🛡️

AdBlock Terdeteksi!

Kami menghargai privasi lo, tapi iklan adalah satu-satunya cara kami menjaga AgungX Novel tetap gratis untuk semua orang.

Cara mematikan AdBlock:
  1. Klik icon AdBlock / Brave Shield / AdGuard di toolbar browser lo
  2. Pilih "Turn off" atau "Shields down" untuk situs ini
  3. Jika pakai DNS adblock (Pi-hole, AdGuard Home, OpenWrt), whitelist domain agungxnovel.my.id
  4. Refresh halaman ini

Iklan yang tampil aman dan tidak mengganggu. Lo tetap bisa browsing dengan nyaman kok.

agungxnovel.my.id

Volume 4 [Short Story Bonus Khusus BOOK☆WALKER]

"Batting Center"

Aku, Shi-chan, serta Takayuki dan Shimizu-san—kami berempat datang ke area pusat latihan memukul bola (batting center).

Kalau ditanya kenapa ke batting center, sebenarnya tidak ada alasan khusus.

Setelah bersenang-senang bernyanyi karaoke berempat, Shi-chan menyadari jaring batting center di tengah kota lalu bertanya, "Itu apa?", sehingga akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan mencobanya.

"Hee~ ternyata ada fasilitas seperti ini, ya."

" Aku juga baru pertama kali ke sini."

Bukan hanya Shi-chan yang memang tertarik, Shimizu-san yang baru pertama kali berkunjung pun tampak penasaran dan menganggapnya unik.

"Mumpung sudah sampai di sini, kita harus memamerkan sisi keren kita, kan!"

"Masa sih?"

"Gimana sih, waktu masih bocah dulu kan kita sering bersaing bareng!"

"Iya sih, tapi..."

Takayuki tampak sudah bersemangat penuh, tetapi jujur saja aku sama sekali tidak percaya diri bisa memukul bolanya.

Memang sewaktu SD dulu, aku dan Takayuki sering berkunjung ke sini dan saling bersaing. Waktu itu kemampuan kami terasa seimbang, tetapi sekarang tinggi dan postur tubuh kami sudah jauh berbeda—dia atlet aktif, sementara aku anggota Klub Pulang-ke-Rumah. Jika bersaing dengan Takayuki, kemungkinanku untuk kalah sangatlah besar.

"Tak-kun juga bisa memukul bola seperti orang itu!?"

Namun, Shi-chan yang sedang mengamati orang lain berlatih memukul bola menatapku dengan binar mata penuh antusias dan harapan. Mendapat tatapan seperti itu, mana mungkin aku tega menolaknya di sini.

"...Tidak tahu bisa atau tidak, tapi aku bakal mencoba menantangnya."

Di depan pacar sendiri, aku tidak ingin terlihat memprihatinkan. Walau berkata begitu, aku yang sudah lama tidak bermain bisbol ini bahkan ragu apakah ayunan pemukul (bat) ini benar-benar bisa mengenai bola...

Akan tetapi, menyerah sebelum mencoba itu tidak benar, jadi aku memutuskan untuk ikut mencoba bersama Takayuki.

"Kalau begitu, aku duluan ya!"

Orang yang masuk ke area pemukul (batter's box) paling awal adalah Takayuki.

Bicara soal Takayuki, dia adalah ace andalan klub basket. Karena itulah dalam hal memukul bola pun, dia pasti bisa membawakannya dengan keren. Semua orang berpikiran begitu, tetapi lemparan pertama langsung meleset (karaburi). Setelah itu meskipun pemukulnya sempat menyentuh bola, dia tak kunjung berhasil mencetak pukulan bersih (clean hit).

"Pas dicoba lagi setelah sekian lama, ternyata susah banget, ya!"

Bahkan untuk ukuran Takayuki pun, hanya untuk mengenai bola saja sudah menguras seluruh kemampuannya. Setelah itu, meskipun ada beberapa kali pukulan yang cukup bagus, hasilnya bola tetap hampir tidak terlempar jauh ke depan.

Bahkan seorang ace klub basket sekalipun, jika jenis cabangnya berbeda, tetaplah seorang pemula biasa. Setingkat itulah tingginya rintangan dalam olahraga permainan bola.

"Sori ya, ternyata aku tidak bisa memukul sebagus dugaanku."

"Tapi, tadi ada pukulan yang kena kok."

"Terima kasih, ya."

Kepada Takayuki yang kembali dengan raut malu, Shimizu-san mengulas senyum seraya memberikan kata-kata penghiburan.

Seperti kata Shimizu-san, memang ada beberapa bola yang berhasil dipukul melayang ke depan. Mendadak mencoba dan bisa memukulnya saja sudah merupakan hal yang luar biasa.

Justru karena itulah, rasa cemas melanda diriku. Jika Takayuki saja hasilnya seperti itu, diriku pasti bakalan berakhir jauh lebih mengenaskan...

"Tak-kun! Semangat, ya!"

"Emm, aku coba dulu."

Setelah mengayunkan pemukul tanpa bola (suburi) beberapa kali, aku memantapkan tekad dan berdiri di area pemukul (batter's box).

Di depan, lengan mesin pelempar terlihat terangkat perlahan. Dan tepat ketika terangkat penuh, bola meluncur keluar dengan kecepatan yang sangat dahsyat.

Aku teringat masa kecil dulu, di mana aku hanya mengayunkan pemukul secara membabi buta sekadar untuk bersenang-senang. Tapi sekarang, pacarku Shi- chan sedang menonton. Mana mungkin aku melakukan tindakan memalukan seperti itu. Sambil memasang kuda-kuda pemukul meniru gaya orang lain, aku mengayunkan pemukul mengincar bola yang meluncur.

Klak──.

Hasilnya adalah foul tip. Sama seperti Takayuki, pemukulku hanya menyentuh tipis bola tanpa bisa melontarkannya ke depan.

──Tapi, pemukulku bisa kena bola. Kecepatannya bukannya tak sanggup dikejar oleh mata, dan timing-nya bisa kupaskan dalam satu kali coba. Oleh karena itu jika dengan gaya tadi aku bisa menangkap titik tengah bola dengan lebih pas, aku pun harusnya sanggup melontarkan bola ke depan...!

Bertaruh pada kemungkinan itu, aku mengayunkan pemukul pada bola kedua.

Akan tetapi, lagi-lagi hanya meleset menyenggol tanpa terlontar ke depan. Bola ketiga dan keempat berikutnya pun bernasib sama.

Menghantamkan pemukul yang ramping ini pada bola yang kecil, serta melontarkannya jauh ke depan... Sekali lagi aku dipaksa menyadari tingginya tingkat kesulitan olahraga bisbol.

Tapi, aku masih belum menyerah. Jangankan menyerah, di dalam diriku rasa percaya diri perlahan-lahan justru kian membuncah.

──Perhatikan bolanya lebih cermat lagi, dan masukkan tenaga dari pinggang saat mengayun!

Membayangkan ayunan (swing) pemain bisbol profesional yang pernah kulihat di TV, aku mengayunkan pemukul sekuat tenaga melampaui yang tadi.

TANG!

Seketika itu juga, berbunyi suara dentingan logam yang nyaring dan jelas, sangat berbeda dari sebelumnya. Dan bola yang terhantam pemukul pun melayang deras menuju jaring yang ada di depan.

"Ooooh!"

"Pukulan yang mantap!"

"Hebat, hebat!"

Melihat pukulan bola itu, Takayuki, Shimizu-san, dan Shi-chan bertiga ikut terperangah kagum. Diriku sendiri tidak menyangka sanggup melontarkan pukulan dahsyat seperti itu, hingga aku meluapkan kegembiraanku secara jujur.

Namun pada akhirnya, pukulan bersih yang mantap hanya satu itu saja, sisanya berakhir dengan bola foul atau pukulan menyusur tanah (goro).

"Tak-kun, kerja bagus!"

" Ahaha, ternyata aku tidak bisa memukul dengan bagus, ya."

"Mana ada! Pukulan tadi itu mutlak home run, tahu!"

Shi-chan yang sudah terlanjur antusias bersikeras bahwa pukulan tadi pasti sebuah home run. Takayuki dan Shimizu-san tampaknya sepakat dengan pendapat itu, jadi aku pun menerima kalau pukulan tadi dianggap sebagai home run.

"Kalau begitu, berikutnya aku juga mau coba, ah."

"Eh? Shi-chan mau coba juga? Bahaya, lho?"

"Tidak apa-apa kok, kan ada helm juga."

Memang benar sih, tetapi membiarkan gadis pemula berdiri di area pemukul (batter's box) cuma bikin cemas saja.

"Kalau sekiranya bahaya, nanti langsung kuhentikan, ya."

"...Emm, baiklah."

Terlalu protektif berlebihan justru bakal membuat Shi-chan tidak bisa bersenang-senang. Di antara pengunjung lain pun ada yang perempuan, jadi lebih baik aku mengawasinya dari dekat. Berpikir begitu, aku memutuskan untuk memberikan dukungan dari belakang saat Shi-chan memukul bola.

"Wah! Cepatnya!"

Bola pertama terlewat tanpa sempat mengayunkan pemukul. Rasa yang dirasakan saat melihat dari luar dengan sensasi langsung saat berdiri di area pemukul sangatlah berbeda, jadi wajar saja jika dia kaget.

Lalu Shi-chan, dengan instingnya memegang pemukul lebih pendek, menurunkan pinggulnya dengan kokoh lalu mengambil kuda-kuda pemukul.

Dan begitu bola kedua meluncur, dia mengayunkan pemukulnya, menangkap titik tengah bola secara sempurna lalu memukul balik bola dengan pukulan mendatar (liner) yang deras!

"Ooooh!"

Bukan hanya kami, orang-orang yang kebetulan sedang menonton di dekat sana juga mengeluarkan seruan kagum.

Setelah itu pun, menghadapi bola-bola yang meluncur, Shi-chan memukul balik bola mendatar secara tenang dan presisi layaknya mesin. Sama sekali tak terlihat memaksakan tenaga, dia menggunakan seluruh tubuhnya untuk memukul balik bola, hingga setelah selesai hampir seluruh pukulannya berada di tingkat pukulan bersih (hit).

"Pas dicoba ternyata seru banget, ya! Melihat bolanya meluncur wusss itu rasanya lega banget!"

"I-iya, benar..."

"Ooouh..."

Shi-chan yang kembali kelihatan sangat puas.

Hasil akhirnya, orang yang meluncurkan pukulan terbaik secara beruntun adalah Shi-chan, membuatku dan Takayuki hanya bisa melempar senyum canggung. Dan Shimizu-san, melihat kami berdua yang kaku seperti itu, tertawa geli dibuatnya.

Diskusi & Komentar (0)

Your Avatar