar kami. Miharu-chan dan Arisu-chan, bahkan Sophia dan Kujouin-san pun tampak menunjukkan ekspresi wajah yang sangat serius merenungkan hasil analisis pertandingan tadi.

"Yah, meskipun situasinya sulit, kami tidak berniat untuk menyerah begitu saja kok. Aku dan tim pasti akan berjuang keras untuk merebut kemenangan di pertandingan nanti. Alasan utama kenapa aku melakukan analisis data sedalam ini sejak awal kan memang demi mencari celah kemenangan tersebut," ujarku mencoba mencairkan suasana dengan senyum hangat ke arah mereka semua.

Upayaku tampaknya berhasil karena senyum manis akhirnya kembali menghiasi wajah Miharu-chan dan yang lainnya.

"Benar sekali, aku juga yakin Kento-kun dan tim pasti akan menang!" seru Kujouin-san menjadi yang pertama menyahut sambil mencondongkan badannya ke depan dari arah belakangku untuk mengintip wajahku.

Tindakannya membuat jarak wajah kami menjadi sangat dekat hingga aku bisa merasakan embusan napas hangatnya menerpa pipiku secara langsung.

"~~~~~?!"

Sesaat kemudian, wajah Kujouin-san langsung memerah padam dan dia langsung melompat mundur ke belakang dengan mata yang tampak berputar- putar karena panik. Tampaknya dia melakukan tindakan mencondongkan badan tadi secara refleks tanpa sadar, dan dia langsung merasa sangat malu begitu menyadari seberapa dekat jarak wajah kami saat itu.

Gadis ini... padahal tadi siang dia dengan santainya memintaku untuk mengusap kepalanya di sekolah, tapi kenapa dia bisa sampai se-terpaku dan se-malu ini hanya karena hal sepele begini ya...? Sifat aslinya benar-benar sangat sulit kupahami...

"Kento-kun... aku heran kenapa kamu tidak pernah ditusuk pisau oleh anak perempuan sampai sekarang ya..."

" Arisu-chan?! Kenapa kamu mendadak melayangkan pertanyaan menyeramkan begitu?!" seruku terkejut menatap Arisu-chan yang menatap wajahku dengan ekspresi khawatir dari sebelah kananku. Kenapa dia juga ikut-ikutan membahas masalah penusukan pisau sih...?!

"Umm, menurutku kejadian itu hanya tinggal menunggu masalah waktu saja kok, Kak," timpal Sophia ketus dari sebelah kiriku.

"Sophia?! Kenapa kamu malah ikut-ikutan menyetujui topik menyeramkan itu sih...?! Memangnya kamu sangat ingin melihat kakaknya sendiri ditusuk pisau ya...?!" protesku padanya.

"Hmph..." balas Sophia sambil memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ketus.

Ah, dia sedang merajuk rupanya. Tapi aku beneran tidak tahu apa alasan yang membuatnya merajuk saat ini.

"Kento-senpai, tolong jangan sampai ditusuk pisau ya...? Soalnya kalau sampai Senpai terluka, Riku-kun pasti akan sangat sedih nanti..." ujar Miharu-chan polos menimpali obrolan kami.

"Umm, Miharu-chan, tolong jangan menganggap serius ucapan mereka ya?

Sophia dan yang lainnya cuma sedang bercanda kok," ujarku menenangkannya.

Tapi tunggu dulu, kenapa fokus kekhawatiran Miharu-chan bukan karena keselamatanku, melainkan hanya karena dia takut adiknya, Riku-kun, akan sedih jika aku terluka sih...?

Meskipun dia sendiri saat ini sedang duduk dengan nyaman di atas pangkuanku atas keinginannya sendiri... kenyataan itu mendadak memunculkan sedikit rasa kurang puas di dalam hatiku.

" Ahaha... kami sama sekali tidak sedang bercanda lho, kami beneran serius mengatakannya..." gumam Arisu-chan pasrah sambil tersenyum canggung.

"Percuma saja. Kakak kan memang tipe orang yang sama sekali tidak menyadari dosa-dosa yang sudah diperbuatnya selama ini," ketus Sophia dengan tatapan menyipit yang menuduh ke arahku.

Tanpa kusadari, kedua orang itu kini sudah sedikit menggeser posisi duduk mereka menjauh dariku, namun tatapan mata mereka beneran terlihat sangat penuh arti.

"Baiklah, kalau begitu aku pamit kembali ke kamarku dulu ya. Sophia dan yang lainnya juga sebaiknya segera mempersiapkan diri untuk tidur, kan?" ujarku mencoba mencari jalan keluar.

Meskipun besok adalah hari Sabtu, jadwal latihan klub bisbol kami tetap berjalan seperti biasa. Di luar Miharu-chan dan Arisu-chan, Sophia dan Kujouin-san yang merupakan manajer klub tentu harus bangun pagi-pagi sekali besok untuk membantu persiapan latihan.

Namun—begitu mendengar ucapanku, tubuh Sophia langsung membeku seketika seolah-olah dia baru saja tersengat listrik. Keringat dingin tampak mulai mengucur deras di pelipisnya.

Umm, ada apa dengannya...?

"Sophia?" panggilku heran.

" Aku... aku lupa... Bagaimana dengan pembagian tempat tidur kita malam ini...?"

tanya Sophia menatapku dengan tatapan mata yang penuh permohonan bantuan.

Sebenarnya apa yang sedang dia khawatirkan sih di saat-saat seperti ini...?

"Masalah tempat tidur bagaimana, kasur di kamarmu kan cukup besar untuk ditiduri dua orang sekaligus, belum lagi di rumah ini juga masih ada dua set kasur lantai (

futon) tambahan untuk tamu, kan?" jawabku menjelaskan rencana yang sudah kami sepakati sebelumnya.

Ukuran tempat tidur di kamar Sophia memang cukup besar sampai-sampai aku dan Sophia sendiri terkadang sering tidur bersama di sana, jadi jika ditiduri oleh dua orang anak perempuan pun kapasitasnya masih sangat longgar. Malahan, kurasa ditiduri tiga orang sekaligus pun kasurnya masih muat.

Kalaupun mereka membutuhkan area tambahan untuk menggelar kasur lantai tamu, mereka tidak harus memaksakan diri menggelarnya di dalam kamar Sophia yang sempit, kan? Dan jika mereka memang bersikeras ingin tidur di

dalam kamar Sophia saja, mereka tinggal menggelar satu set kasur lantai di lantai kamar dan membiarkan dua orang tidur di atas kasur lantai tersebut bersama-sama.

Sebenarnya apa yang membuat Sophia sampai sepanik ini sih...?

"Tidur bersama dua orang... itu adalah masalah utamanya tahu. Bagaimana ini, aku harus segera memikirkan rencana darurat..." gumam Sophia pelan sambil menundukkan kepalanya dalam diam, tampak sedang memikirkan solusi terbaik dengan keras di dalam kepalanya.

Di saat Sophia sedang sibuk melamun panik, Kujouin-san melangkah mendekatinya dari belakang sambil tersenyum manis.

"Sophia-chan, malam ini kita tidur bersama di satu ranjang yang sama ya?"

ajak Kujouin-san lembut.

"—?!"

Begitu mendengar ajakan tersebut, tubuh Sophia langsung tersentak ngeri.

Tatapan matanya beneran terlihat sangat ketakutan seolah-olah dia baru saja teringat akan sebuah kejadian traumatis yang mengerikan...

Ah, kalau dipikir-pikir kembali, sebelum Sophia mendadak pulih dari mode manjanya tadi, dia kan baru saja mandi bersama Kujouin-san di kamar mandi...

Sebenarnya perlakuan menyeramkan seperti apa yang diberikan oleh Kujouin- san kepadanya di dalam kamar mandi sampai-sampai membuat Sophia menderita trauma sehebat ini...?

Di saat aku sedang asyik memperhatikan gerak-gerik mereka dengan santai— "A-Aku... aku memutuskan untuk tidur bersama Kakak saja malam ini...!" seru Sophia tiba-tiba melayangkan pernyataan bom yang sangat mengejutkan di dalam kamar.

"Sophia?!" seruku spontan memanggil namanya karena terkejut setengah mati.

Aku sama sekali tidak menyangka dia akan nekat melayangkan pernyataan seberani itu di hadapan teman-temannya. Pernyataan yang beneran sangat tidak masuk akal dan di luar dugaan siapa pun yang mendengarnya saat ini.

Tentu saja, gadis-gadis lain di kamar langsung bereaksi keras menanggapi ucapannya.

"Tidur bersama Kento-kun... Jangan-jangan, kalian berdua... selama ini beneran sering tidur bersama di satu ranjang yang sama ya...?" tanya Kujouin-san dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan menyelidik.

"Curang, curang, curang, curang sekali...!" keluh Arisu-chan dengan mata berkaca-kaca sambil mengerucutkan pipinya kesal, terus menggumamkan kata-kata yang sama berulang kali layaknya sebuah mantra.

"Wah, Sophia-senpai beneran berani sekali ya...!" sahut Miharu-chan riang dengan wajah yang merona merah karena merasa senang melihat perkembangan hubungan kami.

Satu kalimat spontan dari Sophia beneran sukses merusak suasana damai di kamar kami dalam sekejap.

"Umm... tolong jangan bercanda berlebihan seperti itu dong, Sophia..." ujarku mencoba meluruskan situasi agar mengarah ke lelucon biasa saja, khawatir jika kesalahpahaman ini sampai menyebar luas ke sekeliling sekolah besok pagi.

Namun—

"A-Aku sama sekali tidak sedang bercanda kok, kenyataannya kami memang terkadang tidur bersama di satu ranjang...!" bantah Sophia bersikeras, alih-alih meluruskannya dia justru melayangkan pernyataan bom tambahan yang jauh lebih mengerikan.

Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan sih—pikirku heran. Namun saat melihat matanya yang tampak berputar-putar karena panik, dia sepertinya memang sedang berada dalam kondisi mental yang sangat tidak stabil.

Ketakutannya menghadapi skenario harus tidur bersama dengan Kujouin-san malam ini tampaknya benar-benar sudah menyudutkan kondisi psikologisnya sampai ke batas maksimal.

...Sungguh, sebenarnya perlakuan sekejam apa yang diberikan oleh Kujouin- san kepadanya di dalam kamar mandi sampai-sampai bisa menanamkan rasa trauma sedalam ini di dalam diri Sophia...?! Aku beneran sangat ingin meneriakkan pertanyaan itu keras-keras saat ini.

"Oh, jadi kalian beneran sering tidur bersama ya, hmm~?" gumam Kujouin-san dingin.

"Kakak curang sekali mendahului kami! Curang sekali!" protes Arisu-chan dengan mata berkaca-kaca.

"Ternyata Sophia-senpai dan Kento-senpai... sudah berada di dalam tahap hubungan yang seperti itu ya..." sahut Miharu-chan dengan wajah merona merah malu-malu, tampaknya dia sudah menyalahartikan hubungan kami ke arah kesalahpahaman yang sangat jauh. Bukankah gadis yang satu ini harusnya memiliki kepribadian yang polos...? Tapi ya, mengingat usianya yang sudah menginjak masa remaja, wajar saja sih jika dia langsung berpikiran ke arah sana...

