"Hah?"
Karena tidak mengerti maksudnya, mulutku tanpa sadar terbuka lebar.
" Aku pikir lebih baik menyampaikan intinya terlebih dahulu~"
Wajah Shiraho yang sedang memainkan jarinya dengan gelisah semakin lama semakin memerah.
Bahkan orang sepertiku pun tahu bahwa ini bukan hanya karena efek alkohol.
"Tidak, bahkan setelah kau menjelaskan kronologinya, aku tetap tidak mengerti maksudnya."
Eh, jalan pikiranku ini tidak salah, kan.
Tolong beri tahu aku jika ada pihak ketiga yang melihat ini, siapakah yang lebih masuk akal di antara kami berdua saat ini.
"Yah, karena aku sudah mengucapkan hal yang memalukan, anggap saja sekarang aku sudah pasrah pada nasib..."
Dengan ekspresi lega, dia mulai bercerita. Sementara perasaan gundah di dalam hatiku malah semakin menumpuk.
"Beberapa waktu lalu aku pulang ke rumah orang tuaku, kan."
" Ah, waktu kau mengirim foto anjing manis itu, ya."
"Itu tidak penting! Ya ampun!"
Enak, ya... Di masa depan aku ingin memelihara anjing atau kucing. Agar bisa mewujudkannya, suatu saat aku harus pindah rumah.
Aku menatap Shiraho dengan pandangan kosong dan tidak fokus. Kaleng minumanku belum juga habis.
Dia mengeluarkan kaleng baru dari bawah jendelanya dan membuka tutupnya dengan kasar.
Baru saja dia menenggaknya, terdengar bunyi
brak! saat dia meletakkan kaleng
itu di balkonku.
"Lalu, ayah dan ibuku bertanya apakah aku punya seseorang yang kusukai.
Karena aku mengabaikannya, mereka bilang 'Kalau begitu kami akan mengatur perjodohan untukmu!'..."
"Lalu bagaimana ceritanya bisa berakhir dengan memintaku menjadi pacarmu, apanya cuma untuk satu hari."
Shiraho kembali memalingkan wajahnya.
Hari ini ekspresinya sering sekali berubah-ubah, ya. Padahal di depan Tomine- san dia bersikap sangat dewasa sebagai seorang 'senior'.
"Bagiku perjodohan itu sama sekali bukan pilihan, jadi karena terbawa emosi aku bilang, 'Nanti aku akan bawa pacarku ke sini!'..."
Seharusnya tolak saja dengan biasa, membuat pacar bohongan sekarang pasti sangat merepotkan, lagipula aneh sekali kalau tiba-tiba namaku yang muncul di situ, kalau kau datang sekali pasti akan ada permintaan untuk datang lagi, kan—berbagai macam pikiran berputar di kepalaku.
Pada akhirnya, kata-kata yang keluar dari mulutku adalah, "Orang sepertimu pasti bisa memilih pria mana pun di luar sana dengan mudah, kan."
Aku merasa waktu berhenti sesaat. Ekspresinya juga membeku.
"Haaaaah~~~~~"
Dia menghela napas panjang, menggenggam kalengnya erat-erat, lalu memiringkannya. Mungkin karena isinya sudah habis, suara yang terdengar di balkon terasa ringan.
"Senior benar-benar tidak mengerti a~pa pun!"
" Aku benar-benar tidak mengerti apa pun, bahkan saat ini juga."
"Bukan, eh, memang kau tidak mengerti, tetapi bukan itu maksudku!"
Kenapa Shiraho yang seharusnya berada di posisi memohon malah bersikap sebegitu agresifnya...
"I-intinya, bisakah kau meluangkan waktumu untuk satu hari saja di bulan depan?"
Hmm... Permintaannya datang di saat yang sangat sulit untuk ditolak.
Awalnya aku benar-benar mengira ini adalah pembicaraan soal pekerjaan.
"Mau bagaimana lagi."
Dengan mudahnya otakku menyatakan kekalahan.
"Oh, kalau begitu, kalau begitu?"
Wajah Shiraho langsung cerah seketika. Anak ini sungguh memiliki wajah yang cantik.
"Hanya untuk satu hari, ya."
"Horeee! Terima kasih banyak!! Kalau begitu, mari, mari, minum ini juga!"
Setelah dia merogoh-rogoh sesuatu, sejumlah besar kaleng bir dijajarkan.
"Dari mana alkohol sebanyak ini muncul."
" Aku membeli banyak bir untuk bersiap-siap mabuk kalau-kalau Senior menolaknya! Satu kardus penuh!"
"Syukurlah aku menerima permintaanmu ini... Hati (liver)-mu jadi terselamatkan... eh, apakah ini hal yang bagus?"
"Tentu saja bagus!"
Dengan tanda tanya yang masih melayang di kepalaku, aku menerima kaleng bir yang dia tawarkan.
Padahal aku berencana untuk tidur lebih awal hari ini.
Ah, karena sudah setuju, aku harus menyiapkan berbagai hal agar tidak ketahuan, ya.
Pikiran-pikiran yang tidak sesuai dengan suasana saat ini muncul dan menghilang silih berganti.
Bulan sabit yang terlihat melalui matanya yang indah, perlahan-lahan menurunkan ketinggiannya.
â—† â—‡ â—† â—‡
Liburan usai dan hari Senin tiba. Mungkin karena kejadian itu, aku merasa lelah secara mental dan tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Sambil mengucek mataku yang mengantuk, aku mengganti pakaian dengan setelan jas, lalu pergi ke lobi apartemen sambil meminum kopi botolan yang sudah kubeli sebelumnya.
" Ah, selamat pagi!"
Shiraho berlari kecil menghampiriku sambil menenteng tasnya di samping kaki.
"?"
Otakku tidak bisa memproses situasi ini, aku membeku dengan mata terbelalak.
"Kenapa wajahmu seperti itu di pagi hari begini."
"Tidak-tidak, justru kenapa kau ada di sini."
Meskipun kamar kami saling berhadapan, pintu masuk apartemen kami berada di arah yang berlawanan.
Kecuali jika dia sengaja datang ke sini, dia tidak mungkin berada di pintu masuk apartemenku.
"Tentu saja untuk berlatih menjadi sepasang kekasih. Ayo, ayo, kita berangkat kerja!"
Dia meraih lenganku dan menyeretku menuju stasiun.
" Aku bisa berjalan sendiri, jadi lepaskan."
"Tidaaak mau! Mulai hari ini sampai aku pulang ke rumah orang tuaku nanti, kita akan pergi seperti ini."
Lengan bajunya bergesekan dengan pakaianku.
Sudah musim gugur rupanya. Musim gugur... Musim gugur untuk nafsu makan, musim gugur untuk olahraga, musim gugur untuk seni... Sepertinya bagi budak korporat, tidak ada hal yang relevan selain makan.
"Eh, aku benar-benar tidak mau... Apakah aku harus bekerja remote
sepenuhnya dan mengambil cuti selama sekitar sebulan... Aku tidak ingin menarik perhatian."
Aku menghitung sisa hari cutiku di dalam kepala. Ya, itu mungkin saja.
"Tentu saja tidak boleh! Tomine-chan pasti akan kesulitan nanti."
Shiraho segera melepaskan tangannya dengan panik.
"Benar juga, ya."
"Ya ampun! Tolong jangan langsung memasang wajah serius seperti itu, aku jadi berpikir kalau kau sedang bersungguh-sungguh."
Anak ini benar-benar penuh energi sejak Senin pagi, ya. Bukankah semua orang biasanya merasa murung di awal minggu.
Andai saja hari Rabu adalah hari libur. Hari kerja apa pun akan terasa lebih ringan jika berada tepat sebelum atau sesudah hari libur.
"Lalu, apa yang harus kulakukan sebagai pacarmu?"
"Hmm, aku juga tidak tahu... Mungkin kita bisa mencoba berpegangan tangan?"
" Apakah kau sanggup berpegangan tangan dengan pacarmu di depan orang tua kandungmu?"
Selama beberapa detik, keheningan menyelimuti kami.
Hanya suara sepatu kami berdua yang bergesekan dengan aspal yang terdengar.
Ah, seharusnya aku menolak permintaan ini. Terlalu merepotkan.
"T-tidak mungkin..."
Setelah berkata begitu, Shiraho perlahan mundur setengah langkah dariku.
Sebagai orang yang pernah menggendongnya saat mabuk, aku merasa ini sudah sangat terlambat untuk dihindari.
"Lalu, bagaimana kalau memanggil nama depan?"
Kenapa malah aku yang memberikan usul.
Bahkan jika rencana ini gagal, Shiraho hanya akan dijodohkan, jadi seharusnya aku tidak perlu berusaha sekeras itu.
"Itu ide bagus! Tetapi bagiku, Senior tetaplah Senior... Memanggil dengan nama depan di saat seperti ini rasanya agak canggung."
"Itu artinya hanya aku yang dirugikan, kan."
"Tetapi Senior, kau sendiri yang mengusulkannya, kan? Ayo, panggillah aku, panggil aku You."
(TLN: Nama lengkap Shiraho adalah 白帆 羊. Kanji 羊 (Hitsuji / domba) di sini dibaca sebagai "You" (dibaca: Yō panjang, bukan you bahasa Inggris). Di Chapter 3, Shiraho pernah memberitahu MC bahwa nama depannya dibaca "You".)
Aku bisa merasakan wajahku memerah.
"You, apakah begini cukup?"
Hal-hal yang memalukan sebaiknya diselesaikan dengan cepat.
"I-iya... Ini efeknya cukup kuat, ya..."
Shiraho tiba-tiba menjadi penurut.
Apakah kami akan melanjutkan ini selama sebulan penuh? Tubuhku tidak akan kuat menahannya.
"Tetapi kita harus membiasakan diri! Kumohon bantuannya!"
Meskipun terdengar seperti keceriaan yang dipaksakan, aku berpura-pura tidak menyadari bahwa wajah kami berdua sama-sama memerah.
Suara pengumuman kedatangan kereta terdengar samar-samar.
Meskipun kami mengobrol cukup banyak, aku merasa tiba di stasiun lebih cepat dari biasanya.
"Selamat pagi! Lho?"
Saat aku tiba di kantor dan meletakkan tas di mejaku, Tomine-san menyapaku.
"Hm?"
" Apakah terjadi sesuatu yang menyenangkan?"
Dia meletakkan jari di dagunya dan menatapku.
"T-tidak... Tidak ada apa-apa kok..."
Kenapa insting wanita di sekitarku begitu tajam, ya? Bukan berarti menjadi pacar Shiraho selama sehari adalah "sesuatu yang menyenangkan", lho.
Aku sedang mencari alasan untuk siapa sebenarnya.
"Hmm, kalau begitu mungkin itu hanya perasaanku saja."
Dia memiringkan kepalanya.
"Omong-omong, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
Aku perlu menanyakannya sebagai referensi untuk masa depan. Terutama sebagai persiapan menghadapi Shiraho.
"Saya tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi hanya merasa begitu saja?
Mungkin dari cara jalan atau ekspresi wajah Anda, ya~"
"...Aku akan berusaha untuk lebih berhati-hati."
Aku menyalakan PC-ku dan mencoba menutupi kegugupanku.
" Ah, benar juga. Tadi saya bertemu Shiraho Senior di lorong, dan"
Tomine-san masih berniat melanjutkan pembicaraannya. Nada suaranya yang terdengar menyenangkan membuat bulu kudukku berdiri. Jangan-jangan anak ini sebenarnya jauh lebih licik?
Mungkinkah dia tahu cerita tentang aku menggendong Shiraho, atau bahkan fakta bahwa kami tinggal bersebelahan... Tidak mungkin, kan.
Jika dia sampai menyadari cerita tentang pacar bohongan ini, aku hanya bisa mengangkat tangan dan menyerah.
"Oh, begitu."
Aku mencoba menanggapi dengan santai seolah-olah tidak peduli.
"Dia terlihat sangat senang dan melompat-lompat kecil."
Apa yang anak itu lakukan... Aku menahan keinginan untuk menepuk dahiku dan meletakkan tanganku di atas keyboard.
『Berkumpul di persimpangan jalan tidak jauh dari kantor.』 Tepat sebelum waktu istirahat siang, aku mengirim pesan kepada Shiraho melalui
chat.
Mengingat Tomine-san mulai menyadari sesuatu, aku perlu merencanakan strategi agar tidak ketahuan.
"Senioo~r!"
Saat aku sedang melihat ponsel untuk mencari tempat makan siang, aku merasakan tepukan ringan di punggungku.
"Maaf ya, tiba-tiba memanggilmu."
"Tidak apa-apa! Panggilan dari Senior selalu kuterima dengan senang hati!"
Aku berjalan berdampingan dengannya.
Jarak yang begitu dekat hingga bahu kami hampir bersentuhan ini membuatku merasa waspada. Apakah dia dan aku melakukan ini tanpa sadar...!
"Jadi, ada apa? Bukannya membicarakan ini sepulang kerja, kau malah sengaja mengajakku bertemu di jam istirahat siang... Jangan-jangan kau ingin berlatih pura-pura jadi pacar? Seniooor~!"
Shiraho menusuk-nusukkan kepalan tangannya ke bahuku. Sial, menyebalkan sekali.
"Bukan! Karena ini tempat umum, bolehkah kita membicarakannya sambil makan?"
Kawasan perkantoran saat jam istirahat siang itu rawan, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di sekitar kita.
"Baaiik. Ah, kalau begitu aku mau makan itu!"
Tempat yang dia tunjuk adalah restoran Italia mewah yang tidak akan pernah kumasuki jika aku sendirian.
Saat aku membuka pintu kacanya, terdengar dentingan bel yang merdu.
"Selamat datang~ Untuk berapa orang?"
Aku memberi tahu pelayan bahwa kami berdua, lalu duduk di kursi yang diarahkan.
" Aku baru pertama kali ke sini."
Entah kenapa aku merasa canggung berada di sini dengan setelan jas. Mungkin karena interiornya atau pengunjung lainnya.
"Eh, benarkah? Karena jaraknya tidak terlalu jauh untuk dijangkau saat istirahat siang, aku lumayan sering ke sini lho. Ah, tentu saja saat aku sendirian atau bersama wanita lain, ya?"
" Aku tidak bilang apa-apa, kan."
"Kupikir kau mungkin akan cemburu."
Tanpa sadar aku menghela napas. Jalan pikirannya terbuat dari apa, sih.
"Fufu, aku hanya bercanda, kok."
Wajah Shiraho tertutup oleh buku menu, tetapi aku yakin dia sedang tersenyum menyeringai.
"Omong-omong, kita harus kembali sebelum jam istirahat selesai, jadi ayo kita putuskan dengan cepat."
Hmm, aku tidak pernah makan pasta untuk makan siang, jadi ini cukup membingungkan.
Kalau memesan yang banyak bawang putihnya bisa mengganggu pekerjaan, tetapi kalau memesan sesuatu yang bisa kubuat sendiri di rumah rasanya rugi.
Keheningan berlangsung selama beberapa menit.
Saat aku tiba-tiba mendongak, Shiraho sedang menatapku dengan mata menyipit.
"Maaf, aku lama memilihnya."
"Tidak apa-apa! Aku sudah senang hanya dengan melihat Senior yang sedang kebingungan."
Entah kenapa aku merasa malu dan memalingkan pandanganku. Padahal cuaca sudah mulai sejuk, tetapi wajahku terasa panas.
"Jadi, apakah Shiraho sudah memutuskan?"
"Senior, jangan panggil aku Shiraho~, sekarang kan hanya ada kita berdua."
" Ah, aku tidak dengar. Aku sudah memutuskan."
"Sungguh, kau benar-benar pemalu, ya."
Siapa sebenarnya yang tersipu malu saat aku pertama kali memanggil nama depanmu waktu itu.
"Kalau begitu ayo kita pesan! Omong-omong, biar kutebak apa yang akan Senior pesan, ya?"
"Silakan saja, mungkin kau tidak akan bisa."
"Fufu, kita lihat saja nanti~ Kalau ada ujian tingkat pengenalan Senior, aku pasti akan mendapat sertifikat tingkat satu, lho."
Dari mana datangnya kepercayaan diri itu.
Aku berpikir sejenak. Jika memang ada ujian tingkat pengenalan Shiraho, apakah aku bisa menjawabnya?
Hampir dipastikan aku akan gagal.
"Tetapi kalau Senior masih belum mengenalku dan tidak bisa mendapat nilai bagus, itu artinya kau bisa mengenalku lebih jauh lagi, jadi itu juga hal yang bagus!"
Sangat menyeramkan. Bagaimana kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan.
" Apakah kau benar-benar bisa melihat ke dalam kepalaku?"
"Inilah kemampuan dari pemegang sertifikat tingkat satu pengenalan Senior...
Candaan disingkirkan, ekspresi wajah Senior itu sangat mudah dibaca lho.
Buktinya sekarang dahimu sedang berkerut."
Dia tertawa sambil membunyikan bel di atas meja.
"Omong-omong, Senior pasti berniat memesan sup pasta tuna dan tomat, kan?
Benar tidak?"
Tebakan yang tepat. Tidak perlu ada ujian lagi, tolong seseorang beri dia sertifikat tingkat satu sekarang juga.
Aku menghabiskan sup pasta yang tidak akan pernah kubuat sendiri di rumah itu, lalu keluar dari restoran. Rasanya sangat lezat.
Meskipun sekitar dua puluh persennya dirampas oleh Shiraho.
Setelah itu, apakah sebuah keuntungan bahwa dia memaksa menyuapkan pastanya ke dalam mulutku? Tidak, kalau dipikir-pikir itu bukan keuntungan.
Hal menyedihkan macam apa yang membuatku disuapi dengan " Aaa" oleh juniorku di jam istirahat siang kantor?
Sambil mengusap perutku yang kenyang, kami berjalan kembali ke arah kantor.
" Ah, karena terlalu fokus pada pasta, aku sampai lupa."
"Senior yang sibuk memutar garpu untuk mencegah pastanya kuambil juga sangat lucu, lho."
Kami berjalan berdampingan seperti saat kami berangkat tadi.
"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Jadi begini, tadi pagi Tomine-san menanyakan hal yang mencurigakan kepadaku."
" Aah~~ Tomine-chan juga bertanya padaku ' Apakah terjadi sesuatu yang menyenangkan?'. Yah, aku membalasnya dengan acungan jempol, sih."
Kurangnya kewaspadaan ini benar-benar...
"Mari kita usahakan untuk tidak sering bertemu di kantor, gawat kalau sampai ketahuan."
Shiraho tampak berpikir sejenak.
Lalu, dia menurunkan ujung matanya, menghela napas pendek, maju selangkah di depanku, dan menoleh ke belakang.
"Bagiku, meskipun ketahuan juga tidak apa-apa. Malahan itu lebih menguntungkan untukku."
Kata-kata yang diucapkannya dengan pelan itu, melewati telingaku dan tersapu oleh angin di kawasan perkantoran.
"Yah, apa pun itu, kencan makan siang kita sangat menyenangkan! Ayo kita pergi lagi nanti."
Dia langsung berlari menyeberangi lampu lalu lintas yang mulai berkedip.
Aku yang tidak sempat bereaksi dan tertinggal di belakang, hanya bisa memandangi Shiraho yang melambaikan tangannya.
Kenapa aku merasa sedikit sedih setelah mengatakan hal itu, apakah karena aku sudah terpengaruh olehnya?
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang kurang di sisi kiriku.
Saat aku kembali ke mejaku dan meminum kopi di sisa waktu istirahat yang tinggal sedikit ini, ponsel di sakuku bergetar.
Nama junior yang baru saja bersamaku menghiasi layar.
『Kalau di kantor tidak boleh, biarkan aku bermanja-manja di balkon, ya?』 Ternyata, dia memang bisa membaca segalanya.
â—† â—‡ â—† â—‡
"Jadi, karena itulah kita ada di sini sekarang."
"Karena apa maksudmu."
Di depan kami, deretan kedai makanan dengan lampion yang menggantung berjejer di sepanjang sungai.
Jumlah pengunjungnya lumayan banyak. Matahari sudah terbenam, tetapi aroma lezat dari saus tercium di mana-mana.
"Kan waktu itu kau bilang kita akan pergi ke festival musim gugur."
Benar juga, aku memang pernah mengatakannya.
"Eh~ Apakah aku pernah bilang begitu, Shiraho."
Sebagai basa-basi, aku berpura-pura lupa.
Yah, aku tidak akan melakukan perlawanan sia-sia dengan mencoba pulang dari sini. Aku lapar dan ingin memuaskan nafsu makanku dengan membeli bir, yakisoba, atau semacamnya.
"Jangan panggil Shiraho! Cepat!"
Wow, tenanglah, apakah kau binatang buas?
"Iya, iya."
Apakah hal ini akan terus berlanjut? Karena sudah beberapa kali hampir salah memanggil namanya di kantor, sepertinya Tomine-san akan segera menyadarinya. Tidak, dengan kemampuannya, dia mungkin sudah menyadarinya tetapi pura-pura tidak tahu.
Belakangan ini, baik dalam urusan pribadi maupun pekerjaan, batas antara aku dan Shiraho—maksudku You—sepertinya akan segera memudar.
"Lalu, ada sesuatu yang harus kau katakan dulu, kan, padahal kita sudah sengaja berpisah sebentar di depan apartemen!"
" Ah..."
Yah, wajar saja. Bahkan orang yang dikenal tidak peka sepertiku pun mengerti.
Warna kuning tua dan sabuk berwarna biru muda yang kusam terlihat bergoyang.
"... Aku rasa itu sangat cocok untukmu."
Tepat saat itu, seperti kembang api yang mekar, seperti mobil yang baru saja keluar dari terowongan, ekspresinya bersinar cerah.
"Ya! Terima kasih banyak! Perjuanganku memakainya terbayarkan!"
Dengan gerakan mengalir, dia meraih lenganku dan mulai berjalan.
Saat Shiraho tiba-tiba meneleponku lewat ekstensi di kantor dan berkata, "Hari ini kita pulang tepat waktu, ya!", aku sangat terkejut.
Padahal ada aplikasi chat yang praktis, kenapa tidak pakai itu saja, tetapi dia beralasan, "Kalau tidak begini aku tidak bisa mendengar suaramu, kan~".
Meski menurutku tingkahnya terlalu bebas, tidak ada yang bisa menegurnya karena dia adalah andalan perusahaan kami.
"Bagaimana ini? Apakah kita harus mulai dengan permen apel (ringo ame) yang khas festival?"
"Kenapa kau malah mulai dari yang manis-manis, kita harus mulai dari alkohol, alkohol."
Aku menarik lengan kami yang terpaut ke arah aroma saus.
Biasanya penjual bir ada di dekat penjual yakisoba, pikirku layaknya seorang paman-paman sambil melangkah maju.
"Seperti dugaanku, festival untuk orang dewasa harus diawali dengan bir, ya~"
Sambil berkata begitu, Shiraho mengikutiku dengan riang. Sifatnya yang seperti inilah yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya.
Tidak perlu bersikap sok jaim atau semacamnya.
"Permisi, minta bir kalengnya dua."
"Siaap!"
Aku menerima bir kaleng dari seorang paman dengan handuk yang melilit di kepalanya.
Kaleng yang direndam dalam air es itu terasa sangat dingin.
"Ini tidak apa-apa, kan?"
Tanpa memedulikan air yang menetes, dia mengambil kaleng 350 mililiter itu.
"Tentu saja!"
Diterangi oleh lampu kedai, jalanan di sepanjang sungai itu menjadi sangat terang seolah-olah masih siang. Suara benturan kaleng berwarna perak terdengar berdenting.
""Bersulang.""
Setelah kami berdua menenggak bir dengan bunyi gulp, kami kembali mengaitkan lengan kami seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Hei, bukan aku yang memulainya, ya," aku membuat alasan entah untuk siapa.
Apakah aku akan terbiasa dengan hal ini dalam sebulan?
Aku mencuri pandang ke wajah Shiraho yang diterangi lampion.
Pipinya yang lebih merona dibandingkan saat sepulang kerja tadi, serta bibirnya yang mengkilap layaknya permen apel.
" Ada apa?"
Aroma manis yang tercium saat dia menoleh, dan ekspresinya yang ceria saat berbicara, membuat jantungku berdegup kencang.
Ah, mungkin aku sedang terbawa suasana festival ini.
"Tidak, bukan apa-apa. Kepangan rambutmu bagus juga."
Aku tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang tidak perlu.
Sambil mengerjapkan matanya dengan bingung, dia kembali menatap lurus ke depan.
"Fufu, bagus kan! Ternyata Senior menyukai gaya seperti ini, ya."
"Entahlah."
Sama sepertinya, aku juga menatap ke depan dan meminum bir kalengku.
Mungkin karena udaranya tidak panas dan lembap seperti musim panas, birnya masih terasa dingin.
Tergoda oleh aroma saus yang sedap, kami berjalan menghampiri kedai makanan tersebut.
"Hei... perutku sudah lapar, bolehkah aku membeli yakisoba sekarang?"
Aku meminta izin pada sang junior yang memegang kendali atas lenganku.
"Yakisoba... Boleh juga! Aku juga ingin makan cumi bakar (ikayaki)!"
Aku benar-benar tidak menyangka umpanku akan dikembalikan dengan sempurna seperti ini.
Membayangkan minum bir sambil memakan yakisoba dan cumi bakar membuat perutku keroncongan.
Kami mencari-cari kedai dan menemukan apa yang kami inginkan.
"Bisakah kau melepaskan lenganku sebentar?"
"Eeeh~! Kalau aku melepaskannya sekarang, nanti aku tidak bisa menggandengmu lagi."
"Mana mungkin kau bisa makan yakisoba cuma dengan satu tangan."
Dia menggoyangkan jari telunjuknya,
tsk tsk tsk. Apakah gestur ini sedang tren
di kepalanya? Ini membuatku sedikit kesal jadi kuharap dia berhenti melakukannya.
"Untuk itulah aku ada di sini, kan."
"Tidak, kalau aku sendirian aku bisa memakannya dengan normal, lho."
Sambil berdebat kecil, kami membeli yakisoba dan cumi bakar. Berkat kebaikan paman penjualnya, kami diberi dua pasang sumpit kayu. Bagus.
Saat aku membuka wadah plastiknya, aroma saus yang pekat mengepul bersamaan dengan uap panasnya.
Aroma saus yang membalut kubis dan wortel panggang itu sukses membangkitkan selera makanku.
" Aku mau acar jahe merahnya (benishoga)!"
Shiraho membuka mulutnya lebar-lebar dan bersiap menunggu.
"Baguslah~ Kalau aku lebih suka kubis yang sudah layu ini."
Karena tanganku masih ditahannya, mau tidak mau aku mengarahkan sumpit ke yakisoba miliknya dan menyuapkan acar jahe merah itu ke mulutnya.
"Nnngg~ sensasi tajam dari jahenya ini benar-benar pas, ya~! Aku harus minum bir!"
Shiraho menenggak habis birnya dalam satu tarikan napas, menghembuskan napas kasar
fuuh, lalu tiba-tiba menoleh ke arahku.
Lenganku masih ditahannya.
Genggamannya yang semakin erat ini, apakah ini berarti lenganku sudah menjadi miliknya?
"Hei, Senior, dengan cara ini,"
Sambil membiarkan diri kami terbawa oleh keramaian, dia mendekatkan wajahnya dan berbicara.
"Tidakkah menurutmu menyenangkan bisa mengenal hal-hal yang disukai satu sama lain secara perlahan seperti ini?"
Festival telah berakhir dan kami pun sedang dalam perjalanan pulang.
Lengan Shiraho masih setia melingkar di lenganku.
"Hmm, aku sangat puas!"
Sambil mengelus perutnya, langkah sepatu
loafer-nya berbunyi di sepanjang
area pemukiman warga.
Jika ini musim panas, kelembapan yang menyesakkan dan panas yang memanggang pasti akan membuat kami merasa murung, tetapi sekarang adalah musim gugur.
Entah ditanam di mana, aroma bunga kinmokusei tercium samar.
"Sesekali pergi ke acara seperti ini lumayan juga, ya."
Aku mengingat kembali keramaian yang baru saja kami lewati.
Semua orang yang berjalan di jalanan itu tampak tersenyum.
"Iya, ya~ Syukurlah aku mengambil cuti untuk besok."
Perkataan santai dari Shiraho itu nyangkut di telingaku.
Sial, ternyata anak ini mengambil cuti... Aku tidak sempat memikirkan hal itu karena ajakannya yang mendadak, atau lebih tepatnya karena aku dipaksa pulang tepat waktu.
"Oya? Jangan-jangan Senior harus bekerja besok?"
"Ya, berkat seseorang yang tiba-tiba mengajakku pergi."
Shiraho bersiul tanpa suara fyu fyu.
Tiba-tiba wajahnya berseri-seri, lalu menoleh ke belakang menatapku.
"Omong-omong, besok Senior mau kerja apa...?"
"Hmm, karena aku tidak ada janji temu, mungkin memproses dokumen permohonan."
"Tidak ada rapat juga, kan?"
Aku mengingat kembali jadwalku, seingatku memang tidak ada rapat.
Aku menatap matanya dan mengangguk pelan.
"Kalau begitu, ayo ubah jadi kerja remote!"
" Aah... Memang bisa sih..."
Karena panggilannya di kantor hari ini sedikit menarik perhatian, sebenarnya aku ingin masuk kantor besok.
Kalau aku malah libur, pasti akan terlihat sangat mencurigakan.
" Aku akan memasakkan makan siang dan mengantarkannya dari balkon, toh aku juga tidak punya acara! Khusus untuk Senior malang yang harus bekerja di hari setelah festival."
"Kau cuma mau mengejekku, kan."
"Ehe."
Lidahnya yang menjulur sekilas terlihat sangat merah.
Karena aku menutup mulut, dia pun ikut terdiam. Rasanya sangat berat untuk melangkahkan kaki ini maju.
"...Yah, tetapi tawaran makan siangmu itu sangat membantu, sih."
Kata-kata yang tanpa sadar meluncur dari mulutku tidak bisa lagi ditarik kembali.
Angin bertiup, hembusan yang sejuk melewati celah di antara kami. Otakku yang mulai mendingin menahan mulutku yang hendak mengatakan sesuatu lagi.
Syukurlah hari ini bukan musim panas.
Kalau sampai kepalaku ikut memanas karena suasana itu, aku bisa-bisa mengatakan hal yang tidak seharusnya.
"Kalau Senior sudah bilang begitu, Shiraho yang kurang berpengalaman ini akan menunjukkan kebolehannya!"
Dia memamerkan lengan putihnya sambil bergaya memamerkan otot (yang tidak ada).
Mungkin karena merasa malu karena pandanganku tanpa sadar tertuju padanya, dia perlahan menurunkan lengannya.
"Senior, rumahmu jauh, ya."
Mungkin karena memakai
yukata, dia harus mengambil dua langkah untuk
setiap satu langkahku. Aku tidak tahu siapa yang mengatur tempo berjalannya.
"Iya, rasanya lebih jauh dari biasanya."
Sejumlah tiang listrik telah kami lewati.
Aku dan dia hanyalah sebatas senior dan junior, orang asing yang kebetulan tinggal berseberangan.
Pikiran yang tak berguna itu melayang-layang di kepalaku sebelum akhirnya menghilang.
Tanpa terasa, kami tiba di depan apartemen Shiraho.
Biasanya, kami akan melambaikan tangan di sini dan berpisah.
Ah, sepertinya aku benar-benar terbawa suasana.
"Hei, Shiraho. Terima kasih sudah mengajakku hari ini. Karena aku jarang pergi ke acara seperti ini, rasanya sangat menyenangkan."
Dia langsung menoleh ke arahku.
Wajah yang seharusnya selalu kulihat itu, kini terlihat bangga, malu-malu, namun seolah menahan tangis.
"Sama-sama, aku juga sangat bersenang-senang!"
Aku sadar bahwa aku baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak biasa, tetapi dia tidak mengungkit hal tersebut.
"Hei, Senior."
Lengannya yang tadi melingkar di lenganku sudah terlepas, membuat sisi kiriku terasa dingin.
"Hubungan ini... kalau mau diperpanjang juga tidak apa-apa lho? Kalau aku sih inginnya selamanya."
Hanya meninggalkan kata-kata itu, Shiraho menghilang ke pintu masuk apartemennya.
Hanya suara klotak-klotak dari langkah kakinya yang terus terngiang di telingaku.
â—† â—‡ â—† â—‡
Sepulang kerja, aku langsung mandi. Tubuhku menggigil saat terkena air shower yang dingin.
Kata-kata yang diucapkannya saat pulang dari festival itu terus berputar di kepalaku.
Bukan berarti aku jadi tidak bisa bekerja, tetapi di saat-saat tertentu, bayangan rambutnya yang dikepang, bibir merahnya yang berisi, dan suaranya yang manis, mencengkeram erat jantungku.
" Aku ini memang payah."
Aku bergumam pada diriku sendiri sambil menatap tetesan air yang jatuh dari rambutku.
Sambil mengarahkan udara hangat dari pengering rambut ke kepalaku, aku menatap bayanganku di cermin, wajahku tidak memiliki keistimewaan apa pun.
Aku sudah mengerti apa yang ingin dia sampaikan, aku mengerti, tetapi aku tidak tahu apa motifnya.
(Kang TL: Sorry kali ini gw gabisa nahan, AYOLAH WAHAI MC DURJANA ANJ, GREGET GW COK.)
Beberapa saat setelah kami mulai bertemu di balkon, aku mengira dia hanya sedang mempermainkanku, tetapi setelah sejauh ini, bahkan aku pun mulai...
Saat aku berbaring di tempat tidur dan meletakkan tangan di dada, aku bisa merasakan detak jantungku yang tenang.
Wajah yang tampan atau disukai banyak orang itu tidak penting. Bukankah alasan "merasa nyaman saat bersamanya" itu sudah cukup?
"Yah, jawabannya pasti sudah ditentukan, kan."
Terdapat dua sudut pandang di dalam diriku. Satu yang melihat secara objektif, dan satu lagi yang merasa seperti orang yang terlibat langsung.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada layar ponsel yang berkedip.
『Seniooor! Besok lho, besok! Apakah kau siap!!』
Pengirimnya adalah junior yang sedang kita bicarakan.
Besok adalah hari di mana aku akan mengikutinya ke rumah orang tuanya.
『Yah, begitulah.』
『Tolong bersikaplah yang tegap, ya! Ini menyangkut keberhasilanku menghindari perjodohan lho.』
Sebenarnya, dia pasti bisa menangani perjodohan itu dengan baik. Tetapi jika dia sendiri yang menolaknya, ya mau bagaimana lagi.
『Iya, iya, aku akan tidur lebih awal supaya bisa bersiap-siap besok pagi.』 『Oya? Kalau begitu mari kita minum satu gelas saja.』
Melihat pesannya itu, aku membuka pintu balkon, dan ternyata dia sudah bersandar di jendelanya.
Wajahnya diterangi oleh cahaya bulan.
Ekspresinya yang mengerucutkan bibir dengan pandangan mata yang sedikit menunduk itu, sangat tidak cocok untuk dirinya yang selalu ceria, membuatku tanpa sadar tersenyum.
"Ya ampun, jangan tertawa dong."
"Ekspresimu itu sama sekali tidak mirip denganmu yang biasanya."
" Aku juga bisa merasa ennui (sendu) lho!"
Sepertinya dia tidak berniat menenggak alkohol dengan rakus seperti biasanya.
Kaleng bir yang diletakkannya masih terasa berat, bahkan hembusan angin pun tidak bisa menggoyahkannya.
"...Apakah kau gugup?"
Dia mengerutkan wajahnya dengan mengumpulkan semua fitur wajahnya ke tengah.
Meskipun wajahnya dikerutkan seperti itu, dia tetap terlihat manis, tolong hentikan.
"Kenapa kau bisa tahu."
"Entahlah. Maaf ya, pacar bohonganmu ini tidak terlalu bisa diandalkan."
"Ini bukan salah Senior, kok! Hanya saja aku masih merasa seperti sedang bermimpi atau semacamnya..."
Aku meminum teh dari gelasku.
Karena akan jadi masalah besar kalau aku kesiangan besok, hari ini aku memutuskan untuk bebas alkohol.
"Yah, besok kita pasti bisa melewatinya."
Aku menutupi rasa maluku rapat-rapat dan mengucapkannya dengan nada ketus.
Setelah itu, kami mengobrol sebentar hingga kaleng minumannya habis, lalu aku segera kembali ke tempat tidur.
Besok aku harus memakai pakaian yang rapi, pikirku sebelum akhirnya kesadaranku menghilang.
â—† â—‡ â—† â—‡
Sudut pandang: Shiraho You
Air shower yang hangat membelai rambutku.
Hari ini adalah hari di mana Senior akan bertemu dengan orang tuaku. Aku sendiri merasa ini sangat gila.
Soal perjodohan itu, skenario terburuknya aku hanya perlu bertemu sekali lalu mengakhirinya dengan berkata, "Sepertinya kita tidak cocok".
Namun, karena pada akhirnya aku hanya ingin bermanja-manja pada Senior, jadilah seperti ini.
"Yah, tentu saja aku sama sekali tidak keberatan, sih."
Gumamanku tersapu air ke saluran pembuangan.
Dua minggu lalu, aku sempat berpikir, "Hanya bertemu orang tua saja, kan?".
Tetapi semakin dekat hari yang dijanjikan, rasa khawatirku tidak kunjung hilang. " Aku harus memperkenalkan Senior sebagai siapa?", " Apakah orang tuaku bisa mengobrol santai dengan Senior?", "Bagaimana kalau kami melakukan kesalahan dan ketahuan?".
Namun, karena hari itu telah tiba, aku tidak punya pilihan selain memantapkan hati. Setelah mendinginkan kepala di bawah shower selama dua puluh menit, aku harus bersiap-siap.
Meskipun hanya pulang ke rumah orang tua, aku harus memakai pakaian yang sedikit elegan. Tidak perlu dijelaskan lagi apa alasannya. Itu karena aku akan pulang berdua dengan orang yang spesial bagiku.
Kurasa gaun
one-piece bergaya klasik adalah pilihan terbaik.
Sambil tetap memperhatikan waktu, aku merias wajahku dengan saksama. Aku selalu ingin tampil cantik setiap kali bertemu dengannya.
...Padahal saat pertama kali kami bertemu di balkon, aku tidak memakai riasan sama sekali, mungkin usahaku sekarang ini sia-sia.
Senior waktu itu terlihat sangat kebingungan... Meskipun kejadian itu belum lama berlalu, rasanya sudah seperti masa lalu yang sangat jauh.
Tetapi saat itu, aku juga sangat terkejut, lho.
Saat aku membuka jendela dan melihat ke bawah, ada sosok dengan rambut halus yang selalu kulihat dari sudut bawah, kini mengenakan pakaian kasual yang tidak pernah kulihat di kantor.
Tidak mungkin aku salah mengenalinya.
Karena terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata, aku malah melontarkan kalimat bodoh seperti "Ooh~~ Bukankah ini Senior~". Wajar saja kan, orang yang selama ini kuperhatikan tiba-tiba muncul tepat di depan mataku.
Meskipun aku mengajaknya minum bersama secara spontan, kalau dipikir- pikir sekarang, aku harus berterima kasih pada diriku yang sedang panik saat itu.
Dia yang selalu menjaga jarak denganku, sekarang malah bersedia berpura- pura menjadi pacarku.
Ya, ya, awalnya memang hanya keberuntungan, tetapi sisanya adalah hasil kerja kerasku.
Oleh karena itu, hari ini, kali ini juga.
Semoga keberanian kecil yang kujatuhkan di balkon waktu itu, pada akhirnya akan mekar dan berbuah manis.
Dengan tekad itu menyala di dadaku, aku pun memasukkan lenganku ke dalam lengan baju.
Saat aku turun ke lobi apartemen, sosok Senior sudah ada di sana.
Pakaiannya berbeda dari setelan jas yang biasa ia kenakan, dan berbeda juga dengan pakaian kasualnya yang kadang kulihat.
Penampilannya sederhana, jaket, celana, dan kemeja putih. Tetapi pakaian itu satu tingkat lebih bagus dari biasanya, dari ketebalan kainnya saja sudah berbeda.
Ah, aku ini memang mudah ditebak.
Meskipun ini hanya hubungan pura-pura, melihatnya berusaha sebaik ini untukku...
Hanya dengan melihat Senior memakai pakaian yang sedikit lebih bagus saja, aku sudah sebahagia ini. Sepertinya perasaanku padanya sudah sangat dalam.
"Senior, maaf membuatmu menunggu."
Dia perlahan menoleh.
Poni rambutnya yang biasanya dibiarkan turun, hari ini tertata rapi ke atas.
Dia tipe orang yang pesonanya akan memancar kalau dipoles. Aku ingin dia selalu tampil keren seperti ini, tetapi kalau setiap hari begini, jantungku tidak akan kuat, jadi lebih baik dia tampil santai seperti biasa saja.
"Tidak apa-apa, aku cuma bangun terlalu pagi."
Dia menjawab sambil menggaruk pipinya.
Diterangi oleh sinar matahari pagi yang masuk dari jendela besar lobi, entah kenapa sosoknya terlihat bersinar.
Jatuh cinta itu memang merepotkan.
"Hei, Senior."
Aku melangkah maju selangkah demi selangkah.
Suara ketukan hak sepatuku yang lebih tinggi dari biasanya bergema di lantai.
"Ternyata aku ini lebih serakah dari yang kuduga."
Aku tidak bisa menahannya lagi, dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
"Memang dari dulu begitu, kan."
Wajahnya berada lebih dekat dibandingkan saat kami berangkat kerja, atau saat kami pergi ke festival waktu itu.
Aroma yang menenangkan. Seperti kehangatan sinar matahari di balkon.
Senior yang bodoh ini tidak mengerti apa-apa.
"Padahal kau sudah punya segalanya."
Dia berbicara sambil melihat ke arah yang tidak jelas.
Bukan, aku sama sekali belum mendapatkan apa yang kuinginkan.
"Justru satu-satunya hal yang kuinginkan itulah yang tidak bisa kudapatkan."
Aku sudah berhenti mencoba menumbuhkan perasaanku perlahan-lahan. Aku sangat menginginkannya sampai-sampai rasanya tidak tahan lagi.
Dia mungkin sudah tidak ingat. Jauh sebelum kami bertemu di balkon, saat pertama kali kami berada dalam satu proyek perusahaan.
Tentang betapa kata-katanya waktu itu telah menyelamatkanku.
" Ayo pergi, You."
Tangannya yang terulur membuat kepalaku kosong sesaat. Apakah aku bisa melewati hari ini dengan jantung berdebar seperti ini.
Aku memaksakan diri untuk memasang wajah biasa, lalu meraih tangan kirinya dengan tangan kananku dan menautkan jari-jari kami.
Pintu lobi kudorong hingga terbuka.
Sambil menyipitkan mata karena cahaya yang menyilaukan, aku menetapkan satu janji di dalam hatiku.
Aku pasti akan membuatnya berpaling padaku.
â—† â—‡ â—† â—‡
"Selamat datang."
Kami disambut di sebuah rumah dua lantai yang besar.
Ah, ternyata Shiraho
berasal dari keluarga kaya, pikirku dalam hati memikirkan hal yang tidak relevan sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ini, hanya bingkisan kecil..."
Aku menyerahkan buah tangan kepada kedua orang tuanya di seberang meja.
Aroma rumah yang asing ini membuatku merasa harus menegakkan punggung.
Dan kenapa Shiraho tidak berbicara sepatah kata pun sejak salam pembuka tadi?
Saat aku meliriknya, pipinya tampak merona. Meskipun ini rumahnya sendiri, tubuhnya kaku seperti membeku.
(Hei, ada apa denganmu.)
(Ugh... Ini terasa seperti pertemuan untuk membicarakan pernikahan.) Sebagai hukuman, aku mencubit paha Shiraho yang duduk di sebelahku.
Bukankah kau yang memulai semua ini?
(Ugh, Senior jahat...)
"Jadi... kudengar Anda menjalin hubungan dengan putri kami."
Sang Ayah membuka percakapan dengan nada serius. Aku segera mengalihkan pandanganku dari Shiraho dan menatap lurus ke depan.
Rasanya seperti sedang dimarahi oleh atasan di kantor.
"Benar, saya dan You-san bertemu di perusahaan, dan saat ini kami sedang menjalin hubungan."
Aku menatap lurus ke arah mereka dan berbicara, berusaha keras agar suaraku tidak bergetar. Kenapa aku harus segugup ini padahal ini cuma pura-pura?
"Begitu rupanya..."
Kedua orang tuanya saling berpandangan, lalu kembali menatap kami. Apakah seperti ini rasanya menunggu keputusan dari neraka?
Udara terasa tegang selama beberapa detik.
"Itu kabar yang sangat bagus!"
Sang Ayah tertawa lebar dan mengeluarkan botol besar dari bawah meja.
"Nah, nah! Mumpung kau sudah datang jauh-jauh, mari kita minum! Apakah kau kuat minum alkohol?"
"Iya, kuat!"
Shiraho langsung menjawab dengan cepat. Kenapa malah kau yang menjawab?
"Biar kuambilkan gelasnya."
"Kau duduk saja di situ."
Sang Ibu menyuruh Shiraho kembali duduk. Sukurin, kau tidak bisa kabur.
Sang Ibu bergegas pergi ke belakang dan segera kembali membawa gelas dan piring.
" Ah, biar saya bantu."
Tepat saat aku hendak berdiri, tangan kekar Sang Ayah menahan bahuku.
"Sudah, sudah, tamu duduk saja."
"Fufu, itu artinya Senior juga harus duduk."
Kami berempat duduk mengelilingi meja, dan sekali lagi mendentingkan gelas kami.
Apakah aku sudah mulai bisa berbaur... meskipun kalau terlalu berbaur juga tidak baik.
Namun, entah kenapa aku merasa sangat nyaman di sini. Tumbuh di keluarga yang hangat seperti ini, pantas saja Shiraho tumbuh menjadi anak yang baik.
Melihat cara Sang Ayah meneggak minumannya yang persis seperti Shiraho, aku tanpa sadar tertawa kecil.
" Apa yang kau tertawakan! Senior!"
Saat melirik Shiraho, dia tampak sangat bahagia.
Yah, setidaknya ini lebih baik daripada perjodohan yang dipaksakan dan tidak membuat siapa pun bahagia, pikirku sambil lari dari kenyataan dan kembali meminum gelasku.
Pada akhirnya, karena suasana yang mengalir, aku bahkan ikut makan siang di sana, lalu bersantai sambil minum teh.
Kedua orang tuanya sedang pergi sebentar.
"Hei Senior, bukankah tadi kau berbicara lebih banyak daripada aku?"
" Anehnya aku tidak merasa gugup sama sekali."
Dia menarik kursinya lebih dekat ke arahku dan berbisik. Padahal hanya ada kita berdua di sini, kembalilah ke tempat dudukmu semula.
"Kalau begitu, saat yang sesungguhnya nanti juga pasti tidak masalah."
Benar-benar sangat memancing. Tidak ada yang namanya "saat yang sesungguhnya".
"Bukannya ini adalah pertemuan kita yang pertama dan terakhir."
"Hoho~ begitu ya, jadi ini boleh kuanggap sebagai 'yang sesungguhnya'?"
Sebelum aku sempat membalas, Sang Ibu kembali, jadi aku pun menutup mulutku. Belakangan ini, sepertinya segala sesuatu berjalan persis seperti yang Shiraho inginkan.
"Terima kasih banyak atas hidangan makan siangnya, sepertinya kami harus segera pamit."
" Ara, padahal kau boleh tinggal sampai makan malam lho."
Sang Ibu meletakkan tangan di pipinya sambil berkata begitu. Namun kalau lebih lama lagi rasanya...
"Ibu, besok Senior masih ada acara!"
Shiraho memberikan bantuan. Anak ini sebenarnya berada di pihakku atau musuhku, sih.
"Kalau begitu mau bagaimana lagi, terima kasih ya sudah menyempatkan datang hari ini."
"Sama-sama, saya yang seharusnya berterima kasih banyak."
Aku merapikan kerutan di jaketku dan kembali membungkuk. Sambil mendengar kalimat "Meskipun masih muda, ternyata dia sangat sopan, ya~"
dari belakang, kami berjalan menuju pintu masuk.
(You, apakah kau tidak menginap?)
(Tidak, aku akan pulang bersama Senior.)
Saat aku berbisik pelan, dia pun membalas dengan bisikan. Padahal ini di rumah orang tuanya, kenapa kami harus berdiri sedekat ini. Meskipun kalau kami berdiri berjauhan juga aneh sih.
Mungkin karena aku mulai menyadari perasaanku sendiri yang bimbang, setiap gerakan kecilnya saja membuat jantungku berdegup kencang.
"Kalau begitu, aku mau bicara sebentar dengan mereka untuk terakhir kalinya, jadi tunggulah di luar."
"Baiiik! Padahal kau tidak perlu melakukan hal seperti itu."
Setelah menyuruhnya menunggu di luar pintu, aku kembali berhadapan dengan kedua orang tuanya. Membohongi orang lain itu benar-benar tidak sesuai dengan kepribadianku.
"Paman, Bibi, terima kasih banyak untuk hari ini. Sebelum saya pamit, ada satu hal yang ingin saya sampaikan..."
Tepat saat aku hendak mengungkapkan bahwa hubungan ini hanyalah pura- pura, Sang Ayah meletakkan tangannya di bahuku dengan sentuhan yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Tidak apa-apa, kami juga sudah mengerti, kok."
"Maafkan kami ya, karena kau harus menuruti keegoisan anak itu."
Mereka berdua tersenyum lembut dan saling berpandangan.
Ah, rupanya usahaku kurang keras.
"Tolong, setidaknya soal perjodohan You-san itu..."
Aku ingin memastikan bahwa tujuan utama dari semua ini tersampaikan.
Sebagai usaha terakhirku, atau setidaknya sebagai bentuk penebusan dosaku padanya.
"Tidak apa-apa~ Bagi kami, mengetahui bahwa ada senior yang baik di perusahaannya sudah cukup, ditambah lagi, ya kan?"
Sang Ibu menatap Sang Ayah dengan pandangan penuh arti.
"Ya, kalau kau datang lagi nanti, mari kita minum bersama."
Sambil berkata begitu, beliau melepas kepergianku.
Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Padahal kurasa aku tidak akan datang lagi ke sini.
Satu hal yang pasti, aku tidak bisa menang melawan pengalaman hidup mereka. Bagaimanapun juga, aku hanyalah anak muda yang masih hijau.
Aku menutup pintu rumah dengan hati-hati, lalu memanggil Shiraho yang menunggu di luar gerbang.
"Maaf, membuatmu menunggu."
"Kalian membicarakan apa tadi~?"
Shiraho tersenyum polos tanpa menyadari bahwa kebohongan kami sudah terbongkar. Mungkin karena ketegangannya sudah mereda setelah keluar dari rumah, ekspresinya secerah suaranya.
"Hanya mengucapkan terima kasih."
"Tetapi rasanya agak lama, ya! Ya sudahlah, ayo kita pulang ke rumah kita."
"Rumah kita masing-masing, jangan membuat cerita seolah-olah kita tinggal bersama."
Dia pura-pura tidak mendengar perkataanku. Meskipun tidak ada lagi yang melihat kami, dia meraih lenganku dan melangkah maju.
â—† â—‡ â—† â—‡
"Oh, bukankah ini Senior~!"
Sepulang kerja, aku sedang berjalan pulang ke rumah dari stasiun terdekat dengan wajah berseri-seri karena jarang-jarang bisa pulang tepat waktu. Tiba- tiba, suara yang sangat kukenal itu menyalipku dari belakang.
"Hei! Jangan mengabaikanku dong~"
Terdengar suara langkah kaki tap tap, diikuti dengan benturan lembut yang mendarat di lenganku.
"Hentikan! Jangan menggandeng tanganku di tempat yang banyak orang berlalu-lalang begini."
" Apakah itu artinya kau mengajakku pergi ke tempat di mana hanya ada kita berdua?"
"Tentu saja tidak. Jalan pikiran macam apa itu."
Dia memperlambat langkahnya dan berjalan di sampingku. Hari ini pun sepatu loafer Shiraho kembali mengeluarkan bunyi yang riang.
Meskipun bercampur dengan hiruk pikuk keramaian, hanya suara sepatunya itu yang terdengar jelas di telingaku.
"Senior, terima kasih banyak untuk yang waktu itu."
Sambil terus memegangi lenganku, dia mengucapkan terima kasih. Tidak perlu ditanya lagi, ini pasti soal sandiwara pura-pura menjadi pacar waktu itu.
"Tidak-tidak, kau juga sudah membantuku ikut meminta maaf pada klien waktu Tomine-san melakukan kesalahan. Tidak perlu berterima kasih."
"Setidaknya terimalah rasa terima kasihku ini, dasar orang yang tidak jujur~"
"Dengar ya, di dunia ini ada sebuah tempat berbahaya di mana masalah 'sudah bilang' dan 'belum bilang' bisa jadi perkara besar..."
"Tinggalkan saja kekejaman dunia kerja seperti itu..."
Tempo berjalannya sedikit lebih lambat daripada saat dia berjalan sendirian, dan jarak ambigu di antara kami saat lengannya terlepas ini, seolah mewakili perasaanku sendiri yang tak menentu.
"Daripada itu, ya,"
Dia mulai berbicara dengan suara ceria.
" Apakah Senior suka makanan enak?"
Tanpa sadar aku hampir terpeleset di dalam kepalaku. Apakah ada orang yang tidak suka makanan enak...?
"Ya, tentu saja aku suka, tetapi..."
"Untuk Senior yang kelaparan, aku punya kabar baik! Lihatlah, berkat Shiraho- chan yang terlalu manis ini, aku mendapat dua tiket undangan makan malam di hotel dari klien! Dua lembar, lho!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan napas, dia menghadapkan wajahnya ke arah matahari terbenam.
Telinganya yang memerah itu pasti karena cahaya jingga yang menyelinap dari celah-celah gedung.
"Enak ya, sudah lama sekali aku tidak menikmati makan malam mewah."
"Hmph, hmph!"
Jangan memintaku untuk melanjutkannya, dong.
Toh jawabannya sudah jelas, kan. Eh, apakah dia menunggu aku yang mengajaknya? Padahal aku yang akan ditraktir...
"Muuh! Ayo, ada yang mau kau katakan, kan!"
Dia merentangkan kedua tangannya dan kembali menghadapku.
Tatapan matanya yang tajam memancarkan tekad kuat, " Aku akan membuatmu yang mengajakku."
Sambil meyakinkan diri sendiri bahwa terkadang seorang senior juga harus mengalah, aku merangkai kata-kata yang melayang di udara.
"A h—Shiraho-san,"
"Ya! Ada apa? Senior."
"Saya sangat sungkan, tetapi jika Anda belum memiliki teman untuk pergi, bersediakah Anda pergi bersama saya?"
Ujung bibirnya yang perlahan terangkat ke atas, terlihat seperti bulan sabit di musim gugur yang tanpa sadar mencengkeram erat jantungku.
Ah, anak yang ekspresif ini, meski menyebalkan tetapi dia sangat manis.
"Ya, tentu saja! Karena aku memang ingin pergi bersama Senior, aku tidak mengajak siapa-siapa, kok."
â—† â—‡ â—† â—‡
"Maaf, hari ini aku mengambil cuti per jam."
Dalam perjalananku untuk mengantarkan dokumen ke departemen lain, aku menegur Tomine-san yang sedang mengetik di
keyboard.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum manis.
" Ah, begitu, ya! Tumben sekali."
Memang benar, aku jarang sekali mengambil cuti setengah hari. Kalau mau libur, aku lebih suka libur seharian penuh.
" Ada urusan pribadi, sih."
Bunyi ketikan keyboard tidak berhenti.
"Omong-omong, kudengar Shiraho Senior juga mengambil cuti siang ini!"
Sambil kembali menghadap ke layar, dia bergumam dengan nada iseng.
Seberapa jauh gosip itu sudah menyebar.
"He, heee~, begitu, ya."
"Padahal saya tidak tahu apa-apa, lho~"
Diiringi suara dari belakang yang terdengar sangat meyakinkan itu, aku meninggalkan ruang Departemen Urusan Umum.
Angin yang terasa dingin menerobos masuk dari luar.
Menurut hasil penyelidikan rahasiaku, makan malam yang akan kami datangi hari ini adalah
full course yang harganya dua kali lipat dari dugaanku. Kalau aku pergi ke sana dengan setelan jas lusuh yang biasa kupakai ke kantor ini, pasti akan jadi masalah. Ya, meskipun makanannya tetap akan terasa enak, sih.
『Apakah Senior sudah berhasil pulang?』
Tepat saat aku memikirkan hal itu, pesan darinya masuk.
Beberapa bulan telah berlalu sejak kami bertukar kontak waktu itu, hal ini pun sudah menjadi rutinitas harian yang normal.
『Sambil dicurigai oleh Tomine-san.』
『Karena Senior memang tidak pernah mengambil cuti per jam, kan.』 Bagaimana dia bisa tahu soal itu. Meskipun ruangan kami bersebelahan, ada dinding tebal yang memisahkan kami.
『Untuk saat ini aku tidak akan bertanya dari mana kau tahu cara aku mengambil cuti, tetapi kalau nanti Tomine-san bertanya sesuatu, pura-pura tidak tahu saja, ya.』
Meskipun aku sendiri yang bilang bahwa hal ini sudah bukan rahasia lagi, aku tetap tidak ingin orang-orang tahu bahwa aku pergi berduaan dengan Shiraho yang masih menjadi pusat perhatian di kantor.
Aku sangat benci menjadi sasaran gosip, bisa bekerja dengan tenang tanpa menarik perhatian sudah cukup bagiku.
『Hmm~! Aku akan atur agar semuanya berjalan lancar!』 Kata-kata yang sangat praktis.
Setelah saling berkirim pesan dengannya, tanpa terasa aku sudah tiba di rumah.
Bukankah tidak saling mengobrol sampai bertemu juga merupakan salah satu daya tarik dari sebuah kencan.
Karena ini adalah kencan... Aku tidak akan bisa mengatakannya di depannya, sih.
Perasaanku padanya yang belakangan ini terus memenuhi kepalaku, aku simpan di dalam lemari bersama setelan jas yang baru saja kulepas.
『Senior mau naik apa ke hotelnya? Kereta?』
Tepat saat aku membuka pintu rumah, pesan darinya kembali masuk.
『Itu rahasia. Kita bertemu saja di lobi hotel.』
Setelah membalas singkat, aku menutup ponselku.
Sambil berpura-pura bersikap dewasa dan berpikir bahwa aku ingin menjaga "kebahagiaan sebelum bertemu", aku berusaha menenangkan detak jantungku yang semakin cepat.
Saat aku turun dari taksi, tirai malam sudah menyelimuti langit di luar.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan di zaman modern, bahkan orang yang tidak berpendidikan sepertiku tahu alasan kenapa malam bisa datang dan langit menjadi gelap. Tetapi, bagaimana dengan orang-orang di masa lalu, ya.
Blam, setelah pintunya kututup, taksi itu pun melesat menjauh di jalan raya.
"Yo, Shiraho."
Aku menemukan sosok junior yang kukenal berdiri membelakangi tangga menuju pintu masuk hotel, lalu aku memanggilnya.
Saat dia menoleh, aku tanpa sadar menahan napasku.
Di balik mantel panjangnya yang terbuka di bagian depan, terlihat gaun berwarna
navy (biru dongker) yang elegan.
Rambutnya dikepang di salah satu sisi seperti waktu itu, lalu disatukan di bagian belakang. Pikiranku yang tidak berguna membayangkan bahwa, seandainya dia berdandan secantik ini untukku...
Tepat saat aku hampir terhanyut oleh pesona dewasanya yang berbeda dari penampilannya di kantor, Shiraho membuka mulutnya.
" Ara, kau cepat juga, Senior."
Suara yang biasa kudengar keluar dari bibirnya yang kini berwarna merah lebih pekat dari biasanya. Entah kenapa aku merasa sedikit kesal karena suara itu membuatku merasa lega.
"Maaf membuatmu menunggu. Padahal aku yang ditraktir."
"Toh aku juga tidak mengeluarkan uang sepeser pun!"
Sambil tertawa lepas, Shiraho melangkahkan kakinya ke tangga.
Saat kami berjalan berdampingan, aku merasakan suatu keanehan.
Aku menoleh ke kiri dan menyadari penyebabnya, ternyata karena perbedaan tinggi badan.
Aku mengalihkan pandanganku dari kepalanya ke arah kakinya. Biasanya, dia lebih suka memakai sepatu loafer.
Suara langkah kakinya yang beradu dengan jalan aspal itu masih teringat jelas di kepalaku. Namun hari ini, dia memakai sepatu hak tinggi (heels) yang cukup tinggi.
"Untuk menu hari ini, aku tidak mencari tahu sama sekali, jadi aku sangat menantikannya...!"
Diiringi suara ketukan
tak-tak yang dingin, kami perlahan menaiki tangga.
Tiba-tiba, kepalanya menghilang dari sudut pandangku seolah-olah dia limbung.
"Hei!"
Lebih cepat dari yang bisa kupikirkan, lenganku refleks meraih pinggangnya dan menariknya mendekat.
Untunglah dia tidak sampai jatuh dari tangga, tetapi posisi ini cukup berat.
Hei, jangan menyandarkan berat badanmu padaku. Jangan remehkan stamina paman-paman pekerja kantoran.
Rambut yang membingkai wajahnya menggelitik pipiku.
"Wah, Senior, terima kasih, ya."
Tanpa terdengar panik sedikit pun, dia bergumam sambil tersenyum manis.
Tepat ketika bibirnya mendekat ke telingaku, aroma manis yang lembut melewati hidungku.
Merasakan kehadiran Shiraho dalam dosis yang mematikan melalui kelima panca indraku dalam sekejap seperti ini, kurasa jantungku bisa meledak.
"Bisakah kau menjauh sedikit?"
"Tidak mau!"
Setelah berkata begitu, dia meraih tanganku yang tadinya melingkar di pinggangnya, lalu mengaitkan lengannya padaku seolah-olah ini adalah tempatnya yang semestinya.
" Apakah dengan begini kita terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang makan malam?"
Dia menempatkan kakinya di anak tangga dengan lebih hati-hati dari sebelumnya.
"Tidak-tidak, kau dan aku ini tidak sepadan, terutama karena aku. Paling- paling kita terlihat seperti senior dan junior dari satu perusahaan."
"...Senior dan junior biasa tidak saling mengaitkan lengan, lho."
Tatapan matanya yang lekat itu seolah-olah bisa melihat menembus segalanya.
"Kalau dulu, kau pasti sudah melepaskan lenganku ini dengan paksa~ Ini semua berkat usahaku~"
Dengan genggaman yang semakin erat, sepertinya aku yang ditahan dengan kuat ini sudah tidak punya kebebasan lagi.
Suatu hari nanti, aku ingin keluar dari skenario yang dia bayangkan dan membuatnya terkejut. Menyimpan niat usil itu bersama tangan kananku yang bebas, aku memasukkannya ke dalam saku.
Malam sudah benar-benar terasa dingin, ya.
Sambil mempertahankan posisi "tanpa komentar", aku berjalan sedikit di depannya, dengan ritme langkah yang sama.
Tepat saat aku hendak meraih gagang pintu menuju lobi, sebuah lengan putih terulur dari sisi kiriku.
Sepertinya dia ingin membukanya sendiri.
"Dasar anak kecil."
"Tidak apa-apa, hari ini kan ada kakak laki-laki, eh, maksudku suamiku bersamaku."
(TLN: Pada teks aslinya, Shiraho menggunakan kata "Oniisan" (kakak laki-laki) untuk memanggil MC. Di Jepang, panggilan ini sering digunakan oleh perempuan yang lebih muda kepada pria yang lebih tua untuk memberikan kesan manja atau akrab. Di sini Shiraho sedang menggoda MC dengan bermain peran (roleplay).)
Sambil memancarkan senyum yang lembut, Shiraho melangkah satu langkah mendahuluiku.
Kami menyusuri karpet berwarna merah tua (
enji-iro) yang tenang. Berbeda
dengan di luar, di sini baik suara sepatu hak tinggi maupun sepatu kulit tidak terdengar.
"Entah kenapa, datang ke hotel di tengah kota untuk acara selain liburan seperti ini membuatku gugup...!"
Keberaniannya tadi entah menguap ke mana, Shiraho kini sedikit membungkuk dan menempel pada lenganku.
" Ayo, kau kan sudah memakai gaun yang cantik, tegakkan punggungmu."
Aku melepaskan lenganku dan menempelkan tanganku di punggungnya.
"Kenapa kau malah bersikap sok kuat di saat seperti ini, sih..."
Seorang petugas hotel menyapa kami, dan kami berhasil diantar menuju ruang makan malam.
Saat kami mendekati tangga, petugas itu secara alami memperlambat langkahnya dan mengajak kami mengobrol secukupnya agar kami tidak merasa bosan. Aku kagum pada profesionalisme mereka dalam melayani tamu, namun di saat yang sama, aku tidak bisa membayangkan seberapa besar stres yang mereka hadapi.
"Para profesional memang luar biasa, ya~"
"Tunggu, kita bahkan belum makan makanannya, terlalu cepat kalau kau sudah terharu."
Berbeda dari biasanya, kali ini Shiraho yang mengambil peran untuk menanggapi komentar anehku (
tsukkomi).
Kami naik lift dan terus melangkah maju.
Setelah lorongnya melebar, kami tiba di sebuah aula yang luas dengan langit- langit setinggi dua lantai.
"Kalau begitu, selamat menikmati waktu Anda."
Petugas hotel itu membungkuk dengan sopan dan melepas kepergian kami.
Begitu melewati pintu, pemandangan yang terlihat sangat berbeda dari lorong berkarpet tadi. Lantai dengan warna yang menenangkan, serta meja-meja bundar yang ditutupi taplak putih, terlihat tersebar di seluruh ruangan.
"Melihat tempat seperti ini membuatku sedikit berdebar karena belum terbiasa. Syukurlah aku tidak datang dengan orang yang tidak kukenal..."
Sambil tersenyum canggung, dia bergumam pelan.
Meski dia tidak lagi mengaitkan lengannya padaku, dia masih memegang lengan jaketku.
Kenapa dia bisa bersikap begitu agresif padaku, tetapi di tempat formal atau saat melakukan kesalahan dalam pekerjaan, dia bisa berubah menjadi seperti binatang kecil begini?
"Biar saya antar."
Saat kami sedang mencari meja, seorang pelayan segera menyapa dan mengantar kami ke meja yang memiliki tanda reservasi. Meskipun lumayan banyak orang di sini, suasananya tidak berisik, justru dengungan suaranya terasa nyaman bagai latar musik.
Setelah kami duduk, pelayan itu menjelaskan menu hidangannya, dan tak lama kemudian minuman
aperitif (minuman pembuka) pun disajikan.
Koordinasi yang sangat efisien dan luar biasa...
"Kalau begitu,"
Di saat tidak ada orang lain di sekitar meja, aku memegang gelas rampingku dan mengarahkan pandanganku pada gadis yang duduk di depanku.
Mungkin karena belakangan ini aku selalu melihatnya dari samping, melihat Shiraho yang tersenyum lega dari depan seperti ini terasa menyegarkan dan cukup membuat suhu tubuhku naik.
"Ya, terima kasih sudah bersedia datang hari ini."
"Tidak-tidak, aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah mengundangku..."
"Ya ampun! Kan Senior yang mengundangku."
Shiraho mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.
Tidak, undangan itu hanyalah akibat dari pancingan junior manja antah- berantah, tahu.
""Bersulang.""
Gumaman pelan dari kami berdua melayang di udara ruangan dan menghilang tanpa ada yang menyadarinya.
Kami menikmati hidangan yang disajikan secara bergantian dengan lahap.
Meskipun aku tidak terlalu paham aturan tata krama makan di meja (table manners), anehnya aku tidak merasa gugup, mungkin karena dia yang duduk di depanku.
"Kau ternyata tahu soal hal-hal seperti ini, ya."
Aku bergumam sambil melihat Shiraho menyendok supnya dari arah depan.
"Meskipun aku masih muda?"
"Maksudku, meskipun kau masih muda."
Mungkin karena dia berusaha keras agar alat makannya tidak menimbulkan suara benturan, suaranya terdengar sangat jelas.
Terkadang aku hampir melupakannya, kalau Shiraho dibesarkan di lingkungan yang baik.
Sambil meneguk entah gelas
wine ke berapa, aku mendengarkan ceritanya.
"Jadi~, kenapa Senior mengundangku hari ini?"
Entahlah, kenapa ya.
Kalau ini terjadi setengah tahun yang lalu, aku pasti tidak akan mengajaknya.
Aku samar-samar menyadarinya, tetapi jika aku mengatakannya secara langsung, apa pun hasilnya, hubungan kami saat ini pasti akan berubah.
Sebenarnya, hubungan seperti apa yang kuinginkan bersamanya? Bukankah cukup dengan sesekali pulang bersama, lalu minum sambil memandang bintang di balkon yang jaraknya hampir tidak ada itu?
Melihatnya tersenyum bahagia sambil menyuapkan potongan daging yang dipotong rapi ke mulutnya dengan garpu, memang benar dia sangat memikat.
Namun, namun ya, yang benar-benar bisa menggetarkan hatiku adalah pemandangan saat dia yang biasanya bekerja keras itu, menjulurkan lengan putihnya yang lemas dari jendela kecil balkon sambil menggoyangkan kaleng minumannya.
" Ada apa? Apakah kau baru sadar dan terpesona melihat Shiraho-chan dalam balutan busana formal?"
Mungkin karena aku menatapnya terlalu lama, dia melontarkan candaan seperti biasanya.
" Ah, mungkin saja."
Aku kembali memegang gelasku untuk menyembunyikan wajahku yang memanas.
Keheningan terjadi selama beberapa detik.
"Eh?"
Shiraho mengerjapkan matanya berkali-kali dengan bingung.
"Bukan apa-apa."
"Eh, tunggu, Senior, tolong ulangi lagi! Aku mau merekamnya! Uwah, tumben sekali! Kau sedang
dere (bersikap manis/malu-malu), ya~!"
Benar juga, Shiraho yang seperti ini memang membuatku merasa lebih tenang.
Meskipun begitu, karena kami bukan lagi anak sekolahan, keputusan harus segera dibuat, dan perasaan yang sempat goyah itu pun ingin kujaga baik-baik.
Berkat kepanikannya yang ribut itu—tidak, berkat Shiraho—suasana santai yang biasa kami miliki kembali menyelimuti meja bundar ini.
"Hubungan yang seperti ini, menurutku tidak buruk."
Seolah-olah melemparkan bola di tangan dengan ringan, seolah-olah tenggelam ke dalam selimut bulu yang empuk, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Suasana santai yang dipancarkan Shiraho barusan, entah sejak kapan berubah menjadi serius.
Ekspresinya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat itu membuatnya terlihat sesuai usianya, namun sekaligus terlihat sedikit lebih dewasa.
"Bagiku, Senior,"
Dia menghela napas dengan pelan, lalu menariknya kembali.
"Kapan pun waktunya, aku tidak keberatan. Entah itu saat ini juga, atau beberapa tahun ke depan."
Fakta bahwa kami berdua sengaja menghindari pernyataan yang jelas, mungkinkah itu adalah sisa-sisa rasa manis yang tertinggal.
Seperti membersihkan sisa saus di atas piring dengan sepotong roti, aku tiba- tiba merasa ingin menyerap semua perasaan yang selama ini dia tunjukkan padaku dalam satu tarikan napas.
Namun, untuk sekarang.
"Entahlah, bagaimana ya."
Andai saja rambutku lebih panjang, aku pasti bisa menyembunyikan telingaku yang memerah ini.
Berpura-pura tidak mengerti, aku menggerakkan garpu kecilku untuk memakan hidangan penutup. Ya, aku sadar betul bahwa aku ini licik.
"Fufu, baiklah, aku akan menunggu dengan sabar."
Potongan buah yang masuk ke mulutku memiliki rasa manis yang pas untuk menahan perasaanku yang bergejolak.
"Haa~~~~ Sangat puas!"
Sambil melangkah ringan, Shiraho berjalan menuruni tanjakan.
Saat berangkat tadi aku tidak menyadarinya, tetapi dari jalan pulang hotel yang terletak di tempat yang cukup tinggi ini, lampu-lampu kota terlihat berkelap- kelip layaknya bintang-bintang.
"Hei, Senior, lihat, indah sekali seperti bintang, ya."
Entah sejak kapan dia sudah berada di sampingku dan menunjuk ke arah pemandangan kota di bawah sana.
Aku mengikuti arah jari telunjuknya yang putih dan ramping.
Cahaya-cahaya indah berwarna oranye, putih, merah, dan biru berkelap-kelip memenuhi pandanganku.
Namun, jalan yang kami lewati ini gelap gulita.
Biasanya, orang yang baru saja menyantap makan malam di hotel akan menginap.
Buktinya, tidak ada siapa pun di sekitar kami.
"Benar, benar-benar seperti bintang, ya."
Mengabaikan bintang sungguhan yang bersinar di atas kepala dan menyebut cahaya buatan ini sebagai bintang, mungkin terdengar sedikit kurang ajar.
Tetapi.
"Tetapi, dari arah kota, kita tidak bisa melihat bulan, lho."
Jari telunjuknya yang tadinya menunjuk ke depan kini beralih menunjuk ke atas.
Memang benar, saat aku sendirian, aku jarang menatap langit. Baru setelah dia mengatakannya, aku menyadari keberadaan bulan sabit yang tipis itu.
"Suatu saat nanti, aku ingin pergi berkemah di mana kita bisa melihat bintang sungguhan dengan jelas~"
"Benar juga, kalau kau yang mengajak, pasti akan ada banyak orang yang ikut, kan?"
Seperti biasa, aku menjawab secara refleks.
"Senior benar-benar..."
Shiraho mengangkat telapak tangannya sambil menghela napas yare yare. Dia bahkan memasang ekspresi seperti itu...
Kalau dia sudah melakukan sejauh itu, mana mungkin aku tidak menyadarinya.
"Tolong lupakan apa yang akan kukatakan ini setelah kau sampai di rumah, ya."
Sambil mengerjapkan mata kebingungan, dia terdiam sesaat lalu memejamkan matanya. Lengkungan bibirnya yang indah benar-benar terlihat seperti bulan yang mengambang di atas sana.
"Lain kali, bagaimana kalau kita berdua pergi
glamping?"
"Ya, tentu saja. Hanya kita berdua, ya."
Dia mengatakannya sambil meresapi setiap kata, seolah-olah dia tidak ingin menelannya begitu saja.
Ujung gaunnya bergoyang.
Meskipun cahaya dari bulan sabit itu redup, aku bisa melihat matanya dengan jelas, dan rasanya bayangan wajahku yang terpantul di matanya terlihat lebih merah dari biasanya.
Karena lidahku terasa kelu untuk mengucapkannya dengan kata-kata lagi, aku mengangguk dengan ekspresi menyerah.
"Hmph hmph, hari ini Senior sangat jujur, ini sangat membantu! Apakah ini karena efek alkohol... ya?"
"Biasanya aku cuma minum bir dan jarang minum wine, sih."
Sebuah bola bernama 'jalan keluar' yang dilemparkannya itu, langsung kulempar balik dengan sekuat tenaga.
Wajahku yang memerah, lidahku yang kelu, dan kata-kata yang meluncur begitu saja dari kepalaku ini, pasti... semua ini pasti karena efek alkohol.
Mungkin karena udara manis di sekitar kami ikut terhisap oleh tarikan napasnya yang dalam, ritme detak jantungku mulai kembali tenang bersamaan dengan suasana yang mulai rileks.
Meskipun begitu, suara sepatu hak tinggi Shiraho masih beradu dengan aspal.
Alasan mengapa suara sepatu kulitku tidak terdengar, apakah karena langkah kaki kami seirama?
Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak menyadari bahunya yang terasa lebih dekat dibandingkan sebelumnya.
Ini semua pasti karena aku terlalu banyak minum
wine.
â—† â—‡ â—† â—‡
Waktu menunjukkan pukul tujuh belas. Meskipun ini hari Jumat, pekerjaanku selesai lebih awal dari biasanya.
"Sip, saatnya pulang."
Aku bergumam pelan entah pada siapa dan menyandang tasku.
" Ara, Senior pulang cepat, ya."
Sepertinya Tomine-san di sebelahku mendengarnya. Sedikit memalukan.
"Jarang-jarang aku bisa selesai lebih awal, jadi aku pulang duluan, ya~ Bagaimana denganmu, Tomine-san?"
"Wah, enak sekali! Setelah ini saya ada acara minum dengan teman-teman kuliah, jadi saya akan tinggal sebentar sebelum pulang! Tinggalkan saya dan Senior pulang saja duluan..."
"Tidak perlu pura-pura jadi orang yang terluka di medan perang begitu, kan."
Tomine-san kembali menghadap PC-nya sambil melambaikan tangan, mempertahankan sikap "tanpa komentar"-nya.
Baru beberapa bulan bekerja, dia sudah benar-benar berbaur dengan Departemen Urusan Umum. Apakah aku harus merasa senang atau sedih karena dia tidak lagi butuh bimbinganku... Tidak, tentu saja aku senang. Dua junior yang usil itu terlalu sulit untuk kutangani.
Aku melangkah dengan gagah melewati pintu otomatis perusahaan menuju jalanan kota di sore hari. Mumpung ada kesempatan, mungkin aku akan minum-minum sendirian. Aku ingin mencoba tempat-tempat baru di sekitar stasiun terdekat.
Dengan perasaan tak terkalahkan yang aneh khas Jumat malam, aku naik ke kereta.
Aku keluar dari gerbang tiket stasiun dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan rumahku. Aku masuk ke tirai kedai (
noren) pertama yang kulihat.
"Selamat datang!"
Aku disambut dengan suara berat di kedai sate goreng (kushikatsu) ini.
Karena ini waktu setelah pulang kerja di akhir pekan, kedai ini lumayan ramai.
"Untuk berapa orang?"
"Sendiri!"
Aku mengeraskan suaraku agar tidak kalah dengan keramaian.
"Saat ini meja kami sedang penuh, apakah Anda tidak keberatan jika duduk di konter?"
"Ya, tidak apa-apa!"
Pelayan mengarahkanku ke konter di bagian dalam.
Jarak antara dinding belakang dan meja sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang duduk. Mungkin karena makanannya langsung diantar dari balik konter, jadi tidak butuh ruang yang luas.
Sudah ada orang yang duduk di bagian dalam. Bertemu dengan orang asing di tempat seperti ini adalah salah satu daya tarik minum sendirian.
Sambil memikirkan hal itu, aku duduk, lalu bahuku dicolek dari samping.
"Lho, apakah aku sedang mabuk... Kenapa Senior ada di sini? Bukankah hari ini kita tidak ada jadwal minum di balkon."
Shiraho dengan wajah sedikit memerah ada di sini.
Setiap kali, setiap saat, kenapa anak ini selalu muncul di hadapanku di saat yang tidak tepat, sih.
"Justru kenapa kau yang ada di sini."
"Itu karena Senior mengirimiku pesan 'Hari ini aku mau minum sendirian jadi tidak bisa ke balkon', itu membuatku kesal... Padahal Jumat malam milik Senior itu adalah milikku."
Mungkin karena dia sudah cukup mabuk, matanya terlihat sayu.
Di mejanya terdapat tumpukan piring dan wadah yang berisi sekitar sepuluh tusuk sate kosong. Ini mah sudah mau selesai minumnya, kan.
Sebelum aku sempat menghela napas, bir draf yang kupesan datang. Saat aku hendak meminumnya, sebuah tangan dari sebelahku menahannya.
"Memulai minum tanpa bersulang itu tidak seru, tahu~"
Setelah berkata begitu, seperti biasa dia mengangkat gelas mug-nya yang
sudah tinggal setengah ke arahku.
Perasaan aneh ini, apakah karena dia berada di sebelah kananku?
Mengesampingkan kenyataan bahwa rencana minum sendirianku hancur berantakan, dengan enggan aku mengangkat gelas mug-ku.
Untuk permulaan, aku minum bir draf dengan camilan timun dingin dan telur rebus bumbu. Sambil menunggu sate yang kupesan datang, aku mencomot sate goreng dari piring junior usil ini.
" Ah~! Padahal kau tidak ikut memesannya, curang~!"
Mata Shiraho yang tajam langsung menangkapnya dan menarik piring itu ke arahnya. Tidak apa-apa, kan, toh kau sudah makan sepuluh tusuk.
"Tidak boleh, ya?"
"-B-bukan begitu sih, tetapi..."
Dia terlihat sedikit gelisah, tetapi aku mengabaikannya dan menggigit tepung rotinya yang renyah. Aku sudah dapat izin, lho.
Tepung renyah tajam yang menggores bagian dalam mulutku, lalu tekstur renyah yang aneh
shaku-shaku. Ini adalah... ubi gunung (yamaimo)!
"Kau memilih ubi gunung, benar-benar pilihan seorang pemabuk, ya."
"Sate goreng sayuran kan enak, tahu!"
Dilarang mencelupkan sate dua kali, kata Shiraho sambil menyelupkan satenya ke dalam genangan saus.
Benar juga. Rasa berminyak ini dipadukan dengan "pengampunan" berupa sayuran, dan rasa manis unik yang tidak dimiliki oleh daging, membuat ketagihan.
Meskipun sate babi yang kupesan belum datang, aku malah memesan tambahan sate paprika hijau (
shishito) dan jahe mentah (shoga).
"Omong-omong Senior, kenapa kau tiba-tiba bilang ingin minum sendirian?"
Sambil menyandarkan lengannya di konter, Shiraho menatap gelasnya.
Pemandangan yang terlihat seperti photobook itu sangat indah sampai-sampai rasanya aku ingin memotong dan membawanya pulang. Tetapi aku mengubah pikiranku, mungkin justru karena ini adalah momen sesaat, makanya pemandangan ini bisa menyentuh hati.
" Aah... Memang tidak ada alasan khusus, kok."
"Bukan karena kau sudah bosan mengobrol denganku?"
"Bukan, bukan."
Aku menjawab sambil sedikit melambaikan tangan.
Jika aku menatapnya sekarang, melihat wajahnya yang seolah ingin menangis itu, aku pasti akan luluh dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya.
"Haa~ Syukurlah!"
Dia menghela napas panjang dan dengan santainya mengangkat tangan.
Kepada pelayan yang datang dengan berlari kecil, dia menyebutkan pesanannya.
"Bir drafnya dua!"
Hei, bagianku masih ada lho. Di dalam gelas yang kupegang, cairan berwarna emas itu bergoyang riang.
Perlawananku dengan tatapan mata hanya sia-sia, pelayan itu sudah menghilang ke bagian dalam dapur.
"Punyaku masih ada, lho."
"Tetapi aku ingin kita bersulang dengan gelas yang penuh! Sate goreng pesanan Senior pasti juga akan segera datang."
... Permintaan yang benar-benar tidak masuk akal.
Setelah memantapkan hati, aku menenggak sisa bir di gelasku ke dalam tenggorokan.
"Ooh~ Minum yang mantap!"
Sambil bertepuk tangan, dia melontarkan pujian palsu.
"Ini semua karena siapa, coba."
"Mungkin karena Shiraho-chan yang minum-minum sendirian karena kesal pada Senior yang biasanya datang ke balkon tetapi tiba-tiba tidak datang?"
Rona merah di pipinya kini sudah lebih pekat dibandingkan saat aku baru saja duduk di sebelahnya.
"Ternyata kau tahu diri, ya. Walaupun bagian awalnya agak kurang masuk akal, sih."
Sesaat kemudian, pelayan yang tadi menghilang ke dalam dapur kini kembali dengan membawa dua gelas
mug bir yang terisi penuh dan piring berisi sate
campuran.
Aku meletakkan gelas yang sudah kosong dengan bagian pegangannya mengarah ke ujung konter, lalu mulai menumpuk piring-piring kosong untuk memberikan tempat pada piring sate.
Aku setengah memprediksi hal ini akan terjadi. Sambil memijat pangkal hidungku dengan jari, aku terus menggerakkan kakiku.
Di perjalanan pulang, aku menyeret Shiraho yang mabuk berat menyusuri trotoar.
"Sheniorrr, kita peugih shekalyi lagih yukk?" (Senior, kita pergi sekali lagi, yuk?)
"Tentu saja tidak."
Saat masih di dalam kedai Shiraho terlihat baik-baik saja, tetapi setelah berjalan beberapa langkah di luar, dia langsung tumbang, dan langkahnya benar-benar gontai.
Padahal saat membayar tadi dia terlihat sangat normal... Bahkan dia mengeluarkan dompetnya dan berkata "Setidaknya biarkan aku membayar bagianku!", tetapi akhirnya begini.
"Hei, mau aku panggilkan taksi? Harganya pasti cuma tarif dasar saja karena jaraknya dekat."
Aku benar-benar bersyukur ini adalah daerah dekat stasiun terdekat kami.
Baik dari segi waktu maupun jarak.
Bukan hanya karena kondisinya, tetapi lebih karena aku yang merasa kerepotan dan ingin naik taksi saja.
"Ti~dak~ mauu! Tarik akuuuuu!"
Benar-benar junior yang manja. Sulit dipercaya kalau orang seperti dia ini kompeten dalam pekerjaannya.
Omong-omong, bukankah akhir-akhir ini pertahanannya terlalu longgar?
Bahkan sesama budak korporat pun, laki-laki itu tetaplah serigala. Apa yang dia lakukan saat minum-minum dengan orang lain?
" Aku kan tidak minum bersama orang lain. Apalagi berduaan, itu tidak mungkin!"
"Tolong hentikan kebiasaanmu membaca isi hatiku itu."
Karena aku tidak bisa membuangnya di pinggir jalan, dengan enggan aku meraih lengannya dan berjalan perlahan.
"Mabukmu terlalu parah untuk ukuran ronde pertama... padahal ini baru jam sembilan malam."
"Waktu tidak ada hubungannya! Aku kan sedang minum-minum karena kesal tidak bisa minum bersamamu!"
"Yah, kita kan bisa minum di hari lain."
"Kalau setelah menikah nanti, kalau kau tiba-tiba bilang tidak mau makan malam di rumah, aku pasti sedih, tahu."
Logikanya terlalu melompat jauh.
Sebenarnya apa sih isi kepalanya ini.
"Bagaimana bisa pemikiranmu sampai ke urusan pernikahan..."
"Eeh~ Padahal kau sudah menyapa orang tuaku, lho~?"
"Itu kan karena terpaksa."
Tak lama kemudian, kami tiba di jalan yang biasa kami lewati.
Waktu yang terasa seperti di neraka ini sebentar lagi akan berakhir, misiku akan selesai begitu aku melemparkan junior yang menempel di lenganku ini ke apartemennya.
Saat kami tiba di depan apartemennya, aku melepaskan lengannya.
"Nah, kau sudah bisa jalan sendiri, kan."
Setelah mengangguk dengan cepat, dia membuka mulutnya.
"Terima kasih... Kalau begitu, sampai jumpa! Hari Senin, ya?"
"Kalau kita bertemu, ya."
Shiraho melewati pintu masuk otomatis dengan langkah kaki yang lebih stabil dari dugaanku... Tunggu, dia tidak masuk, dia kembali lagi.
" Anu... Aku sangat sungkan mengatakannya, tetapi,"
Sambil memalingkan pandangannya, dia bergumam pelan.
"Sepertinya aku melupakan kunciku di kantor..."
Dengan tatapan memelas ke atas yang bisa membuat sembilan puluh sembilan dari seratus pria bertekuk lutut.
"Bolehkah aku menginap untuk malam ini saja?"
Dia menatapku sambil menyatukan kedua tangannya.
Aku membuka kunci kamarku dan mempersilakannya masuk. Kalau dipikir- pikir, selain orang tuaku, sepertinya ini adalah kali pertama ada orang lain yang masuk ke apartemenku.
"Horeee, apartemen Senior!"
Karena tidak ada pilihan lain, aku membiarkannya masuk, dan Shiraho langsung berlari kecil menyusuri lorong menuju bagian terdalam ruangan.
Lalu,
sreek, dia membuka gorden. Karena ini malam hari, tentu saja sinar matahari tidak masuk. Yang terlihat hanyalah apartemennya yang menjulang tinggi di depan.
"Jadi begini pemandangannya, ya~"
Kukira orang seperti dia akan langsung mengobrak-abrik lemariku atau melompat ke tempat tidurku.
Yah, sebenarnya tidak ada hal yang memalukan untuk disembunyikan. Karena ini penting, aku akan mengulanginya: tidak ada hal yang memalukan untuk disembunyikan.
"Ehehe, rasanya agak aneh. Jadi begini pemandangan apartemenku jika dilihat dari apartemen Senior."
Setelah menatap jendela dengan penuh kasih sayang, dia menutup gorden dengan hati-hati.
Saat dia berbalik, cahaya samar dari bintang-bintang seolah mengelus wajah merahnya.
Kamarku yang memang tidak luas ini, kini terasa lebih sempit dari biasanya.
Karena aku merasa akan tenggelam dalam suasana ini, dan masih ingin sedikit melawan, aku menyalakan lampu kamar.
"Cepat mandi sana."
"Padahal suasananya lagi bagus... Hah! Apakah maksudmu, kau ingin kita..."
" Apa maksudmu. Kita akan segera tidur, mumpung besok hari libur."
Aku membuang muka darinya dan melambaikan tangan. Karena menyeretnya ke sini, aku jadi sedikit berkeringat.
Dulu, setiap hari Jumat aku selalu begadang, menonton video sampai pagi buta atau jalan-jalan di luar, tetapi akhir-akhir ini karena kurang tenaga aku jadi cepat tidur.
"Jadi begini, Senior. Ada satu lagi permintaan yang sangat merepotkan, tetapi..."
Seperti yang dia lakukan di depan apartemennya tadi, dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
Karena sudah sampai tahap ini, apa pun yang dia katakan tidak akan membuatku terkejut lagi.
" Anu, kalau soal baju tidur, aku sudah pasti akan meminjam baju yang biasa Senior pakai, kan."
Hei. Siapa yang memberimu izin, siapa.
"Soal pakaian dalam... Aku harus pergi ke minimarket sebentar."
Ah, benar juga.
Suasana menjadi canggung. Meskipun mabuk, ternyata anak ini masih punya akal sehat.
Tentu saja tidak mungkin aku yang pergi membelinya.
"Baiklah, ayo kita pergi."
"Eh tidak, aku akan pergi sendiri... Tentu saja aku merasa sungkan dan malu kalau kau ikut."
Dengan panik, Shiraho melewatiku dan berjalan menuju pintu depan. Dan aku mengikutinya.
Apa yang sedang kami lakukan di ruangan sempit ini.
"Hei, hei, kalau aku ketiduran, kau bisa-bisa tidur di luar, lho."
"Kenapa kau senyum-senyum begitu...!"
Entah kenapa, ini terasa menyenangkan. Inikah yang namanya kehidupan yang tidak biasa?
Saat aku membuka pintu, angin dingin menerpa pipiku. Ah, malam di musim ini sudah mulai dingin.
Kami turun dari lift dan menuju lobi.
Mungkin karena pengaruh alkohol, tadi aku tidak merasa dingin, tetapi sekarang dengan pakaian tipis, ini cukup menyiksa.
Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan di sebelah kiriku.
" Apakah kau masih sempoyongan?"
"Tidaaak! Ini... ya, sifat asliku!"
Kalau kau harus ragu-ragu mengatakannya, lebih baik tidak usah diucapkan.
Fufu, dia tersenyum dan mulai melangkah maju.
Suara sepatu
loafer yang biasa dia pakai tidak terdengar, hanya suara "prak- prak" sandal yang biasa kupakai yang mendahuluiku sedikit di depan.
Cahaya lampu jalan yang temaram itu, sekarang terasa seperti penerangan yang paling pas.
Aku pulang sambil mengayunkan kantong plastik minimarket hingga berbunyi kresek-kresek.
Shiraho yang sudah masuk kamar terlebih dahulu, menoleh ke arahku dengan tangan terbuka lebar.
"Selamat datang kembali, Seniooor."
Ruang depan yang sama, dengan junior yang sama, jika dilihat secara terpisah tidak ada yang aneh.
Namun, seolah sedang bermain tebak gambar, ingatanku dan pemandangan di depanku ini tidak sinkron.
"Kehadiranmu di sini benar-benar terasa sangat aneh, tahu."
"Muu... Nanti juga akan terbiasa, kok, nanti! Atau lebih tepatnya, aku akan membuatmu terbiasa."
" Aku tidak mau terbiasa dengan ini."
Sambil melontarkan candaan, aku mengganti sepatuku dengan sandal rumah dan melangkah ke lorong.
"Mmh!"
Meskipun aku mencoba melangkah maju, juniorku ini menghalangi jalanku dan aku tidak bisa lewat.
" Ayo, Senior, ada yang harus kau katakan, kan."
Aku tahu, aku tahu, tetapi rasanya memalukan.
Tetapi sepertinya, tidak mengatakannya di saat seperti ini adalah sebuah pelanggaran.
"... Aku pulang, Shiraho."
"Ehehe, bagus sekali! Selamat datang kembali, Senior."
Dengan suasana hati yang baik, dia membuka pintu menuju ruang tamu.
Ini pertama kalinya dia ke sini, kan? Caranya bersikap terlalu natural.
Tanpa ragu, Shiraho melangkah lurus menuju balkon.
" Ah, sebelum mandi, aku punya sesuatu...!"
Sambil tersenyum gembira, dia mengeluarkan dua kaleng yang sangat familier dari dalam kantong minimarket.
Hei, jangan-jangan. Tolong katakan bahwa ini bohong.
"Mumpung kita ada di sini, ayo kita minum di balkon, satu gelas saja! Anggap saja ini sebagai
mukaezake (minuman penyembuh pengar) yang agak lebih awal!"
Ke mana perginya Shiraho yang mabuk tadi? Padahal waktu keluar kedai dia sudah sempoyongan, kan?
Lagi pula, bukankah mukaezake itu artinya minum alkohol lagi saat sedang mabuk berat...
"Ya ampun, tidak usah memikirkan detailnya. Mumpung kita sudah sampai di sini."
Bahkan aku pun tahu bahwa "sampai di sini" yang dia maksud bukanlah "sampai di balkon".
Baiklah, lagipula rencanaku untuk minum sendirian sudah hancur, aku akan menemaninya sampai akhir.
"Mau bagaimana lagi."
"Sudah kuduga Senior pasti akan mengatakan itu! Aku akan segera mengambil sepatuku!"
Kami berdua keluar ke balkon. Di tengah suasana yang berbeda dari dalam rumah, kaleng yang kupegang terasa berat.
"Kalau begitu,"
Dua bunyi pembuka kaleng psssht yang renyah terdengar di balkon yang sempit itu.
"Ini sudah keberapa kalinya hari ini."
"Kalau dengan Senior, berapa kali pun tidak masalah, kan."
Aku menyandarkan tubuh di pinggiran balkon dan mendentingkan kaleng kami.
""Bersulang.""
Alkohol yang memenuhi mulutku, dan aroma manis darinya terasa lebih kuat dari biasanya.
Benar juga, itu karena dia berada di sampingku, bukan di depanku.
"Hei, tolong geser sedikit, di sini sempit."
"Tidak apa-apa, kan~! Kesempatan untuk menempel padamu secara legal sangat jarang terjadi, lho!"
"Jadi kau sadar kalau yang kau lakukan biasanya itu ilegal, ya?"
" Aku sedang sedikit mabuk jadi aku tidak paham hal-hal rumit~"
Suhu tubuhku terenggut oleh bahu kami yang bersentuhan.
Lalu, dari tangannya yang hangat yang entah sejak kapan menutupi tanganku, rasa hangat itu perlahan mengalir kembali.
Keheningan turun menyelimuti kami berdua.
Saat ini, rasanya bahkan kedipan bintang di atas kepala kami pun bisa terdengar.
"Melihat Senior dari samping sesekali juga tidak buruk, ya."
Tanpa menatap mataku, Shiraho mengucapkan hal itu.
Setelah mandi dan kembali ke kamar, ruang tamu yang sangat hening menyambutku.
Angin sejuk yang mengalir dari luar jendela menggoyangkan gorden.
Bulan sabit yang jauh dari kata purnama itu memancarkan cahaya lembutnya.
Rasanya seperti sedang menonton pertunjukan di atas panggung.
Di tengah sofa, Shiraho meringkuk seperti seekor kucing. Napasnya teratur dan terdengar manis. Sudah kuduga, menyuruhnya mandi duluan adalah keputusan yang tepat.
"Mungkin aku akan menyeduh kopi."
Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang.
Aku sedikit meredupkan lampu ruang tamu dan pergi ke dapur.
Sambil merebus air, aku melihat jadwal di ponselku. Perlahan, suara blubuk-
blubuk yang ringan mulai memecah keheningan ruangan.
"Hei, kalau dipikir-pikir, besok dan lusa itu hari libur, kan."
Biasanya aku pasti akan senang, tetapi tidak untuk minggu ini.
Bagaimanapun juga, aku harus mengurus kucing besar ini paling lama selama dua hari ke depan.
Aku merasakan gerakan di sofa dan saat aku menoleh, kulit putihnya terlihat dari balik punggungnya, padahal musim gugur sudah semakin larut.
Aku membiarkan ujung bibirku terangkat tanpa perlawanan, toh tidak ada yang melihatnya.
"Karena lucu, biarkan saja dia seperti itu, ya."
Aku menyingkirkan niat usilku itu dan menyelimutinya dengan selimut.
Tiba-tiba, dia menangkap tangan kiriku dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang sedang tidur. Gerakannya benar-benar mirip kucing.
Dengan tangan kananku yang bebas, aku membelai rambutnya.
Kudengar kopi akan terasa lebih enak jika diseduh secara perlahan. Mungkin ini sudah terlalu lama direbus. Aku melepaskan tanganku dari rambutnya yang selembut sutra, lalu perlahan menarik tangan kiriku yang tertangkap olehnya.
Aku meninggalkan juniorku yang masih bergumam tidak jelas di sana, lalu menarik kursi ke dapur.
Aku meminum kopi yang masih panas.
...Seharusnya ini hanya hari Jumat biasa, kenapa bisa jadi begini.
Sebenarnya aku sudah menyadarinya. Aku tidak membenci perasaanku sendiri, hari-hariku yang tenang, berisik, dan sedikit membuat hatiku berdebar ini.
Apakah ada yang akan berubah jika aku mengutarakan perasaanku?
Tanpa memedulikan umur, aku memikirkan hal itu sambil menuangkan susu ke dalam kopiku yang tinggal setengah.
Kopi yang tadinya hitam pekat kini berubah menjadi warna kuning kecokelatan yang indah, dan aku kembali meminumnya.
Rasa lembut yang bisa dirasakan di balik rasa pahitnya itu, seolah-olah...
Jika aku menjatuhkan gula batu ke dalamnya, apakah rasanya akan menjadi terlalu manis?
"Untuk sekarang, biarkan seperti ini saja."
Aku menenggak habis kopiku dalam satu tegukan dan mencuci cangkirnya.
Berhati-hati agar suara air tidak membangunkannya, aku menggosok cangkir dengan spons.
Keesokan paginya, saat aku terbangun dan pergi ke ruang tamu, Shiraho yang sedang melakukan
dogeza (bersujud) di atas selimut menyambutku.
Pagi yang cukup mendebarkan...
" Aku beeeenar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu semalam!"
Setelah tidur semalaman, mabuknya pasti sudah hilang, tetapi sepertinya dia masih mengingat semuanya.
Kalau dipikir-pikir secara logika, tiba-tiba masuk ke rumah senior di hari Jumat malam itu adalah sebuah tindakan yang sangat tidak sopan.
"Tidak apa-apa, mau bagaimana lagi kalau kau lupa membawa kuncimu."
"Padahal ini pertama kalinya aku berkunjung ke rumah Senior, tetapi waktunya malah seperti ini..."
Aku mendekati Shiraho yang masih menunduk di sofa, lalu duduk di sebelahnya.
"Sudah, sudah, hentikan
dogeza-nya, mari kita sarapan."
Saat aku melirik jam, waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Pagi hari seorang budak korporat memang selalu dimulai lebih awal meskipun di hari libur... Atau lebih tepatnya, tubuhku terbangun dengan sendirinya.
Aku menepuk-nepuk junior yang meringkuk seperti bola di sofa.
"Kalau saja aku tahu bisa menginap semudah ini, seharusnya aku menyelinap ke salah satu kamar tidurmu saja..."
Dari dasar Shiraho yang sudah hampir menjadi bentuk bola sempurna itu, terdengar kata-kata yang tidak masuk akal.
"Kalau kau menyelinap masuk saat aku tidur, aku pasti sudah membuangmu ke luar, lho."
"Uuh... Di udara yang sedingin ini... Senior memang iblis."
"Justru karena aku mengizinkanmu menginap, aku ini malaikat, kan."
Dia tiba-tiba bangkit dan menatapku dengan tajam.
Hm? Meskipun baru bangun tidur, kenapa rambut anak ini sangat rapi, dan bukankah dia memakai
makeup?
"Kau sudah bangun dari tadi, kan?"
"Ugh...!"
Tubuhnya tersentak, dia perlahan bangkit dan berjalan menuju pintu depan.
Aku buru-buru menarik ujung kemejanya dan menariknya ke arahku.
" Aduh! Senior berani sekali!"
"Hei, jangan pura-pura tidak tahu dan mencoba kabur."
"Habisnya~! Aku kan tidak tega membangunkan Senior yang sedang tidur nyenyak~"
Sepertinya dia berusaha untuk bersikap pengertian dengan caranya sendiri.
Kekakuannya ini lumayan imut, sih.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Karena aku punya kartu identitas pegawai, kurasa aku akan pergi ke kantor untuk mengambil kunciku... Pasti ada orang yang sedang masuk kerja di hari libur, kan."
"Serius?"
Di hari Sabtu dan Minggu seperti ini, rasanya pasti enggan walau sekadar mendekati stasiun terdekat dari kantor.
Kalau begitu,
"Mau kutemani sampai setengah jalan? Sekalian sarapan."
"Eh! Benarkah!!"
Mata Shiraho berbinar-binar.
Melihatnya seperti ini, dia benar-benar mirip anjing. Aku seolah bisa melihat ilusi ekornya yang sedang mengibas-ngibas dengan kencang.
"Kalau sudah diputuskan, ayo kita bersiap, bersiap. Biarkan aku minum kopi dulu."
Aku menyalakan kompor gas sambil menguap.
"Horee, aku juga mau."
Shiraho masuk ke dapur dan mengambil mug dari lemari. Lho, dari mana dia tahu kalau aku menyimpannya di sana.
...Anak ini benar-benar bangun sangat awal, ya.
Tak lama kemudian, aroma yang nikmat memenuhi seluruh ruangan. Hanya dengan aroma ini saja, aku merasa otakku sudah terbangun.
Kopi memang enak diminum di pagi hari, tetapi diminum di malam hari pun tidak masalah. Seperti tadi malam.
Secara pribadi, aku selalu minum kopi hitam di pagi hari. Kalau malam hari...
tergantung suasana hatiku hari itu.
" Ah, mau pakai gula dan susu?"
Aku bertanya padanya sambil membuka kulkas.
" Aku tidak bisa minum kopi hitam, lho~"
Setelah berkata begitu, tanpa ragu sedikit pun, Shiraho menjatuhkan gula batu ke dalam cairan hitam pekat itu.
"Mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau kita mencoba masuk ke kafe di sekitar sini yang belum pernah kita kunjungi?"
Aktivitas pagi di hari Sabtu yang dimulai dari usulan mendadak oleh seekor domba (Shiraho). Melihatnya berjalan di depanku mengenakan celana santai (
sweatpants) milikku, entah kenapa aku merasa sedikit bersemangat.
Meskipun aku tidak akan pernah mengatakannya secara langsung.
Lagi pula, aku belum pernah masuk ke kafe mana pun di sekitar sini. Biasanya, aku tidak pernah berjalan-jalan di sekitar stasiun terdekat.
" Apakah kau pernah masuk ke salah satu kafe di sekitar sini?"
"Meskipun penampilanku begini, aku ini adalah wanita karir (OL) yang memukau lho!"
Wanita karir yang memukau tidak akan bersujud di rumah seorang pria di pagi buta.
"Sekarang, aku merasa Senior sedang memikirkan hal yang sangat tidak menyenangkan tentangku."
"Itu kan sudah biasa, kan."
Fuaah~, aku menguap tanpa menutupinya, lalu berjalan mengekor di belakang Shiraho.
Tentu saja, aku tidak lupa menusuk pipinya yang sedang mengembung dengan telunjukku.
"Mari kita pergi ke arah yang biasanya tidak kita lewati, ke arah yang berlawanan dengan stasiun atau semacamnya."
Memangnya ada apa di sana. Boro-boro pernah pergi ke sana, melihat petanya saja aku belum pernah.
Area jelajahku hanya sebatas rumah dan stasiun, serta supermarket dan toko roti di lantai bawah apartemenku yang berada di antara keduanya. Ini bisa jadi kesempatan bagus untuk bereksplorasi... pikirku.
"Hei, aku hampir saja tertipu. Kau akan pergi ke kantor, kan. Arah yang berlawanan dengan stasiun itu tidak mungkin."
Terdengar suara siulan tanpa bunyi.
Setidaknya belajarlah bersiul dulu sebelum melakukannya. Mungkin karena dia menoleh ke belakang untuk mengintip reaksiku, separuh dari wajah cantiknya terlihat olehku.
"Kalau tidak pergi ke kantor, nanti malam kau mau tidur di mana."
"Ya ampun, tentu saja, lihat ini."
Shiraho menatapku dengan pandangan lurus.
" Aku tidak akan mengizinkanmu menginap lagi, ya."
"Eeeh!! Kau tega membiarkan domba kecil yang malang ini tidur di luar...?"
"Jangan menyebut dirimu malang, kan masalahnya selesai kalau kau pergi ke kantor."
"Soal itu, ya, bukan karena sofa rumah Senior sangat nyaman atau karena wanginya enak, tetapi..."
Dia menggali kuburannya sendiri dengan sangat baik.
Yah, aku akan memikirkannya sambil sarapan. Sepertinya keputusanku tidak akan berubah, sih.
Sambil menarik ke atas ujung
sweatpants yang terlihat hampir menyapu tanah,
dia terus berjalan.
Mungkin karena itu ukuranku, celananya jadi sedikit kebesaran untuknya.
"Entah kenapa aku jadi malas berjalan, kita ke kafe yang di sana saja, yuk."
Padahal belum lima menit berlalu sejak percakapan kami tadi.
Sepertinya aku akan selalu terjebak dalam ritmenya seperti ini.
Seolah-olah mengatakan "Sekarang kita hanya perlu masuk," Shiraho yang suasana hatinya sedang baik menarik lenganku dan mempercepat langkahnya.
Kalau begini terus, jangan-jangan malam ini dia akan menginap lagi di rumahku, pikirku sambil ikut memperlebar langkahku.
â—† â—‡ â—† â—‡
Kring, suara lonceng yang jernih bergema saat kami melewati pintu kayu.
Berbeda dengan di luar yang mulai terasa dingin, bagian dalam kafe yang dipenuhi cahaya lembut ini terasa hangat dan menenangkan.
Suara percakapan yang terdengar nyaman, dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat di sini dibandingkan di luar.
"Pilihan yang tepat."
"Hehe, iya kan?"
Shiraho tertawa sambil mengangkat ujung bibirnya.
Kenapa kau yang bangga, kita kan cuma kebetulan menemukannya dan masuk.
Setelah duduk, kami membuka menu sarapan.
Salad yang ditaburi berbagai macam sayuran warna-warni, french toast, ham
egg, aroma lezat yang menguar dari sekeliling membuat otakku sedikit pusing.
"Hei, hei, Senior mau pesan apa?"
Shiraho mencondongkan tubuhnya ke atas meja.
Mungkin karena bajunya yang kebesaran, dari kerah kemejanya terlihat bagian dalam... Tepat setelah aku menyadarinya, aku menarik kerah bajunya ke atas.
"Tolong berhati-hatilah, ini tidak baik untuk jantung."
Setelah sesaat menunjukkan ekspresi bingung, dia segera memasang senyum jahil dan kembali duduk dengan tenang.
"Hee~ Ternyata Senior juga peduli dengan hal-hal seperti itu, ya~"
"Tentu saja."
"Padahal biasanya kau selalu memasang wajah datar seolah-olah ' Aku tidak tahu apa-apa'."
"Oh, ngajak ribut, ya?"
Kata-kata meluncur dari mulut kami seolah menyatu dengan irama BGM yang menenangkan.
Yah, meskipun isi percakapan kami sangat kekanak-kanakan, sih.
Jika aku sendirian, hari liburku pasti tidak akan jadi seperti ini.
Sejak dia masuk ke dalam kehidupanku, dunia yang kulihat terasa begitu menyilaukan.
Kami memanggil pelayan dan dengan semangat memesan sarapan.
Aku memesan menu sederhana yang terdiri dari roti panggang tebal, telur rebus, dan kopi.
Sedangkan Shiraho memesan
waffle dan parfait...
"A p a-apaan itu."
Aku tanpa sadar menatap wajahnya.
Sejak melihatnya memasukkan gula ke dalam kopi tanpa ragu kemarin, aku sudah menduganya, tetapi dia ini benar-benar sangat menyukai makanan manis, ya.
"Bukannya apa-apa, tapi kadar gula darahmu..."
" Aku tidak suka dengan paman-paman yang langsung membicarakan soal kesehatan."
"Berisik, aku masih pantas dipanggil kakak tahu."
Ekspresi wajahnya yang seolah berkata "Hah?" membuatku kesal.
Aku menyentil wajah cantiknya yang berada di dekatku.
" Apakah ini... KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?"
"Setidaknya ini bukan KDRT sungguhan, jadi tenang saja."
"Justru karena bukan sungguhan, aku jadi tidak bisa tenang, kan."
Meskipun kami sudah sering menghabiskan waktu bersama, masih banyak hal yang tidak kuketahui tentangnya. Misalnya cerita masa lalunya, musik yang akhir-akhir ini dia dengarkan, atau makanan kesukaannya.
Sama seperti saat selesai membaca novel, apakah suatu saat nanti tidak akan ada lagi hal yang tidak kuketahui tentangnya?
Apakah aku akan bisa terus bersamanya sampai saat itu tiba? Aku memikirkan hal-hal yang tak berguna.
"Wah, luar biasa! Lihat ini, Senior!"
Sambil mengikuti pandangannya yang terpaku pada piring yang datang lebih cepat dari dugaan, aku pun ikut tersenyum tipis.
Diskusi & Komentar (0)