Chapter 1172
Sudut pandang: Shiraho You
Senior yang duduk di depanku mendekatkan cangkir ke mulutnya.
Di kantor aku melihatnya dari belakang, saat berjalan melihatnya dari samping, dan hari ini, sangat jarang aku bisa melihatnya dari depan.
Setiap kali poninya yang dibiarkan turun itu bergoyang, tatapanku tanpa sadar ikut bergerak mengikutinya.
(Ya ampun, kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang seperti dia, ya.) Tiba-tiba, gula batu yang ditinggalkan sendirian di dekat cangkirnya terlihat kesepian.
Tanpa memedulikanku, Senior langsung menggigit roti panggangnya. Apakah dia tidak suka makanan manis?
Aku menjepit gula putih bersih itu dengan hati-hati menggunakan ibu jari dan telunjuk, lalu menjatuhkannya ke dalam kopiku sendiri.
Mau itu
parfait atau kue, apa pun yang masuk ke mulut sudah seharusnya terasa manis. Karena kehidupan di masyarakat sudah cukup pahit.
Sejak kapan ya, aku mulai menambahkan gula ke dalam kopiku.
Sesaat, ya, hanya sesaat aku memejamkan mata, dan menenggelamkan kesadaranku ke dalam lautan yang sangat dalam.
Kalau tidak salah, itu terjadi saat aku baru memasuki tahun kedua di perusahaan.
Masa-masa di mana aku harus selalu mengekor senior langsungku sudah berakhir, dan itu adalah saat-saat awal di mana aku mulai dipercaya untuk menangani proyek sendirian.
"Bagaimana dengan dua pilihan ini?"
Aku mempresentasikan tema dan desain yang kerangkanya kubuat berdasarkan ide yang sudah lama kusimpan, kepada eksekutif perusahaan.
Karena perusahaan kami bukanlah perusahaan besar, jarak dengan para petinggi yang menentukan arah perusahaan pun cukup dekat.
Mengesampingkan apakah itu hal yang baik atau buruk.
"Hmm."
Sosok penting yang duduk di depanku memegang dagunya dan berpikir.
Kudengar dia memiliki sifat yang lebih menyukai turun langsung ke lapangan ala zaman dulu, jika aku bisa meyakinkannya, proyek ini pasti akan disetujui.
Ngomong-ngomong, ada orang lain juga yang hadir hari ini.
Orang yang duduk di sebelah kananku... Aku lupa namanya, jadi sebut saja dia "Senior". Bagaimanapun juga, dia memang benar-benar seorang senior, kan.
Petinggi di depanku membaca sekilas proposal tersebut dan melontarkan satu kalimat.
"Tidak buruk untuk ukuran proposal dari seorang gadis yang baru saja masuk."
Seketika, aku merasakan darah naik ke kepalaku.
Tidak masuk akal kan, jika aku dinilai berdasarkan "usia muda" atau "jenis kelamin".
Kalau memang mau menolak, aku lebih suka dia menolak idenya secara langsung dan terang-terangan.
Namun, akan sangat lancang jika seorang anak baru sepertiku mendebat seorang eksekutif.
Saat awan gelap mulai menyelimuti dan sepertinya tidak ada harapan untuk kelanjutannya, aku merasakan pergerakan dari sebelahku.
"Maaf, saya rasa ide ini sangat bagus. Ide ini juga sudah sesuai dengan peraturan internal perusahaan."
Pria yang kusebut "Senior sementara" itu mulai berbicara dengan lancar.
"Ide ini sangat mungkin diwujudkan, dan pihak kami (Departemen Urusan Umum) juga akan memberikan dukungan penuh, jadi bagaimana menurut Anda?"
Tanpa menoleh ke arahku, dia berbicara dengan sang direktur dengan ekspresi yang tenang.
"Yah, kalau kau sampai berkata begitu..."
Tepat ketika eksekutif itu hampir menyetujuinya.
"Tidak-tidak. Bukan karena saya yang mengatakannya, tetapi karena ini adalah ide yang dia buat."
Sambil tersenyum tipis, Senior kembali duduk.
Eksekutif itu mengerjapkan matanya sesaat, berdeham pelan, lalu berdiri. Dia melirik ke arah kami dan memegang gagang pintu di belakang kami.
"Permisi, sisanya kuserahkan padamu, ya."
"Baik."
Senior berdiri dan mengangguk hormat.
Aku pun buru-buru berdiri, entah apakah aku sempat mengejar ritmenya.
Sedikit rahasia, kakiku sempat terbentur meja saat itu.
Setelah merapikan ruang rapat dan keluar, Senior yang berjalan lebih dulu memberikan isyarat agar aku mendekat.
Tepat saat aku mendekat untuk mengucapkan terima kasih, pandanganku terpaku pada dokumen yang dipegangnya.
Proposal yang kubuat dipenuhi dengan banyak coretan merah dan biru.
Di sana tertulis dengan sangat detail bagaimana cara mewujudkannya, apa yang akan menjadi hambatannya, apakah anggarannya bisa turun, dan lain- lain. Tulisan itu terlalu menyilaukan untuk ditatap langsung.
"A n u ,"
Saat aku membuka mulut, dia menghentikanku dengan tangannya.
"Kerja bagus untuk hari ini. Shiraho-san, kan? Menurutku ide ini sangat bagus, jadi percayalah pada dirimu sendiri."
Di tangan yang disodorkan padaku, terdapat sekaleng kopi low sugar.
"Eh, jangan-jangan kau lebih suka yang black?"
"Tidak, terima kasih atas perhatian Anda... Terima kasih banyak."
