ALERT: Chapter dengan adegan berbahaya, tidak disarankan baca saat puasa "Hari Valentine sudah dekat, tapi... bagaimana caraku mengajak Char, ya...?"
Di malam hari, tepat tiga hari sebelum Valentine, saat Char dan Emma-chan sedang mandi, aku memikirkan cara untuk mengajaknya.
Aku sudah memutuskan untuk melepaskan segala ketidakpuasan dan hal-hal yang dipendam Char pada hari itu. Namun, aku khawatir jika aku sebagai laki- laki yang mengajaknya duluan, aku akan terlihat seolah sedang menagih cokelat.
Tentu saja, aku yakin Char yang paham dengan budaya Jepang sudah menyiapkan cokelat untuk perayaan Valentine, tapi aku tidak ingin dianggap sebagai pria yang banyak mau...
Tok tok tok――.
Di tengah kebingunganku, seseorang mengetuk pintu kamarku.
Kalau dibilang Char sudah selesai mandi――rasanya terlalu cepat.
Mereka berdua baru saja pergi ke kamar mandi belum lama ini.
Apa mungkin Kaguya-san?
Pikirku sambil membuka pintu――dan sosok yang berdiri di balik pintu adalah seorang wanita dengan rambut hitam lurus nan indah yang tergerai ke punggung.
"Kanon-san?"
"Permisi."
Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Kanon-san melangkah masuk ke kamarku dengan senyuman yang menawan.
" Ada keperluan apa?"
" Aku ingin mengobrol dengan Akihito. Aku yakin, saat ini kamu pasti sedang bingung memikirkan cara untuk mengajaknya di hari Valentine, kan."
"............"
Karena dia menebak dengan tepat apa yang sedang kupikirkan dengan begitu santainya, aku tanpa sadar menahan napas.
Saat aku menatap Kanon-san dengan rasa heran tentang bagaimana dia bisa tahu, dia terkekeh geli.
"Biasanya kan kamu selalu menemani Emma-chan bermain. Waktu bagimu untuk bisa memikirkan hal seperti ini dengan tenang sendirian sangatlah terbatas, lho."
Begitu ya, pantas saja dia datang di saat Emma-chan dan Char sedang pergi mandi...
Lagipula, tumben sekali Kaguya-san mengizinkannya pergi sendirian...
Padahal aku membayangkan Kaguya-san akan protes seperti, 《Pergi ke kamar
seorang pria di tengah malam seperti ini sangatlah berbahaya!》 " Akhir-akhir ini, kamu belum bisa meluangkan waktu berduaan saja dengan Charlotte-san, kan. Jadi, kamu pasti berpikir untuk menghabiskan hari Valentine hanya berdua dengannya, bukan?"
"Sudah kuduga, Anda pasti menyadarinya, ya... Maaf, apakah di hari itu saya boleh menitipkan Emma-chan kepada Anda...?"
Karena rencanaku sudah sepenuhnya terbaca, aku pun memutuskan untuk sekalian memintanya menjaga Emma-chan saat itu juga.
"Tentu saja. Malahan, kamu boleh lebih sering menitipkan Emma-chan kepadaku untuk menciptakan waktu berduaan dengan Charlotte-san, lho."
Kanon-san menyetujui permintaanku dengan senang hati.
Karena dia menyukai anak kecil, sepertinya dia sama sekali tidak keberatan dititipi Emma-chan.
"Kalau terlalu sering rasanya tidak enak... Char juga pasti merasa sungkan, dan kalau Emma-chan terlalu sering ditinggal, dia bisa menangis dan marah..."
Lagipula acara karyawisata juga sudah dekat, jadi sampai saat itu tiba, aku ingin meluangkan waktu dengan baik untuk Emma-chan.
Jika aku mengabaikannya, Emma-chan mungkin akan berpikir bahwa dirinya tidak disayangi.
"Serba salah, ya... Emma-chan masih sangat kecil, jadi kamu memang perlu memprioritaskannya."
"Iya, Char juga mengerti soal itu dan dia selalu menahan diri. Karena itulah, khusus di hari Valentine aku ingin dia bisa bersantai dan bermanja-manja..."
Yah, walau aku tahu bahwa batas kesabaran gadis itu sebenarnya sudah terlewati sejak lama.
Terlebih lagi, kondisi Kaguya-san sama sekali tidak membaik, dan Char masih tidur di kamar terpisah, yang berarti "aktivitas malam" gadis itu pasti masih terus berlanjut.
Selain itu, alasan kenapa Kaguya-san belum menyinggung apa-apa adalah karena dirinya yang cerdas pasti tahu—sama seperti Kanon-san—bahwa aku akan bertindak di hari Valentine, jadi dia mungkin berniat bersabar sampai hari itu tiba.
Oleh karena itulah, aku tidak boleh melewatkan kesempatan kali ini.
...Ngomong-ngomong, rasanya tidak mungkin Kanon-san tidak menyadari kondisi Kaguya-san itu, kan...?
Eh, jangan-jangan... Kanon-san juga sudah menyadari kelakuan Char...?
" Aku akan mengajarimu sesuatu yang bagus, Akihito."
Saat keringat dingin mengalir di punggungku, Kanon-san tersenyum ke arahku.
Aku tanpa sadar menegakkan postur tubuhku, dan Kanon-san pun perlahan membuka mulutnya.
"Hari Valentine di Inggris itu, biasanya bukan pihak wanita yang memberi, melainkan pihak pria yang memberikan bunga atau mengajak wanita berkencan untuk mengungkapkan cinta mereka."
"Eh, benarkah begitu!?"
Karena lahir dan besar di Jepang, pikiranku terpaku pada pandangan umum bahwa hari Valentine adalah hari di mana wanita memberikan cokelat kepada pria――sehingga informasi baru yang mematahkan ekspektasiku ini benar- benar membuatku terkejut.
"Sudah kuduga kamu tidak tahu. Charlotte-san memang paham dengan budaya Jepang karena pengaruh manga dan anime, jadi dia mungkin tidak akan mengeluh meskipun kamu tidak melakukan apa-apa. Namun, bukankah ide yang bagus jika kamu yang mengajaknya duluan?"
Setelah mengatakan hal itu, Kanon-san menepuk kepalaku pelan beberapa kali, lalu berjalan keluar dari kamar.
Entah bagaimana mengatakannya... tapi aku benar-benar merasa tidak akan pernah bisa menang melawan orang itu.
Dia menghempaskan semua kebingunganku dalam sekejap mata.
"Kalau aku bisa menjadikannya momen di mana aku yang memberi hadiah, rasanya jadi lebih mudah untuk mengajaknya..."
Terbebas dari sumber kebingunganku, aku pun mulai menelusuri makna bahasa bunga melalui ponsel cerdas untuk memutuskan bunga apa yang akan kuberikan pada Char.
â—†
Malam sebelum hari Valentine pun tiba.
"Charlotte-san, apakah seperti ini sudah benar?"
"Iya, seperti dugaan, Anda sangat pandai!"
Kanon-san dan Char menggunakan dapur dan terlihat bersenang-senang membuat cokelat bersama.
Di dekat mereka, Kaguya-san tampak sangat ingin ikut bergabung. Namun, layaknya anjing peliharaan yang sedang disuruh menunggu jatah makannya, dia hanya berdiri diam menatap punggung mereka berdua.
Sepertinya dia merasa iri melihat Kanon-san dan Char membuat cokelat dengan begitu akrab.
Kalau diizinkan, dia pasti ingin dirinya sendirilah yang mengajari Kanon-san, bukan Char...
『Cokelatnya, belum?』
Di tengah situasi itu, malaikat kecil yang duduk di pangkuanku――Emma-chan, sedang menanti-nanti selesainya cokelat tersebut.
Sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, dia menantikan dengan antusias kapan cokelat itu akan jadi.
『Emma-chan sangat suka cokelat, ya?』
『Nn! Emma, suka banget sama cokelat...!』
Emma-chan yang sangat menyukai makanan manis, mengangguk riang dengan senyum yang lebar.
Senyumannya itu saja sudah cukup untuk membuatku merasa sangat bahagia.
Emma-chan benar-benar eksistensi yang tak terkalahkan.
『Anak itu, benar-benar pintar bermanja-manja...』
Lalu, saat aku sedang merasa terobati oleh senyuman Emma-chan, Char menatapku dengan sorot mata yang seakan ingin mengatakan sesuatu.
Sejak Char mulai tidur di kamar terpisah, waktu untuk memanjakannya berkurang drastis. Mungkin karena itu juga, aku merasa sifat pencemburunya yang dulu mulai muncul ke permukaan lagi.
Yah, itu sangat bisa dimaklumi, sih...
『Charlotte-san, Anda juga boleh bermanja-manja pada Akihito tanpa perlu memedulikan tatapan kami, lho.』
『――Eh!? Ti-tidak bisa, hal memalukan seperti itu...』 Menanggapi Char yang sedang menggembungkan pipinya karena merajuk, Kanon-san membujuknya dengan lembut, yang langsung membuat wajah Char memerah dan menggelengkan kepalanya.
Bermanja-manja di depan orang lain sepertinya adalah rintangan yang terlalu berat bagi Char yang memiliki sifat pemalu.
Walaupun terkadang ada saat-saat di mana dia bisa bermanja-manja tanpa sungkan, sih...
Terutama saat Livy ada di sini.
『Padahal Anda tidak perlu sungkan.』
Kanon-san tampak sedikit kecewa, lalu kembali menggerakkan tangannya yang sempat berhenti.
Namun, dia tetap terlihat senang.