"Kami tidak tidur bersama setiap hari kok...! Alasan kami tidur bersama hanya karena Sophia sangat takut dengan suara petir, jadi aku hanya menemaninya tidur di saat badai petir melanda saja," ujarku buru-buru menjelaskan situasi yang sebenarnya secara mendetail sebelum kesalahpahaman ini semakin memburuk dan tidak bisa diselamatkan lagi.

" Ah?! Kenapa Kakak malah membocorkan rahasia itu kepada mereka sih...! Itu kan sangat memalukan tahu...!" protes Sophia kesal karena kelemahannya yang takut suara petir akhirnya terbongkar di hadapan teman-temannya.

Meskipun dia melayangkan protes keras, aku memutuskan untuk mengabaikannya demi keselamatan reputasiku. Dibandingkan dengan rasa malunya yang takut suara petir, membiarkan kesalahpahaman tentang kami tidur bersama terus berlanjut di antara gadis-gadis ini jelas jauh lebih berbahaya bagiku.

""…………"

Namun, meskipun aku sudah memberikan penjelasan yang sangat logis dan jujur, tatapan mata menuduh dari Kujouin-san dan Arisu-chan sama sekali tidak memudar sedikit pun. Malahan, tatapan mereka berdua saat ini terasa jauh lebih pekat dan dingin dibanding sebelum aku memberikan penjelasan tadi.

"U-Umm... ada apa ya...?" tanyaku gugup.

"Kento-kun ini sepertinya tipe orang yang akan sangat mudah ditipu oleh anak perempuan ya," celetuk Kujouin-san tajam.

"Hanya dengan menunjukkan sisi kelemahan kita saja, sepertinya kita bisa langsung mendekatinya dan tidur di ranjangnya dengan mudah ya..." gumam Arisu-chan dengan kilatan mata yang tampak mencurigakan.

" Ahaha, Kento-senpai sepertinya memang tipe orang yang akan sangat mudah dikelabui dan dijebak oleh gadis-gadis nakal ya," canda Miharu-chan ikut menimpali obrolan kami dengan riang.

Mendengar tuduhan sepihak dari mereka, aku hanya bisa membalas dengan canggung, "Kurasa aku tidak selemah itu kok..."

"Tapi buktinya, kamu langsung setuju untuk tidur bersama hanya karena ada anak perempuan yang mengaku takut dengan suara petir, kan?" potong Kujouin-san tajam, mendaratkan serangan telak ke arahku.

"Ugh...!" gumamku kehabisan kata-kata untuk membantahnya.

Pada awalnya aku memang sempat menolak permintaannya, namun mengingat pada kejadian badai petir malam kemarin aku langsung menuruti permintaan Sophia dengan sangat mudah tanpa perlawanan berarti, aku beneran tidak punya alasan logis untuk membela diriku di hadapannya saat ini.

"Dulu juga pernah ada kejadian di mana kamu dijebak oleh seorang gadis yang berpura-pura sedang diserang di jalanan sepi, kan?" tambah Kujouin-san melancarkan serangan beruntun tanpa ampun.

Namun kali ini, dampak kerusakannya justru mendarat ke arah target yang salah.

"Hauh...!" rintih Miharu-chan pelan sambil memegang erat dadanya dengan ekspresi bersalah.

Mengingat dia adalah pelaku utama yang merencanakan jebakan pura-pura diserang di jalanan sepi dulu, wajar jika dia merasa sangat terpukul mendengar sindiran tajam dari Kujouin-san tadi.

"Memang benar kejadian waktu itu adalah sebuah jebakan... Namun, aku sama sekali tidak pernah menyesali keputusanku untuk membantu orang lain yang sedang berada dalam kesulitan kok," belaku tegas.

Meskipun pada akhirnya kejadian itu terbukti murni sebagai sebuah jebakan, di lapangan sangatlah mustahil bagi kita untuk bisa langsung membedakan secara instan apakah seseorang beneran sedang berada dalam bahaya atau hanya sekadar jebakan semata. Aku beneran sangat tidak menyukai skenario di mana aku memilih ragu-ragu untuk bertindak hingga akhirnya berakibat fatal bagi keselamatan orang lain, jadi jika aku dihadapkan pada situasi yang sama di kemudian hari, aku pasti akan tetap memilih untuk langsung melangkah maju membantu tanpa ragu.

"…………"

Mendengar pembelaan tegasku, Kujouin-san terdiam membisu sambil terus menatap langsung ke dalam mataku dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

Mengingat dia adalah tipe orang yang selalu tersenyum ramah setiap saat, melihatnya menatapku dengan tatapan seserius ini beneran membuatku merasa sedikit tegang dan merinding. Dia adalah tipe orang yang jika beneran marah pasti akan sangat menakutkan, dan tatapan matanya saat ini beneran sukses membuatku merapatkan tubuhku dengan waspada.

Namun, di tengah ketegangan yang berkecamuk di dalam kamar— "Fuuu..."

—Tiba-tiba dia menghela napas panjang seolah sedang mengendurkan ketegangan di pundaknya. Raut wajahnya pun perlahan kembali melunak dan dia menatapku dengan tatapan lembutnya yang biasa.

"Iya, aku tahu kok kalau Kento-kun memang pasti akan berpikir seperti itu.

Dan harus kuakui, kepribadianmu yang tulus dan suka menolong itulah yang menjadi salah satu daya tarik terbaik yang kamu miliki lho. Tapi tetap saja, jika kamu tidak mulai berhati-hati dari sekarang, aku beneran khawatir kamu akan sangat mudah dijebak dan dimonopoli oleh gadis-gadis nakal di sekitarmu nanti."

Meskipun dia sempat menyudutkanku tanpa ampun sebelumnya, Kujouin-san kini kembali menasihatiku dengan nada bicara yang sangat lembut layaknya

seorang kakak perempuan yang baik. Aku bisa merasakan kalau dia beneran mengkhawatirkan keselamatanku, tapi dugaannya tentang aku yang akan dijebak oleh gadis-gadis nakal di sekitarku rasanya agak terlalu berlebihan, kan...?

Namun tepat saat pikiran itu melintas di kepalaku— "Kalau aku juga bilang sangat takut dengan suara petir... apakah aku juga diperbolehkan untuk tidur bersama Kento-kun di satu ranjang yang sama nanti...? Dan jika kami beneran tidur bersama di satu ranjang, apakah Kento- kun tetap bisa menahan dirinya untuk tidak melintasi batas hubungan kami...?

Kurasa di badai petir berikutnya, aku beneran harus datang menginap di rumahnya..." gumam Arisu-chan di sebelahku dengan mata yang tampak berbinar-binar mencurigakan sambil berbisik-bisik merencanakan sesuatu.

Melihat tingkahnya, aku jadi berpikir sepertinya nasihat dari Kujouin-san tadi memang ada benarnya dan aku harus mulai berhati-hati dari sekarang...

"Di luar masalah itu, fakta bahwa Sophia-chan dan Kento-kun terkadang tidur bersama di satu ranjang beneran sudah terbukti ya. Padahal aku sendiri juga sudah pernah tidur bersama dengan Kento-kun di satu ranjang sebelumnya lho..." sahut Kujouin-san meluncurkan serangan taktik baru dengan memamerkan pengalamannya tidur bersama denganku secara santai.

Mendengar pernyataan pamer tersebut, wajah Arisu-chan langsung memucat seolah baru saja menderita pukulan syok yang sangat berat.

Aduh, jika ada orang luar yang mendengar pernyataan ini tanpa tahu situasi yang sebenarnya terjadi, aku pasti akan langsung dicap sebagai cowok brengsek yang sengaja merencanakan taktik mesum agar bisa tidur bersama dengan dua orang gadis secantik mereka, kan...?! Mengingat Sophia adalah gadis blasteran Inggris super cantik yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah, sementara Kujouin-san adalah madonna sekolah yang dikagumi oleh semua orang karena kepribadiannya yang anggun dan sempurna.

Tingkat popularitas mereka berdua yang sangat tinggi di sekolah tentu membuat jumlah murid laki-laki yang bermimpi untuk bisa tidur bersama mereka berada di tingkat yang tidak terhingga, jadi kenyataan bahwa aku adalah satu-satunya cowok yang memiliki pengalaman tidur bersama mereka

berdua pasti akan membuatku langsung dituduh sebagai pelaku utama yang merencanakannya demi keuntungan pribadi.

Dengan kata lain, aku akan dicap sebagai cowok bajingan kelas kakap di sekolah.

Padahal kenyataannya kejadian itu murni terjadi karena aku terpaksa menuruti permohonan Sophia serta murni kecelakaan tidak sengaja untuk kasus Kujouin-san, tapi rasanya hampir tidak akan ada orang yang mau memercayai penjelasan jujurku itu jika dihadapkan pada bukti fisik yang mencolok ini.

Buktinya, Arisu-chan saat ini tampak beneran menderita syok berat karena dia mengira aku adalah cowok genit yang suka mempermainkan perasaan perempuan... Padahal selama ini dia adalah orang yang selalu tulus mendukung perjuanganku sebagai pemain bisbol di lapangan...

"Kejadian tidur bersama dengan Kujouin-san waktu itu kan murni terjadi karena Senpai mendadak mengigau berjalan dalam tidur ( sleepwalking) dan

menyelinap masuk ke dalam tempat tidurku tanpa sadar lho..." ujarku buru- buru meluruskan fakta sebelum reputasiku hancur sepenuhnya di mata Arisu- chan.

"A-Aduh, jangan menceritakan detail kejadian memalukan itu secara terang- terangan di depan mereka dong...!" protes Kujouin-san panik dengan wajah merona merah padam, berusaha membungkam mulutku dengan cepat.

Melihat sosoknya yang biasa selalu tenang dan dewasa mendadak panik dengan wajah merona merah seperti ini beneran terlihat sangat manis dan imut sih... tapi bagaimanapun juga, dia sendirilah yang memulai topik obrolan sensitif ini hingga membuatku terpaksa membongkar fakta sebenarnya demi membersihkan namaku, kan? Jadi jika dia sekarang merasa malu akibat tindakannya sendiri, kurasa itu murni kesalahannya sendiri ( karma).

"Oh, jadi kalau kita berpura-pura seolah itu adalah sebuah kecelakaan tidak sengaja, kita diperbolehkan untuk menyelinap masuk ke dalam tempat tidur Kento-kun ya...?!" gumam Arisu-chan tiba-tiba, melayangkan kesimpulan yang sangat ekstrem di luar dugaan.

Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Dia terlihat sangat serius seolah-olah dia baru saja berhasil menemukan jalan keluar yang terang untuk melancarkan rencana barunya nanti. Tunggu sebentar dong, ini bahaya sekali tahu.

" Arisu-chan, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan sih...?" tanyaku canggung mencoba menyadarkannya dari lamunan ekstremnya.

Melihat ekspresi wajahnya yang seolah ingin berteriak, "Bagus, aku akan mencoba taktik kecelakaan menyelinap itu di kesempatan menginap berikutnya!", aku beneran merasa sangat khawatir. Jangan-jangan nanti saat aku bangun tidur besok pagi, aku beneran akan mendapati dia sudah menyelinap masuk ke dalam selimutku... Keberaniannya beneran terlihat sangat nyata saat ini.