Aku mengucapkan terima kasih dengan berbagai macam makna yang terkandung di dalamnya. Tentu saja kopi akan lebih enak jika manis.
Melihat label kaleng yang biasanya tidak pernah kubeli sendiri, ujung bibirku terangkat.
"Kalau begitu, sampai jumpa."
Sambil melambaikan tangan dengan santai, dia melangkah menuju Departemen Urusan Umum.
Setidaknya biarkan aku merekam punggungnya di mataku, pikirku sambil memandangi kepergiannya. Tiba-tiba, Senior menghentikan langkahnya.
" Ah, benar juga. Kakimu yang terbentur tadi, semoga cepat sembuh."
Nada suaranya yang lembut itu membuat hatiku berdesir. Mungkin yang sakit saat itu bukan hanya kakiku saja.
â—† â—‡ â—† â—‡
Setelah memejamkan matanya sebentar, Shiraho tersenyum lembut. Hanya butuh beberapa detik sejak jarinya yang cantik mengambil gula batu di cangkirku sampai saat ini.
Aku tidak bisa menebak perubahan perasaan macam apa yang sedang terjadi padanya, tetapi dengan riasan yang lebih tipis dari yang kulihat di kantor, senyumannya yang entah bagaimana terlihat lebih dewasa itu sukses membuat hatiku goyah.
"...Makan
parfait pagi-pagi begini tidak terasa berat (enek)?"
"Tidak kok, aku bukan orang yang berat (merepotkan)."
Apakah dia sedang mengigau.
Percakapan ini tidak nyambung sama sekali. Kalau terlalu banyak mengonsumsi gula, apakah efeknya akan begini? Aku harus berhati-hati.
"Daripada membicarakan itu, Senior."
Tanpa ragu-ragu menancapkan sendoknya ke gunung krim kocok, dia membuka mulutnya.
Udara hangat di dalam toko sepertinya akan membuat es krim di atas parfait
itu meleleh.
" Apakah kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?"
"Pertama kali bertemu...? Proyek apa, ya waktu itu."
Kalau dipikir-pikir, kapan ya kami pertama kali bertemu.
Tanpa kusadari, dia yang dari departemen sebelah jadi sering datang ke departemenku, dan dia juga sudah akrab dengan rekanku.
"Haa~~~~, sudah kuduga kau tidak ingat..."
Dia meletakkan cangkirnya dan menghela napas panjang.
Eeh... Apakah pertemuan kami se-tak-dir itu? Seperti berlari sambil menggigit roti lalu bertabrakan di tikungan, atau menolongnya yang hampir jatuh dari tangga, atau ternyata kami adalah teman semasa sekolah yang bertemu lagi saat masuk perusahaan yang sama.
Tidak-tidak, tidak mungkin. Kami benar-benar orang asing saat itu. Ya meskipun sekarang aku membiarkannya menginap di rumahku (walaupun itu karena suatu insiden).
"Omong-omong, katanya kalau kau menghela napas, kebahagiaanmu akan lari lho."
"Berisik, padahal kau sendiri tidak ingat kapan pertama kali kita bertemu."
Meskipun dia menggerutu, sendok yang menyendok parfait itu tidak berhenti bergerak.
" Asal kau tahu saja, anak perempuan itu sangat menghargai hal-hal seperti ini lho."
Sambil menggembungkan pipinya seperti tupai, Shiraho bergumam tidak jelas.
Anak ini, dari pagi sudah sangat berisik ya.
Padahal aku hanya ingin segera menikmati hari Sabtuku dengan santai.
"A h-! Kau tidak mendengarkan, kan!"
" Aku dengar kok, aku dengar. Jadi, seperti apa pertemuan pertama kita?"
"Tidak akan kuberi tahu, soalnya memalukan!"
Benar-benar seenaknya sendiri. Dia ini sungguh seperti badai.
"Kalau begitu, bagus dong kalau aku tidak ingat."
Sambil berbincang seperti itu, tanpa terasa piring kami sudah kosong.
Memanfaatkan pergantian pelanggan, kami pun beranjak dari tempat duduk.
Dari kaca besar yang menghadap ke luar, sinar matahari yang lembut tampak bergoyang.
Aku menyipitkan mata melihat cahaya yang memantul dari gelas parfait-nya
yang sudah bersih.
Menurutku, mengonsumsi terlalu banyak gula di pagi hari memang kurang baik.
Melihat Shiraho yang berjalan menuju kasir, aku merasakan kelegaan karena akhirnya bisa menghabiskan hari libur sendirian, dan—walaupun aku tidak ingin mengakuinya—sedikit rasa sepi yang kurasakan.
Namun aku yakin, di waktu-waktu saat aku sendirian nanti, dia pasti akan melompat masuk ke kehidupanku lagi.
Sama seperti saat dia pertama kali mengajakku di balkon.
Perasaan itu, masih terlalu samar untuk disebut sebagai firasat, namun terlalu nyata untuk disebut sebagai harapan, perlahan menyebar di dadaku.
Meninggalkan suara lonceng yang jernih, kami melangkah keluar ke udara yang sudah benar-benar sejuk.
Karena suhu udaranya turun. Itulah alasannya. Jarak kami saat berjalan menjadi lebih dekat, dan bahkan langkah kami menjadi seirama tanpa kusadari, semua itu pasti karena suhu udaranya turun.
" Ah, benar juga, Senior!"
Saat aku sedang memikirkan alasan entah untuk siapa, Shiraho mendekatkan wajahnya ke arahku dan membuka mulutnya.
"Hari ini juga mari kita minum bersama lagi, di balkon seperti biasa!"

Diskusi & Komentar (0)