Hari pertama karyawisata――meski sempat ada insiden tak terduga, setelah berdamai dengan Umikawa-san, semuanya berjalan lancar tanpa masalah berarti, dan kini malam pun tiba.
Setelah menyantap hidangan lezat di hotel dan mandi sendirian dalam sepi, aku sedang berjalan kembali ke kamar yang kugunakan bersama teman-teman laki-laki sekelasku, namun――
" Ah, Aoyagi-kun."
――Aku berpapasan dengan Sasagawa-sensei yang tersenyum manis seolah berkata, 《Ketemu mangsa bagus!》.
Aku tahu dia ikut dalam karyawisata ini sebagai wakil wali kelas... tapi karena perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, aku langsung berbalik arah.
"Hei, hei!? Kenapa kamu malah putar balik!? Tadi kamu sengaja mau pura-pura tidak lihat, kan!?"
Namun sayangnya aku gagal kabur karena Sasagawa-sensei dengan cepat mencengkeram bahuku dari belakang.
Bukannya aku membencinya, malah beliau adalah guru yang sangat populer di kalangan siswa laki-laki dan sesama guru pria. Hanya saja, orang ini selalu memancarkan aura merepotkan.
Sebisa mungkin aku tidak ingin berurusan dengannya.
Apalagi mengingat ada Char.
"Tidak, saya baru ingat ada barang yang tertinggal, jadi saya mau kembali ke pemandian umum..."
"Ya ampun, kamu bohong, kan? Kamu sudah bawa baju gantimu dengan rapi, dan semua perlengkapan mandi seperti sampo sudah tersedia lengkap di pemandian hotel ini. Kalau cuma kebohongan level segitu, aku juga bisa menebaknya, lho."
Meski Sasagawa-sensei terkenal dengan kesan santai dan polosnya, ia dengan mudah mematahkan alasanku.
Ternyata, gelar sebagai teman masa kecil Miyu-sensei bukanlah isapan jempol belaka...
"Bahkan kalau Sensei memakan saya, rasanya tidak enak, lho...?"
"Sayang sekali, aku ini spesialis perempuan."
Karena merasa bersalah telah berbohong, aku mencoba berkelit dengan bercanda, tapi balasan yang kuterima malah diucapkan dengan nada serius.
Bahkan sepertinya, kata 'memakan' yang kumaksud ditafsirkan ke arah yang berbeda olehnya.
Padahal maksudku murni mengibaratkan serigala yang akan memakan anak babi...
"Sekarang kamu sedang senggang, kan? Toh, setelah ini cuma waktu bebas sambil menunggu jam tidur."
"Dibilang senggang ya mungkin iya, tapi saat ini saya sedang dalam perjalanan kembali ke kamar..."
Memang aku tidak punya rencana apa-apa setelah ini.
Menurut manga atau anime favorit Char, biasanya saat karyawisata seperti ini adalah hal yang wajar bagi karakter laki-laki untuk menyusup ke kamar perempuan. Namun, kalau aku berani-berani masuk ke kamar Char, aku sudah
bisa membayangkan Shimizu-san dan Kiriyama-san yang sekamar dengannya akan dengan senang hati menjadikanku bulan-bulanan bersama Char.
Karena itulah, aku hanya berencana bersantai di kamarku.
"Soal baju dingin... ya, aku bawa mantel, jadi ini, pakai."
Sambil berkata begitu, beliau menyodorkan sebuah mantel tebal khusus pria untuk kupakai.
Ah, hangat... batinku sesaat, tapi anehnya, ukurannya sangat pas di badanku.
Tunggu, ini...
"Sejak awal, Sensei memang sudah menungguku, kan...? Lagipula, sejak pertama kali kita berpapasan tadi Sensei sudah memakai mantel, berarti Sensei sudah sangat siap untuk pergi ke luar..."
Seperti yang beliau katakan sendiri tadi, target romantis Sasagawa-sensei adalah perempuan, bukan laki-laki.
Jadi, fakta bahwa beliau membawa mantel pria saja sudah aneh, dan kemungkinan ukurannya pas di badanku karena kebetulan sangatlah kecil.
Entah apa tujuannya, tapi kemungkinan besar beliau memang sudah berniat membawaku ke luar dan sengaja mencegatku di sini.
Asalkan tahu nomor kamarku, beliau pasti tahu bahwa aku akan pergi ke pemandian umum, jadi beliau hanya perlu menungguku di sudut lorong yang tak mencolok.
" Aku sering dengar cerita tentangmu dari Miyu-chan, dan ternyata intuisimu memang tajam, ya~. Baguslah, dengan begini kita bisa langsung ke intinya. Ayo jalan."
Meskipun niatnya mencegatku sudah terbongkar, Sasagawa-sensei tanpa rasa bersalah menarik tanganku dan menuntunku berjalan seolah itu hal yang wajar.
"T-Tunggu sebentar, Sensei!? Kalau sampai ada yang lihat ini bakal gawat, atau lebih tepatnya, seorang guru membawa muridnya keluar di malam hari itu melanggar aturan, kan...!?"
"Tena~ng saja, tena~ng. Kalaupun ada yang lihat, tidak akan ada murid yang mikir kalau kita ini pacaran, kok~."
Alasannya sudah jelas; hampir seluruh murid di sekolah ini tahu kalau Sasagawa-sensei hanya tertarik pada sesama perempuan.
Masalahnya, aku ini laki-laki normal yang menyukai perempuan, jadi tetap saja ada kemungkinan besar tindakannya ini akan memicu kesalahpahaman bahwa akulah yang menaruh hati padanya.
Malahan, kalau Char sampai melihat kami berjalan sambil berpegangan tangan (atau setidaknya terlihat seperti itu), aku bisa langsung divonis selingkuh di tempat.
"Bagi Sensei mungkin tidak masalah, tapi bagi saya ini gawat...!"
"Kalau begitu, kita jalan lebih cepat, ya~. Omong-omong, untung saja tadi Aoyagi-kun sedang berjalan sendirian, jadi aku mudah mendekatimu~. Sifat penyendirimu ternyata belum sembuh, ya."
"Eh!? Kenapa tiba-tiba saya yang dihina!? Terus, tolong berhenti bicara seolah saya ini memang penyendiri dari sananya!? Dulu saya sering menghabiskan waktu bersama Akira, kan!?"
"Kalau tidak ada Saionji-kun, kamu itu
loner alias penyendiri, kan~."
"Ugh...!"
Itu fakta yang tak bisa kubantah.
Kenyataannya, karena Akira tidak ikut karyawisata kali ini, aku tidak punya teman laki-laki untuk diajak berjalan bersama dan akhirnya berujung sendirian.
"Padahal aku yakin pasti ada banyak murid laki-laki yang ingin berteman denganmu~. Kenapa kamu malah membangun tembok pembatas seperti itu~?"
Tanpa menoleh sedikit pun, Sasagawa-sensei terus menarikku sambil melangkah dengan santai. Namun, pertanyaan yang ia lontarkan benar-benar sulit untuk dijawab.
Meski bukan pertanyaan yang benar-benar menusuk titik lemahku, tapi aku menyadari bahwa di balik penampilannya yang santai, beliau benar-benar memperhatikan para muridnya.
"Karena awalnya saya sudah tidak akrab dengan mereka, jadi rasanya canggung kalau tiba-tiba sok akrab sekarang..."
"Bilang saja, alasan sebenarnya karena kamu tidak ingin ada yang mendekati Charlotte-san, kan~? Di antara para murid laki-laki, banyak lho yang menyukai Charlotte-san, dan meski dia sekarang sudah punya pacar, pasti masih ada yang diam-diam mengincarnya, kan~?"
Ya ampun, orang ini... entah kenapa hari ini dia tanpa ragu menginjak area privasiku...
Mungkin karena selama ini aku jarang berinteraksi dengannya sehingga aku tidak tahu sifat aslinya, atau mungkin memang beginilah karakternya... jujur saja, beliau cukup sulit dihadapi.
"Selain itu, Aoyagi-kun sekarang sudah jadi pusat perhatian di sekolah, apalagi kamu lumayan populer di kalangan siswi kelas satu, kan~? Pasti banyak murid laki-laki yang ingin memanfaatkanmu sebagai batu loncatan untuk bisa dekat dengan para gadis itu, kan~?"
"Saya tidak merasa diri saya populer di kalangan adik kelas. Tapi, kalau Sensei sudah tahu sedetail itu, kenapa harus repot-repot bertanya pada saya...?"
"Hmm~, aku kan cuma mau memastikan~."