Yah, meskipun aku sama sekali tidak membenci kepribadiannya—malahan dia adalah gadis yang sangat baik yang selalu tulus mendukungku sejak dulu, ditambah dia juga sangat peduli dengan urusan Sophia dan Miharu-chan selama ini. Belum lagi penampilannya yang diam-diam juga banyak dikagumi di sekolah karena dia memiliki wajah yang sangat cantik serta proporsi tubuh bagian atasnya yang luar biasa menonjol dibanding gadis-gadis seusianya, yang membuatnya menjadi sosok gadis yang sangat menarik secara visual.

Namun... belakangan ini, jalan pikirannya beneran terasa sangat sulit kupahami dan terkadang tindakannya yang tidak terduga membuatku merasa sedikit canggung dan ngeri berada di dekatnya...

" Ah, t-tidak ada apa-apa kok...! Iya, aku sama sekali tidak sedang memikirkan hal-hal aneh lho...!" jawab Arisu-chan terkejut kembali menguasai kesadarannya setelah mendengar pertanyaanku, langsung melambaikan kedua tangannya dengan panik untuk membantah tuduhanku.

Sifatnya yang panik dan bersemangat seperti ini beneran membuat citranya sebagai gadis

gyaru yang biasanya cuek dan santai menjadi luntur seketika. Dia sepertinya juga mulai mengalami perubahan kepribadian yang cukup besar seiring dengan perubahan lingkungan di sekitarnya saat ini, sama seperti Sophia. Perubahan kepribadiannya yang menjadi jauh lebih aktif seperti ini sebenarnya adalah hal yang sangat bagus sih, tapi...

Yang membuatku kurang tenang adalah Sophia dan Kujouin-san saat ini sedang menatap ke arah Arisu-chan dengan tatapan menyipit yang sangat sinis dan penuh tuduhan dalam keheningan. Meskipun aku memilih untuk memercayai bantahan Arisu-chan, kedua orang di sekitarku tampaknya sama sekali tidak memercayai ucapannya sedikit pun. Yah, sesama perempuan sepertinya memang memiliki insting persaingan yang kuat di antara mereka.

"Baiklah, kalau begitu aku pamit kembali ke kamarku dulu ya."

Meskipun suasana kamar kami saat ini terasa agak kurang kondusif, karena obrolan kami tampaknya sudah mulai mereda, kurasa ini adalah waktu terbaik bagiku untuk segera meninggalkan kamar Sophia. Lebih tepatnya, aku beneran khawatir jika aku terus bertahan di dalam kamar ini lebih lama lagi, aku hanya akan kembali terseret ke dalam pusaran masalah rumit lainnya yang tidak masuk akal nanti, jadi melarikan diri secepat mungkin adalah pilihan terbaik bagiku saat ini.

Namun—

"Eh? Pertemuan kita kan masih belum selesai lho, Kento-kun," cegat Kujouin- san lembut sambil mencengkeram erat pergelangan tanganku dengan senyuman manisnya yang seolah ingin menegaskan,

" Aku tidak akan

membiarkanmu kabur begitu saja tahu?"

"Eh...?"

"Kita harus segera menentukan siapa orang yang akan tidur bersamamu malam ini."

"…………"

Sebentar, apa-apaan maksud dari perkataannya itu...?

Bukankah itu adalah masalah pembagian tempat tidur di antara sesama anak perempuan saja? Kenapa sekarang malah menyeret namaku ke dalam masalah ini...?

Meskipun aku ingin protes, atmosfer di dalam kamar Sophia saat ini sudah berubah menjadi sangat mencekam hingga rasanya mustahil bagiku untuk bisa melayangkan protes santai lagi.

Sebab—di luar Miharu-chan yang hanya bisa tersenyum riang seolah menganggap masalah ini tidak ada hubungannya dengan dirinya, Sophia, Arisu-chan, dan Kujouin-san saat ini beneran sedang saling melemparkan aura tekanan tak kasatmata yang sangat dingin dan tajam untuk saling mengintimidasi satu sama lain. Suasana kamar kami beneran sudah tidak menunjukkan adanya kehangatan dari sebuah acara menginap bersama sesama teman perempuan lagi saat ini.

"Menentukan siapa yang akan tidur bersamaku... sebenarnya bagaimana cara yang ingin Senpai lakukan untuk memutuskannya...?" tanyaku gugup mencoba mencari penjelasan dari Kujouin-san yang memulainya.

"Bagaimana kalau kita memutuskannya lewat permainan kartu (trump) saja?

Setiap orang akan menuliskan jenis permainan kartu yang paling mereka kuasai di selembar kertas, lalu kita akan meminta Kento-kun untuk mengambil salah satu kertas tersebut secara acak sebagai jenis permainan yang akan dimainkan di setiap babaknya. Di setiap akhir babak permainan, orang yang menempati posisi terbawah (terakhir) akan langsung tereliminasi dan keluar dari permainan, dan orang terakhir yang berhasil bertahan sampai akhir akan keluar sebagai pemenang utamanya. Bagaimana menurut kalian?" usul Kujouin-san sambil melirik ke arah Sophia dan yang lainnya untuk meminta persetujuan.

Tatapannya seolah ingin menegaskan bahwa jika ada yang merasa kurang setuju dengan usulannya, mereka diperbolehkan untuk langsung melayangkan protes saat ini juga. Namun jika tidak ada yang membantah, dia akan langsung memulai permainan sesuai dengan aturan yang dibuatnya tersebut.

"Begitu ya... Jadi Senpai memintaku bertindak sebagai wasit penengah di dalam permainan ini agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk melakukan kecurangan, kan?" tanyaku mencoba memahami peranku.

Meskipun aku sempat berpikir apakah beneran perlu sampai mengadakan permainan seheboh ini hanya demi menentukan pembagian tempat tidur saja...

tapi kurasa alasan utama kenapa Kujouin-san merencanakan semua ini adalah karena dia sangat ingin tidur bersama dengan Sophia malam ini, namun karena Sophia menolak tawarannya dengan keras, dia memutuskan untuk memenangkan permainan ini agar dia bisa memaksa Sophia tidur bersamanya secara legal nanti. Rasa sayang Kujouin-san terhadap adik tiri kesayangannya ini beneran berada di tingkat yang luar biasa besar ya.

"Benar sekali."

"Jika kita mengambil kertas permainan baru di setiap babaknya, bagaimana jika kertas yang terambil ternyata berisi jenis permainan yang sama dengan babak sebelumnya?" tanyaku memastikan.

"Meskipun ada banyak sekali jenis permainan kartu di luar sana, biasanya permainan yang sering dimainkan oleh kita semua kan hampir sama saja. Jadi kurasa tidak masalah jika kita harus memainkan jenis permainan yang sama berulang kali nanti."

Apa yang dikatakan Kujouin-san memang benar. Biasanya permainan kartu yang paling sering dimainkan saat berkumpul bersama teman adalah permainan

Babanuki (Old Maid), Daifugo (Tycoon), atau Shichinarabe (Sevens). Permainan seperti Poker memang sangat populer di kasino, namun sangat jarang dimainkan sebagai permainan santai saat berkumpul bersama teman di rumah.

"Lalu setelah pemenangnya ditentukan secara berurutan, apakah kami bebas memilih siapa orang yang akan kami ajak tidur bersama nanti?"

"Eh, bukan begitu lho?"

"Lho, ada yang salah ya?" tanyaku heran, karena tadinya kupikir pemenang utamanya akan mendapatkan hak istimewa untuk memilih Sophia sebagai teman tidurnya malam ini.

"Tujuan utama dari permainan ini adalah untuk menentukan siapa satu- satunya orang yang berhak untuk tidur bersama dengan Kento-kun di kamarmu malam ini. Jadi pemenangnya hanya akan ada satu orang saja lho.

Kami semua sejak awal memang mengincar posisi itu kok," jelas Kujouin-san manis.

"Eeehhh?!" seru terkejut setengah mati.

Ternyata ini adalah pertempuran untuk menentukan siapa orang yang akan tidur bersamaku di kamarku malam ini?! Kenapa masalahnya malah bergeser ke arah yang mengerikan seperti ini sih...?!

"Kenapa kamu harus sampai terkejut begitu? Mengingat alur obrolan kita sejak awal, kurasa kesimpulan ini adalah hal yang sangat wajar, kan?" sahut Kujouin- san santai.

"Tentu saja tidak wajar tahu...! Aku sama sekali tidak pernah menyetujui hal itu sebelumnya!" protesku panik.

"Tapi barusan aku baru saja memberitahumu lho."

"…………"

Ah, benar juga. Aku beneran hampir tidak akan pernah bisa menang jika berdebat melawan wanita yang satu ini...

Pembawaannya yang tenang dan anggun layaknya seorang santa membuat orang lain beneran merasa sungkan untuk membantah kata-katanya, belum lagi kemampuan berpikirnya yang sangat cepat serta pengetahuannya yang mendalam tentang bagaimana cara melunakkan argumen lawan bicara membuat berdebat dengannya adalah sebuah misi yang mustahil untuk dimenangkan. Bahkan sering kali aku baru menyadari kalau aku sudah masuk ke dalam perangkap argumennya setelah semuanya terlambat.

" Apakah aku... memiliki hak veto untuk menolaknya...?" tanyaku mencoba peruntungan terakhirku.

"Fufu," balas Kujouin-san manis sambil memiringkan kepalanya dengan senyuman menawan.

Meskipun dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, senyumannya seolah memancarkan pesan tak kasatmata yang berbunyi,

" Apakah kamu beneran tega

menolak usulan kami?" atau " Apakah kamu tega membuat anak perempuan menanggung malu akibat penolakanmu?" yang langsung terngiang di dalam kepalaku. Dia beneran sangat serius dengan usulannya ini...

"Omong-omong, apakah aku juga diperbolehkan untuk ikut bermain sebagai peserta...?"

"Tentu saja tidak boleh. Ini kan permainan untuk menentukan siapa orang yang akan tidur bersamamu, jadi kamu tidak boleh ikut bermain dong," jawab Kujouin-san mematahkan harapanku.

Ugh, dugaanku ternyata benar...

Meskipun bagi murid laki-laki di sekolah bisa tidur bersama salah satu dari mereka pasti akan menjadi sebuah berkah luar biasa yang patut dirayakan, bagiku yang berada di posisi wasit yang terpaksa menerima keputusan ini beneran merasa sangat tertekan.

Namun di sisi lain, keputusan ekstrem Kujouin-san untuk mengadakan permainan ini tampaknya dipicu oleh rasa cemburunya setelah mendengar penjelasan kalau aku dan Sophia terkadang tidur bersama di satu ranjang selama ini. Padahal kami kan tidak tidur bersama setiap hari...

Tadinya aku berharap Sophia akan bertindak sebagai penyelamatku untuk menghentikan kegilaan ini, namun dia justru memilih untuk terus bungkam seribu bahasa sejak tadi.

Melihat reaksinya, jika dia sampai berani menyuarakan protesnya saat ini dan membatalkan jalannya permainan, probabilitas dia akan dipaksa untuk tidur bersama Kujouin-san malam ini pasti akan meningkat drastis sampai ke angka 100%. Jadi demi menyelamatkan dirinya sendiri dari cengkeraman Kujouin- san, dia sengaja memilih diam dan membiarkan kakaknya sendiri yang dijadikan sebagai tumbal permainan malam ini.

...Kamu beneran tega menjual kakakmu sendiri demi keselamatanmu ya, wahai adikku sayang...

