"Gawat juga nih..."
Sambil menatap Emma-chan yang tertidur pulas dan tampak nyaman di ranjang, aku menggumamkan kata-kata itu sendirian.
Sudah sebulan berlalu sejak Livy kembali ke Inggris――.
Aku dan Char masih belum bisa melakukannya sejak hari Natal.
Bahkan saat mengantar Livy pergi waktu itu pun Char sudah menunjukkan gelagat menuntut, jadi fakta bahwa sudah sebulan lagi berlalu sejak saat itu benar-benar gawat.
Tentu saja, kalau bisa aku juga ingin meluangkan waktu berduaan saja dengan Char.
Akan tetapi, sepertinya pekerjaan Sofia-san sedang sibuk-sibuknya, jadi sejak dia pulang ke Inggris di akhir tahun, dia masih belum bisa kembali ke Jepang.
Karena itu, Emma-chan pun akhirnya tinggal dan makan bersama kami, sehingga tidak ada celah bagiku untuk berduaan saja dengan Char.
Char juga mengerti bahwa ini adalah situasi yang tidak bisa dihindari, jadi dia sama sekali tidak mengeluh.
Hanya saja――sesekali, dia menatapku dengan sorot mata merajuk.
...Tidak, lebih tepatnya, dia
pernah menatapku seperti itu.
Akhir-akhir ini, aku tidak lagi melihat Char bersikap merajuk.
Dan hal itu justru membuatku takut.
Aku terus membuatnya menahan diri, dan tidak mungkin dia tidak merasa tidak puas――jadi dia pasti menahan rasa frustrasinya di dalam hati tanpa menunjukkannya di luar.
Setidaknya, saat kami sedang bersama pun, aku bisa merasakan kejanggalan pada sikapnya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Atau mungkin, dia sudah menyerah padaku.
Yang mana pun itu, kenyataan bahwa ini adalah situasi yang sangat gawat tetap tidak berubah.
Entah perasaanku saja atau bukan, tapi belakangan ini waktu yang dia butuhkan untuk kembali setelah keluar dari kamar kami sebelum tidur terasa makin lama, dan frekuensinya pun makin sering.
Seharusnya dia tidak mungkin pergi untuk mengeluh kepada Kanon-san dan yang lainnya, kan――.
『............』
" Ah, kau sudah kembali."
Saat aku sedang melamun memikirkan hal itu, Char perlahan membuka pintu dan mengintip ke arahku.
Seluruh tubuhnya merona merah tipis, dan rasanya seperti ada uap panas yang mengepul darinya.
Dia pasti habis mandi menggunakan shower lagi.
Karena ini sudah sering terjadi, aku jadi tidak terlalu memikirkannya lagi, tapi kalau mempertimbangkan waktu kepergiannya dan fakta bahwa dia selalu kembali setelah mandi, berarti dia sedang melakukan hal itu, kan... pikirku diam-diam.
Meski aku sama sekali tidak berani menanyakannya langsung pada orangnya.
"Tadi kau tidur duluan juga tidak apa-apa, lho?"
Apakah Char mengira aku tidak menyadari hal itu? Dia memamerkan senyuman manisnya seperti biasa padaku.
Dia lalu berjalan mendekat ke ranjang, dan duduk dengan hati-hati agar tidak membangunkan Emma-chan yang sedang tidur.
――Entah kenapa, dengan posisi Emma-chan di tengah, seolah dia ingin sengaja menjaga jarak dariku.
" Aku belum mengantuk... Lagi pula, kenapa kau duduk di sebelah situ?"
Merasa penasaran karena dia tiba-tiba menjaga jarak, aku bertanya sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Bukan apa-apa... Habisnya Emma sudah terlanjur mengambil alih posisi di tengah begini. Kasihan kalau dia sampai terbangun gara-gara aku pindahkan."
Char memberikan alasannya sambil tersenyum canggung seolah merasa serba salah.
Akan tetapi, aku menyadari bahwa itu adalah kebohongan, atau lebih tepatnya, hanya alasan belaka.
Lagipula――ini bukanlah pertama kalinya Emma-chan mengambil alih bagian tengah ranjang; hal ini sudah sering terjadi.
Anak ini memang sering bergerak saat tidur, jadi meskipun kami membaringkannya di tepi ranjang, kadang-kadang dia sudah berada di tengah saat kami menyadarinya.
Di saat-saat seperti itu, Char biasanya memindahkan Emma-chan ke arah dinding tanpa pikir panjang.
Itu karena kalau aku tidak tidur di tengah, Char tidak akan bisa tidur sambil menempel padaku.
Meski begitu, hari ini dia membiarkan Emma-chan di tempatnya dan malah menjaga jarak dariku... Apa situasinya sudah benar-benar gawat...?
"Begitu ya, kalau begitu hari ini kita tidur begini saja."
Meskipun tingkah dan alasan Char mengganjal di pikiranku, namun rasa bersalah karena terus membiarkannya menahan diri, serta keraguanku apakah aku pantas mengungkit usahanya membuat alasan demi menjaga jarak dariku, membuatku membiarkan hal itu berlalu begitu saja.
"Iya, mari kita tidur."
"............"
Char yang mengangguk menghela napas lega secara diam-diam saat aku memalingkan wajah.
Aku memperhatikannya dari sudut mataku, tapi sepertinya dia tidak menyadari hal itu.
Bisa-bisanya dia merasa lega... Jujur saja, aku sedikit terkejut.
Jarak fisik antara aku dan Char tercipta karena terhalang oleh Emma-chan, tapi aku jadi berhalusinasi kalau jarak ini mungkin merupakan perwujudan jarak antara hati kami berdua.
Tidak mungkin aku bisa membiarkannya terus seperti ini... Alarm peringatan di kepalaku mulai berdering nyaring.
â—†
Keesokan harinya――.
『Onii-chan, ada suara ding-dong.』
Sepulang dari sekolah, saat aku sedang bermain dengan Emma-chan, bel interkom berbunyi dan Emma-chan langsung bereaksi dengan peka.
『Iya, aku akan melihat siapa yang datang.』
Biasanya Kaguya-san yang akan membukakan pintu, tapi sepertinya hari ini Kanon-san sedang ada urusan, jadi dia pergi menemani Kanon-san dan sedang tidak ada di rumah.
Char kebetulan baru saja pergi ke kamar kecil, jadi meski aku merasa tidak enak pada Emma-chan yang sedang asyik bermain denganku, sebaiknya aku saja yang ke depan.
『Nn...!』
Saat aku menurunkan Emma-chan dari pangkuanku dan berdiri, Emma-chan ikut berdiri dengan penuh semangat.
Lalu, dia berjalan mengekor di belakangku dengan langkah kecilnya.
『Kamu tunggu di sini saja tidak apa-apa, lho?』
Aku tidak tahu siapa tamu yang datang, tapi karena Emma-chan tipe anak yang pemalu di depan orang asing, kupikir lebih baik dia tidak ikut.
Namun, Emma-chan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
『Emma juga, ikut...!』
Sepertinya, dia penasaran.
Atau lebih tepatnya, dia mungkin hanya ingin ikut karena aku yang pergi.
Setelah tersenyum lembut pada Emma-chan, aku berjalan ke arah pintu masuk dan membukanya.
Di sana, berdiri seorang pria dewasa berseragam kurir ekspedisi yang sedang memegang sebuah kotak kardus berukuran lumayan besar.
"Permisi, paket~. Tolong tanda tangannya di sebelah sini."
"Terima kasih."
Aku menggoreskan namaku dengan jari di layar ponsel cerdas yang disodorkannya, lalu menerima kotak kardus tersebut.
Sepertinya ini paket untuk Char.
『Onii-chan, itu apa?』
Begitu aku menutup pintu, Emma-chan memiringkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan yang imut.
『Kira-kira apa ya?』
Kalau bicara soal paket yang dikirim untuk Char, biasanya isinya manga atau doujinshi――tapi mengingat ukuran kardusnya yang lumayan besar namun tidak begitu berat, sepertinya isinya bukan buku?
Kalau memang buku, harusnya terasa lebih berat dari ini――.
" Aaah, A-kun!! Biar aku yang terima paketnya!!"
Saat aku memiringkan kepala sambil menimbang-nimbang kardus itu ke atas dan ke bawah karena penasaran dengan isinya, Char tiba-tiba melesat ke arahku dengan wajah merah padam.
Lalu, dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, dia merebut kotak kardus itu dari tanganku.
Kenapa dia jadi panik begitu...?
『Lotty, kasar...!』
Sepertinya Emma-chan tidak menyukai tindakan Char, sehingga dia menggembungkan pipinya karena marah.
Akan tetapi, tanpa menyadari reaksi Emma-chan, Char malah bergegas menjauh, seolah melarikan diri dari kami sambil mendekap kotak kardusnya.
Sepertinya dia tidak menuju ke kamar kami, melainkan ke kamar kosong yang berada di bagian terdalam dari kamar Kaguya-san...
『Muuu...!』
Meski tidak disengaja, Emma-chan yang merasa diabaikan makin menggembungkan pipinya yang sedari tadi sudah cemberut.
Saking gembungnya, pipinya sampai terlihat bulat penuh layaknya ikan buntal yang sedang mengintimidasi musuh.
Yah, wajar saja, aku sendiri belum benar-benar mengerti situasinya, jadi tidak heran jika Emma-chan sampai bereaksi seperti itu...
『Cup cup, Emma-chan. Sepertinya Char sedang agak sibuk, ya.』 『Nn...』
Saat aku mengelus kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya seperti biasa, Emma-chan memelukku sambil membenamkan wajahnya di perutku.
Sepertinya dia marah, tapi sekaligus merasa syok.
Lagipula, biasanya Char tidak pernah mengabaikan Emma-chan seperti tadi...
"――Kamu tidak melihat isinya, kan...?"
Tak lama setelah kami kembali ke ruang tengah dan Emma-chan mulai tidur karena ngambek, Char yang rona merah di pipinya belum sepenuhnya menghilang, mengintip dari balik pintu ruang tengah.
"Habis kuterima, paketnya kan langsung kamu bawa pergi. Kardusnya juga belum sempat dibuka, kan?"
Tentu saja aku tidak akan membukanya tanpa izin Char, tapi lagipula di saat seperti tadi, aku sama sekali tidak punya waktu untuk melihat isinya.
Memang sih, karena dia membawanya lari dengan panik begitu, aku jadi makin penasaran dengan isinya... tapi tebakanku, kalaupun aku bertanya, dia pasti tidak akan memberitahuku.
"Begitu ya... Anu, isinya bukan sesuatu yang penting kok, jadi tolong lupakan saja, ya?"
Char menautkan jari-jari di kedua tangannya dan memohon padaku sambil menatap dengan tatapan memelas dari bawah yang sangat menggemaskan.
Ya, pasti isinya sesuatu yang gawat kalau sampai ketahuan...
Aku jadi makin penasaran, tapi tidak ada pilihan lain selain menahannya.
"Ngomong-ngomong, apa Sofia-san atau Kanon-san tahu soal ini?"
"Ma-mana mungkin aku bisa bilang...!? Ah...!?"
Seolah baru sadar telah mengatakan 《Gawat!!》, Char langsung menutup mulut dengan tangannya.
Anak ini benar-benar tidak bisa berbohong, ya.
Melihat reaksinya, sudah pasti itu barang yang mencurigakan.
Hanya saja, karena kurangnya pengetahuanku, aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa wujud pastinya...
"A-kun jahat...!"
Sadar bahwa aku baru saja memancingnya, Char secara tak biasa menggembungkan pipinya dan menyipitkan mata, mengeluhkan ketidakpuasannya.
Tatapan tajam alias wajah ngambeknya itu juga sangat imut. Pacarku――ah bukan, tunanganku ini memang luar biasa.
"Maaf, maaf."
Untuk meredakan kekesalan Char, aku tertawa pelan sambil merentangkan kedua tanganku.
Seketika itu juga, raut wajah Char melunak dan dia langsung menghambur ke dalam pelukanku.
Aku mendekapnya dengan lembut dan membawanya menuju sofa.
Lalu, setelah aku duduk, aku mendudukkannya di pangkuanku.
"Nnn..."
Char, yang sepertinya sangat menyukai pangkuanku, mulai bermanja-manja dengan menggosok-gosokkan wajahnya ke leherku.
Geli rasanya...
Tapi, bisa dimanja seperti ini membuatku senang, dan momen ini terasa sangat membahagiakan.
Meski aku merasa bersalah pada Emma-chan yang sedang tidur ngambek, tapi saat siang hari hampir tidak ada waktu bagiku dan Char untuk bersantai berduaan saja seperti ini, jadi untuk sekarang, biarkan aku menikmatinya sepuasnya.
"............"
Saat aku sedang memanjakannya dengan mengelus kepalanya, tiba-tiba Char menjauhkan wajahnya dari leherku, lalu menatap lurus ke mataku dengan sorot mata yang terasa panas.
Ah, ini...
"Cium..."
Baru saja aku berpikir 'gawat', pacarku yang hobi mencium ini sudah meminta jatah ciumannya.
Aku hampir saja terbawa oleh godaan itu, tapi saat ini ada Emma-chan yang sedang tidur di dekat kami.
Memang dia tipe anak yang susah bangun kalau sudah tidur, tapi kadang- kadang dia bisa terbangun juga, jadi aku tidak berani mengambil risiko.
"Maaf, kalau sekarang tidak bisa."
Begitu aku menolaknya, Char langsung terlihat murung.
Lalu, dia menekan wajahnya kuat-kuat ke leherku, seolah memprotes penolakanku.
Sikapnya yang seperti ini benar-benar mirip dengan Emma-chan.
Akhir-akhir ini aku terus membiarkannya menahan diri. Kalau aku membiarkan Emma-chan tidur di ruang tengah lalu kami kembali ke kamar, mungkin kami bisa berciuman...
"Mau pergi ke kamar sebentar?"
"――Hah!?"
Saat aku mengajaknya, Char dengan sigap menjauhkan wajahnya dan menatapku lagi.
Matanya terbelalak kaget tapi sekaligus penuh harap. Kalau sekarang aku sampai bilang 《Kayaknya tidak jadi saja, deh》, dia pasti akan langsung menangis.
" Ayo pergi."
"Kyaa!?"
Mumpung dia sedang duduk di pangkuanku, aku langsung mengangkatnya dengan gaya ohimesama dakko (gendongan ala tuan putri). Char memekik kaget sambil berpegangan erat pada leherku.
Mungkin seharusnya aku memberinya aba-aba dulu, tapi melihat wajah paniknya juga terlihat imut.
Aku melirik sekilas ke arah Emma-chan. Untungnya dia tidak bereaksi terhadap jeritan kecil Char dan masih tertidur pulas.
Kalau begini, bersantai sebentar di kamar sepertinya akan aman-aman saja.
"Mau jalan pakai kakimu sendiri?"
"...Jahat."
Saat aku secara tersirat bertanya 《Mau kuturunkan?》, Char menggembungkan pipinya sedikit.
Sepertinya dia bermaksud bilang, sudah tahu jawabannya, jangan tanya lagi.
Aku berjalan dengan hati-hati agar tidak menjatuhkan Char.
Sesampainya di depan pintu, Char yang meraih kenop pintu karena kedua tanganku sedang penuh.
Kami membuka pintu sepelan mungkin agar tidak bersuara dan keluar dari ruang tengah, lalu menutupnya kembali dengan sangat hati-hati.
Lalu, setibanya di depan tangga――aku menurunkan Char ke lantai.
"............"
"Bukan begitu, anu... meskipun kamu menatapku dengan tatapan sedih dan memelas begitu, menggendongmu ala tuan putri sambil menaiki tangga itu terlalu berbahaya..."
Menanggapi protes diam-diam Char, aku tersenyum canggung sambil menjelaskan alasannya.
Secara teknis, aku memang bisa menaiki tangga sambil menggendongnya, tapi kalau aku terpeleset atau kehilangan keseimbangan, kami berdua bisa jatuh menghantam lantai.
Kalau cuma aku sih tidak apa-apa, tapi aku tidak boleh membiarkan tunanganku yang berharga sampai terluka.
"Kalau refleks olahraga A-kun pasti tidak masalah...!"
"Dari mana datangnya kepercayaan misterius itu...?"
Melihat Char berpose mengepalkan kedua tangan penuh semangat, aku kembali tersenyum masam dan menyuruhnya naik duluan.
Sepertinya Char juga tidak benar-benar serius mengatakannya, karena dia akhirnya menaiki tangga dengan ogah-ogahan.
Namun――sesampainya di atas, Char berhenti melangkah dan menatap wajahku, seolah menuntut sesuatu.
Aku langsung tahu apa yang dia minta, sih...
"Hari ini kamu manja sekali, ya?"
Seperti halnya Emma-chan, Char pada dasarnya memang anak yang manja, tapi seingatku dia belum pernah sampai minta digendong ala tuan putri hanya untuk perpindahan jarak sedekat ini.
Sepertinya, "tombol" di dalam dirinya sudah terlanjur menyala.
Bisa dibilang, Emma-chan itu benar-benar cerminan dari anak ini.
Emma-chan juga sering minta digendong hanya untuk pindah sedikit saja.
"A-kun yang membuatku jadi seperti ini..."
Mungkin karena malu, Char mulai menautkan jari telunjuknya sambil menggeliat kikuk.
Yah... kalau dibilang begitu, aku juga tidak bisa menyangkalnya.
"Hati-hati jangan sampai jatuh, ya."
" Ah... iya ♪"
Saat aku merangkulkan lenganku di punggung dan di bawah lipatan lututnya, dia dengan gembira kembali melingkarkan lengannya di leherku.
Sikapnya yang sedang ceria ini sangat menggemaskan, membuatku terdorong oleh keinginan untuk segera memanjakannya di kamar.
Setengah tak sadar langkahku jadi makin cepat, aku menuju kamar kami.
Begitu sampai di kamar, aku duduk di tepi ranjang sambil masih menggendong Char, dan saat itu juga――
"Nnn... ♪"
――Bibirku tiba-tiba dibungkam oleh Char.
"Nnn!?"
" Amhh... chuuh... nn..."
Mengabaikan diriku yang terkejut, Char dengan agresif membelitkan lidahnya.
Bahkan, saking agresifnya dia menekan tangan dan tubuhnya padaku, rasanya kalau aku lengah sedikit saja aku bisa didorong rebah ke ranjang.
"――Puhah... Char...?"
Saat napasku mulai sesak, aku melepaskan tautan bibir kami dan mengamati wajah Char.
Dia menatapku dengan pipi merona malu-malu, tapi matanya terlihat berkaca- kaca seperti orang yang sedang demam.
Napas yang terembus dari mulutnya terasa panas――ah, gawat.
Itulah pikiran jujur yang terlintas di kepalaku.
"Hari ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya?"
Kalau diteruskan, dia tidak akan bisa menahan diri lagi (walau sepertinya sudah terlambat, sih).
Berpikir demikian, aku segera menjauhkan wajahku dan memiringkan kepalaku sambil tersenyum.
"Nnnuuuuuuuu!"
Tiba-tiba, seolah meluapkan kemarahannya――persis seperti anak kecil yang sedang merengek, Char menggeram sambil menekan wajahnya kuat-kuat ke dadaku.
Tekanannya jauh lebih kuat dibandingkan saat di ruang tengah tadi, dan sikapnya makin mirip dengan Emma-chan.
Sepertinya dia benar-benar kesal karena dibuat menggantung.
"Maaf, aku cuma bercanda, kok."
Padahal aku sengaja membawanya kembali ke kamar untuk melepaskan rasa frustrasinya selama ini, tapi kalau aku malah membuat ketidakpuasannya bertambah, itu tidak ada gunanya sama sekali, malah berakibat fatal.
Oleh karena itu, aku segera tersenyum untuk memperbaiki suasana dan menangkup pipinya.
Menyadari niatku, Char menjauhkan wajahnya dari dadaku, menutup matanya, dan sedikit mengangkat dagunya.
Aku kembali menempelkan bibirku ke bibirnya――dan menciumnya berulang kali.
Dan tak lama kemudian――
"Emma sedang tidur... Kanon-oneesan dan yang lainnya juga sepertinya masih lama pulangnya, kan...?"
――Situasi yang kutakutkan pun terjadi.
Ruangan yang hanya ada kami berdua.
Ditambah lagi, selama ini aku sudah membiarkan Char menahan diri――jadi wajar saja kalau Char yang 'tombolnya' sudah menyala akan mengusulkan hal ini.
"Emma-chan bisa saja bangun, lagipula Kanon-oneesan dan yang lain tidak bilang kalau mereka akan pulang terlambat, jadi tidak aneh kalau mereka tiba- tiba pulang..."
Dengan perasaan bersalah pada Char, aku menggelengkan kepala.
Kenyataannya, tidak ada jaminan Emma-chan tidak akan terbangun, dan ini adalah situasi di mana kami tidak tahu kapan Kanon-oneesan dan Kaguya-san akan kembali.
Selain itu, suara Char saat
melakukannya itu lumayan keras.
Orangnya sendiri mungkin tidak sadar, tapi kalau kami sampai melakukannya di kamar berdinding tipis ini, suaranya pasti akan tembus dan terdengar jelas sampai ke ruangan lain.
Walaupun dinding rumah ini tidak tipis sekalipun, tidak mungkin kami bisa melakukannya saat ada orang lain di rumah.
Apalagi sampai membiarkan Emma-chan yang masih kecil mendengarnya.
Kalau Char yang biasanya, dia pasti akan mengerti tentang hal-hal seperti itu, tapi... saat tombol 'manja' atau tombol 'dewasa'-nya sudah menyala, akal sehatnya sepertinya sedikit terbang, dan dia jadi tidak mau menahan diri.
Kalau sudah begini, aku harus mencari cara untuk menenangkannya...
"............"
Char menggembungkan pipinya dan mulai menusuk-nusuk dadaku dengan jarinya sambil menunduk.
Dia mungkin berpikir, 《Selalu saja begitu, alasan terus...》 "Lain kali, aku pasti akan luangkan waktu yang layak untuk kita..."
"............"
Saat aku mencoba membujuknya, Char mendongak dan menatapku dengan tatapan tajam.
Meskipun tak diucapkan, aku merasa sedang dihakimi, 《Bicara begitu, tapi
lihat sudah berapa lama waktu berlalu sejak hari itu?》 Nyatanya, memang sudah lebih dari sebulan berlalu, jadi aku sama sekali tidak bisa membalas.
Tapi setidaknya, masih ada secercah harapan.
Meski belum ada jadwal pasti kapan Sofia-san akan kembali, ada sebuah event yang sebentar lagi akan tiba.
Setidaknya pada hari itu, kurasa tidak apa-apa kalau aku memprioritaskan Char daripada Emma-chan dan menghabiskan waktu berdua dengannya.
Emma-chan mungkin akan merajuk lagi, tapi dia pasti akan mengerti.
Dan karena Kanon-oneesan dan yang lainnya bilang kapan saja aku boleh menitipkan Emma-chan pada mereka, harusnya tidak akan masalah...
harusnya, sih.
Kalau sampai terjadi sesuatu dan rencanaku gagal, ekspektasi Char yang sudah terlanjur tinggi malah akan membuatnya makin hancur dalam keputusasaan, makanya aku belum bisa memberitahunya sekarang.
Kukira Char juga pasti menaruh harapan pada hari itu, sih...
"Untuk sekarang, bisa tolong bersabar dengan ini dulu?"
Hanya ada satu cara untuk menenangkan dirinya yang sedang tak puas, yaitu dengan memanjakan Char habis-habisan.
Karena itu, aku mengelus kepalanya dengan lembut sambil terus menghujaninya dengan ciuman.
Ada kekhawatiran bahwa rentetan ciuman ini malah membuat tombolnya makin menyala dan tak kunjung reda――tapi kalau tidak kulakukan, rasa frustrasinya pasti akan makin menumpuk. Aku tidak punya pilihan lain.
Tak lama setelah itu, suasana hati Char menjadi sangat baik――dan aku pun bisa bernapas lega.
Kami sudah menghabiskan waktu bermesraan, jadi setelah ini pasti akan baik- baik saja.
――Mungkin, pikiran itulah yang menjadi kesalahanku.
Setelah ini, aku akan dihadapkan pada kenyataan yang luar biasa mengejutkan dari mulut Char.
â—†
"Kanon-oneesan... mulai hari ini dan seterusnya, saat tidur, bolehkah aku menggunakan kamar kosong?"
Itu terjadi pada malam hari, di hari yang sama saat aku dan Char bermesraan di kamar.
Saat kami berlima makan malam bersama Kaguya-san, tiba-tiba Char meminta Kanon-oneesan untuk meminjamkan kamar kosong kepadanya.
Dan itu tak lain adalah sebuah deklarasi bahwa dia akan tidur terpisah dariku.
"――Eh."
Kaguya-san, yang duduk di sebelah Kanon-san, membelalakkan matanya.
Emma-chan memiringkan kepalanya dengan bingung karena Char mengatakannya dalam bahasa Jepang sehingga dia tidak bisa menangkap maksudnya.
Sedangkan Kanon-oneesan――menatap lurus wajah Char, seolah berusaha membaca apa yang sedang dipikirkannya.
Aku melirik curi-curi pandang ke arah Char yang duduk di sebelahku.
Char sama sekali tidak melirik ke arahku, ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan membalas tatapan Kanon-oneesan dengan tenang.
Dia pasti tahu aku akan kepikiran kalau dia bilang begitu, jadi mungkin dia memang sengaja tidak menatapku.
Sebenarnya, apa yang sedang dipikirkannya...?
"...Boleh saja. Lagipula tidak ada yang memakai kamarnya, silakan gunakan sesukamu."
Kanon-oneesan yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengiyakan permintaan Char sambil tersenyum lembut.
Yah, mungkin dia juga tidak bisa menolak permintaan seperti itu...
" Apa tidak masalah?"
Sama sepertiku yang kebingungan, Kaguya-san yang tampaknya tidak menduga Kanon-oneesan akan mengangguk, mencoba menggali niat sebenarnya dari tuannya tersebut.
"Sekalipun mereka sudah bertunangan, pasti ada malam-malam di mana dia ingin sendirian. Menghargai perasaan Nona Charlotte itu penting."
Mendengar kata-kata Kanon-oneesan, Kaguya-san memasang ekspresi agak tidak setuju. Namun setelah menutup matanya sejenak dan menarik napas dalam-dalam, dia kembali membuka matanya dengan ekspresi dingin seperti biasanya.
Meskipun Kaguya-san memiliki pendapatnya sendiri, dia tidak mungkin menentang pendapat tuannya, dan dia pasti telah menelan kembali perasaannya itu.
"...Maafkan aku, A-kun. Tolong izinkan keegoisanku ini untuk sementara waktu."
Setelah menghela napas lega dan mengelus dadanya, Char menatap wajahku dengan pandangan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Lagipula ini bukan sesuatu yang harus dipaksakan, kan."
Karena tak mengerti pikiran dan perasaan Char, aku hanya bisa menjawab demikian.
Aku merasa bersalah karena terus membuatnya menahan diri, tapi lebih dari itu, sama seperti Kanon-oneesan, aku ingin menghargai perasaan Char.
Jadi, kurasa ini yang terbaik.
『Emma, diasingkan, tidak boleh!』
Saat aku memaksakan senyum di wajahku, Emma-chan yang sedari tadi diam mendengarkan――atau lebih tepatnya, yang sedari tadi berusaha keras
memahami bahasa Jepang kami, mulai memukul-mukul kecil tangan Char dengan pipi menggembung.
Meski sedang belajar bahasa Jepang, kosa kata Emma-chan masih sangat terbatas.
Tentu saja hal itu sangat dipahami oleh Char yang paling sering mengajarinya bahasa Jepang. Tetapi, karena tiba-tiba Char mengobrol dalam bahasa Jepang, sepertinya Emma-chan merasa bahwa hanya dialah yang sengaja dikucilkan dari pembicaraan.
Yah, mungkin pemikirannya itu tidak sepenuhnya salah.
Aku dan Kanon-oneesan mungkin bisa merespons dengan sikap orang dewasa, tapi anak kecil seperti Emma-chan cenderung memprioritaskan perasaannya sendiri.
Char pasti sengaja menggunakan bahasa Jepang karena khawatir anak ini akan memberontak kalau tahu Char bilang mau tidur di kamar yang berbeda.
『Emma-chan, ini daging. Aaa...』
Kalau dibiarkan Char akan kerepotan, jadi aku mengarahkan sepotong daging ke mulut Emma-chan untuk mengalihkan perhatiannya.
『Aaa... hap.』
Emma-chan yang cukup polos itu seketika lupa kalau dia sedang marah pada Char, lalu mulai mengunyah dagingnya dengan riang gembira.
...Dia benar-benar anak yang simpel.
Sambil membiarkannya mengunyah, aku mengelus kepalanya dengan lembut agar dia tidak teringat kembali pada amarahnya kepada Char.
Hanya dengan begitu, Emma-chan mengendurkan pipinya dengan puas.
『Kalian sudah benar-benar seperti orang tua dan anak yang sungguhan, ya.』
Melihat interaksiku dan Emma-chan, Kanon-oneesan ikut tersenyum layaknya Emma-chan.
Sorot matanya terasa hangat, menatap kami dengan penuh kelembutan.
『Kalau disebut orang tua dan anak, rasanya agak kurang pas...』 Bagiku Emma-chan adalah eksistensi yang sudah seperti adik perempuanku, dan Emma-chan juga pasti memandangku layaknya kakak laki-lakinya.
Memang jarak usia kami lumayan jauh, dan karena Emma-chan masih sangat kecil, aku mengerti kenapa kami terlihat seperti ayah dan anak. Namun tetap saja, kalau dibilang hubungan orang tua dan anak rasanya kurang tepat.
『Onii-chan adalah, Papa Emma...!』
Akan tetapi, tampaknya Emma-chan tidak sepemikiran denganku.
Padahal kukira dia sedang asyik makan dan dielus kepalanya, tapi ternyata dia mendengarkan percakapan kami dengan saksama dan malah menyebutku ayahnya.
Seingatku percakapan seperti ini pernah terjadi sebelumnya...
Waktu itu aku sudah membantahnya dengan jelas, tapi apa mungkin dia sebenarnya merasa kesepian karena tidak memiliki sosok ayah?
Lagipula, kalau tidak menghitungku, orang-orang di sekitarnya semuanya perempuan.
Saat aku sedang memikirkan hal itu――.
『Bukan, lho. Kalau begitu ceritanya, nanti A-kun malah jadi pacar Ibumu, kan?
Ingat, A-kun itu pacarku, lho.』
Tiba-tiba, Char yang pipinya sedikit menggembung memberi tahu Emma-chan dengan tegas.
Tumben sekali. Padahal, kalau Char yang beberapa waktu lalu, dia pasti hanya akan tersenyum melihat interaksi kami... lagipula, bukannya dulu Char sendiri pernah bilang kalau aku mirip seperti ayahnya Emma-chan...?
Bahkan, Char malah pernah memintaku langsung untuk menjadi sosok pengganti ayah bagi Emma-chan...
Yah, setidaknya dia terlihat cemburu pada posisi Sofia-san, jadi kurasa ini bukan berarti dia jadi membenciku...?
『Papa Emma...!』
Di sisi lain, Emma-chan yang bersikeras ingin menjadikanku ayahnya, menggembungkan pipinya jauh lebih besar dari Char dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Imut banget.
Tapi kalau dia meronta-ronta di pangkuanku begini, aku takut dia bisa jatuh.
Untuk berjaga-jaga, aku melingkarkan lenganku di tubuh Emma-chan agar dia tidak terjatuh.
Char melirik sekilas ke arah lenganku, lalu kembali menatap wajah Emma- chan.
Raut wajah Char terlihat tak puas, tapi aku tidak tahu kepada siapa persisnya ketidakpuasan itu ditujukan.
『Kubilang bukan. Bagi Emma, A-kun itu kakak laki-laki.』 『Onii-chan sekaligus, Papa...!』
Char mencoba membujuk Emma-chan, tapi seperti biasa, balita itu kembali terjebak di dunianya sendiri.
Konsep "Kakak Laki-Laki sekaligus Ayah" jelas-jelas sangat kontradiktif, tapi anak ini tampaknya tidak menyadarinya.
Atau mungkin dia sadar, tapi tidak peduli?
Kalau dipikir-pikir bahwa kepolosan ini hanya akan ada saat dia masih sekecil ini, hatiku jadi terasa hangat.
Yah――.
『Cukup Onii-chan saja kan...!?』
『Tidaaak...! Papa juga...!』
Tapi melihat pertengkaran sepasang saudari ini di depan mataku, suasana hatiku memanas dengan cara yang berbeda.
"――Tumben sekali ya, Nona Charlotte sampai sebegitunya menanggapi Nona Emma..."
"Pasti banyak hal yang sedang dipendamnya, mari kita biarkan saja mereka."
Dari seberang meja, Kaguya-san dan Kanon-oneesan saling berbisik, lalu Kanon-oneesan tersenyum seolah memaklumi keadaan.
Setelah itu, Kanon-oneesan menatapku dengan tatapan penuh arti... Apakah ini semua salahku?
Ya, kurasa... akulah sumber perdebatan mereka...
『Muuu...! Onii-chan, Lotty jahat!』
Saat aku merasa canggung ditatap oleh Kanon-oneesan, Emma-chan yang pipinya sudah menggembung seperti balon menangis sambil memelukku.
Biasanya, setiap kali Emma-chan bertengkar dengan Char, dia memang selalu berusaha menjadikanku sekutunya, jadi pemandangan ini sudah jadi hal yang biasa.
『Ah!? Bersembunyi di balik A-kun itu curang, tahu! Kamu selalu saja menjadikanku si penjahat...!』
Dan sudah bisa ditebak, Char akan marah karena dia akan kesulitan kalau aku memihak Emma-chan... tapi entah kenapa, sepertinya hari ini dia lebih marah dari biasanya...?
Karena Emma-chan menangis memelukku sudah jadi rutinitas, biasanya Char lebih sering membiarkannya saja...
『Cup cup, terserah Emma-chan saja mau anggap aku apa, ya?』 Dalam situasi seperti ini, sangat sulit untuk memilih siapa yang harus kubela.
Namun Emma-chan masih sangat kecil, dan yang terpenting, dia merasa kesepian karena tak punya sosok ayah.
Karena itu, aku tidak tega mengatakan bahwa aku tidak bisa menjadi ayahnya.
Tentu saja, Char menatapku seolah tak terima. Tapi soal yang satu ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya, hanya karena aku bertindak sebagai pengganti ayah Emma-chan, bukan berarti aku menjadi pacar Sofia-san dan bukan pacarnya Char. Lagipula aku sudah pernah berjanji akan menjadi figur ayah bagi anak ini, jadi Char mau tak mau harus menerimanya.
Mungkin ada baiknya aku mengingatkan Char soal janjiku itu nanti.
Soalnya, Char yang sekarang tampaknya benar-benar sudah lupa soal itu.
『Yeay! Onii-chan, Emma sayang banget!』
Merasa senang karena aku memihaknya, Emma-chan memeluk leherku dengan erat.
Lalu, dia menggosok-gosokkan wajahnya ke pipiku dengan sangat manja.
Dia benar-benar anak yang imut dan paling pintar mencari perhatian.
『...Selalu saja, Emma terus...』
Yah, tapi pacarku yang berharga malah berakhir ngambek...
Jarak di antara kami benar-benar makin melebar, ya...
Setelah itu, Char menyantap makan malamnya dalam diam, membuat suasana berubah menjadi canggung bagiku.
â—†
『――Kalau begitu, aku titip Emma padamu, ya.』
Beberapa saat setelah makan malam berlalu――Char yang baru saja selesai mandi menyerahkan Emma-chan kepadaku dengan ekspresi sedikit bersalah.
Sepertinya suasana hatinya sudah membaik seiring berlalunya waktu, tapi ternyata dia benar-benar berniat tidur sendiri...
『Lotty, mau ke mana?』
Emma-chan yang tidak tahu apa-apa menoleh ke belakang dalam gendonganku, menatap pintu yang tertutup dengan heran.
『Sepertinya dia mau belajar.』
Walaupun Emma-chan sering membantah Char, sebenarnya dia anak yang sangat nempel dengan kakak perempuannya itu, jadi kalau Char tidak ada, dia pasti kepikiran.
Terutama karena mereka baru saja bertengkar saat makan malam tadi, jadi aku memberikan alasan logis agar Emma-chan tidak terlalu memikirkannya.
『Nn!』
Sesuai dugaanku, Emma-chan mengangguk puas dan menyandarkan wajahnya ke dadaku.
Waktu tidur sudah dekat, jadi mungkin dia sudah bersiap-siap untuk tidur.
――Begitulah pikirku, tapi ternyata.
『Onii-chan, ayo main!』
Begitu kubaringkan di kasur, Emma-chan bangkit duduk dan menatapku dengan mata berbinar-binar penuh semangat.
Artinya, dia bilang 《Main sama aku!》.
『Tidak tidur?』
『Tidak mengantuk...!』
Emma-chan menggelengkan kepalanya dengan kuat menjawab pertanyaanku.
Padahal tadi dia kelihatan seperti mau tidur... pasti karena Char tidak ada, dia sadar tidak ada yang akan memarahinya kalau dia tidak tidur, kan?
『Kalau begitu, mau ngobrol saja?』
Kalau aku menuruti kemauannya bermain di sini, Emma-chan pasti akan jadi terlalu bersemangat dan matanya bakal melek terus, sudah ketebak.
Sebaliknya, kalau kami mengobrol santai dengan posisi dia berbaring di kasur, rasa kantuk pasti akan segera menyerangnya.
Aku belum mandi jadi aku tidak bisa ikut masuk ke dalam selimut, tapi aku cukup duduk di tepi ranjang dan menemaninya mengobrol.
『Ngobrol? Tentang sepak bola?』
Emma-chan yang masih belum bosan dan masih terobsesi dengan sepak bola, memiringkan kepalanya dengan riang, mengira aku akan membicarakan hal itu.
Sambil membaringkan Emma-chan kembali ke kasur, aku menggelengkan kepala.
『Bukan, aku ingin dengar cerita Emma-chan saat di
preschool. Apa akhir-
akhir ini kamu rukun dengan teman-temanmu?』
Kalau aku mengiyakan bicara soal sepak bola, sudah pasti anak ini tidak akan tidur.
Karena itu, aku membelokkan topiknya ke arah kegiatan preschool.
Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini Emma-chan juga lumayan sering menonton video pemain sepak bola wanita, dan sepertinya dia sudah punya satu pemain favorit.
Pemain itu seumuran denganku, tapi Emma-chan sering bilang 'mirip Onii- chan', dan menonton videonya dengan penuh semangat.
Bahkan aku sendiri pun diam-diam merasa bahwa gaya permainanku sedikit mirip dengan anak itu.
Yah, aku tidak mengenalnya secara pribadi, dan mungkin aku merasa begitu hanya karena posisi bermain kami sama.
...Sebagai informasi tambahan, alasan kenapa Emma-chan bisa tahu gaya permainanku adalah karena Kaguya-san masih menyimpan rekaman video pertandinganku yang dulu direkamnya atas perintah Kanon-oneesan, dan diam-diam dia menunjukkannya kepada Emma-chan.
Anak ini juga selalu menonton videonya sambil duduk di pangkuanku, dan di saat-saat seperti itu Char juga ikut duduk di sebelahnya untuk ikut menonton.
Bikin aku malu setengah mati saja.
『Emma dan Claire-chan, sangat rukun...!』
Di saat aku sedikit menyimpan dendam pada Kaguya-san, Emma-chan mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum lebar.
Mereka berdua memang pernah bentrok sekali, tapi syukurlah kalau sekarang mereka bisa rukun.
Fakta bahwa hanya mereka berdua anak yang bisa berbahasa Inggris mungkin punya andil besar, tapi terlepas dari itu, sepertinya memang ada beberapa hal yang membuat mereka cocok.
Claire-chan anak yang baik hati dan pendiam, sifatnya sedikit mirip dengan Char.
『Syukurlah. Teman itu harus dijaga baik-baik, ya?』 Jujur saja, aku tidak tahu sampai kapan Claire-chan akan menetap di Jepang.
Mungkin dia akan terus tinggal di Jepang, atau mungkin dia akan kembali ke negara asalnya dalam waktu dekat.
Aku sama sekali tidak tahu urusan keluarga Claire-chan, tapi kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang bisa membuat Emma-chan bersedih.
『Nn...! Claire-chan, Onii-chan, Lotty, semuanya berharga...!』 Setelah mengangguk dengan wajah bangga, bidadari kecil ini mengucapkan kalimat layaknya malaikat sejati sambil tersenyum cerah.
Ah bukan, maksudku Emma-chan.
Aku benar-benar takjub betapa pedulinya anak ini pada orang lain, dia anak yang sangat luar biasa.
『Iya, ya. Bagiku Emma-chan dan yang lain juga sangat berharga.』 『Ehehe...』
Saat aku mengelus kepalanya dengan perasaan hangat, raut wajah Emma-chan melunak luluh.
Orang-orang di sekitar bilang hubungan kami seperti ayah dan anak, tapi sejujurnya aku sering berharap, alangkah baiknya kalau anak ini benar-benar putriku.
Sebesar itulah rasa sayangku pada Emma-chan.
Kuharap kelak, anak yang lahir antara aku dan Char juga tumbuh menjadi anak yang manis, baik hati, dan peduli pada orang lain seperti Emma-chan.
――Mikirnya terlalu kejauhan tidak, ya?
『Nn...』
Belaian di kepalanya pasti membuatnya mengantuk.
Emma-chan mulai mengerjap perlahan.
Kalau aku bersuara sekarang, dia pasti akan memaksakan diri untuk tetap bangun, jadi aku diam menunggu sampai dia menutup matanya.
Tak lama kemudian, matanya tertutup rapat, dan kepalanya lunglai ke samping.
Terdengar suara dengkuran halus dari bibir mungilnya, pertanda dia sudah benar-benar terlelap.
『Selamat tidur, Emma-chan.』
Aku berbisik pelan pada gadis kecil imut yang sudah seperti adik perempuanku, sekaligus seperti putriku ini.
â—†
Keesokan harinya, entah kenapa Kaguya-san terlihat sedikit lelah, pemandangan yang tak biasa bagiku.
Bukan karena kelelahannya belum hilang――tapi karena biasanya orang itu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, dan pagi ini dia terlihat jauh lebih lelah daripada saat kami bertemu semalam.
Apa terjadi sesuatu?
――Meski aku bertanya-tanya, tapi ada hal yang lebih menyita perhatianku, yaitu Char yang sedang berjalan ke sekolah bersamaku.
"Kelihatannya suasana hatimu bagus banget, ada kejadian apa?"
Setelah menitipkan Emma-chan di preschool dan kami tinggal berdua, aku mencoba bertanya tentang hal yang mengganjal pikiranku di sela-sela obrolan kami.
"Eh? Apa aku terlihat seceria itu?"
Char menunjukkan ekspresi kebingungan, seolah dia sama sekali tidak merasa begitu.
"Ya... gimana ya bilangnya, seperti awan mendung di wajahmu sudah menghilang dan kamu kelihatan jauh lebih lega...?"
Awalnya Char memang menunjukkan ketidakpuasannya di wajahnya, tapi lama-kelamaan dia menyembunyikannya dari ekspresi maupun sikapnya.
Meski begitu, aku tetap bisa merasakan
sesuatu saat bersamanya.
Tapi sekarang, aku sama sekali tidak merasakannya.
"Lega, ya...? ――Hah!?"
Kali ini dia sepertinya teringat akan sesuatu. Saat dia mendongak menatap langit, wajahnya tiba-tiba merah padam, hampir seperti ada suara letupan kecil di kepalanya.
Eh, kok reaksinya begitu...?
"A-A-Apa maksudmu!? Memangnya selama ini aku kelihatan marah!?"
Char menjadi sangat panik―bahkan orang buta pun bisa melihat kepanikannya―dan berusaha keras mengalihkan pembicaraan.
Aku tidak tahu kenapa, apa pertanyaanku tadi sebegitu salahnya...?
"Bukan, bukan begitu maksudku... soalnya sampai kemarin, rasanya seperti ada yang mengganjal di pikiranmu..."
"Itu, itu cuma perasaanmu saja! Ya, sudah pasti cuma perasaanmu saja! Karena ini masih pagi, pasti A-kun masih mengigau!"
"............"
"――Ugh."
Char berusaha mati-matian menutupi sesuatu, tapi alasan bahwa aku mengigau soal apa yang kurasakan sampai kemarin sungguh tidak masuk akal, apalagi waktu sudah berlalu cukup lama sejak kami bangun pagi ini.
Jadi tidak mungkin baginya untuk menjadikan alasan 'mengigau' sebagai tameng.
Saat aku menatapnya lekat-lekat dengan pikiran seperti itu, Char menahan napas dan memalingkan pandangannya.
Yep, itu adalah reaksi khas orang yang sedang menyembunyikan rasa bersalah.
"Char――"
"――Bisa diam tidak? Membuat keributan di jalan begini itu sangat mengganggu."
Sebuah suara tajam yang menghakimi tiba-tiba terdengar, memecah ruang di antara kami berdua.
Saat aku menoleh ke belakang, kulihat seorang gadis cantik bermata tajam yang sedang memegangi rambut hitam berkilaunya yang tertiup angin dengan tangan kanannya. Dia menatap kami dengan sinis.
"Umikawa-san..."
Saat aku memanggil namanya, Umikawa-san makin menyipitkan matanya karena tidak senang.
Gadis ini pasti sangat membenciku...
"Kenalanmu...?"
Char tampaknya belum pernah bertemu dengan Umikawa-san, jadi dia bertanya dengan suara pelan karena bingung.
Char memang tipe yang punya relasi luas dengan sesama siswi perempuan, atau lebih tepatnya banyak yang mengajaknya bicara, tapi tidak heran jika dia belum pernah berinteraksi dengan Umikawa-san.
Sama sepertiku sebelum bertemu Char, Umikawa-san tipe anak yang berusaha untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain.
"Dia Umikawa Akari-san dari kelas 2-A. Salah satu siswi dengan nilai paling memuaskan di angkatan kita."
Sambil memilih kata-kata agar tidak membuatnya marah, aku memperkenalkan Umikawa-san kepada Char.
Namun――
"Mendengar ucapan itu keluar dari mulutmu, entah kenapa malah terdengar seperti sebuah sindiran, ya?"
――Entah kenapa, dia malah jadi makin bete.
Selama ini aku memang hampir tidak pernah berinteraksi dengannya, tapi aku benar-benar canggung berhadapan dengan anak ini...
"Eetto... maafkan kami karena sudah membuat keributan."
Saat aku ditanggapi dengan dingin oleh Umikawa-san, Char sempat menunjukkan raut wajah lega sesaat sebelum menundukkan kepalanya dalam- dalam kepadanya.
Mungkin awalnya Char waspada karena mengira ini adalah kenalan perempuan baruku yang tidak dia ketahui, tapi dia jadi lega setelah merasa tidak ada percikan asmara di antara kami.
Syukurlah aku tidak membuat Char cemas, walau perasaanku rasanya campur aduk...
"...Lain kali hati-hati."
Mungkin tidak menyangka akan langsung dimintai maaf dengan setulus itu, Umikawa-san sempat bingung harus membalas apa sebelum akhirnya membiarkan kami pergi dengan peringatan ringan.
" Aku juga minta maaf, aku akan lebih berhati-hati."
"............"
Saat aku ikut meminta maaf, dia menatapku dengan sorot mata penuh emosi negatif seolah sedang melihat musuh bebuyutannya.
Ya ampun, apa aku sebegitu dibencinya...?
Padahal selama ini interaksi kami sangat minim, tidak seperti teman-teman sekelasku yang lain, aku juga tidak pernah bersikap dingin padanya...
"――Apes banget, ya."
Badai telah berlalu――mungkin agak tidak sopan menyebutnya begitu, tapi tepat setelah Umikawa-san berjalan mendahului kami dan sosoknya mengecil di kejauhan, sekali lagi seseorang memanggil kami dari belakang.
Kali ini, Char sepertinya langsung tahu siapa pemilik suara itu.
"Shimizu-san, selamat pagi."
Tanpa terpengaruh oleh teguran Umikawa-san tadi, Char menyapa Shimizu-san dengan senyuman manisnya yang biasa.
Tidak, mungkin ini adalah senyuman terbaiknya akhir-akhir ini.
"Oh? Hmmm~?"
Melihat senyuman Char, Shimizu-san menatapku dengan tatapan penuh arti.
Lalu, dia mulai menyeringai bak iblis kecil yang usil.
Aku tidak terlalu mengerti, tapi yang jelas senyuman Char itu telah memicu suatu kesalahpahaman.
"Boleh juga kamu."
"Eh, ngomongin apa sih?"
Aku bertanya dengan bingung kepada Shimizu-san yang sedang menyikut- nyikut bahuku.
Dia malah memasang ekspresi kebingungan balik.
Wajahnya seolah berkata, 『Masa kamu tidak sadar?』, tapi sumpah aku benar-benar tidak mengerti.
"Shi-Shimizu-san, apa maksudmu dengan 'apes' tadi?"
Bahaya kalau mereka berdua dibiarkan mengobrol begini!
Mungkin memikirkan hal itu, Char mengalihkan pembicaraan dengan sedikit memaksa.
" Ah, soal itu. Maksudku soal kalian yang baru saja diomeli Umikawa-san. Anak itu memang kelewat kaku dan serius, makanya dia gampang banget menegur orang dengan nada ngajak ribut begitu. Padahal cuma ribut kecil saat berangkat sekolah, biasa aja kan harusnya?"
Kemungkinan besar, Shimizu-san juga sudah beberapa kali bentrok dengan Umikawa-san.
Dia sampai memanyunkan bibirnya karena kesal.
Yah... sifat Umikawa-san yang kental akan aura ketua kelas yang kaku dan Shimizu-san yang kental dengan aura
gyaru yang bebas mungkin memang
kombinasi yang paling buruk.
"Entah kenapa, perasaanku mengatakan Aoyagi-kun sedang memikirkan hal yang tidak sopan tentangku."
"Itu cuma perasaanmu saja. Daripada itu, apa yang dikatakan Umikawa-san ada benarnya juga. Bukankah kasihan kalau kita memperlakukannya dengan sebegitu ketusnya?"
Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan tajam Shimizu-san sambil mencoba membela Umikawa-san.
Aku mengerti apa yang ingin disampaikan Shimizu-san, tapi Umikawa-san hanya salah di cara penyampaiannya saja yang kasar, apa yang dia katakan tidaklah salah.
Yah, memang sering sih aku berpikir, 'Coba deh perbaiki cara bicaramu', tapi tetap saja, dialah yang benar.
"A-kun sedang membela gadis lain... Rasanya seperti ada flag baru yang mau berdiri..."
" Aaah~, Umikawa-san itu agak mirip dengan Aoyagi-kun yang dulu, ya~?
Terutama di bagian suka mukul pakai fakta tanpa mikirin perasaan orang lain.
Yah, walau ada bedanya sih, Aoyagi-kun melakukannya dengan sengaja sedangkan Umikawa-san itu sifat aslinya, wajar aja kalau kamu jadi pengen belain dia~"
Tiba-tiba Char menggembungkan pipinya, sementara Shimizu-san menatap wajahku dengan senyuman meledek.
Kenapa tiba-tiba aku yang jadi dipojokkan begini...!?
"A-aku tidak ada maksud lain, lho...!?"
"Soalnya A-kun itu sering melakukan tindakan berdosa tanpa sadar."
"Iya iya, move tanpa sadarmu itu bener-bener tidak baik, ya~"
"Kayaknya kelakuanku tidak separah itu loh!?"
Entah kenapa mereka berdua seolah sudah janjian memojokkanku; Char dengan tatapan tajamnya dan Shimizu-san dengan seringaiannya.
Orang yang kusebut belakangan sudah pasti cuma sedang menikmati situasi ini.
"Kalau bicara soal seberapa parahnya..."
"Yah, sudah stadium akhir, kan?"
――Pikirku begitu, tapi begitu mendengar kalimatku, Char dan Shimizu-san malah saling bertatapan lalu tersenyum getir.
Ah, ini teguran serius rupanya.
"Eh, emangnya separah itu, ya...?"
Aku jadi lumayan khawatir.
Perasaanku sih aku tidak pernah melakukan hal yang bisa bikin cewek lain salah paham sampai segitunya...
"Pokoknya, karena pergerakan tanpa sadar Aoyagi-kun sudah tidak mungkin bisa sembuh sekarang, mari kita singkirkan masalah itu dulu."
"Tanggapanmu itu seakan membuangku ke pinggiran, ya..."
"Habisnya itu fakta, kok."
Shimizu-san merentangkan kedua tangannya selebar bahu, lalu menggerakkannya dari depan ke sisi kiri seolah sedang memindahkan barang tak kasatmata. Saat aku memprotes tindakannya itu, dia malah menyeringai usil padaku.
Akhir-akhir ini, anak ini jadi kelewat santai kepadaku, ya...
Padahal dulu dia benar-benar sangat membenciku.
Bahkan kurasa dulu sikapnya jauh lebih parah daripada Umikawa-san.
Yah, dia kan berteman baik dengan Char, jadi wajar saja sikapnya padaku melembut karena aku ini pacarnya... atau lebih tepatnya tunangannya.
Selain itu, mungkin karena aku berteman dengan Riku, sepupunya.
"Jadi, kamu tadi mau ngomongin apa?"
" Ah, iya, iya. Umikawa-san itu memang dasarnya rewel, tapi tadi dia tidak cuma ketus sama Aoyagi-kun, tapi juga sama Charlotte-san, kan? Tahu tidak kenapa?"
Shimizu-san menepuk kedua tangannya, lalu mengacungkan jari telunjuk dan memberikan pertanyaan kepada kami.
" Ah...!"
Char, yang seharusnya tak ada urusan dengan Umikawa-san, tiba-tiba berseru seakan menyadari sesuatu.
"Oh, udah tahu jawabannya?"
Mendengar itu, Shimizu-san bertanya dengan nada kaget―― " Apa karena aku sudah menjadi pacar A-kun, makanya dia menganggapku sebagai kucing pencuri...!?"
――Jawaban Char benar-benar meleset jauh dari sasaran.
Saking melesetnya, Shimizu-san sampai nyaris terjungkal.
"...Salah, ya?"
Sadar dari reaksi Shimizu-san kalau jawabannya melenceng ke antah berantah, Char menatap Shimizu-san dari bawah dengan kikuk seolah sedang membaca situasi.
" Ahaha... yah, um. Jawabannya jauh melebihi ekspektasi gilaku, tapi karena ini Charlotte-san, wajar aja keluar jawaban kayak gitu."
Shimizu-san yang cukup sering menghabiskan waktu bersama Char di sekolah, menunjukkan pemahamannya terhadap jalan pikiran Char.
Habisnya anak ini sejak jadian denganku memang terus memusingkan hubunganku dengan perempuan lain.
Tidak heran kalau Shimizu-san bisa langsung memakluminya.
Yah, jangankan dulu, sekarang saat rasa cemburunya seharusnya sudah sedikit mereda saja dia masih bisa melontarkan jawaban seperti itu.
"Kalaupun Umikawa-san suka sama Aoyagi-kun, dia tidak bakal bersikap begitu ke Charlotte-san cuma gara-gara itu. Memang sih dia tipe yang tidak mau berurusan sama orang lain duluan, tapi dia lumayan ramah sama cewek cantik, pendiam, dan jadi representasi keanggunan kayak Charlotte-san, tahu."
Hebat juga, Shimizu-san ini lumayan peka memperhatikan sekitarnya.
Bagiku pun, kesan tentang Umikawa-san sama persis dengan yang dikatakan Shimizu-san.
Justru karena itulah, aku lumayan terkejut saat Umikawa-san menggunakan kata-kata tajam kepada Char tadi...
"Soal aku yang menjadi representasi keanggunan, rasanya agak berlebihan..."
Sepertinya Char lebih peduli pada fakta bahwa dirinya dipuji sebagai perwakilan gadis anggun ketimbang sikap Umikawa-san.
Yah... begitulah.
Anak ini dari segi penampilan dan gerak-geriknya memang anggun, tapi dia punya pengetahuan yang lumayan luas soal 'hal itu'...
Bahkan saking tingginya nafsunya, dia bisa terus-terusan melakukannya semalaman suntuk...
" Ahaha, kalau Charlotte-san itu tidak anggun, berarti tidak ada lagi cewek anggun di dunia ini!"
Shimizu-san yang tentunya tidak tahu-menahu soal urusan ranjang Char, tertawa lepas dan menepis ucapan Char.
Kalau sampai tahu sisi lain Char, mungkin Shimizu-san sekalipun bakal terkejut setengah mati...
" Ahaha..."
"Yah, inti jawabannya adalah karena Charlotte-san berhasil menduduki peringkat dua paralel di ujian sebelum liburan musim dingin."
Entah tak menyadari Char yang tertawa garing sambil menatap kosong ke kejauhan, atau sengaja membiarkannya, Shimizu-san langsung membeberkan alasan kenapa Umikawa-san bersikap ketus pada Char.
Memang sudah kuduga, itu alasannya.
Kalau disuruh memikirkan kemungkinannya, dari awal firasatku memang tertuju ke situ.
"Hanya karena aku meraih peringkat dua...? Memang sih, secara tidak langsung aku membuat peringkat semua orang selain A-kun jadi turun..."
Char yang kurang menangkap maksudnya, memiringkan kepalanya dengan heran.
Wajar saja.
Karena kami selalu bersama dari pagi sampai malam aku kadang suka lupa, tapi Char belum ada setengah tahun berada di Jepang.
Tentu saja, dibandingkan aku dan Shimizu-san, dia kurang paham soal seluk- beluk urusan kompetisi peringkat di sekolah ini.
"Kamu tahu kan kalau Aoyagi-kun selalu dapat peringkat satu berturut-turut sejak masuk ke sekolah ini?"
"Iya, itu sudah jadi rahasia umum, kan."
Char mengangguk dengan sedikit bangga menanggapi pertanyaan Shimizu-san.
Bagiku pribadi, aku tidak ingin hal itu terlalu dibesar-besarkan, tapi wali kelasku Miyu-sensei dan wakil wali kelas sekaligus guru musikku, Sasagawa- sensei, sepertinya suka memamerkan pencapaian itu...
Omong-omong, aku baru sadar kalau dia itu wakil wali kelasku tempo hari, dan jujur aku lumayan kaget.
Yah, guru wakil wali kelas memang jarang masuk kelas――mereka baru akan turun tangan menggantikan kalau wali kelas sedang sakit atau cuti.
Masalahnya, Miyu-sensei itu tidak pernah libur sama sekali.
Malahan, orang itu sepertinya kebal sama yang namanya jatuh sakit.
――Tiba-tiba, rasa dingin yang menusuk menjalari sekujur tubuhku.
"――Eh!?"
"A-kun? Ada apa?"
Menyadari tubuhku bergidik ngeri, Char mengintip wajahku dengan pandangan cemas.
"Tiba-tiba aja aku merinding..."
"Palingan di dalam hati kamu lagi jelek-jelekin Miyu-sensei, kan?"
Kok kamu bisa tahu, Shimizu-san...!
Yah, walau sebenarnya aku tidak sedang menjelek-jelekkannya juga sih...!
Malah kurasa tadi itu semacam pujian...!
...Kayaknya.
"A k u tidak punya nyali buat jelek-jelekin orang itu..."
"Sama aja kayak cari mati, ya."
Saat aku membeberkan isi hatiku yang sebenarnya, Shimizu-san mengangkat bahu seakan bersimpati.
Walau ini agak telat dipikirkan, tapi kurasa jarang ada guru yang diomongin murid-muridnya sampai seperti ini.
Lagipula bukan cuma di kalangan murid, guru-guru lain juga pada takut sama orang itu...
"Nah, kembali ke topik, sebenarnya di balik Aoyagi-kun yang selalu rangking satu, ada anak yang selalu mentok di peringkat dua seumur hidupnya. Anak malang yang selalu kalah dari Aoyagi-kun dan cuma bisa jadi juara dua."
"Hei, bisa tolong berhenti bicara seolah aku ini penjahatnya?"
Kalau dia sampai disebut 'anak malang', bukannya itu bikin aku yang mengalahkannya terkesan jadi orang jahat?
Yah... aku bukannya tidak mengerti betapa nyeseknya selalu dapat juara dua, tapi orangnya sendiri pasti benci kalau dikasihani seperti itu.
"Jangan-jangan, orang yang selalu berada di peringkat dua itu..."
"Yap, itu Umikawa-san."
Mendengar jawaban Shimizu-san, Char akhirnya paham alasan kenapa dia diperlakukan dengan ketus.
Tentu saja karena aku sudah tahu peringkat Umikawa-san, aku bisa menebak jawabannya lebih cepat dari Char.
"Karena di ujian kemarin jangankan merebut posisi pertama, peringkatnya malah anjlok ke urutan tiga, makanya dia jadi dendam padaku, ya..."
"Kalau dibilang dendam rasanya kurang tepat sih... tapi dia itu selalu menjadikan Aoyagi-kun musuh bebuyutannya. Saat dia lagi berambisi banget buat ngalahin Aoyagi-kun, dia malah kalah saing sama Charlotte-san yang muncul tiba-tiba. Jadi palingan dia cuma lagi melampiaskan kekesalannya aja.
Yah, dan rasanya fakta bahwa kamu itu 'Pacar Aoyagi-kun' bikin dia makin jengkel."
Setelah mengatakannya, Shimizu-san melirik sekilas ke arahku.
Menangkap apa maksud tatapannya, aku hanya bisa menghela napas pasrah.
"Shimizu-san ini benar-benar niat banget pengen nyalahin aku, ya..."
"Tidak kok, aku kan cuma menyampaikan fakta aja."
Saat aku memprotesnya, Shimizu-san dengan gaya dibuat-buat memiringkan kepalanya.
Melihat tingkah kami, Char tanpa sadar terkekeh pelan.
Sepertinya, kecanggungan tadi sudah berhasil dicairkan.
"Intinya, aku tidak tahu apa niat asli Umikawa-san, tapi kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Char sama sekali tidak berbuat salah, lagipula anak itu bukan tipe orang yang pendendam soal peringkat dan bakal sengaja menindas orang lain."
Kalau dia memang tipe orang yang suka menindas, aku pasti sudah jadi korban perundungannya dari dulu.
Terlebih lagi, seperti yang dibilang Shimizu-san, Umikawa-san itu anak yang lurus.
Dia sangat membenci kecurangan, jadi sangat mustahil dia akan menggunakan taktik licik untuk menjatuhkan peringkat Char.
"Benar juga ya, dipikirkan juga tak ada gunanya... Lagipula target utamaku adalah harus bisa mengalahkan A-kun."
" Aku juga tidak akan membiarkan diriku kalah dari Char."
Karena aku ini sering berolahraga, aku sangat mengerti rasanya jengkel setelah menelan kekalahan.
Tapi, selama kamu terus menyalahkan orang lain atas kekalahanmu, kamu tidak akan pernah bisa berkembang. Kalau mau bersaing, lebih baik bersainglah dengan suportif dan
fair.
Dalam artian itu, hubunganku dan Char sepertinya adalah yang paling ideal.
"――Iya deh iya, dasar duo murid teladan, tolong jangan mesra-mesraan di tengah jalan ya~"
Yah, walau pada akhirnya kami tetap disoraki oleh Shimizu-san yang terlihat sewot.
â—†
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, hubunganku dan Char di sekolah baik- baik saja.
Bahkan setelah pulang ke rumah pun, hubungan kami tetap baik.
Tapi entah kenapa――Char masih tetap enggan untuk tidur bersamaku.
Sekarang pun, di kamarku dan Char, hanya ada aku dan Emma-chan yang sedang tidur di ranjang.
Sepertinya Char masih berniat untuk tidur di ruangan lain hari ini.
"Harusnya aku memang tanya alasannya, ya...?"
Kalau cuma pisah ranjang sehari atau dua hari sih aku bisa maklum... tapi ini sudah hari keempat.
Kalau dibiarkan, perasaanku mengatakan kami bakal tidur pisah ranjang selamanya.
Tapi kalau aku menanyakannya sekarang, rasanya aku seakan mengekang ruang geraknya.
Walaupun begitu, kami kan sudah berjanji untuk tidak saling merahasiakan sesuatu, kurasa tidak ada salahnya kalau aku bertanya...
Selain itu, ada hal lain yang mengganggu pikiranku selain soal Char.
Dari hari ke hari, Kaguya-san terlihat makin loyo dan kurang tidur.
Melihat auranya sepertinya dia tidak bisa tidur nyenyak, dan kalau aku tidak salah ingat, Kaguya-san mulai bertingkah aneh sejak Char memutuskan untuk tidur terpisah dariku.
Kamar yang sekarang digunakan Char itu letaknya tepat di sebelah kamar Kaguya-san, apa jangan-jangan Char melakukan sesuatu yang membuat Kaguya-san tak bisa tidur...?
...Etidak mungkin, ding.
Char sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya, tidak mungkin dia melakukan sesuatu yang merepotkan Kaguya-san.
Kondisi Kaguya-san pasti disebabkan oleh hal lain yang tak ada hubungannya dengan Char.
Intinya, aku harus memikirkan jalan keluar untuk masalah Char――apa mending aku tanyakan saja pada orang yang paling memahaminya?
Siapa tahu Char menceritakan sesuatu padanya. Lagipula, kalau dihitung dengan perbedaan waktu, saat ini masih siang hari di negaranya, jadi tidak akan mengganggunya.
Berpikir demikian, aku pun memutuskan untuk meneleponnya.
Yah, tentu saja aku mengirimi pesan obrolan terlebih dahulu untuk mengecek keadaannya.
Tak berselang lama menatap layar ponsel, tanda
《Dibaca》 langsung muncul.
Tepat ketika aku sedang menunggu balasannya, panggilan telepon mendadak masuk.
『Halo――』
《『Haiii, Akihito! Lama tak jumpa~! Tumben kamu tiba-tiba mau nelepon, ada apa?』》
Begitu panggilan tersambung, dia langsung mencerocos seolah memotong kata-kataku.
Seperti biasa, dia selalu penuh semangat...
『Lama tak jumpa, Livy. Apa kamu lagi senggang sekarang?』 Orang yang kuajak bicara kali ini adalah Livy, sahabat lama Char.
Kalau Char sedang punya masalah atau ganjalan, kemungkinan besar dia akan curhat pada sahabatnya ini.
Kuharap dia tahu sesuatu tentang keadaan Char...
《『Tentu saja, karena lagi senggang makanya aku yang nelepon kamu!』》 Ya, saat layar ponselku berkedip karena teleponnya masuk tadi, aku sudah menduga begitu.
Sifat Livy yang to the point ini sungguh sangat membantu.
Di saat aku sedang berpikir begitu――
《『Eh, apaan tuh!? Lagi nelepon siapa!?』》
《『Pacar!? Jangan bilang kamu lagi nelepon cowokmu, Livy!?』》 ――Tiba-tiba, dari seberang telepon terdengar suara melengking gadis-gadis yang tidak kukenali.
Kemungkinan besar, itu adalah teman-teman satu sekolah Livy dan Char di sana.
《『Bukanlah!! Ini fiancé (tunangan) Lotty!!』》
《『Kyaaaaaa!』》
Saat Livy meneriakkan statusku kepada mereka, rentetan pekikan melengking khas remaja putri kontan saja memekakkan telinga.
Firasatku mengatakan ini bakalan jadi merepotkan...
《『Seriusan, tunangannya Charlotte!? Berarti cowok Jepang, dong!?』》
《『Waktu aku dengar dari Livy kalau Charlotte udah punya tunangan aku kira itu bohong, ternyata cowoknya beneran eksis!? Charlotte yang itu!?』》 《『Padahal aku yakin banget itu cuma mimpi Livy doang waktu dia ketiduran di pesawat pas pulang dari Jepang!!』》
《『Heh, kalian nganggap aku ini apaan, sih!?』》
Sepertinya fakta bahwa Char berhasil memikat seorang laki-laki terdengar sangat tak masuk akal di telinga mereka, sehingga mereka heboh bukan main.
Dan hal itu memancing protes keras dari Livy.
Aku tidak tahu ada berapa banyak gadis yang mengerubunginya di sana, tapi Livy pasti sangat kewalahan meladeni mereka semua.
Kukira dia sudah pulang sekolah, tapi mungkin saja dia sedang di perjalanan pulang bersama teman-temannya atau malah lagi kumpul bareng mereka.
《『Eh, kasih kita ngobrol juga, dong!』》
《『Tidak mau ah, aku lagi asyik ngobrol tau! Kalau kalian kubiarin ngoceh, bisa-bisa sampai matahari terbenam tidak bakal kelar!』》 《『Itu kan bukan cowokmu, masa kamu monopoli sendiri, curang ah!』》 《『Ngomong-ngomong, Charlotte juga lagi bareng dia tidak!?』》 ――Wah, situasinya makin kacau.
Apa mending kumatikan saja dulu lalu telepon lagi nanti?
Mengingat aku menelepon Livy tanpa sepengetahuan Char, bisa-bisa ini menimbulkan kesalahpahaman yang tak perlu.
...Omong-omong, Char sepertinya harus kembali ke Inggris sebelum bulan April untuk mengurus ulang izin belajarnya, tapi kalau melihat kelakuan teman- temannya, dia pasti bakal repot banget pas pulang nanti...
《『――Hah... hah... ma-maaf ya... Maaf bikin kamu nunggu lama, aku berhasil kabur dari mereka... Sekarang udah aman kok...』》
Setelah kutunggu beberapa saat, terdengar suara napas Livy yang tersengal- sengal setelah berhasil memisahkan diri dari gerombolan temannya.
『Padahal kamu tidak perlu sampai kabur segala, lho... kamu tidak apa-apa?』 Aku bakal merasa sangat bersalah kalau hubungannya dengan teman- temannya jadi renggang karena aku...
《『Tenang aja... habis ini aku bakal nyusul mereka lagi kok... Maaf, tolong kasih aku waktu sebentar... buat narik napas...』》
Sepertinya dia baru saja melakukan lari maraton dadakan, dia meminta waktu kepadaku dengan nada kelelahan.
『Santai aja, aku tidak buru-buru kok.』
Aku menenangkannya dengan lembut agar dia tidak terburu-buru, dan selagi menunggu napasnya kembali teratur, aku mengelus kepala Emma-chan yang sedang tertidur lelap di sisiku.
《『――Makasih udah nunggu. Terus, tadi mau ngomongin soal apa?』》 Setelah napasnya kembali normal, Livy mengembalikan topik obrolan seakan badai teman-temannya tadi tidak pernah terjadi.
Dia benar-benar jago ganti topik.
『Ini soal Char――』
Sebagai langkah masuk ke topik utama, aku pun menceritakan keluh kesahku mengenai Char secara garis besar kepadanya.
Mendengar ceritaku――
《『Ngapain sih si Lotty ini...!! Padahal udah aku bilang jangan sampai Akihito lepas...!!』》
Livy tiba-tiba saja langsung emosi.
Eh, apa aku salah pilih tempat curhat...?
『Eh bukan, ini salahku kok. Maksudku, gara-gara aku Char jadi merasa kesepian, gitu.』
Aku tidak mungkin mengatakan secara terang-terangan kalau 《Dia mungkin lagi ngambek karena kita udah lama tidak berhubungan intim》, jadi aku memperhalusnya menjadi 《Aku bikin dia ngerasa kesepian》.
Tapi mau bagaimanapun, akulah pihak yang bersalah di sini. Jadi aku bakal repot kalau Livy malah memarahi Char...
《『Kalau gitu, harusnya dia jujur aja kalau mau dimanja...!』》 Tapi, bukannya mereda, amarah Livy malah makin meledak.
Yah, kurasa ini memang efek samping karena aku sengaja menutupi fakta aslinya.
Memang benar, kalau dia merasa kesepian, harusnya dia bisa mengatakannya padaku secara langsung. Kenyataannya, kalau cuma untuk minta diperhatikan, Char pasti sudah menyampaikannya kepadaku.
Masalahnya, akar permasalahannya sekarang adalah perkara "ranjang".
Ditambah lagi dia kan aslinya lumayan pemalu, mustahil seorang gadis terhormat seperti Char bisa dengan mudah mengatakannya.
...Yah, emang sih...
Beberapa waktu yang lalu dia pernah menyindirku secara halus soal itu.
『Ini semua gara-gara aku terlalu sibuk, dia juga sengaja tidak bilang biar tidak nambah bebanku, kan...』
《『Tetep aja, kalau sampai ujung-ujungnya bikin Akihito ngerasa cemas, itu tidak bener...!』》
Duh, harus kubilang apa lagi, ya?
Kata-kata Livy itu sangat logis, aku tak bisa membela Char lebih jauh lagi kalau aku tidak membeberkan cerita aslinya.
Tapi sumpah, aku tidak mungkin mengatakannya padanya...
《『Lagian ngapain pakai pisah kamar segala... kalau dia aja gampang banget ambil jarak kayak gitu, terus gimana nasib pengorbananku yang udah rela ngalah buat dia...』》
Di saat aku sedang sibuk merangkai kata demi meredam amarah Livy... samar- samar kudengar ia menggumamkan sesuatu dari ujung telepon.
『Maaf, suaramu kurang jelas tadi... Kamu barusan ngomong apa?』 Karena sedari tadi terlalu fokus mencari cara untuk berkelit, aku pun bertanya sejujurnya kepadanya karena aku memang tidak bisa menangkap omongannya.
《『Aku bilang, kalaupun dia malu mau minta dimanja, ambil jarak sama kamu tetep tidak bisa dibenarkan...!』》
Entah kenapa, dia malah menjawab pertanyaanku dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Bahkan rasanya ada sedikit nuansa salah tingkah di balik nada bicaranya yang meninggi, apa itu hanya perasaanku saja?
Ah, mana mungkin. Dari awal tidak ada hal yang bisa bikin Livy salah tingkah, kan. Ini pasti cuma perasaanku saja.
『Hmm, jadi kamu juga tidak tahu apa yang dipikirkan Char, ya? Apa dia tidak pernah curhat sama sekali ke kamu?』
《『Tidak tahu, dan dia juga tidak pernah bilang apa-apa...! Lagian, bawaannya aku pengen langsung nelepon Lotty tau tidak!!』》
Waduh, ini bahaya.
Kalau sampai dia kena marah Livy padahal Char sendiri tidak tahu akar permasalahannya, jangan-jangan nanti malah timbul ketidakpercayaan di antara aku dan Char.
Lagipula Char punya imajinasi yang terlalu liar, bisa-bisa nanti dia menyangka aku ini selingkuh di belakangnya――pokoknya, ini harus kucegah dengan cara apa pun...
『Maaf, tapi biar urusan ini kuselesaikan sendiri sama Char nanti, jadi... apa kamu bisa tolong untuk tidak menelponnya dulu...?』 Kalau tidak begitu, panggilan konsultasi ini bukannya mencari titik terang malah menciptakan ladang masalah baru...
...Tapi tentu saja kalimat itu hanya bisa kutelan dalam hati.
Toh, Livy marah karena ingin membelaku, kan.
《『Kalau Akihito yang minta sih, aku nurut aja... Tapi tetep aja rasanya kesel, uuuuggghhh...!』》
Mirip seperti Char, Livy yang baik hati dan pengertian ini mau mengabulkan permintaanku tanpa banyak protes.
Meski begitu, ia tampaknya masih tak terima, terdengar suara geraman pelan layaknya anak anjing dari bibirnya.
Mungkin ia sedang berusaha keras menahan rasa dongkolnya...
『Sekali lagi, aku minta maaf udah repotin kamu buat urusan kayak gini.』 《『Tidak, kok, jujur aku malah seneng! Itu tandanya kamu mau mengandalkanku, kan!』》
Ketika aku merangkum ucapan maafku untuk menyita waktunya sekaligus membuatnya khawatir, nada suara Livy mendadak jadi jauh lebih ceria.
Rupanya emosinya sudah mereda sepenuhnya.
Ditambah lagi, aku merasa ada kemiripan pola pikir di antara kami berdua, dan jujur itu lumayan menyenangkan.
『Mendengar kamu bilang begitu bikin perasaanku jadi lega.』 《『Aku bilang begini beneran tulus lho, ya!? Bukan semata-mata karena kamu itu cowoknya Lotty, bagiku Akihito adalah pahlawan penyelamatku, dan karena kamulah aku makin semangat belajar bahasa Jepang. Jadi intinya... yah...
pokoknya aku pengen membalas budi kebaikanmu, tau...!』》 Di akhir ucapannya kalimat Livy terdengar agak tersendat-sendat, tapi aku bisa merasakan bahwa ia telah berusaha keras menyalurkan isi hatinya kepadaku.
Padahal selama ini aku tidak pernah melakukan hal hebat untuknya. Terlebih lagi, yang jadi guru bahasa Jepangnya selama ini kurasa Kaguya-san dan bukan aku atau Char. Tapi, tetap saja hatiku menghangat mendengarnya.
『Makasih banyak. Bisa ngobrol sama kamu sedikit ngurangin beban di hatiku.
』
《『Beneran!? Kalau gitu, jangan sungkan buat nelepon aku lagi, ya!』》 Nada suara di ujung telepon mendadak cerah, menunjukkan bahwa Livy membuka pintunya lebar-lebar menyambutku.
Yah, walau aku juga tak mungkin terlalu sering meneleponnya karena pasti bakal bikin Char risih, setidaknya kalau nanti aku punya masalah lagi, ia akan jadi tempat pertama yang kupilih untuk curhat.
『Kamu juga, kalau ada apa-apa telepon aja, tidak usah sungkan. Bisa sekalian buat latihan ngobrol bahasa Jepang juga, kan.』
《『――Ah! Bener juga, akhir-akhir ini bahasa Jepangku udah lumayan lancar, lho...! Nih, cobain deh denger――』 Ohayou, gojaimashu. Konnichiwa.
Konbanwa. Oyashuminyashai. Arigatou. Gomennyashai. 《『Gimana, salamku udah perfect, kan!』》
Seperti anak balita yang membatidakan prestasinya sambil bilang 《Nih dengar! Dengar!》, Livy memamerkan kemampuan bahasa Jepangnya padaku.
Sejujurnya pengucapannya sama sekali belum sempurna, tapi ketidaksempurnaannya itulah yang membuatnya terdengar menggemaskan.
Kerja kerasnya juga sangat terasa di balik kata-katanya.
『Hebat, kelihatan banget kalau kamu serius belajarnya.』 《『Iyalah! Terus ada lagi nih――』 Akihito wa, Rorikon deshu! (Akihito itu seorang Lolicon!)》
『――Hah!?』
Eh, barusan dia ngomong apa!?
Tiba-tiba saja dilempar kalimat yang sangat luar biasa tidak masuk akal, seketika pikiranku menjadi kosong melompong.
《『Kata ini dipakai buat nunjukin orang yang suka like sama gadis kecil, kan?
Soalnya Akihito itu sayang banget sama Emma, makanya! Aku juga ngaku kalau aku ini Lolicon, kok!』》
Livy terdengar polos tanpa niat buruk sedikit pun dan menjelaskannya dengan gembira ria.
Sepertinya, dia telah disesatkan soal makna asli dari kata itu.
Livy... suka yang kau maksud itu maknanya jauh beda dengan kata like yang kau pahami...
『Itu jangan-jangan ajaran dari Kaguya-san...?』
《『Yap!!』》
Kaguya-saaaaann!!
Anda ngajarin hal macam apa kepadanya!?
Jelas-jelas ini kesalahpahaman kelas kakap, atau jangan-jangan Anda sengaja menyesatkan otaknya, ya!?
Sambil mengomel habis-habisan di dalam hati, aku meluruskan makna "Lolicon" yang sebenarnya kepada Livy.
Gila aja aku membiarkan dia menyebut-nyebut dirinya Lolicon, bahaya tingkat dewa.
《『――Kaguya ngerjain aku...』》
Begitu mendengar kebenarannya, Livy kontan langsung tertunduk lemas.
Yah, tebakanku Kaguya-san tak berniat mengerjainya dan sebatas meminjamnya untuk mencela kelakuanku. Meski begitu, candaannya ini rasanya terlalu jauh.
Tapi siapa sangka orang seserius itu bisa main-main hal beginian...
『Semoga aja dia tidak ada ngajarin kata bahasa Jepang yang aneh-aneh lagi ke kamu...』
《『Menurutku... kayaknya aman...』》
Kedengerannya kamu tidak yakin begitu, ya...
Biarpun begitu, kalau dia sampai banyak-banyak mengajarkan kosa kata aneh kepadanya, efek kerusakannya bakal tak terkendali dan bisa membuat kepercayaan Kanon-san luntur. Jadi, dia pasti tak akan melanjutkan kenakalannya.
Kalaupun dia sempat mengajarkan hal-hal lain yang nyeleneh, korbannya pasti aku lagi, jadi seandainya nanti kejadian lagi, pasti akan terungkap saat Livy mengatakan kata-katanya padaku seperti barusan.
『Tapi ngeliat kemampuanmu udah sampai tahap segitu, kamu bisa datang ke Jepang lebih cepat kayaknya?』
《『Pokoknya pas Akihito naik kelas tiga nanti aku pengen banget nyusul ke sana...!』》
Itu berarti sekitar dua bulan lagi, ya...
Agak pesimis sih, tapi kalau disokong dengan bantuan dari Char dan aku, mungkin masih bisa diakali.
『Semangat, ya.』
《『Pasti! Buat Akihito juga semangat bujukin Lotty ya. Pokoknya tebakanku dia tidak marah cuma perkara dicuekin kok. Kalau aku nilai, kayaknya dia ambil jarak gitu biar dipancing biar dapat perhatianmu, lho? Eh, tapi kalau dia sengaja cari suasana biar bisa sendirian pas malam hari, jangan- jangan――――――!?』》
『Livy...?』
Mendengar Livy yang tiba-tiba menghentikan dukungannya dan melepaskan jeritan kaget, aku segera memanggilnya dengan sedikit cemas.
《『Ng-tidak ada apa-apa, kok! Pokoknya yah, intinya Lotty bukan karena lagi ngambek...! Ce-cewek itu butuh waktu buat me time, tau tidak? Jadi kayaknya dia cuma lagi pengen menyendiri aja? ...So-soalnya, Lotty kan kuat banget...』 》
Kalimat di akhir terlalu lirih untuk bisa ditangkap telinga, tapi aku setuju dengan Livy bahwa terkadang orang itu memang butuh waktu sendiri.
Tapi yang bikin aku kepikiran, kenapa dia tiba-tiba gugup begitu...
《『Po-pokoknya gitu deh, kamu tidak usah pusing mikirin hal itu...! Lotty tidak bakalan mungkin benci sama Akihito, tau...!』》 Sebatas itu saja petuah dari Livy, dan seakan mau kabur dari interogasi lebih lanjut, ia buru-buru mematikan ponselnya seraya memekik, 《Ya, cuma itu aja yang bisa kukasih tau ke kamu...! Udah dulu ya, daaahh!》 ◆
"Tidak mungkin juga teman-temannya pada ngamuk gara-gara Livy tidak balik- balik ke tongkrongan... Terus apa ya?"
Sekuat apa pun aku merenungkannya, tentu saja tidak akan ada yang repot- repot memberiku jawaban atas pertanyaan ini.
"Hmm... Livy emang bilang begitu tadi, tapi instingku mengatakan kalau itu bukan sekadar cuma mau 'waktu menyendiri' saja... Berarti memang sudah jalannya buat bicara baik-baik ke Char, ya?"
Mumpung Emma-chan juga tengah terlelap, dengan modal keyakinan tadi aku memutuskan untuk segera angkat kaki dari kamarku.
Tujuanku selanjutnya tentu saja adalah kamar di mana Char sedang beristirahat, namun――.
"Hmm...? Seperti ada suara yang aneh..."
Begitu langkah kakiku makin mendekati kamarnya, desir pelan dari dengungan mesin menggelitik gendang telingaku.
Tidak, sepertinya bukan cuma mesin belaka.
Samar-samar tertangkap suara erangan juga dari dalam sana―― 『――Aaahhn! A-kun, di situ... jangan...! Terus-terusan menyiksa area situ itu jahat, lho...! Padahal di situ kan titik lemahku, nnnnghhh...!』 "............"
Eh?
Heh?
HAHH!?
Wah, gila. Situasi macam apa ini!?
Dari arah kamar Char terdengar gema lolongan... yang mana itu adalah sahutan desahan manja milik Char sepenuhnya. Otakku sama sekali tak bisa menampung apa yang tengah berlangsung.
Ketimbang dibilang tak bisa mencerna keadaan, sepertinya pemahamanku sedang mogok tak mau menyinkronisasikannya.
『A-aku udah keluar! Barusan udah keluar, Aahhh...! To-tolong, ampuni aku...!
A-kun, beneran, jangan lagi, kumohon...!』
Woi woi woi woi!
Aku tidak ngapa-ngapain dari tadi!
Sama sekali tidak nyentuh loh ini!?
Terus juga bunyi '
ngiiing-ngiiing' sama 'vrrrrtt-vrrrrtt' ini dari tadi beneran apa, sih? Char ini aslinya lagi sibuk apa di dalam sana!?
Pemandangan ini terlalu merusak akal sehatku, bikin sepasang kakiku membeku di hadapan pintunya.
Omong-omong, Charlotte-san yang terhormat!
Kenapa delusinya ngarah ke penyiksaan fisik, heh!?
Aku emang tahu kok seleramu itu yang sedikit dominan dan kuat, tapi sumpah, demi apa pun aku tidak pernah main barbar sehabis kamu mencapai klimaks!
Dan itulah uneg-uneg protes yang kulemparkan pada diriku sendiri untuk menyangkal kejadian tak wajar di depan mataku.
Aku tahu bakat aslinya itu emang agak masokis, tapi gila aja kalau sampai separah ini...
Plus, dia terlalu menjiwai perannya!!
Untung saja kamar ini jaraknya dipisahkan lumayan jauh sama lokasi kamar Kanon-san, lokasi kamarku bareng Emma-chan――dan apalagi kamar milik Sofia-san yang sekarang lagi kosong. Telinga mereka mustahil bisa menangkap sahut-sahutan tersebut... tapi lain ceritanya sama Kaguya-san. Beliau ini kamarnya deket-deket situ kan!?
Bentar... Kaguya-san yang tadi pagi kurang tidur itu gara-gara dengerin konser ini, kan...?
Terus apa yang salah sama si Char ini? Sudah capek konser semalaman suntuk bukannya loyo malah badannya makin bugar dan berseri-seri tiap pagi!?
Stamina anak ini benar-benar tidak wajar...
Yah, apa pun itu... intinya misteri kenapa Char pengen tidur sendiri sudah terpecahkan hari ini.
Serta alasan kenapa ini bisa terjadi, mau sekeras apa pun kutebak pastilah ini semua salahku.
Selama sebulan ini aku udah membuatnya menahan diri, alhasil inilah akumulasinya.
Tapi, harus aku apakan konser ini...?
Kalau dipikir dari sisi Kaguya-san dan Char, kuakhiri juga pastilah lebih manusiawi... tapi bayangin bagaimana runtuhnya mental anak perawan ini kalau sampai rahasia terdalamnya kupergoki telanjang bulat.
Terus apa mending aku dobrak masuk terus pura-pura hilang kesadaran buat menerkam dia gitu aja biar nafsunya mereda?
Ah, itu bunuh diri namanya.
Insting Char terlalu tajam, dia pasti bisa langsung sadar kalau niat asliku itu cuma buat akting. Selain itu, seumpama Kaguya-san dengan segala mood buruk akibat kurang tidurnya tadi mendadak dengar suaraku ikutan gabung acara ini, wah... ini rumah bisa meledak hancur jadi abu diamuk olehnya.
Lagipula mana mungkin Char rela berhenti kalau cuma sekali, dia pasti bakalan menuntutku melakukannya semalaman suntuk...
Sumpah demi apa pun ini jalan keluarnya lewat mana!?
Detik ini pula desahan manja diselingi racauan adegan mabuk kepayang terus- menerus membanjiri lorong dari kamar Char. Sialnya lagi, efek riakan basah dari dalam sana seakan memprovokasi pikiranku... aku juga laki-laki normal, berada di tempat ini sungguh sebuah siksaan.
Kontrol diriku untuk mempertahankan akal sehat benar-benar sudah hampir mencapai batasnya.
"...........Sssh...
Valentine Day kan sebentar lagi... kuurus pas hari itu aja..."
Kalau aku tidak meredamnya di hari-H, aku bisa jamin Study Tour mendatang yang absen dari kehadiran Emma-chan bakalan berubah menjadi tempat maksiat yang super kacau karena meledaknya akal sehat Char.
Selain alasan di atas, aku murni khawatir tidak akan kuat menghadapinya.
"Kaguya-san, aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu..."
Sadar penuh bahwa maafku tidak mungkin terdengar, aku menundukkan kepala kepada korban jiwa yang paling terdampak, yakni Kaguya-san. Dan pada akhirnya, dengan perasaan berat hati, kuseret langkah kakiku untuk perlahan menjauh dari kamar Char.
――Bisa kusimpulkan sekarang, paket di dalam kotak kardus waktu itu isinya adalah mainan orang dewasa...
Diskusi & Komentar (0)