Biasanya Kaguya-san dan Char yang memasak, dan sejak kecil Kanon-san memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk memasak sendiri. Jadi, membuat cokelat sambil diajari oleh Char pasti terasa menyenangkan baginya.
Terlebih lagi, karena dia selalu mendambakan seorang adik perempuan, dia pasti merasa Char sangatlah menggemaskan.
『...Emma-sama, apakah Anda mau makan camilan?』
Di tengah keakraban Char dan Kanon-san, Kaguya-san yang sepertinya sudah tak tahan hanya menjadi penonton, menyodorkan camilan kepada Emma-chan.
『Nn...! Makasih...!』
Emma-chan yang biasanya enggan menerima barang dari orang selain aku atau Char, menerimanya dengan senang hati, mungkin karena itu adalah camilan.
Aku jadi khawatir apakah di masa depan dia akan mudah ikut dengan orang asing. Tapi tanpa kusadari, Emma-chan ternyata sudah cukup membuka hatinya pada Kaguya-san...
Mungkin fakta bahwa Kaguya-san pernah mencontohkan cara bermain layang- layang saat libur Tahun Baru, serta ikut bergabung menemani Emma-chan saat kami bermain sepak bola di hari libur, memiliki andil yang besar.
Selain itu, orang ini bagaimanapun juga sangat memanjakan Emma-chan, jadi mungkin Emma-chan memiliki kesan yang baik terhadapnya, layaknya, 《 Orang yang selalu baik padaku!》.
Tapi kalau dipikir-pikir, kesan Kanon-san seharusnya lebih baik di matanya, namun akhir-akhir ini Emma-chan terlihat lebih akrab dengan Kaguya-san ketimbang Kanon-san.
Kira-kira kenapa, ya?
"...Mencuri kesempatan untuk menaikkan kedekatan dengan Emma-chan saat aku tidak melihat, kau cukup hebat juga ya, Kaguya...?"
"Nona muda!? Tidak, saya sama sekali tidak bermaksud begitu...!"
Saat aku dan Kaguya-san sedang terobati melihat Emma-chan yang mengunyah camilannya dengan lahap, tiba-tiba Kanon-san menatap Kaguya-san dengan tatapan dingin.
Menghadapi sikap tuannya yang tak biasa itu, Kaguya-san secara tak terduga menunjukkan kegugupannya.
Ternyata Kanon-san mempermasalahkan fakta bahwa Emma-chan lebih lengket pada Kaguya-san ketimbang dirinya...
Keputusannya untuk berbicara dalam bahasa Jepang agar tidak dimengerti oleh Emma-chan juga patut diacungi jempol.
『Camilannya, sudah habis...?』
Mengabaikan Kaguya-san yang sedang panik, Emma-chan yang telah menghabiskan camilannya dalam sekejap, menatap Kaguya-san dengan tatapan memelas.
Kaguya-san yang masih kebingungan karena merusak suasana hati Kanon-san, tak kuasa menahan keluhan tertahan saat melihat mata Emma-chan yang berkaca-kaca. Pada akhirnya, ia mengeluarkan camilan baru dari saku baju pelayannya.
Sepertinya, pesona balita itu menang mutlak melawan sang tuan.
Berkat hal itu, Emma-chan kembali menyantap camilannya dengan senyum semringah.
"Heee...?"
Tentu saja, Kanon-san tersenyum penuh arti ke arah Kaguya-san yang posisinya di mata Emma-chan semakin naik.
"Ini salah paham, Nona...!"
"Ucapan dan tindakanmu bertolak belakang, ya?"
Kaguya-san berusaha keras untuk menjelaskan, tapi Kanon-san terus memojokkannya dengan senyuman penuh makna.
Padahal biasanya dia selalu sempurna dan tanpa celah, tapi Kaguya-san benar- benar lemah jika berhadapan dengan Kanon-san...
Dan Kanon-san pun mungkin sengaja melakukannya karena merasa ini menyenangkan.
...Tunggu, matanya terlihat cukup serius, jadi apa mungkin dia benar-benar kesal karena Emma-chan lebih akrab dengan Kaguya-san dibanding dirinya?
『Apakah penampilanku di mata kalian juga terlihat seperti ini...?』 Dan Char, yang sangat menyadari betapa cemburuannya dirinya sendiri, hanya bisa tersenyum masam melihat tingkah Kanon-san.
Yah... begitulah.
Memang tidak sejelas ini, tapi rasanya tidak jauh berbeda, sih. Pikirku.
Namun dalam kasus Char, karena reaksinya jauh lebih kekanak-kanakan, itu terasa lebih mendingan.
Sejujurnya, kalau Char memojokkanku dengan cara Kanon-san tadi, aku merasa lambungku akan terasa perih.
Lagipula, dipojokkan dengan senyuman mengerikan seperti itu pada dasarnya menakutkan.
『Camilannya, habis...』
Di tengah situasi tersebut, Emma-chan yang lagi-lagi menghabiskan camilannya dengan cepat, menarik-narik lengan baju Kaguya-san secara perlahan untuk meminta perhatian.
Hal itu membuat ekspresi Kaguya-san berkerut bingung layaknya seseorang yang sedang terjepit dari dua sisi.
Posisi yang serba salah... pikirku, tapi aku juga mulai merasa sedikit kasihan kepadanya. Selain itu, tidak baik jika terus-menerus memberikan Emma-chan camilan manis, jadi aku memutuskan untuk mengulurkan bantuan.
『Emma-chan, sebentar lagi cokelatnya pasti jadi, jadi kita tahan dulu camilannya, ya?』
『...Nn.』
Saat aku menghentikannya sambil mengelus kepalanya dengan lembut, Emma- chan berpikir sejenak lalu mengangguk kecil.
Meskipun dia terlihat murung dan bersedih, tapi fakta bahwa cokelatnya akan segera matang bukanlah sebuah kebohongan. Dia hanya perlu bersabar sedikit lagi.
"Fuuu..."
Di sisi lain, Kaguya-san yang terbebas dari posisi terjepit antara tuannya dan gadis kecil itu menghela napas lega.
Bagiku yang tidak memiliki majikan mungkin sulit memahaminya, tapi ditatap tajam oleh tuan sendiri pasti terasa sangat merepotkan.
Aku sendiri juga selalu kerepotan jika terjebak di situasi tarik-menarik antara Char dan Emma-chan.
Yah, kalau dalam kasusku, kecuali ada hal yang benar-benar mendesak, aku sudah memutuskan untuk memprioritaskan Emma-chan yang masih kecil, jadi tidak akan sampai pada situasi yang membuatku frustrasi tak bisa berbuat apa-apa.
"Kaguya, nanti kita mengobrol di kamarku, ya?"
...Ya, rupanya urusan Kaguya-san masih belum selesai.
Seakan ingin mengatakan
《Aku tak akan melepaskanmu》, Kanon-san
mengajaknya.
Ternyata Kanon-san tanpa ampun, ya...
Kalau dipikir-pikir, dia juga pernah menyudutkan ayah kandungnya habis- habisan.
『Nee nee, Onii-chan.』
Saat aku sedang menatap Kaguya-san yang mematung di tempat setelah dipanggil Kanon-san, Emma-chan menarik-narik bajuku.
『Hm? Ada apa?』
『Sepak bola, kucing, mau lihat.』
Sepertinya, dia meminta untuk diputarkan video sepak bola atau video kucing.
Jika sedang luang dia pasti akan langsung meminta menonton video, jadi aku sudah sangat terbiasa dengan rutinitas ini.
『Iya, ini.』
『Makasih...!』
Saat kuserahkan ponsel cerdasku, Emma-chan langsung mulai mencari videonya sendiri.
Anak ini juga sudah benar-benar terbiasa menggunakan ponsel.
Dan saat kami sedang asyik menunggu cokelat itu selesai dibuat――.
『Ya, sudah jadi.』
Rupanya, cokelat buatannya sudah selesai.
『A-kun, jangan lihat ke sini dulu, ya...!』
Kira-kira seperti apa ya bentuk cokelatnya?
Saat aku berpikir begitu dan mencoba untuk melihat ke meja dapur, Char yang menyadari niatku langsung mencegahku mendahului tindakanku.
Sepertinya bentuk cokelat itu akan menjadi kejutan untuk esok hari.
Itu berarti, cokelat yang akan dimakan Emma-chan sekarang adalah sesuatu yang berbeda.
『Emma-chan, aku akan memberikan bagian yang kubuat, ya.』 Saat Char sedang memasukkan cokelat buatannya ke dalam kotak dengan sangat hati-hati, Kanon-san membawa cokelat yang baru saja selesai dihiasnya.
Itu adalah jenis biskuit berbentuk bintang yang ditempeli lapisan cokelat, dan Emma-chan hanya melirik sekilas ke arahnya.
Kanon-san, yang berniat menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan posisinya di mata Emma-chan, mendekatkan piring berisi cokelat itu dengan senyum semringah... namun Emma-chan sama sekali tidak mengulurkan tangannya.
『Apakah kalau buatanku tidak boleh...?』
Kanon-san menundukkan bahunya dengan lesu melihat Emma-chan yang enggan memakannya.
Ini mungkin... fakta bahwa Kanon-san yang membawanya jelas merupakan penyebabnya, tapi bukan berarti dia menolaknya hanya karena itu Kanon-san.
Secara sederhana, karena dia belum pernah melihat Kanon-san memasak sebelumnya, dia merasa waspada dan seolah berpikir, 《Apa rasanya aman?》
『Kanon-san, bolehkah aku mencicipinya juga?』
Karena aku tahu persis apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini, aku pun meminta izin kepada Kanon-san untuk mencicipinya.
『Ya, tentu saja. Sebenarnya, aku ingin bilang kalau Akihito baru boleh memakannya besok... tapi khusus untuk hari ini, tidak apa-apa.』 『Terima kasih banyak.』
Aku pun menerima tawarannya, lalu mengusap tanganku dengan handuk basah terlebih dahulu sebelum mengambil sepotong cokelat berbentuk bintang itu.
Emma-chan terus menatap tindakanku itu tanpa berkedip.
『――Mmm, manis tapi tidak membuat enek, rasanya sangat lezat. Biskuitnya juga renyah dan mudah dikunyah.』
Karena aku tidak pandai merangkai pujian yang berbunga-bunga, aku menyampaikan apa yang kurasakan sejujurnya kepada Kanon-san.
Kanon-san tampak bernapas lega dan menyunggingkan senyum gembira dari sudut bibirnya.
『Itu karena Charlotte-san mengajariku dengan sangat teliti.』 Hanya karena statusnya sebagai nona muda yang jarang menyentuh dapur di luar jam pelajaran kelas, bukan berarti Kanon-san adalah orang yang canggung.
Dia tidak tinggi hati sehingga dengan mudah menerima apa yang diajarkan kepadanya, dan karena dia cerdas, kemampuan belajarnya sangat cepat layaknya spons yang menyerap air.
Terlebih lagi, Char yang sudah ahli memasak mengajarinya secara langsung dari awal hingga akhir, jadi tidak mungkin rasanya tidak enak.
『...Nn.』
Melihat reaksiku yang mengisyaratkan bahwa cokelat itu 《Aman!》, Emma-
chan meniru tindakanku membersihkan tangan dengan handuk basah, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong cokelat.
"Itadakimasu..."
Kemudian, setelah mengucapkan salam sebelum makan dalam bahasa Jepang, dia melahapnya dalam satu suapan.
Dia mengunyahnya dengan saksama, lalu menelannya――dan seketika rona kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya.
『Nn, enak...!』
Sepertinya rasanya sangat cocok dengan selera Emma-chan.
『Fufu, syukurlah kalau begitu. Masih ada banyak, jadi makan yang puas, ya.』 『Nn...! Makasih...!』
Setelah disodori banyak cokelat oleh Kanon-san, Emma-chan dengan gembira terus menyantapnya.
Sebenarnya aku sedikit khawatir Char akan marah karena Emma-chan memakan banyak camilan dan cokelat di larut malam seperti ini――tapi melihat Kanon-san yang sedang berseri-seri bahagia, sepertinya Char memberikan pengecualian khusus untuk hari ini.
Dengan ini, posisi Kanon-san di mata Emma-chan kemungkinan besar juga sudah naik, jadi malam ini menjadi malam yang membahagiakan bagi semua pihak.
"――Tunggu, bukankah saya yang menjadi korban satu-satunya di sini?"
"Kaguya-san, tolong jangan membaca isi hatiku..."
Yah, sepertinya ada satu orang yang masih belum bisa menerima akhir cerita ini.
Setelah kejadian itu, Emma-chan yang telah menghabiskan semua cokelat yang disajikan diajak oleh Char untuk menyikat gigi. Saat dia kembali lagi ke pangkuanku, kepalanya mulai terangguk-angguk mengantuk.
Sepertinya, baginya jauh lebih nyaman tidur sambil duduk bersandar padaku ketimbang berbaring di ranjang.
"Kalau begitu, saya permisi sebentar karena ada yang perlu dibicarakan dengan Kaguya."
"Nona muda...!? Anda sedang bercanda soal ucapan Anda yang tadi, bukan...!?"
" Apa yang Anda bicarakan? Saya tidak pernah bilang kalau saya tidak akan membicarakannya, lho."
Sepertinya Kanon-san masih mempermasalahkan insiden soal Emma-chan tadi, dia tersenyum manis seraya menyeret Kaguya-san pergi.
Entah bagaimana mengatakannya... tapi setidaknya untuk hari ini, aku merasa kasihan pada Kaguya-san.
Kukira dia sudah melupakannya, ternyata Kanon-san masih mengingatnya dengan sangat jelas...
"............"
Sepeninggal mereka berdua, Char yang terlihat gelisah dan tidak bisa tenang, duduk di sebelahku serasa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Lalu, dia melirik curi-curi pandang ke arah wajahku.
Ugh, kenapa dia menggemaskan sekali, sih...!
Sambil menahan jeritan batinku, aku menoleh dan tersenyum pada Char.
"Kerja bagus. Apakah mengajari Kanon-san membuat cokelat tidak membuatmu lelah?"
Sebenarnya aku ingin langsung membicarakan soal rencanaku untuk besok, tapi Emma-chan saat ini sedang dalam proses menuju alam mimpi.
Oleh karena itu, sambil menahan volume suaraku, aku memutuskan untuk memuji kerja keras Char terlebih dahulu.
"Tidak kok, Kanon-oneesan itu sangat cepat belajar dan mudah mengerti, jadi aku sama sekali tidak merasa lelah."
Char menjawab kesan-kesannya selama menjadi guru dengan senyuman yang sangat manis.
Aku yakin itu bukan sekadar basa-basi belaka.
Dilihat dari kejauhan pun Kanon-san sama sekali tidak terlihat kesulitan, dan proses pembuatan cokelat mereka berjalan dengan sangat lancar.
"Ngomong-ngomong, anu... aku sudah berusaha keras membuat cokelatnya...
jadi, tolong nantikan hari esok, ya...?"
Aku berencana membicarakannya setelah Emma-chan benar-benar tertidur pulas.
Namun, di saat aku sedang mencari waktu yang pas, Char yang wajahnya sudah merona merah sambil menautkan kedua jari telunjuknya, malah mendahuluiku.
Gadis ini gerakannya benar-benar cepat.
Perasaanku saja atau dia memang selalu selangkah lebih maju dariku...
Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya Emma-chan juga sudah hampir sepenuhnya berkelana di dunia mimpi...
"Iya, aku sangat menantikannya. Kalau Char tidak keberatan, bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan berdua saja?"
"Eh!? I-Itu artinya...!"
Agar tidak terdengar canggung, aku mencoba mengajaknya senatural mungkin mengikuti alur pembicaraan.
Akan tetapi, Char tampaknya jauh lebih terkejut dari dugaanku, sampai-sampai suara pekikannya membuat Emma-chan yang sedang tidur di lenganku mengernyitkan wajah.
Karena itu, aku menaruh jari telunjuk di depan hidungku sambil berdesis 《 Ssst》, dan Char pun buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya.
Kami berdua menahan napas dan menahan suara, menunggu hingga napas Emma-chan kembali teratur.
Tak lama kemudian, saat embusan napas 'suuu... suuu...' yang manis khas anak kecil kembali terdengar, aku dan Char saling bertatapan lalu tersenyum lega.
Wajah Char tampak sedikit tersipu malu.
Alasan kenapa dia sebegitu terkejutnya tadi pasti karena di satu sisi dia menaruh harapan untuk besok, namun di sisi lain dia juga memendam kecemasan bahwa kami mungkin tidak akan bisa berduaan.
Sepertinya sebegitu besarnya kepercayaannya yang telah kuhancurkan.
...Yah, itu fakta, sih.
Jika terjadi sesuatu yang di luar kendali――misalnya, jika ada situasi yang mengharuskan Kanon-san dan Kaguya-san meninggalkan rumah, maka kami tidak bisa meninggalkan Emma-chan sendirian, dan otomatis rencana berduaan pun akan batal...
Mengingat kemungkinan itu selalu ada, kecemasan Char sama sekali tidak salah.
" Apa... Kamu benar-benar yakin kita akan pergi berdua saja...?"
Char melirik sekilas ke arah wajah tidur adik kecilnya, lalu bertanya pelan seolah sedang membaca ekspresiku.
"Tentu saja. Maaf ya, sudah membuatmu menunggu terlalu lama."
"Ugh."
Karena aku benar-benar telah membuatnya menunggu dalam waktu yang sangat lama, aku pun meminta maaf. Char menutupi mulutnya dengan tangan, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Meskipun kami tinggal di bawah atap yang sama, fakta bahwa sekadar janji untuk berduaan saja bisa membuatnya bereaksi seperti ini, membuat rasa bersalahku makin menjadi-jadi.
Besok, aku harus berusaha keras.
" Aku sangat senang... sungguh, aku bahagia sekali..."
Char menyampaikan perasaannya seolah sedang meresapi setiap kata-katanya.
Perasaanku pun sama sepertinya, aku sangat menantikan hari esok.
Di saat aku sedang diselimuti oleh perasaan bahagia tersebut―― "Besok hari Sabtu, kan? Fufu..."
――Entah kenapa, sebuah kalimat yang biasanya terdengar biasa saja, kali ini entah kenapa terdengar sangat mengancam di telingaku. Terlebih lagi, senyuman riang di wajah Char seketika terlihat begitu menggoda dan sedikit liar.
Gawat... sepertinya aku harus benar-benar mempersiapkan mental.
Aku pun memutuskan untuk memberi tahu Kanon-san nanti, bahwa kemungkinan besar besok kami akan menginap di luar.
â—†
Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara alarm lebih awal dari biasanya.
Emma-chan yang tidur di sebelahku sempat mengernyitkan wajah karena suara alarm, namun karena ini masih terlalu pagi, begitu bunyinya kumatikan, ia langsung kembali tertidur pulas.
Aku mengelus kepala Emma-chan dengan lembut, lalu mengangkat tubuhnya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
Tanpa suara, aku keluar kamar dan melangkah menuju kamar Kanon-san.
"Biar saya yang ambil alih."
Meskipun aku sudah membuat janji dengan Kanon-san untuk menitipkan Emma-chan di jam segini, yang berdiri menjaga di depan kamarnya layaknya seorang penjaga gerbang justru Kaguya-san, dengan kedua tangan yang sudah terulur ke arahku.
Mungkin karena dia merasa tidak pantas memperlihatkan wajah bangun tidur tuannya yang masih seorang gadis muda kepadaku. Namun, tebersit keraguan di benakku: Kalau Kaguya-san yang mengambil alih Emma-chan dan bukan Kanon-san, bukankah nanti Kanon-san akan merajuk lagi?
Akan tetapi, melihat kantung mata dan aura intimidasi Kaguya-san yang jauh lebih menyeramkan dari biasanya—mungkin akibat kurang tidur—aku tidak berani membantah dan dengan patuh menyerahkan Emma-chan ke pelukannya.
"Kalau dia bangun dan sadar kami tidak ada, dia pasti akan meronta-ronta, jadi kalau situasinya mulai tak terkendali, tolong jangan sungkan untuk menelepon saya. Kami akan segera pulang."
Untungnya, apartemen kami letaknya sangat dekat dari sini, dan kalau tidak dibangunkan, Emma-chan biasanya akan tidur sampai siang.
Jika situasinya benar-benar di luar kendali, pulang adalah jalan terbaik.
Meski aku akan merasa sangat bersalah pada Char kalau sampai itu terjadi...
Ya, aku hanya bisa percaya dan berharap Kanon-san serta Kaguya-san bisa menanganinya dengan baik agar skenario itu tidak terjadi...
"............"
"...? Ada apa?"
Melihat Kaguya-san yang sudah mendekap Emma-chan terus menatap tajam ke arah wajahku, aku bertanya karena penasaran.
Lalu――
"Kegagalan tidak akan dimaafkan."
――Dia mengancamku dengan kalimat yang sarat akan emosi mendalam.
Ah, iya, saya paham maksud Anda...
Artinya dia sudah tahu semuanya, kan...
Yah, kalau kami pergi berduaan lalu sampai menginap segala, situasinya memang sudah sangat terbaca, sih.
Tapi tetap saja, melihat orang ini sampai turun tangan langsung untuk memberiku peringatan, dia pasti benar-benar sangat terganggu dengan 'aktivitas malam' Char selama ini...
"Saya akan berusaha..."
Dengan perasaan penuh rasa bersalah, aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"――Ah...!"
Setelah mencuci muka dan merapikan rambut, aku pergi ke ruang tengah dan melihat Char yang sudah berdandan rapi sedang duduk menungguku di sofa.
Begitu melihat wajahku, dia berlari kecil menghampiriku dengan raut wajah gembira.
"Selamat pagi. Kamu bangun pagi sekali, ya?"
Kukira ini adalah jam bangun normal untuknya, tapi melihat dia yang sudah siap sepenuhnya, sepertinya dia bangun jauh lebih awal dariku.
" Anu... karena terlalu menantikan hari ini, aku jadi tidak bisa tidur nyenyak..."
Char menempelkan kedua tangannya di pipi yang sedikit merona merah karena malu.
Uhm, yakin alasan kamu nggak bisa tidurnya cuma karena itu~? batinku.
Namun karena posisiku saat ini adalah berpura-pura tidak tahu apa-apa, aku tidak mungkin mengatakannya secara langsung.
Lagi pula, rasanya terlalu kasihan kalau aku sampai mengungkitnya.
" Aku akan segera bersiap-siap, ya."
Karena aku belum berganti pakaian, aku bergegas kembali ke kamarku untuk memakai baju kencan.
Setelah selesai dan kembali ke ruang tengah, Char dengan gembira langsung memeluk lenganku.
Anehnya, dia membawa sebuah tas jinjing besar yang terlihat penuh sesak, tersampir di bahunya.
"...Bawaanmu, bukannya terlalu banyak?"
Meski kami berniat menginap semalam, tas itu jelas terlihat terlalu besar.
Merasa heran, aku pun menanyakannya pada Char.
" Ah... tapi, ini semua barang-barang yang diperlukan, kok..."
Barang yang diperlukan, ya.
Diperlukan untuk
apa, tuh...?
Apakah tidak sopan jika aku memikirkan hal semacam itu?
Kalau menyangkut pengetahuan soal 'hal-hal itu', Char jauh lebih berpengalaman dariku, jadi bisa saja tas itu berisi benda-benda yang bahkan tidak pernah terlintas di imajinasiku.
Gawat, aku mulai sedikit ketakutan sekarang.
Bukan tidak mungkin dia berniat menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan seluruh rasa frustrasinya selama ini...
Di balik penampilannya yang terlihat lembut, Char terkadang bisa bersikap usil dan sedikit sadis...
Waktu Livy ada di sini saja, dia membalas kejahilan temannya itu tanpa ampun.
"Pasti berat, kan. Sini kubawakan."
Bukan bermaksud mencari muka atau berusaha menyenangkan hatinya――tapi melihat ukuran tas itu, aku merasa lebih baik aku yang membawanya, jadi aku mengulurkan tanganku kepada Char.
"Ini ringan kok, jadi tidak apa-apa."
"Benarkah? Tapi bahaya lho kalau nanti kamu kehilangan keseimbangan."
Char sempat menolaknya, namun jika tidak hati-hati, tas itu bisa tersangkut di suatu tempat saat berjalan, atau membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Mungkin karena dia merasakan kekhawatiranku, dia pun dengan patuh menyerahkannya kepadaku.
Saat kuangkat, ternyata memang terasa lumayan ringan untuk ukuran tas sebesar itu.
Apakah isinya ini baju semua?
" Anu... hari ini, aku akan berusaha keras agar bisa memuaskanmu..."
Sadar bahwa aku mulai curiga dengan isi tasnya, Char sedikit berjinjit, mengembuskan napas yang terasa panas, lalu membisikkan kalimat itu di telingaku.
Sepertinya,
tombol di dalam dirinya sudah sepenuhnya menyala.
"Jangan terlalu memaksakan diri, ya..."
Sebenarnya aku sudah bisa menebak apa isinya, tapi yang jadi masalah adalah jumlahnya.
Tas sebesar ini sampai penuh sesak, berarti isinya bukan cuma satu atau dua potong baju saja.
Aku tidak tahu ada berapa banyak pakaian di dalamnya, tapi dengan membawa sebanyak ini, artinya Char berniat mengenakan semuanya dalam satu malam ini.
Ya ampun, sebenarnya dia berniat melakukanya sampai berapa ronde, sih...?
Memikirkannya saja sudah membuatku merinding.
Sambil bergidik ngeri, aku dan Char melangkah keluar rumah.
"Masih ada waktu sebelum toko-tokonya buka, bagaimana kalau kita taruh barang-barang ini di apartemen dulu baru mulai kencannya?"
Rencanaku hari ini adalah: bersantai sebentar di apartemen, lalu pergi kencan berbelanja untuk menghabiskan waktu menyenangkan bersama Char, membeli bunga tulip merah, merah muda, dan ungu, memberikannya pada Char, dan terakhir kembali bersantai di apartemen untuk menutup hari.
Alasan kenapa aku belum membeli bunga tulipnya adalah karena jika aku pergi membelinya sekarang, Char pasti akan bersikeras untuk ikut. Dan kalaupun aku berhasil membelinya sendiri, masih ada risiko bunga itu akan ketahuan oleh Emma-chan jika kusimpan di rumah, yang ujung-ujungnya akan bocor ke telinga Char.
Terlebih lagi, aku kurang pandai menjaga kesegaran bunga, jadi kupikir akan jauh lebih baik jika aku membelinya di tengah-tengah kencan lalu langsung memberikannya padanya.
Kalau Char senang menerimanya, suasana romantis pasti akan terbangun dengan sendirinya menuju malam hari――begitulah pikirku.
"Untuk hari ini, anu... bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan bersantai di apartemen saja seharian penuh...? Lagipula, Kanon-oneesan dan yang lainnya sepertinya sudah menyiapkan bahan makanan dan kebutuhan lainnya di sana sejak kemarin..."
Ternyata, dia sudah selangkah lebih maju dariku.
Wah, anak ini pergerakannya benar-benar terlalu cepat!!
Aku sama sekali tidak menyangka dia sudah mempersiapkannya sampai sejauh ini...!
Memang sih, itu juga berkat kepedulian Kanon-san dan yang lainnya yang ikut membantu, tapi tetap saja aku terkejut.
Dan yang terpenting――menghabiskan waktu seharian penuh di apartemen, itu artinya demikian, bukan?
Benar juga, ya... Mengingat dia sampai harus memuaskan dirinya sendiri setiap malam dengan khayalan seliar itu, berarti batas kesabarannya memang sudah benar-benar habis...
Situasi menjadi seperti ini memang sangat bisa dimaklumi...
"Kita tidak jadi kencan di luar?"
Untuk berjaga-jaga, aku menanyakannya sekali lagi.
"Karena aku malu... tolong jangan paksa aku mengatakannya..."
Dan sudah bisa dipastikan, dugaanku sama sekali tidak meleset.
Fuuuh... yah, tidak ada pilihan lain selain membulatkan tekad.
Tidak apa-apa, sudah lama sejak terakhir kali kami melakukannya, jadi staminaku pasti masih mencukupi.
"Kalau begitu, mari kita berangkat ke apartemen."
Setelah memantapkan hati, aku tersenyum lembut pada Char.
Melihat hal itu, salah satu lengan Char yang sedari tadi memeluk lenganku meluncur turun, lalu jari-jemarinya mulai bertaut erat dengan jari-jariku.
