Chapter 1269
“Kenapa, ya, aku ini anak yang begitu jahat...”
Suara yang penuh kesedihan keluar dari bibirnya.
Di atas tempat tidur tempat ia merebahkan diri, rambut peraknya tergerai, dan dari matanya yang besar, sebutir air mata mengalir.
――Andai saja makhluk yang disebut Tuhan itu ada, kepribadian-Nya pasti sangat buruk.
Utsurogi Yuuri memiliki sebuah rahasia.
Sebuah rahasia yang tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun, rahasia yang sama sekali tak boleh ada yang tahu.
――Aku suka rambutmu, Yuuri, karena indah.――
Dulu, kakaknya menghibur Yuuri yang di-bully karena warna rambutnya dengan kata-kata itu.
Wajar jika sang gadis menjadi begitu dekat dengan kakak yang seperti itu; sejak kecil, ia selalu berjalan sambil menempel di belakangnya.
Entah sejak kapan ia jadi tidak bisa lagi berbicara dengan kakaknya itu.
Entah sejak kapan, setiap kali mata mereka bertemu, dadanya terasa sesak dan ia bahkan tak bisa berkata-kata.
Setiap kali mencoba bicara, suaranya menjadi gugup, dan entah kenapa yang keluar adalah bahasa formal. Untuk menutupi hal itu, ia pun jadi terbiasa berbicara seperti itu bahkan kepada keluarganya.
Dirinya dan sang kakak adalah kakak-beradik.
Namun, perasaan yang dimiliki Yuuri ini bukanlah perasaan yang pantas ia tujukan pada kakak kandungnya sendiri.
Memiliki perasaan seperti ini adalah hal yang salah.
Meskipun ia tahu itu, perasaan yang sudah terlanjur ada tidak mungkin bisa dihapus seolah tak pernah ada.
Karena itu, yang bisa Yuuri lakukan hanyalah diam-diam membasahi bantalnya dengan air mata sambil mengutuk Tuhan.
――Bahkan pada diriku yang jahat ini, Kakak selalu bersikap baik.
Hari ini pun, saat Yuuri pulang ke rumah, kakaknya menyambut dengan senyumnya yang biasa dan berkata, "Selamat datang kembali."
Hanya dengan satu kata itu saja, hati Yuuri sudah merasa terselamatkan.
Namun, Yuuri bahkan tidak bisa membalas " Aku pulang," dan hanya bisa memalingkan wajahnya.
Soalnya, setiap kali melihat wajah kakaknya yang lembut itu, dadanya terasa sesak hingga ia bahkan tak sanggup menatapnya langsung.
Padahal, sebenarnya ia ingin kakaknya melihatnya dalam balutan seragam barunya. Namun, pada akhirnya, ia tak bisa mengatakan apa pun.
Padahal ia sudah belajar dengan giat agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengan kakaknya.
Lagi-lagi, ia menghela napas.
Sebenarnya, kenapa pula makhluk yang disebut Tuhan itu melahirkan dirinya dan sang kakak sebagai kakak-beradik?
Kalau saja mereka bukan kakak-beradik, ia tidak perlu menderita seperti ini...
――Perasaan ini, andai saja bisa kulupakan, apakah aku akan merasa lebih lega...
Tidak bisa kulupakan.
Tidak ingin kulupakan.
Tapi, rasanya menyakitkan.
――Andai saja aku dan Kakak tidak punya hubungan darah, apakah aku tidak perlu merasakan penderitaan ini...
Jika tidak memiliki hubungan darah, mereka bukan lagi kakak-beradik.
Jika bukan kakak-beradik, ia tidak akan diperlakukan dengan begitu baik olehnya.
Padahal keduanya adalah hal yang tak ingin ia lepaskan, namun justru dua hal berharga itulah yang kini menyiksa Yuuri.
Sambil memikirkan harapan yang nyaris seperti doa itu—harapan yang tak mungkin terkabul, namun juga akan menjadi masalah jika sampai terwujud— Yuuri menyekakan air matanya ke bantal.
Entah sudah berapa lama ia seperti itu.
Tanpa sadar, kelopak matanya mulai memberat, tepat saat ia hampir terlelap.
Pintu kamarnya diketuk dengan pelan.
『Yuuri, bisa Ibu bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan...
』
“...? Ibu?”
Yang mengetuk adalah ibunya, tetapi suaranya terdengar anehnya tegang.
――Ada apa, ya? Apa terjadi sesuatu?
Dengan gerakan pelan, ia bangkit dan mengulurkan tangannya ke gagang pintu.
Mungkin saja, makhluk yang disebut Tuhan itu benar-benar ada.
Akan tetapi, kepribadian-Nya pastilah sangat buruk, atau mungkin juga Dia sangat kaku dan tidak bisa diajak kompromi.
Dan benar saja, harapan sang gadis pada akhirnya terkabul dalam artian tertentu.
Meskipun, wujudnya sangat berbeda dari yang diharapkan oleh sang gadis...
Diskusi & Komentar (0)