『Onii-chan dan Lotty, tidak ada...』
Di saat Akihito dan yang lainnya sedang asyik menikmati karyawisata, Emma menatap Kanon dan Kaguya yang datang menjemputnya di preschool dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
Dua orang yang paling disayangi Emma itu tidak terlihat batang hidungnya sejak ia bangun tidur pagi ini. Meskipun ia sudah diberi tahu sebelumnya bahwa mereka akan pergi karyawisata, bagi Emma yang masih kecil, rasa kesepian jauh lebih mendominasi perasaannya.
Melihat Kanon dan Kaguya yang datang menjemputnya, ia semakin diselimuti kesedihan karena menyadari bahwa Onii-chan dan Lotty benar-benar tidak ada.
『Emma-chan, hari ini kita makan makanan yang enak, ya?』 Kanon, yang mengerti bahwa Emma sedang dilanda kesedihan mendalam, sedikit membungkuk untuk mensejajarkan pandangannya dengan gadis kecil itu. Ia lalu mengalihkan pembicaraan ke menu makan malam untuk berusaha menghiburnya.
『Nn...』
Namun, Emma hanya mengangguk kecil, sama sekali tidak terpancing oleh topik makanan tersebut.
"Ketidakhadiran mereka berdua sepertinya benar-benar berdampak besar, ya."
Kaguya yang memperhatikan interaksi antara Kanon dan Emma, merasa dadanya sesak melihat gadis kecil itu tampak begitu murung.
Ia sengaja berbicara dalam bahasa Jepang karena jika ia menggunakan bahasa Inggris, Emma akan mengerti dan justru akan semakin menyadari fakta bahwa kedua orang kesayangannya sedang tidak ada di sini.
"Kita sudah menduga hal ini akan terjadi. Tidak ada pilihan lain selain berusaha keras untuk menghiburnya."
Di mata siapa pun, Emma memang sudah sangat lengket dengan kakak perempuan dan kakak laki-lakinya itu. Jadi, mereka sudah tahu Emma pasti akan murung jika Akihito dan Char pergi.
Tentu saja, Kanon dan Kaguya tidak lupa mempersiapkan diri untuk menghadapi hal itu.
『Emma-chan, ayo kita pulang ke rumah, ya?』
Sambil masih dalam posisi membungkuk, Kanon merentangkan kedua tangannya seakan berkata,
《Sini kugendong?》
Melihat hal itu, Emma――
『Nn...』
――Mengangguk kecil, lalu berjalan gontai melewati Kanon begitu saja.
Ia mengabaikannya.
" "............" "
Kanon dan Kaguya seketika mematung melihat tindakan tak terduga dari gadis kecil itu. Namun, Emma tanpa ragu terus berjalan hingga berhenti tepat di depan Kaguya.
Lalu――merentangkan kedua tangannya.
『Gendong...』
Sebuah tindakan yang polos dan tanpa niat buruk dari Emma.
Namun, tindakan itu baru saja menorehkan luka yang tak dapat diperbaiki pada hubungan tuan dan pelayan yang biasanya selalu akur dan saling memahami tersebut.
"Nona muda, ini...!"
"Tidak perlu beralasan, Kaguya. Berani-beraninya kau merebut malaikat kecilku...?"
Melihat Kanon yang bangkit berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung, Kaguya segera mencoba menenangkannya. Namun, seolah tak membiarkan pelayannya itu mengelak, Kanon menatapnya dengan tatapan yang diliputi kecemburuan.
Padahal, Kanon sangat menantikan hari ini.
Biasanya perhatian gadis kecil itu selalu tersita oleh Akihito dan Charlotte sehingga ia hampir tidak punya kesempatan untuk berinteraksi dengannya.
Namun sekarang karena mereka berdua tidak ada, ia berpikir akhirnya bisa memonopoli sang malaikat kecil.
Sayangnya, sang malaikat justru memilih pelayan pribadinya.
Walaupun sebenarnya sudah mulai menyadarinya dari kemarin-kemarin, tapi hari ini Kanon benar-benar ditampar oleh kenyataan bahwa Emma lebih lengket dengan Kaguya ketimbang dirinya.
"Sewaktu libur Tahun Baru, Nona Muda sedang tidak ada di sini. Selain itu, sebenarnya saat Presdir Bennett masih tinggal di sini, Emma-sama kadang terbangun di malam hari, keluar dari ranjang Presdir Bennett, lalu berjalan menelusuri rumah menuju kamar Akihito-sama...! Di saat-saat seperti itulah saya sering membantunya, makanya beliau jadi sedikit membuka hati pada saya...!"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kaguya berbicara dengan sangat cepat, merangkai kata demi kata untuk menjelaskan situasinya kepada sang majikan.
Kenyataannya, ini bukanlah sebuah kebohongan. Emma, yang sering kali tertidur di mana saja dan tanpa sadar sudah dipindahkan ke ranjang ibunya, memiliki semacam insting liar yang membuatnya terbangun di tengah malam dan berjalan mencari kamar Akihito dan Charlotte.
Namun, menelusuri lorong yang gelap gulita untuk mencari kamar mereka adalah hal yang sangat sulit bagi Emma yang masih kecil. Kebetulan, saat Emma melakukan pencarian pertamanya, Kaguya memergokinya dan akhirnya membantunya membaringkan Emma di ranjang Akihito dan Charlotte.
Sejak saat itu, karena khawatir Emma akan berkeliaran lagi di jam-jam tersebut, Kaguya rutin melakukan patroli. Setelah beberapa kali menemukan Emma dan mengantarnya ke kamar Akihito, Emma pun sepenuhnya mencap Kaguya sebagai 'orang baik' dan membuka hatinya.
"Tidak peduli apa pun alasannya, fakta bahwa kau telah merampas kesenanganku tidak akan berubah."
Meski terlihat mudah akrab, Emma sebenarnya cukup pemilih. Jika ada orang selain orang yang dimintanya mencoba menggendongnya, ia sering kali menolaknya.
Kanon sangat memahami sifat itu. Karena itulah, ia merasa kesal karena peran yang seharusnya menjadi miliknya justru direbut oleh Kaguya.
Itulah sebabnya Kanon merajuk, sebuah pemandangan yang sangat langka.