Dengan sorot mata yang terasa panas, dia menatap lurus ke arahku dan berkata――
" Ayo berangkat..."
――Sembari menarik tanganku perlahan, seolah menyiratkan pesan bahwa dirinya sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi.
â—†
"Kalau begitu, aku mandi shower duluan, ya..."
Begitu sampai di apartemen dan meletakkan barang bawaan, Char langsung mengatakannya tanpa tedeng aling-aling.
Meski aku sudah menduganya, aku tetap sedikit terkejut dia langsung menuju kamar mandi begitu kami tiba...
Apalagi, alih-alih berendam air panas, dia lebih memilih untuk mandi shower
agar lebih cepat, yang menandakan betapa tidak sabarnya dia saat ini.
"Tenang saja, setelah bangun tidur tadi pagi aku sudah mandi berendam di rumah, kok..."
Mengira aku diam karena memikirkan hal lain, Char berusaha meyakinkanku bahwa dia sudah membersihkan diri dengan baik di rumah, jadi mandi shower pun sudah cukup untuk membuatnya bersih.
Padahal aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal itu, tapi ternyata dia sudah sempat mandi sekali tadi pagi...
Pantas saja, saat kami berdekatan tadi aroma sampo yang menguar darinya terasa lebih harum dari biasanya.
"Kalau begitu, kamu tidak perlu mandi shower lagi, kan?"
Walau kami sempat berjalan di luar, saat ini sedang musim dingin.
Kami sama sekali tidak berkeringat, jadi tidak ada keharusan baginya untuk mandi lagi.
Tentu saja, aku sebagai pria tetap harus membersihkan diri dulu agar lebih pantas.
"Tidak bisa, ini adalah hal yang sangat penting..."
Namun, Char sepertinya bersikeras untuk tetap mandi.
Yah, namanya juga perempuan, dia pasti sangat memedulikan hal-hal semacam ini.
Lagi pula, kami punya banyak waktu――atau lebih tepatnya, waktu kami masih terlalu banyak, jadi lebih baik aku membiarkannya melakukan apa pun yang dia mau.
"Begitu ya, aku mengerti. Tapi... kamu tidak mau mandi bersama?"
Aku mengerti perasaannya.
Namun di sisi lain, aku sedikit menyayangkan keputusannya untuk mandi sendirian.
Toh, saat pertama kali kami melakukannya dulu kami juga mandi bersama, dan sebagai seorang pria, wajar saja kalau di saat-saat seperti ini aku ingin mandi berdua dengannya.
Akan tetapi, Char menggelengkan kepalanya.
"A-kun pasti akan menjahiliku di
shower... Karena ini sudah lama sejak terakhir
kali kita melakukannya, kita mandi terpisah saja."
Char menggembungkan pipinya sedikit sambil menatapku dengan tajam.
Ternyata dia masih dendam soal kejadian di kamar mandi waktu itu, ya...
Kalau ditanya apakah aku berjanji tidak akan mengulanginya, aku tidak bisa mengangguk mengiyakan. Bahkan, karena reaksi Char waktu itu sangat menggemaskan, aku sangat yakin aku akan mengulanginya lagi.
Habisnya... melihat Char yang kalang kabut dan kepekaan tubuhnya meningkat di bawah guyuran air
shower itu benar-benar sangat, sangat imut...
Malah sejujurnya, aku punya keinginan kuat untuk melihatnya lagi.
Meskipun begitu, aku benar-benar tidak menyangka aku akan ditolak seperti ini...
"............"
"A-kun?"
Mengingat kembali kenangan saat kami mandi bersama, tebersit sebuah ide di kepalaku. Aku pun perlahan melangkah mendekati Char.
Lalu, sambil mendekapnya dengan lembut, aku membisikkan sesuatu padanya――
"Benar-benar tidak boleh, nih...?"
――Aku mencoba mengetuk hati nuraninya.
"Hyaaa!? Su-sudah kubilang, jangan bicara tepat di sebelah telingaku...!"
Char yang telinganya sangat sensitif, gemetar dan mencoba meronta.
Anak ini, setiap reaksinya benar-benar menggemaskan...
"Padahal aku cuma bicara biasa, lho?"
"Hyuu...! H-Hembusan napasmu mengenai telingaku, rasanya geli tahu...!
Jangan jahil, deh...!"
"Fuuuh."
"Hyaaaaaaa!?"
Tergoda oleh keisenganku sendiri, aku mencoba meniupkan napas ke telinganya. Reaksi Char jauh lebih heboh dari saat kami berada di kafe waktu itu, tubuhnya gemetar hebat dan dia bahkan sampai memekik.
"A-a-apa yang kamu lakukan...!?"
"Maaf, aku cuma penasaran pengen coba..."
"Telingaku ini benar-benar sensitif, tahu...! Jangan diulangi lagi, ya...!?"
Sambil memegangi telinganya dengan wajah merah padam, Char mengomeliku panjang lebar――tapi melihat ekspresinya, sepertinya dia tidak benar-benar membencinya.
Apa dia sungguhan tidak suka?
Terlebih lagi――jika hanya ditiup saja reaksinya sudah seheboh ini, bagaimana jadinya jika aku menjilatnya? Rasa penasaran pun mulai menguasai benakku.
"Sudah kuputuskan, kita tidak akan mandi bersama...! Aku yakin A-kun pasti akan menjahiliku habis-habisan kalau kita mandi bersama...!"
Setelah mengatakan itu, Char melepaskan diri dari pelukanku.
Kalau dia sampai bilang begitu, ini malah terdengar seperti ajakan terselubung untuk mandi bersama――seperti pelawak yang bilang
'Jangan didorong, jangan
didorong!' padahal aslinya minta didorong... tapi firasatku mengatakan lebih baik aku berhenti menjahilinya sekarang.
Bagaimanapun juga, hari ini adalah hari untuk melepaskan segala ketidakpuasan dan rasa frustrasinya.
"Baiklah, aku akan menunggu."
Mendengar jawabanku, Char segera membawa tas jinjingnya dan masuk ke area ruang ganti kamar mandi.
Lalu, sembari aku duduk dengan tenang di lantai menunggu gilirannya selesai――
"Maaf membuatmu menunggu..."
――Char muncul dengan balutan gaun Cheongsam (baju khas Tiongkok) berwarna hitam.
Itu adalah salah satu kostum yang pernah ia kenakan sebagai hukuman kekalahan saat bermain Hanetsuki (badminton tradisional Jepang).
Sedikit yang berbeda dari sebelumnya, kali ini dia tidak memakai hiasan rambut berbentuk cepol, melainkan membiarkan rambutnya tergerai lurus ke bawah seperti biasa.
Rupanya, isi tas jinjingnya yang penuh sesak itu adalah sekumpulan kostum cosplay.
"Hari ini, kamu mau melakukannya sambil pakai kostum ini?"
Meski pertanyaanku mungkin terdengar konyol karena dia jelas-jelas sudah memakainya, namun aku tidak mungkin mengabaikan usaha Char yang sudah repot-repot berdandan.
"Waktu pertama kali aku memakainya, A-kun sepertinya sangat menyukai kostum ini... Lagipula, kamu kan suka bagian kakiku...?"
Dengan wajah memerah dan mata yang sedikit berkaca-kaca menahan malu, Char memperlihatkan paha putihnya yang mulus dari balik belahan gaun Cheongsam-nya.
Yah, walau aku berpikir dia tidak perlu memaksakan diri sejauh itu... tapi melihatnya berusaha keras demi membuatku senang membuat dadaku terasa hangat.
Rasanya aku ingin langsung mendorongnya rebah saat ini juga――tapi biar bagaimanapun, aku juga harus mandi
shower dulu.
" Aku sangat senang kamu mau melakukan semua ini untukku. Kalau begitu, aku akan segera mandi shower dulu――"
"Tunggu sebentar..."
Tepat setelah aku berjalan melewatinya.
Tiba-tiba Char memelukku dari belakang, mencegahku melangkah menuju ruang ganti.
"Eh, ada apa...?"
" Aku... sudah tidak tahan lagi... Ayo kita ke tempat tidur...?"
Char yang menahanku pergi ke kamar mandi, mengajakku ke ranjang dengan wajah merah padam seolah sedang dilanda demam.
Mendengar ajakan yang sangat berani dari gadis pemalu sepertinya, aku tanpa sadar menelan ludah.
" Anu... tapi, kalau aku tidak membersihkan badan dulu kan kotor..."
"Kalau A-kun tidak apa-apa... Aku sudah digantung selama hampir dua bulan...
Aku sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi..."
Char menggosok-gosokkan wajahnya ke punggungku, berusaha sekuat tenaga untuk membawaku ke ranjang.
Melihat keputusasaannya, sepertinya batas kesabarannya benar-benar sudah habis.
"Kalau begitu... ayo kita ke kasur..."
Aku pun menuruti kemauan Char dan melangkah menuju kamar tidur.
Dan pemandangan yang menyambutku adalah――sebuah ranjang yang entah kenapa telah dilapisi seprai putih bersih layaknya di kamar hotel.
" Ah... aku berpikir untuk membuatnya terasa sedikit seperti di hotel... jadi aku mengganti seprainya tadi."
Rupanya, ini semua adalah persiapan Char yang sedang berbunga-bunga.
Tampaknya isi tas besar itu bukan sekadar kostum
cosplay saja.
"Terima kasih sudah repot-repot menyiapkannya, ya."
Di tengah kebingunganku, aku tersenyum dan berterima kasih pada Char agar kegugupanku tidak ketahuan.
Char menarik-narik ujung bajuku, dan hanya dengan tatapan matanya ia seolah menuntut, 'Cepatlah...'
Di saat-saat seperti ini Char memang biasanya lebih agresif, tapi hari ini dia terasa jauh lebih menuntut dari biasanya.
Aku membawa Char duduk di ranjang, lalu mulai kebingungan menentukan langkah selanjutnya.
Apakah menidurkan Char adalah pilihan yang tepat, atau membiarkannya bersandar padaku seperti sebelumnya?
Saat aku sedang bimbang――Char kembali menarik bajuku.
Sembari memejamkan mata, ia sedikit mengangkat dagunya.
Seolah ia mengisyaratkan bahwa di saat seperti ini, ciuman adalah langkah pertamanya.
"――Amuh... nnn..."
Begitu bibir kami bersentuhan, Char melingkarkan lengannya di belakang kepalaku dan mulai membelitkan lidahnya duluan.
Karena akhir-akhir ini kami jarang melakukannya, rasanya ada sedikit sensasi rindu.
Awalnya Char membelitkan lidahnya dengan agresif, tapi mungkin karena perlahan mulai merasa puas, tautannya berubah menjadi lembut dan penuh manja.
Aku membiarkannya sampai ia merasa puas――dan tak lama kemudian, Char melepaskan tautan bibir kami.
"Muuu..."
"Eh, kenapa pipimu menggembung begitu...?"
Kukira dia sudah merasa puas, tapi Char malah menatapku dengan sorot mata tak puas, membuatku jadi serba salah.
"Padahal sudah lama kita tidak begini... tapi A-kun sama sekali tidak menginginkanku..."
Ternyata ketidakpuasan Char berasal dari fakta bahwa hanya dia yang agresif menggerakkan lidahnya, sementara aku hanya pasif menerima.
Apakah dia ingin aku menuntutnya dengan lebih buas...?
"Bisa berciuman dengan Char, aku sangat senang lho...?"
"Bukan itu maksudku... Padahal ini pertama kalinya setelah hampir dua bulan, tapi A-kun terlihat biasa saja..."
Ah, maksud dari 'sudah lama' itu yang
itu, ya...
Intinya, Char tidak suka melihatku tetap tenang padahal ini adalah pertama kalinya kami bersentuhan lagi setelah dua bulan.
Atau lebih tepatnya, dia tidak suka hanya dirinya sendiri yang terbakar gairah.
Siapa pun pasti ingin pasangannya memiliki tingkat gairah yang sama saat melakukan hal semacam ini.
Tapi, asal tahu saja――aku terlihat tenang karena aku memang sedang berusaha keras mempertahankannya...
Lagipula, Char itu terlalu menggemaskan dan terlalu cantik, jadi kalau aku tidak mengendalikan diriku dengan akal sehat, aku takut akan melakukan hal yang gila padanya.
Sepertinya usahaku itu sama sekali tidak tersampaikan kepada Char.
"Kelihatannya saja begitu, aslinya aku juga sudah menahan diri mati-matian, lho...?"
"Seperti yang pernah kubilang sebelumnya, tolong jangan menahan diri... Aku justru lebih senang kalau kamu menginginkanku..."
Char kembali menggosokkan wajahnya ke tubuhku.
Sungguh, kalau aku tidak menahan diri, ini bisa jadi gawat...
Lagipula, sama seperti Char yang digantung selama dua bulan, aku pun sebenarnya digantung selama hampir dua bulan...
Malahan, berbeda dengan Char yang bisa melepaskannya sendiri setiap malam, aku sama sekali belum melampiaskannya――yang artinya, gairahku sudah sangat menumpuk.
" Aku tidak tanggung jawab lho, ya...?"
" Aku tidak keberatan..."
Dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti gairah, Char merebahkan tubuhnya ke kasur.
Ia seolah mengatakan secara tersirat untuk membiarkanku melakukan apa pun sesukaku.
Meski Char memberiku jawaban atas kebingunganku tadi, ditantang dengan posisi bersiap seperti ini justru menjadi cobaan berat bagi pria dengan pengalaman dan pengetahuan minim sepertiku.
Setidaknya, melalui percobaan sebelumnya, aku sudah hampir sepenuhnya hafal di mana saja titik-titik sensitif Char...
" Aku akan melakukannya dengan lembut, ya..."
"Sudah kubilang, lakukanlah sesukamu..."
Saat aku memberi tahu niatku sebelum menyentuh dadanya, ia membalas dengan suara yang sedikit mengandung iritasi.
Ah, dari nadanya aku bisa merasakan bahwa batas kesabarannya benar-benar sudah di ujung tanduk.
"Nn..."
Saat aku meletakkan tangan kananku dengan lembut di dada kirinya, embusan napas yang menggoda lolos dari bibir Char.
Dia tidak memakai pakaian dalam, ya... Pikirku dalam hati, sementara Char menutupi mulut dengan punggung tangan kanannya untuk mencegah suaranya keluar.
Namun, hanya dengan usapan lembut dari telapak tanganku, napas panasnya terus mendesah keluar.
Melihat betapa sensitifnya dia, apa tidak apa-apa kalau aku melakukannya dengan kasar...?
Rasa khawatir itu memang ada, tapi kalau aku terlalu berhati-hati, Char akan marah lagi. Oleh karena itu, aku merangsang puncak dadanya dengan kuku jari, titik di mana ia memberikan reaksi yang sangat bagus sebelumnya.
" Ah!? Nnn...!"
Mungkin tak menyangka aku akan langsung mengincar bagian itu, Char memekik kaget dan dengan panik menutupi mulutnya erat-erat.
Terpancing oleh sosoknya yang berusaha keras menahan suara, aku menstimulasi kedua sisinya secara bersamaan dengan kedua tanganku―― "Tu-tunggu...! Kalau dua-duanya nnnn! I-itu curang...!"
――Tak kuasa menahan rasa nikmat, Char menyuarakan protesnya.
Tapi, aku sudah tahu.
Di saat-saat seperti ini, Char justru akan memasang wajah sedih kalau aku menghentikannya.
Lagipula, memang begitulah yang terjadi di pengalaman sebelumnya.
"Bukannya Char sendiri yang bilang aku boleh melakukan sesukaku?"
"T-tapi ini, aahh...! A-kun tidak sedang menikmatinya...! Anda cuma bermaksud membuatku nnn...! Membuatku merasakan nikmatnya saja, kaaannn...!"
Eh, bukankah memang begitu tujuannya...!?
Normalnya, melakukan ini memang bertujuan untuk membuat pasangan merasa nikmat, kan...!?
――Meski aku tidak paham maksud dari protes Char, setidaknya dari kata- katanya bisa disimpulkan bahwa ia merasa nikmat. Karena itu, aku tidak memedulikannya dan terus melanjutkannya.
"A p a kau mendengarkanku...!?"
Dan melihatku yang enggan berhenti, Char memprotes seraya tubuhnya bergetar hebat.
Memang ada gerakan seolah dia mencoba kabur dari tanganku, tapi untuk gadis ini, sangat sulit membedakan apakah itu akting atau sungguhan.
Toh, sebelumnya aku sudah membuktikan bahwa dia hanya bilang tidak suka di mulut saja padahal aslinya tidak keberatan...
"Kalau Char merasa nikmat, aku juga merasa senang..."
"Uuuh... tapi kalau cuma aku yang disentuh begini, akuuu...!"
Char menggelengkan kepalanya seraya bergerak dengan gelisah mencoba melepaskan diri.
Namun anehnya, ia sama sekali tidak berusaha menyingkirkan tanganku.
Yep, kesimpulanku sudah bulat; dia hanya bertingkah seperti ini karena malu.
"Kamu suka diginikan, kan?"
"――Ugh."
Saat aku mengintip wajahnya dan bertanya, mata Char terbelalak lebar.
Entah dia tidak menyangka aku akan melontarkan pertanyaan seperti itu, atau karena tebakanku tepat sasaran.
"Ti-tidak mau... kalau aku dibuat klimaks secepat ini... a-aku malu...!"
Char berusaha mati-matian menahan suaranya, secara tak langsung memberitahuku bahwa ia sudah hampir mencapai pelepasannya.
"Melihatmu merasakan nikmat itu sangat menggemaskan, dan aku juga senang melihatnya, jadi kamu tidak perlu memikirkannya, lho?"
" Aaah! Jangan...! Kalau kamu bilang begitu sekarang... tidak boleeehh...!
Aaaaaaaa!"
Seketika, tubuh Char tersentak hebat.
Tanpa melebih-lebihkan, sepertinya ia baru saja mencapai pelepasannya hanya dengan sentuhan di bagian dadanya.
"Uuu..."
"Jangan terlihat seperti mau menangis begitu... Lihat kan, kamu benar-benar menggemaskan..."
Melihat Char yang menutupi matanya dengan kedua tangan, rasa bersalah menderaku, membuatku mencoba menghiburnya.
"Bisa klimaks secepat ini... aku benar-benar tidak tahu malu. Padahal kamu baru menyentuh dadaku..."
"Kukira kamu tidak perlu memikirkannya..."
"Hiks..."
Karena terlalu merasa malu, Char menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Padahal dia sungguh menggemaskan...
"――Anu..."
Saat aku sedang menatap Char yang sedang malu-malu, tak lama kemudian ia mengeluarkan separuh wajahnya dari balik bantal, menutupi mulutnya, dan berbicara padaku dengan tatapan ke atas.
"Ya?"
"Eetto... ini karena, anu... Karena sudah hampir dua bulan kita tidak melakukannya, ini semua karena itu, ya...? Aslinya, aku bukanlah gadis yang semesum ini..."
Sepertinya Char sedang mencari-cari alasan mengapa dia bisa mencapai klimaks secepat itu.
Mengenai hal itu... um... aku sangat yakin itu bohong.
Habisnya, setiap malam dia selalu memuaskan dirinya sendiri...
Malah aku ragu, jangan-jangan kepekaannya ini justru disebabkan oleh rutinitas malamnya itu. Namun, karena takut dia akan benar-benar menangis jika kuucapkan, aku memilih untuk bungkam.
"A-kun lah yang telah mengubah tubuhku menjadi seperti ini..."
"Begitu, ya..."
Bisa-bisanya gadis ini melimpahkan kesalahannya pada orang lain, luar biasa...
batinku sambil mengangguk.
Di dalam hati, aku merasa sifatnya memang sudah seperti ini dari sananya...
tapi kalau Char ingin menganggapnya begitu, biarlah begitu adanya.
"Iya... jadi, kamu harus bertanggung jawab, ya...?"
"Tentu saja, aku berniat bertanggung jawab penuh."
Padahal kami sudah bertunangan, jadi aku bingung tanggung jawab apa lagi yang dia maksud――tapi yang jelas, aku berniat untuk membahagiakan Char seumur hidupnya.
Jadi, apa pun itu tidak jadi masalah.
Lagipula, ucapannya barusan pasti hanya untuk menutupi rasa malunya.
"Boleh kulanjutkan?"
" Ah... iya..."
Saat aku memastikannya, Char mengangguk kecil dengan raut malu.
Kukira dia akan terus menutupi wajahnya dengan bantal, tapi dia dengan patuh menyingkirkannya ke samping.
Jangan-jangan, anak ini sebenarnya juga menikmati rasa malu itu...?
Meskipun pengetahuannya luas, dari segi pengalaman dia seharusnya sama- sama pemula sepertiku, tapi entah kenapa aku merasa dia sudah naik level ke tingkat mahir.
"...Ugh. Kamu mau melakukan yang di sebelah sana, ya..."
Karena dari tadi aku hanya menyentuh bagian dadanya, saat tanganku menyusup ke bagian bawah tubuh Char, otot-ototnya sontak menegang.
Sepertinya bagian bawah membuatnya jauh lebih gugup ketimbang bagian atas.
――Ah, ternyata dia pakai pakaian dalam untuk yang bawah...
Saat aku menyusupkan tanganku melalui belahan
Cheongsam-nya, aku bisa
merasakan tekstur kain di sana.
Fakta bahwa ia membedakan pemakaian untuk atas dan bawah, benar-benar membuktikan bahwa tingkat pengetahuanku tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.
"I-itu karena tadi kamu hanya menyentuh dadaku terus...!"
" Aku belum bilang apa-apa, lho..."
Mungkin mengira aku sedang membatin 'Wah, sudah basah', Char buru-buru mengklarifikasinya lebih dulu, membuatku tanpa sadar tersenyum masam.
"...Fuh... nnn..."
Sama seperti tadi, saat aku mengusap bagian bawahnya dengan lembut menggunakan jari, Char langsung membungkam mulutnya dengan punggung tangan.
Sembari merasakan sensasi gairah melihat tingkahnya yang menggemaskan, aku menggeser jariku menuju titik sensitifnya.
Bahkan, berkebalikan dengan bagian dadanya, aku menggerakkan kukuku dari bawah ke atas.
"...! ...! ...!"
Dalam sekejap mata Char berlinang air mata. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan seraya tubuhnya menggeliat hebat.
Saat di bagian dada saja ia sudah sangat merasakannya, sentuhan di bagian bawah ini sepertinya membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Sepertinya tidak sakit, kan...?
Sambil menggerakkan tanganku dan mengamati reaksi Char, aku merasa lega karena dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan.
Dan akhirnya, tak kuat menahan lebih lama, Char mengerang penuh nikmat seraya tubuhnya melentik hebat――setelah itu, aku perlahan melepaskan pakaian bawahnya.
Tentu saja, Cheongsam-nya tetap kubiarkan menempel di tubuhnya.
Char sudah bersusah payah melakukan cosplay, rasanya terlalu kasihan jika aku langsung melepasnya.
Selain itu, aku juga murni ingin menikmati pesona Char dalam balutan Cheongsam itu.
Begitulah. Dengan memanfaatkan apa yang kupelajari dari pengalaman sebelumnya, aku tanpa ragu menyerang titik-titik sensitif Char. Setelah membuatnya mencapai pelepasan berkali-kali――saat aku menatap Char yang terengah-engah dengan wajah merah padam dan berlinang air mata, sebuah ide eksperimen tiba-tiba terlintas di kepalaku.
"Kalau yang seperti ini, bagaimana?"
"Eh――Hyaaaaaaa!?"
Setelah melumuri jari tengah dan ibu jariku dengan cairan madunya, aku menjepit titik sensitifnya lalu menggeseknya naik turun.
Seketika, jeritan nikmat yang jauh lebih keras lolos dari bibir Char.
" Aaaaa j-jangaaaan...! Y-yang iniiii aaaaaa b-benar-benar tidaaaakkkk boooleeeehh...! J-jangan digesek-gesek seperti iitttuuuuu!"
Char yang dari tadi sudah kehabisan napas, kini meronta-ronta dengan liar mencoba melepaskan diri dari tanganku.
Suara dan kata-katanya hancur berantakan dibanding sebelumnya, pertanda bahwa rangsangan ini teramat sangat kuat baginya.
"Eetto... maaf..."
Karena sepertinya ini bukanlah akting pura-pura menolak, aku pun menghentikan tanganku. Char seketika terkapar lemas dengan pandangan mata yang tidak fokus.
Tanpa diragukan lagi, sepertinya aku sudah bertindak terlalu jauh...
"Sakit, ya...?"
Karena aku tidak mengerti persis apa arti reaksinya, aku mengintip wajah Char yang sedang dalam kondisi setengah linglung.
"I-ini... tidak boleh... Rangsangannya... terlalu kuat... aku tidak sanggup..."
Dengan pandangan yang masih belum fokus, Char menjawab pertanyaanku dalam kondisi setengah linglung.
Sepertinya bukan karena sakit, melainkan karena tingkat rangsangannya berada di luar batas yang bisa ditanggung Char.
Mungkinkah dia akan bisa menerimanya kalau kubiasakan sedikit demi sedikit...?
Pertanyaan itu terlintas, tapi sepertinya untuk hari ini lebih baik aku tidak melakukannya lagi.
Melihat Char kehilangan akal sehatnya sampai sejauh itu memang pemandangan langka, tapi kalau itu menyiksanya, maka itu adalah hal yang tidak boleh kulakukan.
"Kamu tidak apa-apa...?"
Aku membaringkan kepalanya di atas bantal, lalu bertanya sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
" Aku... ingin istirahat sebentar... Dari tadi... Kamu terus-terusan membuatku klimaks... tubuhku tidak kuat..."
Char memohon dengan suara lemah, namun saat mendengar kata-katanya, satu hal yang terlintas di benakku:
Ah, ternyata dia masih mau melanjutkannya...
Seperti yang diharapkan dari seseorang dengan libido yang luar biasa tinggi.
Dulu juga dia seperti tidak ada habisnya...
Tapi, rangsangan tadi ternyata cukup kuat untuk membuat Char yang seperti itu langsung tumbang dalam sekali serang, ya...
Hmm...
" Anu... sudah kubilang yang tadi tidak boleh lho, ya...? Setidaknya, biasakan aku perlahan-lahan kalau Anda mau melakukannya..."
Seakan peka menyadari bahwa aku mulai mempertimbangkan opsi itu untuk masa depan, Char menatapku tajam.
Bahkan tatapan merajuknya pun terlihat imut, Char benar-benar curang.
"Jadi, boleh ya kalau kubiasakan perlahan?"
"Kalaupun aku bilang tidak boleh, Anda pasti akan tetap melakukannya, kan...?"
Char kembali menyipitkan matanya penuh curiga ke arahku.
Sepertinya dia sudah mencapku sebagai orang yang jahil saat di ranjang.
Mengetahui reaksi seperti apa yang ia tunjukkan tadi, dia pasti yakin aku akan mengulanginya lagi.
Yah... kalau Char kelihatannya sanggup, kemungkinan besar aku tidak akan tahan untuk tidak melakukannya, sih.
" Akan kita diskusikan nanti."
"Tuh kan, Kamu tidak bilang tidak akan melakukannya..."
Sembari menggumamkan keluhannya, Char mengubah posisinya sehingga bagian kakinya mengarah kepadaku.
Saat aku diam memperhatikan tindakannya, Char menatap lurus ke mataku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yah... fakta bahwa dia sengaja mengarahkan kakinya padaku adalah sebuah kode keras.
Aku pun melepaskan pakaianku, mengenakan pengaman, lalu memisahkan kedua kaki Char dengan tanganku.
Dihadapkan pada pemandangan yang begitu memancing gairah, aku menelan ludah. Char yang wajahnya sudah memerah sempurna menatapku dari bawah.
"To-tolong lakukan dengan perlahan, ya...? Ini hampir dua bulan sejak terakhir kali, dan saat ini tubuhku benar-benar sangat sensitif..."
" Aku mengerti..."
Aku mengangguk menyetujui permintaannya, dan sesuai janjiku, aku perlahan- lahan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya.
Tapi――kalau dibilang perlahan, seberapa lambat 'perlahan' yang benar itu...?
Di pengalaman pertama dulu, aku berpikir kalau terlalu lambat justru akan membuatnya kesakitan, jadi aku mendorongnya dalam satu sentakan kuat...
Dan keragu-raguanku saat bergerak itulah yang menjadi petaka.
Saat aku sudah menyentuh pintu masuknya dan bergerak dengan sangat hati- hati... mungkin karena perpindahan berat badanku, kaki Char yang berpijak pada lipatan seprai tiba-tiba tergelincir bersamaan dengan seprai tersebut.
Akibat seprai yang tiba-tiba tertarik kencang, tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan――alhasil, melesak masuk dengan tekanan yang sangat kuat.
"...!"
Char yang sedang menutupi mulutnya, secara refleks menekan kedua tangannya erat-erat ke mulutnya. Matanya terbelalak lebar dan ia melepaskan jeritan tertahan.
Wajahnya yang sedari tadi sudah memerah kini semakin merah padam, dan butiran air mata besar menggenang di kedua pelupuk matanya.
"K-kamu tidak apa-apa...!?"
Merasa telah melakukan kesalahan fatal, aku buru-buru mencoba menariknya keluar.
"T-tungg――Aaaaaahhh!"
Namun, saat Char bersuara mencoba menghentikanku――gerakanku lebih cepat, dan karena aku menariknya dengan kasar, Char kembali tersentak hebat.
Ugh... aku benar-benar mengacaukannya...
"――Uuu... A-kun jahat sekali...! Padahal aku sudah bilang pelan-pelan...!
Padahal aku sudah menyuruhmu menunggu...!"
Beberapa menit kemudian, setelah kesadarannya kembali, Char memukul- mukul tubuhku dengan pukulan pelan.
Sikapnya yang berubah menjadi kekanak-kanakan ini pasti karena ia merasa malu telah kehilangan kendali akibat rangsangan tiba-tiba tadi.
Syukurlah itu bukan karena rasa sakit, tapi sepertinya dia benar-benar mengambek padaku.
"Maaf..."
Aku hanya bisa meminta maaf, mengulang kata maaf yang entah sudah keberapa kalinya kuucapkan.
"Muu...!"
Tentu saja, Char tidak semudah itu memaafkanku yang telah beberapa kali melakukan kecerobohan dalam waktu sesingkat ini.
Dengan pipi yang masih menggembung, ia terus memukul-mukul tubuhku.
" Aku sungguh tidak sengaja..."
"Tetap saja itu berlebihan...! Untung saja ini aku, gadis lain tidak akan kuat menahan yang sedahsyat itu, lho...!?"
Ya, sepertinya Char benar-benar sudah kehilangan ketenangannya sampai- sampai melontarkan ucapan yang sangat keliru.
Itu sama saja dengan ia mengakui secara tak langsung bahwa ia memiliki toleransi tinggi terhadap kenikmatan. Aku takut dia akan mengurung diri karena malu saat akal sehatnya kembali nanti...
" Aku tidak akan melakukannya dengan gadis selain dirimu, kok..."
"Itu sudah pasti!!"
Gawat, apa yang harus kulakukan.
Semakin kami bicara, suhu tubuh Char sepertinya semakin memanas.
Di tengah situasi buntu tersebut――
"Pokoknya, kali ini kamu harus benar-benar melakukannya dengan lembut, ya...?"
――Seolah ingin memperbaiki mood-nya, Char kembali merebahkan dirinya di kasur.
...Gadis ini, benar-benar luar biasa...
Bagi pria sepertiku yang belum mencapai pelepasan sama sekali, ini adalah sebuah berkah, tapi... sudah yang keberapa kalinya dia menyelesaikannya hari ini...?
Dari mana sebenarnya dia mendapatkan stamina sebesar ini...?
Sembari takjub akan stamina dan gairah tunanganku yang seolah tak ada habisnya, kali ini aku bertekad untuk mendekapnya dengan penuh kelembutan.
â—†
"Kamu masih... belum merasa lapar, kan...?"
Sudah berapa jam berlalu sejak saat itu?
Char yang sedang duduk di pangkuanku dengan posisi tubuh kami yang masih menyatu, secara tersirat mengatakan bahwa ia belum ingin menyudahinya.
Berbeda dengan pengalaman pertama kami, kali ini ia sudah berkali-kali mencapai pelepasan bahkan sebelum kami sepenuhnya menyatu, jadi seharusnya staminanya sudah lumayan terkuras. Namun, ia benar-benar seakan tidak memiliki mode
off.
Beruntung karena stamina dan tenagaku masih bertahan, namun karena kami memulainya sejak pagi, hari ini masih sangat panjang.
Jujur saja, jika ditanya apakah aku bisa bertahan sampai besok pagi, sepertinya itu hal yang mustahil.
Apakah ini adalah hal yang wajar bagi sepasang kekasih pada umumnya...?
Jika iya, maka semua orang di luar sana benar-benar hebat.
Aku tulus memikirkannya.
" Aku masih aman, kok."
"Fufu... A-kun benar-benar tangguh, ya..."
Saat aku mengiyakan, Char tersenyum gembira dan mengeluarkan pengaman baru dari kotaknya.
Sekadar informasi, saat persediaan yang kubawa sudah habis, Char dengan santai tersenyum dan berkata 《Tenang saja, aku juga bawa banyak kok》 seraya mengeluarkan tumpukan kotak dari dalam tasnya... yang seketika membuatku tersenyum masam.
Tapi tetap saja... sebenarnya apa yang membuat Char bisa bertahan selama ini...?
Sembari menunggu Char memasangkan yang baru――aku yang sedari tadi menolak untuk berpikir terlalu jauh mengenai stamina Char, akhirnya mencoba merenungkannya kembali.
Lalu, ingatanku kembali pada kejadian beberapa malam yang lalu――atau lebih tepatnya, apa yang kudengar saat Char sedang memuaskan dirinya sendiri.
Saat itu, meski ia melakukannya sendiri, gerakannya terdengar sangat liar.
Terlebih lagi, bahkan setelah mencapai pelepasannya, ia sepertinya lanjut berimajinasi bahwa aku memaksanya terus-menerus... Jangan-jangan, selama ini Char merasa kurang puas saat melakukannya denganku?
Apakah karena itu dia terus-terusan memintanya...?
――Tidak, rasanya tidak ada kesimpulan lain selain itu, kan...!?
Mengesampingkan imajinasinya, dari segi pengetahuan saja aku dan Char bagai bumi dan langit.
Meskipun aku terus belajar dan menyesuaikan diri dengan melihat reaksinya, tak heran jika Char masih merasa ada yang kurang.
Jika memang begitu, masuk akal kenapa dia terus menuntut tanpa henti.
Itu artinya――aku hanya perlu bertindak sesuai dengan imajinasinya malam itu...!
"...A-kun?"
Melihatku yang akhirnya menemukan titik terang, Char memiringkan kepalanya bingung.
"Maaf ya, Char. Selama ini kamu pasti merasa ada yang kurang, kan? Kali ini, aku akan berusaha keras supaya kamu benar-benar merasa puas..."
"Eh...!? A-Anu, sepertinya kamu sedang salah paham akan sesuatu yang sangat luar biasa...!?"
Sebagai gadis yang baik hati, ia mencoba pura-pura tidak mengerti agar tidak melukai harga diriku.
Tapi sayang, aku sudah memahami segalanya――dan setelah itu, aku berusaha sebaik mungkin untuk meniru apa yang ia perankan dalam imajinasi malamnya itu.
Dan inilah hasil akhirnya――.
"――T-Tunggu! Aku sudah keluar! Aku sudah keluaaarrr! Kenapa!? Padahal dari tadi kalau aku sudah klimaks kamu akan berhenti...!"
"――Hyaaaaa! Telinga tidak boleh! Kan sudah kubilang jangan telinganya!
Kenapa malah dijilat!? Bagian itu yang paling sensitif tahu! Aaaaaahhh! Jangan bersamaan dengan bagian dalaaammmm!"
"――Maafkan aku, maafkan akau! Maafkan aku sudah memprovokasimu dengan gaun
Cheongsam ini! Aku hanya ingin dimanja! Aku ingin kamu melakukannya berkali-kali! Tapi aku salah! Tolong ampuni aku!"
"――Tidak kuat! Sudah kubilang aku tidak kuat! Kenapa! Kenapa kamu tidak mau berhenti!? Rangsangan seperti ini aku tidak bisa menahannya! Berkali- kali dibuat klimaks berturut-turut begini kepalaku bisa gila! Aaaaaaaaaaaa!"
Begitulah ceritanya. Char benar-benar kehilangan akal sehatnya, dan pada akhirnya jatuh pingsan.
Dan saat ia terbangun kembali――
"A-kun benar-benar jahat. Selain itu, kamu adalah seekor binatang buas. Kamu pasti sangat menikmati menyiksaku..."
――Begitulah keluhan yang kudapat saat kami sedang berendam bersama di bak mandi.
Yah, wajar saja.
Melihat dirinya yang pingsan bersimbah peluh dan kondisi seprai kasur yang basah kuyup, aku sendiri mengakui bahwa aku memang sedikit berlebihan.
Akan tetapi――
"Meski begitu, sudah kuduga... hanya aku sajalah yang sanggup menampung hasrat A-kun yang sebegitu kuatnya, bukan...?"
――Entah kenapa, ia malah terlihat bahagia setelah mengatakan hal itu, membuatku benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa.
Bukan hanya itu――setelah keluar dari kamar mandi dan menyantap makan siang yang sangat terlambat, apakah kami tidur untuk memulihkan stamina...?
Tentu saja tidak. Char kembali menuntut ronde kedua dengan dalih, 《Tadi aku
sempat tertidur, jadi A-kun pasti masih merasa kurang, kan...?》. Pada akhirnya, aku disadarkan bahwa menghentikan gadis ini adalah sebuah kemustahilan yang nyata.
[TLN: Mulai chapter 3, cerita nya sudah secure]
Diskusi & Komentar (0)