“—Kakak, lama sekali pulangnya…! Aku khawatir terjadi sesuatu, tahu!” Begitu aku sampai di rumah setelah mengantar Arisu-chan, aku langsung berpapasan dengan Sophia di depan pintu. Atau lebih tepatnya, melihat keadaannya, sepertinya dia memang menungguku di sana.
“Kau menungguku, ya…?”
“Habisnya, jam pulangmu yang biasa sudah lewat jauh, tapi kau tidak kunjung pulang…! Aku kirim chat tidak dibaca, ditelepon juga tidak diangkat, jadi kupikir kau terseret masalah lagi dan aku sudah hampir pergi mencarimu…!” Sepertinya aku benar-benar membuatnya khawatir. Sophia terlihat begitu panik, sampai-sampai aku tidak percaya ini adalah dirinya yang biasanya selalu tenang. Mengingat aku baru saja terseret masalah yang luar biasa tempo hari, wajar saja kalau dia cemas.
“Maaf, aku tidak sadar… Aku tadi bertemu dan mengobrol dengan Rindou-san dan Haibara-san. Aku jadi terlambat karena mengantar mereka pulang dulu…” Aku tidak sadar ada chat atau telepon karena pikiranku sedang benar-benar tidak karuan, tapi aku memutuskan untuk menceritakan soal Arisu-chan dan yang lainnya tanpa ada yang ditutupi. Menyembunyikan sesuatu itu sama saja seperti mengakui ada yang salah, kan. Lupakan Arisu-chan, tapi kalau Miu- chan, ada kemungkinan besar dia akan menceritakan obrolan kami malam ini pada Sophia. Aku tidak memintanya untuk diam karena aku tidak suka melakukan hal seperti itu yang seolah menyiratkan ada rahasia. Jadi, aku menceritakannya dengan jujur sekarang agar tidak dicurigai yang aneh-aneh seandainya Sophia tahu nanti. Soal nama panggilan mereka, kupikir lebih baik kujelaskan nanti saat aku benar-benar memanggil mereka di depannya, jadi untuk sekarang aku masih memakai nama yang lama.
Aku benar-benar lelah hari ini, jadi aku tidak punya tenaga untuk meladeni rentetan pertanyaan Sophia yang pasti akan datang. Soal elusan kepala itu… aku hanya bisa berharap Miu-chan tidak akan mengatakannya, tapi kalaupun sampai terdengar oleh Sophia, aku akan menceritakannya dengan jujur.
Lagipula, hanya itu yang bisa kulakukan.
Sumpaaaaah, hari ini melelahkan sekali…
“Kenapa kau bisa bersama mereka berdua…?! Curang! Aku juga mau mengobrol dengan Miu-san…!”
Namun, sepertinya Sophia tidak berniat melepaskanku. Ia mendekat seolah menuntut penjelasan. Begitu, ya, jadi begini akhirnya… Sudah kuduga ini takkan terhindarkan…
“ Aku berkeringat, jangan dekat-dekat…”
Aku kan tadi lari sebelum bertemu mereka, jadi meskipun sudah sempat mengobrol dan mengantar mereka, keringatku sudah meresap ke baju. Tentu saja aku jadi risih. Omong-omong, lupakan Miu-chan yang mungkin sudah biasa karena adiknya, tapi aku heran kenapa Arisu-chan yang sepertinya tidak terbiasa, bisa sedekat itu tadi, ya… Biasanya orang akan merasa jijik, kan… Ruang ganti klub pas musim panas itu benar-benar seperti neraka.
“Memangnya aku bakal peduli soal itu sekarang? Justru ini hadiah bagiku…” “ Aku yang peduli, tahu! Lagipula, aku belum latihan ayunan pemukul, jadi soal Rindou-san dan yang lain kita bicarakan besok saja, ya…?” Aku tahu dari sikapnya sehari-hari kalau Sophia tidak peduli soal keringat, tapi aku sendiri tetap saja tidak nyaman kalau sampai aromaku tercium olehnya.
Dan karena waktu sudah lebih larut dari biasanya, aku tidak mau membuang- buang waktu lagi. Masih ada hal lain yang harus kulakukan setelah ini.
“Tunggu.”
Namun, saat aku mengambil pemukul untuk latihan dan hendak keluar, Sophia menahan tanganku. Entah sejak kapan, ekspresinya berubah menjadi sangat serius. Apa dia sebegitu penasarannya dengan urusan Haibara-san…?
“Kau kelihatan lelah sekali hari ini, kan? Sudah malam begini, sebaiknya kau tidak usah latihan ayunan pemukul. Lagipula, setelah itu kau pasti mau mengerjakan analisis pertandingan, kan?”
Seperti yang diharapkan dari adikku—meskipun belum lama kami menjadi kakak-beradik, sepertinya Sophia sudah hafal betul dengan pola kebiasaanku.
Sampai-sampai jam perkiraan aku pulang lari pun sepertinya dia tahu… “Ini sudah jadi latihan rutinku. Hal-hal seperti ini hanya akan ada artinya kalau dilakukan terus-menerus, jadi aku tidak bisa libur.” Kalau aku berhenti sekarang, rasanya semua yang sudah kulakukan selama ini akan jadi sia-sia. Karena perasaan itulah, aku tidak bisa berhenti. Tapi— “Overwork.”
Sambil mengucapkannya dengan nada yang dibuat-buat, Sophia memiringkan kepalanya sedikit dan memberiku tatapan jitome yang khas itu. Ah, ini dia… Dia membalas kata-kataku yang dulu.
“Kau yang menghentikanku dengan kata-kata itu, tidak mungkin kan kau akan bilang kalau kau sendiri tidak peduli?”
Hah, gadis pintar sepertinya benar-benar merepotkan di saat-saat seperti ini.
Dia selalu tahu cara yang paling tepat untuk membuatku mati kutu.
Apalagi, dia punya citra sebagai seseorang yang pendendam, sampai-sampai aku berpikir jangan-jangan dia mencatat semua hal yang pernah dilakukan padanya…
“Ini sama sekali bukan overwork.”
“Latihan yang tidak memberikan beban, tidak mungkin akan membuahkan hasil, kan? Semifinal tinggal lusa, dan secara waktu, kau akan begadang lagi, kan… Ini, sebagai manajer, apa perlu aku laporkan pada pelatih atau Nadeshiko-senpai?”
Ke-kenapa cara bicaranya licik sekali…?! Dan lagi, dia tahu persis apa yang paling tidak kusukai…!
“Dari mana kau belajar cara bicara seperti itu…?”
“Nadeshiko-senpai yang memberitahuku untuk mengatakan itu kalau-kalau Kakak yang akan menghadapi pertandingan mulai memaksakan diri. Yah, sebenarnya yang dikhawatirkan itu bagian analisis pertandingan, sih.” “Kujouin-san…”
Orang itu, memang benar-benar tidak boleh dijadikan musuh. Wajahnya seperti dewi yang anggun, murni, dan baik hati pada semua orang, tapi dia tahu persis bagaimana cara menyudutkan lawan. Dia juga jeli dan punya mata pengamat yang tajam, jadi sulit untuk mengelabuinya. Bukan hanya itu, otaknya juga berputar cepat, dan meskipun kelihatannya begitu, dia punya nyali besar sampai-sampai tidak takut pada pelatih. Dia tipe orang yang kalau dibuat marah, akibatnya akan sangat menakutkan.
“ Aku tidak akan bilang ‘sehari saja tidak apa-apa.’ Aku juga mengerti pentingnya konsistensi. Tapi, kupikir kalau kau memaksakan diri, hasilnya malah akan negatif. Dan yang memberitahuku itu adalah kau, kan?” Sophia tersenyum lembut dan menarik tanganku pelan. Mungkin maksudnya ayo masuk ke dalam rumah. Untuk yang satu ini, perkataan Sophia memang benar.
“Baiklah, aku tidak akan latihan ayunan pemukul. Tapi, untuk analisis pertandingan…”
“Iya, aku tahu. Itu kan perlu untuk menang, kan? Aku juga akan membantumu.” “Tidak, aku tidak bisa membebanimu…”
“ Aku juga sudah menjadi manajer tim bisbol. Aku belum bisa berguna sejak masuk, jadi biarkan aku membantu.”
“...Begitu, ya.”
Aku bisa melihat dari matanya bahwa ini bukan sekadar ide sesaat, melainkan jawaban yang sudah dipikirkan Sophia dengan matang. Aku memutuskan untuk menghargai perasaannya. Lagipula, dari segi waktu, jam belajarnya dengan Jessica-san pasti sudah selesai.
“Bagaimana kalau aku ke kamarmu setelah mandi?”
“Boleh, sih… tapi kenapa tidak langsung saja?”
Aku ingin mandi dulu untuk membersihkan keringat, jadi aku mengusulkan rencana itu, tapi dia malah menjawab dengan nada sedikit tidak puas. Hmm, gadis ini memang punya sisi seperti ini, ya…
“ Aku tidak bisa pergi dalam keadaan bau keringat begini…” “Muu… kan aku sudah bilang tidak peduli…”
“ Aku yang peduli, dan itu juga tidak baik untuk kesehatan.” “Baiklah…”
Sepertinya dia akhirnya mengerti. Yah, aku juga paham dia ingin segera melakukannya karena waktu tidur juga terbatas… tapi aku benar-benar tidak mau pergi dalam keadaan bau keringat. Lagipula, kalau aku tidak mandi, Jessica-san tidak bisa mencuci baju.
“Kalau begitu—”
“Tunggu sebentar.”
“Masih ada lagi…?”
Kali ini aku hendak pergi ke kamar mandi, tapi dia menahanku lagi.
“ Apa kau tidak melupakan sesuatu?”
“Eh… melupakan apa…?”
Aku tidak punya firasat apa-apa, jadi aku bertanya dengan jujur. Tiba-tiba, wajahnya sedikit memerah dan ia mulai bergerak gelisah.
“I-itu… jatah elusan kepala hari ini, aku belum dapat…” “—!”
Sophia mengatakannya sambil malu-malu dan gelisah. Melihatnya seperti itu, kepalaku seolah disambar petir saking imutnya.
“Bukankah lebih baik setelah aku mandi…?
“ Aku tidak peduli…”
Sophia berkata begitu sambil menyodorkan kepalanya. Sepertinya maksudnya ‘elus sekarang’ . Padahal biasanya dia bersikap keren dan angkuh, tapi hanya saat-saat seperti ini dia jadi penurut… Celah karakter seperti itulah yang membuatnya luar biasa imut.
Seperti biasa, aku mengulurkan tanganku ke kepalanya—tapi tiba-tiba, pemandangan malam ini terlintas di benakku. Gara-gara itu, aku menghentikan tanganku yang terulur.
“...? Ada apa?”
Sophia yang menyadari aku membeku, menatapku dengan cemas. Sejak terbiasa, aku rasa aku sudah bisa mengelusnya dengan lancar, jadi wajar saja dia merasa aneh kalau aku tiba-tiba berhenti seperti ini.
“Tidak, hanya saja Sophia kan sudah mandi dan bersih, jadi rasanya agak segan kalau mengelusnya dengan tanganku yang kotor… hahaha…” “Be-bersih…?!”
Aku buru-buru mencari alasan untuk mengelak, tapi Sophia malah merespons bagian yang tidak kuduga. Kenapa bagian itu yang dia perhatikan, pikirku, tapi untungnya dia terpancing, jadi aku akan memanfaatkan kesempatan ini.
“Kau kan sudah mandi, jadi tubuhmu sudah bersih dari kotoran, kan?
Makanya—”
‘Ma-maksudnya begitu…?! Jangan bicara yang membingungkan, dong…!’ “Eh, kenapa kau tiba-tiba marah?!”
Tiba-tiba wajahnya memerah dan ia memarahiku dalam bahasa Inggris. Aku jadi bingung. Seharusnya aku tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya marah… Tunggu, itu dia. Mungkin karena belakangan ini kami jadi lebih akrab, aku jadi jarang melihatnya marah dalam bahasa Inggris, jadi kesannya memudar. Tapi sebenarnya, gadis ini juga punya perubahan emosi yang drastis.
Kalau dipikir-pikir, belakangan ini dia jadi lebih jujur… Jadi, kesanku bahwa aku tidak suka dengan Arisu-chan mungkin hanya karena aku belum terbiasa dengannya…
“Maaf, ya…”
Aku yang sudah belajar bagaimana cara menenangkan Sophia saat marah, meletakkan tanganku di kepalanya dan mengelusnya dengan lembut. Kalau sudah begini, mengelus kepalanya menjadi prioritas utama daripada mandi.
Karena—
“Mh…”
—kalau kepalanya dielus, dia akan menjadi setenang ini.
Sungguh, apa dia benar-benar gadis sulit yang sampai dijuluki ‘Bunga Kesunyian’? Cara penanganannya ini terlalu tak terduga. Yah, aku tidak akan
memberitahukannya pada siapapun, sih. Aku benar-benar tidak suka kalau ada pria lain yang menyentuh kepala Sophia.
Lagipula… tanpa sadar aku mengelak soal mengelus kepala Miu-chan dan yang lainnya. Sepertinya aku memang tidak ingin Sophia tahu soal itu… Kalaupun dia tahu, mau bagaimana lagi, itu salahku sendiri jadi aku harus menerimanya.
Tapi, lebih baik kalau dia tidak tahu.
Itu bukan karena aku takut dimarahi, tapi mungkin karena—.
“—Sudah cukup?”
Setelah merasa sudah mengelusnya selama waktu yang biasa, aku mencoba menarik tanganku dari kepalanya untuk pergi mandi.
“Sepuluh menit lagi…”
Tapi, seolah tak mau melepaskanku, kedua tangannya menahan tanganku.
“Lama sekali?!”
Kadang-kadang dia memang suka merengek, tapi perpanjangan waktu sepuluh menit ini sepertinya baru pertama kali. Lagipula, aku kan tidak menghitung waktunya, jadi kalau disuruh menentukan waktu, aku jadi bingung.
“…………”
Sophia mengabaikan protesku dan sepertinya sedang menunggu elusan kepala dilanjutkan. Yah, sepertinya dia cemas karena aku tidak kunjung pulang, dan mungkin ini adalah efek baliknya. Kalau begitu, sebagai orang yang membuatnya khawatir, aku harus menebusnya—.
Setelah membuat alasan dalam hati, aku kembali mengelus kepala Sophia.
“Ehehe…”
Saat aku mengelusnya dengan lembut, seperti biasa, tawa manis Sophia mulai terdengar. Bukan ‘fufu…’ tapi ‘ehehe…’ yang keluar saat suasana hatinya sedang sangat baik. Tawanya yang seperti ini benar-benar mengingatkanku pada Miu- chan.
Entah bagaimana… aku jadi berpikir, jangan-jangan aku ini sebenarnya sudah melakukan dosa yang sangat besar…? Setidaknya, kalau para cowok di sekolah tahu apa yang sedang kulakukan sekarang, atau apa yang kulakukan pada Miu- chan dan Arisu-chan, aku pasti akan diserang oleh rasa cemburu mereka yang luar biasa. Bahkan mungkin aku akan diserang secara fisik. Aku sadar apa yang kulakukan memang sudah sampai di level itu.
“—Sudah puas?”
Setelah mengelusnya selama kira-kira sepuluh menit—atau mungkin lebih, aku menarik tanganku dan melihat keadaan Sophia.
“Mh… masih kurang, tapi aku akan menahannya…”
Sepertinya suasana hatinya sedang sangat baik. Sophia menjawab dengan kejujuran yang biasanya hanya ia tunjukkan saat sedang rapuh. Aku terkejut karena ini pun masih kurang baginya, tapi aku senang karena itu berarti ia sangat menginginkannya.
Sekarang, yang harus kulakukan adalah segera lari ke kamar mandi sebelum Sophia sadar dan mulai menggeliat malu sambil mengamuk.
“Kalau begitu, aku ke kamarmu setelah selesai mandi.” “Mh, kutunggu…”
Setelah percakapan itu, aku masuk ke ruang ganti pakaian— ‘—Mesra sekali, ya, kalian~. Berani-beraninya kalian bermesraan seperti itu di lorong tanpa rasa malu…’
‘I-Ibu?! Apa, Ibu melihatnya…?! Mengintip itu licik sekali, tahu…!’ ‘Kalian melakukannya di lorong depan ruang keluarga, jadi wajar saja kalau terlihat, kan? Fufu… benar-benar, sejak kau jadi lebih jujur… Masa muda memang luar biasa~’
‘~~~~~~~~~! Ibu bakaaaaaa!’
Entah kenapa aku mendengar teriakan marah Sophia yang hampir seperti jeritan dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Sepertinya dia digoda oleh Jessica-san dan melarikan diri. Yah, tempatnya memang salah, sih… pikirku pasrah, tapi pikiran bahwa Jessica-san mungkin melihat kami membuat wajahku terasa panas seperti terbakar.