"Jika aku bersikeras untuk menolak jalannya permainan ini sampai akhir, apa yang akan Senpai lakukan...?" tanyaku memastikan sekali lagi kepada Kujouin- san, mencoba mencari celah untuk kabur karena aku tidak bisa ikut bermain untuk menyelamatkan diriku sendiri.

"Tentu saja kami tidak bisa memaksakan keinginan kami padamu secara sepihak sih... Namun, Kento-kun pasti tidak ingin rahasia kalau kamu sering tidur bersama dengan Sophia-chan sampai bocor dan diketahui oleh murid- murid di sekolah, kan?" ancam Kujouin-san manis, lalu dia melirik ke arah Arisu-chan di sebelahnya.

Menerima kode lirih tersebut, Arisu-chan seolah langsung tersadar dan membuka suaranya dengan cepat.

"I-Iya, jika situasinya terus begini, aku... aku khawatir aku tidak sengaja membocorkan rahasia tidur bersama kalian kepada anak-anak di sekolah nanti..." gumam Arisu-chan dengan nada bicara yang sangat kaku.

Aduh, kemampuan aktingnya beneran sangat buruk sekali sampai-sampai aku ingin berteriak, "Tolong lakukan aktingmu dengan lebih niat sedikit dong!"

Tujuan ucapannya jelas-jelas hanya ingin mengancamku agar aku bersedia menerima jalannya permainan ini, namun karena dia aslinya adalah gadis yang sangat baik dan jujur, dia beneran tidak cocok untuk memerankan karakter antagonis yang licik seperti itu. Kujouin-san yang melayangkan kode padanya pun hanya bisa tersenyum pasrah melihat hasil aktingnya yang kaku.

Tentu saja karena aku tahu dia tidak akan beneran membocorkan rahasiaku, aku sebenarnya tidak perlu memedulikan ancamannya... Namun— "…………"

Adikku yang imut di sebelahku saat ini sedang memberikan tatapan mata tajam tak kasatmata yang seolah memancarkan pesan kuat berbunyi, "Tolong jangan menolaknya! Jangan menolaknya! Jangan menolaknya!" ke arahku dalam keheningan.

Tampaknya ketakutannya menghadapi skenario harus tidur bersama dengan Kujouin-san malam ini beneran sudah berada di luar batas toleransinya.

"Baiklah, aku menerima jalannya permainan ini," jawabku pasrah mengalah.

Jika aku bersikeras menolaknya saat ini hingga berakibat Sophia dipaksa tidur bersama Kujouin-san dan kembali dijahili habis-habisan di kamar mandi atau tempat tidur nanti, dia pasti akan menaruh dendam yang sangat mendalam kepadaku sepanjang hidupnya. Aku beneran ingin menghindari skenario terburuk itu terjadi, jadi mengalah adalah pilihan terbaik bagiku saat ini.

"Fufu, terima kasih ya. Kalau begitu, mari kita tuliskan jenis permainan kartu yang ingin kalian mainkan di selembar kertas ini," ujar Kujouin-san riang sambil mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasnya untuk dibagikan kepada yang lainnya.

—Tapi tunggu sebentar...

" Apakah Miharu-chan juga ikut bermain sebagai peserta...?" tanyaku terkejut saat melihat Miharu-chan juga ikut menerima kertas dan pena dari Kujouin- san. Mengingat kepribadiannya, dia harusnya adalah pihak yang paling tidak ingin tidur bersamaku malam ini, kan?

" Ah, iya! Aku juga ingin ikut bermain bersama mereka kok. Lagipula aku pasti tidak akan bisa menang melawan Sophia-senpai atau Kujouin-senpai nanti, jadi kurasa tidak masalah jika aku ikut berpartisipasi sebagai pelengkap saja,"

jawab Miharu-chan dengan senyuman manisnya yang jujur tanpa beban.

Begitu ya... Karena dia yakin ada Sophia dan Kujouin-san yang kemampuannya luar biasa di dalam permainan ini, dia merasa tidak perlu khawatir akan memenangkan permainan secara tidak sengaja hingga bisa berpartisipasi dengan tenang tanpa beban moral. Gadis yang satu ini beneran memiliki kepribadian yang sangat santai dan polos ya...

Meskipun Sophia adalah anak yang sangat cerdas, dia hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermain permainan kartu bersama teman- temannya selama ini karena sifatnya yang menutup diri dulu. Jadi meskipun dia mengerti aturan dasar permainannya, kemampuannya dalam taktik bertanding kartu beneran sangat diragukan di lapangan nanti.

Sambil membatin demikian, aku memutuskan untuk menyimpan analisis pikiranku ini sendiri agar tidak menyinggung perasaan adikku yang sedang berada di dekatku saat ini.

"Kata-katamu barusan seolah-olah menegaskan kalau kamu pasti akan menang melawanku ya, Miharu..." keluh Arisu-chan kesal.

"Umm, kurasa kalau melawan Arisu-chan sih aku masih punya peluang besar untuk menang kok. Habisnya, faktor keberuntunganmu kan beneran sangat buruk sekali," jawab Miharu-chan jujur tanpa dosa.

"Hmph...!" gerutu Arisu-chan kesal.

Kedua orang ini beneran gampang sekali memicu percikan pertengkaran kecil di antara mereka ya. Meskipun mereka aslinya berteman dekat, karena hubungan mereka sudah terlalu akrab membuat mereka tidak lagi sungkan untuk melayangkan sindiran tajam satu sama lain dalam kehidupan sehari- hari.

"——Nah, ini kertasnya, Kento-kun."

Setelah selesai menulis, Kujouin-san mengumpulkan seluruh kertas permainan tersebut dan menyerahkannya kepadaku.

Aku menerima tumpukan kertas tersebut dan mulai mengocoknya secara acak tanpa melihat isinya, lalu menatap wajah Kujouin-san yang berdiri di hadapanku.

"Hmm? Ada apa?"

"Tidak, aku hanya merasa penasaran saja... Kenapa Senpai memutuskan untuk menggunakan format sistem gugur eliminasi satu per satu di setiap babaknya?

Bukankah kita tinggal menentukan pemenangnya lewat sistem perolehan poin total atau langsung memutuskannya lewat satu kali pertandingan saja agar lebih cepat?" tanyaku merasa ada yang kurang pas dengan sistem permainan ini.

Mendengar pertanyaanku, Kujouin-san mengedikkan pundaknya pasrah.

"Mungkin karena sistem eliminasi seperti ini terasa jauh lebih seru dan menegangkan saat dimainkan, kan?" jawabnya santai.

Apakah beneran begitu ya...?

Menurutku sistem perolehan poin total atau satu kali pertandingan langsung pun tingkat keseruannya akan sama saja... Namun, mungkin dia berpikir skenario menyisakan dua orang finalis di babak akhir adalah puncak hiburan terbaik bagi jalannya permainan malam ini. Meskipun konsekuensinya, beberapa jenis permainan kartu mungkin akan menjadi kurang cocok jika dimainkan hanya oleh dua orang saja di babak akhir nanti— Sambil merenungkan hal itu, aku menarik satu lembar kertas dari tumpukan secara acak, dan mendapati tulisan dengan karakter imut berbunyi: Daifugo

(Tycoon).

Nah, jenis permainan ini memang sangat cocok dimainkan oleh empat orang peserta sekaligus seperti sekarang, dan akan terasa sangat aneh jika dimainkan hanya oleh dua orang saja di babak akhir nanti, kan?

"Permainan pertama adalah Daifugo," ujarku sambil menunjukkan kertas tersebut ke arah mereka semua.

Melihat tulisan di kertas, Arisu-chan langsung menunjukkan ekspresi wajah yang sangat masam—

"Hore, itu jenis permainan yang kutulis tadi!" seru Miharu-chan girang sambil bertepuk tangan riang setelah melihat tulisan di kertas.

"Kenapa kamu harus menulis permainan Daifugo sih..." keluh Arisu-chan kesal.

"Karena aku sangat menyukainya!" jawab Miharu-chan dengan senyuman manisnya yang tanpa dosa.

Apakah Arisu-chan beneran sangat payah dalam memainkan permainan Daifugo ya...?

"Sophia, apa kamu mengerti aturan mainnya?" tanyaku memastikan kondisi Sophia sambil mengabaikan pertengkaran kecil di sebelahku.

"Iya, aku... aku tahu aturan dasarnya kok..." jawab Sophia ragu-ragu.

Sesuai dugaanku, dia memang hampir tidak pernah memainkan permainan kartu seperti ini sebelumnya dalam hidupnya. Jika dia hanya mengandalkan pemahaman aturan dasar saja tanpa tahu taktik bermain yang matang, posisinya di dalam permainan ini beneran akan berada dalam bahaya besar.

"Mengingat ada beberapa variasi aturan lokal (local rules) di dalam permainan ini, mari kita samakan persepsi kita dulu sebelum memulai ya?" usul Kujouin- san yang langsung diangguki setuju oleh yang lainnya.

Karena permainan babak ini hanya akan dimainkan dalam satu putaran saja, kami sepakat untuk mengabaikan aturan pergantian kasta (miyako-ochi) dan hanya akan mengaktifkan aturan dasar seperti 8-giri (pemberhentian putaran dengan kartu angka 8), Kaidan (kombinasi kartu berurutan), dan Kakumei (revolusi kartu). Jumlah kartu Joker yang digunakan disepakati hanya satu lembar saja tanpa adanya aturan pengunci kartu (shibari), sebuah format aturan main yang sangat sederhana dan ramah bagi pemula.

Aku mulai mengocok kartu dengan teliti, menyebarkannya secara acak di atas lantai kamar dengan posisi tertutup, lalu mengocoknya kembali berkali-kali untuk memastikan kartu beneran terbagi secara adil.

Setelah selesai membagikan seluruh kartu secara merata ke masing-masing peserta, aku mengamati ekspresi wajah mereka satu per satu.

Pertama, Sophia tampak menunjukkan ekspresi wajah yang sedikit canggung.

Kualitas kartu di tangannya sepertinya tidak terlalu bagus, meski tidak bisa dibilang buruk juga.

Sebaliknya, Miharu-chan tampak sangat gembira melihat kartu di tangannya, yang berarti dia mendapatkan kartu yang cukup bagus untuk memulai permainan.

Sedangkan Arisu-chan—wajahnya beneran tampak diselimuti oleh keputusasaan yang sangat mendalam saat melihat tumpukan kartu di tangannya. Kualitas kartunya sepertinya benar-benar berada di tingkat yang sangat mengerikan.

Satu-satunya orang yang berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya dengan sempurna (

poker face) hanya Kujouin-san saja. Raut wajahnya yang tenang membuatku tidak bisa menebak apakah kartu di tangannya bagus atau tidak.

Namun melihat reaksi peserta lainnya, dia kemungkinan besar berhasil mendapatkan tumpukan kartu yang sangat kuat kali ini— Karena merasa penasaran, aku melangkah mendekat ke arah belakang Kujouin-san untuk mengintip kartu di tangannya secara langsung. Dan seketika itu juga—aku langsung kehilangan kata-kata.

Hanya dengan sekali lihat saja, aku bisa mendapati tiga lembar kartu angka 2, satu lembar kartu As (A), serta satu lembar kartu Joker berkumpul dengan manis di tangannya. Tumpukan kartu yang beneran terlalu kuat dan curang untuk memulai permainan. Belum lagi kartu-kartu lainnya yang nilainya tergolong sangat tinggi di mana kartu dengan nilai terendahnya saja adalah kartu angka 7.

