🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 1 Chapter 3 - Junior yang Kompeten di Seberang Ingin Bermanja-manja Sepulang dari Acara Minum

"Boleh aku minta tolong padamu untuk mengurus pegawai baru?"

Meluapnya beban kerja yang diawali oleh satu kalimat dari Kepala Bagian itu, menancapkan hatiku pada sisa-sisa panas musim panas yang masih jauh dari suasana musim gugur.

Katanya dia adalah orang yang sangat luar biasa... atau lebih tepatnya, seharusnya dia dimasukkan ke Departemen Perencanaan saja alih-alih Urusan Umum. Kenapa malah dimasukkan ke departemen yang tidak mencolok ini?

Memang benar kami kekurangan tenaga saat musim sibuk, tetapi...

Begitulah, pada tanggal satu Oktober yang kami sambut ini, seorang wanita bertubuh ramping berdiri di depan mataku.

"Mulai hari ini saya akan bekerja di sini. Nama saya Tomine Koto. Mohon bimbingannya."

Dia memiliki wibawa yang membuatnya tidak terlihat seperti seseorang yang baru berusia pertengahan dua puluhan.

Di tengah suara tepuk tangan, rekanku mengajakku berbicara.

"Hei, kau dengar tidak? Sepertinya dia dari universitas yang sama dengan Shiraho."

"Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita, kan."

Tunggu, kalau dari segi umur, apakah masa kuliah mereka nyaris tumpang tindih...? Nanti akan kutanyakan, deh.

"Tipenya berbeda dengan Shiraho ya~"

Illustration "Hanya karena dia cantik, kau bisa menyerahkan urusan padanya begitu saja, ya. Shiraho bisa menangis, lho... Tidak, dia tidak akan menangis, sih."

Aku menyatukan kedua tanganku di dalam hati untuk junior khayalanku itu.

"Kalau begitu, tempat duduk Tomine-san ada di sana."

Kepala Bagian menunjuk ke kursi yang berada di antara aku dan rekanku. Yah, perintah atasan adalah mutlak, mau bagaimana lagi.

"Jadi, mohon bantuannya, Tomine-san."

"Mohon bimbingannya!"

"Maaf sekali kau ditempatkan di tempat yang tidak mencolok seperti Departemen Urusan Umum, tetapi mari kita mulai dari belajar cara menggunakan sistem internal perusahaan. Jika sudah paham semuanya, cobalah melakukan koordinasi dengan departemen lain."

Aku berbicara panjang lebar dan menyerahkan buku panduan. Aku sudah menempelkan

sticky notes di bagian-bagian penting, jadi seharusnya tidak masalah.

"Untuk sementara, coba baca itu sampai jam makan siang. Kalau ada bagian yang tidak dimengerti, tanyakan saja padaku."

"Baik, saya mengerti."

Dia langsung meraih tumpukan kertas yang bisa disalahartikan sebagai kamus itu.

Katanya dia orang yang sangat kompeten, mulai dari membaca buku panduan bukanlah hal yang buruk.

Dulu saat aku baru masuk, aku malah dibiarkan begitu saja. Sambil mengenang masa lalu, aku kembali pada pekerjaanku yang biasa.

Omong-omong, sejak saat itu, aku belum bertemu dengan Shiraho di balkon.

Kudengar dari rekanku yang selalu up-to-date (khusus urusan Shiraho) bahwa data pemotretan yang kemarin sudah masuk, jadi Departemen Perencanaan sedang dalam tahap akhir penyelesaian.

Mungkin lain kali aku akan membawakannya sedikit makanan ringan.

Setidaknya aku juga ikut terlibat sedikit dalam proyek itu.

Sementara aku sibuk bekerja, waktu makan siang pun tiba.

Tomine-san yang baru pertama kali datang ke kantor ini pasti tidak tahu di mana tempat untuk makan.

Ini adalah saatnya menunjukkan kehebatanku sebagai pembimbingnya.

"Maaf mengganggu konsentrasimu."

" Ah, tidak. Buku panduannya sangat mudah dipahami..."

"Terima kasih, yang membuatnya adalah aku dan orang ini."

Aku melirik rekanku yang sudah menutup PC-nya lebih awal.

"Omong-omong, apakah kau membawa bekal makan siang?"

"Tidak, saya berencana membelinya di minimarket atau di suatu tempat..."

"Karena ini hari pertamamu, kalau kau tidak keberatan, mau makan bersama kami?"

Kalau aku ditolak sekarang, hatiku akan menangis.

Namun, karena dia mungkin merasa canggung jika hanya berdua dengan pria, aku menahan rekanku yang bersiap untuk kabur.

"Benarkah tidak apa-apa? Kalau begitu, dengan senang hati!"

Tomine-san yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah kami terlihat seperti wanita seumurannya, berbeda dengan kesan pertamanya yang berwibawa.

Kami bertiga datang ke sebuah kedai makan.

Terletak di arah yang berlawanan dengan pusat keramaian dan stasiun jika diukur dari kantor kami, tempat ini diam-diam populer sebagai tempat istirahat para pekerja kantoran.

" Ayo, ayo, Tomine-san, kau boleh pesan apa saja! Senior pembimbingmu yang menakutkan ini akan mentraktirmu apa pun."

"Hei, siapa yang kau sebut pembimbing menakutkan? Semuanya bahkan belum dimulai, lho. Ah, tetapi benar kok, kau boleh pilih apa saja."

Aku membuka buku menu dan menyerahkannya padanya.

" Ah, terima kasih banyak... Di perusahaan saya sebelumnya, tidak ada hal seperti ini..."

"Dulu kau bekerja di bidang apa?"

Saat dia mengangkat wajahnya dari buku menu, dia menjawab dengan suara pelan.

"Saya bekerja di bagian penjualan

real estate."

Kemungkinan besar, aku dan rekanku sedang memasang wajah yang sama sekarang.

Industri itu memang memiliki reputasi yang sangat bervariasi. Baik dari segi gaji maupun kenyamanan bekerja.

"Pasti sangat berat, ya~"

Rekanku menyuarakan simpatinya.

Meskipun gaji di perusahaan kami tidak terlalu tinggi, beban kerjanya jauh lebih ringan dibandingkan dengan penjualan

real estate.

Aku tidak akan melontarkan pertanyaan seperti "Kenapa kau pindah ke sini?".

Ini adalah waktu istirahat makan siang yang berharga, dia harus beristirahat dengan tenang.

"Kau mau pesan apa?"

Aku bertanya pada rekanku agar Tomine-san lebih mudah memilih.

"Sudah lama aku tidak ke sini, jadi bingung juga."

" Aku juga biasanya hanya makan menu harian."

Aku membaca buku menu dari arah yang berlawanan.

Ada perasaan ingin makan makanan yang mengenyangkan, tetapi aku tidak mau merasa mengantuk di siang hari nanti.

" Apakah Tomine-san sudah memutuskan?"

Aku bertanya padanya yang sedang mengikuti tulisan di menu dengan matanya.

"Saya... rasa saya akan pesan

chicken nanban."

Wow, inikah yang namanya darah muda.

Kalau aku makan chicken nanban di siang hari, perutku pasti akan meledak.

Aku dan rekanku menatap dengan pandangan kosong.

" Aku pesan menu harian saja~"

"Kalau begitu, aku pesan zaru soba (mi soba dingin)."

Aku memilih sesuatu yang relatif bersahabat untuk perut.

Atau lebih tepatnya, karena akhir-akhir ini aku sering makan dan minum banyak bersama alkohol di balkon pada malam hari, nafsu makanku di siang hari jadi menurun.

"Kalau begitu, aku pesan paket ayam goreng (karaage)!"

Entah sejak kapan dia sudah berdiri di belakangku, sebuah suara yang sangat familier terdengar.

Dia langsung mengambil tempat duduk di depanku dan memanggil pelayan.

"Lama tidak bertemu, Seniooor!"

Rekanku yang langsung bersemangat, dan Tomine-san yang memasang wajah terkejut.

Kontras dengan mereka berdua, ombak kecil diam-diam menghantam hatiku.

Orang yang muncul adalah, kalian pasti tahu, Shiraho You. Yah, ini jam makan siang, jadi tidak aneh kalau dia ada di sini...

"Waktu aku mampir ke Departemen Urusan Umum, Kepala Bagian memberitahuku kalau kalian ada di sini."

Kepala Bagian... Sejak aku diseret ke perjalanan dinas waktu itu aku sudah memikirkannya, kenapa beliau bisa sangat akrab dengan anak ini, sih?

"Tadinya aku berniat melihat anak baru yang masuk ke Urusan Umum, ternyata itu Tomine-chan!"

Oh, ternyata mereka saling kenal?

"Lama tidak bertemu, Shiraho Senior."

Tomine-san mengubah ekspresi terkejutnya dan menunduk memberi salam dengan anggun.

"Eh, kalian saling kenal?"

"Tomine-chan adalah juniorku di universitas!"

Tomine-san mengangguk-angguk membenarkan.

"Shiraho Senior sangat baik padaku sejak kami masih kuliah."

Hee, wajar saja sih kalau dipikir-pikir, tetapi ternyata anak ini juga bisa menjadi seorang senior, ya.

Atribut juniornya terlalu kuat sampai-sampai aku melupakannya.

Sejak tadi aku tidak merasakan hawa keberadaan rekanku, apakah dia baik- baik saja?

Saat aku menoleh, rekanku sedang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Shiraho dan Tomine-san secara bergantian. Dasar orang mencurigakan.

Tomine-san, kalau kau akrab dengan Shiraho, seharusnya kau masuk ke Perencanaan saja. Yah, meskipun begitu.

"Mungkin bagus juga ya kalau kau punya kenalan di Departemen Perencanaan, pekerjaanmu bisa jadi lebih mudah."

"Benar, benar! Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyakan saja apa pun pada Shiraho Senior ini!"

Dia membusungkan dadanya dan berkata dengan bangga. Padahal belum lama ini kau melakukan kesalahan dan lupa mengajukan permohonan dinas, kan.

"Senior di sebelah sana itu memang tidak peka dan cara bicaranya sedikit kasar, tetapi dia orang yang baik, kok."

Dia menunjuk ke arahku sambil berbicara pada Tomine-san di sebelahnya.

"Menjadi orang baik saja sudah cukup, kan. Emangnya aku melakukan apa?"

"Karena kau tidak melakukan apa-apa makanya kau itu salah~ wee!"

Dia menjulurkan lidahnya sambil mengambil potongan lemon dari paket ayam goreng yang baru saja disajikan.

Tanpa mau kalah, aku juga memasukkan bumbu pelengkap ke dalam kuah zaru soba-ku. Daun bawang itu semakin banyak semakin bagus.

"Omong-omong, apakah Tomine-san adalah junior di klub kampus Shiraho?"

"Bukan, kami berada di fakultas yang sama."

Bukankah dia benar-benar seharusnya masuk ke Perencanaan...? Yah, mutasi departemen bukanlah hal yang mustahil, dan mengirim orang yang punya pengalaman di Urusan Umum ke Perencanaan juga ide yang tidak buruk.

"Wajahmu terlihat sedang merencanakan hal buruk, lho, Senior."

" Aku sedang sangat serius tahu."

Tomine-san yang mengunyah chicken nanban penuh saus tartar dengan lahapnya, benar-benar jauh dari kesan cool beauty yang ia perlihatkan di awal.

Terlebih lagi, kecepatan makannya luar biasa.

Setelah meneguk air minumnya dan bernapas lega, Tomine-san menatap kami dan melontarkan sebuah pertanyaan.

" Apakah Senior dan Shiraho Senior sedang berpacaran?"

Waktu seakan berhenti.

Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara acara talkshow siang dari televisi yang terpasang di kejauhan.

Kami tidak berpacaran. Itu pertanyaan yang tidak sopan, terutama bagi Shiraho.

Tepat saat aku hendak membuka mulutku, ujung sepatu seseorang menendang kakiku pelan.

Saat aku melihat ke depan, Shiraho memasang wajah serius.

(Serahkan padaku.)

Meskipun tanpa suara, bibirnya bergerak mengucapkan kata-kata itu dengan jelas.

"Tomine-chan, dengarkan baik-baik."

Tomine-san dan rekanku menelan ludah dengan tegang. Hei, kau kan tahu sendiri kalau di antara kami tidak ada apa-apa.

" Aku dan Senior ini, memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, lho."

Hah? Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Kita bisa berpisah kapan saja, misalnya kalau salah satu pindah apartemen.

Lagipula, sebelum kau tahu kalau kita bertetangga, kita hampir tidak pernah berinteraksi, kan.

"Hei, tunggu."

"Tidak mau tunggu~!"

Aku meneguk sedikit air putih, suara hiruk pikuk pelanggan lain terdengar samar di telingaku.

Menurut televisi, siang ini cuaca juga akan cerah.

"Yah, begitulah, ceritanya sangat panjang dan mengharukan, hubungan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata, kan."

Saat aku melihat ke arah mereka berdua, mereka sedang melongo tak percaya.

"Kami hanya senior dan junior biasa, tahu. Perjalanan dinas waktu itu hanya kesalahan semata."

"Itu bukan kesalahan lho, aku sudah berusaha keras untuk mengaturnya dari balik layar."

Maksudku tindakanmu itulah yang salah.

"Kalau mau menjawab pertanyaan Tomine-san dengan singkat: kami tidak berpacaran."

"Untuk saat ini!"

Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan... eh, bukan begitu maksudnya.

Untuk menenangkan hatiku, aku menyeruput mi soba-ku. Hmm, rasa segar ini dipadukan dengan gigitan bumbu pelengkap memang bikin ketagihan.

"Saya bisa melihat kalau kalian berdua sangat akrab."

Tomine-san mengendurkan otot-otot di sekitar mulutnya.

"Padahal Shiraho Senior waktu zaman kuliah dulu itu seperti itu, tetapi sekarang..."

Karena penasaran, aku ikut menatap Shiraho, dan kulihat dia sedang panik membuat tanda silang dengan jarinya.

"Tomine-chan! Jangan bahas cerita itu!"

Uwah, aku sangat penasaran.

Rekanku juga malah menyeletuk "Lucu sekali~", apanya yang lucu. Kenapa anak ini tiba-tiba menjadi seperti orang bodoh kalau di luar urusan pekerjaan, sih.

"Tomine-san, tolong ceritakan padaku lain kali, saat anak ini tidak ada."

"Dengan senang hati."

Gadis yang tertawa sambil menggelengkan kepalanya itu sepertinya bisa diajak berteman baik.

Tanpa sadar sisa waktu istirahat siang tinggal sedikit, aku mengambil bon pembayaran dan berdiri.

"Terima kasih atas makanannya."

Tomine-san menunduk dengan sangat sopan sambil mengucapkan terima kasih, dia pasti anak yang baik.

Dibandingkan dengan Shiraho yang...

"Lain kali aku akan mentraktirmu!"

Dia berutang padaku.

Yah, anak ini juga juniorku, sih... Apakah dia tidak punya harga diri di depan Tomine-san?

Meskipun malam hari terkadang terasa sejuk, siang hari masih sangat panas.

Saat keluar dari kedai yang cahayanya lembut itu, rasa silau memaksaku memejamkan mata.

"Kalau begitu, aku duluan ya! Sampai jumpa~!"

Shiraho berjalan cepat menuju kantor dengan langkah ringan.

" Ayo kita juga kembali."

Aku mengajak mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota.

Acara makan siang dengan anak baru yang cukup membuat gugup ini berhasil diselesaikan dengan aman berkat seseorang.

Apakah rasi bintang musim gugur sudah bisa dilihat dari balkon nanti malam, ya?

Memikirkan hal itu, kakiku menendang jalan aspal dan melangkah maju.

â—† â—‡ â—† â—‡

Beberapa hari setelah kami pergi makan siang dengan Tomine-san, kami kembali duduk berhadapan di balkon.

Banyak sekali alkohol hari ini.

Aku baru saja memikirkan hal itu, sementara di depanku Shiraho sudah mabuk berat dan lengannya menjuntai lemas ke bawah.

"Pokoknya Senior terlalu sering bersama Tomine-chan~!"

Shiraho yang wajahnya memerah dari pipi hingga ke hidung, mulai meracau karena mabuk.

"Yah, aku ini pembimbingnya, tahu."

"Curaaang~! Padahal kau tidak pernah datang ke tempatku!"

"Kenapa juga aku harus pergi ke sana kalau tidak ada urusan. Lagipula agak sulit untuk masuk ke Departemen Perencanaan."

Orang-orang di sana itu antusiasmenya sangat gila.

Padahal mereka bisa bekerja

remote dari rumah, tetapi setiap kali aku

melihatnya, mereka semua selalu ada di kantor...

Untungnya, kalau ada dokumen yang kurang lengkap, aku bisa meminta mereka memperbaikinya langsung di tempat, jadi itu cukup membantu.

"Tidak apa-apa, nih~? Kalau begini terus, nanti aku direbut oleh orang lain, lho~?"

"Yah, kau memang sedang di usia yang pas untuk itu, kan."

Aku mengangguk-angguk paham sambil meraih kaleng perakku.

Cahaya bulan yang menembus tipisnya awan dan mencapai apartemen di pinggiran kota ini, terasa lebih lembut dari biasanya.

Kaleng bir yang memantulkan cahaya redup itu masih terasa dingin.

Merasa sedikit kedinginan memakai kaus lengan pendek, apakah ini karena aku terlalu menantikan musim gugur?

" Aku kan sudah bilang ini bukan tentang hal itu."

"Gosip tentangmu bahkan sudah sampai ke telinga Urusan Umum, tahu.

Katanya setiap kali kau diajak minum, kau tidak pernah mau ikut."

" Aku tidak terlalu suka acara minum-minum yang pesertanya banyak, sih."

Mana ada hal seperti itu.

Kulitnya yang putih bersih, yang mengintip dari balik kemejanya, mencuri pandanganku. Dia benar-benar terlihat seperti bulan.

"Haruskah kita sudahi saja untuk hari ini? Memaksa orang yang tidak suka acara minum untuk terus minum juga rasanya tidak benar."

"Kalau dengan Senior tidak apa-apa! Ya ampun, apa pun yang kukatakan tidak pernah masuk ke kepalanya."

Dia menggerutu dengan suara pelan, tetapi itu pasti tentang keburukanku.

"Begini ini tidak apa-apa. Karena ini adalah kehidupan asliku, bukan acara minum di mana aku diajak lalu hanya dijadikan hiburan semata."

"Tiba-tiba kau membicarakan hal yang rumit."

"Meskipun penampilanku seperti ini, aku ini orang yang intelek, lho."

Shiraho berpura-pura membetulkan posisi kacamatanya yang tidak ada.

"Gayamu barusan itu malah membuatmu terlihat paling bodoh."

"Tidak sopan! ... Apakah Senior biasanya pergi ke acara minum besar seperti itu?"

Dia menyipitkan matanya, menggerakkan pandangannya seolah sedang menilaiku.

Terkadang aku merasa tidak nyaman karena dia seperti bisa membaca seluruh pikiranku.

"Kalau aku diundang, ya aku datang."

"Heeemm."

Berat minuman 350 mililiter ini sudah hampir mendekati nol.

Besok adalah hari Jumat, hari di mana budak korporat bisa melakukan perlawanan terakhir mereka.

Menunda hal yang menyebalkan ke minggu depan, dan menikmati hal-hal yang menyenangkan di minggu ini. Menunda-nunda pekerjaan adalah hak istimewa orang dewasa yang buruk.

Bentuk persegi yang seharusnya terlihat di atas kepala, kini tersembunyi di balik awan tipis.

Padahal bulannya bersinar seterang ini.

"Kalau begitu, aku punya ide!"

Setelah berkata begitu, warna merah di wajahnya dari tadi seolah hanya kebohongan belaka. Dengan ekspresi biasanya, dia menghilang ke dalam jendelanya.

Hari Jumat, baik atau buruk, itu adalah hari terakhir dalam satu minggu.

Pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan akan dilempar ke minggu depan, bahkan pekerjaan yang bisa diselesaikan pun akan didorong ke minggu depan, bagaimana pun caranya kita harus meluncur masuk ke hari libur.

"Katanya hari ini akan ada acara minum-minum, kau mau ikut?"

Saat aku sedang memakan bekal makan siang di mejaku, tiba-tiba aku disapa.

"Eeeh... Beri tahu lebih awal dong."

Acara minum-minum bisa muncul secara tiba-tiba seperti itu, ya... Memang benar sih, dulu kalau kami lembur, anggota yang tersisa sering kali pergi minum bersama. Namun, akhir-akhir ini hal itu sudah sangat jarang terjadi.

"Siapa saja yang ikut?"

"Belum pasti, sepertinya mereka sedang mengajak orang-orang dari departemen lain juga."

Hmm, mencurigakan. Siapa dalangnya ini.

Mengingat aku juga diajak, sepertinya orang yang merencanakannya sudah bisa ditebak.

" Apakah Tomine-san juga mau ikut?"

Rekanku dengan berani mengajaknya.

"Eh, apakah saya boleh ikut?"

"Tentu saja, tentu saja! Ini kesempatan bagus untuk akrab dengan orang-orang dari departemen lain, ayo ikutlah!"

Rekanku mengayunkan tangannya dengan semangat.

Yah, memang benar, bekerja dengan orang yang sudah kita kenal dan bisa berkata " Ah, yang waktu itu", pasti jauh lebih mudah daripada bekerja dengan orang asing.

Tomine-san melirik ke arahku.

Haa... Ya, aku mengerti maksudnya.

"Baiklah, kalau begitu aku juga ikut. Mumpung hari Jumat."

"Kalau begitu, saya juga! Mohon bimbingannya!"

"Sip, aku masukkan nama kalian! Tempatnya nanti akan kuberi tahu lewat chat!"

Sambil berkata begitu, rekanku menghilang ke luar. Anak itu pergi merokok, kan?

"Tomine-san, acara seperti ini diadakan secara rutin, jadi kau benar-benar tidak perlu memaksakan diri, lho..."

"Tidak apa-apa, terima kasih. Senior juga ikut, kan."

Dia mengedipkan matanya.

"Yah, kalau kau memasang wajah seperti itu."

"Fufu, syukurlah saya memasang wajah seperti itu."

Waktu istirahat siang pun berakhir.

Awalnya aku berniat bekerja dengan santai, tetapi aku tidak bisa melepaskan anak baru sendirian di acara minum-minum. Sepertinya aku harus sedikit berusaha.

" Aaahh~!"

Aku merentangkan tanganku dengan kuat.

Waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat tiga puluh menit, aku berhasil menyelesaikan pekerjaanku. Jangan ada yang berani menelepon untuk urusan mendadak di hari Jumat, ya.

Berkat ini, minggu depan mungkin akan terasa sedikit lebih ringan. Kalau ada waktu luang, aku mulai merasa ingin memasak sendiri. Mungkin aku akan membuat camilan untuk minum di balkon.

"Kalau begitu, ayo kita pergi."

Aku menutup PC-ku dan memanggil Tomine-san.

Mungkin karena dia ikut membantuku menangani urusan mendadak tadi, dia terlihat sedikit kelelahan.

"Beristirahatlah dengan baik di hari Sabtu dan Minggu, ya."

"Baik... Sepertinya malam ini saya bisa tidur nyenyak."

Kami berdua menempelkan kartu identitas pegawai ke mesin absensi dan keluar dari kantor.

Tentu saja rasanya akan dingin kalau tidak memakai jaket sekarang.

Kami melewati pusat hiburan yang terasa meriah dan menuju ke gedung di arah stasiun.

"Saya jarang pergi minum dengan orang kantor, jadi saya sangat menantikannya."

Dengan helaan napas semangat, Tomine-san melangkah maju. Semangatnya benar-benar penuh, ya.

" Apakah kau sering minum alkohol?"

"Rata-rata seperti orang biasa! Karena saya gampang mabuk, jadi saya akan minum pelan-pelan..."

Melihat penampilannya yang

cool beauty, kukira dia tipe orang yang bisa

menenggak minuman keras dengan mudah, ternyata dugaanku salah.

"Yah, karena ada banyak orang lain juga, seharusnya aman, tetapi minumlah secukupnya, ya."

Tujuan kami mulai terlihat.

Ada beberapa orang berkumpul di lantai satu, apakah itu rombongan kami?

"Yo, kerja bagus semuanya."

Aku menyapa beberapa wajah yang kukenal dan masuk ke dalam lingkaran.

"Kerja bagus~ Hari ini ada tamu yang tidak biasa, ya."

Saat aku mengikuti arah pandangan mereka, orang yang berada di sana, seperti yang sudah kuduga, adalah Shiraho You.

"Bersulang!"

Suara dentingan gelas yang bening berpadu dengan suara-suara antusias yang lebih tinggi dari biasanya, perang... maksudku, acara minum-minum pun dimulai.

Meskipun ada orang yang tidak kukenal, mereka semua berasal dari perusahaan yang sama. Kami melakukan perkenalan singkat dan mulai mengambil makanan.

Karena ini adalah acara minum pertama bagi Tomine-san, kami mengatur agar dia duduk di dekatku.

Pada dasarnya tidak ada orang jahat di sini, jadi biarkan saja dia dimanjakan oleh yang lain.

Dia menyesap soda umeshu (arak plum) yang ada di tangannya sedikit demi sedikit.

"Kepala Bagian Urusan Umum itu menakutkan banget, ya?"

Seseorang yang sepertinya adalah senior dari departemen lain di meja yang sama berbicara padaku dengan wajah memerah.

"Meskipun kelihatannya begitu, beliau juga punya sisi yang imut, lho. Oh ya,"

Aku merendahkan suaraku.

"Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang mendengarkan, jadi berhati- hatilah."

"Hiii."

Bicara begini saja seharusnya cukup.

Dulu, aku pernah melihat orang dari departemen lain yang menjelek-jelekkan beliau, dan beberapa jam kemudian orang itu dipanggil ke ruang rapat.

Mengingatnya saja sudah membuatku merinding.

Tidak, beliau bukan orang yang jahat... hanya sadiiikit menakutkan saja.

" Apakah Kepala Bagian memang semenakutkan itu?"

Tomine-san yang wajahnya mulai sedikit memerah, menggeser bantal duduknya mendekatiku.

"Cukup menakutkan untuk membuat orang dewasa menangis jika beliau marah."

"Padahal beliau biasanya sangat ramah...!"

Sambil berbicara dengan sedikit linglung, dia memiringkan gelasnya.

Umeshu yang tadinya penuh saat acara baru dimulai, kini tinggal sedikit.

" Ah, saya mau pesan lagi. Kalau Senior mau, apakah saya pesankan sekalian?"

"Boleh... Bisa tolong pesankan bir draf? Ah, satu lagi,"

Di sudut ruangan, aku melihat juniorku yang sedang dibombardir pertanyaan oleh orang-orang di sekitarnya.

Tidak seperti biasanya, dia terlihat minum minuman manis dengan sangat lambat. Ekspresi kaku yang sangat berbeda dari biasanya itu tanpa sadar membuatku tertawa.

"Sekalian panggil pelayan, bisakah kau menyingkirkan orang-orang bodoh di sana dan membawanya ke sini? Bilang saja kau ingin mengobrol dengannya atau semacamnya."

Tomine-san, yang meskipun wajahnya merah tetapi masih bisa berdiri dengan tegap, menoleh ke arahku dan mengacungkan jempolnya.

"Serahkan pada saya!"

Anak ini, ternyata dia punya sisi yang cukup jahil, ya?

Sesuai rencana, dia berjalan ke pintu masuk ruang

tatami dan memanggil

pelayan.

Dalam perjalanan kembali, dia dengan santainya mendekati Shiraho dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Sesaat kemudian, mataku dan mata Shiraho saling bertemu.

Wajahnya yang seketika berubah ceria itu terlihat seperti bunga yang mekar, atau seperti bulan yang muncul dari balik awan. Rasanya waktu berhenti sesaat.

Shiraho dan Tomine-san yang tadinya berbicara di sana, datang ke meja kami hampir bersamaan dengan datangnya minuman baru.

"Kalau Senior sebegitu inginnya mengobrol denganku, acara minum yang direncanaka... ehem, syukurlah aku datang ke sini."

Dia keceplosan, lho.

Aku sudah curiga dari awal, tidak mungkin aku tiba-tiba diundang secara khusus seperti ini. Rekanku juga pasti berkompromi.

"Kau benar-benar merencanakan ini, ya."

Shiraho, yang baru saja menenggak habis minuman manisnya, mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajah.

"Kau minum alkohol semacam itu juga, ya? Biasanya kan kau minum bir atau sejenisnya."

Kami bertiga menempelkan gelas dengan pelan... Meskipun milikku adalah gelas

mug besar.

"Sebenarnya aku juga ingin minum bir draf, tetapi kalau aku memesan itu, paman-paman itu pasti akan heboh..."

Aku sedikit paham perasaannya. Jika gadis muda dan manis sepertinya memesan bir draf, mereka pasti akan mengerumuni dan mengganggunya.

"Kalau di sini kau bebas minum apa saja."

"Kalau Senior bilang begitu, berikan milikmu padaku~"

Saat tangannya terulur, aku langsung menepisnya.

"Hei."

"Uwaa~ kenapa~ padahal Senior yang memanggilku ke sini~!"

Dia pura-pura menangis terisak-isak, tetapi ketahuan kalau dia curi-curi pandang ke arahku.

"Tomine-chan, jahat banget kan dia?"

"Tetapi padaku, Senior selalu bersikap lembut, lho?"

"Uwaa, aku terluka~! Padahal aku ini juga seniormu, tahu!"

Jangan mencari ribut yang merepotkan begitu, ah.

Meski begitu, Tomine-san tetap tersenyum lembut.

"Melihat kalian berdua seperti ini mengingatkanku pada masa-masa kuliah.

Dulu Shiraho Senior itu tipe yang menolak pria dengan sangat kejam, lho."

Aku mengingat kembali kata-kata dan tindakannya selama ini... Eh, serius?

Padahal dia selalu menempel padaku seperti ini?

"Senior, tolong jangan menatapku dengan mata seperti itu. Itu hanyalah kesalahan di masa lalu."

Dia meraih gelasku dan menenggak isinya.

" Ah, milikku..."

"Barang milik Senior adalah barang milikku."

Mau bagaimana lagi, aku harus memesan satu lagi. Mumpung di sini, kurasa aku akan memesan jenis minuman yang jarang kuminum.

"Tomine-saaan!"

Seseorang memanggil Tomine-san dari meja yang jauh.

" Anak itu sepertinya lumayan mabuk, ya."

Rekanku dengan wajah memerah melambaikan tangannya ke arah kami.

Di meja itu terlihat beberapa karyawan seangkatan dari departemen lain.

Meskipun dia sudah berkeliling menyapa, mereka pasti belum pernah berbicara di luar urusan pekerjaan.

Tidak setiap tahun ada lulusan baru yang masuk. Wajah baru pasti akan dimanja. Sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama dulu.

"Pergilah, mumpung ada kesempatan, lebih baik kau akrab dengan orang lain juga."

"Kalau begitu, permisi! Sampai jumpa nanti!"

Tomine-san berdiri dengan sigap dan berjalan cepat menuju meja rekanku.

Apakah dia ternyata sangat kuat minum?

"Tomine-chan juga pasti lelah ya~, dia harus berhati-hati agar tidak ditandai oleh orang yang aneh-aneh."

"Kau benar-benar seperti seorang senior, ya."

Tanpa sadar aku bergumam pelan.

Melihat juniorku bertindak layaknya seorang senior, entah kenapa rasanya membuatku sedikit geli.

"Menurutku, Senior seharusnya bersikap lebih lembut lagi padaku."

"Sudah kulakukan kok. Buktinya aku memanggilmu ke sini karena kau sedang diganggu di sana, kan."

"Memanfaatkan Tomine-chan dengan licik! Padahal kau bisa saja datang sendiri!"

Shiraho dengan canggung mulai memakan karaage tulang rawan (nankotsu karaage).

"Kalau aku tiba-tiba menyeretmu pergi, itu baru namanya masalah."

"Kalau bagiku sih, itu hal yang sangat, sangat, sangat boleh terjadi~"

Setelah berkata begitu, dia meminum bir draf dari gelas yang baru saja dipesan.

"Baiklah, cukup sampai di sini untuk hari ini!"

Acara minum-minum pun selesai. Dengan aba-aba dari pihak penyelenggara, semua orang mulai merapikan meja.

Sama seperti yang lain, aku mengumpulkan gelas-gelas dan mengambil barang bawaanku.

Sekarang, apa yang harus kulakukan pada anak ini.

Gadis yang menjadikan lengannya sebagai bantal dan menelungkupkan tubuhnya di atas meja ini sedang bernapas pelan dalam tidurnya.

Hmm...

"Hei, ayo pulang. Bangun."

Saat aku menyentuh bahunya, dia tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatapku.

"Oh, ternyata Senior... lima menit lagi..."

Dia kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja.

"Kita ini sedang di izakaya lho?"

"Tidakkk~~ Bawa aku pulaaang~~"

Melihat Shiraho yang meronta-ronta, apakah anak ini benar-benar seorang pekerja kantoran?

Lihatlah Tomine-san. Dia sudah akrab dengan karyawan lain dan sedang mengobrol di luar.

"Lho? Shiraho-chan tertidur?"

Seorang karyawan pria yang entah kenapa wajahnya terasa familier mendekati kami.

"Mau aku antar sampai rumah?"

Mengatakan hal seperti itu dengan wajah menyeringai penuh motif terselubung, tidakkah dia merasa malu?

Meski begitu, kalau aku yang melarangnya di sini juga rasanya aneh. Apakah aku harus berbohong dan mengatakan bahwa aku sudah memberinya uang untuk taksi...

Saat aku sedang memikirkan apa yang harus kulakukan, Shiraho yang ada di depanku tiba-tiba berdiri tegak dan berjalan menuju pintu keluar.

"Tidak, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri."

Tanpa menatap mata pria itu, dia menjawab dengan nada dingin.

Dia mengambil sepatu hak tingginya dari loker sepatu, memakainya dengan cepat, dan langsung berjalan keluar dari

izakaya.

Perubahan drastis itu membuatku tanpa sadar melongo keheranan.

Lalu, apa maksud dari adegan yang tadi...

Aku segera memakai sepatu kulitku dan menyusul keluar dari pintu izakaya.

Di jalanan luar izakaya, kerumunan orang terlihat berdesak-desakan dan mengobrol dengan riuh.

"Terima kasih untuk hari ini! Sampai jumpa lagi!"

Meskipun penyelenggara berteriak, suaranya tenggelam dalam kebisingan pusat hiburan ini.

Memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti, belakangan ini tradisi ippon- jime (tepuk tangan penutup serempak) sudah mulai hilang, ya, aku membiarkan diriku terbawa arus orang-orang yang mulai bubar.

"Tomine-san, terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini. Selamat beristirahat di akhir pekan."

Aku menyempatkan diri untuk menyapanya juga.

"Terima kasih kembali! Sampai jumpa di hari Senin!"

Aku pikir dia sudah minum cukup banyak, tetapi ternyata dia masih sangat bersemangat. Aku harap Shiraho juga bisa mencontohnya.

Setelah pulang kerja di hari Jumat, liburan akhir pekan sudah dimulai sejak waktu bebas ini.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam lewat sedikit.

Besok mari kita masak makanan sendiri, swalayan di dekat stasiun sepertinya masih buka.

Sesekali aku ingin pulang dengan rute kereta yang berbeda. Aku berjalan perlahan menuju stasiun yang berbeda dari yang dituju oleh yang lain.

Berjalan-jalan di kota pada malam hari di saat semuanya terasa diizinkan ini bukanlah hal yang buruk. Apalagi kalau ada alkohol di dalam tubuh, lebih baik lagi. Segala sesuatu yang terlihat terasa sangat hidup.

Tiba-tiba lengan jasku ditarik.

"Ya ampun, Senior! Kalau mau pakai stasiun yang ini, bilang-bilang dong."

Shiraho yang wajahnya memerah berbicara dengan cepat. Rambut sebahunya berkibar lembut tertiup angin.

"Eeeh... Bukankah kau sudah pulang duluan tadi? Katanya bisa pulang sendiri."

"Bisa pulang sendiri dan ingin pulang sendiri itu dua hal yang berbeda, tahu."

Setelah berkata begitu, dia mengambil posisi di sebelahku, seolah-olah ini memang tempat khususnya.

Aroma manis yang memberikan rasa tenang, namun sedikit mendebarkan, mengalir melewati hidungku yang sedikit mati rasa karena alkohol.

Aku melepaskan pegangan tangan dari

strap kereta yang sedang bergoyang.

Suara desisan psshht dari pintu kereta yang terbuka terdengar. Kami dimuntahkan dari kotak besi yang besar ini.

Pemandangan yang biasa, udara dingin yang sudah tidak bisa lagi disebut sebagai musim panas.

Kami melewati gerbang tiket dan menuju pintu keluar stasiun.

"Hei, Senior? Aku sedikit mabuk, nih~"

Dia mengatakannya seolah-olah itu bukan hal yang penting.

Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, kali ini aku bisa melihat bintang- bintang. Karena siapa aku mulai sering menatap ke atas saat berjalan?

"Mana ada orang mabuk yang langkah kakinya setegap ini."

Belum selesai aku berbicara, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Gendong!"

"Tidak mau, itu terlalu berat untuk seorang paman sepertiku."

Mana mungkin aku menggendong orang dewasa saat masih memakai setelan jas.

"Siapa yang kau bilang berat?"

" Aku tidak bilang begitu, kan."

"Fufu."

Langkah kami hanya setengah dari kecepatan saat berjalan dari izakaya menuju stasiun tadi. Temponya semakin lama semakin melambat.

Terasa sedikit sayang untuk segera mengakhiri malam yang begitu menyenangkan ini.

"Hanya untuk hari ini saja!"

Dia menepukkan kedua tangannya.

... Pasti sedang mabuk, nih. Bukan dia, tapi aku.

Kenapa dia sebegitu pedulinya padaku?

Aku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Aku tidak mengerti, tetapi pasti ada suatu alasan di balik tindakannya ini.

"Hanya untuk hari ini, ya. Dan besok lupakan semuanya."

Shiraho mengangguk setuju.

Kalau kami berdua sampai terjatuh, itu akan berbahaya. Entah kenapa rasionalitasku tiba-tiba bekerja di bagian yang aneh. Aku pun menggendong Shiraho dari bangku di dekat sana.

"Wah, tinggi. Fufu, dengan begini aku bisa melihat dunia dari atas."

"Tidak setinggi itu juga kali."

"Enggak, ketinggian segini itu pas banget, lho."

Setelah berkata begitu, dia menjepit tubuhku dengan kedua kakinya.

Sambil memainkan rambutku, Shiraho mulai membuka mulutnya.

" Apakah acara minumnya menyenangkan?"

"Lumayan."

"Bolehkah aku tahu alasannya?"

Sudah pasti jawabannya. Itu karena ada anak ini.

Hanya saja, aku merasa jika aku mengucapkannya, sesuatu akan dimulai, dan sesuatu yang lain akan berakhir.

Apalagi dalam keadaan sadar, tentu saja aku tidak bisa mengatakannya.

Bahkan saat sedang mabuk pun rasanya tidak mungkin.

"Entahlah... Mungkin karena sudah lama aku tidak ikut acara seperti ini."

"Bicara apa, sih~ Padahal kau tinggal bilang dengan jujur kalau itu karena ada aku di sana."

Dia menepuk-nepuk bahuku dengan pelan.

Belum lama sejak kami mulai minum berdua di balkon, tetapi sepertinya aku sudah sangat terikat padanya.

Meskipun aku mencoba untuk menyangkalnya, aku tetap berharap agar waktu ini bisa berlangsung sedikit lebih lama.

Malam ini, rasanya sangat sayang jika harus segera diakhiri.

"Senior, mungkin Senior sudah tidak ingat,"

Suara yang terdengar mengantuk menyapa telingaku.

" Aku... sangat berterima kasih padamu, lho."

Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

"Makanya, suatu saat kalau Senior sedang kesulitan, aku akan..."

Di akhir kalimat yang seolah dipaksakan keluar itu, dia mulai tertidur pulas.

Kejadian hari ini akan kulupakan besok, sepertinya lebih baik aku tidak terlalu memikirkannya.

Sambil merasakan tubuhnya yang sangat ringan di punggungku, aku melangkah di atas jalan beraspal.

" Ah, sialan."

Meskipun hatiku sedang kacau balau, entah kenapa aku merasakan kedamaian yang aneh.

Emosiku bercampur aduk layaknya sebuah koktail.

Dari taman bunga di sudut jalan, samar-samar tercium aroma bunga kinmokusei (osmanthus).

â—† â—‡ â—† â—‡

Senin malam.

Awal dari akhir, keputusasaan, neraka, ada banyak sebutan untuk hari ini, tetapi perasaan para budak korporat yang entah bagaimana berhasil melewati awal minggu ini pasti sama.

Satu minggu lebih telah berlalu sejak acara minum-minum itu, dan aku tidak pernah bertemu dengan Shiraho.

Dari segi kesehatan mental, ini bisa dibilang hal yang bagus...

Sreek, aku membawa kaleng bir dan keluar ke balkon.

Ke mana perginya udara panas dan lembap musim panas, kini angin sejuk berhembus.

Sambil menatap kosong ke langit, aku menempelkan bibir pada kaleng aluminium ini.

"Haa~~~~~"

Memang tegukan pertama selalu yang paling nikmat. Mungkin hal yang sama juga berlaku untuk pekerjaan, asmara, dan segala hal di dalam hidup ini.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Siapa yang menelepon di jam segini.

Sambil memegang ponsel, aku berdoa dalam hati, kumohon jangan sampai ini panggilan urusan pekerjaan.

Nama yang tertera di layar adalah "Hitsuji-chan".

Hitsuji-chan...?

"Halo,"

Aku menekan tombol panggil dan berbicara pada benda kecil berbentuk kotak besi yang dingin ini.

『Ah, diangkat!』

Mengingat hari-hari saat kami selalu mengobrol setiap hari, rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suaranya. Itu adalah suara Shiraho.

Dibandingkan dengan mendengarnya langsung, suaranya di telepon terdengar sedikit lebih kekanak-kanakan.

" Aku tidak ingat pernah menyimpan nomormu."

『Kan aku menyimpannya di ponselmu waktu kita pulang dari acara minum waktu itu~ Apakah kau lupa! Lagipula, padahal kau belum tahu siapa yang menelepon, tetapi kau langsung tahu kalau itu aku hanya dari suaraku, ya!』 Semangatnya tinggi sekali.

Mungkinkah... Waktu aku memasukkan Shiraho yang mabuk ke dalam apartemennya, dia menukar kontak kami di tengah kekacauan itu?

"Jadi, apa maksudnya 'Hitsuji-chan' ini?"

『Itu dibacanya 'You' lho~!』 (TLN: Kanji 羊 bisa dibaca 'Hitsuji' atau 'You') "Oh, ternyata dibaca begitu."

『Eh... baru sadar sekarang...?』

"Bercanda, bercanda, maaf. Aku hanya iseng sedikit."

Karena menggoda dia terasa menyenangkan, aku jadi sering melontarkan candaan ringan.

Tanpa sadar ujung bibirku terangkat membentuk senyuman.

『Kalau ada di depanku, Senior pasti sudah ku-beginikan lho!』 Dari seberang telepon terdengar suara pukulan kecil shyu-shyu.

" Aku tidak bisa melihatnya, jadi aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kau lakukan."

Sifatnya yang seperti inilah yang kumaksud.

『Omong-omong, Senior sekarang sedang ada di balkon, kan?』 "...No komen."

Bagaimana dia bisa tahu?

Sepertinya aku benar-benar harus mencari tahu apakah ada kamera pengawas yang tersembunyi di balkon ini.

『Tidak ada yang bisa kausembunyikan dariku! Jadi begini, aku baru saja keluar dari stasiun terdekat.』

Entah kenapa aku merasa akan ada hal merepotkan yang terjadi.

" Aku tidak akan menjemputmu, lho."

『Aku tidak bilang begitu! Aku mau beli alkohol di minimarket sekarang, jadi tolong jangan tutup teleponnya!』

『Aku baru saja melewati salon kecantikan itu.』

Sambil meneguk minumanku, dia terus memberikan laporan langsung tentang perjalanan pulangnya.

Suara kakinya yang menendang jalan beraspal dan suara gesekan kain terdengar dari jauh.

"Kau sama sekali belum maju, kan."

『Karena kita sedang asyik mengobrol, aku akan pulang pelan-pelan!』 Kalau begitu ya sudahlah.

Aku menggoyangkan kalengku dan setelah memastikan isinya sudah habis, aku masuk ke kamar sebentar untuk mengambil kaleng berikutnya.

"Hari ini dingin, ya."

Karena terkejut dengan perbedaan suhu antara balkon dan kamar, kata-kata itu tanpa sadar keluar dari mulutku.

『Iya, ya~ Musim gugur sudah tiba rupanya.』

Bahkan gumaman tanpa arti pun tidak akan terasa sepi jika ada yang merespons.

『Ah, Senior, Senior, tahu tidak kalau akan ada festival di taman dekat sini?』 " Ah, aku cuma tahu kalau itu diadakan setiap tahun. Tetapi aku belum pernah ke sana."

Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada berjalan sendirian memakai jas sepulang kerja di tengah orang-orang yang memakai yukata (kimono musim panas).

"Kau pernah ke sana?"

『Kalau soal itu............ aku belum pernah!』

"Sama saja denganku. Tidak perlu ditahan-tahan begitu ngomongnya."

『Padahal aku sedang berusaha membuat percakapan kita menyenangkan!

Senioor benar-benar...』

Apakah anak ini sedang mabuk? Atau mungkin ada sesuatu yang terjadi di kantor.

Aku curiga dia menganggapku sebagai karung tinju untuk melampiaskan stres.

"Tetapi menyenangkan juga, ya~ Festival di udara musim panas yang lembap memang seru, tetapi festival di udara musim gugur yang sejuk juga pasti seru."

『Terasa sangat spesial, ya.』

Entah karena aku sedang minum bir, karena kami membicarakan festival, atau mungkin karena keduanya, mulutku mulai ingin memakan makanan khas festival.

Apakah masih ada stok mi

yakisoba instan, ya.

『Jadi, aku punya usul...』

"Boleh."

『Eh?』

"Kubilang boleh. Ayo kita pergi sama-sama."

Di hadapan salah satu dari tiga hasrat utama manusia, yaitu nafsu makan, segala macam hal yang merepotkan menjadi tidak berarti.

『Kenapa Senior bisa tahu apa yang mau kukatakan?』

"Hmm, mungkin karena aku sudah mulai bisa membaca jalan pikiranmu."

『Ini berkat usahaku selama ini, ya!』

"Mana mungkin."

Lebih tepatnya karena aku yang menjadi korbanmu. Atau mungkin karena usahaku sendiri.

Sudah lumayan lama, tetapi apakah Shiraho belum juga sampai di rumah?

"Kau ada di mana sekarang?"

『Satu belokan lagi sampai apartemen.』

"Sudah mau sampai rupanya, kalau begitu aku tutup teleponnya, ya."

Aku tidak terlalu pandai menelepon maupun menutup telepon. Aku tidak pernah bisa menemukan waktu yang pas untuk keduanya.

『Hei Senior, kalau kita』

Entah kenapa suaranya terdengar lebih dekat. Seolah-olah dia sedang duduk di dekatku.

『Kalau kita bisa mengobrol seperti ini, ya,』

Suaranya yang lebih serius dari biasanya dan sedikit terdengar malu-malu itu, membuat jantungku berdebar.

Bisa mengetahui perasaan seseorang hanya dari nada suaranya saja, itu benar- benar...

『Saat aku tidur nanti, aku akan merasa bahwa hari ini adalah hari yang menyenangkan. Kalau begitu, sampai jumpa!』

Panggilannya terputus hampir bersamaan dengan selesainya ia berbicara.

Aku menyalahkan detak jantungku yang berdetak lebih cepat ini pada alkohol, lalu aku pun masuk ke dalam kamarku.

â—† â—‡ â—† â—‡

『Senioor, lihat, lihat~』

Yang dikirimkan adalah foto selfie Shiraho. Entah di izakaya mana, minuman keras dan makanan tersaji di atas meja.

Melihatnya mengenakan gaun berwarna merah tua dengan anting perak, pakaian kasual yang jarang kulihat, membuat mataku membelalak.

"Padahal aku baru saja selesai kerja, lho."

『Aku berniat menyembuhkan rasa lelah Senior dengan foto Shiraho-chan yang super manis ini, lho.』

Dari mana datangnya rasa percaya diri itu... yah, dia memang benar-benar manis, sih.

Entah bagaimana mengatakannya, pertahanannya itu sangat longgar, ya.

"Kau sedang mabuk, kan."

『Kalau cuma segini sih aku masih belum maboook, lho~. Jadi, manis tidak?

Hei, manis, kan?』

Karena bahkan tidak bisa mengetik huruf kanji dengan benar, itu berarti dia benar-benar sedang mabuk.

Cara mabuknya ini terlalu merepotkan. Lagipula, pasti ada orang yang sedang minum bersamanya di depannya, kan.

Saat aku membuka jendela yang menuju ke balkon, angin dingin membelai kulitku. Sudah waktunya untuk berhenti memakai pakaian musim panas.

"Besok kan hari libur, jadi aku mau bersiap-siap untuk tidur sekarang."

『Eeeeh~! Ini kan masih jam seginii.』

Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit, itu waktu yang pas untuk tidur, kan. Sebenarnya sampai jam berapa dia akan terus minum di luar.

Kalau dipikir-pikir, sebentar lagi adalah waktu kereta terakhir, kan...

" Apakah kau akan sempat mengejar kereta terakhir?"

『Hari ini aku akan minum sampai pagiii~~!』

Enak, ya, masih muda. Tepat setelah pemikiran itu terlintas, ponsel di tanganku bergetar. Telepon.

Aku mengetuk ikon telepon berwarna hijau dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

『Ah, permisi. Apakah benar ini dengan Senior-san...?』 Suara yang terdengar di telingaku adalah suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Lho, bukankah ini ponsel Shiraho... Tanpa sadar aku melihat layar ponselku dua kali.

"Eh, seharusnya ini nomor Shiraho, kan?"

『Maafkan saya! Saya adalah teman dari si bodoh ini, nama saya Yuzuki. Kami sedang minum bersama, dan tepat ketika anak ini mulai asyik dengan ponselnya, kecepatan minumnya langsung bertambah.』 Apa yang anak itu lakukan.

『Lalu, tiba-tiba dia tertidur seperti kehabisan baterai dan saya tidak tahu harus bagaimana. Padahal tadi dia begitu bersemangat bilang akan minum sampai pagi.』

Memang, dia hanya pandai berbicara saja.

Dia bertindak terlalu jauh tanpa pikir panjang.

"Haa... Maaf, ya, sudah merepotkanmu."

Meskipun terasa aneh kalau aku yang meminta maaf.

Mau bagaimana lagi.

Shiraho harus berterima kasih karena aku belum mandi dan belum minum alkohol.

"Baiklah, aku akan menjemputnya."

『Saya benar-benar minta maaf... Saya akan mengirimkan lokasinya dari ponsel ini, ya...』

Untuk berjaga-jaga, aku mengganti pakaian santai dengan pakaian pergi dan keluar rumah.

Waktunya sangat mepet dengan kereta terakhir, mungkin pulangnya aku harus menggunakan taksi.

Meskipun dalam hati aku mengomelinya, "Kau kan sudah dewasa, urus saja dirimu sendiri," tetapi aku tidak bisa menahan senyum yang mengembang di bibirku.

Mengikuti aplikasi peta, akhirnya aku tiba di

izakaya tersebut.

Di dalam sana, Shiraho dan Yuzuki-san... kalau tidak salah namanya, sedang duduk.

"Selamat malam, aku datang untuk menjemput orang bodoh yang ada di sana itu."

Yuzuki-san menoleh ke arahku dengan terkejut.

"Senior-san... benar, kan! Terima kasih banyak. Anak ini belum juga bangun."

Yang dia tunjuk adalah Shiraho yang sedang bernapas teratur dalam tidurnya, dengan lengannya yang dijadikan sebagai bantal.

Aku mengumpulkan uang untuk membayar semuanya lalu membawanya keluar.

"Maafkan saya, nanti saya akan mengembalikan uangnya."

Yuzuki-san mengeluarkan dompetnya.

Mungkin karena Shiraho sangat tidak punya akal sehat, Yuzuki-san jadi terlihat sangat waras di mataku.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, biar anak ini saja yang bayar nanti. Anggap saja sebagai biaya ganti rugi karena sudah merepotkan."

Aku menggendong Shiraho dan berjalan menyusuri jalanan malam. Aku tidak menyangka pengalaman menggendongnya beberapa waktu lalu akan berguna di saat seperti ini.

" Anda pacarnya You-chan, kan...?"

Sejenak aku tidak bisa merespons. Oh benar juga, nama anak ini adalah You.

"Bukan, bukan kok. Cuma senior di tempat kerjanya saja."

Yuzuki-san melebarkan matanya karena terkejut.

"Eh, lalu kenapa Anda bisa..."

Kenapa, ya.

Saat ditanya lagi, rasanya sulit untuk menemukan jawaban yang pas.

"Hmm..."

Aku memusatkan perhatian pada beban di bahuku. Apakah anak ini tidak bangun meskipun diguncang-guncang seperti ini?

Hanya karena besok libur, minumnya terlalu berlebihan.

"Mungkin karena aku orangnya tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Tanpa memberikan jawaban yang berarti, aku mendorong Yuzuki-san masuk ke dalam taksi.

Sambil berkata "Untuk sementara pakai ini dulu", aku menyelipkan selembar uang sepuluh ribu yen kepadanya.

Karena aku tidak bermaksud menanyakan alamat rumahnya, aku segera menjauh dan melambaikan tangan padanya. Ah, mungkin sebaiknya aku menanyakan kontaknya untuk berjaga-jaga, ya.

Setelah memastikan taksi yang ditumpangi Yuzuki-san berbelok di tikungan, aku menyentil dahi Shiraho yang ada di pundakku.

"Kau sebenarnya sudah bangun, kan."

"Ugh... Apa maksudnya, barusan karena disentil aku jadi bangun, tahu."

Sambil berpegangan erat padaku, dia menggembungkan pipinya.

"Kelihatannya kau bersenang-senang dengan Yuzuki-chan, ya~~!"

"Kalau kau tidak memanggilku, aku tidak akan bertemu dengannya, tahu."

Aku memperbaiki posisinya di punggungku dan kembali mencari taksi.

Jam-jam segini adalah persaingan sengit, domba-domba malang yang ketinggalan kereta terakhir bergerombol di area

drop-off depan stasiun.

Sedangkan aku benar-benar sedang menggendong seekor domba (Hitsuji)...

Kenapa anak ini tidak berjalan sendiri saja, sih.

"Senioor, ada taksi kosong di sana! Cepat lari!"

Awas saja kau nanti, ya.

Aku mencambuk tubuhku yang sudah lelah akibat bekerja seminggu penuh ini dan memperlebar langkahku.

"Wah, cepat sekali!"

Entah bagaimana aku memenangkan persaingan itu. Aku mendorong Shiraho ke pintu yang terbuka otomatis dan menjatuhkan diriku ke kursi taksi.

Setelah memberitahukan alamat kepada supir, aku mengatur napasku.

Tidak lama kemudian, taksi meluncur tanpa suara ke arah pinggiran kota yang tertidur lelap.

Tangan Shiraho yang diterangi oleh lampu jalanan kota yang temaram, memegang erat lengan bajuku. Aku berpura-pura tidak melihatnya.

â—† â—‡ â—† â—‡

Saat melihat ke luar jendela, hujan turun dengan sangat deras.

Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol "Tutup".

Fuu, aku menghela napas pendek.

Beberapa waktu lalu aku harus masuk kerja di hari Minggu sore untuk urusan mendadak, jadi hari ini aku mengambil cuti pengganti setengah hari. Perasaan bersalah yang menyenangkan saat pulang kerja di siang hari ini rasanya bisa membuatku ketagihan.

Sebuah tas diselipkan ke pintu yang hampir tertutup.

Pintu yang memiliki sensor barang itu terbuka ke dua sisi. Siapa sih orang yang melakukan aksi paksa masuk ala kereta penuh di pagi hari ini.

"Maaf! Sepertinya aku masih bisa masuk... Ah, ternyata Senior, ya. Kembalikan permintaan maafku barusan!"

Orang yang mengucapkannya dalam satu tarikan napas itu adalah, kalian pasti tahu, Shiraho You.

"Tunggu, tunggu, tunggu, aku menerima permintaan maafmu itu, kok.

Daripada soal itu, ada apa buru-buru sekali?"

"Hari ini aku cuti setengah hari lho! Kalau sudah libur, aku tidak mau berada di kantor satu detik pun, kan!"

Suaranya bergema di dalam lift yang sunyi.

Bukannya orang-orang di Departemen Perencanaan itu pada gila kerja semua...

Ternyata ada juga sumber daya manusia yang langka, ya.

Meskipun begitu, aku sangat setuju dengan pendapatnya itu.

Tunggu dulu? Dia bilang cuti setengah hari. Sama dong denganku.

Gawat, kalau begini terus aku bisa-bisa pulang bersamanya. Impianku untuk bermalas-malasan di hari biasa akan...

"Lho, lho, kenapa Senior juga ada di sini di jam segini?"

Seakan menyadari sesuatu, dia melebarkan matanya.

"Yah, begitulah, apa ya,"

Nah, alasan apa yang harus kugunakan sekarang?

Keraguanku sesaat itu langsung terbaca oleh juniorku yang bermata tajam ini.

"Kalau dipikir-pikir, beberapa waktu lalu kau masuk kerja pada hari Minggu sore, kan... Sangat jarang bagi orang Urusan Umum untuk naik lift di jam segini... yang berarti!"

Terdengar suara ping dan kedua budak korporat ini dimuntahkan ke lobi di lantai satu.

Suara sepatu kulit dan sepatu loafer bergema di lantai yang keras.

"Itu artinya Senior juga mengambil cuti setengah hari, kan!"

Dia menunjuk ke arahku. Detektif dari mana, sih.

"... Tebakan yang tepat."

"Hmph hmph, kesempatan emas yang hanya datang seribu tahun sekali ini tidak boleh dilewatkan."

"Tidak mau! Hari ini aku mau pulang dan bermesraan dengan bantalku...!"

Aku yang merajuk seperti anak kecil, merasakan sebuah tangan menyentuh lenganku dengan lembut.

Tanpa sadar aku memeriksa keadaan di sekelilingku. Bagaimana ini, kalau ada yang melihatnya.

Meskipun aku keluar dari kantor seolah melarikan diri, dia masuk ke bawah payungku seolah-olah itu adalah hal yang wajar.

"Setelah bersenang-senang sedikit denganku, kau masih bisa bermesraan dengan bantalmu, kok."

Anehnya, bahuku tidak basah terkena hujan.

Itu pasti karena Shiraho menempelkan tubuhnya lebih dekat dari yang seharusnya. Dan sama sekali bukan karena langkah kaki kami secara alami telah menyamakan ritmenya.

"Jadi, aku mau dibawa ke mana?"

" Awalnya aku berniat belanja santai lalu pulang, sih~"

Pergi berbelanja tanpa tujuan berdua itu sedikit melelahkan, karena tidak ada titik akhirnya.

Terlebih lagi, kalau dilihat dari letak koordinat tempat tinggal kami, lokasi apartemen kami itu berdekatan, jadi secara praktis batas waktu kami adalah sampai kereta terakhir.

"Mumpung sedang hujan, ada tempat yang sejak dulu ingin kukunjungi bersama Senior, lho~"

Sambil ditarik lengannya olehnya, kami berjalan selama beberapa menit, lalu naik kereta dari stasiun yang tidak biasa kugunakan.

"Hei, hei, ditambah ini arahnya berlawanan dengan rumah kita, aku jadi mulai takut, lho."

"Nanti juga kau akan tahu! Aku jamin kau tidak akan menyesal!"

Shiraho menapaki jalanan dengan irama ceria, menjadikan suara rintik hujan yang menghantam payung sebagai musik latar.

Apakah warna gelap sama sekali tidak ada di dunia yang terpantul di matanya?

Dia begitu ceria setiap kali bertemu denganku hingga membuatku salah paham seperti itu.

Meskipun aku tidak ingin mengakuinya, kenyataannya aku merasa terselamatkan oleh keceriaannya itu.

Jika aku memang akan terbawa oleh ritmenya, aku mulai berpikir untuk menikmati situasi ini dengan sedikit lebih positif.

Saat kami sedang membicarakan hal-hal sepele, kami tiba di sebuah bangunan besar dan tampak dingin.

"Tempat apa, ini. Lagipula entah sejak kapan kita sudah berada di kota yang tidak kukenal."

"Tidak sejauh itu dari kantor, kok. Senior memang jarang keluar rumah, kan."

"Oh, ngajak ribut, ya?"

"Meskipun Senior memancing pertengkaran, posisinya sangat tidak menguntungkan bagimu lho?"

Ternyata fakta bahwa aku benar-benar anak rumahan sudah ketahuan.

"...No komen."

"Baiklah, demi menjawab pertanyaan dari Senior yang sudah meminjamkan payungnya, Shiraho-chan yang sangat baik hati ini akan menjawabnya."

Bukan meminjamkan, kau merampas payungku... atau lebih tepatnya menyusup masuk begitu saja, kan. Dasar penumpang gelap.

"Justru karena sedang hujan, aku jadi ingin melihat bintang."

Begitu melewati pintu yang berat itu, udara di sekitar kami berubah.

Angin sejuk yang menyapu kulit, suara orang-orang yang tenggelam di kursi masing-masing.

Termasuk kami, semua pengunjung duduk menyebar.

"Terakhir kali aku datang ke planetarium itu saat aku masih SD..."

Kursi yang empuk ini memanjakan tubuhku yang sudah babak belur akibat bekerja.

Kalau aku menutup mata sekarang, sepertinya aku akan langsung berkelana ke alam mimpi.

Tiba-tiba terasa cubitan lembut di pipiku.

"Jangan tidur lho, padahal kita sudah jauh-jauh datang berdua!"

Bisikan Shiraho mengelus gendang telingaku.

Itu malah menjadi lagu pengantar tidur dan aku... ah, aku harus bangun.

"Sebenarnya sejak dulu aku penasaran, bagaimana cara kau membuat suara keras sambil berbisik seperti itu?"

Kalau ini di novel, kalimatnya pasti punya tanda seru yang banyak.

" Apa yang kau bicarakan, tidak jelas banget, sih."

"Maaf."

Aku langsung mengakhiri pembicaraan dengan cepat. Karena meskipun aku dikejar dengan pertanyaan, aku tidak yakin bisa menjelaskannya dengan baik...

Tepat pada saat itu, lampu di ruangan mulai diredupkan perlahan.

Berbeda dengan perasaan menggebu-gebu seperti saat menonton film atau konser, melainkan sebuah ekspektasi hening yang menyebar di dada, layaknya bara api unggun yang menyala merah redup di saat-saat terakhirnya.

Illustration Di hadapanku, malam benar-benar membentang luas.

Malam yang sangat cerah yang tidak akan pernah bisa dilihat di kota.

Pandanganku dipenuhi oleh bintang-bintang, sampai-sampai aku memikirkan hal konyol seperti, jangan-jangan aku akan terlempar ke angkasa begitu saja.

Terdengar suara tarikan napas tertahan dari sebelahku.

Aku mengerti perasaanmu, Shiraho. Menyaksikan pemandangan ini di hari hujan adalah sebuah kemewahan.

Penjelasan tentang fase bulan dan mitologi rasi bintang mulai diputar.

Kenapa menghubungkan bintang-bintang yang terang bisa membentuk hewan... Orang zaman dulu imajinasinya terlalu liar.

Namun, daripada hanya menatap langit dan berkata " Ah, indahnya" lalu selesai begitu saja, rasanya dunia ini akan jauh lebih menyenangkan jika kita bisa berkata "Bentuk itu seperti angsa, ya" dan di malam berikutnya kita kembali menyipitkan mata untuk mencari bentuk itu.

Di saat itulah aku tiba-tiba berpikir.

Sejak kami mulai bertemu di balkon, jika aku mengumpulkan semua kata-kata yang pernah Shiraho ucapkan selama ini, apakah aku bisa memahami perasaannya? Sama seperti rasi bintang yang kini bersinar terang di atas kepala kami.

Sambil memikirkan hal yang mustahil itu, aku melepaskan ketegangan tubuhku dan menyandarkan berat badanku ke kursi.

"Sangat indah, ya~, Senior!"

"Lebih dari yang kubayangkan."

"Fufu, syukurlah kalau Senior menyukainya."

Dia menggeliat meregangkan tubuhnya dengan nyaman.

"Omong-omong aku belum bertanya, kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke planetarium?"

"Kalau kita mempelajarinya seperti ini, waktu kita di balkon nanti pasti akan jadi lebih menyenangkan, kan."

Dia menjawab sambil menoleh ke arahku.

Saat kami keluar, cuaca sangat cerah seolah-olah hujan tadi hanyalah kebohongan.

Karena baru saja diselimuti oleh malam buatan, melihat cahaya matahari terasa aneh.

Kalau dipikir-pikir, setiap kali aku minum bersamanya di balkon, cuacanya selalu cerah. Mungkin sama seperti sifatnya, Shiraho adalah hare onna (wanita

pembawa cuaca cerah).

Sambil menutupi matanya dari sinar matahari yang mengintip dari balik awan, dia tersenyum gembira.

"Dengan begini aku jadi semakin menantikan acara minum kita nanti. Semoga hari ini kita juga bisa melihat bintang, ya."

â—† â—‡ â—† â—‡

"Kau terlihat kurang bersemangat, ya."

Beberapa hari setelah aku pergi menonton planetarium bersama Shiraho, saat sedang menyeruput mi

cup di waktu istirahat siang, seseorang menegurku dari samping.

Saat aku menoleh, Tomine-san sedang menjepit tamagoyaki (telur gulung) dengan sumpitnya.

"Masa sih? Mungkin karena lelah bekerja."

Ah, kenapa mi cup yang dimakan saat jam istirahat siang selalu terasa senikmat ini.

" Apakah ini karena, Shiraho Senior sedang cuti? Waktu itu kan kau sampai menggendongnya dan berlari ke stasiun."

"Ukh!"

Gawat, daging misterius dari mi cup ini hampir saja tersangkut di tenggorokanku. Jangan-jangan dia melihat kejadian waktu itu.

"A-apa maksudmu."

"Sangat lucu melihatmu tiba-tiba menggunakan bahasa formal saat panik, tolong hentikan."

Anak ini, apakah dia benar-benar anak baru yang baru saja masuk...?

Menurut desas-desus, katanya dia juga sudah akrab dengan orang-orang dari departemen lain. Sepertinya hancurnya wibawaku hanyalah masalah waktu.

"Sampai kapan pun, aku ini tetap junior Senior, lho."

Kali ini sambil memasukkan sosis berbentuk gurita ke dalam mulutnya, Tomine-san berbicara dengan santainya.

"Eh, apakah gadis zaman sekarang bisa membaca pikiran orang?"

"Wajah Senior saja yang sangat mudah dibaca."

Aku meminum teh

barley untuk mendinginkan kepala dan tenggorokanku.

Padahal aku bukan tipe orang yang ekspresinya mudah berubah-ubah.

"Jadi,"

Sambil terus menggerakkan sumpit dan mulutnya, dia kembali berbicara.

" Apakah ini karena Shiraho Senior tidak ada?"

"Mana mungkin."

" Ayo, tatap mataku dan katakan."

Kenapa anak ini sangat agresif, sih.

Aku meraih bahu rekanku yang kebetulan lewat dan menariknya ke arahku.

"Hei, aku sedang di- bully oleh Tomine-san, nih."

Dia menoleh ke arah kami, tersenyum lebar, lalu menyapa Tomine-san.

"Lanjutkan saja. Orang ini belakangan sering berduaan dengan Shiraho, aku iri, jadi kau harus memberinya pelajaran."

"Kami tidak berduaan, logikamu hancur berantakan tahu."

"Padahal waktu itu kalian berduaan di stasiun tengah malam~?"

Hei, jangan menjatuhkan bom dengan suara pelan begitu. Untungnya rekanku sepertinya tidak mendengarnya.

"Sebenarnya, aku memang merasa sepi karena Shiraho-chan tidak ada. Katanya dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan akan mengambil cuti sekitar tiga hari. Kudengar pekerjaan yang kemarin itu juga tinggal menunggu pengiriman barang."

Kenapa orang ini bisa tahu jadwal junior dari departemen sebelah sampai sedetail itu, sedikit menakutkan.

" Apakah dia pulang ke kampung halamannya, ya~"

Setelah menutup kotak bekalnya dengan bunyi

klik, Tomine-san mulai

meminum tehnya.

Dia benar-benar sudah berbaur dengan departemen kami.

"Eh, apakah kampung halaman Shiraho-chan jauh?"

"Seingatku jaraknya sekitar satu jam lebih sedikit naik kereta dari sini, tetapi waktu zaman kuliah dulu, setiap kali dia pulang, dia benar-benar menghabiskan waktu di sana~ Apakah dia bertemu dengan seseorang, ya."

Jangan mengatakannya sambil menatapku, Tomine-san.

Aku tahu kok kalau dia pulang ke rumah orang tuanya. Buktinya, ponsel di dalam tasku ini sedang bergetar sedari tadi.

"Nnnnggg~~~!"

Terdengar suara manis dari sebelahku.

Yang sedang meregangkan tangannya dengan kuat adalah Tomine-san.

Sekarang pukul dua siang lewat sedikit, waktu di mana makan siang yang baru saja dimakan mulai memanggil rasa kantuk.

"Konsentrasimu mulai menurun?"

Saat aku menyapanya, dia tersentak kaget.

"M-maaf!"

"Tidak-tidak, aku bukan menegurmu, kok! Aku yang minta maaf. Mau pergi ke vending machine sebentar untuk mengusir kantuk?"

Saat aku melirik layarnya, sepertinya dia sudah menyelesaikan pekerjaannya sampai di titik yang pas.

Aku mengubah PC-ku ke mode sleep, berdiri, dan mengambil dompet dari dalam tas. Saat aku memutar pinggang, terdengar bunyi krek-krek.

Aku berjalan berdampingan dengan Tomine-san di lorong.

Mungkin karena akhir-akhir ini aku selalu bersama Shiraho, langkah kaki kami tidak seirama. Sial, padahal dia sedang pulang kampung, kenapa dia malah muncul di kepalaku, sih.

"Seandainya saja akhir pekan segera tiba."

Aku bergumam sambil melihat ruangan departemen lain.

"Benar, ya~ Rasanya perbandingan lima hari kerja berturut-turut dengan dua hari libur itu sangat tidak seimbang."

"Benar sekali. Coba saja kalau ada tiga hari libur dalam seminggu..."

"Yah, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi, ya~"

Bagi perusahaan, selama sistem lima hari kerja sudah cukup untuk menjalankan bisnis, mereka tidak punya alasan untuk mengubahnya menjadi empat hari kerja.

Secara matematis, tenaga kerja per minggunya akan berkurang dua puluh persen.

" Ah, atau mungkin,"

Tomine-san melontarkan pertanyaan dengan nada usil yang terdengar menyenangkan.

" Apakah karena Senior bisa bertemu dengan Shiraho Senior kalau akhir pekan tiba?"

Sial, aku sedang digoda oleh junior yang umurnya jauh di bawahku. Namun kalau dipikir-pikir, memang benar akhir-akhir ini waktu di mana aku tidak bersamanya terasa lebih sedikit, dia sudah menjadi bagian dari kehidupanku.

Tentu saja aku tidak akan membeberkannya dengan jujur.

"Mana mungkin."

"Hmm, untuk saat ini anggap saja begitu!"

Sambil mengobrol, kami tiba didepan

vending machine.

"Tomine-san mau kopi? Atau jus atau teh?"

"Eh, benarkah tidak apa-apa...? Padahal saya sudah membawa dompet saya sendiri, lho."

Dia mengangkat dompetnya yang terlihat elegan, tetapi biarkan aku mentraktir untuk hal sekecil ini.

"Tentu saja, aku kan seniormu. Lagipula aku yang mengajakmu ke sini."

"Itu... tidak, kalau begitu bolehkah saya menerima tawaran Anda?"

Shiraho, contohlah dia. Normalnya orang itu akan bersikap sungkan seperti ini.

"Kalau begitu, bolehkah saya minta kopi? Kopi black."

"Tentu saja! Lho, apakah Tomine-san biasanya minum kopi?"

Aku jarang melihatnya minum kopi di ruang Urusan Umum. Seingatku dia selalu minum teh dari botol minumnya.

"Iya, biasanya saya tidak minum kopi, tetapi karena melihat Senior selalu meminumnya dengan sangat nikmat, saya jadi ingin mencobanya."

Ooh... Penuh rasa ingin tahu, ya...

Sesuai permintaannya, aku memasukkan dua keping uang koin seratus yen, dan dua botol kopi kaleng berlabel hitam keluar dengan bunyi klotak.

Kami berjalan kembali menyusuri jalan menuju Departemen Urusan Umum.

"Omong-omong, bagaimana sifat Shiraho saat masih kuliah dulu?"

Sepertinya aku pernah menanyakannya sedikit sebelumnya.

"Shiraho Senior itu, ya... dia sangat populer. Yah, sekarang pun masih sama, sih."

Hal itu sudah bisa kuduga.

"Tetapi, waktu itu dia sama sekali tidak pernah meladeni laki-laki, dan setiap kali ada yang menyatakan cinta, dia akan langsung menolaknya dalam hitungan detik. Dengan sangat dingin pula. Hebatnya, orang yang menyatakan cinta padanya tidak pernah berhenti berdatangan."

Dengan visual seperti itu, sifat yang jahil dan mudah akrab dengan siapa saja, memiliki pendirian yang kuat tetapi juga bisa merasa sedih saat sedang down, dia memang tidak pernah membosankan untuk dilihat.

"Hee~, melihatnya sekarang rasanya sulit untuk dibayangkan, ya."

"Benar, dari sudut pandang saya, justru sifatnya yang sekarang ini yang sulit dipercaya... Shiraho Senior yang dulu sangat tangguh itu kini menjadi sangat manja... Entah siapa pria yang berhasil menjinakkannya, ya."

Tomine-san menatapku lurus-lurus. Rasanya tidak nyaman.

"Entahlah, aku juga tidak tahu."

Kami kembali ke ruang kantor dan duduk di kursi masing-masing. Apakah Tomine-san merasa lebih santai... Pasti dia sudah sangat santai. Dia bahkan bisa menggodaku sampai sejauh itu.

"Senior, semoga Senior bisa segera bertemu dengan Shiraho Senior, ya?"

Tanpa membenarkan atau menyangkalnya, aku meminum kopi kalengku.

Entah kenapa, rasanya sedikit lebih manis dari biasanya.

『Kampung halaman dan cuti adalah kombinasi terbaik』 Sore harinya, saat mengecek ponsel, aku mendapati sebuah pesan masuk. Anak itu... Tanpa sadar aku mendecakkan lidah.

Pengirimnya tentu saja perwakilan junior yang manja, Atlet Shiraho.

Kalau dia ada di dekatku, aku pasti sudah menyentil dahinya.

Dengan niat baiknya (yang menyebalkan), dia bahkan mengirimkan foto seekor anjing besar yang sedang tidur berbaring di ruang keluarga yang luas, yang sepertinya adalah rumah orang tuanya.

『Manis banget, kan』

『Akunya?』

『Bagaimana bisa alurnya nyambung ke situ. Anjingnya, anjingnya』 『Uuugh~ aku kalah dari anjing peliharaan...』

Meskipun kelakuannya seperti ini, dia sangat ahli dalam pekerjaannya.

Mendengar rumor bahwa dia tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja dan tidak akan menyerah pada desainnya sampai dia merasa puas, rasanya seperti sebuah kebohongan.

Wajar saja jika dia diandalkan bukan hanya oleh rekan seangkatan dan junior, tetapi juga oleh senior dan atasannya.

...Melihat tingkah lakunya sehari-hari, wajar saja jika aku sedikit meragukannya.

『Apakah Senior sudah dalam perjalanan pulang sekarang?』 『Belum, hari ini rencananya aku akan lembur』

Tumpukan tugas yang menumpuk di layar PC di depanku bersinar dengan terangnya.

Demi bisa bersantai di hari libur, aku harus menyelesaikannya sekarang.

『Semangaaat!』

Aku membalas dengan stiker (

stamp) sembarangan dan kembali menghadap

PC.

Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua lewat sedikit, ruang kantor Urusan Umum sudah kosong melompong.

Mendengar adanya suara obrolan, sepertinya masih ada orang yang lembur di Departemen Perencanaan sebelah. Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku belum pernah melihat Shiraho lembur sampai selarut ini.

Tumpukan tugas yang setinggi gunung di sore hari tadi, kini sudah menyusut menjadi sebesar gundukan pasir.

Saat bersiap untuk pulang, aku melihat lampu notifikasi ponselku menyala.

『Tadi aku lupa bertanya, apakah Jumat malam minggu ini Senior ada acara?』 『Aku berencana untuk tidur sepuasnya...』

『Itu artinya Senior ada di rumah, kan! Terima kasih banyak!』 Untuk apa dia berterima kasih padaku.

『Aku sedang tidak ingin keluar rumah.』

『Di balkon seperti biasa sebentar saja, bolehkah?』 Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku belum sempat bersantai di balkon.

Cuacanya sudah mulai sejuk, ini adalah musim yang tepat untuk minum di luar.

Akhir-akhir ini aku juga sudah terbiasa dengan ajakan mendadak dari juniorku ini. Inikah yang namanya ikatan?

『Aku akan membelikan oleh-oleh untukmu! Ah, tetapi kalau Senior benar- benar keberatan, tolong tolak dengan jelas, ya.』

Mendengar hal itu, aku pun berpikir.

Kalau ditanya apakah aku keberatan, jawabannya adalah tidak. Apakah karena dia cantik? Karena dia populer? Tentu saja bukan karena alasan dangkal semacam itu.

Sudah beberapa tahun berlalu sejak aku dilepas ke masyarakat. Selama ini, tidak pernah ada orang yang terlibat begitu dekat dengan kehidupanku.

Entah karena takdir apa, berkat dia hari-hariku menjadi lebih berisik namun menyenangkan, dan hal itu adalah sebuah fakta.

『Tidak, aku akan menunggumu.』

Hanya membalas itu, aku menutup ponselku.

Aku merasa hatiku sedikit lebih ringan dibandingkan saat aku baru mulai lembur tadi.

â—† â—‡ â—† â—‡

Hari Jumat, aku dihadapkan pada wajah muram Tomine-san.

"Senior, saya benar-benar minta maaf."

Saat aku bertanya ada apa, ternyata dia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya dan menyebabkan masalah bagi pihak klien.

"Kau hebat sudah berani melapor, tunggu sebentar, ya."

Aku meninggalkan Tomine-san di kursinya dan pergi ke bagian belakang ruangan.

Aku menjelaskan situasinya kepada Kepala Bagian. Dari yang kudengar, sepertinya pihak klien tidak terlalu marah.

Masalah ini tidak perlu sampai melibatkan Kepala Bagian.

"Bawalah Shiraho bersamamu."

Meskipun dengan tanda tanya yang melayang di kepalaku, aku mengangguk menuruti perintah Kepala Bagian. Aku kembali ke mejaku dan menekan nomor ekstensi.

『Ya, Departemen Perencanaan, dengan Shiraho di sini.』 『Kerja bagus, ini dari Departemen Urusan Umum,』

Tepat saat aku hendak menyebutkan namaku, suaranya memotong napasku.

『Hmm, suara ini pasti Senior, kan? Ayo, ayo, silakan sampaikan keperluan Anda!』

Dia mulai berbicara dengan nada yang jauh lebih ceria dibandingkan saat dia baru mengangkat telepon tadi.

"Maaf, aku juga belum terlalu paham situasinya, tetapi masalah Tomine-san..."

『Oya? Senior juga akan ikut? Untuk permintaan maaf, kan! Kepala Bagian sudah memberitahuku~』

Mana ada orang yang pergi meminta maaf dengan semangat setinggi ini.

"Iya, entah kenapa Kepala Bagian kami menyuruhku membawamu ikut serta."

『Aah~! Tempat itu, sebelumnya aku sudah sa~ngat membantu mereka, lho.

Jadi serahkan saja padaku.』

Tanpa sadar sosok Shiraho yang sedang mengepalkan tangannya memamerkan otot (

biceps) muncul di kepalaku.

Aku menggelengkan kepalaku untuk menghapus ilusi itu, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.

"Sejujurnya ini sangat membantu, tetapi apakah benar-benar tidak apa-apa?

Bisa dibilang ini kan berkat prestasimu."

『Dengarkan aku, Senior. Budi seperti ini harus segera dimanfaatkan selagi mereka masih mengingatnya, tahu! Apalagi jika ini demi junior kita, Tomine- chan!』

Kalau dia sudah berkata sampai sejauh itu.

"Kalau begitu, kali ini aku akan mengandalkanmu."

Dari sudut pandanganku, kulihat Tomine-san masih menunduk lesu.

Satu per satu senior lain di sekitarnya memberikan camilan padanya, dari mana sih mereka semua mendapatkan makanan manis sebanyak itu.

Bahkan Kepala Bagian dengan diam-diam meletakkan kue ala Barat (yogashi) yang lumayan mahal di mejanya. Anak baru memang selalu disayang.

『Bukan cuma kali ini saja, Senior boleh mengandalkanku kapan pun, lho. Di sini (hatiku), untuk Shiraho-chan, selalu terbuka untukmu.』 "Jangan bicara sembarangan di tempat kerja. Bagaimana kalau ada yang dengar."

『Hmm, kalau begitu itu artinya aku yang menang! Baiklah! Di lobi lantai bawah lima belas menit lagi, oke?』

Aku jadi tidak mengerti apa definisi menang dan kalahnya.

Satu hal yang pasti, aku belum pernah menang sekalipun darinya.

Aku meletakkan gagang telepon dan memanggil Tomine-san.

"Baiklah, ayo kita berangkat."

Aku mengenakan jaketku dan membawa tas.

Sebelum keluar, aku melapor pada Kepala Bagian. Setelah bertukar satu atau dua patah kata, kami akhirnya keluar dari Departemen Urusan Umum.

Setelah beberapa tahun menjadi pekerja kantoran, hal-hal seperti ini sudah menjadi biasa.

Dengan sepatu kulit yang terasa sedikit lebih sulit untuk dipakai berjalan dari biasanya, aku melangkah menuju area lift.

Kesimpulannya, permintaan maaf itu berjalan dengan sangat lancar. Sudah kuduga, membawa Shiraho adalah keputusan yang tepat.

Sesaat setelah kami memasuki ruang rapat klien, pembicaraan tentang kabar terbaru dimulai dengan suasana yang sangat bersahabat, sampai-sampai mataku membulat. Sepertinya kehadiranku tidak diperlukan di sini.

Tomine-san yang dari awal terus terlihat gugup, pada akhirnya bisa berkomunikasi dengan klien sambil tersenyum, membuatku merasa lega.

"Bagaimana? Di luar dugaan aku ini sangat kompeten, kan?"

Sambil tersenyum lebar nihehe, dia menoleh ke arahku.

Jalanan aspal disinari oleh cahaya matahari sore. Bayangan gedung-gedung yang bergoyang menutupi kami.

Para pekerja kantoran yang pulang kerja yang mulai terlihat di pandanganku juga melangkah dengan ringan, wajar saja, hari ini hari Jumat.

"Iya, padahal kau ini sangat ceroboh sampai mabuk berat di kedai dan memanggilku... tetapi hari ini kau sangat membantu."

"Bagian awalnya itu tidak perlu!"

Melihat interaksi kami, Tomine-san yang berjalan sedikit di belakang kami tersenyum.

"Kalian berdua akrab banget, ya."

" Apanya yang akrab."

"Lihat, lihat! Hal-hal seperti ini yang selalu dia katakan!"

Shiraho menusuk-nusuk perut sampingku, apakah dia anak SD?

Anak ini, jarak personalnya terlalu dekat.

"Bagaimana rasanya permintaan maaf pertamamu, Tomine-san?"

"Saya sangat gugup... Padahal saya yang salah, tetapi orang lain yang harus meminta maaf itu rasanya..."

"Rasanya lebih menyesakkan dari yang dibayangkan, ya~~"

Jaket Shiraho yang melipat tangannya berkibar tertiup angin.

Melihat juniorku yang bersikap layaknya seorang senior, entah kenapa membuatku merasa geli. Rasanya seperti atributku sendiri sedang terurai dan runtuh.

Haa, Tomine-san menghela napas.

Aku dan Shiraho tanpa sadar saling berpandangan dan mengangguk.

(Hari ini kau sudah bisa pulang?)

(Tentu saja, lagipula kita sudah berjanji untuk minum di balkon, kan!) (Itu bukan janji namanya)

Kami berdua perlahan memperlambat langkah dan berjalan sejajar dengan Tomine-san.

Meskipun tadi dia berbicara dengan ceria bersama klien, sepertinya itu hanya pura-pura tegar, setelannya juga terlihat sedikit kusut.

"Tomine-chan! Pekerjaan hari ini sudah selesai! Ya, kan? Senior."

Shiraho berbicara dengan nada yang beberapa tingkat lebih ceria dari biasanya.

"Benar juga, nanggung kalau kita kembali ke kantor sekarang."

Aku berpura-pura memeriksa jam tanganku.

Tomine-san hanya mengedipkan matanya dengan bingung.

"...Ehem, jadi karena itu."

"Jadi karena itu, ayo kita pergi makan ramen sekarang!"

Setelah berkata begitu, Shiraho pindah ke belakang Tomine-san dan mendorong punggungnya kuat-kuat.

Dari luar, mereka terlihat seperti kakak beradik yang akrab.

Melihat mereka berdua, aku merasa hari Jumat seperti ini juga tidak buruk.

Agar tidak tertinggal oleh junior-juniorku, aku sedikit mempercepat langkah sepatu kulitku.

Setelah makan ramen dan Tomine-san terlihat sedikit lebih ceria, kami mengantarnya sampai ke stasiun terdekatnya, dan kini kami duduk berhadapan. Tentu saja, di balkon seperti biasa.

"Hei, minggu ini aku sudah bekerja keras, aku ingin cepat tidur, lho."

"Sebentar saja, kok!"

Sambil berkata begitu, dia mengangkat kaleng berwarna emasnya.

Hari ini pun, kulit putihnya terpampang jelas tanpa ragu, apakah dia tidak kedinginan?

Sebaliknya, aku memakai hoodie yang tebal, rasa berat ini memberiku rasa aman.

Jika gelas sudah diangkat, tidak mungkin aku tidak membalasnya.

Dengan enggan, aku mengangkat kaleng perakku menyesuaikan tinggi kaleng Shiraho.

"Bersulang..."

"Bersulang!"

Seolah memberikan pukulan tambahan pada perut yang sudah terisi ramen, minuman berkarbonasi berwarna emas itu diteguk tanpa ampun.

Ugh, ini sedikit berat, ya. Apakah ini yang namanya faktor usia. Padahal waktu zaman kuliah dulu minuman sebanyak ini tidak ada apa-apanya.

"Jadi, ada apa sampai kau sengaja membuat janji segala?"

Apakah tentang pekerjaan lagi? Tidak, pasti bukan tentang pekerjaan.

Meskipun kami sering menghabiskan waktu bersama, aku tidak terlalu tahu banyak tentang kehidupan pribadinya.

"Sabar, sabar, jangan terburu-buru begitu."

Dia meletakkan kalengnya di pinggiran balkonku, dan mengarahkan telapak tangannya padaku.

Sepertinya dia pura-pura tidak dengar kalau aku bilang aku mengantuk.

"Omong-omong, syukurlah Tomine-chan sudah kembali ceria, ya~"

Angin musim gugur membelai rambut Shiraho.

Rambutnya sudah jauh lebih panjang dibandingkan saat pertama kali kami bertemu di balkon.

"Iya, mungkin itu kesalahan pertamanya sejak masuk ke perusahaan kita."

"Pantas saja dia sangat

down, ya."

Mengikuti gerakanku yang meminum dari kaleng, dia juga menenggak birnya.

Dalam waktu dekat ini siapa dari Departemen Perencanaan yang akan menikah lah, di Urusan Umum ternyata banyak pegawai wanitanya lah, Shiraho mulai membicarakan gosip-gosip di dalam perusahaan.

Karena sumber informasiku satu-satunya hanyalah dia, pengetahuanku tentang hal-hal seperti itu sangat bias.

Lain kali kalau aku ikut acara minum-minum, aku akan diam saja dan bersikap tenang...

"Jadi begini, Senioor."

Mungkin karena mulai mabuk, wajah Shiraho sedikit memerah.

" Aku punya sedikit permintaan..."

Dia tiba-tiba memalingkan pandangannya. Keberaniannya yang tadi entah menguap ke mana, bahkan tubuhnya terasa menyusut menjadi lebih kecil.

"Yah, karena kau sudah menolongku hari ini... Selama itu bukan hal yang terlalu aneh, aku akan mendengarkannya."

"Hmm... Bagiku ini permintaan yang cukup besar, lho~..."

Mungkin birnya sudah habis, kaleng yang dia pegang dengan jari telunjuk dan jari tengahnya itu terombang-ambing ditiup angin.

Fuu, aku menghela napas dan menatap langit.

Meskipun tersembunyi di balik awan, bulan tetap menyinari kami. Orang bilang musim panas identik dengan malam, musim gugur identik dengan senja, tetapi menurutku kita harus menikmati langit di setiap musim; semi, panas, gugur, dan dingin.

"Yah, aku akan mendengarkannya dulu."

"Kalau begitu, ehem!"

Dia sengaja menempelkan kepalan tangannya ke mulut dan terbatuk pelan.

"Senioor, tolong jadilah pacarku untuk satu hari bulan depan!"

Padahal tidak mungkin, tetapi entah kenapa, cahaya bulan yang mengintip dari balik awan itu terasa memancarkan kehangatan.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar