Volume 4 [Short Story Bonus Khusus Edisi Digital] "Kejutan"
(Sudut Pandang Shimizu-san)
"Selamat datang! Ayo, masuk, masuk!"
Hari Minggu sehari sebelum Valentine. Saat ini, aku sedang berkunjung ke rumah Shion-chan. Entah sudah berapa kali aku datang ke sini, tapi setiap kali datang, aku selalu dibuat takjub oleh gedung apartemennya yang luar biasa.
Meskipun aku membatin... mungkin uang sewanya adalah yang paling mahal di sekitar daerah sini, ya..., Shion-chan kan mantan idola nasional, sosok yang spesial. Jadi tidak mengherankan jika dia tinggal di sini, dan fakta bahwa aku berkunjung ke sini sebagai temannya justru terasa jauh lebih ajaib.
"Permisi."
Meskipun begitu, aku dan Shion-chan adalah teman. Tidak, sekarang aku menganggap hubungan kami sudah melampaui batasan teman dan menjadi sahabat dekat.
Lebih dari sekadar pengakuanku sendiri, aku bisa berpikiran begitu dikarenakan Shion-chan yang saat ini pun tersenyum gembira hanya dengan melihat wajahku. Karena itulah, bahkan diriku yang dasarnya pemalu dan tertutup ini bisa tersenyum secara alami di hadapan Shion-chan.
"Lihat, lihat! Sesuai janjiku, aku sudah membeli bahan-bahannya, lho!"
Saat dituntun ke dapur, di sana sudah tertata peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat cokelat. Meskipun sebelumnya dia sudah memberitahuku bahwa dia yang akan menyiapkannya hari ini, mau dipikir bagaimanapun ini jelas bukan porsi untuk dua orang.
"...Etto, jangan-jangan kamu mau membagikan girl-choco?"
TLN: Giri-choco (ηΎ©ηγγ§γ³): Cokelat kewajiban yang diberikan wanita kepada teman pria, rekan kerja, atau atasan tanpa maksud romantis pada Hari Valentine di Jepang.
"Eh? Kalau kulakukan hal seperti itu pasti bakal bikin heboh, jadi aku tidak bakal membagikannya, kok! Aku juga memikirkan hal semacam itu sebelum bertindak, tahu!"
Menjawab pertanyaanku, Shion-chan membusungkan dadanya dengan raut pamer.
Tentu saja seperti yang dikatakannya, jika Shion-chan sampai membagikan cokelat, orang-orang yang menginginkannya pasti akan berbondong-bondong datang hingga terjadi kepanikan. Tapi kalau begitu, jumlah sebanyak ini buat apa...?
Yah lagipula bahan-bahannya sendiri tahan lama, jadi tidak harus dihabiskan semuanya di hari Valentine ini. Tapi tetap saja, jumlah yang disiapkan lima kali lipat lebih banyak dari dugaanku, membuatku kaget sejak awal.
Sebanyak itulah semangat yang dikerahkan Shion-chan untuk hari Valentine kali ini. Mengenai hal itu, aku pun merasakan hal yang sama. Kepada pacar berharga pertama dalam hidupku, aku ingin memberikan sesuatu yang spesial di hari Valentine. Hanya dengan pemikiran itu saja, semangatku sudah mencapai 120%.
Saat baru masuk SMA dulu, tak pernah kubayangkan kalau diriku akan menjadi seperti ini. Hal ini tak lain dikarenakan aku diberkahi oleh orang-orang yang kutemui di SMA, seperti pacarku Taka-kun tentu saja, serta Shion-chan dan Ichijou-kun.
Padahal sewaktu SMP dulu aku bahkan merasa risi pada hal-hal berbau percintaan, namun sekarang aku sendiri justru sangat menikmati indahnya asmara. Satu hal yang membuatku meresapi betapa aku telah mendapatkan pengaruh yang sangat baik berkat mereka semua.
"Hmm, pertama-tama kita tentukan dulu mau bikin cokelat seperti apa, ya."
"Iya benar, truffle, nama-chocolate, terus kue cokelat..."
"Saku-chan mau yang mana?"
"Sebelum datang ke sini sih aku mikirnya mau bikin truffle... tapi karena Shion- chan sudah menyiapkan banyak bahan, aku jadi berpikir tidak ada salahnya coba bikin yang lain juga."
"Bagus tuh! Kalau begitu, ayo kita buat semuanya!"
Menanggapi jawabanku, Shion-chan tersenyum manis seraya mengucapkan hal yang luar biasa. 'Semuanya' itu maksudnya sejauh mana yang ada di pikirannya...?
Tapi jika bahan sebanyak ini sudah terkumpul, ngerinya memang sepertinya semua jenis cokelat bisa dibuat... Atau lebih tepatnya, aku mulai berpikir jangan-jangan Shion-chan memang sudah memperhitungkan hal itu sejak awal saat membelinya.
Buktinya, seolah-olah memang berniat membuat semuanya dari awal, Shion- chan memasang raut wajah yang sepenuhnya meluap-luap oleh semangat.
β
Kira-kira hampir satu jam telah berlalu sejak kami mulai membuat cokelat.
Sambil saling bertukar ide dan membuat ini-itu bersama, waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa.
Mungkin hari Valentine itu cukuplah dengan memberikan cokelat dan menyampaikan perasaan kepada orang yang disukai. Namun saat benar-benar membuatnya, hasilnya tak kunjung mencapai tingkat kesempurnaan yang memuaskanku, hingga standar idealku sendiri makin lama makin membengkak.
Bagi diriku, ini adalah cokelat pertama yang akan kuberikan kepada orang yang paling berharga. Karena itulah, aku tak ingin memasukkan kompromi sekecil apa pun di dalamnya.
Oleh karena itu pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyempitkan pilihan cokelat yang akan kuberikan hanya pada truffle sesuai rencana awal, lalu berfokus menyesuaikan rasa dan bentuknya hingga benar-benar puas.
Meskipun aku sudah sering membuat kue dan permen, aku belum pernah membuat sesuatu sefokus ini, jadi hasilnya menurutku adalah sebuah cokelat masterpiece dari seluruh kemampuanku.
Dan hal itu berlaku juga untuk Shion-chan. Sambil membuat cokelat, hal yang keluar dari mulutnya hanyalah tentang Ichijou-kun.
Sambil membayangkan raut gembira dari orang yang akan menerimanya, Shion-chan mencurahkan semangat yang bahkan melebihi diriku, fokus total membuat cokelat.
Aku sempat mencicipi cokelat-cokelat yang ada, tetapi semuanya berada di tingkat yang menurutku rasanya sudah sangat lezat. Namun menurut standar Shion-chan sendiri, hasilnya masih belum mencapai cokelat idealismenya.
Melihat besarnya semangat ini, aku disadarkan bahwa memang sebanyak inilah bahan yang dibutuhkannya.
" Ah, iya! Semuanya kita jadikan bekal makan siang besok saja!"
"Eh, bekal? Isinya cuma cokelat?"
"Tsk, tsk! Saku-chan, kotak bekal itu tidak harus cuma satu, tahu?"
Sambil berkata begitu, Shion-chan mengeluarkan dua kotak bekal dari lemari dengan raut pamer.
"Yang ini, bekalnya Tak-kun untuk besok. Terus, yang ini juga bekalnya Tak-kun untuk besok!"
"Bukannya dua kotak kebanyakan?"
"Bukan begitu, salah satunya diisi cokelat semua! Pertama-tama kuberikan bekal biasa seperti biasanya, lalu begitu dia selesai makan, kuberikan satu lagi sebagai kejutan!"
"P-paham, sih...?"
Sambil membatin... kenapa harus dijadikan kotak bekal juga, ya...?, melihatnya yang begitu bersemangat, aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Membayangkan Ichijou-kun yang pasti bakal kebingungan nanti, rasanya hal itu justru kelihatan seru.
Dengan begitu, Shion-chan menata berbagai jenis cokelat buatan kami ke dalam kotak bekal. Aku juga membungkus cokelat truffle buatanku dengan rapi, dan setelah mendinginkannya di dalam kulkas, tugasku pun selesai.
Sisanya, kami menikmati waktu minum teh khusus sesama cewek sambil menyantap cokelat-cokelat afkir bersama.
β
"Nih, Taka-kun ini buat kamu."
"Ooh, terima kasih!"
Di perjalanan menuju kegiatan klub pagi hari, aku mengeluarkan cokelat yang kubuat kemarin dari dalam tas lalu menyerahkannya pada Taka-kun.
Bahwa hari ini adalah hari Valentine, Taka-kun rupanya juga sangat menyadarinya. Saat menerima cokelatnya, pipinya merona merah dengan raut penuh gembira.
Padahal perawakannya tinggi dan badannya besar, tetapi adanya celah keimutan (gap) seperti anak kecil ini adalah salah satu hal yang sangat kusukai darinya.
"Boleh langsung kumakan?"
"Emm, silakan."
"Kalau begitu, aku ambil satu ya."
Mengambil satu cokelat truffle dari dalam kotak, Taka-kun langsung menyantap dan mengunyahnya dengan nikmat. Karena sengaja kubuat agak besar satu per satunya, untuk ukuran anak cowok pun kurasa cukup mengenyangkan.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak baaangeeet!"
Menjawab pertanyaanku, Taka-kun memuji dengan tulus tanpa ragu-ragu.
Ulasan jujur tanpa dibuat-buat itu membuatku merasa gembira dan menghela napas lega.
"Syukurlah kalau begitu."
"Hebat banget, ini buatan tangan sendiri, kan?"
"Emm, kemarin aku bikin barengan sama Shion-chan."
"Sama Saegusa-san, toh. Paham, paham."
" Ada yang bikin kamu penasaran?"
"Tidak kok, cuma rada penasaran saja Saegusa-san bakal kasih cokelat seperti apa buat Takuya."
"Paham."
Taka-kun rupanya juga penasaran dengan hal itu. Oleh karena itu aku menceritakan kejadian kemarin secukupnya tanpa mengganggu kejutan Shion- chan, dan Taka-kun pun tertawa geli.
"Begitu ya, kalau begitu Takuya pasti bakal kerepotan pas White Day nanti, nih."
"Kalau Shion-chan sih, diberi apa saja pasti bakal senang, kok."
"Benar juga, sih."
"Taka-kun sendiri juga jangan sampai lupa sama White Day, ya?"
"T-tentu saja! Serahkan padaku!"
Meskipun agak panik, Taka-kun membusungkan dadanya menegaskan agar aku menyerahkan padanya.
Padahal bagiku sendiri, apa pun yang kuterima dari Taka-kun pasti akan membahagiakanku. Tapi karena saat ini Taka-kun yang panik terlihat sangat menggemaskan, aku memilih untuk merahasiakannya.
Omong-omong, saat jam istirahat siang di hari itu. Shion-chan benar-benar menyerahkan cokelat di dalam kotak bekal kepada Ichijou-kun.
Aku dan Taka-kun memperhatikan mereka berdua secara diam-diam dari dekat. Dan Ichijou-kun sendiri, seperti dugaan tidak pernah menyangka bakal mendapat cokelat di dalam kotak bekal, tampak kebingungan namun juga terharu oleh kelezatan cokelatnya.
Dengan begitu, Shion-chan yang sukses melancarkan kejutannya menatap Ichijou-kun yang menikmati cokelatnya dengan raut wajah penuh kepuasan dari awal sampai akhir.
Diskusi & Komentar (0)