"Meskipun Nona berkata demikian kepada saya...!"
"Waktu pertama kali bertemu dengan Charlotte-san, Emma juga lebih tertarik padamu daripada padaku, kan? Kau benar-benar pandai mencari muka, ya."
"Nona biasanya tidak pernah melontarkan sindiran seperti itu, kan!? Tolong jangan merajuk, Nona Muda...!"
Kaguya yang biasanya selalu memberikan kesan sebagai wanita dewasa yang dingin dan cool, kini terlihat panik dan kalang kabut, sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi.
Seandainya Akihito ada di sini, ia mungkin akan meragukan apakah ini Kaguya yang sama.
『Gendong...』
Dan Emma, yang tidak mengerti bahasa Jepang, meski samar-samar menyadari bahwa Kaguya sedang panik, rasa kesepiannya karena ketiadaan Akihito membuatnya tidak peduli akan hal itu. Ia kembali menarik-narik baju Kaguya.
Berkat itu, Kaguya secara tak sadar semakin tersudut.
"Silakan, gendonglah dia."
Kanon mempersilakannya sambil tersenyum, namun tubuhnya diselimuti aura hitam pekat yang persis seperti aura Charlotte saat sedang marah pada Akihito.
Jika Kaguya berani menggendongnya sekarang, kecemburuan Kanon pasti akan semakin menjadi-jadi.
Akan tetapi, Kaguya tidak kuasa menolak permintaan gadis kecil itu.
Terjebak di posisi serba salah, Kaguya――sambil membatin, ' Apakah seperti ini
rasanya menjadi Akihito-sama saat terjepit di antara Charlotte-sama dan Emma-sama...'――akhirnya menggendong Emma.
Tentu saja, tak perlu ditanya lagi, setelah itu ia harus menerima rentetan kalimat sindiran tajam dari majikan yang sangat dihormatinya.
â—†
『Emma-chan, meski sedikit terlalu awal, bagaimana kalau kita pergi makan ramen?』
Menjelang sore, melihat Emma yang sedang menonton video kucing sendirian menggunakan ponsel cerdas Kaguya, Kanon menyapanya dengan senyuman lembut yang memancarkan aura keibuan.
Melihat tingkah majikannya itu, Kaguya yang sedari tadi mengawasi hanya bisa membatin, (Nona benar-benar sedang berusaha keras mencari muka...), sembari berdoa agar Emma mau luluh pada Kanon.
『Ramen!? Mau makan...!』
Emma yang sangat menyukai ramen, akhirnya memamerkan senyumannya untuk pertama kalinya hari ini.
Melihat reaksi itu, Kanon tersenyum lega dan gembira, sementara Kaguya diam-diam mengembuskan napas lega.
『Apakah kamu sudah lapar?』
『Nn...! Emma, bisa makan ramen...!』
Saat Kanon memiringkan kepalanya bertanya, Emma menganggukkan kepala kecilnya kuat-kuat.
Karena Emma sudah siap untuk makan, sesuai rencananya, Kanon mengulurkan tangannya pada Emma.
『Kalau begitu, ayo kita pergi?』
Meski menggendongnya gagal, kalau hanya bergandengan tangan, harusnya bisa terjadi secara natural――begitulah pikir Kanon. Emma menatap lekat- lekat tangan Kanon yang terulur.
Dan kemudian――ia kembali berjalan melewatinya begitu saja.
『Gendong...!』
Tanpa memedulikan Kanon yang mematung karena syok berat, gadis kecil yang selalu berjalan di jalurnya sendiri itu kembali meminta gendong pada Kaguya.
Seumur hidupnya, Kanon belum pernah diabaikan sampai sejauh ini.
Sekali lagi, ia disadarkan betapa tingginya tingkat kesulitan untuk menaklukkan hati gadis kecil bernama Emma ini.
Malahan, sebelum Akihito dan keluarganya berdamai dulu, Emma masih menunjukkan sikap yang lebih bersahabat kepadanya.
Alasan mengapa Emma sekarang sama sekali tidak mengindahkannya, kemungkinan besar adalah karena ada sosok lain yang jauh lebih disukainya telah muncul.
Dengan kata lain, ini semua adalah salah Kaguya, pelayannya sendiri.
"............"
"Nona Muda!? Meskipun Anda menatap saya dengan tatapan seperti itu, tidak ada yang bisa saya lakukan...!"
Mendapat tatapan tajam dari Kanon yang sedang mengambek, Kaguya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyatakan ketidakbersalahannya.
Pada kenyataannya, Kaguya memang tidak berbuat salah. Semua ini murni bergantung pada perasaan Emma, jadi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Tentu saja Kanon mengerti hal itu――namun meski logikanya paham, perasaannya menolak untuk menerima.
Setidaknya, kesempatan baginya untuk dimanja oleh Emma hanya ada di dua hari ini.
Jika ia melewatkan kesempatan ini, Emma akan kembali bermanja-manja pada Akihito dan Charlotte, dan Kanon tidak akan pernah dilirik lagi.
Karena itulah, bagi Kanon, ia harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga dengan cara apa pun.
"...Kaguya, sepertinya aku khawatir dengan keadaan Akihito dan yang lainnya.
Bagaimana kalau kita pergi menyusul ke Hokkaido sekarang juga?"
"Nona Muda!? Tolong jangan menganggap saya sebagai pengganggu dengan sejelas itu...!!"
Pelayan kompeten yang dengan peka menangkap niat terselubung di balik kalimat majikannya itu, menggelengkan kepalanya dengan panik.
Pernahkah Kaguya tersudut sampai sejauh ini sebelumnya?
Kanon adalah gadis yang cerdas, selalu baik kepada siapa pun, dan memiliki kedewasaan jauh melampaui usianya.
Tentu saja ia selalu bersikap baik pada Kaguya yang merupakan pelayannya...
namun, kehadiran seorang malaikat kecil telah memicu rasa cemburu Kanon hingga mengubahnya seolah menjadi orang lain.
Bagi Kaguya saat ini, Emma tidak lagi terlihat seperti malaikat, melainkan layaknya iblis kecil.
Akan tetapi――
『Gendong...』
――Saat berhadapan langsung dengannya, Kaguya tetap saja melihatnya sebagai malaikat kecil yang tak berdosa.