Apakah dia sedang melakukan trik sulap atau kecurangan ya...?

Pikiran itu sempat terlintas di kepalaku, namun mengingat akulah yang membagikan seluruh kartu tadi secara langsung, kemungkinan adanya

kecurangan beneran tidak ada. Kertas kartu yang digunakan juga merupakan kartu milik keluargaku sendiri yang ada di rumah, jadi tidak mungkin ada trik curang di dalamnya. Kesimpulannya, tingkat keberuntungan yang dimiliki oleh Kujouin-san beneran berada di tingkat yang sangat luar biasa hari ini.

Wanita ini beneran hebat ya...

Jika tumpukan kartu Kujouin-san sekuat itu, maka ekspresi putus asa di wajah Arisu-chan saat ini beneran bukan sekadar akting belaka. Kartu di tangannya pasti beneran sangat buruk sekali.

"Baiklah, silakan dimulai dari giliran Sophia-chan dulu ya," ujar Kujouin-san memimpin jalannya permainan.

Putaran permainan disepakati berjalan searah jarum jam dimulai dari Sophia, lalu berturut-turut menuju Miharu-chan, Arisu-chan, dan diakhiri oleh giliran Kujouin-san.

Sophia memulai langkah pertamanya dengan mengeluarkan kartu angka 3 yang merupakan kartu dengan nilai terendah di tangannya sesuai dengan teori dasar permainan. Peserta lainnya pun mengikuti langkahnya dengan mengeluarkan kartu-kartu bernilai rendah secara berurutan.

Namun begitu gilirannya tiba—Kujouin-san secara mengejutkan langsung mendaratkan kartu As (A) di atas meja.

"""Eh?! """ seru tiga orang di sekitarnya terkejut setengah mati melihat tindakannya yang sangat agresif.

Mengingat kartu terakhir yang ada di atas meja sebelumnya hanya bernilai angka 5, tindakan Kujouin-san yang langsung melompati nilai kartu sampai ke kartu As di awal permainan beneran terasa sangat aneh dan tidak masuk akal bagi mereka. Padahal di tangannya masih ada banyak sekali pilihan kartu bernilai sedang yang bisa dia keluarkan untuk mengalirkan permainan secara perlahan... Sepertinya dia sedang merencanakan sebuah taktik tertentu saat ini.

Satu-satunya kartu yang sanggup menandingi nilai kartu As hanyalah kartu angka 2 atau kartu Joker saja. Mengingat permainan baru saja dimulai, mustahil bagi peserta lain untuk nekat membuang kartu sekuat itu di awal putaran (ditambah fakta bahwa Kujouin-san saat ini sebenarnya sedang

memegang tiga lembar kartu angka 2 dan kartu Joker di tangannya, yang berarti hanya ada satu lembar kartu angka 2 tersisa yang dimiliki oleh peserta lain), akhirnya seluruh peserta memilih untuk melempar opsi Pass, mengembalikan giliran bermain kembali ke tangan Kujouin-san.

"Kalau begitu, ini giliranku lagi ya. Aku keluarkan kombinasi dua lembar kartu Jack (J)."

""""——?!""""

Melihat Kujouin-san yang kembali mengeluarkan kombinasi kartu sekuat itu, seluruh peserta kembali mematung seketika.

Namun sesaat kemudian, Arisu-chan dan Miharu-chan tampak menunjukkan ekspresi wajah yang seolah baru saja menyadari sesuatu. Hanya Sophia saja yang belum memiliki pengalaman bermain kartu yang tampak masih kebingungan mencerna situasi yang sedang terjadi di atas meja saat ini.

...Ah, jadi begitu ya taktiknya.

"P-Pass..." gumam Sophia pasrah karena bingung, mengalihkan giliran bermain ke tangan Arisu-chan.

" Aku keluarkan kombinasi dua lembar kartu King (K)!" seru Arisu-chan yang kali ini memilih untuk tidak melakukan

Pass dan langsung mendaratkan

kartunya di atas meja tanpa ragu.

Miharu-chan pun menyusul langkahnya dengan mengeluarkan kombinasi dua lembar kartu As (A).

Berbeda dengan sikap mereka yang sangat berhati-hati di awal putaran tadi, kedua orang ini sekarang tampak beneran tidak ragu-ragu lagi untuk langsung membuang seluruh kartu terkuat di tangan mereka demi bisa segera menghabiskan kartu mereka.

Melihat tindakan agresif mereka berdua, sudut bibir Kujouin-san—tampak melengkung geli selama satu detik.

Satu-satunya orang yang menyadari perubahan ekspresi wajahnya yang sangat cepat itu kemungkinan besar hanyalah aku sendiri yang sejak tadi memang

tidak fokus memperhatikan kartu melainkan terus mengamati gerak-gerik wajah para peserta di dalam kamar.

" Aku pilih Pass," ujar Kujouin-san memutuskan untuk menahan kartunya, meskipun di tangannya masih ada kartu angka 2 yang bisa digunakannya untuk menandingi kartu milik Miharu-chan.

Sophia dan Arisu-chan pun ikut memilih opsi Pass di giliran mereka. Lebih tepatnya, mereka berdua sepertinya memang beneran tidak memiliki kartu yang sanggup menandingi kombinasi dua lembar kartu As milik Miharu-chan saat ini.

"Kartu angka 9!" seru Miharu-chan riang mendaratkan kartunya begitu gilirannya kembali tiba, memanfaatkan hak istimewanya sebagai pemenang putaran sebelumnya untuk mengeluarkan kartu apa saja secara bebas.

Meskipun di tangannya pasti masih ada kartu bernilai rendah lainnya yang bisa dia buang secara aman, dia justru memilih untuk terus menekan lawan dengan mengeluarkan kartu bernilai sedang.

"Eeehhh?!" seru Sophia heran karena melihat kartu-kartu bernilai tinggi terus dikeluarkan sejak awal permainan.

Karena dia hanya memahami teori dasar permainan saja, jalannya permainan yang berjalan dengan sangat agresif dan merusak teori dasar ini beneran sukses membuatnya kebingungan setengah mati.

Kujouin-san yang memiliki tumpukan kartu melimpah mengeluarkan kartu angka 10 dengan santai, sementara Sophia yang kebingungan akhirnya mengeluarkan kartu Jack (J) miliknya dengan ragu-ragu.

Arisu-chan sempat menunjukkan gelagat bimbang sejenak di gilirannya, namun alih-alih mengeluarkan kartu Queen (Q) untuk menghemat tenaganya, dia justru nekat langsung mendaratkan kartu King (K) miliknya di atas meja.

Melihat hal itu, Miharu-chan langsung mendaratkan kartu angka 2 miliknya tanpa membuang waktu. Tampaknya dia berhasil mendapatkan satu-satunya kartu angka 2 tersisa yang tidak dipegang oleh Kujouin-san saat pembagian kartu tadi.

Dan melihat tindakannya yang sangat agresif, dia sepertinya memang sudah tidak memegang kartu As lagi di tangannya saat ini.

Setelah memastikan tidak ada peserta lain yang berniat mengeluarkan kartu Joker untuk menandingi lemparannya, Miharu-chan kembali menggunakan hak istimewanya untuk mengeluarkan kartu angka 10 dengan santai di putaran berikutnya.

Umm... gaya bermainnya beneran terlalu jujur dan gampang ditebak ya...

"A-Aku beneran sudah tidak paham lagi dengan jalannya permainan ini..." keluh Sophia pasrah sambil menatap wajahku dengan tatapan mendongak yang menuntut penjelasan.

Melihat jalannya permainan yang berjalan dengan sangat heboh seperti ini, dia pasti khawatir dirinya yang tidak mengerti apa-apa akan menjadi orang pertama yang tereliminasi di babak pertama ini. Jalannya permainan beneran berjalan dengan sangat liar di luar dugaan.

Di tengah kebingungan Sophia, ketiga peserta lainnya terus membuang sisa- sisa kartu terkuat di tangan mereka tanpa ampun secara bergiliran.

Hingga akhirnya—Miharu-chan dan Arisu-chan sepertinya mulai menyadari adanya keanehan di dalam jalannya permainan kami sejak tadi.

—Namun, menyadarinya sekarang pun sudah terlambat bagi mereka.

"Nah, ini kartu Joker-nya ya," ujar Kujouin-san manis sambil mendaratkan kartu Joker miliknya tepat di atas kartu As yang baru saja dikeluarkan oleh Sophia, menyisakan sisa kartu di tangannya kini tinggal tiga lembar saja.

Melihat tindakan Kujouin-san, wajah Miharu-chan dan Arisu-chan langsung memucat seketika.

"K-Kenapa...?"

"Lalu bagaimana dengan rencana revolusi kartunya...?!" tanya mereka berdua cemas.

Ah, jadi begitu ya kesalahpahamannya.

Melihat Kujouin-san yang terus-menerus membuang kartu-kartu terkuat miliknya secara agresif sejak awal permainan tadi, kedua orang itu salah paham dan mengira kalau Kujouin-san sedang memegang kombinasi empat lembar kartu bernilai sama di tangannya untuk memicu kondisi Kakumei (Revolusi Kartu yang membalikkan urutan kasta kartu terlemah menjadi terkuat).

Wajar saja jika mereka sampai salah paham, mengingat mereka tidak bisa melihat isi kartu di tangan Kujouin-san seperti yang kulakukan sejak awal tadi.

Kenyataannya, Kujouin-san bertindak seagresif itu murni karena tumpukan kartu di tangannya beneran terlalu kuat dan melimpah, jadi dia bebas melancarkan taktik bermain apa saja sesuai dengan keinginannya tanpa takut kehabisan kartu kuat di akhir putaran nanti.

Meskipun dia mungkin tetap bersiap mengantisipasi jika sampai ada lawan yang memicu kondisi revolusi kartu di tengah permainan, fakta bahwa dia memegang kartu Joker dan tiga lembar kartu angka 2 di tangannya membuatnya tetap bisa membalikkan keadaan dengan mudah menggunakan taktik

8-giri untuk membatalkan efek revolusi kartu lawan, jadi sejak awal dia memang tidak perlu khawatir berlebihan.

Malahan, aku merasa tujuan utama kenapa Kujouin-san sengaja melancarkan taktik bermain yang membingungkan sejak awal tadi—kemungkinan besar adalah demi membantu menyelamatkan Sophia yang merupakan pemula agar bisa memenangkan pertandingan ini dari gempuran dua orang peserta yang jauh lebih berpengalaman.

Apakah dia melakukan semua ini murni karena rasa sayangnya yang ingin melihat Sophia-chan kesayangannya keluar sebagai pemenang, atau justru karena dia berpikir menghadapi Sophia yang minim pengalaman di babak akhir satu lawan satu nanti akan jauh lebih mudah baginya untuk merebut kemenangan mutlak...?

Kebenaran di balik motif aslinya beneran hanya diketahui oleh Kujouin-san sendiri.

"Eh, memicu revolusi kartu bagaimana? Aku kan sama sekali tidak pernah bilang kalau aku berniat memicu kondisi revolusi kartu lho. Nah, ini kombinasi

dua lembar kartu angka 2 dariku ya~" ujar Kujouin-san manis dengan senyuman lebarnya tanpa dosa.