◆
“Maaf sudah menunggu.”
Setelah selesai mandi, aku membawa buku catatan dan kotak pensil ke kamar Sophia.
“Muu…”
“Loh?”
Sophia yang keluar dari kamar sedang menggembungkan pipinya, matanya sedikit berkaca-kaca dan wajahnya merah. Meskipun tadi digoda oleh Jessica- san, seharusnya sudah sekitar tiga puluh menit berlalu sejak aku masuk kamar mandi. Rasanya tidak mungkin dia masih memikirkannya. Apa terjadi sesuatu saat aku mandi? Apa dia cemberut karena aku datang terlambat—rasanya tidak mungkin.
“ Ada apa?”
“Ibu, datang ke kamarku dan menggodaku lagi…”
“Oh…”
Begitu, ya… Sepertinya Sophia yang lari ke kamarnya, dikejar oleh Jessica-san yang kali ini tidak biasa. Biasanya dia tidak akan sejauh itu, tapi kalau melihat adegan kami saling mengelus kepala, aku bisa mengerti kenapa dia jadi ingin tahu lebih banyak. Sophia yang biasanya bersikap dingin dan tidak menunjukkan celah pada orang lain, meskipun Jessica-san tahu kami akrab, dia pasti tidak menyangka Sophia akan membiarkan kepalanya dielus.
“Marahi Ibu.”
Sepertinya dia benar-benar dendam. Sophia merengek padaku. Gadis ini, dia tahu Jessica-san tidak bisa bersikap keras padaku, jadi dia selalu meminta hal- hal yang mustahil… Aku senang dia mengandalkanku, tapi aku tidak bisa menerima kasus yang satu ini.
“Jangan minta yang aneh-aneh… Yah, nanti akan kuminta agar tidak terlalu menggodamu.”
“Mh…”
Sepertinya dia puas dengan jawaban itu. Sophia berbalik dan kembali ke kamarnya. Karena baru saja digoda, tingkah lakunya jadi kekanak-kanakan.
Sophia yang seperti ini—
“Ini, pakai saja…”
Sophia meletakkan laptop di atas meja, lalu mengambil satu kursi yang ada di sudut kamar dan meletakkannya di sebelah kursinya sendiri. Seingatku kursi ini dulu tidak ada, mungkin dia membelinya agar aku bisa duduk saat datang ke kamarnya. Kalau memakai laptop, tidak mungkin duduk di tempat tidur, jadi ini sangat membantu.
“Terima kasih. Data pertandingan SMA Kouyou—"
“Semuanya ada di situ, harusnya… Nadeshiko-senpai sudah memberikannya padaku…”
Sophia menjawab begitu, lalu duduk sangat dekat denganku sampai menempel. Karena sedang dalam kondisi rapuh, sepertinya ia ingin bermanja- manja. Sungguh… Sophia dalam kondisi seperti ini jadi sangat manja, seolah dia orang yang berbeda.
“ Ah…♪”
Saat aku mengelus kepalanya dengan lembut, suara senang keluar dari mulut Sophia. Lalu, ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku merasa kasihan pada Sophia yang sedang rapuh, tapi aku juga suka dengan dirinya yang seperti ini. Aku tidak perlu terlalu menjaga perasaan
karena aku tahu dia akan senang kalau dimanja. Aku juga tidak perlu melakukan tarik-ulur yang aneh, jadi aku merasa lebih santai—tapi yang terpenting, Sophia yang manja itu imut.
Ngomong-ngomong, Kujouin-san memberikan data SMA Kouyou yang begitu banyak pada Sophia. Sepertinya dia benar-benar serius ingin mendidik Sophia menjadi penerusnya. Mengingat betapa pintarnya Sophia, wajar saja kalau dia menaruh harapan besar.
“Boleh aku pilih pertandingan yang mau ditonton?”
“Mh…”
Setelah mendapat izin dari Sophia, aku membuka file pertandingan semifinal Koshien musim panas tahun ini. Pertandingan antara SMA Kouyou dari Hiroshima dan SMA Kitou dari Osaka, yang disebut-sebut sebagai final sesungguhnya.
“Tidak apa-apa bukan pertandingan yang terbaru…?”
Sophia bertanya dengan heran saat melihatku menonton video tiga bulan yang lalu. Aku pikir dia sudah tidak peduli dengan videonya karena sedang dalam mode manja, tapi sepertinya dia masih memperhatikan dengan baik.
“Memang benar, meskipun hanya tiga bulan, ace Kouyou, Yajima-san, sudah semakin berkembang setelah mengikuti kejuaraan dunia, jadi aku paham kalau kau berpikir lebih baik melihat data terbaru… Tapi sekarang aku ingin mendapatkan gambaran bagaimana cara memukul bolanya. Kupikir lebih baik menjadikan pertandingan ini sebagai referensi, satu-satunya pertandingan di mana Yajima-san kalah.”
“Meskipun dibilang kalah… dia kan tidak kemasukan satu angka pun sampai babak perpanjangan… dan kalahnya di tie-break babak kesepuluh, kan…?” Aku sedikit terkejut karena Sophia tahu soal pertandingan ini, tapi karena dia memang sejak awal tertarik pada bisbol, mungkin dia menonton pertandingan yang sangat menarik perhatian ini. Pertandingan antara dua orang yang meskipun masih kelas dua SMA, sudah disebut-sebut bisa langsung menjadi kekuatan di dunia pro dan bersaing memperebutkan gelar pelempar nomor
satu SMA, benar-benar menjadi pertarungan pelempar yang luar biasa.
Kenangannya pasti terukir dalam di benak orang-orang yang menontonnya.
“Jujur saja, dia itu orang yang rasanya tidak nyata… Aku paham kenapa SMA Kitou yang disebut-sebut punya barisan pemukul monster pun kesulitan untuk membobolnya.”
Dan meskipun sampai ke tie-break babak perpanjangan, Kitou yang berhasil mengalahkan Yajima-san yang tidak kemasukan satu angka pun sejak turnamen prefektur, memang luar biasa. Itu bisa terjadi karena mereka punya sang ace—Sumeragi Kouya, yang berhasil menahan SMA Kouyou yang saat itu disebut sebagai tim terkuat sepanjang masa tanpa kemasukan satu angka pun.
Kalau tidak, karena mereka tidak berhasil mencetak angka sampai babak kesembilan, justru Kitou yang akan kalah.
“‘ Anak Ajaib’ Yajima Reon. Salah satu pahlawan yang membawa Jepang menjuarai kejuaraan dunia U-18 tahun ini, dan dijuluki ‘Ace Kiri’ , kan?
Pelempar yang menguasai berbagai macam lemparan kurva tajam, dan punya kekuatan kontrol lemparan yang bisa melempar tepat ke tempat yang diinginkan penangkap. Lemparan andalannya, sama seperti Kurogane-kun, adalah forkball.”
“Heeh…”
Melihat Sophia yang lancar menjelaskan informasi tentang Yajima-san, aku jadi terkesan. Entah dia sudah tahu sebelumnya atau diajarkan oleh Kujouin-san, tapi hebat sekali dia sudah hafal informasi tentang Yajima-san yang baru akan menjadi lawan jauh di depan nanti, padahal dia baru saja menjadi manajer.
“Hampir semuanya benar. Tapi, meskipun lemparan kurvanya yang sering jadi sorotan, straight ball orang ini juga punya daya luncur yang bagus dan merepotkan. Selain itu, selain forkball sebagai lemparan andalannya, curve, slow curve, dan slider-nya juga punya ketajaman dan perubahan arah yang tidak kalah dari lemparan andalannya. Dan semuanya punya pola dengan perubahan arah yang lebih kecil. Bukan hanya itu, dia juga punya change-up, jadi kalau mengincar straight ball, timing-nya bisa benar-benar kacau… Yah, bagaimana cara menaklukkannya, itu pertanyaannya.”
Meskipun kecepatannya hanya 140km/jam, straight ball-nya punya daya luncur, dan ia melempar berbagai macam lemparan kurva yang bisa digunakan dalam dua tahap dengan kontrol yang sempurna. Padahal dia sama-sama anak SMA sepertiku, tapi apa yang dilakukannya sudah bukan lagi teknik manusia.
“Yajima-san mulai disebut ‘ Anak Ajaib’ juga karena setelah menjadi pelempar di Little Senior, dia langsung bisa menguasai berbagai macam lemparan kurva yang tajam dan punya perubahan arah yang besar dengan kecepatan yang luar biasa.”
Katanya di tahun terakhirnya di Little League, semua pertandingan yang dilempar oleh orang ini tidak pernah kalah… benar-benar keberadaannya tidak masuk akal.
“Memang, dia lebih hebat dari Kurogane-kun, ya…?”
Sophia sepertinya penasaran, ia bertanya dengan penuh minat. Untung saja pertanyaan ini tidak ditanyakan di depan Shuuto.
“Kalau dilihat secara umum, mungkin begitu. Lawannya kan pelempar yang menjadi juara dunia, dan di usia kita, perbedaan satu tahun itu besar.” “Begitu…”
Sophia menunduk sedih. Siapapun pasti tidak suka mendengar ace sekolah lain lebih hebat dari ace sekolah sendiri.
“Tapi, aku yakin bakatnya tidak kalah. Shuuto juga berkembang dengan kecepatan yang luar biasa, dan potensinya masih belum terlihat sepenuhnya.
Lagipula, kalau saja staminanya cukup, kurasa bahkan sekarang pun Shuuto tidak akan kalah dalam adu lemparan di pertandingan melawan Kouyou.” Benar, kalau saja staminanya cukup. Di pertandingan kali ini, menaklukkan Yajima-san adalah tantangan terbesar, dan untuk menang, kami harus bertarung dalam pertandingan yang memperebutkan satu angka. Tapi, Shuuto belum punya stamina untuk melempar sembilan babak dengan kekuatan penuh. Apalagi, meskipun dia menghemat stamina dengan gaya melempar yang membiarkan lawan memukul, kalau sampai tie-break, kemungkinan besar Shuuto-lah yang akan kebobolan lebih dulu karena penurunan stamina.
Hal itu juga harus kupikirkan strateginya. Yah, sebenarnya aku sudah punya satu ide.
“Kalau begitu, tidak apa-apa, kan…? Lagipula, ada rumor kalau Yajima-san sedang tidak dalam kondisi terbaiknya.”
Sambil mengobrol, sepertinya Sophia sudah kembali ke kondisi normalnya. Ia kembali bersikap dingin, tapi ekspresinya terlihat cerah. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa soal aku yang mengelus kepalanya, dan tidak mencoba menghindar. Sungguh, dia suka sekali dielus, ya…
Ngomong-ngomong—
“Tidak dalam kondisi terbaik, ya… Pelempar juara dunia memang repot, ya… padahal dia belum kemasukan satu angka pun di turnamen ini, tapi masih saja dibilang begitu oleh publik.”
Intinya, karena kemampuannya yang luar biasa dan hasil terbaik yang sepadan dengan kemampuannya, ditambah reputasinya yang hebat, standar yang diharapkan oleh orang-orang jadi luar biasa tinggi. Dibilang tidak dalam kondisi terbaik padahal belum kemasukan satu angka pun… rasanya ingin tertawa.
“I-itu, kan, waktu musim panas dia bahkan hampir tidak pernah membiarkan lawan memukul hit, tapi sejak musim gugur ini sepertinya dia cukup sering kena pukul… Katanya, dia tidak kemasukan angka itu hanya kebetulan, banyak yang bilang begitu…”
Mungkin karena aku tersenyum pahit, Sophia salah paham mengira aku marah.
Ia sedikit panik sambil memberikan penjelasan tambahan. Tapi, yang kudapat dari itu hanyalah kesan bahwa itu adalah perkataan orang-orang yang tidak mengerti.
“Nanti kalau ada waktu, coba kau cari tahu. Orang ini hanya kena pukul saat tidak ada pelari di base, atau hanya ada pelari di base pertama. Saat ada pelari di base kedua atau ketiga, dia tidak pernah kena pukul sama sekali. Begitu juga dengan pemukul nomor empat atau pemain yang sedang jadi sorotan.” “Eh…”
Mendengar kata-kataku, mata Sophia terbelalak. Benar juga, hal ini belum pernah dibahas di rapat, ya. Terlalu melebih-lebihkan lawan itu punya sisi negatif yang besar.
“Maksudnya, dia pelempar yang kuat di saat genting…?” “Yah, bisa juga dilihat begitu, tapi kalau dari video pertandingannya, kurasa bukan itu. Orang ini kena pukul karena arahan dari penangkapnya. Lemparan kurva dengan perubahan arah kecil yang dilempar dengan tujuan agar lawan memukul dan ditangkap, akhirnya kena pukul karena penangkapnya salah menilai kekuatan pemukul, atau malah meminta lemparan yang sudah ditunggu-tunggu oleh pemukul. Makanya, saat ada pelari di posisi bisa mencetak angka, penangkapnya hanya meminta lemparan kurva dengan perubahan arah besar, jadi dia tidak kena pukul. Alasan dia tidak kena pukul oleh pemukul nomor empat atau pemain yang jadi sorotan juga karena dia tidak menggunakan lemparan kurva dengan perubahan arah kecil.” Yah, aku juga berpikir itu agak aneh, sih. Mungkin dia sengaja menguasai lemparan kurva dengan perubahan arah kecil agar bisa menghemat stamina, karena lawan tidak akan bisa mengenai lemparan kurva dengan perubahan arah besar. Tapi, lemparan itu sebenarnya bisa digunakan juga melawan pemukul kuat. Justru, dengan mencampurkan lemparan kurva dengan perubahan arah kecil dengan baik, seharusnya pemukul kuat lebih mudah diatasi. Yah, aku juga paham kalau salah perhitungan bisa kena pukulan jauh, jadi penggunaannya memang sulit… Tapi yang pasti bisa kukatakan adalah, penangkap utama yang sekarang tidak bisa memanfaatkan kekuatan Yajima- san sepenuhnya.
“Jangan-jangan, kau tidak suka dengan penangkap itu, ya…?” Mungkin karena cara bicaraku, Sophia bertanya dengan hati-hati sambil mencoba membaca raut wajahku. Memang benar, perkataanku tadi bisa ditafsirkan seperti itu.
“ Aku hanya punya sedikit pemikiran soal opini publik, dan hanya mengatakan fakta.”
‘ ...Sepertinya bukan hanya itu…’
Aku menjawab pertanyaan Sophia dengan senyum, tapi ia menunduk dan bergumam pelan dalam bahasa Inggris. Sepertinya ia tidak menerima kata- kataku begitu saja… Disalahpahami benci pada penangkap lawan itu benar- benar tidak baik…
“Ini, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya pada Shuuto, tapi… Yajima-san itu adalah ace idealku.”
“—?!”
Saat aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur, Sophia langsung mengangkat wajahnya dengan kaget. Reaksinya yang begitu jujur membuatku sedikit geli.
“Karena dia pelempar yang hebat…?”
“Itu juga, tapi sikapnya yang angkuh dan santai di atas mound, mentalnya yang bisa terus menyerang tanpa gentar bahkan di saat genting. Lebih dari apa pun, mungkin karena dia adalah sosok yang bisa memberikan rasa aman pada rekan-rekan setimnya. Lalu—”
Aku mempercepat waktu video.
“Nah, di pertandingan ini. Coba lihat sebentar.”
Saat aku berkata begitu, Sophia fokus menatap layar. Sungguh, dia jadi sangat penurut.
“—Ah, error…!”
Seperti yang dikatakan Sophia, pukulan yang seharusnya bisa ditangkap, gagal ditangkap oleh shortstop. Seharusnya bola semudah itu tidak mungkin gagal ditangkap, tapi tekanan dari pertarungan pelempar yang memperebutkan satu angka mungkin membuat tubuhnya kaku. Dalam situasi di mana satu kesalahan bisa berakibat fatal, tekanan yang dirasakan para pemain pasti jauh lebih besar daripada yang terlihat di video. Kalau mereka sudah menahannya selama itu, tidak aneh jika terjadi kesalahan seperti ini.
“Di babak ketujuh yang berat bagi pelempar, karena error dari rekan setimnya, pelari yang ada di base kedua maju ke base ketiga. Apalagi belum ada yang out.
Tapi—mulai dari sinilah, yang luar biasa.”
Kalau Sophia sudah menontonnya, dia pasti tahu, tapi aku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi setelah ini, sampai-sampai aku ingin orang yang tidak tahu untuk melihatnya.
“Yajima-san, tersenyum, ya…?”
Seperti yang dikatakan Sophia, meskipun dalam situasi tegang di mana satu angka pun tidak boleh kebobolan, saat para pemain bertahan berkumpul di mound, Yajima-san justru tersenyum. Meskipun lawannya adalah barisan pemukul bawah, mereka adalah kumpulan pemain kuat yang bisa menjadi pemukul nomor empat di sekolah lain. Bukan lawan yang bisa diatasi dengan mudah, tapi efek dari senyum sang ace di sini pasti besar. Terutama, shortstop yang melakukan error pasti merasa sedikit lebih lega.
Dan setelah ini—
“Tiga pemukul, tiga lemparan, tiga strikeout…”
—seperti yang digumamkan Sophia, Yajima-san berhasil keluar dari situasi genting itu dengan lemparannya sendiri.
“Lemparan yang menghapus kesalahan rekan setimnya. Pelempar yang bisa melakukan hal seperti itu pasti tidak banyak. Dan ini bukan hanya menyelamatkan tim, tapi juga memberikan momentum pada rekan-rekan setimnya.”
Buktinya, di serangan berikutnya, Kouyou yang sampai saat itu tidak pernah berhasil memukul berturut-turut dari Sumeragi-san, berhasil memukul berturut-turut sampai base penuh. Yah, setelah itu Sumeragi-san menunjukkan kegigihannya dan berhasil keluar tanpa kemasukan angka, tapi bisa sampai menyudutkannya sejauh itu pasti berkat lemparan Yajima-san.
“Memang benar, kepribadian yang memberikan rasa aman pada rekan setimnya dan kemampuan untuk keluar dari situasi genting, sangat pantas untuk seorang ace…”
“Iya, karena itu aku tidak suka kalau orang sehebat itu dijelek-jelekkan.” Apalagi, tidak ada masalah dengan kemampuannya. Yah, aku juga berpikir Yajima-san seharusnya menggelengkan kepala—tapi orang ini terkenal tidak pernah menggelengkan kepala… Mungkin karena kepribadiannya yang baik, dia menghargai penangkapnya. Bahkan saat genting pun, sepertinya ia berpikir ‘tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya sendiri.’
“Maafkan aku…”
“Eh?”
Tiba-tiba Sophia meminta maaf, membuatku bingung. Tapi, aku langsung sadar alasan kenapa dia meminta maaf.
“Tidak, aku tidak sedang menyalahkan Sophia. Aku hanya kesal pada orang- orang yang menjelek-jelekkannya tanpa tahu apa-apa, jadi jangan dipikirkan.” Aku benar-benar tidak menyalahkan Sophia, jadi aku buru-buru menenangkannya. Gadis ini, meskipun biasanya memakai topeng dingin, mentalnya ternyata cukup lemah… Dulu dia juga bilang takut pada laki-laki.
“Mh…”
Sophia mengangguk pelan. Tapi, dari ekspresi dan sikapnya, sepertinya ia masih memikirkannya. Sepertinya kata-kataku tadi lebih menusuk hatinya daripada yang kukira.
“Sungguh, tidak usah dipikirkan. Daripada itu, ayo kita lanjutkan videonya.” Aku menepuk-nepuk kepala Sophia dengan lembut dengan tanganku yang tadi mengelusnya, dan menyuruhnya untuk melihat layar laptop. Kalau perhatiannya teralihkan ke hal lain, ia pasti akan bisa melupakannya.
Kami terus menonton video—
“Seperti yang kuduga, kuncinya ada di babak-babak akhir…” Kesimpulanku tidak berubah dari sebelumnya.
“Karena staminanya menurun, lemparannya jadi lebih mudah dipukul?” Sophia mengerti pikiranku dan bertanya sambil menatapku dari bawah.
“Itu juga, dan ketajaman serta perubahan arah lemparan kurvanya juga terlihat menurun. Tapi—pertandingan ini kan diadakan di musim panas, dan barisan pemukul lawan, termasuk sang ace, semuanya adalah pemukul kuat tingkat nasional dari nomor satu sampai sembilan. Jadi, mungkin juga staminanya terkuras karena tekanan yang ia terima sejak awal…” Kalau pun kami bisa bertarung dalam pertandingan yang memperebutkan satu angka di final, baik dari segi suhu maupun tekanan, rasanya kami tidak akan bisa menguras staminanya sebanyak itu. Kalaupun kami memakai strategi untuk menguras staminanya—jika di babak akhir kami tidak berhasil menguras staminanya seperti yang direncanakan, itu malah akan menjadi bumerang bagi kami. Dia bukan tipe pelempar yang bisa dengan mudah dipukul homerun… merepotkan sekali.
“ Aku jadi berpikir… untuk ukuran lemparan andalan, di pertandingan ini, di saat-saat penting, Yajima-san hampir tidak pernah menggunakan forkball sebagai lemparan penentu, ya…?”
Di sebelahku yang sedang berpikir, Sophia bergumam pelan. Mendengar kata- katanya, aku jadi benar-benar terkejut. Bukan hanya karena dia menonton videonya dengan baik, tapi juga karena sudut pandangnya yang bagus bisa menyadari hal itu hanya dengan sekali menonton.
“Hebat, kau menyadarinya, ya. Bahkan Kujouin-san pun tidak sadar.” Atau mungkin dalam kasusnya, karena informasi yang ia pegang terlalu banyak, ia malah terjebak oleh prasangka dan jadi terlewat.
“Be-begitu, ya…”
Karena dipuji, Sophia menunduk malu dengan pipi yang memerah. Ternyata gadis ini tidak tahan dipuji, ya.
“Kalau Kakak berkata begitu, berarti Kakak juga menyadarinya, ya… Memang, ada maksud tertentu?”
“Mungkin, dia menghindari lemparan andalannya diincar. Meskipun tajam dan punya perubahan arah yang besar, kalau sudah ketahuan akan dilempar, pemain tingkat nasional pasti ada yang bisa memukulnya. Tapi, tidak salah lagi kalau lemparan andalannya adalah forkball. Di pertandingan lain juga begitu, dan di pertandingan ini pun, melawan pemukul kuat selain barisan inti, dia sering menggunakan forkball sebagai lemparan penentu.” Dengan kata lain, Yajima-san dan timnya berpikir kalau mereka melempar forkball pada barisan inti Kitou, mereka akan bisa memukulnya. Yah, aku juga berpikir orang-orang itu pasti bisa memukulnya.
“Tapi, ini bisa dilakukan karena lemparan kurva lainnya juga punya ketajaman dan perubahan arah yang cukup untuk bersaing dengan pemukul kuat.
Lagipula, karena dia bisa menguasai berbagai macam lemparan kurva, kalau hanya membatasi pada forkball, itu malah bisa menghilangkan kelebihan Yajima-san, jadi kurasa ini adalah jawaban yang tepat.” Yang penting di sini adalah, bagaimana kami dianggap oleh Yajima-san. Jika kami dianggap sebagai lawan yang cukup dihadapi dengan forkball sebagai lemparan penentu—maka kami masih punya kesempatan untuk bertarung.
“Kakak, apa kepalamu tidak pusing memikirkan sebanyak itu?” Entah apa yang dipikirkannya, Sophia menatap wajahku dengan heran. Tiba- tiba kenapa, ya?
“Ini kan biasa saja?”
“...Coba, aku lihat catatanmu.”
Sophia mengambil buku catatanku yang ada di atas meja.
“Penuh sekali… dan semuanya tentang Yajima-san…”
Sophia terlihat sedikit ngeri dan terkejut. Tidak, tunggu… kenapa ngeri?
“Habisnya ini kan catatan khusus Yajima-san…”
“Khusus…”
Kenapa ngeri, sih?!
“Kami kan dari daerah Chugoku yang sama, dan dia sudah aktif di tingkat nasional sejak dulu. Aku sudah menduga suatu saat akan melawannya, jadi aku sudah memeriksanya sejak lama. Tentu saja aku tidak akan menulis sebanyak ini untuk semua pemain.”
‘ ...Pelempar yang bahkan tidak bisa ditemukan celahnya meskipun Kakak sudah berusaha sejauh ini…’
Saat aku menceritakannya dengan jujur, kali ini ia bergumam sesuatu dalam bahasa Inggris. Apa ini pola di mana aku membuatnya semakin ngeri dan diejek dalam bahasa Inggris?
“ Aku mau kembali ke kamar.”
“Eh?! Tu-tunggu…!”
Saat aku mengambil kembali catatanku dan berdiri, Sophia panik dan menarik ujung lengan bajuku.
“Sudah malam, kau harus tidur, kan?”
Kami sudah mulai menonton pertandingan bisbol di jam yang larut, jadi sekarang sudah waktunya tidur. Sophia sudah diperingatkan oleh Jessica-san untuk tidak begadang, jadi aku tidak bisa melibatkannya lebih jauh lagi.
“ Ah… iya, ya…”
Sophia menunduk sedih dan perlahan melepaskan tangannya dari bajuku. Apa- apaan makhluk imut ini…
“Besok setelah sekolah kita hanya pindah ke hotel, jadi kita bisa menonton lagi setelah rapat selesai.”
Aku berkata begitu sambil tersenyum dan mengelus kepala Sophia dengan lembut. —Tapi, aku menyesal setelah mengatakannya. Untuk pertandingan kali ini, hanya pelatih, pemain inti, dan manajer yang menginap di hotel, sementara anggota lain menginap di penginapan terdekat. Kamar hotelnya untuk dua
orang, dan kali ini aku sekamar dengan Shuuto—kalau Sophia datang, aku hanya bisa melihat masa depan yang gawat.
Namun—
“I-iya, ya! Besok aku akan berusaha agar bisa berguna…!” —melihat senyumnya yang cerah, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Yah, biarlah terjadi apa yang terjadi…
◆
Dan sampailah pada malam keesokan harinya—.
“Se-selamat malam…”
Sophia yang sepertinya sudah selesai mandi, datang ke kamar hotel kami.
Sepertinya dia benar-benar datang.
“Masuk.”
Agar tidak terlihat oleh anggota klub lain, aku segera memasukkan Sophia ke dalam kamar. Tentu saja aku sudah memberitahu pelatih sebelumnya, dan untuk jaga-jaga, aku sudah mendapatkan izin untuk membawanya ke kamar.
“Kukira Kujouin-san juga akan ikut, tapi kau sendirian, ya?” Kukira orang yang sangat menyayangi Sophia itu akan datang bersamanya, tapi aku tidak melihatnya.
“ Ah… sepertinya dia ditahan oleh manajer lain, jadi aku datang sendiri… Soalnya, kalau yang lain tahu kan jadi merepotkan…” Begitu, ya. Kujouin-san yang sangat populer di sekolah, tentu saja juga populer di antara para manajer klub. Seharusnya Kujouin-san sekamar dengan Sophia, tapi mungkin manajer lain datang bermain ke kamar mereka, atau malah membawa Kujouin-san ke kamar mereka. Kurasa ini keputusan yang bijak dari Sophia. Kalau manajer lain tahu, hanya masalah waktu sampai para anggota klub juga tahu.
Begitulah pikirku, tapi—.
“Kau hanya kabur dari mereka, kan.”
Shuuto yang sepertinya mendengar obrolan kami dari dalam kamar, punya pendapat yang berbeda denganku.
‘ ...Aku benar-benar tidak suka orang ini…’
Gara-gara itu, Sophia jadi cemberut. Dari wajahnya, sepertinya ia sedang berpikir dalam hati, kenapa aku harus sekamar dengan Shuuto. Perutku sudah mulai terasa sakit.
“Shuuto, maaf, ya. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku yang memanggil Sophia—”
“ Aku tahu. Aku tidak berniat mengomentari keputusanmu.” Shuuto berkata begitu, lalu menyalakan laptop yang ada di atas meja. Jangan- jangan, dia juga mau ikut menganalisis?
‘ …………’
“Sophia, jangan pasang wajah seperti itu…”
Melihat ekspresi Shuuto, Sophia memasang wajah yang sangat tidak suka, jadi aku mengelus kepalanya untuk menenangkannya. Aku bisa mengerti kenapa Sophia membenci Shuuto, karena ia selalu mengatakan hal-hal yang terdengar seperti sindiran—tapi Shuuto sebenarnya tidak mengatakannya dengan niat jahat… Justru, meskipun cara bicaranya jelek, ada kalanya ia terlihat peduli pada Sophia.
“Kento, aku bisa lihat, tahu?”
Saat aku terus mengelus kepala Sophia, Shuuto yang sedang menatap laptopnya, menoleh ke arahku dengan mata menyipit.
“—?!”
Aku buru-buru menarik tanganku dari kepala Sophia, tapi rasanya sudah terlambat. Kukira dia sedang fokus pada laptopnya, tapi ternyata dia memperhatikan kami…
“ Aku tidak akan memberitahu yang lain, dan selama kualitas permainanmu meningkat, aku juga tidak berniat mengomentari hubungan kalian.” Sambil berkata begitu, entah kenapa Shuuto mendekati kami. Atau lebih tepatnya, ia berjalan ke arah Sophia. Lalu, ia menyeringai jahil, sesuatu yang jarang ia lakukan.
“Tapi ternyata kau bisa memasang wajah seperti itu, ya?” “~~~~~~~~~?!”
Ditegur karena memasang wajah bahagia saat dielus, wajah Sophia langsung memerah padam dalam sekejap. Ia membeku sambil mengeluarkan suara yang tidak jelas.
‘Ti-tidak…!’
“Hah, Nona Bunga Kesunyian yang agung itu, ternyata bisa memasang ekspresi yang begitu luluh, ya? Apa itu berarti kau sesuka itu pada Kento?” ‘~~~~~~~~~?! Bu-bukan begitu, tahu…! Jangan bicara yang aneh-aneh!’
Sophia terus memarahi Shuuto yang sedang menyeringai dalam bahasa Inggris.
Sophia memang seperti biasa, tapi melihat Shuuto menggoda orang lain adalah pemandangan yang sangat langka. Yah, sikapnya pada Shouta bisa saja dianggap sebagai godaan, tapi itu lebih ke arah mengumpat—dan ia jarang sekali menggoda seseorang dengan ekspresi senang seperti ini, kecuali mungkin padaku. Sepertinya, dia lumayan menyukai Sophia.
“Hmm?”
‘Kakak, marahi orang ini…!’
Sophia merengek padaku dengan mata yang sudah setengah berkaca-kaca.
Tapi, dia bicara bahasa Inggris terlalu cepat, aku jadi tidak bisa mendengarnya… Shuuto pun sepertinya tidak benar-benar mengerti apa yang dikatakan Sophia, dia hanya menebak-nebak dari sikapnya dan mengabaikannya.
“Nanti mengganggu kamar lain, jadi ayo kita tenang dulu, ya?” Shuuto sudah melihatnya, dan kalau terus ribut begini, ada kemungkinan besar anggota klub lain akan tahu. Jadi, aku memutuskan untuk mengelus kepala Sophia lagi agar dia tenang. Kalau tidak, medan perang yang lebih parah akan menyambutku.
“...Mh.”
Mungkin kejadian kali ini cukup memukul mentalnya. Butuh waktu sedikit lebih lama bagi Sophia untuk tenang, tapi setelah terus dielus, ia akhirnya menjadi diam. Namun, mungkin karena ada Shuuto, dia tidak bersandar padaku seperti biasanya.
Perubahan ini sepertinya cukup mengejutkan bagi Shuuto. Ia menatap kami dengan mata berkedip-kedip, seolah tak percaya. Yah, aku bisa mengerti perasaannya.
Shuuto lalu berbalik, duduk di tempat tidur, melipat tangannya, dan menatap kami lagi sebelum perlahan membuka mulut.
“Kalian, pacaran?”
““—?!””
Sebuah pertanyaan yang begitu lurus tanpa basa-basi. Aku dan Sophia serentak menahan napas. Tidak kusangka Shuuto akan menanyakan hal seperti ini… Atau mungkin, ini tidak terlalu mengejutkan? Sejak awal, dia memang sudah curiga saat aku dan Sophia menjadi kakak-beradik… ‘Ti-tidak—!’
“Bukan, kami bersikap seperti ini karena kami kakak-beradik.” Aku menenangkan Sophia yang jelas-jelas masih panik dengan tanganku, lalu menjawab Shuuto dengan senyum sambil berusaha setenang mungkin. Di saat seperti ini, semakin panik, semakin mencurigakan, jadi sikap Sophia itu tidak baik. Kami kan memang tidak pacaran, jadi seharusnya kami bisa bersikap biasa saja.
“Begitu… Sebenarnya aku tidak akan ikut campur, tapi ada peraturan klub.
Jangan lakukan hal seperti itu di depan orang lain selain aku.” Sepertinya Shuuto percaya begitu saja dengan kata-kataku, dan malah mengkhawatirkan kami. Kalau dia sampai memberikan nasihat seperti ini, mungkin Sophia akan sedikit membuka hatinya pada Shuuto—begitulah pikirku, tapi ekspresi Sophia malah menunjukkan kewaspadaan penuh pada Shuuto. Sepertinya kata-kata Shuuto tidak masuk ke telinganya. Sebegitu tidak terimanya dia dicurigai pacaran. Melihatnya menolak sekuat tenaga seperti ini… mungkin aku memang dipercaya sebagai kakak, tapi sebagai laki-laki, aku sama sekali tidak dilihat dengan baik olehnya.