Kalah oleh tatapan memelas yang memancing naluri melindunginya, Kaguya dengan lembut mengangkat dan menggendong Emma.
Dan ketika Emma menyandarkan wajahnya ke ceruk leher Kaguya dengan ekspresi lega――
"Fufu... nikmatilah selagi bisa, ya?"
――Kanon yang berdiri di depannya tersenyum penuh makna, membuat Kaguya berpikir bahwa mungkin hari ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia ini.
â—†
『Tomat, ramen...!』
Setibanya di kedai ramen yang sudah tak asing baginya, Emma yang berada di gendongan Kaguya menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan riang.
Sepertinya ia benar-benar mengingat ramen yang pertama kali dimakannya waktu itu.
Alasan Kanon memilih kedai ini adalah untuk menghindari kemungkinan sekecil apa pun Emma akan disajikan ramen yang tidak cocok dengan seleranya.
Jika suasana hati Emma hancur di sini, memulihkannya dalam sisa dua hari ini――atau lebih tepatnya, membuat Emma lebih menyukainya daripada Kaguya, akan menjadi hal yang sangat mustahil.
Karena itulah ia memutuskan untuk memberikan ramen yang sangat disukai oleh Emma.
"――Oh, Nona, sudah lama tidak kemari. Hari ini si Anak Laki-Laki tidak ikut?"
Karena mereka datang sebelum jam sibuk makan malam, kedai itu masih sepi.
Pemilik kedai yang sedang luang menyapa mereka, dan Kanon membalasnya dengan senyuman.
"Mulai hari ini dia sedang pergi karyawisata. Pacarnya juga ikut bersamanya."
"Karyawisata, ya... Jadi teringat masa lalu... Bagiku itu sudah cerita puluhan tahun yang lalu..."
Mendengar kata karyawisata, sang pemilik kedai menatap ke luar jendela dengan pandangan menerawang jauh.
Kanon tidak tahu berapa umur pastinya, tapi mengingat kedai ramen ini sudah ada sejak Kanon masih kecil, ia yakin itu memang cerita dari masa lalu yang sangat jauh.
"Silakan sebelah sini."
Seorang pelayan wanita mengarahkan mereka ke meja. Menghentikan Kaguya yang kedua tangannya sedang sibuk menggendong Emma, Kanon menarik kursi dan duduk sendiri.
Kaguya lalu menurunkan Emma untuk duduk di sebelah Kanon. Melihat hal itu, Emma tampak sedikit tidak puas.
Sepertinya ia ingin duduk di sebelah Kaguya, tapi dari sudut pandang Kaguya, jika ia membiarkan Emma duduk di sebelahnya, ia sudah bisa menebak dengan jelas apa yang akan terjadi padanya nanti.
Karena itu, Kaguya memalingkan wajahnya dari tatapan protes Emma.
『Emma-chan, mau pesan ramen yang mana?』
Meski menyadari ekspresi tidak puas Emma, Kanon sengaja tidak menyinggungnya dan menyodorkan buku menu.
『Yang ini...!』
Emma yang masih mengingat dengan jelas ramen yang dimakannya waktu itu, langsung menunjuk ramen tomat klasik.
Sudah kuduga, dia memang tipe anak yang ingin memakan makanan yang sudah ia ketahui dan ia sukai, pikir Kanon.
Kanon, yang akhir-akhir ini selalu mengamati Emma sejak mereka tinggal bersama, telah menyadari kebiasaan Emma yang lebih suka mengulang-ulang makanan atau barang favoritnya ketimbang mencoba hal baru.
Jika ia ingin mencoba hal baru, biasanya itu karena Akihito memakannya, sehingga ia menjadi penasaran dan ingin ikut mencobanya.
Dan karena saat ini Akihito tidak ada di sini――fakta bahwa Emma memilih ramen tomat berjalan persis seperti rencana Kanon.
Dengan ini, ia yakin telah berhasil mendulang "Poin Emma" sedikit demi sedikit.
Akan tetapi――tiba-tiba, mata Emma terpaku pada foto menu Tsukemen (mi celup) versi ramen tomat.
Padahal biasanya dia tidak tertarik pada hal baru... Kanon merasa keheranan.
『Sebenarnya waktu itu bukan ramen tomat, tapi saat libur Tahun Baru kemarin Emma-sama sempat berkesempatan memakan Tsukemen. Mungkin karena itulah beliau penasaran melihatnya.』
Orang yang memberikan jawaban atas rasa penasaran Emma pada menu Tsukemen itu tak lain adalah Kaguya.
Mendengar hal itu, Kanon menyunggingkan seringai usil.
"Itu terjadi saat aku sedang sibuk berkeliling memberi salam dan bekerja, kan?
Syukurlah kalau kalian bisa bersenang-senang bersama Akihito dan Charlotte- san."
"Nona Muda sendiri kan yang memerintahkan saya untuk tetap tinggal...!"
Kaguya yang lagi-lagi merusak suasana hati majikannya, memanfaatkan situasi kedai yang sedang sepi untuk membalas ucapan Kanon, mengabaikan fakta bahwa ia sendiri pernah menegur Livy karena hal serupa di masa lalu.
"Padahal aku juga sebenarnya ingin tetap di rumah dan bermain bersama Akihito dan yang lainnya."
Berbeda dari sikapnya yang biasanya selalu terlihat dewasa, Kanon kini menunjukkan ekspresi merajuk yang sesuai dengan usianya.
Pada kenyataannya, ia hanya berusaha bersikap dewasa karena posisinya, namun sebagai seorang gadis muda, Kanon juga memiliki keinginan untuk bermain.
Terlebih lagi, ini tentang adik laki-lakinya yang sangat berharga yang selama ini seolah terpisah darinya, ditambah tunangan adiknya yang sekaligus menjadi adik perempuan barunya.
Belum lagi ada gadis kecil super menggemaskan layaknya malaikat yang saat ini duduk di sebelahnya. Tentu saja Kanon ingin menghabiskan liburan Tahun Baru bersama mereka.
Meski itu adalah situasi yang tak bisa dihindari, tetap saja ia memiliki penyesalan.
『............』
Emma, yang suasana hatinya sudah membaik berkat ramen, menatap lekat- lekat interaksi keduanya dari samping.
Meskipun ia tidak mengerti bahasa Jepang, selama itu bukan kata-kata dari Akihito, Emma merasa tidak masalah meskipun ia tidak memahaminya.
Akan tetapi, ada hal-hal yang bisa dipahami hanya dari ekspresi wajah――dan dari sudut pandang Emma, Kanon terlihat seolah sedang menindas Kaguya.
Akibatnya, tanpa disadari oleh Kanon, bukannya bertambah, 'Poin Emma'-nya justru malah menurun sedikit.
『Emma-chan, apakah kamu juga ingin mencoba
Tsukemen ini? Kalau kamu
mau, kita bisa membaginya berdua, bagaimana?』
Kanon tahu bahwa khusus untuk urusan ramen, Emma mampu menghabiskan satu porsi penuh sendirian.
Karena itulah, demi mendulang Poin Emma, Kanon menawarkan untuk berbagi ramen dan Tsukemen berdua.
Dengan begini, Emma bisa makan ramen sekaligus Tsukemen dan pastinya akan merasa sangat senang――begitulah pikir Kanon.
『Nn, tidak usah... tomat, ramen saja...』
Namun sayang, rencana Kanon meleset. Emma berkata ia hanya ingin makan ramen saja.
Di balik penolakan itu, sebenarnya ada perasaan Emma yang tidak ingin berbagi makanan dengan orang yang telah menindas Kaguya. Tentu saja, Kanon yang perhatiannya sedang terpecah sama sekali tidak menyadari hal itu.
Kanon hanya menelan mentah-mentah ucapan Emma dan berpikir, 'Yah, ada
kalanya juga seperti ini,' lalu menyerah untuk kali ini.
『――Biar aku yang lakukan, ya.』
Begitu ramen pesanan mereka tiba, Kanon juga meminta mangkuk kecil khusus anak-anak, lalu dengan sigap memindahkan sebagian porsi ramen Emma ke mangkuk tersebut.
Melihat Kanon yang dengan inisiatif mengambil alih tugas yang biasanya dilakukan Akihito, Emma――memberikan senyuman manis sebagai bentuk ucapan
《Terima kasih》.
『...! Silakan dimakan...』
Mendapat senyuman tak terduga dari sang malaikat kecil, Kanon merasakan dadanya berdebar kencang. Ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan akal sehatnya dan membalas senyuman itu seraya menyodorkan mangkuknya.
『Makasih...!』
Emma mengucapkan terima kasih dengan sopan dan menerima mangkuk tersebut.
Poin Emma untuk Kanon sedikit meningkat.
(Meskipun dia cukup pemilih, pada dasarnya dia anak yang sangat polos, ya...) Kaguya, yang melirik Emma sedang menyeruput ramennya dengan asyik, menatap tuannya yang sedang berusaha keras menahan agar sudut bibirnya tidak melengkung lebar karena kegirangan.
Dari luar pun terlihat jelas bahwa penilaian Kanon di mata Emma sedang naik.
Melihat perkembangan ini, Kaguya merasa lega, berpikir bahwa dengan kecepatan ini, Emma pasti akan segera lebih menyukai Kanon daripada dirinya.
Namun――.
『Gendong...!』
Saat mereka selesai makan dan hendak keluar dari kedai, orang yang diminta Emma untuk menggendongnya ternyata masih Kaguya.
Akibatnya, Kaguya kembali mendapat senyuman dari Kanon di mana matanya sama sekali tidak ikut tersenyum.
『――Emma-chan, bagaimana kalau kita pergi membeli mainan? Aku juga akan membelikanmu banyak camilan manis, lho?』
Begitu mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Kaguya, Kanon langsung melancarkan taktik yang jauh lebih
to the point dibandingkan dengan
mentraktir ramen.
(Nona Muda, sepertinya Anda benar-benar sudah kehilangan akal sehat...
Memanfaatkan ketidakhadiran Charlotte-sama untuk membeli hati Emma- sama habis-habisan...)
Dalam situasi normal, jika ada yang hendak membelikan mainan dan camilan dalam jumlah banyak untuk Emma, Charlotte pasti akan menghentikannya.
Namun, Charlotte yang biasanya menjadi rem tersebut sekarang tidak ada.
Itu artinya, Kanon bisa membelikan mainan dan camilan sepuasnya sampai Emma merasa puas. Dan jika Emma mendapat banyak hadiah, ia pasti akan senang――itulah rencana Kanon.
Tetapi――sekali lagi, ekspektasi Kanon harus dipatahkan.
『Nn, tidak mau...』
Emma, yang seharusnya sangat menyukai mainan dan camilan, menggelengkan kepalanya menolak, 《Tidak mau》.
『Kamu tidak mau mainan...?』
『Onii-chan, tidak ada...』
Menghadapi Kanon yang bertanya dengan tubuh gemetar karena syok, Emma kembali menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sedih.
『Apakah maksudmu karena tidak ada Akihito yang bisa diajak bermain?』 『Nn...』
Sepertinya maksud Emma adalah, percuma saja dibelikan mainan kalau Akihito yang biasanya menjadi teman bermainnya sedang tidak ada.
Sejak datang ke Jepang, Akihito selalu menjadi teman bermainnya. Bahkan untuk permainan yang bisa dimainkan sendiri pun, Emma selalu memainkannya sambil duduk di pangkuan Akihito.
Dampak buruk dari ketidakhadiran Akihito kini benar-benar menghantam rencana Kanon tanpa ampun.
『Lalu, kenapa kamu juga tidak mau camilan...?』
『Perut Emma, kenyang...』
『Ugh.』
Sebuah kelalaian yang sangat mendasar dan sepele.
Meskipun Emma biasanya sangat rakus, kapasitas perutnya tidaklah terlalu besar.
Satu-satunya makanan yang bisa ia habiskan satu porsi penuh hanyalah ramen.
Tapi itu bukan berarti perutnya tiba-tiba membesar khusus untuk ramen. Itu lebih kepada tekadnya yang merasa 'Kalau ramen, aku pasti bisa menghabiskannya,' sehingga ia memakannya dengan sedikit memaksakan diri.
Akibatnya, saat ini perut Emma sudah sangat penuh dan buncit, membuatnya bahkan merasa enggan hanya untuk melihat makanan.
Ditawari camilan dalam kondisi seperti itu tentu saja sama sekali tidak menarik bagi Emma.
"Tidak mungkin... padahal biasanya untuk makanan manis itu ada ruang tersendiri di perut..."
"Nona Muda, camilan anak-anak itu beda konsepnya dengan dessert makanan
manis..."
" Apa kau sedang mencari masalah denganku, Kaguya? Biasanya aku tidak akan repot-repot membelinya, tapi untuk kondisiku yang sekarang, aku dengan senang hati akan membelinya, tahu?"
Ketika Kaguya tanpa sadar menanggapi gerutuan Kanon yang sengaja menggunakan bahasa Jepang agar tidak dimengerti Emma, Kanon tersenyum bak menemukan sasaran empuk untuk melampiaskan rasa frustrasinya.
Merasakan aura dingin yang mencekam, Kaguya langsung meminta maaf dan mulai melajukan mobil seolah tidak terjadi apa-apa.
『Ngangguk...』
Melihat Kaguya yang mengemudi sambil bercucuran keringat dingin dari kaca spion, kepala Emma mulai terangguk-angguk ke depan dan ke belakang.
Karena perutnya sudah kenyang, rasa kantuk mulai menyerangnya.
Jika sudah begini, operasi pendulangan Poin Emma milik Kanon harus berakhir――Sadar bahwa mengganggu tidurnya hanya akan membuatnya dibenci, Kanon pun menundukkan bahunya dengan lesu.
"Nona Muda..."
"Seumur hidupku, baru kali ini aku berhadapan dengan tembok pertahanan yang begitu kokoh..."
Kecuali masalah mengenai apa yang dilakukan ayahnya pada Akihito di masa lalu, kehidupan Kanon selalu berjalan mulus tanpa hambatan.
Nilainya memuaskan, parasnya menawan, dan kepribadiannya luhur――ia selalu dicintai oleh semua orang.
Bagi Kanon yang seperti itu――ini pasti pertama kalinya ia menghadapi seseorang yang begitu sulit untuk ditaklukkan.
"Mau bagaimana lagi... Sebenarnya aku berencana untuk mulai mengoperasikannya nanti dan menunjukkannya saat Akihito dan yang lainnya juga ada jika tidak ada masalah――tapi, aku akan menggunakan senjata pamungkasku."
"Nona Muda, jangan-jangan maksud Anda..."
"Kaguya, ubah tujuan kita. Tolong segera hubungi anak-anak yang lain. Aku sudah tidak peduli lagi pada gengsi. Aku akan membuat Emma-chan senang dengan seluruh kemampuanku."
Melihat mata majikannya yang bersinar penuh ambisi dari kaca spion, Kaguya hanya bisa meratap dalam hati yang tak bisa diungkapkan pada siapa pun, (Nona Muda... akal sehatnya benar-benar telah dirusak oleh gadis kecil itu...) â—†
『Emma-chan, kita sudah sampai. Ayo bangun.』
Kanon menepuk pelan bahu Emma yang sedang tertidur di kursi anak di jok belakang mobil.
Emma, yang memang memiliki mood buruk saat bangun tidur, membuka matanya dengan sangat tidak senang karena tidurnya diganggu.
Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah wajah Kanon yang sedang tersenyum lembut padanya. Emma pun menggembungkan pipinya dan menggumamkan, 《Muu...》
Fakta bahwa Emma tidak meronta-ronta dan mengamuk bisa dibilang sebagai bukti dari kedewasaannya yang telah berkembang.
――Tentu saja bukan itu alasannya, melainkan karena orang yang membangunkannya adalah seseorang yang belum terlalu akrab dengannya.
Jika itu Akihito, Emma pasti sudah merengek sambil meronta-ronta, dan jika itu Charlotte, ia pasti akan menolak dengan keras sambil marah.
Masih dikuasai rasa kantuk yang berat, Emma menatap mata Kanon seolah bertanya, 《Ada urusan apa?》
『Maaf ya sudah membangunkanmu. Ayo, sini.』
Setelah melepaskan sabuk pengaman kursi anak, Kanon merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menggendong Emma.
Diperlakukan seperti ini saat mood bangun tidurnya sedang buruk, biasanya Emma akan menolak mentah-mentah――namun, karena ia merasa terlalu malas untuk berjalan kaki dan tidak punya cukup energi untuk memanggil Kaguya, ditambah lagi karena Kanon tadi telah membantunya memisahkan ramen, Emma pun memutuskan untuk pasrah dan membiarkan dirinya digendong.
"Ugh! Kaguya, lihatlah...! Aku berhasil menggendong Emma-chan...!"
Kanon yang sebelumnya mengira bahwa ia akan ditolak lagi, merasa sangat kegirangan dan memamerkannya pada Kaguya karena di luar dugaan ia berhasil menggendong gadis kecil itu.
"Nona Muda, kalau Anda berisik nanti Emma-sama bisa marah...!"
Tepat seperti peringatan Kaguya, Emma langsung mengerutkan alisnya dengan sangat tidak suka saat Kanon berteriak tepat di sebelah telinganya.
Pada dasarnya Emma memang tidak suka suara berisik, jadi wajar saja ia makin kesal jika ada yang berteriak di dekat telinganya.
Mengingat Kaguya ada di belakangnya, Emma berpikir untuk meminta Kaguya saja yang menggendongnya――namun saat ia menoleh ke belakang, Kaguya telah menghilang dari pandangannya dalam sekejap mata.
Kaguya yang menyadari bahwa Emma akan meminta gendong padanya, langsung kabur secepat kilat.
Karena situasinya sudah begini, Emma tidak bisa meminta gendong pada Kaguya. Dan karena Kanon juga sudah kembali tenang, Emma pun menyerah dan kembali menyandarkan tubuhnya pada Kanon.
Dengan begitu, ia berniat untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Namun, tepat pada saat itu.
Sebuah suara yang seketika membuat mata Emma terbuka lebar terdengar.
"Nyaa~!"
『Kucing!?』
Bereaksi terhadap suara meongan itu, Emma langsung menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang.
Tanpa ia sadari, ia telah dibawa masuk oleh Kanon ke dalam sebuah bangunan yang asing baginya. Di dalam sana, terdapat lima ekor kucing yang sedang bersantai di atas meja dan lantai.
『Kucingnya, ada banyak...!』
Emma yang sangat menyukai kucing, seketika melupakan rasa kantuknya dan wajahnya langsung berseri-seri.
『Fufu, tempat ini adalah Kafe Kucing, lho. Sebenarnya tempat ini belum resmi dibuka, tapi hari ini adalah pengecualian. Tempat ini disewa khusus untuk Emma-chan, jadi silakan bermain sepuasnya dengan kucing-kucing ini, ya.』 Melihat tingkah Emma yang kegirangan, Kanon tersenyum lembut lalu menurunkannya perlahan ke lantai.
Seketika itu juga, salah satu kucing yang sudah sangat jinak menghampiri Emma dan menggesekkan badannya, seolah meminta untuk dielus.
『Fwaa...!』
Karena kucing itu mendekat dengan sendirinya, Emma mengeluarkan suara kegirangan yang tak terlukiskan dengan kata-kata seraya mengelus punggung kucing tersebut.
Saat dielus dengan lembut, kucing itu pun berguling terlentang di lantai.
Melihat hal itu, antusiasme Emma semakin memuncak――dan saat ia sedang asyik mengelus kucing tersebut, kucing-kucing lainnya pun ikut berdatangan menghampirinya.
『Kucingnya, banyak banget...!』
Berbeda dengan maknanya yang tadi, kali ini Emma berusaha menyampaikan pada Kanon bahwa banyak kucing yang berkumpul mengelilinginya, meski dengan kosa kata yang terbatas.
『Wah, sepertinya Emma-chan sangat populer di kalangan kucing-kucing, ya.
』
『Nn...!』
Dibilang disukai oleh kucing-kucing, Emma mengangguk puas.
Setelah itu, ia terus-menerus mengelus kucing-kucing yang mendekatinya secara bergantian tanpa henti.
"Syukurlah, pendidikan para kucing berjalan dengan lancar."
Kaguya, yang mengetahui seluruh seluk-beluk rencana ini, berbicara pada Kanon sembari memandangi Emma yang sedang bermain riang dengan para kucing.
"Kalau kau menggunakan kata 'pendidikan', nanti bisa menimbulkan kesalahpahaman, tahu. Katakanlah bahwa kita membesarkan kucing-kucing liar dan telantar ini agar menjadi jinak dan ramah pada manusia."
Kucing-kucing yang ada di sini adalah kucing-kucing buangan atau kucing liar yang telah diselamatkan oleh Kanon sejak lama.
Awalnya ia hanya menampung mereka karena keadaan mendesak, namun akhir-akhir ini jumlah kucing yang diselamatkannya semakin banyak. Kanon menyadari bahwa jika ia hanya mengandalkan dirinya sendiri dan para pelayannya untuk mengurus mereka semua, itu akan menjadi sangat merepotkan di masa depan.
Bukan karena masalah biaya, melainkan murni karena kurangnya tenaga kerja dan kekhawatiran bahwa tidak semua kucing yang diselamatkan akan mendapat perhatian yang cukup.
Karena itulah ia mencetuskan ide untuk menempatkan kucing-kucing yang sudah jinak di sebuah Kafe Kucing, dan jika memungkinkan, mencarikan mereka orang tua asuh yang bersedia mengadopsi.
Mengingat ini adalah Kafe Kucing, tentu saja akan ada pemasukan, namun seluruh keuntungannya akan dialokasikan untuk biaya makan dan perawatan para kucing.
Pada dasarnya, tempat ini didirikan sebagai wadah untuk mencarikan majikan baru bagi kucing-kucing tersebut.
Saat ini memang baru ada lima ekor kucing, namun ke depannya kucing-kucing jinak lainnya juga akan dibawa ke kafe ini, sehingga jumlahnya pasti akan terus bertambah.
Mengetahui bahwa bukan hanya Akihito, tetapi Charlotte dan Emma juga sangat menyukai kucing, Kanon awalnya berencana untuk membawa mereka semua ke kafe ini sebagai sebuah kejutan. Namun, demi menaikkan posisinya di mata Emma, Kanon tak ragu membuang rencana kejutan untuk Akihito dan Charlotte tersebut.
Sebagai informasi tambahan, para calon pengadopsi kucing akan diseleksi dengan sangat ketat. Selain harus memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk merawat kucing, kepribadian mereka juga menjadi faktor penentu. Jika ada yang mengajukan adopsi, para pelayan Kanon akan melakukan penyelidikan latar belakang secara rahasia untuk memastikan bahwa kucing-kucing tersebut akan hidup bahagia bersama keluarga baru mereka.
"Kalau begitu, karena ini adalah kafe, apakah kita akan menyajikan minuman untuk Emma-sama?"
Dalam situasi normal, karyawan yang dipekerjakan untuk kafe kucing inilah yang akan menyajikan minuman dan makanan ringan. Namun karena kafe ini belum resmi beroperasi, belum ada satu pun karyawan yang bekerja.
Oleh karena itu, tugas mengurus kucing-kucing tersebut ditangani langsung oleh Kanon dan pelayan-pelayan pribadinya――meski begitu, Kanon sama sekali tidak berniat menyerahkan tugas menyajikan minuman untuk Emma kepada orang lain.
『Emma-chan, apakah ada minuman yang ingin kamu pesan?』 『Nn?』
Saat Kanon bertanya, Emma yang sedang asyik memeluk salah satu kucing yang pasrah digendongnya, menoleh ke arah Kanon dengan kepala dimiringkan.
Lalu, Emma kembali menatap kucing di pelukannya.
Saling bertatapan dengan mata kucing yang bulat dan lucu, Emma pun――
『Susu sapi...!』
――Meminta sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
(Susu sapi... apakah selama ini Emma-chan pernah meminumnya...?) Biasanya, selain teh, Emma selalu meminum jus jeruk atau minuman manis lainnya yang disukai anak-anak. Kanon tidak ingat pernah melihat Emma minum susu sapi.
Merasa heran, Kanon menoleh ke arah Kaguya.
" Apakah kita punya persediaan susu sapi?"
"Tidak ada... Jika sampai kucing-kucing ini tak sengaja meminumnya, itu akan menjadi masalah besar, jadi kita memang tidak pernah berencana untuk menyediakannya... Lagipula, meskipun pembukaannya sebentar lagi, kita harus mempertimbangkan masa kedaluwarsanya..."