Illustration """…………"""

Arisu-chan dan Miharu-chan menatap Kujouin-san yang baru saja mengeluarkan dua lembar kartu angka 2 sambil tersenyum manis, seolah-olah mereka sedang melihat sosok raja iblis.

Memang benar, wanita yang satu ini adalah orang terakhir yang boleh kamu jadikan sebagai musuh. Bahkan aku yang hanya menonton dari samping saja sampai ikut mengeluarkan keringat dingin.

Tentu saja, karena tidak ada yang memiliki kartu untuk menandinginya, semua orang memilih

Pass. Kujouin-san kemudian mengeluarkan kartu terakhirnya, yaitu kartu angka 7, dan menyerahkan sisa giliran bermain kepada Sophia.

Setelah itu, bagaimana kelanjutannya—

Jika dilihat dari jumlah kartu, Sophia sebenarnya adalah orang yang paling banyak menyisakan kartu di tangannya dan berada dalam posisi paling tidak diuntungkan. Namun, karena sejak awal dia tidak memahami situasi permainan, dia justru masih menyimpan banyak kartu bernilai sedang hingga tinggi di tangannya.

Sebaliknya, tangan Arisu-chan dan Miharu-chan yang sejak awal sudah bersiap-siap menghadapi revolusi kartu kini hanya menyisakan kartu-kartu terlemah saja. Alhasil, babak akhir ini sepenuhnya menjadi panggung dominasi Sophia hingga dia berhasil menyelesaikan kartunya terlebih dahulu.

Dari dua orang yang tersisa, Miharu-chan berhasil merebut kemenangan tipis dengan selisih yang sangat tipis dari Arisu-chan.

"Ugh... dia beneran iblis... kejam sekali..."

Arisu-chan yang menjadi orang pertama yang tereliminasi langsung merajuk dengan ekspresi kekanak-kanakan yang jarang dia tunjukkan di sekolah.

Melihatnya meringkuk di atas kasur sambil memeluk lututnya dengan kasihan, aku secara refleks mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya.

" Ah..."

Begitu kepalanya kuusap untuk menghiburnya, binar kehidupan langsung kembali ke mata Arisu-chan. Malahan, kedua pipinya dalam sekejap langsung

merona merah padam, dan dia menatap wajahku dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

"K-Kento-kun..."

"Meskipun tadi pertandingannya beneran sengit banget... kerja bagus ya."

"~~~~~!!"

Begitu aku memberikan apresiasi sambil tersenyum hangat, Arisu-chan langsung merebahkan tubuhnya dan mulai menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan heboh di atas kasur. Yah... selama dia merasa senang, kurasa tidak apa-apa...

"...Situasinya beneran makin gawat ya..."

"Hmm~ tapi kurasa kejadian ini sebenarnya juga ada hubungannya dengan pengaruh Sophia-chan lho?"

"Eh, kenapa malah jadi salahku?!"

Mendengar suara terkejut Sophia, aku membalikkan badan dan mendapati Kujouin-san dan Sophia sedang berbisik-bisik di sudut kamar. Meskipun saat ini mereka sedang saling berhadapan, mereka sepertinya sejak tadi terus memperhatikan interaksiku dengan Arisu-chan.

"Habisnya Sophia-chan selalu bersikap sangat manja padanya, jadi standar batasan Kento-kun terhadap anak perempuan jadi ikut menurun dan dia tidak lagi merasa sungkan untuk menyentuh kalian..."

"A-Aku sama sekali tidak bersikap semanja itu kok...!"

"Oh ya~?"

Meskipun Sophia terus membantah dengan wajah merona merah, Kujouin-san tampaknya sama sekali tidak memedulikan bantahannya dan sengaja memberikan tatapan menyipit yang usil.

"N-Nadeshiko-senpai sendiri juga sering bersikap manja kepada Kakak, kan...?!"

"Iya dong, itu semua kan berkat Sophia-chan yang sudah membukakan jalan agar aku bisa bermanja-manja dengannya dengan mudah."

"~~~~~!! J-Jadi, kubilang itu salah paham...!"

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan, tapi Sophia terlihat sangat panik dan salah tingkah saat ini. Karena bingung dan khawatir akan memicu kesalahpahaman baru jika terus memperhatikan mereka, aku memutuskan untuk segera menarik kertas undian untuk pertandingan berikutnya selagi mereka sedang sibuk.

Tulisan di kertas kali ini adalah—Babanuki (Old Maid).

" Ah, itu jenis permainan yang kutulis..." gumam Arisu-chan pelan dengan nada kecewa sambil mengintip kertas di tanganku.

"Hehe, ternyata kamu memilih permainan Babanuki ya. Apa kamu sangat ahli memainkannya?"

"Tidak juga... Tapi kalau tujuannya untuk bisa menang melawan dua orang pintar itu, kurasa cuma permainan keberuntungan seperti ini saja peluangku...

Habisnya, tingkat kecerdasan mereka berdua kan beneran berbeda jauh..."

Begitu ya... Dia sengaja memilih permainan yang murni mengandalkan keberuntungan tanpa perlu memikirkan taktik berpikir yang rumit agar bisa bersaing secara adil dengan Sophia dan Kujouin-san yang merupakan murid berprestasi nomor satu di angkatan mereka masing-masing.

" Aku juga sangat menyukai permainan Babanuki lho...!"

" Apalagi di sini ada anak ini. Kalau bermain Babanuki melawannya, aku sama sekali tidak merasa akan kalah."

"Eeeh?! Apa maksudnya itu?!" protes Miharu-chan kesal sambil mengernyitkan alisnya karena Arisu-chan tiba-tiba menunjuk ke arahnya.

Kedua teman dekat ini beneran gampang sekali memicu pertengkaran kecil ya.

Tapi aku bisa memahami alasan di balik ucapan Arisu-chan tadi. Miharu-chan memang tipe orang yang emosinya sangat mudah terbaca dari ekspresi wajahnya sih.

——Setelah itu, permainan Babanuki pun dimulai, dan sesuai dugaanku, orang yang tereliminasi di babak ini adalah Miharu-chan.

Jalannya permainan sebenarnya cukup sederhana di mana Sophia mengambil kartu milik Kujouin-san, Kujouin-san mengambil kartu milik Miharu-chan, dan Miharu-chan mengambil kartu milik Sophia. Namun semenjak kartu Joker (Baba) berpindah ke tangan Miharu-chan di awal permainan, kartu tersebut sama sekali tidak pernah berpindah tangan lagi sampai akhir putaran.

Yang cukup mengejutkan adalah Sophia justru menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan kartunya. Meskipun hal itu murni terjadi karena faktor keberuntungan kartunya yang sangat bagus saja sih.

Alhasil, babak final penentuan pun mempertemukan dua orang kandidat terkuat sesuai dengan prediksi awal semua orang, yaitu Kujouin-san dan Sophia—dan jenis permainan kartu yang tersisa di dalam wadah adalah Shinkei-suijaku (Memory Game / Concentration), jenis permainan yang sangat mengandalkan kemampuan daya ingat pemainnya.

"Lho? Aku memang menulis permainan Shinkei-suijaku juga sih... tapi tulisan di kertas ini bukan milikku...?" tanya Sophia bingung sambil memiringkan kepalanya menatap kertas yang kutunjukkan.

Mendengar pertanyaannya, Kujouin-san tersenyum manis.

"Itu adalah tulisan tanganku kok. Wah, ternyata Sophia-chan juga memilih permainan

Shinkei-suijaku ya."

Rupanya secara kebetulan mereka berdua menuliskan jenis permainan yang sama. Mengingat mereka berdua adalah murid yang sangat cerdas, wajar jika mereka lebih memilih permainan yang murni mengandalkan kemampuan berpikir dibanding permainan yang membutuhkan taktik tipu muslihat yang rumit. Pertemuan takdir yang cukup menarik.

Namun—apakah kejadian ini beneran murni sebagai sebuah kebetulan bagi Kujouin-san...?

Aku sempat meragukannya. Mengingat dia sering menghabiskan waktu bersama Sophia, dia pasti sudah sangat memahami jenis permainan apa saja yang dikuasai oleh Sophia dan sengaja memilih permainan yang sama untuk menyesuaikan diri dengannya. Jika dua dari empat orang peserta menuliskan

jenis permainan yang sama, probabilitas permainan tersebut terpilih sejak awal akan meningkat menjadi 50%, yang akan mempermudah jalan Sophia untuk bisa bertahan sampai babak akhir.

—Ah, tapi kurasa aku beneran sudah berpikir terlalu jauh ya...? Jika dia sampai merencanakan taktik serumit itu, aku malah jadi tidak bisa memahami apa sebenarnya motif utama kenapa dia sampai nekat mengadakan kompetisi permainan malam ini.

"Nah, kalau begitu, mari kita mulai permainannya?" ujar Kujouin-san dengan pembawaan yang sangat tenang dan elegan saat mendudukkan dirinya tepat di hadapan Sophia.

Aura intimidasi yang dipancarkannya beneran berada di tingkat yang luar biasa hingga membuat Sophia dan peserta lainnya langsung menahan napas mereka seketika.

...Umm, ini cuma permainan daya ingat biasa, kan? Kenapa aku merasa seolah- olah kami sedang tersesat masuk ke dalam arena pertempuran komik aksi fantasi karena saking kuatnya aura yang dipancarkan oleh Kujouin-san saat ini.

Aku bersama dengan Miharu-chan dan Arisu-chan membantu merapikan dan menyebarkan seluruh kartu di atas lantai kamar dengan posisi tertutup.

Dan setelah permainan dimulai—pertempuran sengit di antara dua murid terpintar di sekolah beneran langsung tersaji di depan mata kami.

Di awal permainan di mana faktor keberuntungan masih mendominasi, mereka sempat beberapa kali gagal mencocokkan kartu. Namun setelah sebagian besar posisi kartu mulai terbuka dan bisa diingat dengan jelas, mereka berdua mulai mencocokkan kartu secara beruntun tanpa ampun secara bergantian.

"Hebat sekali, Sophia-senpai berhasil mencocokkan kartu tiga kali berturut- turut...!"

"Kujouin-senpai juga tidak mau kalah...! Dia juga berhasil mencocokkan kartu tiga kali berturut-turut...!"

Pertempuran sengit saling balas angka terus berjalan dengan sangat ketat.

Setiap kali Sophia berhasil mencuri keunggulan terlebih dahulu, Kujouin-san pasti akan langsung menyusul dan menyamakan kedudukan dalam sekejap.

Namun saat jumlah kartu di lantai mulai menipis—

"Luar biasa, Kujouin-senpai berhasil mencocokkan kartu empat kali berturut- turut...?!"

—Keseimbangan pertempuran yang tadinya sangat ketat akhirnya runtuh dengan keunggulan mutlak berada di tangan Kujouin-san. Selisih poin Sophia saat ini tertinggal empat angka, sementara jumlah kartu yang tersisa di lantai hanya tinggal empat lembar saja. Dengan kata lain, peluang Sophia untuk bisa memenangkan pertandingan ini sudah tertutup sepenuhnya saat ini.

"……"

Butiran keringat dingin tampak mulai membanjiri dahi Sophia. Meskipun peluang menangnya sudah tertutup, dia sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk memaksakan hasil imbang (draw) agar permainan bisa diulang kembali dari awal. Namun peluang itu pun akan langsung sirna jika Kujouin- san berhasil mencocokkan kartu lagi di giliran kali ini.