“Terutama, jangan lakukan itu di depan Kujouin-san. Aku tidak mau ada masalah.”
“O-oh? Yah, dia kan menyukai Sophia, jadi memang gawat kalau sampai salah paham.”
“…………”
Saat aku setuju, entah kenapa Shuuto menyipitkan matanya dan menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu. Hmm, itu ekspresi jengkel. Aneh, padahal aku sudah setuju dengannya…
“Hati-hati juga di luar sekolah. Menurut Kujouin-san, karena insiden video itu juga, sekarang kau jadi lebih diperhatikan dari sebelumnya. Kalau di tengah banyaknya penggemar perempuan tiba-tiba muncul sosok yang seperti pacar, orang itu bisa jadi target.”
Shuuto berkata dengan datar sambil mengoperasikan ponselnya dengan tatapan dingin. Mungkin dia sedang melihat media sosial. Padahal selama ini, sama sepertiku, dia hampir tidak pernah menyentuhnya… Tidak, yang lebih mengejutkan dari itu adalah—
“Shuuto, peduli dengan penggemar perempuan, katanya…?!
“Oi, ini pembicaraan serius.”
Saat aku terkejut, dia menatapku dengan tajam. Padahal aku tidak bermaksud bercanda… aku hanya benar-benar terkejut.
“Habisnya kau kan selalu mengabaikan penggemar perempuan… Kau hampir tidak pernah meladeni mereka, dan kadang-kadang kau bahkan memperlakukan mereka seperti pengganggu.”
“Memang mengganggu, kan… kalau dikerumuni di stadion atau di sekolah… Bisa-bisa mengganggu orang lain juga. Yah, aku tidak akan menyangkal kalau aku memang tidak tertarik.”
Shuuto berkata sambil menghela napas, tapi aku juga ingin menghela napas.
Aku pikir aku sudah cukup mengerti, tapi Shuuto ini memang punya kepribadian yang merugikan, atau lebih tepatnya, mudah disalahpahami.
Mungkin tidak ada orang di sekitarnya yang tahu alasan sebenarnya Shuuto bersikap dingin pada penggemar perempuan. Bahkan aku pun tadinya berpikir dia hanya mengabaikan mereka karena tidak tertarik dan merasa terganggu.
“Jadi begitu alasannya… Kalau begitu, setidaknya usir mereka dengan ramah, dong? Kujouin-san kan selalu menindaklanjuti setelah kau bersikap dingin, dan mereka juga datang untuk mendukung kita.”
“Tidak bisa. Aku tidak mau disalahpahami kalau bersikap baik setengah- setengah. Aku merasa bersalah sudah merepotkan Kujouin-san, tapi dia pasti bisa menanganinya dengan baik. Lagipula—”
Shuuto berhenti sejenak dan meletakkan ponselnya di tempat tidur. Lalu, dengan nada suara yang lebih rendah—
“Tidak semuanya datang murni untuk mendukung, kan? Justru, belakangan ini banyak sekali yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang bisbol.” —ia berkata dengan tatapan dingin, seolah meludah.
Meskipun sering disalahpahami, Shuuto yang kelihatannya tidak peduli sekitar, ternyata memperhatikan dengan baik. Memang benar, gadis-gadis yang mengerumuni Shuuto kebanyakan datang karena mendengar reputasinya, mereka mengincar Shuuto-nya, bukan bisbol. Terutama belakangan ini, hal itu semakin kentara. Bagi dia yang sangat mencintai bisbol, itu mungkin hal yang tidak bisa dimaafkan. Bagi orang lain, perkataan Shuuto mungkin terdengar sombong, tapi aku sedikit mengerti perasaannya.
“—Tapi, kalau dengan begitu mereka jadi tertarik pada bisbol, bukankah itu hal yang baik?”
Tiba-tiba, sebuah kalimat dilontarkan seolah untuk mengubah suasana. Aku terkejut dan menoleh ke arah gadis yang berdiri di sebelahku. Entah dia sudah kembali tenang selagi aku dan Shuuto mengobrol, atau justru kata-kata Shuuto membuatnya tersadar—tapi dia sudah kembali menjadi Sophia yang anggun seperti biasanya.
“Kau pikir kau mengerti perasaanku?”
Merasa kata-katanya disangkal, Shuuto menyipitkan matanya dan menatap Sophia dengan tajam. Mungkin karena takut, Sophia mencengkeram erat ujung lengan bajuku. Karena itu, aku berpikir untuk menghentikannya, tapi—Sophia justru membalas tatapan Shuuto dengan tatapan tajam yang tak mau kalah.
“Tentu saja, kan? Orang-orang yang bermain bisbol sekarang pun, tidak semuanya tertarik pada bisbol sejak awal. Mungkin ada yang mulai karena orang tua atau saudaranya bermain—tapi pasti banyak juga pemain yang
mulai tertarik pada bisbol karena diajak orang tua atau menonton pertandingan bisbol profesional di TV. Membuat orang yang tidak tertarik menjadi tertarik—itulah salah satu tugas seorang profesional, menurutku.
Kenyataannya, sekarang pemain Jepang yang aktif di Major League sering diliput di TV setiap hari, dan orang-orang yang tadinya tidak tertarik pada bisbol jadi tertarik.”
Sophia, yang sepertinya punya pemikiran kuat tentang dunia profesional, berbicara dengan semangat, sesuatu yang jarang ia lakukan. Aku juga sadar, perkataan itu keluar karena ia yakin Shuuto akan menjadi pemain profesional.
Kalau tidak, tidak ada gunanya membawa-bawa soal dunia profesional.
Nah, bagaimana Shuuto akan menjawab ini—.
Aku mengalihkan pandanganku dari Sophia dan kembali menatap Shuuto yang masih menatap Sophia dengan tajam. Shuuto diam saja, tapi mungkin ia sedang memutar otaknya. Aku tidak menyangka akan jadi begini saat Sophia datang ke kamar ini, tapi mungkin ada baiknya Shuuto mendengar kata-kata tadi. Karena—
“Hah… meskipun tidak ada hubungan darah, kau memang pantas jadi adiknya Kento. Mungkin kau benar juga.”
Shuuto yang tadinya diam, tiba-tiba tersenyum tipis. Sepertinya kata-kata Sophia berhasil menyentuh hatinya. Sekaligus, nilai Sophia di mata Shuuto sepertinya naik. Bagi orang lain ini mungkin mengejutkan, tapi sebenarnya Shuuto tidak membenci orang yang berani menghadapinya. Justru, ia suka dengan orang yang bisa berargumen dengan logis di hadapannya. Kalau tidak, aku dan dia pasti sudah sering berkelahi. Aku bahkan berpikir, ia sengaja memberikan tekanan untuk menguji lawannya. Yah, kadang-kadang dia memang benar-benar marah, jadi tidak bisa dibilang semuanya begitu.
“Kalau begitu, kau akan sedikit lebih berusaha melayani penggemar, kan?” Senang karena perkataannya diterima oleh Shuuto, Sophia bertanya dengan puas. Namun—
“Itu dan ini urusan yang berbeda.”
—Shuuto dengan enteng menolaknya. Yah, sudah kuduga.
“Hah?! Tung-tunggu, tadi kan kau sudah setuju…!”
Tentu saja Sophia tidak terima dan terus mendesaknya. Ini kesempatan bagus, jadi aku memutuskan untuk diam dan menonton saja. Selama Shuuto sudah mengakui Sophia, dia tidak akan berbuat jahat lagi. —Meskipun mungkin dia masih akan mengumpat.
“ Aku bukan pemain pro, jadi aku tidak perlu terlalu memikirkannya.” “Tapi kau akan jadi pemain pro di masa depan, kan…?!” “Siapa tahu? Dunia pro tidak semanis itu.”
“O-orang ini…! Padahal biasanya percaya diri sekali…!” Shuuto kembali mengoperasikan ponselnya, mengabaikan kata-kata Sophia.
Sophia menggertakkan giginya dengan kesal. Gadis ini, sepertinya dia tidak sadar sedang digoda.
Saat aku sedang menonton mereka, ponselku berbunyi. Penasaran dengan pesan yang datang di saat seperti ini, aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan memeriksanya. Seperti yang kuduga, pengirimnya adalah Shuuto.
—begitu isinya. Kata-katanya memang pedas, tapi melihat keadaan Shuuto, sepertinya maknanya tidak seperti itu. Mungkin maksudnya ‘menarik untuk digoda.’
Aku terkejut dan kembali menatap Shuuto. Ternyata, meskipun sedang diomeli oleh Sophia, Shuuto malah menatapku dengan ekspresi senang. Sial, dia mulai menjahiliku juga…
‘Dia’—yang dimaksud adalah Sophia, tapi apa maksudnya? Aku tidak bisa membaca niat Shuuto dari kalimat ini. Aku bisa mengerti maksudnya aku akan menyesal karena Sophia itu populer—tapi…
Shuuto berkata begitu, lalu bangkit dari tempat tidur.
“Hei, kau dengar tidak?!”
Sophia yang dari tadi terus mengomel pada Shuuto, merasa seolah Shuuto akan melarikan diri, dan langsung mendekatinya.
“Hebat juga kau bisa terus mengoceh sendirian seperti itu.” Tapi, Shuuto dengan enteng mengabaikan Sophia. Ia pasti sudah terbiasa dengan ocehan berisik seperti ini berkat Shouta, dan karena Sophia sedang tidak tenang, jadi lebih mudah untuk diatasi.
“ Aku kan sedang bicara padamu?!”
“Oh, begitu. Maaf, ya. Aku tidak mendengarkan sama sekali.” “ Aku benci kamu!!”
Wajah Sophia memerah karena marah, dan ia berteriak. Sisi kekanak- kanakannya benar-benar keluar. Kalau begini terus, bisa gawat—saat aku berpikir begitu, Shuuto mendekatkan mulutnya ke telinga Sophia. Tindakan tak terduga itu membuat tubuh Sophia membeku. Sejenak aku ragu apakah harus menghentikan Shuuto, tapi melihatnya sedang dalam suasana hati yang baik, aku membiarkannya. Kalau anggota klub lain mungkin tidak, tapi kalau Shuuto, dalam artian tertentu aku bisa percaya padanya.
“—Ngomong-ngomong, kalau Kento dikerumuni para gadis, apa kau masih bisa menyuruhnya untuk melayani penggemar? Padahal mungkin saja Kento akan direbut oleh salah satu dari mereka.”
“—?!”
Entah apa yang dikatakan pada Sophia, matanya terbelalak, dan perlahan wajahnya menjadi pucat. Aku sudah percaya dan membiarkannya, tapi apa ini sebuah kegagalan…?
“Shuuto, apa yang kau katakan pada Sophia?”
“Bukan apa-apa. Hanya sedikit membantu agar pemukul nomor empat kita besok bisa bersemangat. Aku mau keluar sebentar.”
“ Ah, oi—!”
Shuuto hanya mengatakan apa yang ingin ia katakan, lalu benar-benar keluar dari kamar. Sialan, dia hanya menggoda Sophia lalu melempar semua tanggung jawab padaku…?! Bukannya membantu, bukankah dia malah menambah bebanku?!
“Sophia, apa yang dia katakan?”
Karena Shuuto tidak mau menjawab, aku tidak punya pilihan selain bertanya pada Sophia. Aku bertanya padanya, tapi—Sophia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Bukan, bukan apa-apa…”
“Tidak, ini bukan ‘bukan apa-apa’, kan…?”
Dari mana pun kulihat, dia sedang panik. Padahal tadi dia sedang marah, tapi perubahan sikapnya ini aneh.
“Daripada itu, ayo kita tonton videonya…?”
Sophia menarik bajuku dan mencoba mengajakku ke arah laptop. Mungkin ia mencoba mengalihkan perasaannya, tapi aku malah jadi tidak bisa fokus pada analisis…
“Kita sudah mengulas pertandingan besok di rapat, jadi kita tonton pertandingan Kouyou lagi saja, kan…?”
“Iya, tapi sungguh, apa yang dia katakan…?”
“Sudah kubilang, bukan apa-apa…”
Sophia berkata begitu sambil bersandar di lenganku. Apa mentalnya sedang lemah dan jadi manja? Kelihatannya memang begitu, tapi sepertinya bukan hanya itu. Karena—ia mencengkeram erat ujung lengan bajuku. Seolah, tak mau berpisah.
“Kalau kau sudah mau cerita, katakan saja.”
Karena Sophia tidak mau mengatakannya, mau bagaimana lagi. Aku mengelus kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya, lalu kami kembali menonton video bersama. Tapi, aku tidak berniat membiarkan ini berakhir begitu saja.
“Oh ya, Sophia. Lain kali kalau Shuuto menggodamu seperti tadi, coba katakan, ‘ Aku akan bilang pada Nadeshiko-senpai kalau Kurogane-kun menggangguku.’ Dengan begitu, keadaan akan berbalik.”
Ini adalah hukuman untuk Shuuto. Kalau hanya menggoda untuk akrab tidak apa-apa, tapi membuat Sophia sedih itu keterlaluan. Dia harus bertanggung jawab.
“Dia, tidak suka dengan Nadeshiko-senpai, ya…? Benar juga, tadi dia sempat sedikit panik…”
Kalau Sophia tahu dan aku tidak, berarti di hari saat insiden video terungkap dan aku pulang, Shuuto pasti sempat berselisih dengan seseorang.
Kemungkinan besar dengan Shouta. Dan sepertinya ia membuat Kujouin-san sedikit marah. Dasar Shuuto, meskipun dia mencoba tidak menunjukkannya di wajah, dalam hatinya pasti dia ketakutan…
“Bukan hanya Shuuto. Semua anggota klub tahu, orang yang paling tidak boleh dibuat marah adalah Kujouin-san. Dia memang biasanya baik—tidak, justru karena biasanya baik, makanya kalau marah jadi menakutkan.”
Tentu saja, bukan berarti aku pernah dimarahi langsung olehnya. Aku hanya sering melihat pelatih disudutkan dengan senyuman olehnya, jadi semua orang tahu. Aku juga pernah melihat beberapa anak kelas dua dimarahi dengan senyuman.
“Begitu… aku mengerti.”
Sepertinya ia sudah paham. Sophia menyeringai licik. Kalau ini bisa membuat suasana hatinya membaik, baguslah.
“Ngomong-ngomong… Kakak, besok kalau dikerumuni para gadis, Kakak mau bagaimana…?”
Mungkin karena sudah punya cara untuk melawan Shuuto, Sophia mengubah topik pembicaraan dan bertanya soal hari esok.
“Mulai lagi yang aneh-aneh… Bagaimana apanya, aku akan menanganinya seperti biasa.”
Sepertinya di mata Sophia aku ini terlihat seperti playboy, tapi aku tidak punya waktu untuk melirik ke sana-sini saat ada pertandingan penting.
‘Habisnya, aku jadi khawatir…’
Sepertinya tidak suka dengan jawabanku, Sophia cemberut sambil bergumam dalam bahasa Inggris. Dia pikir aku tidak mengerti bahasa Inggris, jadi dia tidak peduli meskipun aku mendengarnya, ya… Kata sesederhana ‘khawatir’ saja aku tahu, lho…?
“Sudah kubilang sebelumnya, kalau kau merasa itu masalah, kau boleh menanganinya. Tapi jangan sampai mengusir mereka dengan kasar, ya? Itu bisa berpengaruh pada citra tim, jadi soal itu, coba contoh Kujouin-san.” Berbeda dengan Shuuto, jumlah orang yang mengerumuniku baru meningkat drastis belakangan ini, jadi jujur saja aku belum terbiasa dan agak bingung harus bagaimana. Tapi, Kujouin-san selalu turun tangan dan menanganinya dengan cara yang baik agar tidak menimbulkan masalah. Mungkin bagi Sophia yang sekarang masih sulit, tapi kalau ia mencontoh Kujouin-san, suatu saat nanti ia pasti akan mahir dalam bersosialisasi.
‘Kakak, selalu saja menyebut Nadeshiko-senpai… Seperti yang kuduga, saingan terbesarku adalah Nadeshiko-senpai…’
Sophia masih terlihat tidak puas, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Setelah itu, saat kami sedang menonton video, Shuuto kembali. Sophia langsung mencoba mengatakan ‘ Aku akan lapor pada Nadeshiko-senpai,’ dan Shuuto langsung panik sambil berkata ‘Itu curang, tahu…?!’ Dari situ, Sophia yakin bahwa cara itu memang ampuh.
Diskusi & Komentar (0)