Chapter 1251
Ini adalah kejadian yang terjadi tepat setelah aku dipastikan bisa bergabung dengan klub bisbol.
"Soal itu... untuk masalah kali ini, terima kasih banyak..."
Saat mengunjungi ruang guru di gedung sekolah yang dikhususkan untuk kelas olahraga, kata-kataku tidak bisa keluar dengan lancar karena suasana canggung dan rasa gugup yang sedikit menyergapku.
"Hmm? Oh, Frost ya. Atau, sekarang aku harus memanggilmu Shirakawa?
Tidak usah dipikirkan, aku melakukan itu demi Kento kok."
Pelatih menatapku dengan tatapan tidak tertarik, lalu mendengus pelan sambil terkekeh.
Sesuai ucapannya, dia bergerak bukan demi diriku, melainkan demi Kento- kun. Sepertinya dia memang sama sekali tidak tertarik padaku.
"Aku dengar dari Nadeshiko-senpai kalau Pelatih sedang membantu Kento- kun untuk melangkah ke tahap berikutnya..."
Saat aku menyalahkan diriku sendiri karena telah menjadi beban yang tidak perlu bagi Kento-kun selama pertandingan, Nadeshiko-senpai menghiburku dengan kata-kata itu. Namun, dia bilang itu bukanlah sekadar hiburan, melainkan kenyataan.
Faktanya, Kento-kun berhasil menunjukkan hasil yang mengejutkan semua orang dalam pertandingan itu, dan namanya langsung dikenal luas dalam sekejap. Dan yang terpenting, Kento-kun sendiri tampak menjadi jauh lebih percaya diri.
Dalam arti tertentu, dia memang sudah berhasil melangkah ke tahap berikutnya. Meskipun sebenarnya aku yang ditolong, jadi rasanya kurang pantas kalau aku yang mengatakannya.
Namun, Pelatih menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu. Ini soal bagian yang lebih mendasar. Supaya Kento bisa melangkah lebih tinggi lagi, dia membutuhkanmu."
"Eh...?"
Karena ucapan Pelatih yang tak terduga itu, aku membelalakkan mata dan balik menatapnya dengan heran.
"Apa... maksudnya itu?"
"Sekarang kamu tidak perlu tahu. Nanti kalau saatnya tiba, kamu juga bakal paham sendiri. Lagipula, kalau aku kasih tahu sekarang, kamu pasti tidak akan mau mendengarkannya."
Mendengar argumen itu, sesaat aku merasa agak kesal.
Melihat reaksiku yang cemberut, Pelatih terkekeh geli sambil bergumam, "Dasar tidak sabaran," lalu dia menatap wajah dan tubuhku dengan lekat.
"...Mau saya tuntut atas pelecehan seksual?"
Bukannya dia menatapku dengan mesum, tapi karena dia memperhatikanku seolah-olah sedang mengamati seluruh tubuhku, aku pun membalasnya dengan tatapan dingin.
"Haha, aku tidak tertarik dengan bocah. Tapi omong-omong, kamu sudah tumbuh besar ya."
"........"
Dipanggil bocah ditambah dengan ucapan Pelatih yang tidak jelas maksudnya, membuatku membalasnya dengan tatapan yang jauh lebih dingin lagi. Kalau dia bukan pelatih klub bisbol, aku pasti sudah meneriakinya "Menjijikkan!"
lalu langsung kabur.
"Oi, oi, itu bukan tatapan yang pantas diarahkan ke gurumu sendiri tahu. Beda jauh sekali dengan Jessica-san."
Pelatih menggelengkan kepalanya seolah ingin berkata "Astaga...", sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke atas.
Nama Ibu sampai disebut... Oh iya, orang ini kan memang mantan pemain bisbol profesional juga.
"Apa Pelatih saling kenal dengan Ibu?"
"Ibumu yang memintaku secara langsung. Dia bilang, kalau putrinya datang dan bilang ingin jadi manajer klub bisbol, tolong terima saja dia."
"—?!"
Mendengar informasi yang baru pertama kali kudengar ini, aku kembali membelalakkan mata.
"Kapan... obrolan itu terjadi?!"
"Kira-kira setelah kamu dinyatakan lulus masuk sekolah ini. Entah apa yang kamu pikirkan, tapi sebaiknya kamu jangan berpikir bisa menyembunyikan sesuatu dari Jessica-san. Apalagi dia itu ibumu sendiri, kan? Dia pasti bisa membaca perasaan putrinya dengan sangat mudah."
Aku sama sekali tidak tahu kalau Ibu sampai bergerak sejauh itu demi diriku.
Bahkan sebelum aku masuk sekolah ini.
Mungkin saja Ibu tidak baru mengenal Pelatih saat itu. Karena mereka memang sudah saling kenal sejak awal, Ibu rela pergi untuk meminta bantuan demi diriku. Padahal, dia sama sekali tidak membocorkan hal itu kepadaku.
"Tapi, alasan Pelatih bergerak itu demi Kento-kun, kan? Bukan karena permintaan Ibu."
"Kalau ini cuma masalah antara kamu dan Kento saja sih tidak apa-apa. Tapi aku tidak bisa mengorbankan anggota klub lain untuk urusan yang tidak ada manfaatnya bagi klub—terlebih lagi di saat ada turnamen penting yang menanti. Tapi kalau Kento bisa berkembang dan itu membawa keuntungan bagi klub, maka tidak akan ada yang bisa protes, kan?"
Setelah berkata demikian, Pelatih menyeringai lebar.
Dengan kata lain, alasan formalitas itu sangat penting. Meski begitu, jika aku sendiri tidak bergerak karena ingin bergabung, orang ini mungkin tidak akan pernah mengizinkanku masuk.
"Hanya saja, aku juga menaruh harapan padamu. Soalnya, harus ada seseorang yang bisa meneruskan estafet dari Kujouin."
"Tapi, bukankah masih ada anak-anak manajer yang lain...?"
Manajer di sini bukan hanya Nadeshiko-senpai saja. Di angkatanku pun ada tiga orang lainnya, dan mereka yang nantinya akan meneruskan tugas Nadeshiko-senpai sudah ada.
"Setiap orang itu punya bakat dan kecocokannya masing-masing. Kujouin itu jenius, dalam artian dia sangat pintar. Ditambah lagi, dia punya pesona untuk memikat orang lain dan bakat untuk melunakkan hati orang. Tidak banyak orang yang bisa meniru gaya dia."
Umm, apakah kata-kata seperti itu pantas diucapkan oleh seorang guru?
Orang ini dengan santainya mengatakan hal yang bisa jadi masalah besar jika didengar oleh orang lain. Yah, meski secara garis besar aku setuju sih.
"Aku juga tidak berpikir kalau aku bisa meniru Nadeshiko-senpai..."
"Masa? Kalau aku sih tidak berpikir begitu."
Secara mengejutkan, Pelatih justru mengakui keberadaanku.
"Apa sebenarnya yang menjadi dasarnya...?"
"Bakat alamimu, cuma itu saja. Yah, meski memang tidak akan bisa langsung instan sekarang. Terlebih lagi, ada masalah yang cuma bisa diselesaikan olehmu sendiri. Dengan kamu bisa membereskan masalah itu saja, bergabungnya kamu ke klub ini sudah menjadi keuntungan besar bagi klub bisbol."
"Dan soal masalah itu, Pelatih tidak akan memberi tahu saya, kan...?"
"Begitulah. Untuk sekarang lebih baik kamu tidak tahu dulu. Nah, daripada membahas itu, lebih baik kamu baru resmi masuk klub setelah turnamen ini selesai saja. Kalau tidak, sepertinya bakal banyak anak yang konsentrasinya buyar gara-gara kedatanganmu."
Selesai berkata begitu, Pelatih mengibaskan tangannya seolah memberi isyarat "Sana, pergi," sebagai tanda obrolan kami sudah selesai.
Karena tujuan awalku ke sini memang hanya untuk menyerahkan formulir pendaftaran, menyapa, dan menyampaikan rasa terima kasih, aku pun langsung berbalik arah untuk pergi—
Namun, masalah apa yang sebenarnya hanya bisa diselesaikan oleh diriku sendiri?
Meskipun hal itu terasa aneh dan misterius, aku rasa memikirkannya sekarang pun tidak akan membuahkan jawaban. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Diskusi & Komentar (0)