Sasagawa-sensei mengelak dengan nada bicara santainya yang khas.
Sekarang aku sedikit mengerti kenapa Miyu-sensei sering kerepotan menghadapinya.
Di balik penampilan dan sikapnya yang terlihat polos, beliau sebenarnya tidak sepolos itu; beliau adalah wanita yang perhitungan.
Kasarnya, kesan bahwa beliau adalah orang yang "lamban dan ceroboh"
seketika luntur dari benakku.
Pada akhirnya, aku diseret keluar dari hotel begitu saja.
"――Ugh... Malam hari di Hokkaido benar-benar dingin, ya~."
Sambil berjalan menuju bukit kecil di dekat hotel, Sasagawa-sensei menggigil kedinginan.
Sejujurnya, tak ada orang waras yang mau berjalan-jalan di luar pada malam sedingin ini...
"Hati-hati jangan sampai kena masuk angin setelah mandi, ya. Kalau Sensei sampai demam di hari pertama, Sensei bakal menghabiskan sisa karyawisata ini dengan rebahan di hotel saja, lho."
"Kalau Sensei sudah tahu, tolong jangan seret saya keluar..."
" Ah, ayo duduk di sini."
Saat aku menatapnya dengan pandangan yang sedikit memprotes, Sasagawa- sensei mengabaikannya dengan anggun lalu duduk di atas padang rumput di puncak bukit.
Beliau benar-benar orang yang berjalan di temponya sendiri...
"Jadi, kenapa Sensei membawa saya keluar?"
"Itu sudah pasti karena aku ingin bicara denganmu. Kalau di sekolah kan Charlotte-san selalu menempel padamu, belum lagi ada anak-anak lain. Kalau tidak dengan cara begini, kita tak akan bisa bicara berdua saja."
Artinya, beliau ingin membicarakan suatu rahasia.
Kalau beliau sampai sejauh ini, hal yang ingin dibicarakannya denganku pasti ada hubungannya dengan Miyu-sensei...
"Lihat, bulannya indah, ya."
"――Eh!?"
Tepat setelah aku duduk di sebelah Sasagawa-sensei, kata-katanya yang tiba- tiba membuatku refleks menoleh ke arah wajahnya.
Dan saat aku menoleh, kulihat Sasagawa-sensei sedang tersenyum lebar――dengan seringai jahil yang kentara.
"Ini bukan pernyataan cinta, lho~?"
"Sensei sengaja memancing saya, kan...!"
"Yep."
Tanpa rasa bersalah, Sasagawa-sensei mengiyakannya dengan cepat.
Sudah kuduga, aku memang sangat kewalahan menghadapi orang ini...
"Tapi, sungguhan indah, lho. Langit malamnya cerah tanpa awan sedikit pun, dan bulan purnamanya bersinar terang, makanya terlihat sangat jelas. Tentu saja, bintang-bintang yang bertaburan memenuhi langit juga."
Sasagawa-sensei sepertinya menyukai hal-hal yang romantis.
Mungkin bisa dibilang ini sisi femininnya. Ia menatap langit malam yang bertabur bintang dengan wajah yang berseri-seri bahagia.
"Tapi, Sensei mengajak saya kemari bukan cuma untuk melihat bintang, kan?"
Berada di bawah langit sedingin ini setelah selesai mandi benar-benar bisa membuatku masuk angin, jadi aku memutuskan untuk segera membawa pembicaraan ini ke topik utamanya.
"Duh, Aoyagi-kun ini benar-benar perusak suasana, ya."
Meski sudah dewasa, Sasagawa-sensei menggembungkan pipinya kesal layaknya anak kecil.
"Kalau seorang guru dan muridnya membangun suasana romantis, itu justru gawat, kan..."
"Cih."
Begitu kubalas dengan fakta logis, ia merajuk sesaat, lalu kembali menatap langit malam.
Kemudian――dengan senyuman yang hangat dan lembut, ia perlahan membuka mulutnya.
"Syukurlah. Soal keluargamu, sepertinya semuanya sudah selesai dengan baik, ya."
"――Hah."
Tak menyangka beliau akan mengungkit masalah keluargaku, aku kembali menatap Sasagawa-sensei dengan terkejut.
"Fufu, jangan kaget begitu. Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa?"
"Lebih tepatnya, fakta bahwa Sensei tahu justru yang membuat saya terkejut...
Apakah Miyu-sensei yang memberitahukannya pada Anda?"
Miyu-sensei bukanlah tipe orang yang tidak bisa menjaga rahasia.
Namun, mengingat Sasagawa-sensei adalah teman masa kecilnya, mungkin saja Miyu-sensei menceritakan hal itu padanya.
"Bukan, aku cuma menebak-nebak saja."
"Orang ini, benar-benar..."
Menghadapi Sasagawa-sensei yang tertawa senang, kepalaku rasanya jadi pening.
Ternyata bukan Miyu-sensei yang buka mulut, malah aku sendiri yang tak sengaja membeberkan semuanya melalui reaksiku tadi.
"Soalnya akhir-akhir ini Miyu-chan kelihatan bahagia, dan aku juga tahu kalau keluarga Aoyagi-kun itu sedang bermasalah. Jadi aku berasumsi, ah, masalahnya pasti sudah selesai~."
"Jadi Sensei tahu kalau keluarga saya bermasalah, ya..."
"Tentu saja. Ingat, aku ini teman masa kecil Miyu-chan, lho? Aku tahu semua hal tentangnya."
Eh, bukankah yang baru saja dibahas itu masalahku...?
Mungkin maksudnya karena Miyu-sensei ikut terlibat di dalamnya?
Orang ini, jangan-jangan dia selama ini membuntuti Miyu-sensei...?
Kalau mengingat karakternya, kemungkinan itu cukup menakutkan karena sepertinya ia sangat mampu melakukannya.
"Nah, sekarang aku punya pertanyaan untuk Aoyagi-kun. Tentu saja, selesainya masalah keluargamu itu adalah berkat kerja kerasmu sendiri, kan? Tapi, itu bukan cuma berkat usahamu seorang diri, kan? Kau sadar tidak, kalau semua ini juga berkat Miyu-chan yang sudah banyak membantumu di balik layar?"
Meski nada bicaranya masih terkesan main-main, Sasagawa-sensei menatap mataku dengan sorot yang serius.
Sepertinya inilah inti dari pembicaraannya.
"Ya, saya sadar kalau Miyu-sensei selama ini peduli pada saya di sekolah. Dan sepertinya beliau juga punya suatu hubungan dengan orang yang seperti kakak perempuan saya itu... Saya sangat berterima kasih kepadanya."
Meskipun aku tidak tahu apa tujuan Sasagawa-sensei menanyakan hal ini, aku menjawabnya dengan jujur.
Mendengar jawabanku, Sasagawa-sensei tersenyum puas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan memiringkan kepalanya seolah mengintip wajahku dari bawah.
"Baguslah kalau begitu, ini akan mempercepat pembicaraan kita. Setelah apa yang dilakukannya, apa kau tak berniat membalas budi pada Miyu-chan?"
" Apa maksud Anda...?"
" Apakah kau benar-benar berpikir bahwa kebetulan Kanon-chan kenal dengan Miyu-chan? Apakah kau juga yakin kalau Kanon-chan menyuruhmu masuk ke SMA ini hanya karena kebetulan Miyu-chan mengajar di sini? Apakah kau benar-benar percaya semua itu hanyalah kebetulan semata?"
"............"
Mendapat pertanyaan tajam dari Sasagawa-sensei yang menyipitkan matanya seolah sedang mengujiku, aku menahan napas.
Sebenarnya, kemungkinan itu juga pernah terlintas di pikiranku.
Saat aku mengetahui bahwa ada semacam benang takdir yang mengikat Kanon-san dan Miyu-sensei, aku sempat menduga bahwa alasan Kanon-san menyuruhku masuk ke SMA ini adalah murni karena ada Miyu-sensei di sini.
Tapi karena kurasa itu terlalu jauh, aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi... Namun, mendengar cara Sasagawa-sensei bertanya, dugaanku sepertinya benar; Kanon-san memang sengaja memasukkanku ke SMA ini karena keberadaan Miyu-sensei.
"Ternyata, Anda juga tahu nama Kanon-san, ya...?"
"Soalnya, waktu anak itu datang menemui Miyu-chan, aku kebetulan sedang ada di sana."
"Kapan kejadiannya...?"
"Saat kamu kelas 2 SMP ."
Dengan kata lain, Kanon-san pergi menemui Miyu-sensei tepat setelah kejadian di mana ayahku mengurungku sehingga aku tidak bisa mengikuti turnamen nasional...
Jika kejadiannya terjadi sebelum itu, beliau tidak perlu repot-repot memberikan penekanan khusus pada kalimat 《Saat kamu kelas 2 SMP》.
"Seperti yang kau ketahui, Kanon-chan bukan siswi di sekolah ini, dan meskipun saat itu dia kelas 3 SMP , dia sama sekali tidak berencana masuk ke sekolah ini. Jadi, tak mungkin dia menemui Miyu-chan karena mendengar reputasinya lalu datang untuk meminta bimbingan akademis, kan? Lalu, kenapa Kanon-chan sampai harus datang dan meminta bantuan pada Miyu- chan?"
"Skenario yang paling masuk akal adalah mereka berdua memang sudah saling kenal sebelumnya..."
"Kenal dari mana?"
Mungkin karena ia tidak mau memberikan jawabannya secara cuma-cuma, Sasagawa-sensei mulai melontarkan pertanyaan pancingan agar aku sendiri yang menyimpulkannya.
Wanita ini benar-benar penuh perhitungan.
"Entahlah, sejak kecil saya memang sering menghabiskan waktu bersama Kanon-san, tapi saya belum pernah sekalipun melihatnya bertemu dengan Miyu-sensei."
"Sungguh? Kau benar-benar tidak bisa menebaknya?"
Sasagawa-sensei semakin mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mataku dari jarak yang sangat dekat.
Ugh, ini... tergantung dari sudut mana orang melihatnya, ini benar-benar terlihat seperti adegan orang mau berciuman. Sumpah, tolong hentikan...
Sadar bahwa jika Char melihat ini aku akan tertimpa kesalahpahaman yang maha dahsyat, aku segera menjauhkan wajahku.
Seandainya murid laki-laki lain yang melihat pemandangan ini, mereka pasti sudah berteriak, 《Woi, tukeran posisi dong!!》.
Meskipun aku berusaha menghindar, bukan berarti pikiranku kosong. Aku sudah punya bayangan mengenai titik temu antara Miyu-sensei dan Kanon-san.
Meskipun sifat mereka saling bertolak belakang dan usia mereka juga terpaut lumayan jauh――ada satu hal yang mengganjal pikiranku.
"Tidak, saya benar-benar tidak tahu."
Namun, aku merasa bahwa ini bukanlah ranah di mana aku bisa ikut campur begitu saja, jadi aku memilih untuk pura-pura bodoh.
Sasagawa-sensei menatap wajahku lamat-lekat, lalu mendesah panjang dengan raut wajah seolah telah menyerah.
"Kau ini, licik sekali, ya..."
"Maksud Anda apa, ya?"
" Ah, sudahlah, lupakan saja. Lagipula aku sudah membulatkan tekad sebelum datang kemari. Maaf, aku akan memaksamu terlibat dalam masalah ini――kau tahu, Miyu-chan itu sebenarnya adalah kakak perempuan Kanon-chan."
Aku benar-benar telah meremehkan wanita ini.
Dengan tulus, aku mengakuinya.
Tanpa memberiku kesempatan untuk kabur atau mengalihkan pembicaraan, ia dengan sukses menyeretku masuk ke dalam pusaran masalah ini.
"............"
"Kau sama sekali tidak kaget, ya?"
Melihatku yang terdiam kehilangan kata-kata, Sasagawa-sensei menyunggingkan senyum kemenangan seolah berkata, 《Rasakan itu》.
Miyu-sensei pasti akan sangat marah jika ia tahu Sasagawa-sensei membocorkan rahasia ini kepadaku secara sepihak――tapi sepertinya, Sasagawa-sensei berada di sini dengan kesiapan penuh untuk menanggung amarah sahabatnya itu.
"Yah... mengingat Sasagawa-sensei sampai repot-repot berbicara dengan nada seserius itu, kemungkinan yang paling logis adalah ini menyangkut masalah keluarga..."
Sulit membayangkan Kanon-san berselisih paham dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya, begitu pula dengan Miyu-sensei; jika ada masalah, ia pasti akan mengurusnya sendiri.
Melihat fakta bahwa dua orang yang begitu mandiri ini saling berbenturan, aku bisa menebak bahwa akar masalahnya berasal dari hubungan yang sudah ada sejak mereka lahir.
Namun, aku belum pernah mendengar cerita bahwa Kanon-san punya kakak perempuan, dan mengingat jarak usia mereka yang cukup jauh, sepertinya hubungan persaudaraan mereka tidaklah sesederhana itu.
Dan sepertinya, hal rumit itulah yang menjadi alasan Sasagawa-sensei bersikeras menyeretku ke dalam masalah ini.
"Jadi, meskipun Anda akan dimarahi Miyu-sensei, Anda merasa ada gunanya menceritakan semua ini pada saya...?"
"Iya. Jujur saja, Miyu-chan mungkin berpikir bahwa dia sudah memutus hubungannya dengan masa lalu. Tapi nyatanya, dia masih menyimpan luka itu, dan tali persaudaraan mereka belum sepenuhnya terputus. Kalau dibiarkan begitu saja, bukan hanya Miyu-chan yang akan menderita, Kanon-chan pun akan bingung harus berbuat apa. Karena itulah aku ingin mengandalkanmu.
Kau adalah satu-satunya jembatan yang mungkin bisa menyatukan mereka berdua."
Meskipun gambaran utuhnya masih belum begitu jelas, intinya hubungan antara Miyu-sensei dan Kanon-san saat ini tidaklah dalam kondisi yang baik.
Namun, kalau kuingat kembali reaksi Miyu-sensei saat aku menyebut nama Kanon-san tempo hari, aku tidak melihat adanya kebencian atau permusuhan di wajahnya.
Dan melihat fakta bahwa Kanon-san justru meminta bantuan Miyu-sensei untuk mengurus masalahku, perselisihan mereka tampaknya tidak didasari oleh perasaan saling benci, melainkan oleh masalah status dan posisi mereka yang rumit.
Setelah itu, Sasagawa-sensei menceritakan detail mengenai hubungan Miyu- sensei dan Kanon-san, serta kisah tentang ibu kandung Miyu-sensei.
Secara singkat, Miyu-sensei dan Kanon-san adalah saudara tiri beda ibu.
Ibu kandung Miyu-sensei dan ayah Kanon-san rupanya adalah sepasang kekasih sejak mereka masih di bangku sekolah.
Namun, karena tuntutan kebijakan Konglomerat Himeiragi, sang ayah dipaksa untuk melakukan pernikahan politik, yang otomatis membuatnya harus memutuskan hubungannya dengan ibu Miyu-sensei secara paksa.
Jika ceritanya hanya sampai di situ, mungkin itu adalah tragedi klasik yang sudah biasa terjadi di kalangan konglomerat.
Masalahnya, saat mereka dipaksa berpisah――ibu Miyu-sensei sedang mengandung Miyu-sensei.
Terjebak dalam situasi itu, Konglomerat Himeiragi hanya bisa menempatkan ibu Miyu-sensei dalam posisi sebagai wanita simpanan, sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang di keluarga tersebut.
Tentu saja, bagi Konglomerat Himeiragi, eksistensi ibu Miyu-sensei adalah duri dalam daging. Akibatnya, ia diperlakukan dengan sangat buruk di sana――dan pada akhirnya, saat Miyu-sensei masih sangat kecil, sang ibu meninggal dunia akibat kelelahan fisik dan mental.
Oleh karena tragedi itulah, Miyu-sensei menyimpan dendam mendalam terhadap ayah Kanon-san. Alih-alih tinggal di bawah asuhan Konglomerat Himeiragi, ia memilih untuk diasuh oleh kakek-nenek dari pihak ibunya.
Kabarnya, Sasagawa-sensei dan Miyu-sensei mulai saling mengenal sejak saat itu.
Pikiranku melayang pada saat kami membahas tentang ayahku sebelumnya, dan aku teringat akan ucapan Miyu-sensei.
《Mengenai kondisi keluargamu... Jujur saja, aku mengerti kenapa kau tak ingin membicarakannya. Ayahmu itu... cukup eksentrik. Secara pribadi, aku membencinya.》
Awalnya aku sempat heran bagaimana bisa seorang guru berbicara segamblang itu tentang orang tua muridnya... tapi sekarang aku paham, ucapan itu adalah cerminan dari perasaannya terhadap ayahnya sendiri.
"Lalu, apakah saat Kanon-san datang untuk memohon bantuan demi saya, itu adalah pertemuan pertama antara beliau dan Miyu-sensei?"
"Bukan. Pertama kali mereka bertemu... kurasa saat Kanon-chan masih di preschool, ya? Dia datang menemui Miyu-chan dengan ditemani oleh seorang pelayan yang usianya sebaya dengan kami."
Orang itu pasti Kaguya-san.
Entah dari mana Kanon-san mengetahuinya, tapi begitu sadar bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan, ia pasti sangat ingin menemuinya.
Sejak kecil, Kanon-san selalu mendambakan sosok saudara.
"Tentu saja, mengingat apa yang telah diperbuat ayah mereka, Miyu-chan menolak untuk berurusan dengannya dan menganggapnya sebagai orang asing. Sejak saat itu, sambil beranjak dewasa, Kanon-chan sudah beberapa kali datang berkunjung――namun Miyu-chan selalu mengabaikannya. Tapi kurasa, seiring berjalannya waktu, Miyu-chan tak lagi membenci Kanon-chan. Dia hanya bersikap dingin agar Kanon-chan tidak punya alasan untuk berhubungan lebih jauh dengannya."
Begitu ya... Miyu-sensei pasti berpikir bahwa jika ia bersikap layaknya seorang kakak perempuan, hal itu justru hanya akan membawa penderitaan dan kesulitan bagi Kanon-san di masa depan. Karena itulah, ia dengan sengaja menjaga jarak darinya.
Jika mengingat bagaimana Kanon-san mengangkatku menjadi adik laki-lakinya secara sepihak, kalau itu adalah kakak perempuan kandungnya (meskipun beda ibu), ia pasti akan berusaha melakukan segala cara untuk membawa Miyu-sensei kembali ke Konglomerat Himeiragi.
Tetapi, orang-orang di sekitarnya tidak akan pernah menyetujui kembalinya anak dari seorang wanita simpanan――Miyu-sensei yang menyadari hal itulah yang akhirnya memilih untuk bersikap dingin.
Namun, Kanon-san memiliki intuisi yang luar biasa dalam menilai seseorang.
Ia pasti sudah menyadari bahwa sikap dingin Miyu-sensei itu bukanlah berasal dari hatinya yang terdengar.
Karena keyakinan itulah, ia tak pernah menyerah dan terus mengunjunginya.
"Tapi sejak Miyu-chan menjadi guru dan sibuk dengan pekerjaannya, anak itu sudah tidak pernah datang lagi, sih."
"Mungkin dia merasa sungkan karena Miyu-sensei sibuk."
"Mungkin juga. Yah, aku sempat berpikir kalau dia akhirnya menyerah... tapi bayangkan betapa terkejutnya aku saat melihat Kanon-chan berdiri di depan pintu apartemen Miyu-chan sambil menangis memohon bantuannya waktu itu.
Oh iya, apartemenku letaknya persis di sebelah apartemen Miyu-chan, lho."
Lagi-lagi, Sasagawa-sensei menyelipkan informasi dengan nada santai yang seolah mengonfirmasi kecurigaanku:
《Jangan-jangan, orang ini betulan
penguntit Miyu-sensei...?》.
Apa lebih baik kusarankan pada Miyu-sensei untuk mengecek apakah ada alat penyadap di kamarnya?
"Setelah pertemuan itu, ini bukan cuma soal Miyu-chan dan Kanon-chan lagi, tapi juga berkaitan denganmu――Miyu-chan menerima permohonan Kanon- chan, dan berjanji akan melindungimu dari murid-murid lain selama kau bersekolah di sini."
"Itukah alasannya kenapa Miyu-sensei sampai repot-repot mengancam murid- murid yang menyebarkan gosip tentangku untuk tutup mulut..."
Tepat setelah aku masuk ke sekolah ini, beberapa mantan anggota klub sepak bola dari SMP-ku dan murid-murid yang membaca rumor tentangku di internet mulai membuat keributan, dan gosip itu menyebar ke seluruh sekolah dalam sekejap.
Banyak murid yang mencibirku di belakang, dan tidak sedikit pula yang terang- terangan mencari gara-gara denganku.
Dan orang yang menghentikan semua perundungan itu adalah Miyu-sensei.
"Yah, tindakan mereka saat itu memang sudah kelewat batas, sih. Lagipula, alasan kenapa Miyu-chan terus memperhatikanmu sampai sekarang bukan cuma karena janji dengan Kanon-chan, tapi juga karena kau ini memang murid bermasalah yang tak bisa dibiarkan begitu saja, tahu?"
"...Saya sadar kalau dulu saya sering mengasingkan diri di kelas..."
Dulu, Miyu-sensei sudah sering memperingatkanku.
Namun, karena aku terus mengabaikan nasihatnya, wajar saja jika aku dicap sebagai murid bermasalah.
"Omong-omong, aku sedikit cemburu lho melihat Miyu-chan yang selalu mengurusi masalahmu♡"
Di saat aku sedang merenungkan betapa besarnya hutang budiku pada Miyu- sensei――Sasagawa-sensei melontarkan kalimat bernada riang dengan senyuman lebar, yang sama sekali tak selaras dengan ancaman implisit yang terkandung di dalamnya.
"............"
" Asal tahu saja, kalau kau berani memasukkan Miyu-chan ke dalam anggota harem-mu, aku siap membalas dendam dengan seluruh kemampuanku♡"
Melihatku yang membeku setelah mendengar pengakuannya yang tiba-tiba, Sasagawa-sensei kembali melancarkan serangan lanjutannya.
Orang ini... sungguhan sinting...
"Bukan begitu, rasa cemburu Anda itu salah alamat karena saya dan Miyu- sensei sama sekali tidak punya hubungan semacam itu. Lagipula, dari awal saya ini sama sekali tidak berniat membangun harem apa pun!?"
"Hee~, kau berani bilang begitu~? Padahal akhir-akhir ini di sekelilingmu selalu dipenuhi gadis-gadis, kan~? Shinonome-san lah, Kousaka-san lah~?
Banyak siswi kelas satu yang juga ingin dekat denganmu, kan~? Belum lagi para siswi kelas dua dan tiga, kalau bukan karena ada Charlotte-san, mereka pasti sudah melancarkan aksinya~? Dan bukti nyatanya, lihat saja anggota kelompok bebasmu di karyawisata ini, semuanya perempuan kecuali kau sendiri, kan~?"
Tunggu dulu, Karin itu adikku, Kousaka-san cuma junior dari masa SMP , para siswi kelas satu lainnya murni mendukung hubunganku dan Char, dan aku sama sekali tidak tahu-menahu soal niat siswi kelas dua maupun kelas tiga...!
Ada begitu banyak hal yang ingin kubantah sampai-sampai aku bingung harus mulai dari mana.
Sayangnya, aku tidak bisa membeberkan fakta bahwa Karin adalah adikku.
Dan untuk soal anggota kelompok bebas, ya... aku harus mengakui kalau dari sudut pandang orang luar, kondisinya memang terlihat sangat mencurigakan.
"Charlotte-san pasti sering cemburu, kan~? Bisa dibilang, Aoyagi-kun itu seperti musuh alami para gadis~?"
" Anu, tolong berhentilah menyudutkanku dengan rentetan asumsi itu...
Sumpah, hatiku ini hanya untuk Char seorang..."
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.
"Fufu, baiklah, kurasa melampiaskan kekesalanku hari ini sudah cukup sampai di sini."
Sasagawa-sensei tersenyum puas, bangkit berdiri, lalu membersihkan rerumputan di bagian belakang roknya.
" Aku tak menuntutmu untuk segera memikirkan solusi atas masalah Miyu- chan dan Kanon-chan sekarang juga, jadi renungkanlah baik-baik. Kalau itu kau, sang 《Penguasa Lapangan》, kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, kan?"
"Hah!? Dari mana Anda tahu julukan memalukan itu!?"
Itu adalah masa lalu kelamku!!
Lagipula, aku sama sekali tidak menyebut diriku seperti itu. Orang-orang di sekitarkulah yang memberiku julukan konyol itu secara sepihak, dan aku sudah sangat membencinya sejak pertama kali mendengarnya!!
Tolonglah, jangan sampai julukan itu menyebar luas lagi, kumohon!
"Julukan 《Penguasa Lapangan》 kedengarannya keren, lho~. Mulai sekarang, boleh tidak kalau aku memanggilmu 'Sang Penguasa'~?"
"Saya memohon dari lubuk hati saya yang terdalam, tolong jangan lakukan itu!
Saya berjanji akan memikirkan cara untuk membantu Miyu-sensei dan Kanon- san!!"
"Fufu, karena kau sudah berjanji, aku akan menagihnya nanti, lho~. Kalau begitu, kau harus segera kembali ke hotel sebelum masuk angin, ya? Selamat malam~."
Setelah mengatakan semua yang ingin disampaikannya, Sasagawa-sensei berjalan turun menuruni bukit, meninggalkanku sendirian untuk kembali ke hotel terlebih dahulu.
Pulang terpisah memang lebih baik daripada berjalan berdua dan memicu kesalahpahaman jika ada yang melihat. Namun sungguh, tak kusangka wanita ini bisa selicik dan seberbahaya ini.
Selama ini, citranya di kepalaku tak lebih dari sekadar "kakak perempuan kikuk yang lamban dan polos".
Bisa disimpulkan, perempuan adalah makhluk yang tak boleh diremehkan...
Sepertinya tak ada malam lain di mana aku disadarkan akan fakta itu lebih dari malam ini.
Tapi yang paling mengejutkan, Miyu-sensei dan Kanon-san ternyata adalah saudara, ya...
Mengingat betapa dewasanya pola pikir mereka berdua, masalah ini seharusnya tidak akan membesar menjadi konflik yang serius... tapi justru karena kedewasaan itulah mereka tak kunjung berbaikan sampai sekarang, kan...
Mengingat aku berhutang budi pada mereka berdua, kurasa ini adalah masalah yang memang harus kuhadapi secara langsung.
[TLN: Akhirnya ada chapter yang enak dibaca, gak embel” ngewe atau apalah] ◆
" "――Ah, itu dia!" "
Saat aku sedang berjalan menyusuri lorong menuju kamarku sembari memikirkan masalah Miyu-sensei, kulihat Kiriyama-san dan Shimizu-san yang sudah mengenakan
yukata berlari menghampiriku.
Firasat buruk kembali menghantamku, dan aku pun refleks memutar balik langkahku――
"Memangnya kamu pikir kami akan membiarkanmu kabur?"
――Tentu saja, Shimizu-san langsung mencengkeram kerah belakang bajuku dengan sigap.
Ya, kalau bisa aku memang sangat ingin dibiarkan kabur...
"Kenapa kamu bawa-bawa mantel? Habis keluar, ya?"
Agar tak mencolok, aku memang sudah melepas mantelku saat memasuki lobi hotel. Namun karena tak mungkin dimasukkan ke dalam saku, aku terpaksa menentengnya, dan Kiriyama-san dengan cepat menyoroti hal itu.
"Yah... aku ingin melihat bintang, jadi aku keluar sebentar."
"Sendirian? Tanpa mengajak Charlotte-san? Dan yang melakukannya adalah Aoyagi-kun yang terkenal kaku ini?"
Karena aku tak mungkin menceritakan soal Sasagawa-sensei, aku pun berkelit dengan alasan seadanya. Namun Shimizu-san dengan akurat menusuk kejanggalan dalam ceritaku.
Di saat-saat seperti ini, anak ini benar-benar musuh yang tangguh.
"Sekali-sekali, aku juga butuh waktu untuk menyendiri..."
"Bohong banget. Ya sudahlah, tidak penting. Ayo kita pergi sekarang."
Meski masih mencurigaiku, Shimizu-san sepertinya memutuskan untuk tak mempermasalahkannya lebih lanjut dan mulai menarikku ke suatu tempat.
"Pergi? Memangnya kita mau ke mana...?"
"Tentu saja, ke kamar kami."
Hah, kenapa dia mengatakannya dengan nada seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia?
Bukannya anak laki-laki yang menyusup ke kamar perempuan itu adalah pelanggaran keras?
"Tolong lepaskan aku, kalau ketahuan guru kita bisa dimarahi habis-habisan..."
"Jam malam masih lama, dan peraturan sekolah tidak menyebutkan larangan untuk masuk ke kamar lawan jenis, kan? Sama sekali tak ada masalah, apalagi di sana ada Charlotte-san juga, kok."
Memang benar, peraturan karyawisata sama sekali tidak menyinggung soal larangan kunjungan antarkamar beda gender.
Para guru baru akan mulai berpatroli di lorong saat jam malam tiba. Dengan kata lain, sebelum waktu itu tiba, kami bebas melakukan apa saja.
Akan tetapi――melihat Char tidak ikut serta menjemputku saat ini, itu artinya mereka berniat membawaku ke kamar mereka tanpa sepengetahuan Char.
Terlebih lagi, di tanganku saat ini ada mantel pria milik Sasagawa-sensei yang tak pernah kulihat sebelumnya. Jika Char melihatnya, sudah bisa dipastikan ia akan curiga.
Intinya, jika aku pasrah diseret oleh mereka berdua sekarang, aku hanya akan menuai bencana.
" Aph aku punya hak untuk menolak...?"
"Kalau kamu tidak keberatan jika aku menceritakan pada Charlotte-san soal kamu yang kelayapan sendirian di luar malam-malam begini, silakan tolak saja."
Shimizu-san dengan tepat membaca kecemasanku dan tahu bahwa aku sangat ingin menyembunyikan fakta bahwa aku habis dari luar.
Ternyata, alasan kenapa dia tak memaksaku menjawab soal mantel tadi adalah karena dia ingin menyimpannya sebagai senjata ancaman.
"Setidaknya, biarkan aku mengembalikan mantel ini ke kamarku dulu, ya...?
Kalau dibawa-bawa terus malah merepotkan."
"Kamu tidak bakal alasan kabur dan tidak balik lagi, kan?"
"Kau sadar kan, kalau kau tidak punya pilihan untuk kabur?"
Saat aku memohon keringanan, Shimizu-san menyunggingkan senyuman iblis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sudah pasti, kalau aku sampai berani mangkir, dia tak akan ragu membeberkan semuanya pada Char.
" Aku berjanji pasti akan datang, jadi tolong tunggu aku di kamar..."
Setelah mengucapkan janji tersebut, aku akhirnya dilepaskan dan segera bergegas menuju kamarku untuk meletakkan mantel sialan ini.
Entah teman-teman sekamarku sedang kelayapan ke kamar lain atau bagaimana, yang jelas kamar kami sedang kosong melompong.
Ini adalah waktu yang tepat, karena jika mereka ada dan tahu aku akan pergi ke kamar perempuan, mereka pasti akan heboh minta ikut, dan aku juga tak perlu repot-repot menjelaskan soal mantel ini.
Setelah itu, aku berjalan menuju kamar Char sesuai dengan nomor kamar yang sudah diberitahukannya padaku sebelum keberangkatan tadi.
"Nah, ini dia tersangkanya.
Secured~"
Begitu pintu terbuka, Kiriyama-san dengan sigap langsung meraih tanganku dan menarikku masuk ke dalam.
Di dalam kamar itu, sudah ada Kiriyama-san, Shimizu-san, dan Karin.
"Lho, Char ke mana?"
"Paling sebentar lagi juga balik. Sini, duduk di sebelah sini."
Sesuai instruksi Shimizu-san, aku dipaksa duduk tepat di bagian tengah ruangan.
Jangan bilang ini adalah awal dari sesi interogasi soal masalah di bukit tadi...?
Saat aku sedang waspada mengawasi sekeliling, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Yang masuk adalah Char, dan di belakangnya――mengekor Umikawa-san yang terlihat sangat canggung.
Keduanya sudah berganti pakaian menjadi yukata, menandakan mereka berdua baru saja selesai mandi bersama... Apa mungkin Char yang sengaja menjemput Umikawa-san kemari?
"Eh, A-kun!? Kenapa kamu ada di sini!?"
Tebakanku benar, Char sama sekali tak tahu-menahu soal rencana pemanggilanku. Begitu melihatku duduk di tengah ruangan, ia langsung memekik kaget.
Detik berikutnya――.
"Kenapa ada cowok di kamar perempuan!?"
Umikawa-san yang saat masuk tadi terlihat kalem, seketika wajahnya memerah dan langsung memarahiku.
Mengingat sifatnya yang kaku dan teladan, wajar saja kalau dia marah melihat keberadaan siswa laki-laki di kamar siswi perempuan.
"Tentu saja itu untuk menginterogasinya soal detail hubungannya dengan Charlotte-san, dong."
"Ngobrolin soal cinta-cintaan itu adalah acara wajib setiap kali menginap bersama teman-teman, kan~?"
Shimizu-san dan Kiriyama-san menjawab pertanyaan Umikawa-san dengan kompak.
Keduanya menyeringai lebar dengan tatapan jahil, jelas-jelas menunjukkan niat mereka untuk menjadikanku dan Char sebagai bulan-bulanan di malam ini.
Sudah kubilang, kan, firasatku memang tidak pernah salah... aku benci situasi ini...
"Ki-kita kan tidak punya cerita menarik untuk dibahas..."
Char yang memang pada dasarnya pemalu, langsung duduk merapat di sebelahku dengan tatapan memelas ke arah mereka untuk menghindar.
Namun dari gerak-geriknya, sepertinya ia justru sangat ingin bercerita.
...Semoga saja ia tidak asal ceplos mengatakan hal yang tak seharusnya...
"Hmph, aku ke sini bukan untuk mendengarkan cerita pamer kemesraan orang lain, tahu."
Sambil melontarkan kalimat sinis khas dirinya, Umikawa-san berjalan menuju sudut ruangan――memilih tempat duduk yang cukup jauh dariku dan Char.
Akan tetapi, entah kenapa ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga di sisi yang mengarah pada kami, seolah sengaja mengekspos telinganya agar bisa mendengar dengan lebih jelas.
Hei, bukankah tingkahmu itu menunjukkan kalau kamu sangat tertarik untuk mendengar!!
"Deg-degan...!"
Dan soal Karin, entah karena ini adalah pertama kalinya ia berkesempatan ikut acara "Ngobrol Cinta-Cintaan" bersama teman-temannya atau karena hal lain, ia mengayun-ayunkan tubuhnya dengan raut wajah penuh ekspektasi.
Meskipun yang akan dikuliti habis-habisan di sini adalah urusan asmara kakak kandungnya sendiri.
Mengerikan, formasi pengepungan macam apa yang tanpa sadar telah terbangun ini...
Bahkan Shimizu-san sengaja mengambil tempat duduk tepat di depan pintu masuk, menutup rapat satu-satunya jalan keluar bagiku.
"Kalau begitu, mari kita mulai saja! Apa yang biasanya kalian lakukan saat berkencan!?"
Menyadari antusiasme semua orang, Kiriyama-san yang secara ajaib berhasil membaca suasana (padahal di saat-saat seperti ini dia tidak perlu melakukannya!) mengacungkan tangan kanannya dan melontarkan pertanyaan pertama.
Serangannya yang sangat frontal membuatnya pantas disebut sebagai kapten pasukan penyerang.
"Kencan, ya... Kita hampir tak pernah melakukannya, kan?"
Mendapat pertanyaan tajam dari Kiriyama-san, Char menoleh ke arahku.
Meskipun aku yakin ia tak punya niat buruk, di tengah situasi seperti ini, pertanyaannya itu justru terdengar seperti sebuah sindiran telak: 《
Memangnya selama ini kita pernah kencan?》
Tentu saja, ekspresi Char sendiri sebenarnya lebih terlihat seperti kebingungan layaknya orang yang sedang mengingat-ingat. Namun masalahnya ada pada Shimizu-san dan Kiriyama-san――malahan, tatapan Umikawa-san pun ikut menajam ke arahku.
"Punya pacar semanis ini tapi tidak pernah diajak kencan...?"
" Aku sih udah tahu, tapi Aoyagi-kun, kamu beneran harus lebih menghargai Charlotte-san."
"............"
Kiriyama-san menatapku dengan raut wajah tak terima.
Shimizu-san, yang sebenarnya sudah mengetahui situasi kami, ikut menceramahiku dengan pesan tersirat, 《Bukan cuma mengurus adikmu yang masih kecil, perhatikan juga pacarmu!》
Dan Umikawa-san... tolong dong, alih-alih cuma memelototiku dengan seram, katakan sesuatu padaku...
" Ah, ta-tapi, kami kan selalu menghabiskan waktu bersama di rumah. Selain itu... A-kun juga... selalu menyayangiku, kok..."
Sadar bahwa ucapannya tadi tanpa sengaja membuatku dipojokkan, Char yang panik langsung berusaha meralatnya.
Akan tetapi, bagian akhir dari penjelasannya itu diucapkan dengan wajah yang memerah, tubuh yang bergeliat malu-malu, dan mata yang berkaca-kaca, sehingga maknanya terdengar sangat,
sangat ambigu.
"I-itu artinya...!"
"Kalian berdua tinggal serumah...!?"
Kiriyama-san dan Umikawa-san yang tak tahu-menahu soal kehidupan serumah kami, wajahnya seketika ikut memerah karena terkejut.
Shimizu-san hanya bisa tersenyum pasrah sambil memegangi dahinya, seolah berkata 《Duh, keceplosan deh》. Sementara Karin hanya memiringkan kepalanya bingung seolah membatin, 《Kenapa mereka berdua kaget begitu?
》.
Padahal selama ini aku berusaha merahasiakannya dari orang-orang selain lingkaran terdekat kami agar tidak memicu keributan...
" Ah... m-maafkan aku..."
Sadar bahwa ia baru saja membocorkan rahasia negara, Char menatapku dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
Yah, sebenarnya sejak awal aku sudah melihat gelagatnya yang kegirangan, jadi ini juga salahku karena tidak menghentikannya dari awal.
"Tak perlu minta maaf. Shimizu-san, Shinonome-san, Kiriyama-san, Umikawa- san, kumohon, tolong rahasiakan hal ini, ya?"
Aku sengaja menyebut nama mereka satu per satu saat memohon.
Alasan aku turut menyebut nama Shimizu-san dan Karin adalah untuk menghindari kecemburuan. Meskipun ini cuma masalah pertemanan, bisa saja
Kiriyama-san atau Umikawa-san membatin, 《Kenapa cuma dia yang tahu dari awal padahal aku tidak!?》
"Memang sih aku tidak punya kewajiban buat menuruti permintaan Aoyagi- kun, tapi kalau ini sampai menyebar, Charlotte-san juga yang bakal repot. Oke, aku janji bakal tutup mulut."
Yang merespons pertama kali dengan tenang adalah Shimizu-san.
Di sekolah ini, mungkin tak banyak anak yang seahli dirinya dalam hal membaca situasi dan menempatkan diri.
"Yaaah, padahal ini berita super sensasional, lho...?"
Namun sebaliknya, yang sama sekali tak bisa membaca suasana (dan ini sudah bisa ditebak) adalah Kiriyama-san.
Tetapi――.
"Oh, jadi kamu berniat menjadikan aku dan Charlotte-san sebagai musuhmu?"
"――Hah!? T-Tentu saja tidak...!"
Hanya dengan satu senyuman miring dari Shimizu-san, Kiriyama-san langsung bertekuk lutut dan membelot.
Ternyata dia tidak sebodoh itu untuk mencari gara-gara dengan dua sosok yang berada di pusat hierarki siswi di kelas kami.
Karin, yang tentu saja akan menuruti permintaan kakaknya, mengangguk kecil kuat-kuat.
Dan yang terakhir, Umikawa-san, tampak memasang wajah yang rumit.
"Tidak boleh, ya?"
Saat aku bertanya, Umikawa-san menatapku dengan wajah yang masih sedikit merona.
"Bukannya aku berniat ikut campur urusan asmara orang lain, tapi... kalian masih pelajar, tapi sudah tinggal serumah..."
"Yah... ada alasan khusus kenapa kami harus melakukannya..."
"...Aku yakin begitu. Mengingat kau sendiri yang setuju dengan hal itu."
Seperti dugaanku, Umikawa-san memang sosok yang bisa diajak berdiskusi.
Mendengar bahwa aku memiliki alasan khusus, sepertinya ia memutuskan untuk tidak mencecarku lebih jauh.
Namun, entah kenapa Shimizu-san dan Char malah menatapku dengan tatapan seolah aku ini adalah makhluk yang patut dicurigai.
"Eh, kenapa menatapku begitu...?"
"Tidak apa-apa... aku cuma berpikir kalau A-kun ini benar-benar tidak bisa diremehkan..."
"Kira-kira, sudah berapa banyak gadis yang menangis di belakang karena perbuatanmu..."
"Tolong ya, aku merasa tidak pernah melakukan hal-hal yang pantas dikutuk seperti itu!?"
Jangankan di belakang, di depan layar pun aku tak pernah membuat gadis mana pun menangis. Kenapa tiba-tiba aku dituduh dengan hal-hal keji semacam ini...
Kalau kuingat-ingat, Sasagawa-sensei juga tadi menuduhku dengan gosip murahan seputar kedekatanku dengan banyak gadis...
"Fakta bahwa kamu tidak menyadarinya itu yang bikin makin parah."
"Iya, setuju banget! Meskipun orang-orang bilang aku ini tidak peka, tapi aku yakin aku masih jauh lebih baik daripada Aoyagi-kun."
"Kalau yang itu sih mustahil."
"Lho, kenapa!?"
Kiriyama-san yang baru saja ikut-ikutan Shimizu-san menghinaku langsung dijatuhkan balik dalam sekejap mata.
Alhasil Kiriyama-san langsung merengut kesal. Tapi sungguh, kupikir kepekaanku masih jauh di atas Kiriyama-san, deh.
"Ngomong-ngomong... sebenarnya apa tujuan utamaku dipanggil ke sini...?"
Mungkin karena tak tahan dengan hawa canggung di ruangan ini, Umikawa-san akhirnya bertanya dengan ragu-ragu.
Aku juga sama sekali tidak tahu alasannya. Jangan-jangan Char membawa Umikawa-san kemari tanpa menjelaskan tujuannya?
Mungkin Char takut Umikawa-san akan kabur kalau ia menjelaskannya sejak awal.
" Ah..."
Char melirik ke arah Shimizu-san.
Ternyata, dalang utama di balik ini semua adalah Shimizu-san.
"Hmph... Padahal aku masih mau mengulik lebih banyak soal kisah asmara Charlotte-san... yah, kita bisa simpan itu buat nanti. Yang jelas――"
"Kumohon hentikan."
"――Soal pertengkaranmu dengan anggota kelompokmu itu, suasananya masih terasa canggung, kan? Mulai besok, guru-guru pasti tak akan mengizinkanmu terus-terusan menempel pada kelompok kami. Bukankah lebih baik kalau kau menyelesaikannya sekarang juga?"
Shimizu-san mengabaikan keluhanku dengan lihai dan menatap lurus pada Umikawa-san.
Gadis gyaru ini... penampilannya memang terlihat cuek dan terkesan meremehkan banyak hal, tapi ia sebenarnya punya kepedulian yang sangat tinggi...
Dia pasti tak bisa membiarkan masalah Umikawa-san terus menggantung.
" Aku... sama sekali tak berniat merepotkan kalian lebih dari ini, kok..."
Seolah itu adalah topik yang tabu untuk dibahas, Umikawa-san memeluk lututnya, menenggelamkan mulutnya di sela lutut walau ia sedang memakai yukata.
"Tidak ada satu pun dari kami yang merasa direpotkan. Tapi, kami juga tak bisa mengabaikanmu begitu saja."
Tepat setelah Shimizu-san menegaskan bahwa kami tidak merasa direpotkan, Kiriyama-san tiba-tiba membuka mulutnya,
《Eh――》. Detik itu juga, tangan
Shimizu-san langsung menampar mulut Kiriyama-san dengan kuat, lalu melanjutkan kalimatnya tanpa henti.
"Mungkin ini terdengar sedikit memaksa, tapi sayang sekali kalau kau membiarkan suasana yang tak nyaman ini terus menghantui di sisa perjalanan kita, bukan?"
Char mengabaikan rengekan kesakitan Kiriyama-san dan tersenyum lembut pada Umikawa-san.
"Lagipula... aku kan tidak berbuat salah..."
Kini, Umikawa-san benar-benar menenggelamkan seluruh wajahnya di antara lutut.
Dari sudut pandangnya, yang bersalah adalah anggota kelompoknya yang melanggar aturan. Karena itulah, ia merasa sangat keberatan jika harus meminta maaf lebih dulu.
Aku pun berpendapat bahwa Umikawa-san tak perlu meminta maaf atas tindakannya yang menegur mereka.
Seperti yang ia katakan, pada saat itu, dialah pihak yang benar.
Tentu saja, menelan mentah-mentah cerita dari satu pihak bukanlah hal yang bijak. Namun, saat aku diam-diam bertanya pada Miyu-sensei tentang anggota kelompok Umikawa-san sesampainya di hotel, beliau mendeskripsikan mereka dengan kalimat, 《Yah, kumpulan anak-anak yang suka bertindak seenaknya》 Artinya, kemungkinan besar cerita Umikawa-san sama sekali bukan kebohongan.
"Kalau kau merasa kesulitan, maukah aku yang menjadi penengah dan berbicara pada mereka?"
Char mengajukan diri untuk turun tangan menjadi mediator.
Mengingat betapa populernya Char dan kebaikan hatinya yang dikenal luas, para anggota kelompok Umikawa-san pasti akan langsung luluh dan berdamai dengan Umikawa-san.
Jika hanya memikirkan penyelesaian instan untuk masalah saat ini, itu mungkin solusi yang terbaik.
Akan tetapi――.
"Kurasa lebih baik ide itu dibatalkan."
Dengan sebuah pemikiran di benakku, aku menghentikan tawaran Char sebelum Umikawa-san sempat menjawabnya.
"A-kun...? Apa maksudmu...?"
Mungkin tak menyangka aku akan menentang idenya, Char bertanya dengan raut wajah kebingungan.
"Kalau Char yang jadi penengahnya, aku yakin kalian bisa langsung baikan saat itu juga. Tapi, bukankah itu cuma menunda masalahnya saja? Setidaknya, kalau akar permasalahannya belum tercabut, ada kemungkinan besar hal yang sama akan terulang lagi selama empat hari ke depan."
Sesi waktu bebas per kelompok tidak hanya ada hari ini.
Besok, lusa, bahkan di hari terakhir pun, akan ada banyak waktu yang mereka habiskan bersama kelompok mereka.
Jika dibiarkan begitu saja, insiden seperti hari ini pasti akan kembali terulang.
" Akar permasalahan, maksudnya?"
Entah sengaja atau memang sifat polosnya kembali muncul, Kiriyama-san memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Meskipun apa yang kamu sampaikan itu fakta yang benar, alasan kenapa orang-orang sering kali menolaknya bukan cuma masalah hubungan antarpribadi, tapi cara penyampaiannya. Kalau seseorang ditegur dengan nada merendahkan atau dijejali dengan rentetan aturan tanpa peduli perasaan mereka, siapa pun pasti akan merasa jengkel, kan?"
"Eh, yang bener aja Aoyagi-kun ngomong gitu!?"
Saat aku sedang berusaha keras merangkai kata sehalus mungkin dengan senyuman agar tidak menyinggung perasaan Umikawa-san, Kiriyama-san tiba- tiba melayangkan pukulan telak.
Duh, aku paham kok kenapa kamu kaget.
Paham banget... tapi tolonglah, jangan memotong pembicaraanku di saat yang tidak tepat begini.
"Yah, kesampingkan dulu soal diriku."
"Bisa-bisanya kamu lepas tangan dari kesalahanmu sendiri?"
"Kei, sudah cukup. Aoyagi-kun yang dulu itu melakukannya dengan sengaja karena dia tahu dampaknya, sementara Umikawa-san melakukannya tanpa sadar karena dia tidak bermaksud buruk. Itu adalah dua hal yang sangat berbeda, tahu."
Melihat Kiriyama-san yang tak henti-hentinya memotong pembicaraan, Shimizu-san berusaha menghentikannya dengan senyuman masam.
Namun, Kiriyama-san pantang menyerah.
"Jadi maksudmu selama ini Aoyagi-kun sengaja memilih cara bicara yang bikin orang-orang benci padanya!? Pantesan akhir-akhir ini sifatnya berubah jadi baik banget kayak orang lain. Tapi tetap aja, ngelakuin hal jelek dengan sengaja itu jauh lebih parah daripada ngelakuin tanpa sadar, kan!?"
"Iya, Kei, iya. Apa yang kau katakan itu benar sekali. Tapi karena ucapanmu itu bikin Aoyagi-kun kesulitan, tolong tutup mulutmu sebentar, ya."
Karena Kiriyama-san yang terus menyudutkanku dengan kepolosannya, Shimizu-san terpaksa menyeretnya menjauh dari kelompok kami.
Sumpah, anak itu benar-benar tidak cocok denganku.
Berkat ucapannya barusan, aku jadi sangat canggung untuk kembali mengkritik Umikawa-san.
"Eetto... intinya, Umikawa-san adalah orang yang bisa menyadari mana yang benar dan mana yang salah. Karena itu, bukankah akan jauh lebih baik kalau kau menyampaikan hal-hal benar itu dengan cara yang lebih lembut? Daripada langsung marah atau menghakimi mereka dari atas, cobalah berkomunikasi dengan cara yang mudah diterima oleh mereka."
"Maksudmu, seperti yang kau lakukan sekarang...?"
Meskipun aku terlihat kesulitan merangkai kata, tampaknya niat baikku berhasil tersampaikan pada Umikawa-san.
Walaupun ia masih menatapku dari bawah seolah sedang mengevaluasi reaksiku, fakta bahwa ia tidak menentang ucapanku membuatku lega.
Beberapa orang justru akan langsung tersulut amarahnya hanya karena dikritik, terlepas dari bagaimana cara menyampaikannya.
"Coba perhatikan Shimizu-san. Mulutnya kadang lumayan tajam, dia suka menarik orang sembarangan seperti tadi, bahkan tak segan melayangkan chop.
Tapi anehnya, teman-temannya tetap banyak, kan? Kau tahu kenapa?"
"A o y a g i-ku~n? Meskipun aku sedang menjauhkan Kei, aku masih bisa mendengar ucapanmu dengan sangat jelas, lho~?"
――Shimizu-san langsung melayangkan tatapan membunuh dari belakangku, tapi aku mengabaikannya dengan berani.
"Entahlah... Mungkin karena sejak awal mereka memang sudah berteman...?"
"Itu memang salah satu faktornya. Tapi, biarpun kalian sudah lama berteman, ada kalanya hubungan pertemanan bisa retak di tengah jalan, kan? Lalu, apa rahasia Shimizu-san sampai dia tak pernah dibenci? Jawabannya adalah, dia selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dia tahu batasan, 'Oh, kalau dengan anak ini, aku bisa bicara seperti ini', atau 'Kalau dengan anak itu, aku harus menggunakan pendekatan ini agar pesanku tersampaikan'. Karena dia sangat peka terhadap lawan bicaranya, meskipun kadang candaannya sedikit kelewatan, tidak ada yang marah padanya. Itulah sebabnya dia dipercaya banyak orang dan bisa berdiri di pusat perhatian para gadis di kelas."
Kenyataannya, Shimizu-san bisa berteman dengan sangat akrab dengan Kousaka-san, gadis yang amat sangat payah dalam bersosialisasi itu.
Meskipun kalau dilihat dari luar mereka sering berdebat, orang yang tidak kenal pasti akan mengira mereka adalah sepasang saudara yang sangat akrab.
Buktinya, saat Shimizu-san mengajaknya pergi berbelanja waktu itu, Kousaka- san langsung mengiyakannya. Itu membuktikan bahwa Kousaka-san sangat nyaman bersamanya.
Itu semua karena Shimizu-san benar-benar memperhatikan Kousaka-san dan tahu cara berkomunikasi yang paling pas dengannya.
Singkatnya, dia adalah master di bidang komunikasi sosial.
Dan orang hebat itu pulalah yang baru-baru ini melayangkan kritik pedas padaku tanpa ampun.
"Hei, barusan itu kamu lagi memujiku, atau ngajak ribut? Yang mana?"
"Tentu saja dia sedang memujimu..."
Melihat Shimizu-san kembali dan menunjukku dengan jarinya, Char mencoba membelaku dengan tawa canggung. Tapi tak ada contoh yang lebih relevan dan mudah dipahami selain dirinya, jadi mau bagaimana lagi.
Begitu pembicaraan ini selesai, aku harus segera kabur ke kamarku sebelum aku dihajar habis-habisan olehnya.
" Aku... tidak yakin bisa melakukan hal sehebat itu..."
"Haha, tentu saja aku tidak memintamu melakukan hal yang persis seperti Shimizu-san. Jangankan kamu, aku dan Char saja belum tentu sanggup melakukannya. Karena itulah, mari kita mulai dari hal yang paling aman; mengubah nada bicaramu menjadi lebih lembut. Bagaimana kalau kamu memulainya dari situ dulu?"
Sepertinya, sejak dulu Shimizu-san memang tipe orang yang suka mengamati sekitarnya.
Karena itulah ia sangat peka terhadap perubahan emosi seseorang.
Kemampuan observasi semacam itu tidak bisa dipelajari dalam semalam, dan sejujurnya, Umikawa-san tak perlu sampai sehebat itu dalam bersosialisasi.
Cukup pikirkan perasaan lawan bicara, lalu bersikaplah lebih lembut.
Hanya dengan itu saja, frekuensi pertengkaran pasti akan jauh berkurang.
"Lembut... ya... Aku ini kan gampang emosi..."
"Itu artinya kamu kurang kalsiu――"
"Diam."
" Aduuuh...!"
Sementara Shimizu-san kembali mendisiplinkan Kiriyama-san yang lagi-lagi hampir melontarkan komentar tak penting, aku menyusun kata-kata di kepalaku.
"Menurutku, Umikawa-san itu tipe orang perfeksionis yang selalu mencari ideal. Dan standar ideal itu bukan cuma kamu terapkan pada dirimu sendiri, tapi juga pada orang lain. Karena itulah, kamu sering merasa kesal saat melihat orang yang melenceng dari standar idealmu itu, kan?"
Kesan yang ia tinggalkan di mata teman-temannya adalah: gadis teladan yang kaku dan sulit didekati.
Dan puncaknya, ia sering marah.
Itu adalah ciri khas dari orang yang bersikap keras baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain.
Tapi aku tidak pernah bilang kalau itu adalah hal yang buruk.
"Sayangnya, di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Seperti pepatah, Jūnin Toiro (Sepuluh orang, sepuluh warna), setiap manusia itu unik dan berbeda-beda. Daripada langsung menyangkal pendapat orang yang berbeda darimu, atau marah karena orang lain tak bisa melakukan hal yang menurutmu mudah... bagaimana kalau kamu mencoba menerima perbedaan itu? 'Oh, ternyata ada juga ya, orang yang berpikir seperti ini,' atau 'Ternyata ada juga ya, orang dengan kemampuan seperti itu'. Hanya dengan mengubah sudut pandang dan mentalitasmu, cara pandangmu terhadap orang lain bisa berubah drastis, lho."
Begitu aku menyelesaikan pesanku, Umikawa-san menutupi mulutnya dengan tangan dan mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Keputusan selanjutnya ada di tangannya.
Jika ia masih menolak untuk berubah, sejujurnya tak ada gunanya aku memberikan bantuan lebih jauh.
Di saat aku sedang berpikir begitu――.
"Kamu benar, ya... Bahkan dalam hal nilai pun, aku tak pernah bisa menjadi nomor satu... aku selalu kalah darimu... Menuntut orang lain untuk memiliki standar yang sama denganku memang tindakan yang salah... Baiklah, aku akan mencoba untuk lebih berhati-hati..."
Tampaknya, kata-kataku telah berhasil mencapai hatinya.
"Syukurlah. Kalau kamu masih mengalami kesulitan, jangan sungkan untuk mengandalkan kami, ya. Kami semua ada di pihakmu, kok."
Sambil menelan kembali frasa, 《Tentu saja, kecuali satu orang di sini》, aku tersenyum hangat padanya.
Meskipun siang tadi Kiriyama-san berniat mengakrabkan diri dengan Umikawa-san, perpaduan antara gadis ceroboh yang suka seenaknya melanggar aturan dan gadis teladan yang disiplin ibarat mencampurkan air dan minyak...
Tapi tak apalah, memaksakan diri berteman dengan orang yang tak cocok juga bukan pilihan yang bijak.
Sambil melamun memikirkan hal itu――.
"A-kun, kamu dapat kartu merah."
Entah kenapa, Char tiba-tiba memberiku hukuman diskualifikasi.
"Lho, apanya!?"
Sama sekali tak merasa bersalah dalam interaksi kami tadi, aku sontak memprotes.
"Sudah kubilang sebelumnya, kan, aku tak akan pernah membiarkanmu membangun
harem."
"Dari tadi tidak ada yang niat bikin harem, lho!?"
Melihat senyuman manis Char yang diselimuti aura hitam mencekam, keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggungku.
"Charlotte-san ternyata lumayan posesif, ya?"
"Yaaah, kalau yang ini sih fix Aoyagi-kun yang salah."
Entah kenapa, dari kejauhan kudengar sayup-sayup bisikan Kiriyama-san dan Shimizu-san yang sedang menggosipkanku. Apakah mereka bermaksud menyalahkanku juga...?
Di saat kebingungan melandaku, tentu saja tak ada satu pun yang sudi memberiku jawaban.
Bahkan Umikawa-san, entah kenapa, kini mematung dengan wajah memerah padam.
"A-kun, ini benar-benar pelanggaran, lho."
"Iya, aku paham...!"
――Begitulah, aku harus menanggung beban tekanan dari senyuman manis Char malam itu, dan entah butuh berapa lama bagiku untuk meyakinkannya bahwa aku tak bersalah.
Diskusi & Komentar (0)