Empat lembar kartu tersisa di lantai adalah kartu-kartu yang sama sekali belum pernah dibuka sejak awal permainan, yang berarti probabilitas mencocokkannya secara acak murni berada di angka 50%... Namun melihat pembawaan tenang Kujouin-san, dia sepertinya adalah tipe orang yang akan sangat mudah menebaknya dengan benar dalam situasi kritis seperti ini.

"…………"

Kujouin-san tampak menatap tajam ke arah sisa kartu di lantai, bimbang menentukan kartu mana yang akan dibukanya terlebih dahulu. Mengingat posisinya saat ini sudah dipastikan aman dari kekalahan, dia sebenarnya bebas memilih kartu mana saja secara santai—namun karena keputusan di giliran kali ini akan menentukan apakah dia akan keluar sebagai pemenang mutlak atau hanya mendapatkan hasil imbang saja, dia terlihat sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Perlahan, Kujouin-san membuka dua lembar kartu dari lantai—

"...Fufu, sayang sekali ya," gumamnya manis saat mendapati dua kartu yang dibukanya ternyata memiliki nilai yang berbeda.

"Fuuuh..."

Melihat hasil akhir yang belum ditentukan, Sophia menghela napas lega dan kembali merapatkan posisi duduknya dengan tegap. Selama dia tidak melakukan kesalahan konyol di gilirannya nanti, hasil imbang dipastikan akan menjadi hasil akhir dari permainan babak ini...

"Kalau hasilnya imbang begini, bagaimana cara kita menentukannya?"

"Kurasa... permainannya harus diulang sekali lagi dari awal..." jawab Arisu-chan menanggapi pertanyaan Miharu-chan sambil menopang dagunya dengan canggung.

Aku pun memiliki pemikiran yang sama dengannya—namun.

"Tapi hari sudah larut malam lho. Mengingat besok pagi kita juga masih harus menghadiri latihan klub, kurasa kita tidak akan punya cukup waktu jika harus mengulang permainannya dari awal lagi," sela Kujouin-san menghentikan rencana kami.

"Eh, lalu bagaimana cara kita menentukan pemenangnya, Senpai...?" tanya Miharu-chan polos secara refleks.

Mendengar pertanyaan itu, aku, Sophia, dan Arisu-chan langsung bisa memahami apa sebenarnya arah maksud dari ucapan Kujouin-san tadi dalam sekejap.

"Untungnya ukuran tempat tidur Sophia-chan cukup besar untuk ditiduri oleh tiga orang sekaligus, jadi bagaimana jika malam ini kita bertiga tidur bersama saja di satu ranjang? Dan tentu saja, Kento-kun akan tidur di posisi tengah di antara kami berdua," usul Kujouin-san manis.

Sudah kuduga—mengingat dia menolak opsi untuk mengulang kembali permainan karena alasan waktu, ini adalah satu-satunya jalan keluar logis yang tersisa baginya. Aku sampai heran apakah dia beneran terpaksa melakukan ini karena keterbatasan waktu, atau sebenarnya skenario tidur bertiga bersama ini memang sudah menjadi target utamanya sejak awal kompetisi permainan

ini dibuat...? Meskipun aku menanyakannya secara langsung, dia pasti tidak akan pernah mau membocorkan jawaban aslinya kepadaku.

Dan di saat yang sama, aku beneran merasa sudah masuk ke dalam perangkap taktiknya.

Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi Sophia di bawah tekanan situasi ini hanya ada satu jalan saja—

"I-Iya ya... mengingat waktu juga sudah malam, kurasa menerima hasil imbang dan tidur bertiga bersama adalah pilihan terbaik bagi kita semua saat ini..."

jawab Sophia menyetujui usulan tersebut dengan sangat mudah.

Sikap pasrahnya beneran sangat wajar. Hal yang paling ditakuti oleh Sophia saat ini adalah skenario di mana dia harus dipaksa tidur berdua saja dengan Kujouin-san malam ini. Jika dia memilih menolak usulan tersebut dan bersikeras meminta permainan diulang, Kujouin-san pasti tidak akan mengizinkannya karena alasan waktu.

Dan jika kompetisi permainan ini dibatalkan sepenuhnya hingga membuatku dibebaskan dari kewajiban tidur bersama mereka, maka skenario terburuk yang menanti Sophia adalah—dia harus tidur berdua saja dengan Kujouin-san di kamarnya. Mengingat besarnya risiko dari skenario mengerikan tersebut, Sophia memilih untuk tidak bersikap egois dan langsung menyetujui usulan Kujouin-san demi keselamatan dirinya sendiri.

Seandainya saja dia adalah tipe gadis yang rela mengalah dan membiarkanku tidur berdua saja dengan Kujouin-san demi menyelamatkan dirinya sendiri, dia pasti tidak akan sampai menunjukkan rasa cemburu yang luar biasa hebat sejak awal obrolan kami tadi. Hubungan keterikatannya denganku beneran sangat kuat ya.

"Tunggu sebentar dong... Skenario tidur bertiga bersama di satu ranjang itu beneran akan membuat jarak tubuh kita menjadi sangat dekat dan menempel satu sama lain tahu...?" belaku mencoba memberikan perlawanan terakhir.

Meskipun secara kapasitas kasur milik Sophia memang muat ditiduri tiga orang sekaligus, kasur itu pada awalnya hanya didesain untuk ditiduri oleh satu orang saja. Memaksakan dua orang tidur bersama di atasnya masih menyisakan sedikit ruang longgar, namun memaksakan tiga orang tidur

bersama di atas kasur tersebut beneran akan membuat seluruh bagian tubuh kami saling menempel rapat tanpa celah sedikit pun.

Namun—

"Memangnya ada masalah dengan hal itu?" tanya Kujouin-san manis, tampak sama sekali tidak memedulikan argumenku.

Serius dong, apakah hanya aku saja yang berpikiran waras di kamar ini saat ini...?

"——Curang, curang, curang, curang sekali..."

" Arisu-chan, sebagai pihak yang sudah tereliminasi, kamu sudah tidak memiliki hak suara untuk melayangkan protes lagi lho," hibur Miharu-chan dengan senyuman pasrahnya mencoba menenangkan Arisu-chan yang terus menggumam kesal di sudut kamar.

Dan sejujurnya, aku beneran khawatir jika sampai rahasia tidur bersama dengan dua orang gadis paling populer di sekolah ini bocor dan diketahui oleh murid-murid di sekolah besok pagi, reputasiku di dunia nyata dipastikan akan tamat seketika. Terutama dari segi fisik.

"Nah, karena besok pagi kita harus bangun pagi-pagi sekali, ayo kita segera bersiap-siap tidur!" ajak Kujouin-san mengabaikan kepanikanku dan langsung melancarkan taktik mengunci posisi kami dengan menuntun semua orang untuk segera bersiap tidur.

Sophia sesekali melirik ke arahku dengan wajah merona merah padam, namun dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantunya.

Lagipula—

"Sebenarnya Arisu-chan dan Miharu-chan nanti akan tidur di mana...?" tanyaku memastikan tempat tidur mereka berdua, mengingat aku yang sudah kehilangan jalan keluar ini sudah dipastikan harus tidur diapit oleh dua orang gadis tercantik di sekolah di atas kasur Sophia malam ini.

""Di sini! "" jawab mereka berdua kompak sambil menunjuk ke arah lantai kamar Sophia secara bersamaan.

Rupanya mereka memutuskan untuk menggelar satu set kasur lantai tamu dan tidur bersama di atas lantai kamar Sophia. Meskipun melihat keakraban mereka membuatku merasa senang, raut wajah Arisu-chan saat ini beneran terlihat sedikit menyeramkan... Apakah dia beneran sedang marah padaku saat ini...?

" Akhirnya kita berlima beneran tidur di satu ruangan kamar yang sama ya..."

Jika gosip tentang kami berlima tidur di satu kamar yang sama ini sampai menyebar luas di sekolah, aku pasti akan langsung dicap sebagai cowok bajingan yang suka mengoleksi anak perempuan...

Apalagi mengingat penampilanku yang sejak awal sering disalahartikan sebagai cowok genit oleh orang-orang sekitar... Ditambah fakta bahwa Sophia dan Kujouin-san adalah dua gadis tercantik di sekolah, belum lagi Arisu-chan yang memiliki wajah cantik yang menonjol serta Miharu-chan yang keimutannya sudah sangat terkenal di kalangan anggota klub bisbol kami.

Pemandangan ini beneran akan langsung memicu demonstrasi kemarahan dari seluruh murid laki-laki di sekolah tanpa terkecuali...

"Karena kami harus mengawasimu agar Kento-kun tidak melakukan hal-hal yang aneh kepada mereka..." bela Arisu-chan ketus dengan wajah yang sedikit dipalingkan untuk menyembunyikan rasa canggungnya saat menyadari aku sedang memperhatikan ekspresi wajahnya.

"Kalau aku sih murni karena aku tidak mau ditinggal sendirian di kamar tamu, jadi aku memutuskan untuk ikut tidur di sini saja!" seru Miharu-chan riang dengan kepribadiannya yang selalu ekspresif tanpa beban.

Yah, bagiku pribadi, kehadiran mereka berdua di lantai kamar beneran sangat membantu untuk meredakan ketegangan dan mencegah terjadinya kesalahpahaman yang aneh di atas kasur nanti.

"Melakukan hal-hal aneh bagaimana, mana mungkin kami akan melakukan hal sekasar itu di atas kasur..." bantah Kujouin-san dengan wajah merona merah karena merasa malu menanggapi tuduhan dari Arisu-chan.

Padahal dia sendirilah pelaku utama yang merencanakan skenario tidur bersama dengan lawan jenis sedekat ini sejak awal, namun kenapa dia baru merasa malu dan canggung di saat-saat seperti ini sih...?

Di balik pembawaannya yang biasa terlihat sangat dewasa dan tenang di sekolah, dia sepertinya memang memiliki sisi kepribadian yang sangat polos dan sensitif terhadap lawan jenis. Malahan, sikap dewasanya selama ini beneran terasa agak kurang alami jika dibandingkan dengan kepribadian aslinya saat ini... Jangan-jangan demi bisa mewujudkan skenario tidur bertiga bersama ini saja, dia beneran sudah memaksakan dirinya sendiri sekuat tenaga sejak awal tadi...?

...Meskipun aku beneran tidak tahu apa motif utamanya sampai nekat memaksakan diri sejauh itu sih.

Karena Miharu-chan dan Arisu-chan juga akan tidur di kamar ini, aku bergegas melangkah keluar kamar untuk mengambil satu set kasur lantai tamu tambahan dan menggelarnya di atas lantai kamar Sophia dengan rapi.

"...Umm, meskipun aku tahu ini sudah terlambat untuk dibahas, tapi membiarkan anak perempuan tidur di atas lantai sementara aku yang seorang laki-laki tidur dengan nyaman di atas kasur empuk rasanya agak kurang sopan, kan..." ujarku mencoba meluncurkan taktik perlawanan terakhirku.

""…………""

"Baiklah, aku mengerti... lupakan saja ucapanku tadi..." jawabku pasrah setelah mendapat aura tekanan tak kasatmata dari senyuman Kujouin-san serta tatapan tajam dari Sophia yang seolah ingin menegaskan, "Tolong jangan

mengatakan hal-hal yang tidak perlu lagi!" ke arahku dalam keheningan.