"Benar juga, ya..."
Kaguya memaparkan masalahnya, dan Kanon yang sedari awal sudah menduga bahwa tidak ada susu sapi di sini, hanya bisa mengangguk pasrah.
Kalau begini terus, ia akan membuat Emma kecewa.
Karena ia harus menghindari hal itu terjadi dengan cara apa pun, Kanon berniat menyuruh salah satu pelayannya yang sedang menganggur untuk pergi membelinya――namun tiba-tiba, ia menyadari sesuatu.
Susu sapi yang diminta Emma itu, kemungkinan besar bukan untuk diminum oleh Emma sendiri.
"Kaguya, tolong perintahkan pelayan yang bisa bergerak cepat untuk segera pergi ke peternakan kambing dan membeli susu kambing."
( ( (Kenapa tiba-tiba minta susu kambing...?) ) )
Para pelayan yang bersembunyi di balik bayang-bayang agar tidak mengganggu majikan mereka, memiringkan kepala kebingungan mendengar instruksi Kanon.
Hanya Kaguya seorang yang langsung memahami maksud Kanon. Dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata, jari-jarinya menari di atas layar ponsel, mengirimkan instruksi kepada pelayan yang sedang berada di dekat peternakan kambing.
" Akan tiba dalam waktu sekitar 30 menit."
"30 menit... lumayan lama, ya..."
Karena tidak ada peternakan kambing di sekitar kafe kucing ini, perjalanan menggunakan mobil pun tetap akan memakan waktu.
『Emma-chan, minumannya akan memakan waktu sedikit lama, apa kamu mau menunggu?』
『Nn. Sama kucing, nunggu.』
Kanon bertanya dengan perasaan was-was takut Emma akan marah, namun Emma yang sedang dalam mood sangat baik karena bisa bermain dengan kucing, menurut tanpa protes sedikit pun.
Bahkan, ia juga menyuruh kucing di pangkuannya untuk ikut menunggu.
Kanon merasa lega dan berpikir ini tidak akan menjadi masalah――lalu ia pun menyajikan segelas jus jeruk untuk Emma.
『Makasih...!』
Meski bukan susu, Emma tetap menerimanya dengan senyuman dan langsung meminum habis dalam sekejap.
Bukan karena ia sedang kehausan, melainkan karena ia ingin cepat-cepat kembali bermain dengan para kucing.
Begitu Emma meletakkan gelas kosongnya di atas meja, seorang pelayan yang bersembunyi di balik bayangan melesat keluar dan mengamankan gelas tersebut dalam hitungan detik.
(Anak-anak itu... sepertinya mereka ingin melihat Emma-sama dari jarak dekat, ya...)
Kaguya yang memahami perasaan para bawahan pelayannya, hanya bisa bersimpati. Namun di sisi lain, Kanon yang kesempatannya direbut oleh bawahannya sendiri berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kekesalannya, meski aura ketidakpuasan tak bisa ditutupi dari tubuhnya.
Seolah majikannya sedang berkata, 《Beraninya kalian ikut campur...》.
Kaguya hanya bisa tersenyum masam.
Sembari Kanon dan Kaguya mengawasi Emma yang terus bermain dengan para kucing――susu pesanan Emma akhirnya tiba.
『Nah, Emma-chan, ini dia.』
Kanon menyodorkan sebotol susu kambing beserta lima buah wadah――yang bukan gelas untuk manusia, melainkan wadah minum yang biasa digunakan oleh para kucing.
Emma menerimanya dengan senyum lebar, lalu menyusun kelima wadah tersebut secara sejajar. Ia kemudian menuangkan susu kambing itu ke dalam masing-masing wadah dengan takaran yang sama rata.
Karena satu botol ternyata tidak cukup, ia meminta botol tambahan dari Kanon dan kembali menuangkannya dengan rata――setelah merasa jumlahnya sudah pas, Emma meletakkan wadah-wadah berisi susu tersebut di hadapan masing- masing kucing.
『Kucing-kucing, nih.』
Melihat uluran tangan Emma, para kucing itu pun langsung mulai meminum susu tersebut dengan lahap.
Fakta bahwa mereka tidak langsung meminumnya sebelum diberi aba-aba adalah bukti dari keberhasilan pelatihan yang mereka terima.
"Fufu... meminta susu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk diberikan pada kucing-kucing ini... Emma-chan benar-benar gadis yang sangat baik hati, ya..."
Melihat Emma yang tersenyum sangat bahagia mengamati kucing-kucing yang sedang menikmati susu mereka, hati Kanon terasa sangat damai.
Rasanya ia ingin terus memandangi pemandangan ini selamanya――perasaan itulah yang kini memenuhi dadanya.
"Yah... untung saja Nona Muda segera menyadarinya... Kalau tadi Anda menuruti permintaannya dan memberikan susu sapi biasa, bisa-bisa terjadi bencana besar di sini..."
Kaguya yang sedari tadi berdiri di sebelah Kanon dan ikut mengawasi Emma beserta para kucing, tersenyum masam.
Nada bicaranya terdengar seolah ia baru saja lolos dari jurang malapetaka.
"Meskipun kita bisa mencegah kucing-kucing itu meminumnya, Emma-chan pasti akan menangis kalau kita tiba-tiba melarangnya tanpa alasan yang jelas.
Tapi yah, karena usianya yang masih sangat kecil, wajar saja kalau ia tidak tahu dan berniat memberikan susu sapi pada mereka."
Jika kucing meminum susu sapi biasa, mereka bisa mengalami gangguan pencernaan seperti diare dan masalah kesehatan lainnya.
Kanon memang sudah mengetahuinya sebagai bagian dari wawasan dasarnya, namun wajar jika Emma yang masih sekecil ini tidak memahaminya.
Apalagi, ia pasti sering melihat adegan kucing meminum cairan putih mirip susu di televisi atau anime, jadi ia hanya meniru apa yang dilihatnya.
Kanon tidak bisa menyalahkannya, dan karena ia sudah menyadarinya sebelum Emma memberikannya pada kucing-kucing itu dan menggantinya dengan susu kambing, maka tidak ada masalah sama sekali.
Nanti, Kanon berniat memberi tahu Emma secara halus bahwa memberikan susu sapi biasa pada kucing itu tidak diperbolehkan.
Yah, meski pada akhirnya, kemungkinan besar Akihito-lah yang akan mengajarkan hal itu padanya nanti.
『Kucing-kucing, sudah minum semua...? Kalau gitu, ayo main lagi...!』 Setelah memastikan kelima kucing itu telah menghabiskan susu kambing mereka, Emma menjauhkan wadah-wadah kosong itu dari hadapan mereka, meletakkannya di atas meja, lalu kembali bermain.
Dan kemudian――wadah-wadah kosong itu kembali lenyap dalam sekejap mata karena diamankan oleh para pelayan bayangan. Kanon yang melihatnya langsung memancarkan aura hitam pekat meski wajahnya tetap tersenyum manis, sementara Kaguya hanya bisa meratap dalam hati, (Bawahan saya sama sekali tidak bersalah, lho...)
â—†
『Emma-chan, bagaimana kalau kita berpamitan pada kucing-kucing ini sekarang?』
Sekitar dua jam berlalu setelah Emma bermain sepuasnya. Mengingat mereka masih harus pulang dan memandikan Emma agar ia tidak terlambat dari jam tidurnya, Kanon pun mengajak Emma untuk pulang.
『Sama kucing-kucing, sudah tidak bisa main lagi...?』 Namun, Emma yang masih ingin terus bermain dengan kucing-kucing itu, menatap Kanon dengan mata berkaca-kaca yang menyiratkan kesedihan.
Padahal seharusnya ia sudah sangat mengantuk, tapi karena terus bermain dengan antusias bersama para kucing, rasa kantuknya seolah menguap entah ke mana.
『Kamu bisa datang bermain kapan pun kamu mau, kok. Nanti kita ke sini lagi, ya?』
Pemilik dari kafe kucing ini tak lain dan tak bukan adalah Kanon sendiri.
Jika Emma bilang ingin datang, ia pasti akan mengantarnya, bahkan Kanon rela meliburkan kafe ini demi membiarkan Emma memonopolinya jika perlu.
"Tolong hindari meliburkan kafe secara mendadak, karena itu akan mengecewakan pelanggan yang lain."
Tentu saja, pelayan pribadinya yang sangat kompeten itu tidak akan membiarkan majikannya bertindak egois.
"Kalau begitu, haruskah aku membangun kafe kucing yang eksklusif hanya untuk Emma-chan?"
"Kalau sampai sejauh itu, bukankah sudah tidak perlu lagi disebut kafe kucing...? Akan lebih masuk akal kalau Anda membeli rumah biasa lalu memelihara kucing di sana..."
"Kaguya, kau selalu saja membantah ucapanku, ya?"
"Saya hanya menyampaikan fakta yang paling logis dan rasional..."
Menghadapi tatapan tajam majikannya, Kaguya hanya bisa membalas dengan senyuman masam.
Lagipula, mengingat Akihito dan Charlotte pernah membicarakan keinginan mereka untuk memelihara kucing saat kencan waktu itu, suatu saat nanti mereka pasti akan memeliharanya sendiri.
Daripada memaksakan diri menyewa seluruh kafe kucing, Kaguya merasa jauh lebih baik jika Kanon membiarkan mereka segera memelihara kucing. Itu akan lebih menguntungkan bagi Akihito dan yang lainnya, serta lebih membahagiakan bagi Emma.
『Kucing-kucing, daa-daah...』
Sementara Kaguya dan Kanon berdebat, Emma mengucapkan perpisahan pada para kucing.
Baju Emma kini dipenuhi bulu kucing, sehingga para pelayan pun langsung bergerak cepat membawakan lint roller (alat pembersih bulu) untuk membersihkan baju Emma.
" Astaga!? Tolong berhentilah mencuri start terus-menerus...!"
Karena lagi-lagi keduluan oleh para pelayan, Kanon yang kesal akhirnya benar- benar meluapkan amarahnya, padahal Kaguya sama sekali bukan pelakunya.
Tentu saja hal itu membuat para pelayan terkejut, namun yang paling terkejut adalah Emma.
Bagi Emma, orang-orang asing yang tidak dikenalnya tiba-tiba muncul dan menyentuh bajunya tanpa permisi.
Untuk ukuran Emma yang pemalu dan sangat takut pada orang asing, ini adalah pelanggaran zona nyaman tingkat fatal.
Alhasil――
『Waaaaa...!』
――Seakan menghancurkan seluruh usaha keras Kanon dari tadi, Emma langsung menangis sejadi-jadinya.
Sudah bisa ditebak, kemurkaan Kanon dan Kaguya seketika menyambar para pelayan tersebut――dan mereka pun meminta maaf habis-habisan dengan posisi sujud memohon ampun di hadapan Emma.
Akan tetapi――setelah tangisannya mereda, Emma yang masih sesenggukan langsung memeluk Kanon yang berada di dekatnya. Mendapat pelukan itu, Kanon langsung berubah
mood menjadi sangat gembira seraya menggendong
Emma dalam dekapannya.
â—†
『――Onii-chan sama yang lain, pulangnya kapan...?』
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Emma yang suasana hatinya sudah membaik bertanya pada Kanon yang duduk di sebelahnya.
『Setelah kamu tidur tiga kali di malam hari, mereka akan pulang, lho.』 Karena karyawisata Akihito dan yang lainnya berlangsung selama empat hari tiga malam, Kanon menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami oleh Emma.
Dengan pola pikirnya yang polos, untungnya Emma tidak merespons dengan, 'Kalau begitu aku akan tidur dan bangun tiga kali sekarang juga'. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan raut wajah kesepian.
Melihat Emma yang seperti itu, Kanon tersenyum dengan penuh kasih sayang, lalu dengan lembut mengelus kepala Emma.
『Tidak apa-apa, kamu akan segera bertemu dengan mereka, kok. Lagipula, aku sudah menyusun rencana untuk itu.』
Saat Kanon mengatakan hal itu sembari terus mengelus kepalanya, Emma memiringkan kepalanya bingung, sementara Kaguya yang sedang menyetir di depan tak kuasa menahan senyum getirnya.
Diskusi & Komentar (0)