Lusa adalah pertandingan semifinal. Seperti biasa, setelah latihan selesai, aku pulang naik kereta bersama Sophia. Namun, tidak seperti biasanya, kami tidak mengobrol. Pikiranku sepenuhnya terisi oleh pertandingan yang akan berlangsung tiga hari lagi.
「…………」
Saat aku melamun sambil menatap pemandangan malam dari jendela, aku sadar Sophia terlihat gelisah. Ia terus melirik-lirikku, seakan mencoba membaca raut wajahku.
“ Ada apa?” Aku bertanya dengan nada lembut, karena aku perhatikan ia terus- menerus mendongak dan melirik wajahku.
“ Ah…”
Begitu mata kami bertemu, Sophia sedikit membuang muka dengan canggung.
Sepertinya tidak ada hal penting yang ingin ia bicarakan, ya?
“Umm… karena kau diam saja dari tadi, aku jadi penasaran, apa sih yang sedang kaupikirkan…”
Saat aku terus menatapnya, Sophia mulai memainkan kedua jari telunjuknya dan berkata dengan suara lirih. Kami memang lebih sering mengobrol saat pulang bersama, jadi mungkin suasana hening ini membuatnya tidak nyaman.
“Oh, aku hanya sedang memikirkan pertandingan.”
“Pertandingan semifinal?”
Ketika aku menjawab dengan jujur, sikap Sophia kembali seperti biasa. Ia menatapku dengan penuh minat. Gadis ini, walau kelihatannya seperti ini, sebenarnya sangat suka sekali membicarakan bisbol.
“Bukan, aku memikirkan pertandingan final.”
“…………”
Sekali lagi aku menjawab dengan jujur, dan kali ini aku dihadiahi tatapan menyipit yang seolah sedang menyalahkanku. Tatapan itu, yang biasa disebut jitome, adalah tatapan yang sepertinya akan membuat senang pria yang punya sedikit sisi masokis. Tentu saja, aku tidak punya kecenderungan seperti itu, jadi aku malah merasa serba salah dan membuang muka, sama seperti Sophia barusan.
“Kau sudah merasa seolah-olah menang di semifinal, ya?” Namun, hanya dengan membuang muka, aku tidak bisa lolos dari Sophia. Ia terus mendesakku tanpa ampun.
“Bukan begitu, tapi pertandingan final akan diadakan sehari setelah semifinal.
Kalau kita baru bersiap setelah semifinal selesai, semuanya akan terlambat.
Terlebih lagi, lawan kita nanti adalah…”
Aku menghentikan kata-kataku di sana dan kembali menatap pemandangan malam dari jendela.
‘Dia terlalu tegang… Padahal sebelum insiden itu, meskipun dia sudah memikirkan SMA yang akan jadi lawan di final, dia tidak sampai terlihat tertekan seperti ini…’
Entah kenapa, Sophia bergumam pelan dalam bahasa Inggris. Aku penasaran dan mengalihkan pandanganku kembali padanya, ternyata ia sedang menatap wajahku lekat-lekat.
“Tenang saja, kurasa semifinal tidak akan jadi masalah. Tim kita sedang dalam momentum yang bagus.”
“Tapi, Kurogane-kun tidak bisa melempar, kan…?” Sophia menunjukkan raut wajah sedikit khawatir. Mungkin ia merasa cemas karena sang ace, Shuuto, tidak akan turun di pertandingan sepenting semifinal.
“Lebih tepatnya, bukan tidak bisa melempar, tapi sengaja tidak kami suruh melempar. Shuuto harus menyimpan tenaganya untuk final nanti.”
Memang ada aturan pembatasan jumlah lemparan yang dibuat beberapa tahun lalu, tapi kalau dalam kondisi normal, itu bukanlah batasan yang perlu dikhawatirkan. Shuuto bukannya tidak bisa melempar. Namun, jika ia harus melempar berturut-turut di semifinal dan final, bebannya akan sangat berat.
Terlebih lagi, kami tidak bisa membiarkannya membawa rasa lelah dari semifinal ke pertandingan final. Karena itulah, semifinal akan dipercayakan kepada para senior, dan Shuuto baru akan turun di final. Tentu saja, itu semua keputusan pelatih.
“Padahal lawan di semifinal juga tim yang kuat…”
“Yah, mereka pasti akan menurunkan ace mereka. Tapi, para senior kita yang sekarang pasti bisa mengatasinya. Beberapa hari ini, lemparan mereka jadi jauh lebih bagus, seolah mereka orang yang berbeda. Pelatih bilang, kemenangan di dua pertandingan saat aku absen telah memberi mereka kepercayaan diri yang besar.”
Meskipun Shuuto sempat melempar di pertandingan-pertandingan itu, ia tidak bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, para senior cadanganlah yang lebih sering naik ke atas mound. Walaupun kedua pertandingan itu berlangsung ketat, mereka berhasil menang melawan tim-tim kuat. Kemenangan itulah yang sepertinya berhasil mengembalikan kepercayaan diri mereka yang sempat hilang karena Shuuto.
Yah, menurut pelatih sih, para senior yang tadinya merasa minder padaku, akhirnya bisa percaya diri lagi karena mereka berhasil menang melawan tim kuat bahkan tanpa arahanku—begitu katanya. Tapi rasanya aku tidak percaya para senior sampai menilaiku setinggi itu… Lagipula, permainan mereka jadi jauh lebih baik sejak Haibara-kun datang, mungkin kehadirannya juga jadi pemicu semangat mereka. Berkat itu semua, aku jadi bisa melihat satu celah strategi untuk pertarungan di final.
“Kalau Kakak yang bilang begitu, pasti memang begitu, ya.” Sophia tersenyum, lalu entah apa yang dipikirkannya, ia mendekatkan tubuhnya padaku. Dia mendekat sampai-sampai jarak di antara kami begitu dekat hingga tangan kami nyaris bersentuhan. Aku sampai menahan napas.
“Tumben, kau percaya begitu saja…?”
“Soalnya, yang paling tahu seluk-beluk tim kita dan tim lain itu, kan, Kakak dan Nadeshiko-senpai. Kalau Kakak bilang semua akan baik-baik saja, aku hanya perlu percaya.”
Padahal tadi kelihatannya dia cukup tidak puas dan meragukanku, ya? Yah, tak ada gunanya juga membahas itu.
“ Aku akan berusaha keras agar tidak mengkhianati kepercayaanmu.” “Fufu, aku menantikannya.”
Melihat suasana hati Sophia sudah membaik, aku pun kembali memfokuskan pikiranku pada SMA yang kemungkinan besar akan kami hadapi di final.
◆
“—Hah… hah…!”
Sesampainya di rumah, aku langsung berganti pakaian dengan jersey dan melakukan rutinitas lari malamku. Di tengah-tengah itu— “ Ah, dia datang…!”
—sebuah suara unik yang terdengar seperti gadis kecil, yang biasa disebut orang sebagai suara anime, masuk ke telingaku.
Aku menoleh ke arah suara yang kukenali itu dan menemukan dua sosok yang tak asing di taman tempat aku pernah terlibat insiden tempo hari. Mereka adalah Haibara-san, orang yang menyeretku ke dalam insiden itu, dan Rindou- san, yang membantuku menyelesaikannya.
Haibara-san berlari-lari kecil ke arahku dengan senyum lebar di wajahnya, tampak sangat gembira. Sebaliknya, Rindou-san justru mendekat perlahan dengan ekspresi bingung—atau lebih tepatnya, canggung. Keduanya tampak begitu kontras, tapi sepertinya mereka memang sedang menungguku.
“Kalian berdua, kenapa ada di sini?”
Meskipun seumuran, Haibara-san terlihat jauh lebih muda, jadi aku berusaha berbicara padanya dengan nada yang lebih lembut.
“Kami sedang menunggu Kento-senpai…!”
Haibara-san menjawab dengan penuh semangat, tapi—tunggu dulu, ada banyak hal yang terasa aneh dari jawabannya.
“Umm, Kento-senpai…? Lagipula, bukankah dulu kau tidak memakai bahasa formal padaku…?”
Aku memang penasaran kenapa mereka menungguku, tapi cara bicaranya yang berubah jauh lebih membuatku penasaran. Jadi, aku menanyakan hal itu lebih dulu.
“ Ah… itu karena, Anda akan menjadi senior saya… jadi tidak sopan kalau saya bicara santai. Karena Anda senior, jadi saya putuskan untuk memanggil Anda senpai…!”
Begitu, ya… Aku sudah mendengarnya dari Haibara-kun, tapi ternyata adiknya ini jauh lebih serius dan taat aturan dari yang kubayangkan. Kalau tidak salah, dia juga anak yang sangat polos, kan? Dan tetap saja, meskipun kami seumuran, dia benar-benar terlihat beberapa tahun lebih muda dariku.
“Seharusnya aku juga jadi senpai, lho?” Tiba-tiba, Rindou-san yang sudah menyusul kami, menatap Haibara-san seolah ingin mengatakan sesuatu.
“ Arisu-chan mana bisa sekarang tiba-tiba pakai bahasa formal!” jawab Haibara- san dengan ceria dan senyum lebar, sama sekali tidak peduli.
Gadis ini, seingatku dia membenci Rindou-san… tapi dalam beberapa hari ini, kelihatannya mereka jadi akrab, ya? Buktinya mereka sekarang sedang bersama.
“Lalu, bagaimana dengan Sophia?”
Sejauh yang aku tahu, Sophia sangat peduli pada Haibara-san. Mungkin dia juga anak yang paling disukainya. Karena itu, kupikir Sophia akan mempermasalahkan hal sekecil cara panggilan.
“ Ah… aku masih bingung, tapi sepertinya aku akan memanggilnya Sophia-san atau Sophia-senpai, dan bicara dengan bahasa formal…!” “Begitu, ya.”
Nah, bagaimana Sophia akan menanggapinya, ya? Dia yang tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain mungkin akan merasa hubungannya dengan Haibara-san jadi berjarak. Tergantung situasinya, sepertinya aku perlu turun tangan.
“Lagipula, kenapa kalian tidak meneleponku saja, tidak perlu menungguku begini. Berduaan di malam hari begini kan berbahaya. Apalagi masih ada urusan dengan SMA Shikurazaka itu.”
Meskipun Nagisa-san sudah turun tangan, si bodoh dari Shikurazaka itu bisa saja melakukan hal nekat lagi. Kalaupun tidak, mereka berdua punya penampilan yang menarik, jadi ada kemungkinan mereka diincar oleh pria aneh. Menunggu di taman pada malam hari itu terlalu ceroboh.
“Kan, benar, aku dimarahi… Makanya tadi aku sudah bilang tidak mau…” gumam Rindou-san pelan dengan nada tidak puas setelah mendengar kata- kataku. Yah, memang tidak ada yang suka diomeli, sih.
“Karena kamu bilang tidak mau, aku kan sudah bilang akan pergi sendiri, tapi yang malah ikut itu Arisu-chan, kan…!”
Aku tidak bisa mendengar apa yang baru saja Rindou-san katakan, tapi Haibara-san yang berdiri di sebelahnya sepertinya mendengarnya dan membalas dengan ekspresi yang sama-sama tidak puas. Dari percakapan ini saja aku sudah bisa menebak… sepertinya Rindou-san ini lahir di bawah bintang kesialan atau bagaimana, ya, selalu saja terseret ke dalam situasi yang malang…
“Mana mungkin aku bisa membiarkanmu pergi sendiri… Kalau terjadi apa-apa, aku tidak akan bisa tidur nyenyak. Aku juga tidak akan bisa menghadap Kento- kun atau Shirakawa-san lagi…”
Ternyata, Rindou-san memang hanya menemani Haibara-san karena khawatir.
Padahal penampilannya terlihat santai dan seolah malas melakukan apa pun, tapi ternyata gadis ini perhatian juga, ya… Dulu dia memang pernah menjebak Sophia, tapi tempo hari dia juga menemani Sophia karena khawatir.
“ Aku bukan anak kecil, tahu…!”
Haibara-san memang terlihat seperti anak baik yang penurut di hadapanku dan Sophia, tapi sepertinya ia menunjukkan sisi yang cukup emosional pada Rindou-san yang sudah sering bermain dengannya sejak dulu. Aku bisa mengerti argumen Haibara-san… tapi Rindou-san tidak menanggapinya dan hanya membalas dengan senyum hangat yang seolah mengatakan ‘aku tahu, aku tahu’ . Ia pasti paham apa yang ingin dikatakan Haibara-san, dan tidak mengungkapkannya adalah bentuk kebaikannya.
Untuk saat ini, sepertinya tidak baik juga kalau aku hanya diam.
“Maaf, aku sudah salah paham dan membuat Rindou-san tidak nyaman. Terima kasih karena tidak membiarkan Haibara-san sendirian.” Aku meminta maaf pada Rindou-san karena sudah salah paham dan menuduhnya. Aku bisa saja pura-pura tidak mendengar, tapi aku tidak mau membuat Rindou-san terus merasa tidak enak.
“ Ah…! Ti-tidak, tidak apa-apa…! Aku hanya tidak mau disalahpahami oleh Kento-kun, jadi kalau kau sudah mengerti, itu sudah lebih dari cukup…!”
Aku terkejut melihat semangat Rindou-san yang tiba-tiba meroket, tapi sepertinya ia sudah memaafkanku. Sama seperti Sophia, suasana hati gadis ini bisa berubah drastis, jadi sejujurnya aku masih belum bisa sepenuhnya memahaminya. Yah, yang penting dia sudah memaafkanku.
“…………”
Sementara itu, Haibara-san, yang sepertinya mengira hanya dia yang akan dimarahi dari obrolan kami tadi, menatapku dengan tatapan sedikit takut.
Ditatap dengan wajah seperti anak hewan begini, aku jadi sulit untuk menegurnya.
“Umm, tidak perlu takut, kok. Aku tidak akan marah.” Aku memang tidak berniat marah sejak awal. Sambil tersenyum, aku mencoba membaca suasana hati Haibara-san. Meskipun seumuran, penampilannya yang seperti anak SMP atau bahkan SD ini membuatku sangat canggung. Apalagi kalau sampai membuatnya menangis, Sophia pasti akan murka, jadi aku harus hati-hati.
“Benarkah…?”
“Iya, aku hanya ingin kau tidak melakukan hal seperti ini lagi karena berbahaya. Kalau ada perlu, seperti yang kubilang tadi, telepon saja aku, oke?” Karena ada sekolah dan latihan, aku memang tidak bisa selalu langsung datang, tapi daripada ditunggu di taman pada malam hari seperti ini, lebih baik aku yang datang ke rumahnya. Kalau sesuatu terjadi, semuanya akan terlambat.
“ Ah, tapi… aku datang hari ini karena belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar… Kupikir, tidak pantas kalau aku yang meminta Kento-senpai untuk datang… Kalau aku ke sekolah, nanti jadi pusat perhatian dan merepotkan semua orang…”
Begitu, ya… Ternyata dia sudah memikirkannya dengan caranya sendiri.
Rindou-san yang akhirnya setuju dengan enggan pun mungkin karena alasan Haibara-san ada benarnya.
“Kalau begitu, kau bisa saja datang ke rumahku.”
Meskipun sama-sama keluar malam, itu pasti lebih aman daripada menunggu di taman. Lagipula tidak ada hal yang perlu disembunyikan, jadi aku tidak akan keberatan kalau dia datang ke rumah.
“Itu, mungkin orang tuamu ada di rumah… dan, kudengar Sophia-san juga rajin belajar di rumah, jadi aku tidak mau mengambil waktunya dan mengganggunya…”
Memang benar, dari sudut pandang Haibara-san, mungkin sulit untuk datang ke rumah orang lain apalagi jika ada orang tua mereka. Lagipula, dialah yang dulu menjebakku. Meskipun dia sudah pernah bertemu Jessica-san untuk meminjam uang dan tahu kalau ibuku orang yang baik… mungkin ini cerita yang berbeda.
Dan lagi, kalau Haibara-san datang ke rumah, sembilan dari sepuluh kemungkinan Sophia akan berhenti belajar dan menemaninya. Sebegitu sayangnya Sophia padanya. Sepertinya Haibara-san juga sadar akan hal itu dan berusaha untuk tidak mengganggu Sophia. Kalau dipikir-pikir, dia ini ternyata cukup dewasa, ya… Kesanku terhadapnya berbeda antara cerita Haibara-kun dan saat bertemu langsung, tapi sepertinya dia tidak hanya berpura-pura menjadi kakak yang tegar di depan adiknya. Yah, meski begitu, penampilannya tetap saja terlihat seperti anak kecil.
“—Tapi mengambil waktu Kento-kun tidak apa-apa, begitu?” Saat aku sedang terkesan dengan Haibara-san, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hati Rindou-san. Ia bergumam pelan dengan nada menyindir.
Gumamannya terdengar olehku, jadi sudah pasti terdengar juga oleh Haibara- san yang berdiri lebih dekat dariku.
“ Ah…! I-itu, bukan begitu…! Ma-maafkan aku…!”
Ditegur oleh Rindou-san, Haibara-san langsung pucat dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam padaku. Mungkin ia hanya lupa memikirkan waktuku… Rindou-san pasti tahu itu, jadi kurasa dia sedikit jahil. Yah, mungkin juga dia mengatakan itu karena memikirkanku.
“Tidak usah dipikirkan. Daripada itu, ucapan terima kasihmu ini soal adikmu, kan?”
Haibara-san terlihat begitu panik sampai aku merasa kasihan. Aku kembali tersenyum padanya dan mengalihkan pembicaraan agar pikirannya bisa teralihkan. Kalau dia ingin berterima kasih, hanya itu yang terpikir olehku.
“I-iya, benar… Waktu itu, aku merasa lega dan bahagia sekali karena Riku baik- baik saja… suasananya juga sedikit kacau, jadi aku belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar pada Kento-senpai…” “Yah, situasinya memang seperti itu. Lagipula begitu diputuskan adikmu bisa dapat beasiswa, kau langsung ‘ditangkap’ oleh Sophia, kan.” Ekspresi Haibara-san saat datang ke sekolah waktu itu terlihat seperti akan menangis, seolah tenggelam dalam keputusasaan. Tentu saja aku paham kenapa dia begitu bahagia saat situasinya berbalik total.
Bagiku, aku tidak melakukan itu untuk mendapat ucapan terima kasih. Aku bergerak karena itu juga demi keuntungan kami. Lebih dari apa pun, jika aku membiarkannya, sudah jelas Sophia akan terus kepikiran. Aku hanya tidak bisa diam melihat itu, bukan berarti aku bergerak demi Haibara-san. Jadi, aku tidak pernah ambil pusing karena tidak diucapkan terima kasih.
“Berkat Sophia-san, aku mungkin bisa masuk SMA juga, jadi aku sangat berterima kasih… Dan pada Kento-senpai yang sudah menolongku dan Riku… aku juga sangat, sangat berterima kasih… Sungguh, terima kasih banyak…!” Haibara-san membungkukkan tubuh mungilnya dalam-dalam. Sebenarnya ini bukan hal yang perlu sampai diucapkan terima kasih sebesar itu, tapi jika ini bisa membuatnya puas dan melangkah maju, aku akan menerimanya.
“Keberuntungan juga punya andil besar, lho. Lagipula, kau tetap harus ikut ujian masuk, jadi kau harus belajar yang rajin.”
Meskipun ini sekolah swasta yang fleksibel, kalau nilainya terlalu jelek, ada kemungkinan dia tidak akan lulus. Percuma saja uangnya sudah disiapkan kalau pada akhirnya tidak diterima.
“Baik! Sekarang aku belajar setiap hari dibantu Arisu-chan, aku akan berusaha…!”
“ Ah, begitu, ya…”
Mendengar jawaban penuh semangat dari Haibara-san, aku melirik ke arah Rindou-san.
“—!”
Begitu mata kami bertemu, ia memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah karena malu. Ternyata dia bersama Haibara-san karena sedang mengajarinya belajar juga, ya. Padahal dia tidak punya kewajiban untuk mengajar, tapi dia memang anak yang sangat perhatian… “Rindou-san, terima kasih, ya.”
Mungkin bukan aku yang seharusnya berterima kasih, tapi kalau Haibara-san gagal ujian, Sophia pasti akan sedih. Jadi, bantuan dari Rindou-san sangat berarti untukku juga. Karena itu aku berterima kasih padanya, tapi— “Ti-tidak apa-apa, aku cuma menemaninya karena sedang senggang…” —ia justru menunjukkan sikap tidak jujur sambil memainkan kedua jari telunjuknya. Mungkin karena hubungannya dengan Haibara-san agak canggung, jadi ia sulit untuk mengakui kalau ia melakukannya demi Haibara- san.
“Tetap saja, terima kasih. Apa kau sudah bilang akan berhenti dari pekerjaan paruh waktumu?”
Sophia tidak hanya berjanji akan meminjamkan uang sekolahnya, tapi juga biaya hidup sampai lulus SMA. Karena harus belajar untuk ujian dan akan menjadi manajer setelah masuk SMA, kupikir dia tidak akan punya waktu untuk bekerja paruh waktu lagi—
“Tidak, aku berencana untuk terus bekerja sampai masuk SMA. Sophia-san bilang aku tidak perlu mengembalikannya kalau Riku tidak berhasil jadi pemain pro, tapi aku tidak mungkin tidak mengembalikannya. Jadi selagi bisa,
aku mau menabung dari kerja paruh waktu. Yah… meskipun jumlah pekerjaanku sudah kukurangi, sih…”
Di akhir kalimatnya, Haibara-san tertawa canggung sambil menggaruk pipinya dengan jari. Mungkin ia mengurangi pekerjaannya karena fisiknya sudah tidak kuat, tapi ia merasa bersalah karena harus mengurangi pekerjaan padahal ia harus mengembalikan uang.
Entah bagaimana, dia benar-benar anak yang jujur, sampai-sampai aku tidak percaya dialah yang dulu menjebakku. Meskipun penampilannya sama sekali berbeda, entah kenapa aku jadi melihat sosok Sophia dalam dirinya. Karena itulah, tanpa sadar tanganku terulur ke kepalanya.
“Hebat, ya.”
““—?!””
Tepat setelah aku tersenyum dan mengelus kepala Haibara-san, aku mendengar dua suara orang menahan napas. Satu dari Haibara-san yang ada di depanku, dan satu lagi dari Rindou-san yang menonton di samping.
“ Ah, maaf—!”
Reaksi mereka membuatku tersadar. Aku meminta maaf sambil buru-buru menarik tanganku. Aku baru saja mengelus kepala gadis yang tidak terlalu akrab denganku, mungkin aku akan dimarahi atau dikomplain. Aku sudah bersiap-siap, tapi—
“Ehehe…”
—di luar dugaan, Haibara-san justru menekan bagian kepalanya yang tadi kusentuh dengan tangannya, tersenyum dengan pipi yang sedikit memerah.
Meskipun kata-katanya sama, senyumnya kali ini bukan senyum canggung, tapi senyum yang terlihat bahagia. Apa ini artinya dia tidak keberatan…?
“……! ……!”
Namun, meskipun Haibara-san yang bersangkutan terlihat baik-baik saja, Rindou-san yang hanya menonton sepertinya tidak. Mulutnya komat-kamit
seolah ingin mengatakan sesuatu. Saking terkejutnya, sepertinya ia tidak bisa berkata-kata. Mungkin memang tidak pantas bagi seorang pria untuk sembarangan menyentuh seorang gadis. Saat aku berpikir begitu— “Padahal seumuran…! Dasar loli legal, curang…!”
Entah kenapa, ia mulai menatap Haibara-san dengan tatapan kesal. Aku tidak bisa mendengar gumamannya, tapi sepertinya dia tidak marah padaku…?
“Umm, kau tidak perlu memaksakan diri, ya? Memang penting untuk bisa mengembalikan uang, tapi yang paling utama adalah kehidupanmu dan adikmu. Kalau itu sampai terabaikan, semuanya jadi sia-sia.” Haibara-san tidak menyadari tatapan Rindou-san, tapi aku khawatir Rindou- san akan mulai menyindir Haibara-san, jadi aku mencegahnya dengan melanjutkan pembicaraan.
“ Ah… iya. Kalau aku sibuk kerja paruh waktu sampai mengabaikan sekolah dan kehidupanku, tidak ada artinya uang itu dipinjamkan, ya.” Suaraku sepertinya membawanya kembali ke dunia nyata. Haibara-san mengangguk-angguk dengan sungguh-sungguh. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin kukatakan. Dia memang polos dan mudah ditipu, tapi bukan berarti dia bodoh.
“…………”
Yah, aku jadi sedikit terganggu dengan Rindou-san yang menatap Haibara-san dengan tatapan menyipit dan pipi yang sedikit menggembung, tapi sepertinya ia tidak bisa mengeluh karena kami sedang berbicara. Tapi, sebenarnya apa yang membuatnya marah? Kalau marah padaku, aku masih bisa mengerti, tapi seharusnya tidak ada alasan baginya untuk marah pada Haibara-san dari interaksi tadi…
“Oh ya, tolong pastikan adikmu makan dengan benar, ya. Sekarang masa pertumbuhannya, jadi dia harus banyak makan untuk membangun tubuhnya.
Nanti kalau masuk SMA, dia akan disuruh makan banyak di klub bisbol. Kalau tubuhnya belum terbentuk, dia tidak akan bisa mengikuti latihannya.”
Makan dianggap sebagai bagian dari latihan, saking pentingnya hal itu. Di tim- tim kuat, tidak jarang ada kewajiban makan nasi sekian mangkuk, atau disuruh makan dalam porsi yang gila-gilaan. Tubuh Haibara-kun yang kecil mungkin karena faktor genetik, tapi bisa juga karena ia tidak banyak makan karena memikirkan biaya makan atau kakaknya. Akhir-akhir ini, bukan hanya teknik, tapi fisik juga sangat penting, jadi kalau dia ingin menjadi pemain pro, dia harus berusaha keras di bagian itu.
“Kurasa dia akan lebih mendengarkan kalau Kento-senpai yang bilang. Sejak Kento-senpai memberitahunya di sekolah tempo hari, dia jadi membatasi latihan melemparnya dan sekarang fokus pada pengecekan form dan lari.” Sepertinya Haibara-san ingin aku yang memberitahunya langsung. Memang benar, meskipun Haibara-kun anak yang penurut dan menyayangi kakaknya, jika selama ini ia menahan diri untuk tidak makan banyak, mungkin kesadarannya tidak akan berubah jika kakaknya yang menyuruh. Ia mungkin akan tetap sungkan dan tidak makan. Apalagi jika sudah kenyang, ia tidak akan mau makan lebih banyak lagi. Jika ia sekarang menuruti kata-kataku dengan setia, sepertinya ini juga lebih baik aku yang mengatakannya.
“Begitu, ya. Baiklah. Nanti akan kubicarakan sekalian mengantarmu pulang.” “Se-serigala pengantar pulang?!”
“Eh?”
Aku dan Haibara-san refleks menoleh ke arah Rindou-san yang tiba-tiba berteriak. Ternyata gadis ini bisa mengeluarkan suara sekeras itu, ya.
“Ke-Kento-kun, jadi kau benar-benar punya selera seperti yang dikhawatirkan Shirakawa-san…?!”
“Hah, apa yang kau bicarakan? Yang jelas, aku tahu Sophia pasti mengatakan hal yang tidak-tidak.”
Beberapa waktu lalu aku juga pernah dituduh begitu, soal lolicon atau apalah itu. Jangan-jangan dia bukan hanya mengatakannya padaku, tapi juga pada orang lain… Bagaimana kalau gosip ini menyebar…? Aku tidak akan bisa tertawa kalau sampai dipanggil lolicon di seluruh sekolah…
“Ta-tapi…!”
“Ini sudah gelap, aku tidak mungkin membiarkan kalian berdua pulang sendiri, makanya aku antar. Jadi, aku juga akan mengantar Rindou-san.” Sama seperti Rindou-san yang tidak bisa membiarkan Haibara-san pergi sendiri, aku juga cemas kalau membiarkan mereka berdua pulang begitu saja.
Lagipula, di tengah jalan mereka pasti akan pulang sendirian.
“ Ah… be-begitu, ya… Terima kasih…”
Mungkin ia mengira aku hanya memberikan perlakuan khusus pada Haibara- san. Begitu tahu dirinya juga akan diantar, Rindou-san langsung menjadi tenang. Sikapnya yang pemalu memang seperti dirinya yang biasa, tapi perubahan semangatnya yang drastis itu masih membuatku sulit terbiasa, mungkin karena celah karakternya. Padahal seharusnya aku sudah punya sedikit kekebalan berkat Sophia…
“Ta-tapi, tidak apa-apa…? Kau kan masih mau latihan ayunan pemukul setelah ini…?”
Rindou-san yang tadinya gelisah, tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya sambil menatapku dari bawah. Yang pertama kali terlintas di benakku saat mendengarnya adalah—kenapa kau tahu?
Sungguh, kenapa dia tahu? Aku tidak ingat pernah menceritakannya pada teman-teman sekolah… Apa Sophia yang memberitahunya?
“Tidak apa-apa, aku akan melakukannya setelah mengantar kalian.” Tidak ada batasan waktu, jadi meskipun sedikit terlambat, aku masih bisa latihan. Ini bukan hal yang perlu dia khawatirkan. Justru kalau aku membiarkan mereka pulang sendiri, aku akan khawatir dan tidak bisa konsentrasi latihan.
“...Karena kita merepotkannya begini, lain kali jangan lakukan ini lagi, ya…?”
Sepertinya ia mengerti apa yang kupikirkan. Rindou-san tidak bertanya lebih jauh dan menegur Haibara-san dengan nada suara yang sedikit menyalahkan.
Sepertinya dia masih belum melupakan kejadian tadi.
“I-iya, aku mengerti… Kento-senpai, maafkan aku…”
“Tidak perlu minta maaf, ini keinginanku sendiri. Lagipula, kalau Sophia tahu aku tidak mengantarmu, aku pasti akan dimarahi.”
Lupakan Rindou-san, kalau aku tidak mengantar Haibara-san, si Sophia yang protektif itu pasti akan mengomel. Aku bisa mengerti kenapa dia jadi protektif, karena Haibara-san memang terlihat sangat muda…
“...Kento-senpai, baik sekali, ya…?”
Entah apa yang dipikirkannya, Haibara-san melirikku sambil berbisik pada Rindou-san. Dan Rindou-san—malah menatap Haibara-san dengan ekspresi yang sangat tidak suka.
“Kenapa wajahmu begitu?! Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?!” Tentu saja, diberi tatapan seperti itu membuat Haibara-san langsung melontarkan protes. Apa yang sebenarnya dikatakan Haibara-san sampai Rindou-san berekspresi seperti itu…?
“Kalau bertambah lagi, akan merepotkan… Terutama anak seperti Miu-chan…” “ Apa maksudmu?!”
“Di dalam hatiku, posisi Miu-chan sudah jatuh dari sini, ke sini.” Sambil berkata begitu, Rindou-san menurunkan tangannya yang tadinya setinggi matanya, ke bawah lututnya.
“Jatuh bebas?! Apa yang terjadi dalam waktu sesingkat ini?!” “Hmph…”
Menanggapi protes keras Haibara-san, Rindou-san justru cemberut dan membuang muka. Kelihatannya seperti sedang bertengkar… tapi setelah
kupikir-pikir, ini malah terlihat seperti mereka akrab. Atau lebih tepatnya, mereka jadi terlihat seperti sedang bercanda. Entah bagaimana, sepertinya mereka memang akrab.
“Kento-senpai, Arisu-chan jahat padaku…!”
Mungkin karena tidak terbiasa diperlakukan dengan dingin, Haibara-san merengek padaku. Aku mengerti dia datang padaku karena hanya aku yang bisa membelanya di sini, tapi kurasa Rindou-san hanya bercanda, jadi tidak perlu dianggap serius…
“Tenang sa—”
“Itu hal yang paling tidak boleh dilakukan…!”
Saat aku hendak mengatakan “Tenang saja,” Rindou-san memotongku dengan suara yang sedikit meninggi. Hmm, sepertinya dia cukup serius, ya…? Dari sini aku sadar, yang sebenarnya perlu ditenangkan bukanlah Haibara-san, melainkan Rindou-san.
“ Aku tidak berpikir Rindou-san benar-benar jahat, kok, jadi tidak usah khawatir. Haibara-san juga, Rindou-san tadi hanya bercanda.” Aku tersenyum pada Rindou-san lebih dulu, lalu menoleh sambil tertawa ke arah Haibara-san yang sedang menarik ujung lengan bajuku di sisi kiri.
Padahal seharusnya aku tidak begitu akrab dengan mereka berdua, tapi rasanya dalam waktu singkat ini jarak kami jadi semakin dekat. Dalam kasus Haibara-san, jarak fisiknya juga semakin dekat.
“Syukurlah…”
Sepertinya ia lega karena aku mengerti. Rindou-san meletakkan tangannya di dadanya yang berisi. Kemarahannya sepertinya sudah reda, jadi aku pun ikut lega. Dia memang gadis yang sedikit sulit ditebak, tapi dia bukan anak yang jahat—dia anak yang baik, kurasa.
“…………”
“Tidak apa-apa, kok.”
Aku kembali tersenyum pada Haibara-san yang menatap Rindou-san dengan cemas. Dilihat begini, dia benar-benar terlihat seperti anak kecil. Sophia juga punya sisi kekanak-kanakan saat sedang rapuh, jadi kurasa mereka berdua punya kemiripan. Mungkin karena itulah Sophia jadi semakin menyayanginya.
“ Ah… iya!”
Senyumku sepertinya manjur untuk Haibara-san. Ekspresinya langsung cerah.
Jika aku bisa memperlakukannya sama seperti Sophia saat sedang rapuh, sepertinya aku bisa berhubungan baik dengannya. Aku hanya harus berhati- hati agar tidak reflek mengelus kepalanya.
Saat aku sedang memikirkan itu—
“…………”
—entah kenapa, Rindou-san terlihat tidak senang lagi. Bukan tatapan tajam atau ekspresi marah yang terang-terangan, tapi ia hanya menatap kami lekat- lekat seolah ingin mengatakan sesuatu. Tunggu, kalau kuikuti arah pandangnya, dia sedang melihat tangan Haibara-san yang menarik bajuku?
Benar juga, tadi dia bilang hal yang paling tidak boleh dilakukan adalah merengek padaku. Mungkin dia tidak suka dengan gadis yang suka bergantung pada pria. Aku sering dengar gadis yang bersikap imut-imutan itu tidak disukai di antara para gadis.
Yah, tapi…
Aku melirik wajah Haibara-san.
“Ehehe…”
Dia tersenyum senang, mungkin karena merasa lega aku membelanya. Kalau memikirkan hubungan Haibara-san dan Rindou-san, mungkin lebih baik aku menyuruhnya melepaskan tangannya… tapi aku tidak tega menyuruhnya berhenti saat dia memasang ekspresi seperti itu… Aku juga tidak mau kalau itu dianggap sebagai penolakan.
Bagiku, aku ingin Haibara-san lebih mengandalkanku daripada Sophia, agar beban Sophia tidak bertambah atau dia tidak memendam semuanya sendiri.
Jika tidak begitu, adik perempuanku yang canggung dalam hubungan sosial itu bisa saja mencoba menyelesaikan semuanya sendiri dan malah mendapat masalah atau memperburuk situasi. Dalam artian itu, jika aku bisa membangun hubungan yang baik dengan Haibara-san sekarang, aku ingin melakukannya.
“Kalau begitu, ayo kita pulang. Kalau terlalu malam, orang di rumah bisa khawatir.”
“...Tolong antar Miu-chan dulu… ya…”
Saat aku mengajak mereka pulang, entah apa yang dipikirkannya, Rindou-san menyuruhku mengantar Haibara-san lebih dulu. Aku tidak tahu di mana rumah Rindou-san, tapi apa mungkin karena arah rumah Haibara-san lebih dekat?
Atau, seperti yang ia katakan soal serigala pengantar pulang tadi, ia ingin mengawasiku karena khawatir aku akan menyerang Miu-san? Mungkin kepercayaannya padaku tidak terlalu besar. Yah, mau bagaimana lagi. Aku kan pernah menyudutkannya dulu soal Sophia.
Soal bahasa formalnya, aku merasa itu hanya sekadar ikut-ikutan, jadi aku tidak akan menanyakannya.
“Baiklah, ayo.”
Dicurigai macam-macam hanya akan merepotkan, jadi aku mengangguk tanpa bertanya alasannya. Kalau sampai dicurigai dan terdengar oleh Sophia, bisa gawat.
“Terima kasih, Kento-senpai—ah.”
“Hm, ada apa?”
Aku bertanya pada Haibara-san yang tiba-tiba berhenti seolah teringat sesuatu.
Apa ada yang tertinggal? Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di taman.
“ Anu, nanti kalau sedang bersama Riku-kun mungkin akan sulit dibedakan, jadi bolehkah Anda memanggil saya Miu…? Riku-kun juga, tolong panggil dengan nama depannya.”
“A-apa…?!”
Tepat setelah Haibara-san mengajukan permintaannya, yang bersuara bukanlah aku, melainkan Rindou-san yang mulai berjalan di sisi kananku.
“Yah, memang benar juga, sih…”
Nama depan, ya… Untuk adiknya mungkin tidak masalah, tapi memanggil Haibara-san yang seorang gadis dengan nama depannya terasa sedikit berat.
Orang di sekitar pasti akan curiga, dan aku bisa-bisa diawasi oleh Sophia.
Sophia yang menyukai Haibara-san pasti akan bersikap protektif dan menunjukkan taringnya kalau sampai salah paham mengira aku mau mendekati Haibara-san. Aku tidak mau itu terjadi—tapi kalau aku menolak permintaan Haibara-san di sini, bisa berpengaruh ke depannya… Saat ini, di dalam daftar orang yang bisa diandalkan oleh Haibara-san, yang paling atas pasti Sophia… Maaf, Sophia, tapi posisi itu harus kuambil alih entah bagaimana caranya, jadi sepertinya mengangguk adalah jawaban yang tepat.
“Tidak boleh, ya…?”
“B-bukan begitu. Baiklah, akan kulakukan.”
“—?!”
Saat aku mengambil keputusan, Haibara—Miu-chan bertanya sambil menatapku dari bawah, jadi aku hanya menjawabnya… tapi Rindou-san malah membeku sambil menahan napas. Sepertinya ia sangat terkejut karena aku mengangguk. Tunggu, apa dari segi waktu ini terlihat seolah aku luluh pada tatapan Miu-chan…? Ini hanya kebetulan waktunya pas, bukan berarti aku kalah oleh tatapannya…
“Umm, kau tidak apa-apa…?”
Aku khawatir melihat Rindou-san yang tidak bergerak sedikit pun, jadi aku mencondongkan wajahku untuk melihatnya.
“~~~~~~~~~! De-dekat…!”
Ia langsung bergerak, tapi malah mengambil jarak yang sangat jauh dariku.
Gagal, ya…? Hmm, seingatku dia bukan anak yang sesulit ini untuk diajak bicara… Untuk saat ini, aku merasa seperti dibenci, jadi aku akan mengambil langkah aman.
“Miu-chan, bahaya kalau ada mobil lewat, ayo tukar posisi.” Karena Miu-chan masih memegang bajuku, ia berjalan di sisi kiriku. Aku memberinya alasan agar kami bisa bertukar tempat.
“ Ah, baik.”
Miu-chan anak yang penurut, jadi ia bertukar tempat tanpa menolak. Saat itu, ia tidak lagi memegang bajuku. Sepertinya tadi ia hanya tidak sadar masih memegangnya.
Dengan begini, Miu-chan berada di antara aku dan Rindou-san, jadi Rindou-san pasti akan sedikit lebih tenang. Begitulah pikirku, tapi… “—! Aku, tidak akan mengajari Miu-chan belajar lagi…” Entah kenapa, setelah menahan napas lagi, Rindou-san bergumam dengan ekspresi seperti sedang syok. Aku yang menjaga jarak tidak bisa mendengarnya, tapi dari ekspresinya aku tahu ia sedang tidak senang. Dan Miu-chan yang berada di sebelahnya dan bisa mendengarnya, melebarkan matanya dengan ekspresi sangat terkejut. Hmm, apa yang baru saja ia katakan?
“Ke-kenapa?! Aku tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya marah, kan…?!”
“Tidak tahu…”
Rindou-san membuang muka seolah menolaknya. Kalau kulihat, pipinya sedikit menggembung. Sepertinya bukan marah, tapi cemberut…?
“ Apa yang dia katakan?”
Untuk memahami situasi, aku bertanya pada Miu-chan yang tadi mendengarnya. Ia lalu menatapku dengan mata yang bergetar hebat.
“Katanya, dia tidak mau mengajariku belajar lagi…” “Eh, kenapa dia sejahat i—”
Aku refleks hampir mengatakan itu, tapi entah bagaimana aku berhasil menahan sisa kata-kataku. Rindou-san mengajari Miu-chan belajar tanpa imbalan apa pun, seperti relawan. Jika ia bilang mau berhenti, aku tidak bisa menahannya. Lebih dari itu, kata-kata yang hampir kuucapkan tadi pasti akan terdengar seperti menyalahkannya. Itu tidak baik, jadi aku harus berhati-hati dengan cara bicaraku.
“Maaf, apa aku melakukan sesuatu yang menyinggungmu…?” Sejak di taman tadi dia memang sesekali terlihat tidak senang, tapi alasannya tiba-tiba bilang tidak mau mengajar lagi mungkin karena tindakanku barusan.
Dari waktunya, tidak ada kemungkinan lain. Kalau begitu, yang harus kukatakan adalah permintaan maaf.
“Uuh… malah makin runyam…”
“Eh…?”
Entah kenapa, Rindou-san malah terkulai lemas. Loh, apa permintaan maafku justru menjadi bumerang…?! Gawat, aku benar-benar tidak bisa menebak gadis ini, sulit sekali…! Apa yang harus kulakukan…?!
“………………Ah!”
Saat aku sedang bingung dengan sikap Rindou-san, Miu-chan bersuara seolah menyadari—atau teringat sesuatu. Ia lalu buru-buru kembali ke sisi kiriku.
“ Apa yang kau lakukan…?”
“Sepertinya aku akan berjalan di sini saja.”
Saat aku bertanya maksud tindakannya, ia menjawab dengan senyum lebar.
Kenapa dia terlihat begitu lega sendirian…?
“Nanti bahaya kalau ada mobil…”
“ Aku tidak seceroboh itu, kok. Tapi memang benar bahaya kalau berjalan terlalu ke tengah, jadi tolong geser sedikit ke sana.” Tiba-tiba Miu-chan mendorong tubuhku dengan kuat. Karena tubuhnya kecil, tenaganya lemah jadi aku bisa menahannya, tapi sepertinya ia tidak berniat kembali ke sisi kananku, jadi aku menurut saja dan bergeser ke kanan.
Akibatnya, jarakku dengan Rindou-san jadi semakin dekat—atau lebih tepatnya, tangan kami bersentuhan.
“~~~~~~~~~!”
“Ma-maaf.”
Tepat setelah bersentuhan, Rindou-san mengeluarkan suara yang tidak jelas, jadi aku buru-buru menarik tanganku dan meminta maaf. Gadis ini, padahal penampilannya seperti gyaru, tapi pemalu sekali… Yah, sisi seperti itu justru terlihat imut, sih…
“Fufu…♪”
Sementara itu, Miu-chan tersenyum puas sendirian. Aku yang tidak punya banyak pengalaman dengan perempuan tidak bisa mengikuti situasi ini.
Rasanya aku jadi dua kali lebih lelah daripada saat berlari tadi. Aku sudah berhasil akrab dengan Sophia yang tingkat kesulitan sosialnya paling tinggi, jadi kupikir aku sudah cukup mahir dalam bergaul dengan perempuan… tapi kalau begini, sepertinya aku masih belum sanggup. Justru, aku merasa jauh lebih santai saat bersama Sophia… Mungkin kecocokan antar pribadi itu memang penting.
“Umm… maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Aku sangat terbantu kalau Rindou-san mau mengajari Miu-chan belajar, jadi kalau bisa, aku ingin kau terus membantunya. Karena itu, kalau ada yang tidak kau suka, katakan saja terus terang.”
Gadis di sebelah kananku sedang gelisah, sementara gadis di sebelah kiriku tersenyum puas seolah berada di dunianya sendiri. Tidak tahan dengan suasana ini, aku mencoba mengubahnya dengan memulai pembicaraan.
Lagipula, masalah Rindou-san yang bilang mau berhenti belajar belum selesai, jadi aku tidak bisa membiarkannya.
“Yang tidak kusuka, sih, ada tapi…”
Sepertinya Rindou-san masih memikirkannya. Dengan wajah yang masih memerah, ia menatapku dari bawah. Mungkin karena perbedaan tinggi badan kami, tapi rasanya di sekitarku banyak sekali gadis yang suka menatap dari bawah. Apa ini hal yang biasa dan aku saja yang tidak tahu karena kurang pengalaman dengan perempuan?
“Katakan saja, tidak apa-apa.”
“Tidak bisa… Rasanya tidak pantas juga kalau kukatakan pada Kento-kun…” “…………”
Nah, sekarang bagaimana? Kalau dia tidak mau memberitahuku, rasanya tidak ada yang bisa kulakukan… Siapapun yang berpengalaman, tolong beritahu aku apa jawaban yang benar… pikirku dalam hati.
“...Soalnya, ini kan karena cemburu… Dari sudut pandang Kento-kun, ini pasti menyebalkan, jadi mana mungkin bisa kukatakan…”
Ia menunduk seolah menghindari tatapanku dan bergumam sendiri. Tapi bahkan dari jarak ini, aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.
Sepertinya ia sengaja mengecilkan suaranya agar aku tidak bisa mendengar.
Justru karena dia tidak mau menyampaikannya, aku jadi semakin cemas… Aku sudah tahu dia anak yang baik, jadi aku tidak khawatir dia akan melakukan sesuatu pada kami… tapi kalau begini terus, dia mungkin benar-benar akan berhenti mengajari Miu-chan.
Saat aku sedang cemas—tarik, tarik—bajuku ditarik dari sisi kiri.
“ Apa?”
Aku menoleh ke arah Miu-chan. Entah kenapa, ekspresinya masih terlihat senang. Ia berjinjit sekuat tenaga dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
Sepertinya ada yang ingin ia katakan, jadi aku sedikit membungkuk agar ia lebih mudah. Lalu—
“Kurasa sebaiknya Anda mengelus kepala Arisu-chan, sama seperti yang Anda lakukan padaku…!”
—aku diberi permintaan yang luar biasa mustahil.
“ Apa yang kau katakan…?! Kalau aku membuatnya makin marah, nanti tidak bisa diperbaiki lagi, tahu…?!”
Apa gadis ini sudah gila mau menuangkan bensin ke dalam api?! Jangan- jangan, dia mau menjebakku lagi?! Usulannya begitu tidak masuk akal sampai aku jadi cemas seperti itu.
“Tidak apa-apa, percayalah padaku…!”
Namun, Miu-chan malah mengepalkan kedua tangannya membentuk pose semangat sambil mengangguk dengan kuat. Dari mana datangnya kepercayaan diri ini…?! Lagipula, hubungan saling percaya di antara kita belum terbentuk, tahu…?! Aku hampir saja melontarkan protes itu, tapi entah bagaimana aku berhasil menahannya. Kalau lawanku Sophia, aku pasti akan langsung memprotesnya. Yah, kurasa aku sudah punya hubungan saling percaya dengannya, jadi protesku tidak akan sekeras itu.
“Itu benar-benar tidak bagus. Kepala perempuan bukan sesuatu yang bisa dielus sembarangan…”
“…Kalau aku?”
Aku menghela napas sambil memegang dahiku, lalu Miu-chan memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Memang benar, dari sudut pandangnya yang baru saja kuelus kepalanya, dia pasti berpikir, ‘ Apa-apaan orang ini?’ Tentu saja aku tidak bisa mengatakan kalau itu karena sosoknya tumpang tindih dengan Sophia. Itu sama saja dengan mengaku kalau aku biasa mengelus kepala Sophia. Kalau aku bilang karena Miu-chan terlihat muda… itu bisa melukainya…
“Memang benar juga, ya…”
“Iya, kan?”
Ekspresi Miu-chan seolah berkata, ‘ Anda sudah melakukannya padaku, jadi Anda pasti bisa, kan?’ sambil kembali memiringkan kepalanya. Benar juga, gadis ini hanya terlihat muda, tapi isinya seumuran denganku dan Sophia. Aku merasakan ketangguhan yang sama seperti saat teman-teman sekelasku sedang iseng.
Sial… kalau sudah begini, aku harus siap mental… Kalaupun situasinya memburuk, aku hanya bisa pasrah dan menyalahkan diriku sendiri di depan Miu-chan. Maafkan aku, Rindou-san…
Aku meminta maaf dalam hati sambil mengulurkan tangan ke kepala Rindou- san.
“—?! …! …! ~~~~~~~~~!”
Sepertinya ia tidak mendengar obrolan kami. Tiba-tiba kepalanya dielus, wajah Rindou-san langsung memerah padam, matanya berputar-putar karena panik.
Tentu saja. Gadis pemalu yang bahkan gelisah hanya karena tangannya bersentuhan, mana mungkin bisa tetap tenang saat kepalanya dielus oleh seorang pria.
“Maaf, kau tidak apa-apa…?”
Merasa ini sudah keterlaluan, aku menarik tanganku dari kepalanya sambil meminta maaf.
“ Ah…”
Tiba-tiba, suara bernada sedih keluar dari mulutnya. Loh…? Aku seperti pernah melihat reaksi ini, dan aku jadi bingung. Rindou-san sedang menatap lekat-lekat tanganku yang tadi mengelusnya…
“Sekali lagi…!”
Tiba-tiba, sebuah instruksi datang dari belakang. Gadis ini, jangan-jangan dia hanya sedang bersenang-senang, ya…?
“…………”
Karena Miu-chan mengatakannya dengan suara keras, Rindou-san pun mendengarnya. Ia menatapku lekat-lekat dari bawah. Tidak, padahal tadi dia sepanik itu, tapi gadis ini… Ditatap dengan mata yang penuh harap, aku dihadapkan pada dua pilihan. Mengelus, atau tidak mengelus.
Tidak, kalau aku ingin berhubungan baik dengan mereka ke depannya, mengelus adalah satu-satunya pilihan, tapi kalau aku mengelus di sini, aku merasa akan timbul kesalahpahaman yang tidak baik, atau masalah yang lebih besar jika ada yang melihat. Aku sudah sering disalahpahami karena penampilanku, kalau aku mengelus kepalanya sekali lagi, aku takut akan dianggap sebagai pria hidung belang oleh orang-orang.
—Tidak, setelah aku mengelusnya sekali, sekarang sudah terlambat untuk memikirkan itu. Tapi, aku jadi sadar dengan cara yang menyakitkan bahwa alasan kenapa tidak boleh sembarangan mengelus kepala gadis selain adik sendiri bukan hanya satu.
“Kecewa…”
Saat aku tidak kunjung mengelusnya, Rindou-san menunjukkan ekspresi yang jelas-jelas kecewa. Atau lebih tepatnya, karena ia mengatakannya dengan lantang, aku malah curiga dia sengaja.
Aah, sudahlah… Aku tahu ini bisa memperburuk keadaan, tapi…!
“Dengan ini, apa kau bisa memaafkanku…?”
Aku yang sedang menimbang-nimbang antara harus melakukannya atau tidak, akhirnya tidak tega mengabaikan Rindou-san yang terlihat sedih dan kembali mengelus kepalanya. Ini benar-benar gawat kalau ada yang lihat… Untungnya aku tidak merasakan ada tatapan lain selain dari Miu-chan… Ngomong-ngomong, meskipun dia tidak sepanik tadi karena sudah mempersiapkan diri, Rindou-san tetap saja gemetaran dengan mata berputar- putar saat kepalanya kuelus… Apa ini benar-benar sepadan…? Dia bahkan berusaha keras menutup mulutnya agar tidak bersuara…
“—Enaknya…”
Saat aku terus mengelus kepala Rindou-san tanpa tahu harus berbuat apa, samar-samar aku mendengar suara Miu-chan dari belakang. Aku yang tadinya fokus pada Rindou-san, menoleh ke arah Miu-chan.
“Maaf, apa kau mengatakan sesuatu?”
“Bukan, bukan apa-apa. Kurasa maksudku berbeda.”
“…………?”
Apa yang sebenarnya dibicarakan gadis ini? Loh, padahal tadi kupikir dia anak yang mudah dimengerti, tapi sekarang dia juga jadi sulit dipahami… “ Aku akan mengajari Miu-chan belajar dengan benar, kok…” Saat aku sedang bingung dengan kata-kata Miu-chan, Rindou-san yang sedang kuelus kepalanya akhirnya angkat bicara. Ternyata, suasana hatinya benar- benar membaik hanya dengan dielus kepalanya. Sophia juga biasanya akan membaik dengan cara ini, jadi ternyata efeknya cukup besar, ya… Tapi, ini tidak baik untuk jantungku, jadi aku tidak akan—atau kuharap tidak akan— mengelus kepala gadis lain selain Sophia lagi. Aku jadi sadar dari kejadian ini bahwa posisi sebagai ‘adik’ ternyata punya makna yang jauh lebih kuat dari yang kupikirkan. Yah, saat pertama kali dengan Sophia pun aku sangat gugup, jadi mungkin ini hanya masalah kebiasaan…
“Terima kasih.”
Kalau sampai ini menjadi bumerang, aku pasti akan menangis. Jadi, aku benar- benar lega karena Rindou-san sudah memaafkanku. Sepertinya masalah dengan Miu-chan sudah selesai.
—Pikiranku saat itu mungkin menjadi pertanda buruk.
“Itu… sebagai gantinya, bolehkah aku meminta satu hal…?” Seperti biasa, ia menunduk sambil memainkan kedua jari telunjuknya dengan gelisah. Intinya, ia ingin imbalan karena sudah mau mengajar, kan? Memang benar, secara perasaan lebih baik memberikan imbalan daripada tidak sama
sekali. …Begitulah pikirku, tapi melihat gelagatnya… apa yang akan ia minta…?
Hanya itu yang membuatku takut.
“Boleh aku dengar dulu permintaannya?”
Aku tidak bisa langsung mengangguk tanpa tahu isinya, jadi aku bertanya dulu.
“ Aku juga, ingin dipanggil dengan nama depan…”
“—?!”
Permintaan yang begitu terus terang membuatku kehilangan kata-kata.
Berbeda dengan kasus Miu-chan, ini adalah permintaan berdasarkan perasaan, bukan kebutuhan. Apalagi, berbeda dengan Miu-chan yang punya alasan, kalau aku memanggil Rindou-san dengan nama depannya, aku tidak punya alasan untuk berkelit jika ada yang mendengar. Kalau aku jujur menjawab ‘Karena dia yang memintanya,’ orang-orang pasti akan mengembangkannya menjadi gosip yang aneh-aneh.
Namun, untuk menolaknya pun, sama seperti elusan kepala tadi, keputusanku untuk menyetujui permintaan Miu-chan sebelumnya menjadi penghalang.
Kalau aku hanya menolak Rindou-san, di matanya itu akan terlihat seolah aku memberikan perlakuan khusus pada Miu-chan, dan ia bisa tidak senang lagi.
Kalau begitu, semua usaha akan sia-sia.
“Ba-baiklah… aku akan memanggilmu Arisu-san, ya…”
Aku yang tidak punya nyali untuk menyia-nyiakan semua usahaku sampai di sini, ditambah dengan kelelahan mental, akhirnya mengangguk. Akibatnya, wajah Arisu-san bersinar lebih cerah daripada saat Miu-chan senang tadi.
“Be-benarkah…?!”
“Ini bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, kok.”
Aku sengaja bersikap seolah menganggap ini hal yang sepele, karena aku tidak mau dia memberinya makna yang berlebihan.
“Mhm, lagipula aku juga memanggilmu Kento-kun, kan.”
Entah ia mengerti perasaanku atau tidak, Arisu-san mengangguk. Kalau dia mengerti, aku akan sangat bersyukur.
“Ta-tapi, mumpung begini, aku mau bilang… mungkin seperti Miu-chan, ‘ Arisu- chan’ lebih baik…?”
“—! Ba-baiklah, aku mengerti.”
Gadis ini, ternyata cukup agresif, ya…?! pikirku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk. Ia bisa berkata seberani ini sepertinya karena aku sudah mengelus kepalanya tadi. Entah kenapa, aku merasa dalam hal hubungan dengan perempuan, semakin aku berusaha memperbaikinya, aku malah semakin memperburuknya, seolah aku lahir di bawah bintang sial. Apa ini harga yang harus kubayar karena selama ini hanya fokus pada bisbol…?
Setelah itu, karena semua sudah beres, seperti yang diminta, aku mengantar Miu-chan pulang lebih dulu, berbicara dengan Riku, lalu mengantar Arisu-chan pulang. Tapi—
““…………””
Arisu-chan yang tadinya cukup banyak bicara saat ada Miu-chan, menjadi benar-benar pendiam saat hanya berdua denganku. Tapi ia malah berjalan sangat dekat denganku, membuatku merasa luar biasa canggung.
Diskusi & Komentar (0)