"......♪"
Beberapa hari telah berlalu semenjak aku dan Char kembali bersatu, dan hari ini adalah hari pertama karyawisata kami yang akan berlangsung selama empat hari tiga malam.
Saat ini kami sedang berada di dalam pesawat yang menuju tempat tujuan kami, yaitu Hokkaido.
Berkat kepedulian――atau lebih tepatnya, manipulasi di balik layar dari para gadis di kelas kami, Char berhasil mengamankan kursi di sebelah kiriku, tepat di sebelah jendela. Ia bersenandung riang dengan suasana hati yang sangat baik.
Karena pada Hari Valentine kemarin pada akhirnya kami tidak bisa pergi ke luar, aku tidak bisa membelikannya hadiah dan hanya menerima cokelat darinya secara sepihak. Namun, karena suasana hati Char terlihat sangat bagus sejak hari itu, kurasa itu tidak masalah.
Yah... awalnya aku sempat khawatir apa yang akan terjadi setelah aku melakukannya secara berlebihan waktu itu, tapi anak ini justru terlihat sangat puas dengan hasilnya...
Sebagai informasi, cokelat yang diberikan Char padaku adalah cokelat berbentuk hati klasik dengan isian stroberi di dalamnya.
"――Charlotte-san, kelihatannya kamu senang sekali..."
Pesawat ini memiliki konfigurasi tiga kursi per baris. Karin, yang duduk di sebelah kananku, menatap Char dan bergumam.
Adapun alasan mengapa Karin duduk di sebelahku di pesawat adalah karena akhir-akhir ini dia sudah mulai bisa sedikit mengobrol denganku, Char, dan belakangan ini juga dengan Shimizu-san... kira-kira begitulah alasannya.
Yah, sebenarnya bukan karena permintaanku, tapi lebih karena Char yang tidak ingin cowok-cowok kelas duduk di dekatnya dan mencari-cari masalah, tapi di saat yang sama ia juga tidak rela jika ada siswi perempuan lain yang duduk di sebelahku. Karena itulah, bekerja sama dengan Shimizu-san, Char mengatur strategi agar Karin-lah yang duduk di sebelahku.
Kalau dipikir-pikir, bukankah lebih baik jika Char yang duduk di tengah?
Namun, tampaknya para siswi lain tidak akan membiarkan kursi di sebelah Char diduduki oleh sembarang orang, dan Karin sendiri merasa lebih nyaman jika aku yang berada di sebelahnya ketimbang Char. Jadi, Char dengan berbaik hati mengalah untuknya.
"Ya jelas, itu kan karena keseruan yang dia lakuin pas Hari Valentine kemarin, kan? Dari semenjak Valentine berakhir aja suasana hatinya sudah bagus terus, lho."
Cletukan usil itu datang dari Shimizu-san yang duduk di kursi tepat di depan Char.
Sambil menyeringai dengan senyuman yang sedikit menggoda, ia menoleh ke arah kami.
Ngomong-ngomong, orang yang duduk di sebelah Shimizu-san adalah Kiriyama-san, dan di sebelahnya lagi juga siswi perempuan.
Barisan kursi di belakang kami juga diisi oleh para siswi――bisa dibilang, area ini telah sepenuhnya dikepung oleh para gadis di kelas kami.
Alasannya sudah jelas; mereka berlomba-lomba mengamankan kursi di sekitar Char.
Para cowok di kelas kami sama sekali tidak punya celah untuk ikut campur.
"Ja-jangan menggodaku, Shimizu-san... Pas Hari Valentine kemarin, kami cuma menghabiskan waktu dengan bersantai berduaan saja, kok..."
Wajah Char seketika memerah padam. Sambil memelintir ujung rambutnya, ia mencoba menyangkalnya.
Namun sayangnya, selain Karin, tak ada satu pun yang mempercayai ucapan Char.
Malahan――
"Tuh kan, beneran cuma berduaan doang..."
"Dari cara dia ngomong, kayaknya mereka seharian bareng terus, deh..."
"Ini sih fix udah gol, kan...?"
――Terdengar bisik-bisik gembira dari para gadis di sekitar kami. Tampaknya frasa
《Menghabiskan waktu dengan bersantai berduaan》 yang dilontarkan Char malah semakin memancing imajinasi liar mereka.
"Ugh!"
Karena pendengarannya yang tajam, Char tentu saja bisa mendengar bisik- bisik itu. Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan seraya menggelengkan kepala tanda tak mau dengar.
Tentu saja, reaksi itu hanya semakin memperkuat keyakinan mereka――Char benar-benar telah terperosok ke dalam rawa tanpa dasar yang tak bisa ia hindari.
"Charlotte-san, ada apa...?"
"Tidak usah dipikirkan, dia cuma terlalu bersemangat karena ini acara karyawisata."
Karin yang masih polos dan lugu menjadi satu-satunya orang yang tidak mengerti arti di balik tingkah Char dan hanya memiringkan kepalanya dengan bingung. Sebagai kakaknya, aku benar-benar berharap adikku ini akan terus mempertahankan kepolosannya.
" Aku juga... sangat menantikan karyawisata ini..."
Setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang aneh dengan tingkah Char, Karin menatap wajahku dengan senyuman imutnya.
Rasanya aku ingin langsung mengelus kepalanya, namun banyak orang di sekitar kami yang tidak tahu tentang hubungan darah antara aku dan Karin.
Jika aku bertindak ceroboh dengan mengelusnya di sini, itu bisa memicu keributan atau membuatku diinterogasi habis-habisan, jadi aku menahannya sekuat tenaga.
"Kamu suka jalan-jalan?"
"Uhm... Dulu aku tidak suka acara menginap seperti ini... Tapi sekarang..."
Karin kembali tersenyum riang ke arahku.
...Tolong dong, tatapan para gadis di sekeliling kita itu mengerikan, lho. Tolong jangan hentikan kalimatmu di bagian yang bisa memicu kesalahpahaman seperti itu...
Lihat kan, Kiriyama-san yang duduk tepat di depan kita sekarang sedang menatapku dengan tatapan super tajam yang seolah ingin menghakimiku...
" Apa karena sekarang kamu sudah punya teman ngobrol seperti Char dan Shimizu-san?"
"Nn..."
Saat aku sengaja memancingnya untuk mengucapkan alasannya dengan jelas, raut wajah Karin melunak dan ia mengangguk kecil.
Berkat itu, tatapan tajam para gadis di sekeliling kami pun berubah menjadi lebih lembut.
――Syukurlah...
"Shinonome-san, karena kita satu kelompok, nanti kita ngobrol yang banyak, ya?"
Kiriyama-san, yang sedari tadi diam mendengarkan percakapanku dan Karin, ikut nimbrung dengan senyum semringah.
Seperti yang dia katakan, untuk sesi waktu bebas selama karyawisata kali ini, Kiriyama-san berada di kelompok yang sama denganku dan Karin.
Hal ini terjadi karena untuk sesi waktu bebas, kami diizinkan untuk membentuk kelompok beranggotakan lima orang secara bebas.
Tentu saja, hal pertama yang terjadi adalah perebutan Char.
Namun, karena Char bersikeras ingin satu kelompok denganku, dua slot pun langsung terisi.
Normalnya, aku ingin mengajak Akira――namun sayangnya, karena ada jadwal pertandingan, Akira tidak bisa ikut karyawisata kali ini.
Akibatnya, tersisa tiga slot kosong. Di tengah riuhnya teman-teman sekelas yang saling berebut, kulihat Karin menatap kami dengan raut wajah cemas dari balik kerumunan. Karena itulah, aku langsung menarik Karin ke dalam kelompok kami.
Karena kami memang sering makan siang bersama, dan ditambah dukungan dari Char, tidak ada satu pun yang berani menentang.
Lalu, bagaimana dengan dua slot yang tersisa? Shimizu-san yang melabeli dirinya sendiri sebagai sahabat Char berhasil merebut salah satunya, sementara slot terakhir berhasil diamankan oleh Kiriyama-san yang menyusup di saat-saat terakhir.
Sebenarnya, aku ingin memasukkan setidaknya satu cowok lagi... tapi sayangnya, belum ada cowok yang bisa kupercayai sepenuhnya jika menyangkut soal Char, ditambah lagi ada Karin di sini. Jadi, dengan pasrah aku menerima takdir sebagai satu-satunya cowok di kelompok yang didominasi perempuan ini.
Meski sepertinya Char merasa sedikit kurang sreg dengan bergabungnya Kiriyama-san, ia tampaknya berpikir itu jauh lebih baik daripada memasukkan cowok lain, sehingga ia tidak memprotes keputusanku.
"Nn... mo-mohon bantuannya..."
Karin, yang belum terbiasa dengan Kiriyama-san dan kurang nyaman dengan orang yang terlalu aktif berbicara, menjawab dengan suara pelan sembari mencengkeram erat ujung lengan bajuku.
"Waktu di kafe kita emang sempet duduk semeja, tapi kita tidak banyak ngobrol, ya. Tenang aja, aku tidak seseram Arisa-chan, kok."
Sembari menatap lekat-lekat tangan Karin yang sedang mencengkeram ujung bajuku, Kiriyama-san terus mempertahankan senyumnya untuk menenangkan Karin.
Meskipun dia terkadang kurang peka membaca situasi, dia bukanlah anak yang buruk.
Memang sih, dia sering melontarkan komentar pedas pada orang yang tak disukainya, tapi kurasa sebagian besar orang juga begitu.
Setidaknya, di dalam kelas ini, kepribadiannya masih tergolong lumayan mendingan.
Dan aku juga setuju bahwa dia tidak seseram Shimizu-san.
Yah...
"Kei~? Apa maksud ucapanmu barusan, ya~?"
Di sebelahnya, Shimizu-san memunculkan urat kemarahan imajiner di dahinya.
Demi tidak membuat Karin ketakutan, ia memang memaksakan senyum di wajahnya, namun nada suaranya yang merendah dan sedikit bergetar jelas- jelas menunjukkan bahwa ia sedang murka.
"I-Itu cuma fakta, kok...!"
Bagi Kiriyama-san, mungkin itu hanyalah candaan untuk mencairkan ketegangan Karin. Namun, sepertinya ia tidak menyangka Shimizu-san akan
semarah itu, sehingga ia meresponsnya dengan memberi hormat kaku dan menggunakan bahasa formal.
Sayangnya, karena ia menjawabnya dengan terlalu jujur, amarah Shimizu-san pun tak kunjung reda.
"Oh begitu, kalau begitu nanti aku harus benar-benar mengajarimu seberapa seramnya diriku yang sebenarnya, ya~?"
"Hiiii!? Arisa-chan, kamu tahu kan kalau aku cuma bercanda...! Serem tau, jangan gitu dong...!"
Menghadapi Shimizu-san yang menyeringai dengan mata yang sama sekali tidak ikut tersenyum, Kiriyama-san memohon dengan mata berkaca-kaca.
Yah... Shimizu-san pasti juga hanya bercanda mengikuti alurnya, tapi auranya itu lho, benar-benar intimidatif.
Karin saja sampai gemetar ketakutan sungguhan melihatnya.
"Salahmu sendiri pakai namaku buat tameng."
"Habisnyaa, aku juga pengen akrab sama Shinonome-san, tau...!"
Sambil mendengarkan alasan Kiriyama-san, aku mengalihkan pandanganku kembali pada Karin.
"Biarpun kalian berteman baik, kalau kamu melakukan hal yang buruk, jadinya bakal seperti itu."
"Nn..."
"Tunggu dulu, Aoyagi-kun!? Bisa tidak berhenti ngomong seakan-akan aku habis ngelakuin kejahatan besar!?"
Saat aku sedang memberikan wejangan tentang interaksi sosial pada Karin, Kiriyama-san langsung menyela dan protes.
Bukan seakan-akan lagi, kamu memang habis melakukannya, kan.
Meski batasan mana yang dianggap buruk mungkin berbeda-beda bagi tiap orang.
"Kamu baru aja ngejelek-jelekin aku, kan."
" Aduh!"
Shimizu-san mendaratkan chop (pukulan dengan sisi tangan) ringan di kepala Kiriyama-san dari samping, membuat mata Kiriyama-san seketika berubah menjadi bentuk 'X'.
Dua orang ini benar-benar akrab, ya.
"............"
Saat aku sedang asyik menonton interaksi kocak antara Kiriyama-san dan Shimizu-san, Char yang akhirnya terbebas dari godaan para gadis menatapku dengan sorot mata penuh harap.
"Char?"
"...Eip."
Saat aku memanggilnya, Char tiba-tiba meraih tanganku dan menautkan jari- jemari kami dengan erat.
Lalu, ia meremas tanganku dengan lembut dan mulai bermanja-manja.
Padahal di sekeliling kami banyak siswi lain, tapi ia benar-benar berani bertindak agresif.
"Habisnya Emma sedang tidak ada..."
Char mendekatkan bibirnya ke telingaku, membisikkan kalimat itu dengan suara pelan, lalu menatap wajahku penuh harap seraya terus menggenggam erat tanganku.
Biasanya perhatianku selalu tersita oleh Emma-chan, jadi karena kali ini Emma-chan tidak ikut karyawisata, Char pasti berpikir bahwa dia bisa memonopoliku seutuhnya.
Karena itulah, dia jadi sangat ingin dimanja.
Yah――
" " " " "............" " " " "
――Dengan dikepung oleh para gadis dari segala penjuru dan ditatap secara intens seperti ini, aku sama sekali tidak bisa melakukan tindakan yang macam- macam...
Bayangkan saja, kalau aku berani-beraninya mencium Char di situasi seperti ini, sudah pasti akan terjadi kehebohan besar.
" Ayo kita nikmati karyawisata ini sepuasnya."
Aku membalasnya dengan senyuman.
Meskipun ini adalah acara karyawisata, jadwalnya tidak hanya diisi dengan kegiatan kelompok besar, tetapi juga banyak waktu bebas untuk bereksplorasi sendiri.
Mungkin maksud dari pihak sekolah adalah agar kami bisa melepaskan penat setelah lelah belajar dan berlatih di klub setiap hari.
Soal urusan finansial pun aku tidak perlu khawatir karena Kanon-san sudah membekaliku dengan uang saku yang sangat banyak.
Tentu saja, uang itu bukan hanya untukku, melainkan juga untuk Char, Karin, serta Shimizu-san dan Kiriyama-san yang sekelompok dengan kami.
Karena keadaan finansial keluarga Karin tidak terlalu berlebih, awalnya aku ingin membiayai pengeluarannya――namun karena ada Kiriyama-san yang tidak mengetahui fakta bahwa kami adalah saudara (kalau Shimizu-san sih sudah tahu), akan terlihat aneh jika aku tiba-tiba membayari Karin.
Oleh karena itu, Kanon-san menyuruhku untuk mentraktir seluruh anggota kelompok agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Iya, mari kita bersenang-senang."
" Aku juga..."
Saat aku dan Char saling bertatapan dan tersenyum, Karin menarik ujung bajuku dengan raut wajah sedikit kesepian.
Meskipun saat liburan musim dingin kemarin kami pernah pergi keluar bersama, namun ini adalah pertama kalinya kami melakukan perjalanan jauh sebagai saudara.
Dalam artian itu, ini adalah perjalanan yang sangat kunantikan.
" Aku juga, aku juga!"
"Kamu diam saja."
"Lho, kenapa!? Jahat banget!"
Kiriyama-san yang antusias ikut nimbrung dari kursi depan kembali mendapat hadiah
chop dari Shimizu-san. Tapi bagaimanapun juga, akan lebih baik jika kami semua bisa bersenang-senang bersama.
Satu-satunya hal yang kusesalkan adalah absennya Akira.
Sembari membayangkan wajah sahabatku yang pasti saat ini sedang meratapi nasibnya sendirian di sekolah, aku pun menghabiskan waktu perjalanan yang menyenangkan bersama Char, Karin, dan teman-teman kelompokku yang lain, mengobrol santai hingga akhirnya pesawat kami mendarat di Hokkaido.
â—†
" Ah... ternyata ada siswa dari sekolah lain juga yang sedang karyawisata, ya."
Begitu kami tiba di Bandara New Chitose Hokkaido, Char yang melihat segerombolan siswa dengan tas sekolah yang berbeda dari kami, menunjuk mereka dan berbicara padaku.
"Itu sudah pasti, ada banyak sekolah yang karyawisata. Tapi tas khas itu..."
Bukannya itu sekolah yang ada di Okayama juga?
Meski begitu, karena sekolah mereka terletak di Tsuyama (bagian utara prefektur Okayama), kami sama sekali tidak pernah berpapasan dengan mereka di keseharian kami.
Sekolah itu terkenal sejak dulu dengan kekuatan tim sepak bola putra maupun putrinya. Mungkin saja mereka sengaja menyusun jadwal karyawisatanya setelah Turnamen Sepak Bola SMA Nasional usai agar para atletnya bisa ikut.
Sembari mengamati mereka dengan pikiran seperti itu―― " Ah...♪"
――Kulihat seorang gadis dari rombongan itu melambaikan tangannya kecil ke arah kami.
Aku yang merasa familier dengan wajahnya, sontak membelalakkan mataku.
Oh iya, aku ingat dia lebih memilih masuk tim SMA daripada masuk klub profesional...
Gadis yang melambaikan tangannya padaku itu adalah sosok yang sangat terkenal di kalangan pencinta sepak bola.
Pasalnya, meski masih berstatus siswi SMA, kemampuannya yang di atas rata- rata telah mengantarkannya terpilih masuk ke Timnas Senior, melampaui batasan usianya. Dia benar-benar seorang manusia super.
Ditambah lagi karena parasnya yang manis, ia juga sering menjadi bahan perbincangan di internet.
Kudengar bulan lalu timnya berhasil menjuarai Turnamen Sepak Bola SMA Putri. Aku bisa membayangkan betapa stresnya tim lawan yang harus berhadapan dengan pemain level Timnas...
"Muu... A-kun, apa kamu mengenal orang itu?"
Saat aku membalas lambaian tangannya dengan anggukan hormat, Char yang juga ikut mengangguk hormat, menatapku dengan sorot mata yang sangat tidak puas.
Padahal jangankan kenalan, baru pertama kali bertemu saja dia sudah menunjukkan ekspresi seperti ini, tumben sekali.
"Bukan kenalan kok. Aku juga tidak pernah ngobrol sama dia."
"Lalu kenapa dia menyapa kamu duluan? Apa jangan-jangan kamu pernah bertemu dengannya di turnamen sepak bola?"
"Eh, kamu sadar ya kalau dia itu pemain sepak bola?"
"Tentu saja, dia kan orang yang sering muncul di video yang ditonton Emma."
Seperti yang diharapkan dari Char. Meskipun Emma-chan biasanya menonton video sambil duduk di pangkuanku, ternyata Char benar-benar mengamati dan hafal apa yang disukai oleh adik kecilnya itu.
Seperti kata Char, gadis yang masih terus melambaikan tangannya ke arah kami itu adalah pemain favorit Emma-chan saat ini.
Kalau kuberitahu Emma-chan bahwa aku tak sengaja bertemu dengannya di bandara, dia pasti akan sangat iri.
...Yah, mungkin Emma-chan hanya menyukai permainannya saja, kalau disuruh mengobrol langsung mungkin ceritanya bakal beda...
――Tepat di saat aku memikirkan wajah Emma-chan.
Kulihat teman perempuan yang berdiri di sebelah gadis itu mengatakan sesuatu padanya, lalu dengan tatapan tajam, temannya itu memelototi wajahku!
"...A-kun, apakah kamu benar-benar kenal dengannya?"
"Etidak, aku beneran tidak kenal..."
"Tapi dari kelihatannya... dia memelototi kamu, lho...?"
Melihat wajah gadis yang seakan menyimpan dendam kesumat kepadaku itu, Char tersenyum canggung seraya menatapku.
Sumpah, aku benar-benar tidak mengenalnya.
Kapan dan di mana aku pernah membuatnya dendam pun aku sama sekali tidak tahu.
"――Hei Aoyagi, Charlotte. Ngapain kalian bengong di situ? Ayo jalan."
Saat kami mematung ditatap sinis oleh gadis tak dikenal, tiba-tiba Miyu-sensei sudah berdiri di belakangku dan mencengkeram bahuku dengan kuat.
Kalau kuperhatikan, dia hanya menyentuh bahu Char dengan lembut, jadi perlakuan kasarnya padaku ini jelas-jelas disengaja.
"A-Aduh, sakit, Sensei..."
"Ya jelas sakit, orang aku sengaja neken kuat-kuat, kok."
Saat aku melayangkan protes, ia malah membalasnya dengan senyuman lebar yang sangat mengerikan.
Orang ini titisan iblis atau apa, sih.
Setelah itu, aku pun diseret dengan setengah memaksa untuk menyusul barisan teman-teman sekelasku.
â—†
"――Waktu bebas, asyikkkk!!"
Setelah menikmati hidangan Jingisukan (daging domba panggang khas Hokkaido) untuk makan siang, pihak sekolah memberikan kami waktu bebas, mungkin karena mempertimbangkan bahwa kami pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh di hari pertama ini.
Sembari melirik Kiriyama-san yang meluapkan kegembiraannya dengan heboh seolah energinya baru saja full charge, aku menoleh ke arah Char yang sedang tersenyum manis dengan embusan napas yang mengepul putih di udara dingin.
"Kamu beneran tidak apa-apa tidak milih rombongan yang pergi main ski?"
Karena jadwal hari ini dibagi menjadi dua pilihan: mereka yang ingin bermain ski dan mereka yang ingin berjalan-jalan di kota, aku pun menanyakan keputusannya.
"Iya... soalnya, aku kurang jago meluncur..."
Char tertawa malu-malu, lalu mengalihkan pandangannya pada Karin yang berdiri di sebelahnya.
"Lagipula, mumpung sudah jauh-jauh datang ke Hokkaido, kita harus puas- puasin jalan-jalan wisata, kan?"
"Nn... Soalnya, belum tentu kita bisa datang ke sini lagi..."
Saat Char memiringkan kepalanya dengan senyuman manis, Karin mengangguk penuh semangat dengan wajah gembira.
Meskipun ekspresinya tidak seheboh Kiriyama-san, sepertinya Karin juga sangat antusias.
"Kalian berdua, tidak kedinginan?"
"Tidak kok, saat di Inggris aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin, jadi ini tidak masalah."
"Kalau aku, kayaknya agak kedinginan..."
Karena ini di Hokkaido, cuacanya jauh lebih dingin dibandingkan dengan Okayama. Bagi Char yang sejak lahir sudah terbiasa dengan suhu dingin, ini bukanlah apa-apa. Namun bagi Karin yang tidak terbiasa, udara dingin ini cukup menusuk tulang.
Meski sudah memakai mantel... tetap saja dingin ya dingin.
Ngomong-ngomong, Char saat ini sedang memakai topi rajut putih berbulu yang tebal yang ia dapatkan sebagai hadiah ulang tahun dari Kaguya-san, dipadukan dengan
sweater putih berbulu pemberian Shimizu-san dan teman- temannya yang terlihat sangat hangat.
Melihatnya saja sudah membuat hatiku merasa hangat dan terobati.
"Pakai saja syalku ini. Aku juga bawa beberapa heat pack (koyo penghangat), mau kupakaikan?"
Aku melepaskan syal yang melingkar di leherku dan melilitkannya ke leher Karin, lalu mengeluarkan koyo penghangat dari dalam tasku.
"Char, bisa tolong tempelkan ini?"
Meskipun dia adikku sendiri, menyingsingkan bajunya dan menempelkan koyo di lapisan pakaian dalamnya di tempat umum seperti ini jelas bukan ide yang bagus. Jadi, aku bermaksud meminta tolong Char yang sesama perempuan.
Namun――entah kenapa, Char malah terlihat sedikit merajuk.
" Ada apa?"
"Bukan apa-apa... aku cuma ingin A-kun yang memakaikannya untukku..."
Sepertinya, Char merasa sedikit iri melihat Karin yang memakai syal yang baru saja kugunakan.
Sifat pencemburunya padahal sudah banyak berkurang, tapi tampaknya tindakanku barusan tetap masuk kategori
pelanggaran di mata Char.
" Ah, m-maaf..."
Karin yang panik langsung berusaha melepas syalku.
Melihat hal itu, Char memasang ekspresi bersalah. Tiba-tiba saja wajahnya kembali cerah, seolah baru saja mendapatkan sebuah ide brilian.
"Kalau begitu, biar syalku saja yang kupakaikan ke Karin-chan, ya."
Char melepas syalnya sendiri, lalu dengan lembut melilitkannya ke leher Karin.
Kemudian, sembari memegang syalku yang baru saja dikembalikan oleh Karin, Char menatap wajahku dengan penuh harap.
"Char, sini pinjam syalnya."
Sadar betul apa yang ia inginkan dariku, aku menerima syal itu dari tangan Char, yang langsung menyerahkannya dengan senyum semringah layaknya anak anjing yang sedang mengibaskan ekor.
Tanpa banyak bicara, aku perlahan melilitkan syalku ke lehernya, berhati-hati agar tidak mencekiknya.
"Ehehe..."
Begitu syalku terpasang di lehernya, Char tersenyum manis seraya menenggelamkan separuh wajahnya di balik rajutan syal tersebut.
Aduh, melihatnya bersikap semanis itu sukses membuat punggungku geli sendiri.
"――Pemandangan macam apa yang lagi kita tonton ini, ya...?"
"Orang lagi mesra-mesraan, lah."
Kiriyama-san menatap interaksi kami dengan tatapan tajam nan sinis, sementara Shimizu-san hanya mengangkat bahunya seolah berkata 'Udah
biasa, kebal aku tuh'.
Ya, aku benar-benar melupakan keberadaan mereka berdua...
"Ngomong-ngomong, Aoyagi-kun. Bukankah rasanya kurang pantas kalau seseorang yang sudah punya pacar memakaikan syalnya sendiri ke gadis lain?"
"Ugh..."
Karena bagiku Karin sudah sepenuhnya menjadi seorang adik, tindakan yang kulakukan secara refleks dan kuanggap wajar itu justru ditegur oleh Kiriyama- san, dari sekian banyak orang yang ada.
Melihat reaksiku, Shimizu-san menyemburkan tawa kecil 《Pfft...!》, lalu menatapku dengan seringai usil seakan berkata, 《Ditegur oleh anak yang biasanya tidak bisa membaca suasana ini, tindakanmu pasti sudah sangat kelewatan, kan?》.
Ya, aku sendiri juga sedikit terkejut mendengarnya.
"A-kun itu orangnya sangat baik, jadi dia tidak bisa mengabaikan orang yang sedang kesusahan."
Mengetahui bahwa aku berusaha menghindari membongkar hubungan asliku dengan Karin kepada Kiriyama-san, Char dengan sigap langsung membelaku.
"Benar juga. Terlebih lagi, Shinonome-san itu tipe gadis yang memancing naluri untuk melindungi, jadi mau bagaimana lagi, kan?"
Dan Shimizu-san, yang tampaknya masih ingin terus menggodaku, ikut menimpali pembelaan Char.
Meskipun Kiriyama-san masih terlihat kurang puas, ia tampak memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya lebih lanjut dengan bergumam, 《Yah, kalau Charlotte-san sendiri tidak keberatan sih ya sudah...》 "Terima kasih, ya."
"Hyuu...! Ti-tidak, hal semacam ini hanyalah perkara kecil..."
Saat kami kembali berjalan, aku berbisik pelan ke telinga Char. Merasa kegelian, Char sedikit menggeliat, lalu tersenyum dengan rona merah tipis di pipinya.
Gawat, aku hampir saja menyalakan 'tombol'-nya...
Aku segera menjauhkan wajahku dan membalas senyumannya.
Karena telinga adalah titik paling sensitif bagi Char, jika aku tidak berhati-hati, 'tombol'-nya bisa menyala di tengah keramaian kota seperti ini.
Kalau hal itu sampai terjadi, bukan tidak mungkin dia akan menarikku dan mencari tempat sepi dari pandangan mereka bertiga... jadi, aku harus benar- benar menjaga jarak aman.
"...Duh, melihat kalian begini aku juga jadi ingin punya pacar, deh."
"Berusahalah."
" Azusa-chan saja bisa gonta-ganti pacar seenaknya, kenapa aku tidak bisa, ya...?"
"Setiap orang punya ritmenya masing-masing, jadi sebaiknya jangan terlalu dipikirkan. Buktinya, aku sendiri juga belum pernah punya pacar sampai sekarang."
Entah kenapa, Kiriyama-san menatap kami dengan tatapan kosong, sementara Shimizu-san berusaha menenangkannya. Ada apa dengan mereka berdua?
"...Nee nee, Aoyagi-kun. Aku juga kedinginan, lho~?"
Entah apa yang ada di pikirannya, Kiriyama-san tiba-tiba berlari kecil menghampiriku dan menatapku dengan tatapan memelas dari bawah.
"――Eh!?"
Tentu saja, Char menjadi orang pertama yang bereaksi.
Namun, karena Kiriyama-san adalah temannya, ia terlihat ragu untuk mengatakan apa pun.
Apa kuberikan saja koyo penghangatnya padanya, ya――saat aku sedang mempertimbangkan hal itu.
"Heh...!!"
Shimizu-san mendaratkan chop yang cukup keras ke kepala Kiriyama-san.
Bukan pukulan bercanda seperti saat di pesawat tadi, melainkan pukulan sungguhan.
" Aduh! A-Apa yang kamu lakukan, Arisa-chan...!"
"Bukan 'apa yang kamu lakukan'...! Dari sekian banyak cowok, kenapa kamu malah menggoda cowok yang sudah punya pacar...!"
Sementara Kiriyama-san mengeluh dengan mata berkaca-kaca, Shimizu-san mengapit pelipis temannya itu dengan kedua kepalan tangan, lalu mulai memutarnya dengan kuat.
Serangan yang biasa disebut
'Umeboshi'...
"Ittatatatata! Sakit! Arisa-chan, sakit tahu!!"
"Memang sengaja kubuat sakit, tentu saja...!"
"Waaaaaa! Cha-Charlotte-san, tolong aku...!"
Sambil menerima hukumannya, Kiriyama-san meminta pertolongan pada Char dengan mata berlinang air mata.
Mendengar itu Char mencoba menghentikan Shimizu-san, namun Shimizu-san menolak dengan alasan 《Dia butuh diberi pelajaran!》.
Setelah terus-menerus dihukum selama beberapa menit, Kiriyama-san akhirnya menyerah dan terduduk lemas di tanah.
"Kalau sudah kapok, jangan diulangi lagi, mengerti?"
"Uuu... Arisa-chan kejam seperti iblis~! Lagipula, aku sama sekali tidak berniat merebut Aoyagi-kun dari Charlotte-san, tahu~! Lebih tepatnya, aku mana mungkin bisa merebutnya~!"
Kiriyama-san mengusap air matanya dengan sapu tangan, lalu menepuk-nepuk kotoran di roknya dengan tangan.
Sepertinya hukuman tadi benar-benar menyakitkan...
"Bukan bermaksud begitu... tapi kalau Shinonome-san saja diizinkan untuk bermanja-manja, kupikir aku juga boleh melakukannya~..."
Yah, penampilan dan perawakan Kiriyama-san memang sedikit mirip dengan Karin.
Meski tidak seimut Karin, ia bertubuh mungil, berwajah awet muda, dan memiliki sifat yang kekanak-kanakan.
Namun――pada dasarnya, sudut pandangku terhadapnya dan Karin sangatlah berbeda...
"Menyamakan Shinonome-san yang memancing naluri melindungi dengan gadis bodoh sepertimu justru membuat Shinonome-san terlihat menyedihkan, tahu."
"Kalau begitu ceritanya, akulah yang paling menyedihkan di sini, Arisa-chan!!"
Mendapat komentar pedas dari sahabatnya, Kiriyama-san langsung melayangkan protes.
Mereka berdua benar-benar sangat akrab.
Sama halnya dengan Kousaka-san, sepertinya Shimizu-san memang memiliki kecocokan dengan orang-orang yang bersifat kekanak-kanakan.
Buktinya, ia juga secara tidak langsung sering menjaga dan memperhatikan Karin.
"...A-kun."
Saat aku sedang menyaksikan interaksi layaknya duo komedian tersebut, Char menarik ujung lengan bajuku.
Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan...
" Ada apa?"
" Aku mengerti perasaan ingin mengulurkan tangan saat digoda oleh gadis yang manis... tapi, kamu benar-benar tidak boleh berselingkuh, ya...?"
"...Iya, aku sangat mengerti..."
Kemungkinan besar, Char menyadari niatku yang hendak memberikan koyo penghangat tadi, dan salah paham mengira aku telah goyah oleh rengekan Kiriyama-san.
Karena Kiriyama-san juga cukup populer di kalangan anak laki-laki dengan predikat "imut", wajar saja jika Char merasa khawatir.
Hanya saja... sungguh, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya...
"Nah, abaikan saja si bodoh itu, mari kita segera berangkat."
Seolah sudah selesai berurusan dengan Kiriyama-san, Shimizu-san kembali menghampiri kami dengan senyuman.
Di belakangnya, Kiriyama-san masih menggembungkan pipinya karena merajuk, namun karena ia adalah tipe anak yang cepat melupakan kekesalan, membiarkannya saja seharusnya tidak akan menjadi masalah.
Dengan demikian, saat kami mulai berjalan menuju tempat tujuan pertama kami――
"――Hiks..."
Entah kenapa, di pinggir jalan, ada seorang gadis yang membawa tas sekolah SMA kami sedang terduduk sendirian.
" Anak itu..."
"Umikawa-san...?"
Sama sepertiku, Shimizu-san dan Char tampaknya juga menyadarinya.
Meskipun ia memiliki sifat yang keras, ia adalah siswi yang teladan. Melihatnya sendirian di tengah waktu kegiatan kelompok ini sungguh aneh.
Situasinya juga tidak terlihat seperti ia sedang menunggu anggota kelompok lain yang sedang pergi ke toilet atau berbelanja.
Tentu saja, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja...
"Eh, yang benar saja...!? Tunggu dulu, Aoyagi-kun...!"
Saat aku mulai melangkah menghampiri Umikawa-san, Kiriyama-san berseru panik dari belakang.
" Ada apa?"
"Sebaiknya kita tidak usah ikut campur...! Anak itu sangat merepotkan, tahu...!"
Tampaknya, Kiriyama-san sangat menentang ide untuk menyapa Umikawa-san.
Anak ini sekelompok dengan Shimizu-san, jadi mungkin ia pernah berselisih paham dengan Umikawa-san sebelumnya.
Bukannya aku tidak mengerti alasan penolakannya, tapi...
"Dia terlihat sedang menangis, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
Karena tidak tahu apa yang terjadi, aku ingin mencari tahu situasinya terlebih dahulu.
Siapa tahu dia sedang menghadapi masalah serius atau berada dalam bahaya, mengabaikannya tentu bukan pilihan yang benar.
"Tapi...!"
"Menyerahlah, Kei. Aoyagi-kun memang orang yang seperti itu."
"A-kun tidak akan pernah bisa membiarkan orang yang sedang kesulitan, lho."
Saat Kiriyama-san hendak melayangkan protes lagi, Shimizu-san dan Char menghentikannya.
Sementara itu, aku dan Karin yang sedari tadi hanya mengikuti dalam diam, melangkah mendekati Umikawa-san.
" Ada apa?"
"Eh...?"
Mendengar suaraku, Umikawa-san perlahan mendongakkan wajahnya.
Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya, dan ekspresinya terlihat murung dan suram.
Sudah kuduga, dia memang sedang menangis.
"――Ugh. A-Aoyagi-kun...!? I-Ini...!"
Namun, begitu menyadari bahwa akulah yang memanggilnya, ia buru-buru mengusap matanya dengan lengan bajunya.
Fakta bahwa gadis seapik dirinya tidak menggunakan sapu tangan adalah hal yang tak biasa.
"Terjadi sesuatu, kan? Maukah kamu menceritakannya padaku?"
Menyadari bahwa ia adalah gadis yang memiliki harga diri tinggi dan sedikit temperamental, aku berhati-hati memilih nada suara dan kata-kataku selembut mungkin.
"B-Bukan hal yang penting, kok..."
Namun, sepertinya ia enggan membicarakannya.
Yah, wajar saja, orang yang sedang menangis biasanya kesulitan menceritakan masalahnya karena emosinya masih meluap-luap...
" Ada masalah apa?"
Saat aku kebingungan mencari cara agar ia mau bercerita, Char yang sudah menyusul di belakangku bertanya dengan senyum lembutnya.
Ketimbang aku, Char yang sangat populer di kalangan siswi perempuan mungkin lebih pantas menghadapinya.
Saat aku berniat mundur dan menyerahkannya pada Char―― "Kan sudah kubilang bukan hal yang penting, kan?"
――Reaksi Umikawa-san pada Char justru jauh lebih ketus daripada padaku.
Char yang tidak terbiasa menghadapi penolakan sekeras ini, berjengit kaget dan mundur selangkah, seolah tertekan oleh auranya.
Umikawa-san ini, apa dia benar-benar menganggap Char sebagai musuh bebuyutannya...?
"Sudah biarkan saja dia, Charlotte-san, Aoyagi-kun...!"
Merasa tak terima melihat sikap permusuhan Umikawa-san terhadap Char, Kiriyama-san menarik lenganku dan lengan Char.
Gadis ini memang mudah akrab dengan orang lain, tapi dia cukup temperamental terhadap orang yang tidak disukainya...
Waktu di acara penyambutan Char di kafe pun, dia melontarkan komentar- komentar yang cukup pedas padaku.
...Ah bukan, kalau yang itu karena aku sengaja memancing emosinya, ya.
"Tunggu sebentar, Kei. Anak yang saking teladannya sampai bikin muak ini sendirian di tengah kegiatan kelompok, itu jelas aneh, kan?"
Secara tak terduga, Shimizu-san lah yang menyela tindakan Kiriyama-san.
Padahal ia juga sepertinya menjaga jarak dengan Umikawa-san, tapi pada akhirnya, ia juga tipe orang yang tak bisa mengabaikan orang yang sedang kesusahan.
Kupikir Shimizu-san tidak punya hak untuk menceramahiku soal itu.
" Aku tidak masalah kok kalau kalian tinggalkan."
Aku tidak ingin berurusan dengan kalian.
Memancarkan aura yang jelas-jelas menyiratkan pesan tersebut, Umikawa-san mempertahankan sikap keras kepalanya.
Namun, seperti yang dikatakan Shimizu-san, dengan kepribadian teladannya, Umikawa-san tidak mungkin sengaja memisahkan diri dari kelompoknya.
Satu-satunya kemungkinan yang paling masuk akal adalah ia bertengkar dengan anggota kelompoknya.
Jika dugaanku benar, wajar saja ia merasa enggan untuk menceritakannya.
"Berada sendirian di tempat yang tidak kamu kenal itu berbahaya, lho. Mau bergabung dan berkeliling bersama kami?"
Meskipun Umikawa-san adalah gadis yang mandiri dan aku yakin dia akan baik-baik saja, tidak ada salahnya berjaga-jaga.
Karena itulah aku mengajaknya tanpa maksud lain――namun, raut wajah Char seketika berubah masam.
Ekspresinya itu bukan berarti ia canggung karena harus bersama orang yang bersikap ketus padanya――melainkan ekspresi yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya melihatku mengajak gadis lain.
"Charlotte-san, yang ini lebih baik kamu biarkan saja."
"Uuu... begitulah... A-kun ini memang selalu saja menancapkan 'flag' di mana- mana..."
Shimizu-san yang menyadari perubahan ekspresi Char, mencoba menenangkannya sebagai penggantiku.
...Ya, begitulah.
Entah itu bisa disebut sebagai pembelaan atau bukan.
Malahan, sepertinya Char justru sudah pasrah...
"Lagipula, kenapa juga aku harus ikut berkeliling dengan kalian..."
Dan di sisi lain, Umikawa-san sendiri tampak sangat keberatan dengan ide itu.
Jangankan pada Char, sepertinya ia juga membenciku, jadi tidak mungkin ia akan mengangguk begitu saja.
Tapi, aku juga tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini.
"Umikawa-san, mau bergabung bersama kami? Kami juga ingin berjalan-jalan menikmati kota ini bersama Umikawa-san."
Meski sempat menerima penolakan yang keras, Char tidak menyerah dan kembali mengajak Umikawa-san dengan ramah.
Tersentuh oleh niat baik Char, Umikawa-san memalingkan pandangannya dengan canggung.
Sikap dinginnya barusan mungkin hanya dipicu oleh rasa malu karena ketahuan menangis dan emosinya yang sedang tidak stabil, pada dasarnya ia bukanlah gadis yang jahat.
"Tapi, aku..."
"Sudah, sudah, jangan banyak alasan, ayo jalan~"
Melihat Umikawa-san yang ragu-ragu――Shimizu-san tiba-tiba melingkarkan lengannya ke lengan Umikawa-san dan mulai menariknya dengan paksa.
"Tunggu dulu!? Aku ini tidak punya hubungan sedekat itu sampai harus bergandengan lengan denganmu, tahu!?"
Umikawa-san yang sepertinya tidak terbiasa bergandengan dengan teman sebayanya, meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Shimizu-san.
"Habisnya kalau tidak begini kamu tidak mau ikut, kan? Tenang saja, tenang saja, aku ini tipe orang yang gampang akrab dengan siapa saja, kok."
"Masalahnya, aku yang bukan tipe seperti itu...! Kamu pasti sengaja melakukannya, kan!?"
Di satu sisi, ada Shimizu-san; seorang
gyaru yang ceria, pandai membawa diri,
dan selalu menjadi pusat perhatian.
Di sisi lain, ada Umikawa-san; gadis teladan yang memimpin dengan prestasi dan tak segan mengkritik hal yang salah.
Yah, kalau dua orang dengan kepribadian yang saling bertolak belakang ini disatukan, wajar saja jadinya seperti ini.
" Anggap saja ini nasib sialmu karena ketahuan menangis sendirian."
" Aku tidak menangis!!"
Menghadapi Shimizu-san yang sama sekali tak berniat meladeninya dengan serius, Umikawa-san membantahnya dengan putus asa. Namun, menyangkal bahwa ia tidak menangis jelas-jelas adalah sebuah kebohongan yang terlalu kentara.
Sikap santai Shimizu-san dalam menanganinya ini kemungkinan besar karena ia sudah terlalu sering menghadapi Kousaka-san.
Bagaimanapun juga, sifat Umikawa-san yang sekarang sangat mirip dengan Kousaka-san.
Begitulah ceritanya kami mendapatkan tambahan anggota baru.
Aku sempat bertanya apakah ada tempat yang ingin dikunjungi Umikawa-san, namun ia menjawab tidak ada.
Karena itu, kami memutuskan untuk mengikuti rute yang sudah kami rencanakan sejak awal, dan Umikawa-san pun tidak keberatan.
Malahan, aku sempat mendengarnya menggumamkan sesuatu seperti, 《 ...mengikuti rencana awal itu hal yang penting, tahu...》 dengan nada yang seakan menyindir seseorang. Jika benar ia bertengkar dengan anggota kelompoknya, kemungkinan besar hal itulah yang menjadi penyebabnya.
Kupikir aku akan menanyakannya lebih lanjut saat suasana hatinya sudah lebih membaik nanti.
Akan tetapi――
"Tetap saja, berkeliling bersama kelompok lain itu bukan ide yang bagus..."
――Sifat teladan Umikawa-san yang perlahan mulai kembali tenang, kembali muncul ke permukaan.
Karena Umikawa-san sudah bersedia berjalan bersama kami, Shimizu-san akhirnya melepaskan lengannya. Namun, hal itu justru membuatnya kembali mendapatkan ketenangannya.
Kiriyama-san menggumamkan 《Tuh kan, merepotkan...》 dengan suara pelan, namun aku mengabaikannya dan tersenyum pada Umikawa-san.
"Ini kan karyawisata, ditambah lagi sekarang waktu bebas, jadi kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, lho?"
"Tidak boleh, kalau begitu, pembagian kelompok ini jadi tidak ada artinya."
Dia benar-benar gadis yang kelewat teladan...
Apa yang diucapkannya memang benar, tapi terkadang kita juga harus fleksibel menghadapi situasi.
Nah, bagaimana cara membujuk anak ini――aku mencoba melirik ke arah anggota kelompokku yang lain.
Pertama, aku menatap Char, lalu Shimizu-san. Setelah berpikir sejenak, keduanya tersenyum manis seolah berkata,
《Kami serahkan padamu》.
Senyuman yang penuh kepercayaan, seakan mengatakan bahwa akulah ahlinya dalam hal membujuk orang.
Selanjutnya, saat aku beralih menatap Karin, ia justru terlihat kebingungan dan hanya menatap Umikawa-san dalam diam.
Sedangkan Kiriyama-san――sudah bisa ditebak, ia memasang ekspresi sangat tidak puas.
Sepertinya, memang hanya aku yang bisa menyelesaikannya.
Untuk membujuk gadis dengan tipe seperti ini――.
"Kalau begitu, jika guru-guru mengizinkannya, tidak masalah kan?"
"Eh? E-Eh... yah... begitulah..."
Mungkin tak menyangka aku akan membawa-bawa nama guru, mata Umikawa- san membulat sebelum akhirnya ia mengangguk ragu.
Tanpa membuang waktu, aku segera menelepon Miyu-sensei.
《Aoyagi? Ada keadaan darurat?》
Mendapat panggilan telepon yang tiba-tiba, Miyu-sensei merespons dengan nada khawatir.
"Tidak, bukan hal yang terlalu serius, kok――"
Aku pun menceritakan situasi yang sedang terjadi pada Miyu-sensei.
Mendengar penjelasanku, Miyu-sensei tertawa kecil lalu bergumam dengan nada pasrah, 《Entah kenapa kau ini selalu saja terlibat dalam masalah, atau lebih tepatnya, kau sendiri yang suka ikut campur》.
Padahal kurasa aku tidak melakukan hal yang salah...
Intinya, karena Miyu-sensei ingin bicara dengan Umikawa-san, aku menyalakan mode speaker di ponselku.
《Umikawa, aku tak tahu apa yang terjadi padamu, tapi berkeliaran sendirian itu tidak bisa dibiarkan. Jika kau sedang bersama kelompok Aoyagi, tetaplah bersama mereka. Aku yang akan mengabari wali kelasmu.》 "Baiklah..."
Karena sudah mendapat persetujuan langsung dari Miyu-sensei, Umikawa-san pun menurut dengan patuh.
Namun setelah panggilan berakhir, ia menatapku dengan sorot mata yang penuh tanda tanya.
" Ada apa?"
"Kenapa kau bisa begitu dipercaya sampai sejauh itu..."
"Dipercaya...? Kurasa tidak sampai seperti itu, kok... Seperti yang dikatakan Miyu-sensei, berjalan sendirian itu tidak aman, jadi dia menyuruhmu ikut bersama kami, sesederhana itu."
Melihat Umikawa-san yang masih tampak tak percaya, aku memiringkan kepalaku dan mencoba menjelaskannya.
Pada kenyataannya, siapa pun yang menelepon, Miyu-sensei pasti akan mengatakan hal yang sama.
"Penyelesaiannya terlalu mulus... Seolah-olah dia berpikir asalkan kau ada di sana, dia tak perlu repot-repot bertanya lebih detail..."
"Kurasa itu cuma perasaanmu saja?"
Mungkin baginya, asalkan aku tidak membiarkan Umikawa-san berkeliaran sendiri, maka tidak ada masalah.
Yah, mengenai alasan mengapa Umikawa-san bisa sampai sendirian, mungkin Miyu-sensei berencana untuk menginterogasinya nanti setelah kembali ke hotel.
Jika ditanya sekarang, Umikawa-san pasti akan mengelak. Miyu-sensei mungkin juga berpikir bahwa tidak baik jika Umikawa-san harus menjalani sisa waktu wisata ini dengan perasaan tak nyaman, sehingga ia berbaik hati tak mempertanyakannya lebih jauh di telepon.
"Nah, nah, karena Miyu-sensei sudah memberi izin, kamu sudah tidak punya alasan untuk protes, kan?"
"Eh... yah, begitulah..."
Saat Shimizu-san menepuk kedua bahu Umikawa-san dari belakang dengan senyuman lebar, Umikawa-san mengangguk kecil pasrah.
Sepertinya, ia bukannya tidak mau ikut berkeliling bersama kami, ia hanya terlalu mencemaskan konsekuensi dari bertindak di luar rencana.
Setelah itu, kami pun melangkah menuju destinasi kami, Taman Odori.
"――Sudah kuduga, Festival Salju Sapporo memang belum dimulai, ya..."
Setibanya di taman, Kiriyama-san menundukkan bahunya dengan kecewa lantaran tidak ada satu pun patung salju atau pahatan es dari karakter populer maupun kastel megah yang biasa dipamerkan.
Kalau saja karyawisata ini diadakan seminggu lebih lambat, kami mungkin masih bisa mengejarnya, tapi mau bagaimana lagi.
"――Aku juga ingin melihatnya..."
Saat aku dan Char sedang memperhatikan Shimizu-san yang berusaha menghibur Kiriyama-san, Umikawa-san yang berdiri di sebelahku bergumam pelan.
Meski terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri, gadis ini tampaknya memang menyukai hal-hal yang berbau seni dan keindahan.
"Sayang sekali, ya. Tapi masih banyak tempat menarik lainnya, ayo kita jalan- jalan lagi."
Aku tersenyum dan mengajaknya.
Tepat pada saat itu, Char tiba-tiba menusuk-nusuk pinggangku dengan raut wajah tak puas. Aku pun menoleh dan memberikan senyuman padanya.
Melihat interaksiku itu, Karin bergumam pelan,
《Sudah kuduga, Kakak pasti
kerepotan...》.
â—†
Setelah mengelilingi Taman Odori, Sapporo TV Tower, dan Taman Soseigawa, waktu yang berlalu perlahan membuat ekspresi Umikawa-san kembali cerah.
Melihat perubahan itu, aku bertukar pandang dengan Char dan Shimizu-san.
Setelah memastikan mereka berdua mengangguk, aku membuka mulut dengan senyuman.
"Ngomong-ngomong, Umikawa-san, apa mungkin kamu bertengkar dengan anggota kelompokmu?"
"――Hah!? Ba-bagaimana kau bisa tahu...!?"
Karena pertanyaanku yang tiba-tiba, Umikawa-san dengan mudahnya membenarkan dugaanku.
Ternyata benar, ia memang bertengkar dengan anggota kelompoknya.
"Hanya firasat saja, kok. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, dan aku juga yakin Umikawa-san tidak mungkin mengatakan hal yang salah. Jadi, kalau kamu tidak keberatan, maukah menceritakannya pada kami?"
Sembari menunjukkan kesediaanku untuk mendengarkan, aku memintanya dengan lembut.
Mungkin karena merasa sungkan telah menyusup ke kelompok kami dan merasa (dari sudut pandangnya sendiri) telah merepotkan, Umikawa-san tidak langsung menolak permintaanku dan tampak sedikit bimbang.
" Ayo, terkadang bercerita itu bisa membuat perasaanmu lebih lega, lho? Kami tidak akan menghakimimu, jadi ceritakan saja."
Di saat Char biasanya akan mengambil alih, Shimizu-san justru maju untuk mendorongnya bercerita, mungkin demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika Char yang melakukannya.
Kiriyama-san masih tampak tidak setuju, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sembari menunggu Umikawa-san merangkai kata――perlahan, ia pun membuka mulutnya.
" Anu... Kami kan sudah merencanakan rutenya sejak awal, tapi mereka tiba-tiba mengabaikannya dan mau bertindak seenaknya, makanya aku marah... Lalu, kami pun bertengkar..."
Begitu ya...
Meskipun namanya "waktu bebas", bukan berarti kami bisa benar-benar bertindak bebas sesuka hati.
Setiap kelompok diwajibkan menyusun rute perjalanan saat masih di sekolah dan harus mendapat persetujuan dari wali kelas.
Anggota kelompoknya pasti memiliki tempat lain yang ingin dituju di luar rute yang disetujui, dan hal itu berujung pada perdebatan dengan Umikawa-san yang berpegang teguh pada aturan.
Jujur saja, jika berada di posisi Umikawa-san, aku mungkin akan melakukan hal yang sama dan akhirnya berdebat dengan mereka...
"Itu pasti menyedihkan, ya. Padahal ini adalah kesempatan langka untuk jalan- jalan bersama teman-teman..."
" Aku tidak peduli soal itu... Lagipula, kelompok itu hanyalah kumpulan orang- orang sisa yang tidak mendapat tempat di kelompok mana pun..."
" " "............" " "
Mendengar kejujuran Umikawa-san yang terdengar tanpa niat untuk sok kuat, aku, Char, dan Shimizu-san saling melempar pandang dengan canggung.
Dalam acara sekolah yang mengharuskan pembentukan kelompok, hal semacam ini memang sering terjadi.
Meskipun Umikawa-san tampak seperti tipe orang yang selalu memimpin di depan, yah... jika ia berada di kelas yang dipenuhi orang-orang yang tidak cocok dengannya, kejadian seperti ini tak bisa dihindari.
Saat aku memikirkan hal itu――
"Yah, wajar saja kalau anak ini tidak punya teman. Dia kan terlalu kaku dan cerewet."
――Seperti biasa, Kiriyama-san yang tak bisa membaca suasana melepaskan bom tanpa rasa bersalah.
Mendengar kata-katanya, mata Umikawa-san seketika bergetar karena syok dan ia tertunduk lesu.
"Kamu ini, bisakah diam saja."
Shimizu-san langsung melayangkan chop sebagai bentuk hukuman pada Kiriyama-san, namun berkat ulah Kiriyama-san, suasana di antara kami menjadi semakin canggung.
Di tengah situasi tersebut――hanya Karin seorang yang menatap Umikawa-san dengan mata berbinar, seolah baru saja menemukan kawan senasib.
Duh, tolong jangan pasang wajah senang hanya karena kamu menemukan sesama orang yang tidak punya teman...
Sebagai kakaknya, aku mulai merasa sedikit khawatir.
" Aku sangat sadar kalau aku ini tidak disukai... Tapi aku tidak masalah dengan itu... Lagipula, aku ini berbeda dengan Bennett-san, aku hanyalah orang kaku yang tidak bisa berkompromi..."
Komentar pedas Kiriyama-san tentang dirinya yang tak punya teman rupanya membuat Umikawa-san menjadi sangat rendah diri.
Alasannya membandingkan dirinya dengan Char kemungkinan besar bukan karena ia menganggap Char sebagai musuh bebuyutannya, melainkan karena Char sendiri memang sangat populer di sekolah, baik di kalangan siswa maupun siswi.
Akan tetapi, setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Bagiku, Umikawa-san sama sekali tidak memiliki sifat buruk yang tak termaafkan.
"Tapi, sifatmu yang teladan dan bertanggung jawab itu adalah kelebihanmu, Umikawa-san. Menyalahkanmu karena kelebihan itu justru terdengar aneh, kan? Setidaknya bagiku, aku menyukai sisi dirimu yang seperti itu, lho."
Pada kenyataannya, tipe orang seperti Umikawa-san cenderung lebih mengutamakan aturan daripada terbawa suasana. Di sekolah seperti sekolah
kami, tipe ini memang rentan berselisih paham dengan orang-orang di sekitarnya.
Andai saja ia berada di lingkungan yang mayoritas dipenuhi orang-orang teladan sepertinya, ceritanya mungkin akan berbeda. Tapi, menyesali hal itu sekarang tidak akan mengubah apa pun.
Setidaknya, posisiku saat ini sangat memungkinkanku untuk memahami perasaannya.
Karena itulah aku mencoba memvalidasi perasaannya――namun, mata Umikawa-san seketika membelalak kaget, wajahnya memerah padam, dan ia mematung di tempat.
Di saat yang sama, Shimizu-san menepuk dahinya seolah kepalanya tiba-tiba pening. Bahkan Kiriyama-san pun bergumam,
《Uwaa...》, dengan ekspresi
yang seakan berkata, 《Orang ini baru saja melakukan kesalahan besar...》.
Lalu bagaimana dengan Char? Ia tersenyum sangat manis――dengan aura hitam pekat menguar dari tubuhnya.
Ya... sepertinya aku baru saja melakukan kesalahan besar...
Sadar bahwa aku tanpa sengaja melontarkan kalimat yang sangat fatal, pandanganku mendadak kosong.
Detik berikutnya, Char mencengkeram tanganku kuat-kuat―― "A-kun, tolong jangan mencoba membangun
harem, ya. Kesabaranku sudah
mencapai batasnya, lho."
――Dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya, ia memarahiku.
"M-Maafkan aku..."
Tertekan oleh aura mengerikan Char, aku hanya bisa meminta maaf.
Shimizu-san yang menatap kami bergumam sambil tersenyum masam, 《 Aoyagi-kun, di masa depan sepertinya kau akan berada di bawah kendali Charlotte-san, ya?》, dan jujur saja, aku pun memikirkan hal yang sama.
"Haaah... A-kun ini benar-benar tidak bisa dibiarkan..."
Pada akhirnya, Char menghela napas panjang melihat tingkahku.
Melihat anak ini sampai menghela napas, berarti tindakanku barusan memang sangat kelewatan.
"Umikawa-san, mulai sekarang kita adalah teman, ya? Buktinya, sekarang kita bisa berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama. Shimizu-san, A-kun, dan Karin-chan juga berpikiran yang sama, kok."
Setelah menghela napas, Char menoleh ke arah Umikawa-san yang masih mematung dengan wajah memerah. Dengan senyuman penuh kasih sayang layaknya seorang Saintess, Char menggenggam tangan Umikawa-san.
Fakta bahwa nama Kiriyama-san tidak disebutkan, entah itu disengaja atau memang kepolosan alaminya...
Namun yang jelas, Kiriyama-san terlihat sedikit syok.
Yah, karena Shimizu-san sudah memberinya penghiburan (jika kalimat 《Itu salahmu sendiri》 bisa disebut penghiburan), kurasa Kiriyama-san akan baik- baik saja.
"Teman...?"
Umikawa-san menatap balik wajah Char dengan ragu.
Wajar saja ia merasa bingung, mengingat orang yang baru saja ia anggap sebagai musuh bebuyutan tiba-tiba melontarkan kalimat seperti itu.
Char sendiri masih mempertahankan senyum lembutnya dan mengangguk 《
Iya》 tanpa ada niat tersembunyi.
Umikawa-san lalu memalingkan pandangannya dari Char, menatap wajah Shimizu-san, lalu beralih menatapku.
Setelah kami berdua mengangguk mengiyakan, pandangannya akhirnya jatuh pada Karin. Saat Karin mengangguk kuat-kuat, senyum tipis, meski hanya sekejap, akhirnya tersungging di bibir Umikawa-san.
"Padahal kita baru sebentar bersama... aneh sekali, ya..."
"Waktu tidak ada hubungannya dengan menjadi teman, kok."
"Begitu... ya..."
Kemungkinan besar, Umikawa-san merasa senang mendengarnya.
Seperti yang ia katakan, meski kami baru menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam, ia telah sepenuhnya menyatu dengan kelompok kami.
Orang luar yang melihat kami pasti akan mengira bahwa kami adalah teman baik, dan baik Char maupun Shimizu-san sudah pasti menganggap Umikawa- san sebagai teman.
Adapun alasan Karin mengangguk begitu keras hanyalah karena ia terlalu bersemangat mendapatkan
《Teman baru...!》, sungguh usaha yang keras.
Sebagai kakaknya, melihat lingkar pertemanan adiknya perlahan meluas membuatku merasa sangat terharu.
Di tengah rasa haru melihat perkembangan adikku tersebut―― " Aaah, astaga! Iya, aku mengerti! Aku juga, teman kalian! Kita berteman, kan!"
――Merasa dirinya diabaikan, Kiriyama-san tiba-tiba menyela pembicaraan dengan raut wajah sedikit malu-malu.
Gadis ini, ternyata dia juga punya sisi Tsundere, ya.
Saat aku sedang membatin demikian, Shimizu-san dan Char tertawa kecil melihat tingkahnya.
Namun sebaliknya, Umikawa-san justru mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Tampaknya ia tidak bisa mengikuti perubahan emosi Kiriyama-san yang tiba- tiba.
"A-Ada apa? Aku tidak mengatakan hal yang aneh, kan?"
Mendapat tatapan kebingungan dari Umikawa-san, Kiriyama-san menunjukkan raut wajah cemas layaknya anak kecil.
Kemudian, Umikawa-san yang tampaknya baru saja kembali ke alam sadarnya, menutupi mulutnya dengan tangan dan perlahan membuka mulut.
"Tidak... begitulah... Kalau dengan Kiriyama-san, kurasa aku harus memikirkannya lagi..."
――Balas Umikawa-san dengan nada yang benar-benar serius.
Bukan bermaksud menggoda, sepertinya ia benar-benar mengatakan isi hatinya――
"Kalau begini ceritanya, malah aku dong yang jadi anak paling menyedihkan di sini!!"
――Dan Kiriyama-san pun hanya bisa meratapi nasibnya.
Diskusi & Komentar (0)