Akhirnya aku memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur dengan patuh.

Melihat keputusanku, Sophia melangkah maju dan langsung naik ke atas kasur terlebih dahulu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mengingat hari sudah larut malam, tindakannya mungkin murni karena dia ingin segera tidur secepat mungkin. Atau bisa juga, dia sengaja mengunci posisinya di atas kasur agar aku tidak memiliki celah lagi untuk melarikan diri dari tempat tidur nanti.

Melihat Sophia yang sudah bersiap, Kujouin-san memberikan isyarat mata mendesakku untuk segera menyusul naik ke atas kasur. Karena khawatir akan kembali dihujani oleh aura tekanan yang mengerikan jika menolaknya, aku pun naik ke atas kasur Sophia dengan patuh.

Dan begitu aku merapatkan posisiku di atas kasur agar Kujouin-san bisa ikut naik, seluruh bagian tubuhku beneran langsung menempel erat tanpa celah dengan tubuh Sophia di sebelah kananku.

"Maaf ya..." bisikku pelan merasa tidak enak karena posisiku terlalu menempel padanya.

"Umm, tidak apa-apa kok... ini kan situasi darurat..." jawab Sophia pelan dengan senyuman canggung di wajahnya yang manis.

Tindakan yang kami lakukan saat ini beneran terasa sangat luar biasa berani ya...

"…………"

"Kujouin-san?" panggilku heran saat menyadari Kujouin-san yang mendesakku untuk naik tadi justru masih tetap berdiri terdiam di sisi kasur tanpa ada niat sedikit pun untuk ikut naik berbaring bersama kami.

Saat aku menatap wajahnya, aku menyadari kalau kedua pipi Kujouin-san saat ini sudah merona merah padam, dan dia tampak menelan ludahnya kasar.

Pelaku utama yang merencanakan skenario berani ini ternyata baru merasa gugup dan ketakutan setelah dihadapkan pada kenyataan fisik harus tidur bersama dengan seorang laki-laki sedekat ini.

Makanya, jangan mencoba melakukan hal-hal ekstrem jika kamu sendiri sebenarnya belum siap mental melaksanakannya...

Melihat kelengahannya, aku sempat berpikir ini adalah kesempatan emas bagiku untuk melarikan diri dari kasur—namun, tepat saat aku berniat untuk bangkit berdiri—

"Bagaimana kalau posisimu kugantikan saja, Senpai?" tanya Arisu-chan tiba- tiba dari atas lantai dengan mata yang tampak berbinar-binar penuh harapan ke arah Kujouin-san.

" Ah, t-tidak usah kok! Aku tidak apa-apa!" jawab Kujouin-san buru-buru.

Tawaran dari Arisu-chan tampaknya berhasil memberikan dorongan mental tambahan bagi Kujouin-san untuk segera naik dan merebahkan tubuhnya di sebelah kiriku secara perlahan. Sementara Arisu-chan hanya bisa menghela

napas kecewa dan kembali masuk ke dalam selimut kasur lantainya dengan pasrah. Gadis itu sepertinya beneran berniat menggantikan posisinya tadi...

"Ternyata... rasanya agak sedikit canggung dan malu juga ya...?" gumam Kujouin-san pelan sambil merapatkan seluruh bagian tubuhnya ke arah lengan kiriku. Dia bahkan menyesuaikan posisi tidurnya hingga wajahnya berada tepat di depan dadaku, lalu mendongak menatapku dari balik matanya yang menawan.

Umm... ini sih beneran sudah lewat dari batas canggung dan malu tahu...

Dihimpit oleh dua orang gadis super cantik dari kedua sisi beneran sukses membuat detak jantungku berdegup kencang dengan sangat cepat, belum lagi aroma harum tubuh khas perempuan yang tercium semerbak memenuhi seluruh ruangan kamar, serta sensasi lembut yang menempel erat di kedua lengan dan dadaku beneran membuatku harus berjuang keras sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak berpikiran mesum saat ini. Aku bahkan merasa keputusanku yang masih bisa mempertahankan akal sehat di bawah gempuran situasi ekstrem seperti ini adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa dari dalam diriku saat ini.

"Hmph..."

Melihat fokus perhatianku yang teralih pada Kujouin-san, Sophia tampaknya merasa kurang senang karena dia langsung mengeluarkan suara gerutuan kesal sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan memeluk tubuhku dengan sangat erat dari sebelah kanan.

"S-Sophia..." bisikku panik.

Kamu beneran berniat merusak sisa pertahanan akal sehat kakaknya sendiri di atas kasur ini ya...? Sambil membatin pasrah, aku melirik ke arah wajahnya.

"A-Apakah kalian beneran diperbolehkan melakukan hal semesra itu di depan mataku...?" tanya Kujouin-san manis yang tampaknya tidak mau kalah bersaing dengan Sophia, karena dia juga secara tiba-tiba langsung melingkarkan kedua tangannya di lengan kiriku dan merapatkan pelukannya ke dadaku dengan sangat erat.

Berada di posisi terjepit di antara himpitan pelukan dua orang gadis tercantik di sekolah beneran membuatku merasa sangat tersiksa secara mental saat ini.

Aku tahu dia mungkin hanya terpancing rasa persaingan dengan Sophia saja saat ini, tapi bukankah tadi dia sendiri yang sempat gemetar ketakutan saat baru naik ke atas kasur...? Kenapa sekarang dia malah bertindak jauh lebih berani dan agresif seperti ini sih...?

Meskipun aku tahu dia sebenarnya sedang memaksakan dirinya sendiri sekuat tenaga sambil menahan rasa malu yang luar biasa di dalam hatinya, rasanya dia tidak perlu sampai memaksakan diri bersaing dengan Sophia dalam hal seperti ini, kan...?

"——Ugh...! Curang sekali...!"

"Sudahlah Arisu-chan, perjuanganmu masih bisa dilanjutkan besok pagi kok."

Suara bisikan lirih dari atas lantai kamar terdengar dengan sangat jelas oleh kami. Mengingat posisi kasur yang tidak terlalu tinggi, seluruh obrolan kami di atas kasur sejak tadi pasti terdengar dengan sangat jelas oleh Arisu-chan dan Miharu-chan di bawah.

Meskipun posisi mereka yang sedang berbaring membuat mereka tidak bisa melihat langsung apa yang sedang kami lakukan saat ini... kesalahpahaman akibat mendengar suara fisik kami di atas kasur beneran terasa jauh lebih berbahaya bagi reputasiku nanti. Aku harus beneran berhati-hati dalam bergerak...

"Biar kumatikan dulu lampu kamarnya ya..." ujar Sophia pelan. Setelah memastikan tidak ada yang melayangkan protes, dia menjangkau saklar lampu dan langsung mematikan lampu kamar hingga seluruh ruangan berubah menjadi sangat gelap gulita.

Baguslah, sekarang aku hanya perlu memejamkan mataku dalam diam dan tidur secepat mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di atas kasur ini...

Namun tepat saat aku baru saja memejamkan mataku—

"Nnh..."

—Tiba-tiba aku merasakan ada jari-jemari tangan yang menyelinap dan menggenggam erat jari-jemari tangan sebelah kiriku secara perlahan dalam kegelapan.

"A-Ada apa, Senpai...?" tanyaku panik sambil melirik ke arah Kujouin-san yang sedang menggenggam erat tanganku dengan gaya tautan jemari khas sepasang kekasih (lovers-lock) saat ini.

"M-Meskipun ini sangat memalukan bagiku... kesempatan emas untuk bisa tidur sedekat ini denganmu mungkin tidak akan pernah bisa terjadi lagi untuk yang kedua kalinya di masa depan nanti, jadi..." jawab Kujouin-san lirih dengan wajah yang meski di dalam kegelapan kamar pun aku masih bisa merasakan kalau wajahnya saat ini beneran sedang merona merah padam karena malu saat menatapku.

Memang benar apa yang dikatakannya, di luar situasi darurat seperti hari ini, rasanya hampir mustahil bagi kami berdua untuk bisa tidur bersama di satu ranjang yang sama lagi di masa depan nanti. Tapi, tindakan manis yang dilancarkannya saat ini—bukankah beneran sudah masuk ke dalam tahap hubungan sepasang kekasih yang romantis...?

Apakah aku diperbolehkan untuk berasumsi kalau Kujouin-san sebenarnya juga menaruh hati padaku saat ini, sama seperti Sophia...? Tindakan agresifnya beneran sangat mengarah ke kesimpulan tersebut saat ini.

—Ah, tapi bukankah kemungkinan itu memang sudah ada sejak dia merencanakan taktik kompetisi permainan kartu tadi...?

"……!"

Sementara itu, Sophia yang hanya bisa mendengar obrolan kami lewat suara fisik di sebelah kanan sepertinya salah paham dan mengira aku sedang berbuat mesum dengan Kujouin-san, karena dia secara tiba-tiba langsung melingkarkan dan merapatkan kaki mulusnya yang hangat di sela-sela kedua kakiku dengan sangat erat.

Mengingat kondisi kamar yang gelap gulita membuat dia tidak bisa melihat tindakan Kujouin-san yang sedang menggenggam tanganku saat ini, tindakan impulsifnya beneran sangat wajar... tapi tolong jangan melancarkan rangsangan fisik tambahan yang berbahaya seperti ini lagi dong saat aku sedang berjuang keras menahan diri...!

Sophia yang biasanya selalu bersikap dingin dan pemalu di depan umum beneran bisa berubah menjadi sosok adik yang sangat keras kepala dan nekat

jika emosi persaingannya sudah terpancing seperti sekarang. Tindakannya saat ini murni dilakukan hanya karena dia tidak mau kalah bersaing dengan Kujouin-san yang berada di sebelah kiriku saja.

Namun jika mereka terus-menerus melancarkan gempuran fisik yang sensual seperti ini padaku sepanjang malam, sisa-sisa pertahanan rasionalitas di dalam kepalaku beneran akan hancur lebur sepenuhnya nanti. Akhirnya, aku memutuskan untuk mematikan seluruh indra peraba di tubuhku, pasrah membiarkan kedua gadis cantik ini memperlakukan tubuhku dengan sesuka hati mereka sampai pagi hari menjelang.

——Tentu saja, skenario tidur bersama kami malam itu tidak akan bisa berakhir dengan damai begitu saja tanpa adanya masalah baru yang tercipta.

Keputusanku untuk pasrah dan tidak melawan justru membuat kedua gadis itu berasumsi kalau tindakan mereka diperbolehkan, yang membuat mereka bertingkah semakin manja dan menempel erat di tubuhku sepanjang malam.

Dan saat pagi hari menjelang, akibat posisi tidur yang tidak stabil, aku secara tidak sengaja mendaratkan kedua tanganku tepat di atas bagian sensitif di dada mereka berdua, yang langsung memicu teriakan histeris panik dari Sophia dan Kujouin-san saat mereka terbangun dari tidurnya.

Kesalahpahaman itu pun berujung pada kemarahan Arisu-chan yang merajuk kesal karena mengira aku beneran berbuat mesum dengan mereka sepanjang malam tadi... namun semua keributan dan masalah baru yang tercipta di pagi hari itu adalah lembaran kisah lain yang akan diceritakan di kesempatan yang berbeda nanti.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar