🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 1 Chapter 2 - Junior yang Kompeten di Seberang Ingin Bermanja-manja di Tempat Dinas

Tanpa mau kalah dari panasnya musim panas, AC di dalam gerbong kereta menderu dengan keras.

Seirama dengan pergerakan kereta, pegangan tangan berayun ke depan dan ke belakang dengan gerakan yang sangat rapi. Benar-benar seperti budak korporat.

Entah berkat sistem kekebalan tubuhku sendiri atau berkat junior manja antah berantah itu, demam yang kurasakan hingga semalam telah mereda seolah- olah hanya kebohongan.

Sekarang, bagaimana aku harus membalas budinya?

Aku tidak terlalu ingin berbicara dengannya di kantor... Aku tidak berniat mengundang tatapan sinis dari para penggemarnya.

Lagipula, bekerjalah kalian semua, ini bukan tempat bermain.

Pihak yang dipuja-puja itu justru bekerja dengan sangat giat, yang membuat situasi ini semakin mencolok dengan konotasi yang buruk... Ya sudahlah, lebih baik aku berhenti memikirkannya, aku tidak ingin terseret dalam masalah.

Kereta berguncang.

Dari stasiun terdekatku menuju kantor tidak perlu berganti kereta, sekali naik maka kereta akan membawaku sampai tujuan.

Mungkin karena ini masih pagi, aku tidak bisa duduk, tetapi setidaknya aku bisa berdiri tanpa perlu berdesak-desakan.

Saat kereta melewati jembatan yang melintasi sungai, cahaya yang memantul di permukaan air yang berkilauan menerangi seisi gerbong.

Matahari pagi yang menyilaukan, keheningan di dalam gerbong yang hanya diisi oleh suara deru AC, langit senja yang terlihat dari jendela setelah pulang kerja tepat waktu, dan bulan sabit yang terlihat di perjalanan dari stasiun menuju rumah. Hal-hal seperti itulah yang terkadang bisa membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

Tiba-tiba, ada tubuh yang mendesakku kuat dari belakang. Eh, apakah keretanya baru saja berguncang sehebat itu?

Kemudian, sebuah suara berbisik di telingaku.

"Selamat pagi, Senioor."

Aku terkejut dan menoleh ke belakang, menemukan Shiraho sedang tersenyum manis.

"Syukurlah Senior sudah sehat. Kupikir Senior tidak akan terkena kualat meskipun libur sehari lagi~"

"Pekerjaanku akan menumpuk. Daripada itu, terima kasih untuk yang kemarin."

"Tidak apa-apa~ Aku sempat bingung harus melakukan apa karena aku tidak tahu kontak maupun nomor kamarmu."

Sambil tertawa ringan, dia membusungkan dadanya.

Apakah itu bisa disebut kecerdikan? Menggunakan tiang jemuran... itu murni mengandalkan otot, bukan otak.

"Kau berangkat lebih awal hari ini."

"Sebenarnya, ada lumayan banyak pekerjaan yang menumpuk untuk perjalanan dinas bulan depan..."

"Pastikan kau mendapatkan uang lemburmu, ya."

Kereta meluncur dengan tenang ke stasiun terdekat dari perusahaan.

"Kalau begitu, aku mau mampir ke minimarket dulu."

"Iyaa, ah, tentang balasan untuk yang kemarin."

Dengan senyum jahil, junior yang sedang kita bicarakan ini menatapku.

Aku hanya merasakan firasat buruk.

Setelah beberapa tahun menjadi pekerja kantoran, insting semacam ini akan terasah dengan sendirinya.

" Aku sudah menentukan barang yang kuinginkan! Kalau begitu, sampai jumpa nanti!"

â—† â—‡ â—† â—‡

"Maaf, apakah aku bisa meminta waktumu sebentar?"

Panggilan dari Kepala Bagian datang tepat setelah tengah hari.

Tidak lama setelah aku selesai menyantap makan siang terbaik yang kubeli dari toko roti di lantai dasar apartemenku.

"Dimengerti, apakah kita akan ke ruang rapat?"

Aku memegang kotak kunci yang ada di dekat pintu masuk Departemen Urusan Umum, bersiap membawa buku catatan dan PC-ku.

"Tolong, ya. Tidak perlu membawa PC atau semacamnya."

Hmm, ada apa ini? Tidak mungkin ada rotasi pegawai di saat seperti ini.

Sudah lama juga sejak terakhir kali ada pertemuan empat mata, apakah aku melakukan suatu kesalahan?

Aku masuk ke ruang rapat kecil yang berada di sebelah Departemen Urusan Umum dan menyalakan lampunya.

" Ah, maaf ya, memanggilmu saat kau baru saja sembuh."

"Tidak, aku yang berterima kasih karena Bapak meluangkan waktu..."

Kami berdua duduk berhadapan. Aku benar-benar sudah menjadi paman- paman sekarang.

"Jadi, langsung saja ke intinya."

Nah, mari kita lihat apakah ini kabar baik atau kabar buruk.

Kuharap ini bukan soal mutasi, padahal aku baru saja menemukan apartemen dan toko roti yang bagus.

Meski aku tidak pernah meminta seorang junior untuk mengikutiku juga.

" Aku akan meminta maaf terlebih dahulu, maaf. Aku tidak bisa melindungimu."

Tumben sekali Kepala Bagian yang terkenal dengan kinerjanya yang sempurna ini menundukkan kepala dengan wajah menyesal.

" Ada apa ini, terdengar berlebihan seperti di manga shonen... Apakah ini masalah yang sangat gawat?"

"Sulit untuk mengatakannya, tetapi ada permintaan dari Departemen Perencanaan di sebelah... Pemotretan di pantai pada awal bulan depan, mereka memintamu untuk ikut mendampingi."

Aku tidak mengerti. Mereka bisa saja mengirim orang dari Departemen Perencanaan sendiri, kan? Kenapa aku dari Urusan Umum harus repot-repot pergi ke sana?

Setelah terdiam beberapa detik, aku teringat keributan tadi pagi. Oh, jadi begitu.

"Boleh saya bertanya satu hal, orang yang mengajukan permintaan itu bukan Kepala Bagian Perencanaan, kan? Yang sebenarnya."

"Oh, tajam juga."

Kepala Bagian tersenyum menyeringai.

Ah, ternyata mereka sudah membicarakannya. Tumben beliau memasang wajah menyesal, aku benar-benar tertipu.

"Haa............"

Tanpa sadar aku menghela napas panjang. Entah kenapa pelipisku juga terasa sakit.

"Kepala Bagian, itu dari Shiraho, kan?"

"Tebakan yang tepat. Persis seperti yang dikatakan Shiraho."

Kepala Bagian menyilangkan kakinya dan tertawa.

"Sebagai referensi, apa yang anak itu katakan?"

Sekadar memastikan saja. Awas saja kau saat kita minum nanti.

"'Mungkin Senior akan tahu kalau itu aku~ Dan dia pasti tidak akan menolaknya!' katanya. Kau sangat disukai, ya."

Sial, aku dijebak...

Berarti firasat burukku tadi pagi memang benar. Aku sama sekali tidak senang.

"Bekerja sama dengan departemen lain itu hal yang bagus. Akhir-akhir ini kau bekerja sangat keras, anggap saja ini liburan dan bersantailah di sana."

"Itu Shiraho lho... Apakah Bapak pikir saya bisa bersantai?"

"No komen. Namun terlepas dari itu, dari semua orang yang ada, kombinasi kau dan Shiraho itu cukup menarik."

Setelah mengatakan hal tersebut, Kepala Bagian bangkit dari kursinya.

Sambil meletakkan tangannya di bahuku yang sedang menatap langit-langit, Kepala Bagian berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah ringan.

â—† â—‡ â—† â—‡

Hari Jumat. Setelah pulang kerja, aku mandi dengan santai lalu pergi ke balkon.

Alasan aku lebih bersemangat dari biasanya adalah untuk bertanya kepada anak itu mengenai perjalanan dinas bulan depan.

Sreek, aku keluar ke balkon dengan suara yang ringan.

Sepertinya dia belum datang.

Omong-omong, saat aku melihatnya lewat dari jam pulang kerja tadi, dia sedang dicegat oleh pegawai pria dari Departemen Penjualan.

Baik Penjualan maupun Perencanaan benar-benar sangat aktif. Departemen Urusan Umum itu sangat sepi, lho... Yah, itu karena jika ada yang berbuat ulah, petir raksasa dari Kepala Bagian akan menyambar.

Predikat kami sebagai departemen mutasi paling tidak populer bukanlah isapan jempol belaka.

Berniat untuk memulai duluan, aku mengambil kaleng berwarna biru muda.

Teman minumku hari ini adalah

gin soda.

Membayangkan sensasi karbonasi di mulut saja sudah membuatku diselimuti kebahagiaan yang menyegarkan.

Pssht, aku membuka tutup kalengnya.

Secara tidak sengaja aku menatap Segitiga Musim Panas di langit. Ah, bersulang untuk hari-hari yang damai.

Saat aku sedang bermain-main dengan bintang sendirian, jendela di depanku terbuka.

" Aaa--!! Curang! Jangan mulai duluan!"

Aku tarik kembali kata-kataku tentang hari-hari yang damai tadi. Sumber masalahnya telah tiba.

Mungkin karena baru saja pulang, dia buru-buru mengeluarkan kaleng bir dengan pakaian yang sama seperti yang ia kenakan di kantor tadi.

Melihatnya di apartemen ini selalu dengan pakaian santai, jadi penampilannya kali ini terasa cukup segar.

"Moo~~! Padahal aku sudah mengirim pesan lewat chat kantor kalau aku akan sedikit terlambat."

"Maaf, aku tidak melihatnya. Daripada hal itu, kau benar-benar melakukannya, ya."

Agar tidak mengganggu tetangga, aku mengungkapkan keluhanku dengan suara pelan.

"Cerita membosankan seperti itu nanti saja setelah kita bersulang, ayo, ayo."

Pandanganku tertuju pada lengannya yang lembap oleh keringat.

Saat aku mengalirkan pandanganku hingga ke ujung jarinya yang lentik bagai ikan teri putih, sebuah kaleng berwarna sama dengan bulan di langit tampak bergoyang.

"Bersulang, Senioor."

Dengan ujung alis yang menurun seolah menunjukkan kasih sayang, dia merangkai kata-katanya.

Perasaan marahku yang membeku keras pun, perlahan meleleh oleh suaranya yang lembut itu.

"Ya, bersulang."

Kaleng kami bertaut di antara dua apartemen.

Rasanya sesuai dengan yang kubayangkan, sensasi tajam di mulut dan karbonasi kuat yang menyegarkan, saat ditelan, gelembung-gelembungnya merangsang tenggorokan.

Sensasi menyegarkan yang sangat cocok untuk musim panas, dan rasa pahit dari gin yang membangkitkan kesadaran otak.

"Jadi? Apa maksudnya soal perjalanan dinas itu?"

"Ya persis seperti itu, karena kami kekurangan orang, kumohon ikutlah dengan kami~"

Seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar, Shiraho mendengus.

"Tetapi Senior, kau tidak menolaknya, kan?"

"No komen."

"Tidak, aku yakin Senior tidak akan menolaknya. Karena kau merasa berutang budi padaku yang mengantarkan berbagai macam barang saat kau demam."

Rasa tidak nyaman karena rencanaku terbaca lebih dari yang kuduga ternyata tidak ada.

Mungkin aku yang salah karena masuk ke dalam jebakannya. Lagipula... Haa...

Aku benar-benar dijebak. Bagaimana dengan pekerjaanku selama waktu itu?

Saat aku sedang menundukkan kepala, kepalaku ditepuk pelan.

Ketika aku mengangkat wajahku, wajahnya berada lebih dekat dari yang kukira.

"" Ah.""

Tanpa disengaja, kami berseru bersamaan.

Aroma manis yang tercium, apakah itu parfum atau...

"Maaf, terlalu dekat ya."

"Tidak, aku juga..."

Seolah ingin menghapus suasana canggung itu, aku menenggak habis minuman di kaleng biruku.

Jumat malam adalah waktu yang bebas, karena secara praktis ini adalah hari ke-nol liburan.

Shiraho menghilang ke dalam kamarnya, lalu mengaduk-aduk sesuatu sebelum akhirnya memberikan kaleng tambahan kepadaku.

"Kalau begitu, aku akan mempersembahkan bir ini untuk Senior yang sedang murung! Jadi, ya?"

Agar bisa menerima ajakan tulus dari junior yang manis ini, sepertinya saat ini aku membutuhkan sebuah alasan.

Sambil merasa sedikit kesal pada sifatnya yang penuh persiapan dan penuh perhatian itu, aku menerima tiga ratus lima puluh mililiter pesonanya.

â—† â—‡ â—† â—‡

Suatu hari Selasa.

Saat aku sedang bersiap-siap untuk pulang lebih awal dari biasanya, aku merasakan sebuah tatapan dari luar ruang kantor.

Sepertinya anggota Departemen Urusan Umum lainnya juga merasakan tatapan yang sama, mereka mengalihkan pandangan ke luar pintu. Karena ikut terpancing, mataku akhirnya bertatapan dengan wajah yang sangat kukenal.

Seorang rekanku mengambil inisiatif untuk menyapanya.

"Hai, Shiraho. Sedang mencari seseorang?"

"Ya ampun, padahal Bapak sudah tahu sendiri~"

"Iya, iya, sepertinya dia akan segera pulang, bawa saja sana."

Anak ini benar-benar bisa berbicara dengan siapa saja ya, hebat. Aku benar- benar kagum.

Padahal dia tidak mungkin datang ke Departemen Urusan Umum jika tidak ada keperluan, kapan dia berinteraksi dengan para anggota di sini?

Jangan-jangan ada acara minum-minum yang tidak kuketahui? Jika ada, aku akan sangat terpukul...

Yah, tidak ada hubungannya denganku. Aku menutup PC-ku dan mengambil tasku untuk segera terbang menikmati waktu setelah jam kerja. Hari ini aku bisa pulang cepat, haruskah aku memasak sendiri?

Setiap kali minum dengan Shiraho, entah kenapa makanannya selalu berujung pada lauk pauk dari swalayan atau makanan minimarket.

Setelah memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal di atas meja, aku melangkah keluar ruangan.

Sinar matahari yang masuk melalui jendela sepertinya belum berniat menurunkan suhunya.

Lebih baik aku menyapanya sebentar, lagipula kami saling mengenal.

"Kalau begitu, selamat istirahat~"

Aku bergumam pelan dan menghilangkan hawa keberadaanku layaknya karakter figuran yang baik... Namun, ada seseorang yang menahan lenganku.

Tidak perlu dikatakan lagi, itu adalah juniorku.

"Tunggu dulu! Aku kan sudah bilang kalau aku ada urusan!"

"Eh, mau memanggil siapa? Semuanya sudah mau pulang, lho."

"Senior, tahu!"

"Tidak, aku tidak ada urusan denganmu. Tugasku adalah pulang dan menyantap makanan yang lezaaat..."

Mungkin karena sedikit ribut, orang-orang di dalam ruang kantor mengintip keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Melihat kami berdua, mereka mengangguk paham dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Hm? Padahal aku mengira akan ada sorakan yang dilemparkan...

"Hari ini aku datang karena ada permintaan untuk Senior."

Kira-kira masalah apa lagi kali ini? Padahal aku sudah dengan berat hati, benar-benar dengan berat hati meminum bir yang ia berikan tempo hari.

"Kalau soal permintaan, aku sudah mendengarnya waktu itu, dasar ahli strategi."

" Apakah itu dimaksudkan sebagai pujian?"

Benar-benar tidak tahu malu. Sesuai dengan nama Shiraho (layar putih) miliknya.

Hidungnya yang mancung, pipinya yang bulat, serta sapuan eyeliner yang rapi semakin menambah kesan manis pada dirinya.

"Tentu saja aku sedang merendahkanmu."

"Jahat sekali, padahal juniormu ini sangat menyukaimu..."

Dia berpura-pura menangis tersedu-sedu, tetapi beberapa detik kemudian wajahnya kembali seperti semula.

"Jadi, apa permintaanmu? Tergantung masalahnya, aku mungkin akan langsung pulang."

"Seharusnya kau bilang, 'Tergantung masalahnya, mungkin aku akan mendengarkanmu'... Dasar keras kepala..."

Dia bergumam pelan hingga tidak terdengar jelas. Aku sungguh tidak ingin berlama-lama di tempat orang berlalu-lalang seperti ini, apalagi ada anggota Urusan Umum di sekitar sini.

Junior yang tadi bergumam tidak jelas itu tampaknya sudah berniat untuk membuka mulutnya.

Dia mengepalkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada, lalu kata-kata meluncur dari bibirnya yang kenyal.

" Anu, begini... Mari kita! Pergi berbelanja! Kita kan akan pergi ke pantai!"

Tidak, kau tidak perlu mengatakannya dengan sekuat tenaga seperti itu.

Membawa barang belanjaan itu sama saja dengan bekerja tahu, padahal aku tidak dibayar.

Saat aku sedang memikirkan betapa merepotkannya hal itu, seseorang menepuk bahuku.

Saat aku menoleh ke belakang, rekanku yang tadi menyapa Shiraho berdiri di sana.

"Pergilah. Serahkan urusan di sini padaku, oke?"

Apakah ini adegan

manga shonen?

"Lihat kan, dia sudah bilang begitu~"

Kerja sama macam apa ini.

Memangnya apa yang harus diserahkan? Pekerjaanku sudah tidak ada yang tersisa tahu.

Aku menghela napas sambil keluar ruangan. Meskipun aku merasa kesal pada gadis yang mengikutiku dari belakang ini, aku tidak punya pilihan karena aku sudah terjebak dalam jebakan yang telah disiapkan dengan rapi.

"Cepat siapkan barang-barangmu untuk pulang."

"Kau mau pergi bersamaku!?"

Dia tertawa dengan sangat ceria. Rasanya akhir-akhir ini aku sering melihat ekspresi ini.

Matahari sore menyorot tajam kami yang sedang berjalan di dekat jendela.

Meskipun ini musim panas, matahari mulai condong ke barat. Di hari seperti ini, aku hanya ingin cepat pulang.

"Bukannya kau yang memintaku untuk ikut."

"Tetapi aku benar-benar tidak menyangka kau akan datang."

"Kalau kau tidak ingin aku ikut, aku bisa pulang sekarang."

"Tidak boleeh, kau sudah berjanji, lho!"

Dia bergegas masuk ke ruang Perencanaan dan muncul kembali dalam beberapa puluh detik.

Dari dalam terdengar suara seperti "Selamat beristirahat~", "Hati-hati di jalan", dan "Semangat, ya".

Semangat untuk apa? Apakah dia akan membeli sesuatu yang berbahaya...?

Sambil memegang tas kecilnya erat-erat, dia tersenyum manis lalu mendongak menatapku.

"Kalau begitu, ayo pergi, Senioor!"

Aku hanya mengikutinya di belakang seperti orang yang ditarik. Apakah hari ini temanya adalah wanita

cool? Dia mengenakan sepatu loafer, celana

berwarna beige, serta setelan jaket dengan warna senada.

Berjalan bersama di kawasan bisnis yang penuh warna di sore hari, penampilanku terasa sangat tidak pantas.

Hmm, seandainya saja wajahku sedikit lebih tampan. Tanpa menyadari perasaan rendah diriku, dia menoleh ke arahku.

" Ada apa, Senior? Menatapku seperti itu, apakah kau sudah jatuh cinta padaku?"

"Tenang saja, aku tidak jatuh cinta padamu. Hanya saja tumben kau tidak memakai pakaian kasualmu."

Wajah terkejutnya hanya bertahan sesaat sebelum kembali ke senyum cerianya yang biasa.

"Hee~~ ternyata kau ingat pakaian yang sering kukenakan yaa."

Dia meletakkan tangan di dagunya yang proporsional sambil mengangguk- angguk. Entah kenapa itu membuatku kesal.

" Aku juga ingat pakaian Senior, lho. Walaupun yang kau tunjukkan padaku hanya pakaian tidur dan setelan jas saja."

"Sebaliknya, aku tidak bisa membayangkan situasi di mana aku memperlihatkan pakaian kasualku."

"Tentu saja, karena kita akan... ya, kan?"

Aku sedang dipermainkan dengan lembut di telapak tangannya.

Apakah akan datang hari di mana aku yang memegang kendali?

"Bagaimana menurutmu, penampilanku hari ini?"

Dia berputar dengan anggun. Jaketnya yang tidak dikancingkan mengembang seperti rok.

"Menyebalkan, meskipun bicaramu besar, pakaianmu membuatmu terlihat seperti orang yang sangat kompeten."

Delapan puluh persen jujur, dua puluh persen malu.

Sambil menggembungkan pipinya, Shiraho menyelipkan rambut ke belakang telinga dan mendekat.

Kulitnya yang putih dan mulus terpampang tepat di depan mataku.

Dia meletakkan tangannya di bahuku, berjinjit, lalu berbisik di telingaku.

"Tetapi sebenarnya?"

Rambutnya menyapu pipiku. Entah itu parfum atau bukan, aroma manis memenuhi hidungku dan merenggut akal sehatku.

Aku mengumpulkan sisa akal sehatku dan berhasil menjauhkan diri darinya.

Aku melangkah maju tanpa berkata-kata. Sebenarnya... ya. Langkah kakiku menjadi lebih lambat dari sebelumnya.

Saat aku menoleh ke belakang, wajahnya berada lebih dekat dari yang kuduga.

"Cocok untukmu."

Meskipun tidak ada kekhawatiran orang lain selain dia yang mendengarnya, aku bergumam dengan suara pelan.

Matahari sore yang menyilaukan mata membuatku tidak bisa melihat wajah gadis yang tertawa kecil itu.

"Lalu, apa yang mau kau beli?"

Tanpa terasa, aku sudah ditarik masuk ke pusat perbelanjaan dan sedang berada di eskalator.

Dia berada satu anak tangga di atasku, terpisah satu anak tangga. Jarak yang sedikit terlalu jauh untuk mengobrol.

"Ya ampun, Senior. Ini musim panas, dan kita akan pergi ke pantai lho? Sudah jelas, kan."

"Kita pergi ke sana untuk bekerja, kan...?"

Seingatku agendanya adalah pemotretan model. Bukankah kehadiranku tidak diperlukan di sini?

Apa yang harus kulakukan?

"Tidak mungkin kita cuma bekerja lalu selesai begitu saja, kan! Kita akan pergi ke pantai lho, pantai! Itulah hal terbaik dari perjalanan dinas!"

"Eeeh~~~~~"

Jangan remehkan budak korporat yang suka di dalam ruangan sepertiku. Kalau disuruh pergi ke pantai, aku akan meleleh. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Mengikuti junior yang berlari turun dari eskalator, aku pun mengucapkan selamat tinggal pada lantai yang bergerak itu.

Di ujung eskalator yang sangat panjang tersebut, berjejer rapi toko-toko pakaian bermerek.

Bagaimana pun dipikirkan, ini bukan tempat yang pantas dikunjungi oleh paman-paman berusia akhir dua puluhan sepertiku. Mataku rasanya mau terbakar melihat cahaya yang memantul dari orang-orang yang gemerlap di sekitarku.

Sekarang, aku merasa sedikit memahami perasaan karakter berkacamata hitam tertentu yang menganggap manusia seperti sampah.

"Jangan pasang wajah seperti itu. Memang sedikit aneh melihat orang dengan setelan jas rapi ada di sini, sih."

Shiraho terus melangkah maju sambil menertawakanku. Padahal kau juga memakai jaket tahu.

Gawat, kalau aku sendirian di sini, aku akan dianggap sebagai orang mencurigakan.

Aku bergegas mengejarnya.

"Jadi, karena itulah aku akan membeli baju renang baru, dan sekaligus membelikan baju renang untuk Senior yang pasti tidak punya baju renang."

"Kalau aku tahu kita akan membeli baju renang, aku pasti tidak akan ikut."

Aku tidak boleh tertinggal darinya. Dengan langkah berat, aku menyejajarkan posisiku di sebelahnya.

Toko yang kami masuki cukup bernuansa elegan.

Di luar dugaan, dengan sifatnya itu aku mengira dia akan masuk ke toko yang lebih bernuansa pop.

" Aku merasa kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan..."

Benar-benar tajam sekali intuisimu.

" Aku tidak memikirkan apa-apa, cepat beli saja sana. Berada di sini saja aku sudah merasa sangat salah tempat."

"Selama kau bersamaku, semuanya akan baik-baik saja kok. Lagipula, menurutmu untuk apa aku membawamu ke sini?"

Bunyi sepatu loafer-nya menggema saat dia masuk semakin dalam ke toko.

Dikelilingi oleh pakaian wanita di sekitarku, membuatku merasa seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang salah.

"Memangnya apa lagi kalau bukan untuk membawakan barang bawaanmu?"

"Tentu saja bukan. Kau harus memilih, Senior. Baju renang untukku."

Dia menghentikan langkahnya, mengambil beberapa potong pakaian yang tergantung di rak, lalu menyodorkannya ke arahku.

"Nah, menurutmu mana yang lebih cocok?"

Yang disodorkan di depan mataku adalah bikini hitam yang elegan dan baju renang model

one-piece berwarna merah muda pucat.

"Memilihkan baju renang untuk junior lawan jenis itu terlalu... Bukankah ini termasuk pelecehan seksual?"

"Karena aku yang mengizinkannya, jadi tidak apa-apa!"

Tekad bulat Shiraho membuatku tersentak mundur.

Kita pergi ke pantai untuk bekerja, kan...?

"Tidak, kurasa aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya, jadi belilah yang kau sukai."

"Kalau begitu akan kuperlihatkan padamu, jadi tolong pilihkan."

"Mana ada pemaksaan seperti itu."

Merasa perdebatan ini tidak akan ada habisnya, dia menarik tanganku dan menyeretku masuk lebih dalam ke toko.

"Sungguh, aku juga bisa terluka lho? Kalau kau bilang tidak mau melihatku memakai baju renang."

"Eh, jadi aku harus bersikap lebih agresif ya? 'Hei Shiraho, perlihatkan baju renangmu dong'."

"Sikap dangkal dari Senior sangat tidak sesuai dengan kepribadianmu, tolong jangan lakukan itu lagi. Lagipula, kalau kau mau bertindak sejauh itu, panggil aku dengan nama depanku dong."

"Maaf..."

Kenapa aku dimarahi begini? Tidak perlu sampai mengatakannya seperti itu, kan.

Aku rela membelikan baju renang itu dengan uangku sendiri, bisakah kau membebaskanku dari perjalanan dinas ini?

"Kalau begitu, Senior tunggu di sini!"

Kami tiba di depan ruang pas.

Tanpa sempat bereaksi, Shiraho sudah menghilang di balik tirai.

Dari dalam terdengar suara gesekan pakaian dan bunyi gemeretak. Sepertinya aku tidak boleh membayangkan suara apa itu.

"Senior, apakah kau masih di situ~?"

"Iya, iya, aku masih di sini."

"Syukurlah. Aku khawatir Senior yang tidak punya perasaan ini akan pulang saat aku tidak melihat."

" Apakah kau menganggapku sebagai tsuchinoko atau semacamnya? Cepatlah ganti bajumu."

"Kalau kau sangat ingin melihat baju renangku, seharusnya bilang dari awal dong~"

Belum sempat kata-katanya selesai, dia membuka tirai dengan cepat, memperlihatkan Shiraho dalam balutan bikini hitam.

Lekuk pinggangnya yang ramping dan pahanya yang kencang terpampang nyata.

Pesona yang membuatku tak punya ruang untuk mengomentari wajah bangganya itu.

Ini... agak sedikit, hmm. Meski aku tak akan mengatakannya secara gamblang.

Aku segera menutup tirai dan mendorong junior yang tidak tahu malu itu ke dalam.

"Itu sangat berbahaya. Tolong, pakailah bajumu."

Aku bisa merasakan wajahku mulai memanas.

"Eeeeeh~~~ Padahal baju renang ini lucu, kan!"

Sambil melihat bagian dadanya sendiri, dia mengerucutkan bibirnya.

"Yah, yang penting aku sudah bisa melihat reaksi Senior."

Setelah berkata begitu, tangannya bergerak ke arah belakang. Apakah dia berniat melepaskannya sekarang?

"Tunggu, tunggu, biarkan aku keluar dulu."

"Hehe, kalau aku berteriak sekarang, karir Senior di masyarakat akan tamat ya... fufufu."

Dia tersenyum dengan wajah nakal.

"Mengerikan, ini pembunuhan berencana, kan."

"Hak hidup dan matimu..."

"Cukup sampai di situ."

" Aku belum punya keberanian untuk memperlihatkan tubuh telanjangku, jadi tolong tahan dirimu untuk hari ini ya!"

Sambil mengatakan omong kosong dengan percaya diri dan mendorong punggungku, dia pun menutup tirainya.

Pada akhirnya, Shiraho mengusirku dari toko dengan alasan dia masih ingin memilih sendiri sedikit lebih lama.

Tatapan orang-orang di sekitarku terasa sangat menusuk. Wajar saja, seorang budak korporat usia akhir dua puluhan yang memakai setelan jas berdiri di tengah toko pakaian bermerek wanita, itu sangat aneh.

Illustration "Seniooor! Maaf membuatmu menunggu!"

Shiraho muncul dengan suasana hati yang sangat baik, membawa kantong belanja berlogo tulisan yang tidak bisa kubaca.

"Kau terlihat sangat senang."

"Tentu saja, karena ada senior ketus yang bersedia menemaniku."

Dia mendengus dan menjawab dengan nada yang sedikit sombong.

Anak ini, dia selalu punya kebiasaan mendongak serong ke atas dengan wajah bangga, ya.

Karena itu lucu, aku tidak akan memberitahunya.

" Aneh sekali, aku hanya tahu ada senior yang ramah dan kompeten dalam bekerja..."

"Kau serius mengatakan itu?"

"No komen."

Aku melambaikan tanganku untuk menghindari serangan lanjutannya. Tolong jangan menatapku dengan mata sedingin itu.

"Untuk senior yang mengaku sempurna itu, aku punya hadiah."

" Aku bertaruh pada kalimat, 'Kan aku sudah memperlihatkan baju renangku tadi~'."

"Hee~ ternyata kau menganggap hal itu sebagai hadiah, ya! Benar-benar keras kepala."

"Berisik, jangan mencari-cari kesalahanku."

Suara sepatu

loafer-nya bergema.

"Yang mencari-cari kesalahan kan memang salah."

Gadis yang melangkah beberapa milimeter lebih tinggi dari sebelumnya itu, entah kenapa terasa seperti sosok yang jauh.

Di luar yang tadinya masih terang saat kami keluar kantor, kini sudah didominasi oleh malam.

" Aku benar-benar punya hadiah lho."

Sambil mengatakan hal itu, dia terus melangkah maju.

Apa itu, ya?

Meskipun aku tidak akan mengatakannya secara langsung, bantuan yang ia berikan saat aku demam waktu itu sudah lebih dari cukup sebagai hadiah.

Lebih dari barang-barang yang ia bawakan, melainkan rasa kepeduliannya itu.

Bahkan setelah kami naik kereta, wujud hadiah itu masih belum terungkap.

Akhirnya kami tiba di stasiun terdekat.

Kami keluar dari gerbang tiket dan berjalan pulang.

"Mau mampir ke minimarket?"

"Oh, boleh. Aku juga mau beli makan malam."

Berjalan sedikit saja, suara serangga musim panas sudah terdengar.

Malam di musim panas... yah, aku tidak bisa membantahnya. Masih terlalu awal untuk disebut malam tropis, tetapi udara yang lembap tidak terasa terlalu mengganggu jika di malam hari.

" Ah, lihat, Senior. Ada bulan sabit yang cantik lho."

Shiraho membuka mulutnya sambil menunjuk ke langit.

Saat pulang sendirian, aku jarang menatap langit, jadi aku kurang peka terhadap perubahan halus bintang-bintang seperti ini.

"Kau benar."

Aku menjawab dengan pandangan kosong.

" Apakah Senior tipe orang yang jarang melihat langit saat perjalanan pulang?"

Gadis yang berjalan di depanku itu menoleh ke belakang.

Aku sedikit terkejut karena dia bisa menebak apa yang sedang kupikirkan.

Tanpa berkata apa-apa, aku hanya mengangguk.

Bulan itu memantulkan cahaya dengan sangat baik meskipun bentuknya tipis.

Bibirnya yang diterangi cahaya bulan itu semerah biasanya.

"Kalau begitu, setidaknya saat sedang bersamaku, mari kita melihatnya bersama."

Bibirnya yang terangkat tipis dan menawan, persis seperti lengkungan di langit, sangat cocok dengan musim panas ini.

Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pandanganku.

Kami tiba di pintu masuk apartemen. Aku berjalan menuju arah rumahku, dan dia juga berjalan ke arah... Hah? Kenapa dia mengikutiku?

"Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Senior!"

Hanya mengatakan itu, Shiraho berbalik. Sepertinya aku baru saja mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan.

"Eh, kita mau minum hari ini?"

"Tentu saja! Kan aku sudah bilang kalau aku punya hadiah!"

Dia berputar menghadapku dan mulai berbicara dengan suara lantang.

Eh, ternyata dia tidak akan mengatakan hal-hal seperti "Senang kan bisa pulang bareng cewek manis sepertiku~".

Entah kenapa aku merasa bersalah, aku merapatkan kedua tanganku untuk meminta maaf pada sosok Shiraho di dalam kepalaku.

" Apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan?"

"Uwah, bagaimana kau bisa tahu?"

"Hal-hal seperti itu seharusnya tidak dikatakan meskipun tebakanku benar!

Sungguh!"

Shiraho bergegas kembali ke apartemennya. Apakah anak itu seorang esper?

" Aku akan memberimu waktu untuk mandi. Aku juga ingin menyegarkan diri."

Akhirnya dia menoleh ke arahku dan melontarkan kalimat perpisahan.

Rambutnya yang berkibar seperti gorden, dan tengkuknya yang terlihat sekilas, berhasil mencuri pandanganku.

Bukan masalah besar, tampaknya bagi dia, baik itu cahaya bulan maupun lampu apartemen tidak ada bedanya.

Benar-benar menjengkelkan, tetapi memiliki wajah yang cantik itu sungguh curang, ya.

Aku tiba di rumah dan mandi.

Sambil diguyur oleh aliran air yang kuat, kejadian hari ini berputar di kepalaku. Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu bersamanya, tetapi aku tidak mengerti alasannya.

Meskipun kami pernah sedikit mengobrol di masa lalu, itu hanya sebatas urusan pekerjaan saja.

Dengan pikiran kosong, aku keramas, mencuci muka, lalu mengenakan pakaian santai.

Di luar dugaan, aku menghabiskan cukup banyak waktu.

Stok minumanku tidak terlalu banyak. Aku ingin menikmati whiskey dengan santai sendirian, tetapi jika ada chuhai kaleng atau bir, aku bisa meminumnya sambil mengobrol.

"Oh, ajaibnya ternyata masih ada sisa."

Aku membawa kaleng chuhai terakhir yang tertidur di bagian paling belakang kulkas dan pergi ke balkon.

Tenggorokanku terasa kering setelah mandi.

Tanpa sadar, aku membuka tab kaleng yang ada di tanganku dan meminumnya.

"Haa~~~~!"

Manis. Seingatku ada tulisan yang menyebutkan persentase kandungan sari buahnya, tetapi aku tidak bisa membedakannya.

Sreek.

Seperti biasa, aku membuka satu-satunya pintu kaca yang menuju balkon.

Bulan itu memang indah, persis seperti yang dia katakan.

Aku meletakkan tanganku di pinggiran balkon dan tenggelam dalam pikiranku.

Bulan itu hanya berada di sana dengan megahnya. Alasan ia terlihat berubah bentuk hanyalah karena posisi kita sebagai pengamat yang berubah.

Sebagian besar hal di dunia ini juga sama. Kejadian itu sendiri bukanlah apa- apa, tetapi sudut pandang kitalah yang berubah saat merasakannya.

Misalnya, misalnya seorang gadis populer yang jarang kuajak mengobrol dan seorang budak korporat tidak mencolok yang hanya berada di departemen sebelah, ternyata adalah tetangga yang jarak balkonnya hanya beberapa sentimeter.

Tepat saat kesadaranku hampir tenggelam ke dasar, jendela di depanku terbuka.

" Aah-! Kau mulai duluan lagi!"

Shiraho mungkin tidak pernah memedulikan bagaimana posisinya sendiri berubah.

Rambutnya yang sedikit basah tidak berkibar seperti sebelumnya.

Meski begitu, sosoknya yang diterangi cahaya bulan tetap terlihat menyilaukan seperti biasa.

"Bersulang, bersulang!"

Sambil berkata begitu, Shiraho dengan kasar mengeluarkan kaleng chuhai-nya.

Kalau kau mengocoknya sekeras itu, karbonasinya akan...

"Kenapa sih senior yang satu ini selalu mulai duluan~"

Meskipun dia terlihat sangat marah, jarinya sudah bertengger di tutup kaleng.

"Maaf, maaf. Setelah mandi, aku benar-benar tidak bisa menahannya."

"Itu kan cuma selisih beberapa menit. Setidaknya minumlah teh barley dulu, kek."

Dia berbicara sembarangan. Padahal menenggak alkohol saat tenggorokan sedang sangat kering sehabis mandi itu yang paling enak.

"Maaf, maaf."

Aku melakukan gestur meminta maaf dengan memotongkan tangan yang tidak memegang kaleng seperti pedang. Di saat seperti ini, lebih baik aku meminta maaf dengan jujur.

"Yah, karena kau sudah menemaniku, aku akan memaafkanmu."

Lihat kan, meskipun alasannya tidak masuk akal, dia tetap memaafkanku.

Omong-omong, kami tidak sedang berpacaran, ya. Jangan meremehkan paman- paman budak korporat usia akhir dua puluhan yang kesepian ini. Perasaanku jauh lebih sensitif dibandingkan anak SMA di luar sana, lho.

"Eh, jangan-jangan aku membuatmu salah paham seolah-olah aku ini kekasihmu? ... Sayang sekali, maksudku adalah menemaniku berbelanja tadi!"

Tanpa memedulikan busa yang tumpah dari kaleng yang baru dibukanya, dia malah memprovokasiku.

Aah, tanganmu jadi lengket semua, kan? Padahal kau baru saja selesai mandi.

"Mana mungkin aku salah paham, jangan terlalu percaya diri. Aku ini adalah perwujudan dari makhluk sosial, lho."

"Padahal kau boleh sedikit goyah, lho~! Membosanka-n."

"Oh, kalau begitu, apakah kita bubar saja hari ini? Aku ada film yang ingin kutonton. Lagipula tanganmu sepertinya butuh dibersihkan dari soda itu."

"Eh! Kalau begitu, ayo tonton sama-sama! Bolehkah aku melompat ke kamarmu dari sini...?"

Shiraho mengeluarkan setengah badannya dari jendela. Entah kenapa hari ini daya serangnya cukup tinggi.

Dan apakah dia berniat pura-pura lupa kalau tangannya sedang lengket?

Lebih penting dari itu.

"Tentu saja tidak boleh. Garis ini, ya,"

Sebaik apa pun hubungan kami, ini adalah garis yang tidak boleh dilewati, atau lebih tepatnya, garis yang tidak bisa dilewati.

Sebagai seorang pria dan sebagai orang dewasa di masyarakat.

"Garis ini?"

Dia menurunkan alisnya dan menunggu kelanjutanku dengan wajah murung.

"Tidak, bukan apa-apa. Lupakan soal filmnya, ayo minum."

Aku merasa jika aku mengatakannya, hubungan ini akan berakhir.

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku mendapati diriku yang menolak hal itu terjadi. Yah, kalau aku mengatakannya dia pasti akan besar kepala, jadi aku tidak akan pernah mengatakannya di depannya.

"Ya sudahlah, nanti akan kukorek darimu saat Senior sedang mabuk."

"Tolong berbaik hatilah padaku."

"Tanganku lembut lho, coba lihat ini."

Setelah meletakkan kaleng di pinggiran balkon, dia menyodorkan jari-jarinya yang panjang dan ramping yang diterangi cahaya bulan ke arahku.

Apakah anak ini sudah mabuk?

"Jangan arahkan tangan lengketmu itu ke sini."

"Tidak sopan! Tanganku ini halus dan mulus lho!"

Kata-kata itu menjadi akhir, dan keheningan menjatuhkan bayangannya di antara aku dan Shiraho.

Anehnya, aku tidak membenci waktu-waktu seperti ini. Menurutku hubungan yang harus selalu diisi dengan obrolan agar bisa bertahan itu terlalu melelahkan.

" Aku juga suka saat-saat di mana kita sama sekali tidak melakukan apa pun seperti ini."

Beberapa saat kemudian, dia bergumam dengan nada suara yang direndahkan.

Tumben sekali pikiran kami sejalan.

" Aku juga tidak membencinya."

Aku menyesap kaleng chuhai-ku.

Hangat dan manis.

Terpancing oleh Shiraho yang menghela napas pelan lalu mendongak, aku pun ikut menatap langit.

Seolah mengatakan bahwa pertunjukan utamanya baru saja dimulai, sebuah segitiga besar menatap ke bawah ke arah kami.

â—† â—‡ â—† â—‡

Matahari membakar kulit dengan kejam. Suhu telah melewati tiga puluh derajat Celsius. Yang terlihat di pandanganku hanyalah pantai berpasir putih dan laut biru yang berkilauan.

Kenapa aku harus berdiri di tempat seperti ini dengan mengenakan jaket...

Perjalanan dinas ini adalah akibat dari jebakan junior berwajah cantik itu. Aku pikir pekerjaanku akan selesai setelah menyiapkan hotel, transportasi, dan perlengkapan, tetapi aku malah harus datang langsung ke lokasi.

Jika aku tahu akan seperti ini, seharusnya aku membawa kaus dan celana pendek.

Sial, saat ini pekerjaan di kantor pasti sedang menumpuk.

"Senior, Senior~! Kerja bagus!"

"Oh, kau juga... Panas sekali, kan?"

"Sangat panas! Tetapi, bukankah ini benar-benar terasa seperti musim panas?"

Aura orang ekstrovert (

youkya) memang luar biasa.

Aku hanya ingin bersantai di ruangan ber-AC secepatnya.

"Meskipun wajahmu terlihat tidak suka, jangan lupa bahwa gajimu tetap berjalan selama waktu ini, lho."

Sambil mengibas-ngibaskan kaus hitamnya, dia memukulku dengan fakta telak.

Ujung kausnya yang berkibar memperlihatkan perutnya yang putih mulus.

"Jangan menatapku seperti itu dong, Senior~"

Dia mengerucutkan bibirnya dan berbicara dengan suara manja sambil menempelkan dan menggosokkan lengannya kepadaku. Mengganggu sekali.

"Ini namanya force majeure. Kau sendiri yang memamerkannya."

"Omong-omong, bukankah setelan jas Senior itu sangat panas? Uwah, di dalamnya sangat panas. Ini sih sudah seperti sauna, kan."

Dia menyelinapkan lengannya yang menempel tadi ke dalam jaketku dan mengelus perut sampingku.

"Ini sudah cukup panas, tolong menjauhlah dariku~"

Sementara kami sedang ribut sendiri, persiapan pemotretan model berjalan dengan lancar.

Bisa melihat proses seperti ini adalah salah satu keuntungan berada di lapangan, ya. Ada banyak hal yang tidak akan kau pahami jika hanya duduk di meja sambil mengetik PC.

Wah, pasti berat sekali menyiapkan peralatan di luar ruangan... apalagi jika alasnya adalah pasir pantai.

Pasti juga sangat melelahkan membawa barang-barang seberat itu dari mobil ke sini.

Persiapannya sepertinya sudah selesai, sekarang giliran sang model yang muncul. Postur tubuhnya sangat bagus...! Apakah dia benar-benar manusia yang sama denganku?

Meskipun area kulit yang terbuka masih sedikit, ukuran wajahnya yang kecil dan kakinya yang panjang membuatku merasa sedih saat membandingkannya dengan bentuk tubuhku sendiri.

"Seniooor, jangan menatapnya terus-menerus."

Tangan junior di sebelahku terulur.

"M-maaf."

Dia meremas pipiku dan memaksaku menoleh ke arah Shiraho.

Bibirnya yang rapi terangkat ke atas.

Ada kilatan jahil, namun di saat yang bersamaan, terlihat sedikit kekhawatiran di matanya.

"Senior hanya perlu menatapku saja, lagipula perjalanan dinas ini kan hanya kita berdua."

Ternyata penyebab rasa panas ini bukan hanya musim panas.

Saat pemotretan berjalan dengan lancar, tiba-tiba awan gelap menyelimuti.

Bukan kiasan dalam pekerjaan, tetapi awan sungguhan.

"Uwah, cuacanya akan memburuk setelah ini."

Shiraho meletakkan tangan di dahinya, wajahnya menjadi sangat pucat.

Sementara dia berkata begitu, rintik-rintik hujan yang besar mulai turun dari langit. Sangat kontras dengan cuaca cerah tadi pagi, keadaan di sekitar kami menjadi gelap.

Aku segera berlari ke lokasi pemotretan untuk berbicara dengan direktur dan manajer model.

"Iya, iya. Sepertinya sulit untuk melanjutkan pemotretan hari ini."

Manajer dengan mata tajam itu sedang menggulir jadwal di ponselnya dengan kecepatan luar biasa.

"Bagaimana dengan jadwal para staf?"

Kami mencoba mencocokkan jadwal semua orang.

Yah, pihak klien pasti sudah memikirkan hari cadangan sejak awal, jadi seharusnya tidak masalah.

Para staf sepertinya sudah sepakat, dan mereka mulai bergerak menuju hotel.

Ah, syukurlah aku sudah memesan penginapan untuk semua orang. Jadwal pemotretan memang sering berubah, jika kita tidak bisa melanjutkannya besok, urusannya akan menjadi sangat merepotkan.

Shiraho berlari kecil dari belakang.

Langkah kakinya entah kenapa terasa berat.

"Senior... aku... tidak mengajukan permohonan biaya penginapan untuk para staf, kan... Bagaimana ini, mereka tidak punya tempat menginap..."

Dia memegang ujung setelan jasku sambil gemetar.

Ada lapisan air mata tipis di matanya.

Anak ini, bukankah sangat curang karena bahkan wajahnya yang hampir menangis pun terlihat lucu?

"Tidak, aku sudah memesankannya... Itu sudah kewajibanku."

Aku melepaskan jari-jarinya dengan lembut.

"Lagipula, aku tidak pernah berpikir kalau pemotretan akan selesai dalam satu hari. Yah, meskipun akhirnya dibatalkan, aku bisa menggunakan koneksi perusahaanku atau mengubah jadwalku, jadi tidak apa-apa."

Meskipun sebenarnya aku juga cukup keterlaluan karena bertindak sendiri tanpa ada pengajuan dan tidak memberitahunya.

Mulutnya terbuka lebar karena terkejut.

Hei, apakah kau berniat meminum air hujan?

"Maaf karena tidak memberitahumu, aku lupa karena waktu itu sedang demam."

"Kenapa,"

"Kenapa, ya karena wajar saja menyiapkan hari cadangan untuk pemotretan seperti ini. Aku juga sudah memeriksa jadwal dari riwayat percakapan dengan klien."

Sensasi lembut yang empuk.

Anak ini, ternyata dia... Tidak, lupakan.

Lengan yang melingkar di lenganku kini memeluk erat pinggangku.

"Kau benar-benar menyelamatkankuuu~!"

Dia berteriak sambil menggosok-gosokkan wajahnya ke setelan jasku.

" Aku tidak tahu apa yang akan terjadi... Padahal ini adalah pekerjaan yang kusiapkan dengan sepenuh tenaga, aku hampir saja merepotkan semua orang..."

" Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku mendapati bahwa aku tidak termasuk dalam 'semua orang' yang kau sebutkan tadi."

Aku berjalan menuju hotel sambil menyeret juniorku yang masih menempel erat.

Namun sayangnya, ada sebuah masalah besar di akhir pekerjaan ini.

Aku harus menyampaikannya pada junior yang masih menangis terisak ini.

"Sebenarnya, ceritanya tidak seindah itu lho."

Aku melepaskan Shiraho saat kami tiba di tempat yang tidak terkena hujan.

"Tunggu, makeup-ku sedang luntur, jadi tolong jangan lihat wajahku."

Dia langsung membalikkan badannya.

Anak ini, padahal baru saja menempel-nempel padaku...!

"Jadi kelanjutannya, kamar untuk staf hampir semuanya sudah terisi, dan"

Hujan belum juga berhenti.

Jika ini hanya masalah pekerjaan, aku bisa menanganinya dengan sikap "yah, mau bagaimana lagi", tetapi hal seperti ini sangat sulit untuk disampaikan.

"Kamar untuk kita hanya tersisa satu. Kau pakailah..."

Belum selesai aku berbicara, Shiraho berbalik dengan suara gerakan yang cepat.

Sudut bibirnya terangkat, dan ada kilatan cahaya mencurigakan di matanya.

"Tidak, tidak, tentu saja Senior yang harus menggunakannya!"

"Lalu kau mau ke mana?"

Shiraho, yang tiba-tiba mendapatkan energinya kembali, melemparkan kata- katanya ke udara dengan penuh semangat.

" Aku... akan mencari warnet atau karaoke saja."

Shiraho menunduk ke bawah dan terlihat ragu-ragu.

Mana mungkin dia punya kenalan di tempat seperti ini.

"Kalau begitu, aku saja yang tidur di luar."

Dia menatap meja resepsionis dengan lengannya yang masih melingkar di tanganku.

Cahaya di matanya saat dia menatapku lagi masih terlihat berkedip-kedip.

"Bagaimana jika aku bilang ada cara untuk menyelesaikan masalah ini?"

Bahkan pria tidak peka sepertiku pun tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Tetapi tetap saja.

"Tidak mungkin. Biarpun itu kau."

"Kata-katamu 'Biarpun itu kau', berarti kau menganggapku lebih dekat daripada orang lain ya, baguslah kalau begitu."

Setelah mengatakan itu, dia masuk ke dalam hotel.

Mungkin karena hujan, suasana di lobi tampak sepi. Kami melangkah di atas karpet.

Aku mencoba memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini, tetapi dengan kepalaku yang basah, aku tidak bisa memikirkan ide yang bagus.

Apakah aku harus lari begitu saja?

"Permisi, saya sudah melakukan reservasi atas nama perusahaan..."

"Baik, kami sudah menunggu Anda. Rombongan Anda yang lain sudah menuju ke kamar masing-masing."

Anak ini, dia benar-benar berniat melanjutkan rencananya? Aku harus mencegahnya.

"Kamar yang tersisa hanya satu, kan? Si Shiraho ini yang akan menggunakannya."

Aku meraih bahunya dan mendorongnya ke depan.

Dalam sekejap, aroma manis yang menguar mengalihkan kesadaranku.

Ini pasti akan mengakhiri pembicaraan ini.

Aku bisa mencari makan di sekitar sini lalu mencari warnet.

"Benar, seperti yang Anda katakan, kami hanya memiliki satu kamar tersisa..."

Dia meletakkan tangannya di atas meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.

" Apakah kamar itu bisa digunakan untuk dua orang? Perusahaan kami yang akan menghubungi nanti mengenai biayanya."

Sudah kuduga, dia berniat menginap berdua denganku.

Meskipun tidak terjadi apa-apa, tetap saja citra kami sebagai orang dewasa di masyarakat akan buruk. Apalagi di zaman sekarang, hal-hal semacam ini sangat diwaspadai.

(Hei, jangan melakukan hal yang tidak perlu.)

(Kalau aku tidak melakukan ini, senior bodoh di suatu tempat ini akan mengorbankan dirinya sendiri, kan~)

Meskipun dia membalas dengan suara pelan, dia mencubit pahaku di bawah meja resepsionis. Uwah, sakit.

"Jika Anda tidak keberatan dengan

sofa bed, kami bisa menyiapkannya."

"Kalau begitu, tolong siapkan yang itu!"

Seolah mengatakan pembicaraan ini sudah selesai, Shiraho menerima kunci kamar dan meraih lenganku yang sedang berdiri mematung.

" Ayo, ayo, kita pergi~! Besok kita masih harus bekerja, jadi mari kita segera makan!"

" Aku tidak akan menginap, lho."

"Yaaah, tolong jangan bertengkar di tempat seperti ini dong? Ada pelanggan lain di sekitar kita lho!"

Selalu saja ada jawaban darinya.

Apakah akan ada hari di mana aku bisa menang berdebat dengannya?

... Sepertinya akan lebih cepat kalau aku menyerah saja.

Melihat Shiraho yang sedang dalam suasana hati yang baik dan hampir melompat-lompat kegirangan, aku berpikir.

Seperti dugaanku, orang-orang di Departemen Perencanaan semuanya sedikit tidak waras. Mungkin kalau mereka tidak seperti ini, mereka tidak bisa membuat karya yang bagus.

Di depan lift, sebuah jari telunjuk yang ramping mengusap tombol panah ke atas.

"Kau sangat diam ya, apakah kau sedang mencari kesempatan untuk melarikan diri?"

" Aku tidak punya tenaga untuk itu. Aku hanya menyerah."

Pintu terbuka dengan suara yang renyah.

"Senior yang selalu memaafkanku sambil berkata 'mau bagaimana lagi', aku menyukainya, lho."

Melihat juniorku yang bergumam tidak jelas sambil memajukan bibirnya, rasa marahku pun memudar.

Aku mengubah pola pikirku dan menganggap ini juga bagian dari pekerjaan, lalu membayangkan makan malam apa yang akan disantap.

Mendengarkan suara hujan yang menderas, aku menunduk lesu di sofa.

Kesimpulannya, aku memang tidak bisa menang melawan juniorku. Sial, aku benar-benar tidak ingin menyeberangi jembatan berbahaya ini.

Saat ini dia sedang mandi.

Aku sempat bertanya apakah aku harus membeli makan malam sementara dia mandi, tetapi dia menyuruhku untuk menunggunya agar kami bisa pergi bersama.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku pun melihat-lihat ponselku.

Syukurlah cuaca besok diramalkan cerah.

Pemotretan pasti bisa diselesaikan.

"Seniooor, tolong ambilkan handuk mandinya, doong."

Kenapa kau tidak membawanya ke kamar mandi?

"Eeh... Aku kan di luar, ambil saja sendiri."

" Ayolah, ayo dong! Nanti aku masuk angin!"

Dengan enggan, aku membawa handuk yang ada di tempat tidur ke kamar mandi.

" Aku taruh di sini, ya."

"Terima kasih!"

Berbeda dengan suaranya yang teredam tadi, suaranya kini terdengar sangat jelas.

"Hei, jangan buka pintunya, bahaya tahu. Bisa-bisa terjadi kecelakaan."

" Aku tidak keberatan lho jika kau tidak sengaja melihatnya."

Sebuah lengan putih yang ramping terulur dari kamar mandi.

Membayangkan apa yang ada di balik papan kayu ini... membuatku semakin menyesal karena berada di ruangan yang sama dengannya.

Omong-omong, apakah Fulan dari Departemen Penjualan yang tempo hari mengobrol dengan Shiraho bisa menikmati situasi seperti ini?

Jika jendela terus ditutup rapat, kelembapan di kamar ini akan semakin tinggi, apalagi ditambah dengan uap dari kamar mandi.

Sreek, aku membuka jendela yang mengarah ke luar.

Pemandangannya berbeda dari biasanya. Jika ini pagi yang cerah, aku pasti bisa melihat laut yang indah, tetapi sekarang semuanya diselimuti kegelapan.

" Apakah aku harus mencari udara segar sebentar?"

Aku keluar tanpa membawa apa pun.

Meskipun balkon apartemenku berada di pinggiran kota, lampu-lampu kota masih terlihat berkelap-kelip. Tetapi tempat ini adalah pantai.

Aroma laut dan wangi sampo yang manis dari kamar mandi bercampur tepat di tempatku berdiri.

"Seniooor!"

Bersamaan dengan suara riangnya, dia memelukku dari belakang.

Sensasi lembut itu membuat suhu tubuhku meningkat.

"Hentikan, panas. Tunggu, bukankah kau mandinya terlalu cepat?"

" Aku ingin menempelkan aromaku padamu mumpung ada kesempatan~ Lagipula, kapan lagi aku mendapat kesempatan sebagus ini."

Saat aku menoleh, Shiraho yang mengenakan pakaian tidur hotel sedang tersenyum nakal.

"Situasinya sudah tidak menguntungkan bagiku, jadi tolong bersikaplah tenang... kumohon..."

"Siaap!"

Setelah membalas dengan riang, dia langsung melompat ke atas tempat tidur.

Berapa usianya sebenarnya?

"Dasar anak kecil!"

" Aku ini sudah dewasa, lho."

Perutnya yang ramping, yang terlihat dari balik pakaiannya, lebih putih dari pasir pantai yang kulihat siang tadi.

Sisa aroma dari rambutnya yang basah, serta sensasi yang baru saja kurasakan di punggungku, mau tak mau mengingatkanku pada jarak yang tidak pantas ini.

Musim panas di malam hari.

Udara yang tidak biasa ini entah bagaimana menguasai kami.

Kruyuuuk, suara lucu terdengar dari perutnya. Sepertinya suasana luar biasa ini harus berakhir sampai di sini.

Dengan perasaan lega yang bercampur dengan sedikit rasa sepi, aku membuka mulutku.

"Kalau begitu, mari kita pergi membeli makanan."

Sama seperti saat kami baru masuk ke hotel ini, lenganku dipegang erat-erat saat kami turun menggunakan lift.

"Kita mau makan apa! Boleh juga lho kalau kita makan oleh-oleh khas daerah ini."

Dia berbicara dengan sangat santai, apakah anak ini menyadari situasinya?

"Hentikan, jangan menempel-nempel."

" Ayo dong, ayo dong~ Ini kan Shiraho versi setelah mandi yang biasanya hanya kau lihat dari balkon, lho~"

Padahal kami menggunakan sampo yang sama, tetapi entah kenapa aroma manis yang pekat tercium dari sebelahnya. Bagaimana ini bisa terjadi.

"Coba bayangkan kalau ada orang yang melihat kita seperti ini, bisa gawat, kan."

"Memangnya kenapa~? Toh tidak ada orang dari kantor kita di sini!"

Aku melepaskan tangannya yang sepertinya sudah masuk ke dalam mode "minum di balkon" sambil berjalan keluar dari pintu lift.

Aku menikmati sensasi lembut karpet yang berbunyi

tap tap saat kami

berjalan di lorong.

Keheningan yang khas ini, serta interior yang tidak mungkin kulihat di rumah, membuatku merasa seolah-olah sedang berlibur, meskipun sebenarnya ini adalah perjalanan dinas.

"Seandainya saja ini bukan untuk urusan pekerjaan..."

Kata-kata itu tanpa sadar terucap dari mulutku.

Gawat, aku lupa kalau Shiraho ada di sebelahku.

"Benar, kan! Lain kali kita berlibur berdua saja, ya."

Gadis yang sedang tertawa dan mengangguk-angguk sambil memegang lenganku itu terlihat seperti gadis seumurannya, berbeda dengan penampilannya saat pemotretan.

Saat bekerja, matanya jauh lebih tajam dan dia berbicara dengan lugas.

Kuharap di depanku pun dia bisa bersikap seperti itu.

Kami melihat toko di ujung lorong.

Syukurlah, ternyata masih buka.

Kontras dengan suasana lorong yang lembut, lampu neon di dalam toko bersinar terang.

"Kau mau pilih yang mana, Senior? Setelah mandi aku jadi lapar, jadi aku ingin makan yang mengenyangkan."

"Memang benar aku juga lapar. Bagaimana kalau mi instan cup?"

"Kalau begitu, tidak ada bedanya dengan makan di rumah, kan!"

Dia melangkah mendekati rak lalu menunjuk ke arah set oleh-oleh yang bertuliskan "Cocok untuk teman minum sake lokal!".

" Apakah tidak terlalu memberatkan kalau kita minum sekarang?"

" Apa yang kau bicarakan! Ini kan liburan, liburan! Lagipula, besok kita tidak harus bangun terlalu pagi!"

Dia dengan santainya memasukkan set camilan itu ke dalam keranjang belanja.

Minum alkohol itu sama saja dengan rutinitas harian kita, kan.

"Eh, bukankah besok jadwalnya pagi-pagi sekali? Kapan kau menyesuaikan jadwalnya?"

"Saat Senior sedang mandi, aku langsung mengaturnya dengan manajer!

Mereka dengan senang hati setuju untuk mulai sebelum siang!"

" Aku ingin bilang 'apa yang kau lakukan', tetapi jujur saja ini berita bagus. Aku juga sudah lelah... Besok hari Jumat, kan."

Terbawa suasana, aku pun ikut memasukkan camilan untuk minum ke dalam keranjang.

"Lho, Shiraho? Dan kau..."

Tiba-tiba ada yang menyapa kami saat kami sedang sibuk memilih alkohol dan camilan. Eh, aku seperti mengenali suara ini...

Dengan perasaan waswas, aku menoleh dan melihat manajer model berdiri di sana sambil membawa keranjang berisi banyak

chuhai kaleng.

Seketika wajah Shiraho berubah drastis saat dia disapa. Benar, inilah mode kerjanya.

Bibirnya terkatup rapat, menampilkan wajah "orang yang kompeten dalam bekerja". Yah, dia memang benar-benar kompeten, sih.

"Terima kasih atas kerja samanya. Terima kasih banyak untuk hari ini."

" Ah, tidak-tidak, saya juga... Omong-omong Shiraho, ternyata sifat aslimu seperti itu, ya."

Manajer itu menyerang di titik yang tepat. Dia melirik ke arahku sebelum mulai berbicara dengan hati-hati.

Aku sama sekali tidak merasa tersinggung.

"Maaf karena memperlihatkan sisi memalukan saya..."

"Tidak sama sekali! Saya rasa sifat asli Shiraho yang seperti ini juga manis, ya kan?"

Sebuah umpan mematikan tiba-tiba dilemparkan ke arahku.

Hei hentikan, Shiraho. Jangan mencubit bagian belakang pahaku.

"Eh... Iya, begitulah...?"

Aku menjawab dengan asal-asalan karena tidak punya pilihan.

Ini sama saja dengan pertanyaan jebakan.

Shiraho menoleh ke arahku dengan gembira, senyumnya merekah lebar.

"Hee~~ Sudah kuduga! Kau harus mengatakan hal penting seperti itu kepadaku secara langsung, tahu!"

"Karaktermu itu tidak konsisten."

"Tidak apa-apa, toh sudah ketahuan juga! Aku jadi lebih menantikan pemotretan besok!"

Sambil membunyikan kaleng di dalam keranjangnya, sang manajer berjalan mendekat.

Dia menatapku dari atas ke bawah sebelum akhirnya berbicara.

"Tadi kita hanya bertemu sebentar saat kau memakai jas, jadi aku tidak menyadarinya."

Dia melangkah setengah langkah lebih dekat.

"Ternyata badanmu lumayan bagus, ya."

Dia mendekatkan wajahnya kepadaku dengan nada bercanda.

Sesaat kemudian, Shiraho menyela di antara aku dan manajer tersebut.

"Orang ini sudah di-reservasi, ya."

Dia mencengkeram lengan bajuku. Hei, bajuku bisa kusut nanti.

Tangannya sampai gemetar, sekuat apa dia mencengkeramnya.

Lagipula, siapa yang sudah di-reservasi, tidak sopan sekali.

"Fufu, saya hanya bercanda, kok."

Sang manajer mundur beberapa langkah, lalu sedikit membungkuk agar sejajar dengan mata Shiraho.

"Maaf ya sudah menggodamu."

"Y-yah, biarpun kau serius, aku tidak akan kalah, kok."

Entah bagaimana dia bisa mengucapkan dialog picisan seperti itu tanpa merasa malu. Tunggu, bagaimana dengan posisiku di sini?

Kami bertiga mengantre di kasir dan membayar, lalu manajer itu segera menghilang ke dalam lift.

Wajah puasnya itu entah maksudnya apa, dia benar-benar orang yang misterius.

Aku kembali masuk ke dalam lift bersama Shiraho.

"Senioor, jangan pergi ke mana-mana, ya?"

"Kita kan tetangga. Dan juga, gunakan bahasa formal."

Dia memelukku dari belakang dan menggosokkan kepalanya ke punggungku.

Seolah-olah seperti hewan peliharaan yang menandai wilayahnya.

Yah, sesekali tidak apa-apa, lah.

Terbawa suasana liburan yang tidak biasa ini, aku merasa sedikit melunak. Aku tidak sekuat itu untuk bisa mengusir junior yang mendekatiku begitu saja.

Setelah merasakan gravitasi selama belasan detik, kotak besi ini meluncur ke lantai kamar kami.

" Ayo jalan."

Juniorku yang masih menggeliat tidak kunjung melangkah. Karena tidak ada pilihan lain, aku menggandeng tangannya dan mulai melangkah.

Di lorong yang terasa dingin di tengah musim panas ini, suara kaleng bir yang beradu saling berdenting dengan merdu.

"Kalau begitu, bersulang."

Acara minum kecil-kecilan ini dimulai dengan kata-kataku, sesuatu yang jarang terjadi. Menyadari kelelahan masing-masing, kami segera menyelesaikannya.

Awalnya kami keluar dengan semangat dan berkata, " Ayo kita minum di balkon seperti biasa!". Namun, kelucuan terjadi ketika kami langsung kembali ke dalam kamar karena angin laut dan hujan membuat kami lengket.

Sekarang kami sudah selesai sikat gigi dan berbaring di sofa bed.

Kedua tempat tidur disusun sejajar, dengan tempat tidurku berada di posisi yang lebih rendah.

"Tolong matikan lampunya~"

"Eeeh, mari kita ngobrol sedikit lagi! Bukankah menyenangkan rasanya seperti sedang

study tour begini?"

Sesuai dugaan anak ekstrover, dia pasti punya banyak kenangan menyenangkan semasa sekolah.

Yah, aku juga bersenang-senang sih... Tetapi itu sudah berapa tahun yang lalu, study tour itu.

" Apa yang mau diomongin, soal jadwal besok?"

"Sungguh, kelakuanmu ini! Tidak mungkin kita membicarakan pekerjaan, kan...

Kau benar-benar tidak romantis."

Shiraho tiba-tiba bangun dari tempat tidurnya dan mulai berceramah.

"Sudah, sudah, ayo tidur. Paman ini sudah kelelahan karena mendadak diajak ke pantai minggu ini."

Hujan yang tadinya rintik-rintik kini mulai turun dengan deras.

"Mengajak tidur bersama, kau ini Senior yang... ! Masih terlalu awal tahu...

dasar mesum."

Dia kembali berbaring di tempat tidur dan membungkus dirinya dengan selimut.

Sambil menggeliat seperti ulat kantong, hanya kepalanya saja yang menyembul keluar.

"Tolong hentikan candaan yang tidak lucu itu, situasi kita ini sudah cukup buruk."

"Kalau kita tidak bilang siapa-siapa, tidak akan ada yang tahu, kan."

"Tolong jangan mengancam kehidupan budak korporatku yang damai ini...

Bicara denganmu di kantor saja sudah membuatku enggan, padahal kau itu mencolok sekali."

Entah bagaimana, aku malah terbawa arus obrolannya.

Dia ini benar-benar punya kekuatan magis yang bisa menarik perhatian orang lain.

Mungkin ini bisa disebut keuntungan, tetapi kalau aku punya sifat sepertinya, aku pasti akan sangat stres.

"... Kalau kau benar-benar tidak suka, tolong tolak dengan jelas, ya."

Alisnya menurun, dan dia mundur sedikit demi sedikit.

Hari ini aku sangat sering melihat sisi penurut Shiraho.

Kalau pria hidung belang yang ada di posisiku, pasti dia sudah menggenggam tangan Shiraho dan membisikkan kata-kata manis.

"Ya."

Tetesan hujan yang besar menghantam jendela.

Guntur juga terdengar menggelegar, ini sama sekali tidak tenang. Padahal ramalan cuaca bilang besok akan cerah...

Tiba-tiba kilatan cahaya yang sangat terang menembus gorden yang tertutup rapat, disusul dengan suara ledakan yang menggelegar—DUAAR!

"Hyaa!"

Tepat saat suara itu terdengar, Shiraho yang masih dalam bentuk ulat kantong berguling ke arahku.

"Jangan-jangan kau ini..."

Matanya yang berkaca-kaca terlihat dari balik selimut.

"Iya, begitulah. Kekanak-kanakan, kan."

"Yah, setiap orang punya ketakutannya masi—"

Belum selesai aku berbicara, petir kembali menyambar.

"Ini bukan waktunya untuk memikirkan gengsi."

Sambil berkata begitu, dia membuka selimutnya dan menjatuhkan diri ke arahku.

"Hanya sampai petirnya reda... Kumohon!"

Aku tidak bisa membiarkan Shiraho yang gemetaran ketakutan begitu saja, jadi aku menahan tubuhnya.

Rambut indahnya menghalangi pandanganku, aroma manis memasuki hidungku, dan aku merasakan sensasi tubuhnya yang lembut.

... Gawat, ini.

Jarak antara rasionalitas dan instingku hanya beberapa milimeter, bolak-balik seperti sedang terombang-ambing di atas kapal.

Meskipun begitu, meskipun begitu ya.

Sebagai pria dewasa, aku harus menahannya bagaimanapun caranya.

Secara mengejutkan, tubuhku yang sedikit mabuk ini malah mulai merasa rileks meskipun dalam kondisi seperti ini.

Saat aku menyadarinya, kelopak mataku sudah mulai berat dan tenggelam di cakrawala.

Hal terakhir yang kuingat hanyalah menggenggam tangannya yang kecil dan masih gemetaran.

Ketika aku terbangun, aku merasakan beban yang nyaman.

Dari luar terdengar kicauan burung. Aku menoleh dan melihat jam yang menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit.

Langit biru yang cerah terlihat dari celah gorden, dihiasi oleh awan putih yang melayang. Syukurlah, cuacanya sangat cerah.

Kalau dipikir-pikir, bukankah Shiraho bilang pemotretan hari ini dimulai jam sebelas... Tunggu, Shiraho!

Saat aku melihat ke dadaku, juniorku sedang memeluk tubuhku layaknya bantal guling, tertidur lelap dengan napas yang teratur.

Sepertinya sejak kejadian semalam, dia tertidur begitu saja.

Wajahnya menempel di dadaku, mulutnya terlihat sedikit bergerak-gerak.

Napasnya teratur, disertai dengan aroma manis khas miliknya.

Ini cukup menyembuhkan hatiku tanpa ada niatan yang macam-macam...

Rasanya seperti sedang melihat hewan peliharaan yang sedang tertidur lelap.

Dia pasti kelelahan juga, biarkan saja dia tidur untuk saat ini. Melihat wajah polos ini adalah hak istimewa orang yang bangun lebih awal.

Setelah melamun beberapa menit, dia perlahan membuka matanya.

"Selamat pagi, Shiraho."

"Ngh............ Pagi,"

Shiraho menjawab dengan suara serak, menatapku dengan mata setengah terbuka.

"Lho, kenapa Senior ada di kamarku...?"

Suaranya yang mengantuk dan lembut melayang di ruangan yang sunyi.

Aku tanpa sadar tertawa melihat reaksi bangun tidurnya yang sangat klise ini.

" Aku... Wajah Senior itu... Mimpi?"

Sepertinya kesadarannya mulai kembali sepenuhnya, cara bicaranya pun menjadi lebih jelas.

Ada apa dengan wajahku. Aku jadi penasaran.

"Mana mungkin ini mimpi."

Aku menyentil dahinya dengan pelan.

" Aah! Padahal kau harusnya bersikap lembut pada perempuan! Eh, ah!"

Tangannya menutupi pandanganku.

" Aku baru saja bangun tidur, jadi jangan lihat aku."

Illustration "Mana ada hal tidak masuk akal seperti itu. Kau sendiri yang datang ke sini."

"Tetapi setelah itu, kau memelukku dengan erat, lho~"

Pandanganku masih tetap gelap.

Tunggu, aku sama sekali tidak ingat hal itu.

"Kau pasti berpikir kalau kau tidak ingat, kan? Mungkin kau melakukannya tanpa sadar saat sedang tidur."

Sudah kuduga, aku melakukan kesalahan lagi.

Ingin rasanya aku memegangi kepalaku sekarang juga, tetapi tanganku tertindih di bawah tubuh Shiraho sehingga tidak bisa digerakkan.

"Bukankah sudah waktunya kita bangun? Posisi ini juga lumayan menyiksa."

"Nnnggg~~~"

Akhirnya tangan yang menutupi wajahku perlahan menjauh.

Sambil melipat tangan dan berpura-pura sedang berpikir, dia kembali membungkus dirinya dengan selimut lalu menempelkan seluruh wajah dan tubuhnya kepadaku.

Anak ini, kalau sedang malu dia tidak mau menatapku, ya.

"Lagipula kita masih punya waktu, biarkan seperti ini tiga puluh menit lagi!"

Memang benar kami masih punya waktu, sih.

Mungkin karena baru bangun, otakku belum bekerja dengan baik... Ya, mari kita salahkan hal itu saja.

Biarlah diriku di masa depan yang mengurus hal-hal merepotkan ini.

Untuk saat ini, biarkan aku merasakan kehangatan yang kecil namun nyata ini.

Sambil melemparkan pikiran-pikiran itu ke laut dengan egoisnya, aku pun melepaskan ketegangan di tubuhku.

â—† â—‡ â—† â—‡

Minggu berganti dan tibalah hari Senin. Sambil merasakan perihnya kulit yang terbakar matahari di sekujur tubuh, aku menyalakan PC di mejaku.

Minggu lalu benar-benar minggu yang penuh bencana. Tiba-tiba dibawa ke pantai, terjebak badai, dan harus menginap sekamar dengan juniorku semalaman.

"Yoo~ kerja bagus untuk perjalanan dinasnya!"

Rekan satu departemenku tiba di kantor dan langsung menyapaku sambil menggoyang-goyangkan bahuku. Menyebalkan.

"Pagi, itu benar-benar sebuah bencana."

"Bagus dong, kau pergi bersama si Shiraho itu, kan? Mumpung biasanya kalian tidak pernah berinteraksi, sebaiknya kau manfaatkan ini untuk mendekatinya."

"Untuk sementara waktu, aku tidak ingin mengobrol dengan Shiraho..."

Setengah karena aku tidak bisa mengimbangi energinya, setengah lagi karena rasa malu.

Meskipun aku sama sekali tidak akan pernah mengatakannya langsung kepadanya.

"Masa sih? Kalau gadis secantik dia, aku sih mau mengobrol setiap hari."

"Kalau begitu, aku serahkan padamu jika ada kesempatan lagi nanti."

Saat jam kerja dimulai, aku segera menyusun laporan perjalanan dinas. Hal-hal seperti ini akan semakin memakan waktu jika ditunda... terutama karena aku harus mengingat-ingat kembali.

Setelah menyelesaikannya dengan wajah puas, aku kembali pada pekerjaanku yang biasa, dan ketenanganku pun perlahan kembali. Layaknya ombak yang surut setelah menerjang.

Meskipun AC menyala, karena udara di lorong juga sejuk, pintu setiap ruangan departemen biasanya dibiarkan terbuka.

Biasanya—yah, ini berlaku juga untukku—jika seseorang ada urusan dengan departemen lain, dia akan memanggil dari luar dengan volume suara yang cukup terdengar oleh orang yang duduk di dekat pintu, "Permisi~", atau mengetuk pintu yang terbuka itu.

Selama puluhan menit, suara yang mendominasi hanyalah ketikan keyboard dan gemerisik kertas, hingga akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh seorang pengunjung.

Tanpa mengetuk pintu yang terbuka, gadis itu memposisikan dirinya di belakangku, lalu menyembulkan wajahnya dari balik bahuku.

"Seniooor, terima kasih untuk minggu lalu."

"Kerja bagus. Kalau mau masuk, sapa dulu dari luar."

Karena aku sedang di tengah proses pengajuan dokumen, aku membalasnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar PC.

" Aku sudah melakukan kontak mata dengan Kepala Bagian kok, jadi tidak apa- apa!"

Ini bukan pertama kalinya aku memikirkan hal ini, tetapi kapan anak ini bisa akrab dengan orang-orang dari departemen lain?

Memikirkan bahwa aku mungkin hanya salah satu dari sekian banyak orang itu, membuat hatiku terasa berat.

"Omong-omong, ada orang yang bilang ingin mengobrol denganmu setiap hari, biar kupanggilkan dia."

Saat aku hendak berdiri, sebuah tangan menekan bahuku.

Uwah, kuat sekali.

" Aku datang ke sini untuk mengobrol dengan Senior, lho."

"Tidak ada yang perlu diobrolkan, kan? Cepat kembali, kembali sana."

"Yakin tidak apa-apa bicara seperti itu? Aku punya kartu as, lho."

Saat aku melihat ke arah ponsel yang tiba-tiba disodorkan, terpampang foto diriku yang sedang tidur sambil memeluk pinggang Shiraho.

"Kau... beraninya kau melakukan itu...!"

"Hehe, aku ingin memuji diriku sendiri yang terbangun di tengah malam waktu itu."

"Hapus foto itu."

Ponselnya kembali masuk ke dalam sakunya.

"Tidaaak mau! Mana mungkin aku melepaskan bahan sehebat ini! ... Ah, aku jadi ingin makan

sushi."

Sesuka hatimu saja, ya.

Sushi... benar juga, belakangan ini aku belum makan sushi. Mungkin aku akan mampir ke restoran sushi putar (kaitenzushi) sendirian sepulang kerja nanti.

Dulu aku sering ke sana karena alkoholnya murah dan aku bisa makan sepuasnya.

"Omong-omong Senior, apakah hari ini kau ada lembur?"

Waktu di pojok kanan bawah monitorku menunjukkan pukul sebelas. Dengan ritme kerja seperti ini, sepertinya aku tidak perlu lembur.

"Tidak, mungkin hari ini aku bisa pulang tepat waktu."

"Oh begitu, oh begitu~! Dimengerti!"

Dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada saat dia datang, dia berjalan kembali ke arah pintu. Apakah dia benar-benar hanya ingin menanyakan hal itu?

Ah, aku lupa memanggil rekanku yang tadi bilang ingin mengobrol dengannya.

Shiraho menoleh ke belakang dan berseru dengan suara yang sedikit lebih keras.

"Kalau begitu, Senior, sampai jumpa nanti!"

Meskipun seharusnya kami tidak punya janji untuk bertemu lagi, melihat wajah bangganya entah kenapa membuatku tanpa sadar menghela napas panjang.

Udara yang pengap dan lembap menempel di kulit.

Waktu menunjukkan pukul delapan belas lewat tiga puluh menit. Hawa musim panas masih belum mereda, dan di jam segini pun di luar masih sangat terang.

Awalnya aku merasa senang karena hari ini bisa pulang tepat waktu, namun tiba-tiba aku diseret oleh rekan-rekanku, dan saat sadar, aku sudah berada di area

beer garden.

"Eh, bukankah aku seharusnya sudah dalam perjalanan pulang..."

Saat aku mengedarkan pandangan, kulihat meja dan kursi sederhana berjejer memenuhi tempat itu.

Kalau tiba-tiba turun hujan, tempat ini pasti langsung bubar, kan?

"Sudahlah, jangan bilang begitu."

Rekanku merangkul bahuku. Panas tahu.

Kukira kami hanya akan pergi ke izakaya atau semacamnya, tetapi ternyata malah berakhir di tempat seperti ini.

"Kau tahu kan suhu hari ini? Tidak minum di cuaca seperti ini sama saja dengan tidak sopan."

Aku mengerti maksudnya. Memang benar, menenggak bir sedingin es di tengah cuaca panas adalah hal yang luar biasa. Bahkan aku bisa menganggapnya sebagai sebuah bentuk kesopanan.

Tetapi bukan berarti kita harus repot-repot datang setelah pulang kerja... Lebih baik kita berkumpul di siang hari saat hari libur dengan kondisi tubuh yang prima.

"Lagipula, yang jarang terjadi adalah hari ini ada acara gabungan antara Departemen Urusan Umum dan Departemen Perencanaan."

Aku mendengar kata-kata yang tidak bisa kuabaikan.

Bukankah

beer garden itu biasanya didatangi oleh empat sampai lima orang yang saling akrab?

Lebih parahnya lagi, bukan dengan Departemen Akuntansi, HRD, atau Penjualan, melainkan dengan Departemen Perencanaan. Jika begitu, sudah pasti anak itu juga ada di sini.

"Kebetulan sekali kita bertemu di tempat seperti ini ya, Senior?"

Baru saja dibicarakan, orangnya langsung menyapaku dari belakang.

" Apanya yang kebetulan, wajar saja kau ada di sini kalau ini acara minum gabungan."

"Bisa saja kan karena suatu alasan aku tidak datang!"

Gadis dengan pakaian bernuansa musim panas itu terlihat sangat bersinar bahkan di tengah

venue yang mulai remang-remang ini.

Bisakah kita sebut saja dia sebagai sumber cahaya?

"Yah, benar juga. Kalau dari awal aku tahu ini acara beer garden gabungan dengan Perencanaan, aku pasti sudah mencari cara untuk kabur pulang."

"Sudah kuduga!"

"Memangnya Perencanaan dan Urusan Umum punya hubungan yang sedekat itu? Yah, hubungan kita memang tidak buruk sih."

Meskipun ruangan kami bersebelahan, sangat jarang bagi kami untuk pergi ke acara-acara seperti ini bersama.

"Ini lho, kan sebentar lagi akhir pertengahan tahun."

Topik tentang penyelesaian laporan keuangan semester pertama tiba-tiba dilontarkan. Tolong hentikan, padahal aku baru saja selesai membereskan pekerjaanku...

"Maaf, aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini."

"Makanya aku mengusulkan untuk mengadakan pesta perayaan sebagai bentuk apresiasi kerja keras kita."

Pegawai perusahaan kami yang langsung menyetujui usulan itu dengan penuh semangat, benar-benar punya terlalu banyak energi.

"Jadi kau pelakunya! Tetapi untuk ukuran acara minum sebesar ini, aneh rasanya tidak ada pemberitahuan sebelumnya..."

" Aah~ itu karena acara ini baru diputuskan hari ini."

Aku menatap rekan-rekanku yang sedang memborong bir dan camilan di bagian belakang.

Luar biasa sekali, bisa mengumpulkan orang sebanyak ini padahal baru diputuskan hari ini... Sungguh menunjukkan betapa disukai atau betapa populernya dia.

"Yah, kalau aku memberitahumu sebelumnya, Senior pasti tidak akan datang.

Karena itu, aku meminta tolong kepada semuanya untuk menyeretmu ke sini!"

"Hei!"

"Habisnya, kalau aku menanyakan kehadiranmu dari awal, kau pasti akan menolak dengan berbagai alasan seperti ' Aku harus lembur~' atau 'Waktu tidurku~', kan."

Sial, kenapa dia bisa membaca semua tindakanku? Yang lebih menyebalkan, alasan yang dia tebak itu sangat tepat.

Tunggu, jadi "Sampai jumpa nanti" yang dia ucapkan tadi siang itu maksudnya ini? Persiapannya benar-benar sangat matang.

"Kenapa kau sampai melakukan hal ini... Toh kita juga biasa minum di balkon, kan?"

Kita tidak perlu sengaja mengobrol di acara minum-minum yang pesertanya sebanyak ini, kan?

Dia melihat ke sekeliling, dan setelah memastikan rekan-rekan yang lain belum kembali, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Tentu saja sudah jelas alasannya, kan."

Aah, gawat. Aku benar-benar tidak tahan melihat ekspresi Shiraho yang seperti ini.

"Karena minum di balkon saja tidak cukup. Selain itu,"

Aroma manis yang sedikit bercampur dengan wangi musim panas menggelitik hidungku.

"Biasanya kita selalu berhadapan, tetapi tidakkah menurutmu sesekali duduk berdampingan juga menyenangkan?"

"O~i! Kami sudah membelinya~!"

Rekan-rekanku dan orang-orang dari Departemen Perencanaan kembali membawa nampan berisi bir dan camilan... atau lebih tepatnya makanan berat seperti ayam dan kentang goreng.

Lho, padahal aku berniat membeli bagianku sendiri nanti, ternyata mereka sudah memesankannya untukku.

... Menghadapi situasi yang tidak biasa ini, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Mungkin ini karena ada Shiraho. Junior yang benar-benar menakutkan.

"Ini dia! Rasa asinnya ini benar-benar pas! Aaahh~ Mantap!"

Tanpa banyak basa-basi bersulang, Shiraho langsung menenggak cairan keemasan itu ke tenggorokannya sambil memakan kentang goreng yang asin dengan satu tangan. Pikirannya benar-benar seperti pemabuk berat.

Meja yang biasanya hanya diisi oleh paman-paman Urusan Umum yang gerah, kini terasa jauh lebih berwarna hanya dengan kehadiran Shiraho.

Meskipun 'bunga' itu saat ini sedang menempel erat di sebelahku dan makan minum layaknya paman-paman.

"Shiraho, apakah kau mau mencoba bir yang lain?"

Entah dari mana, sebuah gelas bir disodorkan kepadanya.

" Ah, tidak usah~ Aku tidak terlalu kuat minum alkohol... Aku sudah puas dengan yang ini! Terima kasih!"

Oh? Anak yang biasanya selalu merebut kalengku ini menolak?

Saat aku menurunkan gelasku dan hendak berbicara tentang kebiasaan Shiraho yang sebenarnya, tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam kakiku.

" Aduh!"

(Hei, jangan bicara sembarangan.)

Napasnya yang hangat berembus di telingaku.

Hal itu saja sudah cukup membuat bulu kudukku merinding. Sejak kapan aku menjadi selemah ini?

Aku menggeliat mencoba mengusir rasa tidak nyaman itu.

(Hee~~ Ternyata telinga Senior cukup sensitif, ya.) Entah apa yang membuatnya senang, dia terkikik pelan sambil menutupi mulutnya.

Bukan itu masalahnya, tolong lepaskan tumitmu yang sedari tadi kau tusukkan ke kakiku.

(Sakit tahu, Shiraho.)

(Ini adalah... ya, ini hukuman.)

"Berisik, aku sama sekali tidak bersalah!"

" Ada apa denganmu tiba-tiba? Apakah karena panas... atau kau sudah gila karena terlalu banyak bekerja?"

Tatapan bingung dari sekelilingku menyadarkanku. Gawat, tanpa sadar aku mengucapkannya keras-keras.

Lagipula, jangan meralat ucapanmu dong. Kalaupun aku menjadi aneh, itu pasti karena cuaca yang panas, kan.

"Pfft."

Tawa tertahan Shiraho semakin keras. Sial, sudah kuduga seharusnya aku tidak datang.

Kalau begini jadinya, lebih baik kami minum berdua saja di balkon... Oh, tunggu. Pemikiranku sudah menganggap minum bersama Shiraho sebagai sesuatu yang normal.

Rasa kesal dan menyedihkan yang bercampur aduk membuatku menenggak gelasku lebih sering dari biasanya.

Akhirnya pesta ini pun usai.

Malam sudah larut dan keadaan sekitar sudah gelap. Karena stasiun terdekat kami sama, tentu saja jalan pulang kami juga sama.

"Senioo~r."

Dengan wajah yang memerah, Shiraho berjalan sambil mengayunkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

Wajar saja kalau anak ini mabuk. Sejak saat itu, dia diam-diam merebut birku dan terus-terusan mengambil kentang goreng.

Apanya yang " Aku sudah puas dengan yang ini!"? Pada akhirnya malah aku yang harus mentraktirnya, kan.

"Jalanmu sempoyongan begitu, bahaya tahu."

"Eeh~ mana mungkin aku bisa sepert... Ugh."

Tubuhnya tiba-tiba limbung dan merosot.

Secara refleks aku mengulurkan tanganku dan berhasil menangkapnya, lalu perlahan-lahan mengembalikan posturnya.

Apakah dia kehilangan keseimbangan karena mabuk, atau karena hal lain.

"Hari ini aku senang sekali kita bisa minum banyak, karena,"

Dia menyandarkan kepalanya dengan lembut di lenganku.

Otakku yang sedang dikuasai alkohol tidak bisa mengikuti ritme Shiraho.

"Karena aku bisa berada lebih dekat denganmu daripada biasanya. Ehehe."

Mungkin suhu tubuhku yang meningkat ini, murni karena malam yang terasa sangat panas dan lembap ini.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar